Kneelx Present

ChanBaek

HunHan

KaiSoo

Disclaimer : Fanfic ini benar-benar berasal dari otak author sendiri, author hanya meminjam nama untuk kepentingan cerita. Tidak suka dengan cerita ataupun cast silahkan menekan/memencet tanda kembali/back. Terima kasih

a/n : Haluu.. aing back. Adakah yg nunggu ff ini update? Ada lah pastinya, ya kan ya kan :v author mulai gaje.

Yup, mungkin untuk chapter selanjutny author ndak formal-formal lgi yaa..

Sesuai permintaan klian, author ttp d sni ndak pindah k akun sebelah. Sneng kn diturutin sama cecan, wkwkwk.. Makasih buat yang udah nyempatin review. Lopyupull dah :* yang mewek nnti author kirimin tisyu, tnggal 33 tapi. Muehehe..

Yodahlah cukup segitu aj cuap2nya.

Jngn lupa review woy..

Selamat membaca :)


"Setelah kejadian itu, Chanyeol diangkat jadi Presiden Direktur di perusahaan ayahnya bahkan disaat dia belum selesai kuliah. Lu pasti tau seberapa banyak tekanan yang Chanyeol dapat waktu itu"

"Sampai sekarang gue sama Sehun juga masih berusaha buat nyari ibunya Chanyeol. Tapi lu tau lah Baek, nyarinya lebih susah daripada nyari jarum di tumpukkan jerami"

Kalimat Jongin saat mengakhiri cerita di cafe tadi terus terngiang di telinga Baekhyun.

Baekhyun menengadah, ia melihat awan yang bergumul di langit sore dan terkejut kala sebuah lengan kekar melingkar indah dipinggang rampingnya dengan dagu yang menumpu pada pundak.

"Sedang melihat apa hm?" suara berat Chanyeol membuat Baekhyun berbalik dan tersenyum tipis

"Melihatmu"

Chanyeol menyatukan alisnya bingung. "Apa sekarang aku terlihat besar seperti langit?"

"Kkk tidak Yeol, tapi kau seperti awan berbentuk gajah di sana" tunjuk Baekhyun random ke atas

Chanyeol mengangkat kepalanya dan mencari awan berbentuk gajah

"Mana? Tak ada. Aw, Baek!" seru Chanyeol kaget saat pucuk kepala Baekhyun menyeruduk dagunya

"Tentu saja tak ada paboyaa, kenapa kau mudah sekali percaya" Baekhyun berkacak pinggang dan menggeleng-geleng layaknya pose ala-ala stiker line

"Oo jadi kau ingin aku tak mempercayaimu? Ok call" setelahnya Chanyeol berjalan mendahului Baekhyun

"Yak, kau marah?" tanya Baekhyun dan mengapit lengan Chanyeol

"Tidak"

"Yeol-ah, aku lapar"

"Kau fikir aku akan percaya? No!"

Baekhyun tercengang. Apa Chanyeol memang kekanak-kanakan seperti ini?

Chanyeol berbalik dan melihat Baekhyun yang tak lanjut jalan "Cepatlah, kau bilang lapar"

'lihatlah, sangat labil. Tapi lucuu' pikir Baekhyun gemas sendiri

"I'm coming big baby" seru Baekhyun semangat dan balik mengapit lengan Chanyeol.

Chanyeol terkekeh, mengacak rambut Baekhyun dan lanjut berjalan menuju tempat tujuan mereka dengan suhu cuaca yang semakin menurun.

"Matamu kenapa?"

Baekhyun yang sedang menelan daging panggangnya tiba-tiba tersedak "uhuk"

"Pelan-pelan Baek" suruh Chanyeol dan memberikan air minum kepadanya

"Makanya jangan bicara saat makan!" nada Baekhyun tiba-tiba naik

"Aku kan cuma bertanya" balas Chanyeol, memeletkan lidahnya mengejek

"Kau menangis?"

dan Baekhyun tersedak lagi "Kubilang jangan bicara saat makan!" Geram Baekhyun.

