"sungguh anak yang keras kepala" ujar sakura dalam hati

Karin home

Matahari sudah meninggi dan sinar nya terasa semakin terik, sepertinya acara kemarin benar benar membuat karin lelah, ia belum juga beranjak dari tempat tidur nya.

Ia belum ingin bersiap-siap untuk pergi ke butik tempat ia bekerja, Karin memang anak yang manja, semua keinginannya harus di penuhi. Mengingat dirinya adalah putri semata wayang dari pasangan Tuan kina dan nyonya yuna. sang ayah tuan kina adalah pemilik universitas konoha. Universitas dimana karin dan sasuke beserta teman lainnya kuliah, beliau juga teman akrab tuan fugaku.

hal ini juga yang menjadikan karin sangat percaya diri akan memiliki dan bersanding dengan sasuke. Nyonya yuna sendiri profesi sebagai designer. Baju design nya laris manis di jepang maupun luar negeri. Karin lah yang akan meneruskan bisnis ini. Namun hingga hari menjelang siang, batang hidung gadis berambut merah itu belum juga muncul. Sedangkan sang ibu sudah lebih dulu pergi dan memulai pekerjaan nya

"Bagaimana aku bisa meninggalkan butik ini jika karin belum datang?gumam yuna.

Nyonya yuna sesekali melihat jam di tangan nya, hari semakin siang ia akan segera pergi ke bandara untuk belanja beberapa bahan kain khas eropa yang harus ia pilih sendiri, mulai dari warna, kualitas,dll. butik nyonya yuna memang sangat menjaga mutu dan kepuasan pelanggannya, tak heran jika butik ini menjadi sangat terkenal.

Naruto home

"Hueeekkk...hueeekkkk" suara itu terdengar seiring derap langkah yang bergerak cepat

Praaakkk, daun pintu itu terbuka paksa.

"Huueeeekkkk..."

"apakah kah kau muntah-muntah lagi hina"

"Huugmmmm" hinata menjawab semampunya.

sepertinya mual itu masih terasa menyiksa wanita berambut ungu ini. semakin ia menahan rasa mual, semakin ia ingin mengeluarkan seluruh isi lambungnya

"Bergegas lah kita akan ke dokter pagi ini, aku khawatir dengan kondisi mu"

"Baiklah, aku akan mengganti pakaian ku sebentar"

.

.

.

"Kriiingggg...kriiinggg" telepon itu terus berdering

"Hmmmmgg...suara itu masih terdengar berat

"Karin cepat lah bergegas, ibu akan segera berangkat ke jerman, ibu percayakan butik padamu, jika ada kendala segera hubungi ibu"

"Baik bu"

Tuuut...Tuuuut... sambungan telepon terputus

Karin mendesah berat, ia melirik sinar matahari yang menatap nya tajam seakan memberinya peringatan bahwa ini bukan lagi jam tidur. Ia pun dengan gontai berjalan ke arah mandi untuk bersiap ke butik

Sasuke home

Ia merasakan bahwa sesosok gadis berambut merah muda itu mengikutinya dari belakang. Sungguh ia merasa kaku berhadapan dengan gadis asing yang bahkan wajah nya pun tak bisa ia lihat. Jujur saja Sasuke merasa tidak nyaman jika ada perempuan yang masuk kamar nya, selain sang ibu. Sasuke tidak pernah membawa perempuan manapun ke rumah apalagi ke kamarnya.

Sakura yang mengikuti langkah kaki sasuke itu tersenyum kecil melihat gerak langkah kaki pemuda dihadapannya, ia bisa merasakan langkah kaki sasuke maju sambil terus mewaspadai dirinya dibelakang. Sakura memperhatikan setiap gerak tubuh pria berambut raven itu, tekukan kakinya ketika menaiki tangga, posisi punggung dan bahu yang tegap namun seperti menahan jutaan ton beras, tangan yang terus mengepal

sasuke membuka pintu kamarnya lalu memasuki kamarnya dan dengan cepat segera menutupnya, namun...

Sebuah tangan dengan sigap menahan laju pintu itu agar tetap terbukaa

"Bisa kita mulai therapi nya sekarang, tuan muda sasuke? Ujar tabib muda dihadapannya

"Aku tidak ingin jadi kelinci percoba..

Belum selesai sasuke berbicara, sakura segera masuk ke dalam kamar sambil membawa tas jinjing yang berisi alat-alat dan berbagai ramuan pengobatannya nya tanpa memperdulikan si empunya kamar.

