Kneelx Present

ChanBaek

HunHan

KaiSoo

Disclaimer : Fanfic ini benar-benar berasal dari otak author sendiri, author hanya meminjam nama untuk kepentingan cerita. Tidak suka dengan cerita ataupun cast silahkan menekan/memencet tanda kembali/back. Terima kasih


Map-map itu bertumpuk diatas meja dengan sebuah papan nama yang bertuliskan 'Presedir Chanyeol Park' di tengahnya. Lelaki yang berada di balik meja tersebut terlihat sibuk membolak-balikkan kertas, menandatanganinya, menepikan ke posisi lain kemudian kembali mengambil dokumen lain. Sesekail ia mengucek matanya saat terasa perih.

Lelaki itu, Chanyeol, menggapai cangkir lalu menyeruputnya pelan meskipun sudah tak panas lagi. Tapi, memang seperti itulah cara menikmati pahitnya kopi. Setelahnya memijit pelipis dan melirik arloji, Chanyeol terkekeh melihat begitu cepatnya waktu berjalan.

"Baiklah, sedikit lagi" dan dia melanjutkan pekerjaannya.

Setelah tiga kali ketukan yang dibalas 'masuk' dari Chanyeol, seorang wanita memasuki ruangannya dengan sopan. Sedikit mengerutkan dahi, Chanyeol menatap wanita tersebut penuh tanya

"Kenapa belum pulang? Bukankah saya bilang, saya akan lembur?"

"Saya tidak enak meninggalkan Hoejangnim sendiri, tapi tadi ibu saya menelpon suruh pulang"

"Hahaha, sekarang saya yang jadi tak enak. Hati-hati di jalan Hwang Biseo"

"Gamshabnida Hoejangnim" Chanyeol mengangguk dengan senyum tipisnya. Pintu itu kembali tertutup, dan sekarang, dia sendirian lagi.

/\

"Woy caplang! Lama banget lu buka pintunya"

"Wohoo, kalem bro, ada panggilan alam tadi"

Cengiran itu membuat orang yang di panggil 'Bro' menggelengkan kepala maklum. Terbiasa dengan kelakuan absurd si pembuka pintu.

"Eomma buat sup lebih, kemarin lu bilang sakit tenggorokkan"

"Eomma Oh terbaik memang"

"Iyadong" Sehun tersenyum bangga

"Kaga masuk dulu?"

"Kagak, gue mau nganter Guanlin ke sekolahnya. Ketemu ntar di kantor"

"Siplah. Bilangin makasih ke eomma lu"

Sehun mengangkat jempolnya. Chanyeol menatap punggung itu, sampai dia menghilang saat berbelok memasuki lift. Berbalik dan menutup pintu, suara robot yang mengatakan bahwa pintu telah terkunci bergema.

"Ne gamsahabnida" ucapnya sambil membungkuk hormat pada pintu otomatis itu. Chanyeol tertawa saat sadar akan kelakuan bodohnya.

/\

"Pagi Hoejangnim"

"Yo, pagi" sapa Chanyeol balik.

Meskipun jabatannya sebagai pemilik perusahaan, Chanyeol tetap bersikap friendly pada karyawan yang bekerja di bawah naungan perusahaan ini. Mereka sudah melalui banyak hal melelahkan di kantor, pikirnya tidak elok jika pekerjaan mereka dibalas dengan sikap dingin seperti sifat-sifat pemimpin biasanya.

"Hoejangnim anda terlihat keren dengan setelan seperti saat ini"

"Benarkah? Kalian juga terlihat keren. Semangat bekerja" sedikit mengulas senyum lebarnya dimana itu membuat para karyawan tadi hampir saja berteriak kegirangan.

"Lu ada kencan apa gimana? Kenapa lu selalu make kaos di kantor?" sungut Sehun saat keduanya bertrmu di lift.

Jika dipikiran kalian Chanyeol sedang mengenakan setelan jas yang tersetrika licin, kalian tidak salah, hanya saja kurang tepat. Karena dia tidak menggunakan kameja di dalamnya, melainkan kaos.

"Wae? Seenggaknya gue masih pake jas. Yak bocah, gue ini bos lu, hormat dikit" ucapnya lalu menggeplak kepala Sehun pelan.

Sehun sang korban hanya mengelus kepalanya sembari melemparkan tatapan tajam tak berniat melanjutkan pembicaraan kemudian berlalu menuju ruangannya dan Chanyeol kembali memencet salah satu tombol lift.