Melayangkan pantat sendok silver itu hingga bersapa dengan tempurung kepala Chanyeol, menimbulkan bunyi ketokan yang lumayan keras.

"Yak, sakit Baeek" rengek Chanyeol sambil menggosok kepalanya

"Utututu.. sakit? Maafkan hyung yang tampan i-..."

"Jangan bicara saat makan" potong Chanyeol, dan Baekhyun hampir tersedak ludahnya sendiri. Belum sempat Baekhyun protes, omongannya sudah dipotong lagi

"dan jangan menyebar fitnah saat makan. Hyung yang tampan apaan"

Chanyel menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tertawa karena mendengar bualan Baekhyun tadi. Tiba-tiba Baekhyun teringat sesuatu

"Kau tak bersama Jongin dan Sehun?"

"Aku kan sekarang sedang bersamamu Baek, dan di kanan kiriku tidak ada iblis-iblis itu"

"Maksudku mereka kemana?"

"Mana ku tau, berkencan mungkin"

Tak yakin dengan jawabannya, Chanyeol mengambil ponselnya dan mengirim pesan dengan format yang sama untuk Sehun dan Jongin.

"Kau ngapain?"

"Bertanya mereka sedang dimana" Baekhyun tertawa.

Semakin kesini, Chanyeol yang awalnya terlihat bangsat malah jadi cubang (cubang=lucu banget).

"Oh iya, kau pertama mengenal mereka dimana?" tanya Baekhyun dengan raut penasaran yang di buat-buat

"Junior High School. Kenapa tiba-tiba nanya?"

"Kenapa? Ndak boleh?" sahut Baekhyun galak

"Baek kau tak pms kan?" Chanyeol bertanya dengan hati-hati.

Terakhir kali dia menggoda Baekhyun seperti itu Chanyeol mendapat gigitan di punggung tangannya. Benar-benar uke yang ganas.

"Mau mati?" tanya Baekhyun dengan pisau makan yang tiba-tiba berdiri tegak

"A-ani.. hehehe.. kau sangat tampan malam ini Baek"

"Tentu saja"

Layaknya perempuan yang bangga dengan sanjungan, Baekhyun menyibak rambutnya. Sementara Chanyeol dalam pikirannya meminta Tuhan untuk memaafkankannya karena telah berbohong.

\/

Malam semakin larut, kini dua sejoli tanpa hubungan yang jelas itu telah tiba di apartemen Chanyeol. Baekhyun lumayan sering kesini, namun baru kali ini dia benar-benar memperhatikan salah satu apartemen mewah di daerah Gangnam itu, yang tentu saja mempunyai harga tak wajar bagi sebagian orang.

Bukan tanpa alasan Baekhyun ke sini, awalnya selesai makan malam tadi mereka akan langsung pulang, namun tiba-tiba Chanyeol meminta Baekhyun untuk menginap. Dan Baekhyun mengiyakannya.

Baekhyun melangkah menuju dapur, jemari lentiknya membuka kulkas dan setelahnya Baekhyun menghela nafas disertai dengan gelengan kepala pelan.

Chanyeol yang baru kembali dari ruang tengah mendapati Baekhyun sedang berkacak pinggang di depan kulkasnya "Sedang apa?" tanyanya.

Alih-alih menjawab, Baekhyun malah beralih membuka rak dapur.

"Kau sarapan apa tadi pagi?"

"Tadi aku kesiangan, jadi.." tatapan intimidasi Baekhyun membuat Chanyeol merasa buruk "..aku tak sempat sarapan" lanjutnya

"jugeullae?!" bentak Baekhyun
"Kau punya ramen, roti, di kulkasmu ada selai coklat. Kenapa kau malah melewatkan sarapan?"

Chanyeol melongo, sedetik kemudian dia tersenyum melihat Baekhyun mengomelinya sambil menunjuk bahan-bahan yang dia sebut.