"Hei, bagaimana bisa kau lancang masuk ke kam...

"Berbaring lah kita akan memulai nya sekarang"

Untuk kedua kalinya tabib dihadapannya itu memotong kalimat nya.

"Kau...kkkk aauuu"

sasuke tidak melanjutkan perkataan nya. Ia terdiam ketika melihat sakura membuka isi tas jinjing nya yang berbentuk persegi panjang dan botol kaca berisi ramuan bubuk.

Bukan...bukan itu yang membuat si pemilik mata onyx terpaku. Melainkan jarum-jarum panjang tipis dengan berbagai ukuran dan bentuk...

JARUM AKUNPUNTUR

Mata sasuke menatap tajam benda itu walaupun wajah nya tetap menampilkan pesona datarnya.

"Aku belum akan menggunakan nya, aku baru akan memeriksa nadi mu"

Sasuke mengerlingkan pandangan nya,

"Ia bisa membaca pikiran ku?hmmm cerdas..."

Ia memperhatikan tabib barunya itu dengan seksama, mengelap tangan mengeluarkan alat, mengambil selembar kertas tipis.

"Berbaring lah tuan muda"

"Jika aku tidak mau?"

"Aku hanya mencoba membantu mu saat ini"

"Aku tidak pernah di rawat oleh dokter, tabib atau apapun itu yang berjenis kelamin perempuan" ketus sasuke

"Dan sekarang kita pernahkan! Mudah bukan" jawab sakura

"Cihh...aku bahkan tidak melihat wajah mu, bagaimana bisa aku mempercayakan tubuh ku pada mu"

"Cklekkkk" pintu kamar itu dikunci

"Apa yang akan kau lakukan?mengapa kau mengunci nya"

"Itu tanda bahwa aku tidak akan mundur, lakukan perintahku dan semua akan berlangsung dengan cepat" ujar sakura dengan suara yang tegas dan cukup membuat sasuke terpana. belum pernah ada seorang pun bahkan wanita yang berbicara seperti itu dengannya. namun tentu saja, harga diri seorang sasuke tidak bisa dengan mudah menerima ini semua.

"Kau memerintah ku? Aku tidak menerima perint...

Sakura menarik lengan bungsu ucihiha tersebut dan memposisikan nya duduk di tepi kasur king size mewah itu. Ia menatap tajam mata sasuke, mengadu emerald nya dengan onyx dihadapannya

"Maafkan atas kelancangan ku, namun aku tidak terbiasa dengan pekerjaan ku yang diperlambat"

Mata itu? mata itu seolah menghipnotis sasuke. Ia tidak pernah diperlakukan seperti ini oleh seorang gadis! tidak ada seorang gadis pun yang pernah lolos dari jeratan mata onyx itu, semua gadis aan terpesona bahkan tergila-gila hingga rela melakukan apapun untuk berada lebih dekat dengan onys tersebut, namun emerald itu justru memandang nya tajam. Sasuke bahkan hanya diam dan menuruti perintah tabibnya untuk berbaring tanpa melepas pandangan nya dari sorot mata sakura.

Mengambil posisi duduk di tepi king size di samping sasuke, Dengan tenang sakura memulai pemeriksaan nya. Ia memulai inspeksinya dengan memperhatikan rona wajah sasuke, mata hidung, telinga.

Kemudian ia meraba nadi di tangan kanan sasuke, ia memejamkan matanya menumpukan konsentrasi nya.

"Apa yang ka.."

"Ssssssttttt..."sakura berdesis, tanda peringatan untuk sasuke agar tidak mengganggunya

"Benar-benar berbeda...kita lihat, apa keahlian mu nona" guman sasuke dalam hati.

Kemudian sakura berdiri dan membungkukkan bahunya, tangannya turun ke bawah meraba perut sasuke.

Bungsu ucihiha yang terkejut dengan pergerakan tangan sakura di perutnya, segera menepis tangan sakura, ia benar-benar tidak biasa tubuh nya disentuh begitu intens oleh seorang gadis yang bahkan belum ia kenal.

"Sebenarnya apa yang kau lakukan dari tadi haaagghhh?" Mata sasuke membulat geram sambil mengangkat kepala dari bantalnya.

Sakura Menegapkan tubuh nya, Melihat tangan nya ditepis dan sasuke yang terkesan menghalangi pekerjaan nya. Dengan santai sakura mendekatkan wajahnya pada wajah sasuke. Ia memandangi wajah pasien nya tersebut, sorot mata emerald itu berubah menjadi sedikit sayu seakan-akan meminta belas kasihan pada sang tuan. Tak lama emerald itu mulai menyipit, tangan halus nya mendekat seolah akan mengelus rahang pria dihadapannya , ia melekatkan telunjuk nya pada kening sasuke, lalu mendorong nya ke belakang hingga kepala berambut raven itu kembali terbaring di bantal.