"Morning Hoejangnim"

"Morning too Hwang Biseo"

"Hoejangnim, hari ini anda akan ada pertemuan bersama CEO Kang dari Floor corp pada pukul 11:00 KST, kemudian dilanjutkan dengan ..."

Rutinitas pagi Chanyeol, mendengarkan jadwal hariannya. Sejak Chanyeol tiba di lantai 27 tempat ruangannya berada, sekretarisnya Tiffany akan menunggu dan mulai membacakan rentetan kegiatannya. Sementara yang mendengarkan hanya manggut-manggut meng-ok-kan.

/\

Pukul 7 malam waktu setempat, dimana saat-saat yang paling ditunggu oleh para karyawan. Karena waktu pulang telah tiba, kembali ke rumah, bertemu dengan orang-orang terkasih kemudian makan malam bersama. Tapi Chanyeol masih di sana, di balik mejanya menandatangani dokumen yang entah mengapa selalu saja menumpuk setiap harinya.

Kantor mulai sepi, sekretarisnya juga sudah ijin tidak bisa menemani karena pacarnya masuk rumah sakit. Hanya tersisa beberapa karyawan yang lembur untuk menyelesaikan tugas kerja masing-masing.

Selesai dengan kegiatannya, Chanyeol menghubungi seseorang

"Jong, ke ruangan gue sekarang"

Memutuskan sambungan, menyenderkan punggung lelahnya sembari memijat keningnya pelan. Matanya terbuka setelah sempat terpejam beberapa detik saat decitan pintu ruangannya terdengar.

"Ada apa Hoejangnim?"

"Sejak kapan lu jadi sopan gini? Hahahaha" tertawa lebar, karena jujur saja seorang Kim Jongin yang sopan benar-benar tak bisa masuk dalam imajinasinya

"Ckck, harusnya lu bersyukur Direktur tim projek cogan kayak gue ini mulai taat tata krama"

"Terserah lu black. Lu bilang mau ke Grill&Pasta Restaurant buat ngambil denah Univ. Konkuk yang bakal kita kerjain kan?"

"Kampret black. Hooh. Lu mau ikut? Sekretaris gue juga kaga bisa temenin. Waa, gue curiga kenapa sekretaris jaman now bolos kerjanya samaan"

"Gue rasa kita perlu pinjem kekuatan Serlock Holmes buat tau yang begituan" sahut Chanyeol melebih-lebihkan, dan keduanya tertawa menanggapi sahutan konyol barusan.

Chanyeol mengambil jas dan handphonenya, merangkul pundak Jongin dan berjalan keluar sambil saling melemparkan lelucon yang mengundang gelak tawa.

"Kaga ngajak Sehun?" tanya Jongin dalam lift

"Tu bocah lagi ada urusan. Lu gak lihat dia kagak ada di ruangannya dari tadi sore" jawab Chanyeol dengan matanya yang sesekali mengecek notifikasi SNS-nya.

"Urusan apaan? Rusa Cina itu lagi?"

Chanyeol menyatukan kedua tangannya kemudian sedikit membungkuk layaknya memberi hormat pada patung Budha. "Anda menjawab dengan benar Tuan Kim Jongin"

"Tentu saja, Karena Kim Jongin selalu tampan" balas Jongin dengan nada seperti para biksu dan kedua tangannya yang ikut menyatu.

Gak ada hubungannya memang, tapi mereka ketawa. Gila kan?

/\

Dikarenakan Chanyeol tidak membawa mobil, jadi menebeng pada Jongin kemudian selesai pertemuan dengan perwakilan Unniv Konkuk Jongin menerima panggilan dari kekasihnya Do Kyungsoo yang meminta di jemput.

Alhasil, Chanyeol hampir saja memukul wajah Jongin saat dia mengeluarkan aegyonya yang sangat-sangat tak layak di pandang agar Chanyeol tak marah.

Dan disinilah Chanyeol, disalah satu halte bus di ibu kota Korea Selatan sedang menunggu bus tujuannya.

Pandangannya menerawang kesekitar, kehidupan ibu kota yang terlihat menawan pikirnya. Arlojinya menunjukkan pukul 1 dini hari, dan jalanan mulai terlihat sepi.

Kemudian pandangannya beralih lagi dan kini tengah menatap langit. Tak ada bintang malam ini, ditambah dengan dirinya yang menunggu bus sendirian.

'Sip ngenes' batinnya berkata.