"Terus, tak bisakah kau mengisi kulkasmu dengan yang lebih bernutrisi sedikit dan juga-.." Baekhyun tak bisa melanjutkan ocehannya saat lengan itu kembali melingkar di pinggangnya

"Kupingku jadi panas Baek"

"Itu karena kupingmu yang terlalu lebar" Baekhyun mendengus kesal

"Waa.. kau mengejek kupingku sekarang?" tanya Chanyeol dan melepas rengkuhannya

"Tidak, kau merasa ya?" Baekhyun balik bertanya sambil mengendikkan bahunya.

Dan mereka kembali berdebat.

Begitulah susahnya jika berpasangan dengan sesama pintar.

Jadi nasihat yang bisa dipetik, carilah pasangan yang jangan melebihi kepintaran anda, biar bisa di begokin sedikit. Lah kok?

Ok, abaikan.

Dikarenakan besok weekend, jadi baik Chanyeol maupun Baekhyun tidak perlu pergi bekerja dan malam ini mereka berada di balik selimut menutupi kaki hingga pinggang dengan sisi atas badan bersender pada sofa dan Chanyeol yang menopang mangkuk popcorn di pahanya sementara tangannya merangkul leher Baekhyun yang berada disebelahnya.

"Ck apa-apaan itu, dia membeli mobil dengan uang adiknya" ucap Baekhyun sambil menunjuk-nunjuk tak suka pada pemeran pria di layar tv

"Itu namanya pintar Baek" sahut Chanyeol santai

"Pintar apanya. Kau tau, jika itu diketahui hukum dia bisa di pidana dengan pasal-..."

"Arraseo arraseo.. dia bodoh. Dasar brengsek, mentang-mentang adiknya tidak bisa melihat dia jadi sesukanya" Chanyeol meninju angin dengan kesal, pura-pura sebenarnya.

Kupingnya benar-benar panas sekarang karena Baekhyun yang selalu mengomentari setiap scene di flim berjudul Hyung/Brother itu.

"Berhentilah memotong penjelasanku yoda"

"Lihatlah Baek, kau mulai terpengaruh dua curut itu sekarang. Aku ini tampan, tidak seperti yoda"

"Tapi telingamu seperti yoda. Dasar caplang, kuping gajah, kuping lebar" sungut Baekhyun makin menjadi.

Chanyeol berniat membalas tapi mulutnya malah ditutup Baekhyun dengan telapak tangannya. Dia mengangkat alis bingung ketika melihat Baekhyun yang tiba-tiba berlari ke arah gorden dan membukanya lebar-lebar menampakkan pemandangan kota di balik kaca besar apartemen.

"Waa.. ramalan cuaca hari ini ternyata benar" mata Baekhyun berbinar.

Namun belum selesai dengan kekagumannya, Chanyeol tiba-tiba sudah berada di belakang Baekhyun dan menarik gorden hingga menutup keseluruhan kaca dalam satu tarikkan.

"Chanyeol-ah, ada apa?"

"Tidak ada" sahutnya pelan

Dalam cuaca dingin seperti ini, Baekhyun dapat melihat peluh beserta wajah pucat Chanyeol. Belum sempat dia bertanya lebih lanjut, Chanyeol berbalik menuju kamar dengan Baekhyun yang mengikutinya dari belakang.

Baekhyun berlari dan memeluk Chanyeol yang terduduk diatas kasurnya dengan nafas tersenggal sambil meremas dada bagian kirinya.

Melihat itu Baekhyun mengelus bahu Chanyeol lembut, membisikkan kalimat bahwa semua akan baik-baik saja dan mengatakan bahwa dirinya akan selalu berada di sisi Chanyeol selamanya.

"Baekhyun-ah" gumam Chanyeol dengan bahu yang bergetar.