Ohhhh tidaaaaaakkkkkk, sungguh ini tidak pernah terjadi!

Gadis itu...

Gadis itu...

SASUKE? Tubuh nya? Tubuhnya terasa seperti kehilangan sendi-sendi dimana tulang nya saling bertaut. Ia terdiam membisu dengan perlakuan sakura barusan, walau suara teriakan hatina memberontak, Ia bahkan bingung harus marah atau heran atau bahkan takjub.

Ia merasa seperti sedang menonton pertunjukan sirkus dimana pemainnya memainkan atraksi memukau yang mengundang decak kagum para penonton, namun ia tidak ingin bertepuk tangan. Sementara ia masih berkutat penuh dengan pikirannya...

"Sudah selesai"...

"Tuan muda sasuke"

Sasuke segera tersadar ketika namanya disebut

"Pemeriksaan anda sudah selesai, mulai sekarang makanan dan obat-obatan anda akan disiapkan oleh saya sendiri, ada beberapa pantangan yang harus anda jalani, dan itu akan saya catatkan nanti"

Apakah ada pertanyaan? anda mengerti yang saya jelaskan?

"Hn" jawab sasuke singkat. Sebenarnya ia menutupi sikap dan perasaan nya yang ia rasa tidak jelas, marah kesal kagum itu semua begitu membingungkan.

Sakura mengerutkan keningnya untuk kesekian kali.

"Baiklah saya permisi, saya akan menyiapkan obat dan makan siang anda"

Sakura berjalan mundur perlahan membawa tas nya kemudian memutar tubuhnya lalu berbalik, membuka pintu lalu keluar.

Hal itu lagi-lagi membuat sasuke tersenyum kecil. Sungguh hal yang menarik. Ia meraba pergelangan tangannya, kemudian perut , tempat dimana tadi sakura memeriksanya. yaahhhh sepertinya ia harus membiasakan diri dengan sentuhan-sentuhan itu...

"Hhmmmm, menarik"

.

.

.

"Apakah engkau memanggil ku nyonya mikoto?

"Ya aku memanggil mu, mulai sekarang kau lah yang akan mengatur semua schedule di uchiha brother"

"Bagaimana bisa begitu nyonya mikoto? apakah tuan sasuke yang memerintahkan? tanya pria berambut perak yang tidak lain adalah orang kepercayaan keluarga ucihiha

"Sasuke akan cuti selama 2 bulan, aku ingin dia fokus dalam therapinya kali ini, aku percayakan semuanya pada mu dan naruto"

"Saya tidak akan mengecewakan anda nyonya" tegas kakashi

" Jika ada kendala atasi semampu mu, atau hubungi aku, kerjakan tugas mu dengan baik"

Kakashi membungkukkan bahunya sambil tersenyum

"bencana apa yang akan terjadi kali ini" gumam nya dengan seringai penasaran

Selama 2 bulan ini sakura akan fokus merawat sasuke, ia akan datang pagi sekali dan pulang pada malam hari, sakura memiliki sopir pribadi yang akan mengantar dan menjemputnya kapan saja. Sakura adalah seorang tabib yang sangat disiplin, ia melakukan pekerjaan nya dengan cekatan dan akurat. Terutama dalam menumpukan konsentrasinya ketika membaca nad dan membubuhkan jarum akunpuntur.

Sekarang ia tengah menyiapkan menu makan siang untuk pasien barunya itu, tercium aroma masakan yang lezat. Bahkan pelayan-pelayan seisi rumah mewah itu berulang kali mengambil nafas untuk menghirup sedapnya uap masakan itu. Nasi putih yang ditanak dengan berbagai rempah, ditambah irisan tomat melimpah, kemudian ditaburi suiran daging ayam yang di tim dengan kendi khusus terbuat dari tanah liat, hidangan itu dilengkapi jus tomat segar yang menggiurkan.

Masakan telah siap, tabib muda itu telah menyiapkan hasil masakannya. ia hendak memanggil sasuke. Namun baru saja ia berbalik, pemuda bertubuh tegap dengan rambut ala emo itu sudah berada di anak tangga, mereka saling bertatapan, tak lama sasuke mengalihkan pandangan nya pada hidangan yang tersaji rapi.