Lagi dan lagi irisnya berpindah dan kali ini mata besarnya bertambah besar karena kaget melihat seseorang tertidur di pojok yang berlawanan dengan posisi duduknya sekarang.

'Kapan itu orang ada di sana?' Ya sekiranya itulah yang di pikirkan Chanyeol.

Sempat berpikir bahwa itu adalah hantu, namun dengan jaman modern sekarang mempercayai adanya hantu sepertinya terasa bodoh. Mencoba mengabaikan, Chanyeol kembali fokus menunggu busnya.

"Grrrr... dingin" lirih, namun dengan keadaan lingkungan seperti sekarang, lirihan itu terdengar jelas di telinga perinya.

Menatap jas yang berada di genggamannya, lalu berganti menatap orang itu. Chanyeol menggelengkan kepalanya dan berusaha tak peduli. 'Bodo amet' innernya.

Namun lagi-lagi lirihan itu terdengar, mencoba mendengarkan hatinya, Chanyeol melangkah pasti kemudian menyelimuti orang itu dengan jasnya.

Retina Chanyeol seolah terpaku saat sinar lampu halte bus menyinari wajah orang tersebut. Imut, dan tanpa sadar Chanyeol tersenyum, disaat bersamaan bus yang ditunggu datang. Rasanya tak tega membangunkan anak itu, tapi ia harus.

"Mbak eh mas, busnya sudah datang" sedikit mengguncang tubuhnya dan syukurnya tak perlu waktu lama.

Dengan kaget, orang itu berlari ke dalam bus dengan jas Chanyeol yang masih melekat di tubuhnya. Chanyeol terkekeh kecil, dan mengikuti orang itu masuk ke dalam bus.

Dia, lucu.

/\

Chanyeol baru saja selesai mandi dan kini tengah memberikan sedikit pelembab pada wajahnya. Di luar-tepatnya di kamar, terdengar bunyi panggilan masuk dari ponselnya. Nomor tak dikenal, seperti biasa dia menarik tanda merah.

Baru saja benda persegi panjang itu kembali ke kasur, nada panggilan kembali terdengar. Bukannya berniat sombong, tapi setiap panggilan dengan nomor tak dikenal dia angkat, penelpon selalu saja berbicara hal yang aneh-aneh.

Selesai dengan menggunakan piyama birunya, Chanyeol kembali memeriksa hpnya dan membuka pesan yang baru saja masuk

'Annyeonghaseo, saya adalah orang yang membawa jas anda. Tolong angkat telponnya^^'
02.17 AM

Aah, Chanyeol ingat, sebelum turun dia sempat memasukan kertas berisikan pesan dan nomor ponselnya ke dalam jas dan hey, apa-apaan emot itu.

Tak menunggu lama, Chanyeol memanggil ulang nomor tersebut.

"Yeobseo.."

"Ah ne, Yeobseo. Anda yang mempunyai jas yang saya bawa ini kan?"

"Iya benar, itu jas saya"

"Alamat anda dimana? Akan saya antar besok pagi"

"Tidak perlu, kembalikan saja besok... di halte yang sama" ada jeda sedikit di sana

"Aa begitu, baiklah. Terima kasih. Maaf ngerepotin"

"Ya sama-sama. Tak apa, itu tidak merepotkan"

"Baiklah kalau begitu, eum.. selamat malam"

"Ya, selamat malam"

'Bukan hanya wajahnya yang imut, suaranya juga' pikirnya.

Kemudian senyuman tipis tercipta di wajah Chanyeol sambil menekan tanda merah di ponselnya.

/\

Pagi yang cerah, Chanyeol meregangkan tubuhnya setelah sebelumnya mengutuk bunyi alarm yang begitu memekakkan telinga. Salahkan Sehun dan Jongin yang memberikan benda itu sebagai kado ulang tahunnya tahun lalu.

Menggaruk tengkuknya yang terasa gatal, dengan mata yang masih menyipit ngantuk. Chanyeol berusaha keluar dari zona nyaman sang kasur dan kemudian bergelut dengan rutinitas paginya.

Selesai dengan urusannya, sekarang pemuda jangkung itu sedang mengoleskan selai coklat diroti bakarnya lalu memakannya perlahan. Irisnya bergerak mengamati keadaan apart pagi ini. Luas dan sepi, seperti biasa.

Sudut bibirnya sedikit terangkat, dia tersenyum tapi tidak bagus untuk di pandang. Meraih jas dan kunci mobil, sesaat dia teringat akan sesuatu. Senyumannya berubah, kali ini cukup bagus untuk di pandang, tapi jangan kelamaan, nanti overdosis.