Wajahnya semakin pucat dan matanya terpejam merasakan hangat alami dari tubuh beraroma strauberi yang selalu menjadi candu untuk indra penciumnya, lalu balik memeluk tubuh Baekhyun erat-erat.

"Maaf, hiks.. Chanyeol-ah mianhae" rasa bersalah itu melingkupi perasaan Baekhyun hingga membuatnya menangis keras.

Dia tahu Chanyeol tak ingin melihat itu makanya saat mereka sampai Chanyeol langsung menutup gorden besarnya.

Dia tahu Chanyeol tak ingin membahas itu makanya Chanyeol menyarankan untuk menonton flim

Dia tahu Chanyeol tak ingin sendirian di saat seperti ini makanya dia mengajak Baekhyun menginap.

Dan dia tahu Chanyeol sangat membenci itu, membenci butiran putih bernama salju yang mulai berjatuhan malam ini.

Baekhyun tahu, sangatlah tahu. Tapi hanya ini cara yang terpikirkan olehnya agar Chanyeol terbuka padanya. Namun setelah dia melihat raut luka di wajah lelaki yang dicintainya, Baekhyun menyesal. Sangat menyesal.

Chanyeol POV

Gue mulai curiga sejak Baekhyun nanya tentang awal pertemuan gue sama Jongin dan Sehun. Meskipun waktu dinner tadi gue cuma menduga-duga tapi mengingat Jongin dan Sehun yang tidak ada di kantor hingga sore membuat gue yakin sama dugaan gue, dan juga tentang mata Baekhyun yang kelihatan bengkak tadi. Dua curut itu pasti sudah nyeritain semuanya.

Dugaan gue memang jarang salah, Baekhyun yang biasanya nggak terlalu peduli dengan isi kulkas dan rak dapur gue tiba-tiba ngomel.

Dan saat Baekhyun lari buka gorden yang sudah gue tutup rapat sebelumnya, perasaan gue mulai nggak enak.

Gue berusaha buat ndak peduli, tapi pas butir putih itu ketangkep di indra penglihatan gue. Gue gak bisa tahan lebih lama lagi dan dengan tergesa nutup seluruh bagian yang di buka Baekhyun.

Bisa gue rasain wajah gue yang memucat, gue yang mulai keringatan dan ujung jari kaki juga tangan gue yang mendadak dingin.

Sampai dikamar, rasa panik dan takut itu nyerang gue sampai buat gue mengingat lagi kejadian-kejadian lalu.

Tanpa gue sadari, nafas gue memendek dan dada gue terasa sesak. Tapi, pelukan dari Baekhyun buat rasa panik gue hilang, sialnya rasa takut gue masih ada sampai dia ngebisikin kata-kata yang buat gue tenang.

Gue nggak tahu apakah kata-kata yang Baekhyun ucap bakal terwujud atau nggak sama sekali, tapi gue percaya dengan apapun yang dia katakan.

Kalian bertanya kenapa? tentu saja karena gue cinta dia.

Mata gue terpejam, hangatnya tubuh Baekhyun buat gue merasa semakin nyaman dan tenang.

Sudut mata gue mulai basah, selama 7 tahun ini gue ngelewatin 7 kali salju pertama sendirian.Tapi dengan hadirnya orang yang paling gue cinta disini, untuk pertama kalinya gue nggak mau terlena dalam trauma itu.

Kalian bertanya dimana Jongin dan Sehun saat seperti ini? Tentu saja mereka akan datang. Tapi tak ada saat salju itu pertama turun karena mereka tidak pernah mengecek ramalan cuaca.

"Maaf, hiks.. Chanyeol-ah mianhae"

Mata gue terbuka saat suara isakan Baekhyun terdengar.

Pelukan Baekhyun melonggar, dalam posisi seperti ini gue ngedongak dan ngeliat air mata jatuh dari mata indahnya.

Tangan gue bergerak ke atas dan ngusap air sialan yang berani-beraninya keluar dari sana.