" Duduk lah, tuan muda sasuke...makan siang mu sudah siap"

" Aku tidak terbiasa makan siang, aku akan makan jika aku lapar" jawab sasuke

" Saya telah menyiapkan makan siang anda, silahkan di nikmati" sakura mulai mengetahui pola makan yang buruk pasien nya ini.

" Kau tidak perlu repot-repot memasak makanan ku, Aku belum akan makan"

Langkah sasuke terhenti saat ia akan kembali ke kamar ketika tubuh sakura menghadang nya.

"Kembali ke meja makan, duduk, dan habiskan menu makan siang anda tuan"

"Kau tidak berhak mengatur ku, pergilah dari hadapan ku" bentak sasuke

"Tentu saya berhak, selama saya disini makanan yang anda konsumsi, kegiatan anda, akan menjadi tanggung jawab saya"

Suasana mendadak hening, semua pandangan tertuju pada kedua sosok anak manusia ini. perdebatan ini akan terus berlangsung jika tidak ada yang mengalah. Tidak ingin menjadi sorot perhatian para pelayannya, sasuke melangkahkan kaki walau terasa berat menuju meja makan dan duduk disana.

Sakura membawa makanan yang ia masak dari dapur dan menyajikannya di hadapan sasuke. Bungsu ucihiha ini sebenarnya telah mencium aroma masakan itu dari kamarnya yang mengundang ia untuk turun ke bawah. melihat hidangan yang tersaji dihadapannya, sungguh membuat ia terkesima, walau dengan wajah datar. Ia pun mulai menyantap makanan nya

" Bagaimana rasanya? Apa anda menyukainya" sakura bertanya sambil memegang buku kecil dan pena di tangannya. Ia ingin menilai setiap menu sajiannya disukai atau tidak oleh sasuke

"Hn" jawaban singkat yang kembali membuat sakura menyatukan alis nya.

Sasuke memang pandai dalam menyembunyikan ekspresinya, pengendalian diri yang dimiliki pemuda ini sungguh merupakan anugerah luar biasa. Sehebat apa pun koki yang bekerja di rumah megah keluarga ucihiha ini, belum pernah menyajikan makanan selezat yang ia rasakan sekarang, terlebih dengan komposisi tomat yang berlimpah ditambah jus tomat segar di samping hidangan nya.

"Hmm, apa mungkin ia mengetahui kesukaan ku? Gumam sasuke pelan.

"Anda mengatakan sesuatu tuan" ujat sakura yang mendengar bisik halus pasien nya itu.

"Tidak" ujar sasuke yang telah menghabiskan santapan nya dengan luar biasa mengkilap. Tak berapa lama ia pun menyelesaikan minumannya, dan bergegas melangkahkan kaki nya menuju kamar"

" Saya harap anda tidak langsung membaringkan tubuh anda di ranjang, duduk lah santai di teras kamar anda, kemudian berjalan sedikit untuk merilekskan pencernaan anda" ujar sakura yang mengetahui arah tujuan sasuke

Langkah kaki itu terhenti, sasuke menolehkan kepalanya pada sang tabib, memandang nya dengan heran "Bagaimana bisa ia mengetahui seluruh isi otak ku? Apakah ia juga peramal?" Katanya dalam hati.

"Sebentar lagi saya meracik ramuan untuk anda minum, saya akan mengantarnya ke kamar anda"

"Hn" sasuke berlalu dan melanjutkan langkah nya menuju kamar

Sakura tersenyum tipis, seperti nya ia mulai tertarik dengan pertanyaannya yang selalu mendapat jawaban "hn"

International hospital

Naruto dan hinata baru saja tiba di rumah sakit, pengunjung rumah sakit cukup ramai, untung saja naruto telah lebih dulu menelepon ketika masih di rumah untuk mendaftarkan hinata. Setelah mengantri sebentar tibalah giliran mereka.

"Selamat pagi dokter tsunade" sapa hinata

"Selamat pagi, wah lama tak berjumpa..."

"Bisakah kau memeriksakan hina, ia sejak kemarin mual dan muntah, bahkan ia tidak menyentuh makanannyaa sejak tadi malam, aku sangat khawatir dengan nya," ujar naruto

Terlihat Senyum tipis di bibir dokter tsunade, dan membuat naruto serta hinata saling berpandangan, berusaha mengartikan senyum itu.

"Berbaringlah, aku akan memeriksa mu"

Tsunade melihat rona wajah hinata kemudian ia mengambil stetoskop nya dan memeriksa hina, terlihat ia memainkan stetoskopnya di abdomen (perut) hinata.