"Pergi dulu" teriaknya pada ruangan yang hampa.

Tampak tak peduli, Chanyeol melanjutkan langkahnya, menutup pintu apart dengan kakinya dan sedikit berlari ke arah lift.

"Cepetan tem, telat ini"

"Salah lu yoda, nelpon gue pagi-pagi minta jemput, tau sendiri gue nganter Kyungsoo dulu jadinya lama. Lagian lu juga kenapa kagak bawa mobil? Lu kata semalem mobil udah di bawa ke apart lu" oceh Jongin

"Bacot, udah cepetan"

Perempatan imajiner mulai muncul di kening Jongin "Terus lu kira gue bawa kaya siput sekarang?"

"Belok kanan"

"Iya tau"

"Yaudah belok"

"Sabar bego, lampu merah noh!"

Bentuk O di bibir Chanyeol entah mengapa membuat Jongin bertambah kesal

'Sabar Jong, inget ni makhluk bos lu. Sabar sabar, orang sabar di sayang Kyungsoo'

/\

"Bagaimana perkembangan pembangunan Mall xxxx?"

"Ne Hoejangnim, kami sudah bertemu dengan pengembang dari proyek ini, dan mereka menginginkan mall dengan rekreasi sebagai tujuan utamanya. Maka dari itu kami menyarankan untuk membuat semacam kombinasi dalam satu tempat" jelas Jongin dengan sinar proyektor di belakangnya

"Kombinasi?"

"Ne, seperti hanya satu tempat dengan banyak hal didalamnya dimana itu bisa membuat orang berkerumun ke sana"

Chanyeol menatap Jongin sesaat kemudian manggut-manggut. "Konsepnya bagus, tapi kenapa saya merasa ragu? Jika Kim Daepyo ingin membuat kerumunan disana, maka kualitas permen sangatlah di perlukan agar semut-semut mau berkurumun. Jadi, permen seperti apa yang ingin Kim Daepyo letakkan?"

"Berkaitan dengn masalah itu, kami sudah berkonsultasi dengan tim retail. Jadi, untuk penjelasan selanjutnya akan di lanjutkan oleh Oh Daepyo" Jongin membungkuk kecil dan kembali ke kursinya.

"Ne, berdasarkan penjelasan Kim Daepyo barusan, kami dari tim retail menemukan beberapa ide untuk menarik minat konsumen pada mall yang akan dibangun" Sehun memencet tombol diremot dan beberapa data keluar dari layar proyektor

"Seperti yang anda sekalian lihat, data yang sedang berada didepan menunjukkan sesuatu yang belakangan sangat disukai oleh masyarakat. Sesuatu yang multi, dimana pelanggan bisa menemukan semuanya sekaligus dalam satu tempat"

"Ditambah lagi dengan tujuan dari pembangunan mall ini adalah rekreasi, jika kita menambahkan beberapa kegiatan olahraga di dalamnya bisa saja menarik lebih banyak konsumen. Sekian dari saya, terima kasih"

Pandangan Chanyeol beralih pada Sehun. Tersenyum singkat, Chanyeol menganggukkan kepalanya

"Pembuatan mall serba ada sudah ada terlebih dahulu, tapi dengan tambahan kegiatan olahraga seperti yang dikatakan Oh Daepyo, saya rasa itu menarik. Baiklah, meskipun rancangan sudah dibuat saya tetap ingin ada tinjauan ulang"

"Sore ini, maksud saya besok pagi, saya ingin semua laporan awal sudah berada di meja saya." tutup Chanyeol setelah mengoreksi beberapa bagian dari rancangan projek kali ini.

"Ne, Hoejangnim"

Seperti Jongin, Sehun juga membungkuk kecil dan kembali ke bangkunya. Dari pelupuk matanya, Chanyeol bisa melihat Jongin dan Sehun mengangkat jempol masing-masing

"Saya mengharapkan yang terbaik, Gamsahabnida, Sugohaessoyo"

Waktu menunjukkan pukul 12:30 KST, Chanyeol menoleh dan memberi kode pada moderator rapat pagi ini. Moderator bernametag Nam Jo Hyuk itu mengangguk kemudian menutup rapat yang telah berlangsung selama 3 jam lebih. Rapat manajemen memang melelahkan.