"Gak apa Baekhyun-ah" gue berusaha keluarin senyum terganteng yang gue punya buat nenangin kesayangan gue ini

"Apanya yang gak apa? Ngeliat kamu kayak tadi benar-benar sakit. Maaf Chanyeol-ah"

Senyuman gue melebar, seakan lupa dengan penampakan butir putih tadi, sekarang gue malah muji gimana imutnya dia bahkan saat dia lagi sesenggukan kayak gini.

"Malah nyengir, dasar geblek"

Cengiran gue berubah menjadi tawa. Saking gemasnya gue berdiri dan nangkup pipi Baekhyun, mengecup bibir pink alaminya singkat kemudian menyatukan jidat gue dan jidatnya, hidung gue bergesekkan dengan hidung bengirnya dan itu buat Baekhyun tersenyum.

Senyum yang selalu jadi candu buat gue.

Bukan hanya senyumnya, tapi semua yang ada di dirinya sudah menjadi candu yang gak bisa gue lepas.

"Selama kau ada disisiku, aku selalu baik-baik saja. Jadi jangan pergi kemanapun dan tetap disini bersama ku"

Baekhyun mengangguk kemudian meluk gue erat, tangan gue mengelus surai hitamnya yang sangat lembut, kecupan gue berpindah ke keningnya lama.

"Aku mencintaimu"

Chanyeol POV End

"Aku mencintaimu"

Mata Baekhyun membola, didorongnya tubuh Chanyeol pelan, pandangannya lurus menatap iris Chanyeol.

"K-kau bilang apa?"

"Kau belum bersihin telinga? Aku punya cotton bud di kotak P3K"

Baekhyun menggeplak Chanyeol kesal "Jangan merusak suasananya yoda" seru Baekhyun keras.

Sementara yang di geplak meringis pelan dan tertawa singkat. Menggoda Baekhyun sudah masuk dalam top 3 hobinya sejak mereka pertama bertemu.

"Jawab Baek"

"Jawab apa?" tanya Baekhyun menatap Chanyeol bingung, pura-pura bingung lebih tepatnya

Chanyeol menghela nafasnya pelan, tak tahukah Baekhyun seberapa banyak keberanian yang dibutuhkan Chanyeol untuk mengutarakan itu.

"Ku bilang aku mencintaimu" ulang Chanyeol sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal

"Aku juga" cicitnya pelan.

Kemudian canggung..

"Ku bilang aku juga mencintaimu" Baekhyun mengulang pengakuannya

Semburat merah itu membuat Chanyeol gemas, perlahan tapi pasti Chanyeol mendekatkan wajahnya. Matanya tak lepas dari bibir ranum Baekhyun. Baik Chanyeol maupun Baekhyun mulai terpejam saat merasakan terpaan nafas masing-masing yang semakin dekat

Ting tong.. Ting tong..

Mencoba mengabaikan bunyi bel, Chanyeol tetap mendekatkan bibirnya, kurang satu centi lagi...

Ting tong.. Ting tong..

Ting tong.. Ting tong..

Ting tong.. Ting tong..

Ting tong.. Ting tong..

"Shit" umpat Chanyeol pelan.

Siapa yang bertamu di saat penting seperti ini?

Baekhyun berdehem dan menarik diri terlebih dahulu "Buka sana" suruh Baekhyun dan berjalan keluar kamar.

Chanyeol bersumpah akan membunuh orang yang mengganggu waktunya dengan Baekhyun sekarang.

Tanpa melihat siapa yang bertamu di monitor, Chanyeol membuka pintu dengan gusar. Belum sempat dia mengeluarkan sumpah serapahnya, Chanyeol sudah mendapat serangan mendadak duluan.