"Baikah untuk lebih pasti, kita akan menggunakan USG"

Naruto dan hinata hanya menganggukkan kepala dan menuruti instruksi tsunade.

Senyuman tsunade semakin jelas seiring ia memutar benda ditangan nya pada perut hinata.

"sepertinya, kita akan kita akan kedatangan anggota keluarga baru, Selamat, kau positif hamil hinata"

Naruto melonjak girang

"Wahahhahahaaaaa, sudah terbukti bahwa peluru ku ampuh bukan?

Wajah hinata memerah mendengar kalimat teramat konyol suaminya itu, sedangkan tsunade tak henti-hentinya tertawa, ya memang ketika naruto dan hinata menikah, naruto sering kali di goda oleh rekan-rekannya mengenai malam pertama mereka.

"Kau harus menjaga kandungan mu, istirahatlah yang cukup, jangan melakukan pekerjaan berat, konsumsi makanan yang bergizi"

"Baiklah, aku akan melakukan nya...terima kasih banyak" ujar hinata, ia sendiri tak sanggup membentuk kebahagiaannya, dan segera memeluk tsunade dengan erat.

"Hei hina, mengapa kau tidak memeluk ku? Karena aku kau bisa hamil!"

Lagi-lagi kekonyolan naruto memenuhi ruang pemeriksaan itu. Hinata yang mendengar ucapan suaminya sambil tersenyum mengacak rambut kuning itu lalu merangkul nya dengan mata yang berkaca-kaca

.

.

.

Tok tok tok...

"Permisi tuan muda sasuke, saya mengantarkan obat anda"

"Masuk lah"

Sakura melangkahkan kaki nya masuk ke kamar, di balkon ia melihat sasuke dengan sebuah buku di tangannya, terlihat pemuda itu sedang membaca dengan seksama

"Silahkan diminum tuan" ujar sakura

" Letakkan saja disitu , aku akan meminumnya"

Sakura meletakkan ramuan dalam mangkok kecil itu di meja kecil di samping kanan sasuke duduk. Lalu ia mundur beberapa langkah ke belakang

mata Sasuke melirik ke kiri, memperhatikan sakura yang tetap berdiri di belakang punggungnya.

" Kau bisa keluar sekarang"

Sakura menatap pasien nya itu dengan senyum tipis yang tertutup masker

" Saya akan kembali jika saya telah melihat anda menghabiskan obat anda"

Mata onyx itu membulat seakan kesabarannya sedang diuji. Ia menutup kasar buku ditangannya lalu mendekati sakura dengan tegap. Tatapannya sedikit tertuju pada kedua kaki sakura yang tak kunjung mundur.

"Anda hanya bisa memaksa saya mundur jika anda sudah meminum obat itu"

Deggggg...tidak hanya langkah sasuke yang terhenti, nafas nya pun terhenti, matanya tidak bekedip..ia betul- betul dibuat mati langkah oleh gadis berambut merah muda ini. Segala gerak geriknya pun mampu di baca oleh sakura dengan akurat.

"Duduklah dan minum obat anda" ujar sakura

Sasuke hanya menurut dengan pikirannya yang masih berkutat penasaran tentang sosok tabib dihadapannya ini. Sungguh sasuke sangat tidak menyukai aroma obat-obatan. Namun tidak ada gunanya ia mendebat gadis bermata emerald itu. jelas tidak akan menyelesaikan masalah.

Sasuke menggangkat mangkuk berisi ramuan itu dan mendekatkan pada hidung nya. aneeeehhhh...tidak tercium aroma yang menusuk atau membuat nya mual. Ia dekatkan pada bibir tipis nya, mencicip nya sedikit di ujung lidah...untuk kesekian kalinya sasuke takjub dengan tabibnya kali ini. Obat itu tidak memberikan rasa yang pahit jutru aroma rempah yang segar mengundang pemuda tampan ini untuk menghabiskan obat itu.

Nyatanya tak perlu waktu lama bagi sasuke meminum ramuan itu.

" Anda sudah meminum obat dengan baik, ramuan ini bagus untuk pencernaan anda..."

Sakura mengambil mangkuk kecil itu dan mulai berjalan mundur menuju pintu , kemudian berbalik lalu keluar

Senyum tipis itu kembali terlukis di bibir sasuke melihat perilaku sakura.

"Mari kita lihat, permainan apa selanjutnya yang akan kau hidangkan nona" gumam sasuke.