Satu persatu karyawan mulai keluar dari ruangan, begitupula dengan Chanyeol, Jongin dan Sehun, mereka berjalan beriringan dan berakhir memasuki ruangan Chanyeol. Yang punya ruangan pergi mengambil air di pojok ruangan, Jongin yang lelah karena begadang semalaman langsung merebahkan tubuhnya di sofa panjang di sana, sementara Sehun menyenderkan tubuhnya. Helaan nafas Sehun membuat dua makhluk adam di sana mengalihkan pandangan dan menatap Sehun.

"Di tolak lagi?" tanya Jongin yang hanya di balas dengan anggukan lemah dari yang ditanyai

"MAMPOZ" seru Chanyeol-yang sekarang sudah duduk di kursi sebelah Jongin-, dan Jongin-yang sudah dalam posisi duduk-bersamaan disertai suara terbahak yang membuat Sehun rasanya ingin menjahit mulut dua manusia bodoh itu bersamaan. Itu seram.

"KAMPRET, BERHENTI KAGAK LU BERDUA"

"Kalem seh, lu kayak cewek pms aja" sahut Chanyeol di sela-sela tawanya

"Ganti dulu sana dedek Sehun, nanti bocor" kali ini giliran Jongin.

Keduanya tos tepat di depan wajah Sehun.

Oh God, dosa apa dia sampai mempunyai sahabat tolol seperti ini. Namun, membayangkan perbedaan sikap mereka saat rapat tadi dan saat bersama seperti sekarang membuat Sehun merasa tergelitik dan tertawa, lalu berhenti saat tersadar sesuatu.

Jongin menunjuk Sehun sambil menggelengkan kepalanya prihatin."Lihat, otaknya sudah rusak beneran"

Tuan Kim Jongin, lihatlah keadaan otak anda terlebih dahulu.

"Kayaknya, gue bakal berhenti" suara Sehun memecah keheningan yang sempat tercipta.

Keadaan masih sunyi, Sehun akhirnya mengangkat kepalanya sedikit untuk mellihat ekspresi kedua sahabatnya dan seperti dugaan, mereka cengo.

Chanyeol dan Jongin tiba-tiba sudah berada di sebelah kiri dan kanan Sehun

"5 tahun lu ngejar tu rusa, dan sekarang lu mau berhenti?"

"Gue ca-,.."

"Semangat weh, kagak keren lu ah"

"Bod-,..."

"Kagak kagak, lu harus lanjut. Sia-sia pengorbanan lu ntar"

"Udah gue bil-,.."

"Susun rencana, woy yoda mikir"

"Ini gue lagi mikir item"

"Gue putih ya, kemarin gue abis luluran pake lulurnya Kyungsoo"

"Pantesan Soo ngomel mulu lulurnya abis"

"Bukan ngomel mpret, kesel dikit"

"Ya sama ae ogeb"

Sehun facepalm, udah tadi ngomong di potong mulu, dan sekarang di paksa nonton pertikaian dua orang yang sama-sama begoknya.

"Bisa kaga lu ber-,.."

"DIEM"

"LU BERDUA YANG DIEM KAMPRET!" murka Sehun

Tok tok tok

"Hoejangnim, ad-,.." Tiffany tersentak kaget mendengar bentakan Sehun. Sepertinya hari ini memang hari sialmu Tuan Oh.

Chanyeol memindahkan pandangannya "Ada apa Hwang Biseo?" tanyanya kembali ke nada jabatannya

"Itu, ada yang menelpon dan mencari Hoejangnim"

Chanyeol mengerutkan dahinya, perasaan dia tidak mempunyai jadwal pertemuan untuk 2 hari ini

"Siapa?"

"Namanya Park *tiiiiiit*"

Jongin dan Sehun menatap Chanyeol, terlihat jelas rahangnya mengeras kaget.

"Katakan saya sedang tidak berada di tempat" nadanya berubah, menjadi lebih dingin

"Ne Hoejangnim" membungkuk sesaat, kemudian keluar dari ruangan pemimpin perusahaan itu.

"Sialan" desis Chanyeol dengan tangan yang terkepal.

TBC


Sebenernya dulu pernah buat ff juga tapi bukan EXO, dan aing ndak bisa lanjut karena alurnya mulai gak beraturan. Dan sekarang malah kepincut sama ChanBaek, tapi sumpah mereka itu kiyot sangat :v

Semoga cerita ini lancar dan bisa diminati pembaca sekalian.

Fast up untuk chapter 1. Jangan lupa reviewnya :)

Chap selanjutnya mungkin minggu depan.. Sampai jumpa:)