"Chanyeol-ah/ Chanyeol-ah"

"Sahabatkuu, Maaf gue gak dateng langsung pas lu nanya lagi dimana, Kyungsoo minta beli coklat dulu"

"Gue juga minta maaf Yeol, gue nganter Guanlin beli kamera tadi. Kalau kagak dibeliin nanti dia ngadu ke eomma"

Jongin dan Sehun menghambur kepelukkan Chanyeol lalu meminta maaf dengan nada menyesal. Chanyeol yang kaget hanya terdiam membiarkan pinggangnya dipeluk kiri kanan oleh black and white ini.

"Kalian ngapain?" tanya Chanyeol datar

"Lu gak kenapa-kenapa kan?" tanya Jongin sambil memeriksa tangan Chanyeol

"Lu gak nangis lagi kan?" Sehun juga bertanya sambil memperhatikan mata lebar Chanyeol

"Tenang Yeol, sekarang ada kita berdua. Lu gak bakal sendirian lagi malam ini"

Sehun mengangguk setuju dengan perkataan Jongin.

Chanyeol mengusap wajahnya sendiri frustasi, dia tidak bisa melaksanakan sumpahnya yang tadi kalau begini.

"Malah diam disana, Jong, Seh ayo masuk. Gue sama Chanyeol beli ayam tadi"

Jongin dan Sehun kompak memiringkan kepalanya dan melihat Baekhyun yang tersenyum. Tidak-tidak, dia tidak tersenyum, tapi menyeringai dan itu terlihat seram.

"Baekhyun?/Hyung?" gumam keduanya bersamaan

Paham akan situasi, Jongin dan Sehun sepakat kalau sekarang bukanlah Baekhyun yang seram, melainkan orang yang sedang mereka peluk.

Belum sempat mereka kabur, Chanyeol menyekek keduanya menggunakan lengan bersamaan. Ketiganya terjatuh dan bergelut di lantai.

Benar-benar potret persahabatan yang mengharukan.

\/

Terik mentari mengetuk mata Chanyeol yang masih terpejam, seakan berusaha membangunkan lelaki tampan itu dari tidur nyenyaknya.

Merasa terganggu, Chanyeol mengubah posisi. Tangannya yang hendak menggapai sesuatu di sebelah membuat matanya terbelalak saat telapak tangannya tak menyentuh yang diinginkannya.

"Baekhyun-ah.. Baekhyun-ah!" panggil Chanyeol cepat, posisinya yang semula berbaring kini terduduk dengan peluh memenuhi pelipisnya

"Ssst.. aku disini. Aku disini Chanyeol-ah"

Lengan ramping Baekhyun merengkuh kepala Chanyeol dan mengelus surainya lembut, mengecup puncak kepala PresDir muda itu penuh kasih sayang.

Dia yang baru saja keluar dari kamar mandi terkejut saat Chanyeol memanggil namanya. Tapi mengingat cerita Jongin dan Sehun kemarin, dia mengerti kenapa.

"Jangan tinggalkan aku" mohon Chanyeol.

Tangannya bergerak melingkari pinggang namja yang kini berstatus sebagai kekasihnya. Walau tak terlihat, Chanyeol dapat merasakan Baekhyun mengangguk dan rasa hangat itu kembali membuatnya nyaman.

Chanyeol tak ingin terlihat lemah seperti ini, tapi bayangan sang ibu yang menghilang dari hidupnya sesaat setelah dia membuka mata membuat Chanyeol tak ingin hal itu terulang kembali.

Chanyeol takut kebahagiaannya semalam hanyalah sebuah mimpi belaka, dia terlalu bahagia malam tadi sama seperti malam terakhir sebelum ibunya pergi.

Ia yang waktu itu masih berada di jenjang Junior High School merasa bahagia karena ibunya mengatakan bahwa ia akan menemani Chanyeol tidur malam itu. Meskipun agak memalukan mengingat dia yang beranjak dewasa, tapi Chanyeol tak mempermasalahkannya.

Namun semua kebahagiaan itu hilang saat Chanyeol membuka matanya dan tak mendapati sosok ibu disebelahnya.

Anggapan bahwa ibunya telah ke lantai bawah lebih dulu untuk menyiapkan sarapan hancur saat ayahnya tak mengatakan apapun saat Chanyeol bertanya 'Mana eomma?'

Sejak saat itu Chanyeol tak pernah merasakan kehangatan seorang ibu. Meski begitu, kedua sahabatnya selalu berada disisinya saat Chanyeol susah, ditambah dengan kehadiran Baekhyun dalam hidupnya sekarang. Chanyeol mulai merasa cukup.

"Makan yang banyak uri big Babyy"

Yang dikatai big Baby mendengus tak suka "Jangan memanggilku seperti itu Baek"

"Wae? Itu imut. Apalagi saat kau mengatakan 'jangan pergi Baekhyun-ah', Oh my God Yeol kau membuatku ingin menggigitmu" pekik Baekhyun, Chanyeol menghela nafasnya pelan.

"Ok, jadi kita tekankan sekarang. Posisi atas aku, posisi bawah kau Baek"

"No no no.. sudah jelas-jelas aku lebih manly" gerakan Baekhyun menyibak rambutnya ke belakang telinga membuat Chanyeol terkekeh geli.

"Aku tak dengar, aku pakai sendok"

"Yaak.." rajuk Baekhyun

"Lihat, mana ada posisi atas punya wajah imut, cantik, gemesin sepertimu? Dan juga kebiasaanmu menyibak rambut, kau bahkan lebih cantik dari pada Suzy saat melakukan itu"

"Apa kau mengatakanku cantik sekarang?" tanya Baekhyun mengancam

"Dosaku sudah banyak. Jangan paksa aku berbohong dan mengatakan kau tampan lagi. Jadi uri Baekkiee, terima saja ne. Aaak.. kupingku kupingku!"

Baekhyun menarik kuping lebar itu kesal lalu melepasnya saat pemiliknya berteriak kesakitan.

"Rasakan" ucapnya dan mulai memakan sarapan yang tadi dia siapkan.

Chanyeol yang hendak memasukkan suapan pertamanya terhenti saat Baekhyun tiba-tiba menarik sendoknya dengan wajah was-was

"Kenapa?"

"Yeolliee-ah, gimana kalau kita sarapan di luar? Sandwich eotte?" Baekhyun tersenyum semanis-manisnya.

Chanyeol menatap Baekhyun dan sendoknya bergantian. "Anni, kau sudah capek-capek masak. Kita makan ini saja" Chanyeol menyuap dengan cepat sebelum Baekhyun sempat menahannya lagi.

Ekspresinya seketika berubah, Baekhyun menunggu komentar terburuk tentang masakan pertamanya sekarang.

"Ini... enak Baek" puji Chanyeol dengan senyum yang tampak dipaksakan dan kembali memakan sarapannya yang berupa nasi hangat dengan telur mata sapi dan ham sebagai lauknya.

Baekhyun membelakan mata mendengarnya 'mana mungkin?' pikirnya.

"Tapi lain kali, kurangi garamnya sedikit" lanjut Chanyeol dengan senyum, namun kali ini tanpa paksaan, dia tersenyum dengan tulus, kemudian mengacak surai hitam Baekhyun gemas.

Baekhyun dapat merasakan rasa panas yang menjalar lembut menuju pipinya. Baekhyun akui masakannya kali ini benar-benar hancur, ini pertama kalinya dia memasak jadi dia tak tahu berapa takaran garam yang harus digunakan.

Namun mendengar pujian dan kritikan dari Chanyeol yang sama sekali tak menyinggung itu membuatnya ingin lebih giat belajar masak dan memberikan masakan terbaiknya untuk Chanyeol.

Dilain sisi Chanyeol tak dapat menahan ekspresi bahagianya. Karena akhirnya dia dapat merasakan arti kehidupan di pagi hari.

Apartnya yang selalu sepi kini terisi oleh suaranya dan Baekhyun yang tertawa dan saling mengejek satu sama lain. Chanyeol tak mengapa harus memakan telur –kelewat– asin setiap pagi, asalkan Baekhyun selalu berada dalam hidupnya.

"Yeollie.." panggil Baekhyun pelan.

Chanyeol yang berniat memasukkan makanannya terhenti dan memandangi Baekhyun kaget, ini pertama kalinya dia mendengar Baekhyun menyebut namanya seimut ini.

Saking gemasnya, dia seperti ingin menerjang Baekhyun sekarang.

-Tuan Park yang terhormat, baru mendengar dia manggil 'Yeollie' anda sudah turn on. Bagaimana kalau ada tambahan 'hhh' nya di belakang?-

"Kenapa Baekkie?" sahut Chanyeol dan membuyarkan imajinasi liarnya

"Kenapa kau tak pernah cerita tentang itu?"

"Cerita apa?"

"Jangan pura-pura ogeb tiang. Dan berhentilah makan telur itu, nanti perutmu sakit" Chanyeol tersenyum mendengarnya

"Perhatiaannya pacar Park cogan Chanyeol ini" kedua tangannya bergerak mencubit pipi tembem Baekhyun

"Serius Yeooll" Baekhyun mempoutkan bibirnya lucu.

Helaan nafasnya terdengar saat tak mendapat sahutan dari Chanyeol yang kini sedang minum air.

Keadaan meja makan mini itu mendadak sepi, tak ada suara benturan sendok dengan mangkok atau piring, dan tak ada suara dari keduanya.

"Aku.." Baekhyun mengalihkan pandangan dari jemarinya ke Chanyeol ".. tak mau membuatmu khawatir. Lagipula aku terbiasa menahannya sendiri" tersenyum sekilas kemudian merundukkan pandangannya

"Jangan menahannya lagi, kumohon" pinta Baekhyun.

Tangannya menggenggam jemari tebal Chanyeol kuat-kuat. Berusaha memberikan keyakinan sebanyak yang dia bisa

"Bagaimana jika aku tak memaksa diri untuk bertanya pada Jongin dan Sehun? Kau fikir kita bisa berada di apartmu dan berada di meja makan seperti sekarang?"

Chanyeol menatap iris Baekhyun dalam, kepalanya menggeleng pelan.

"Jadi jangan menyembunyikan apapun lagi. Waktu kita untuk berkenalan memang singkat, tapi aku benar-benar mencintaimu" Chanyeol mengangguk

"Aku juga mencintaimu. Benar-benar mencintaimu" setelahnya, sepasang bibir itu bertemu, saling memagut penuh kasih.

Mungkin kalian merasa aneh dengan gaya obrolan mereka. Aneh saat awalnya mereka saling melempar canda, mengejek kemudian tertawa namun kemudian mereka saling terbuka lalu menenangkan satu sama lain.

Chanyeol dan Baekhyun tak tahu bagaimana dengan pasangan lain, tapi mereka merasa lebih dekat setiap mereka berbincang seperti ini.

\/

Chanyeol sadar dirinya kesepian, meskipun ada dua sahabat super berisik yang selalu menemani dan juga meskipun hidupnya bisa dikatakan glamour dengan semua harta dan jabatannya, tapi semua itu tidaklah berguna saat dia sendirian di apart megah ini.

Itulah mengapa Chanyeol lebih memilih menghabiskan waktunya di kantor dan pulang ke apartemen hanya untuk tidur dan mandi.

Namun sekarang, dia tak perlu berhadapan dengan itu karena Baekhyun memutuskan untuk tinggal bersamanya.

Tentu saja hal itu disambut baik oleh Chanyeol, lagipula Baekhyun juga tinggal sendiri karena kedua orang tuanya berada di Jepang.

Mengenai orang tua Baekhyun, mereka tak mempermasalahkan itu dengan jaminan Baekhyun berjanji akan mengenalkan Chanyeol kepada ayah dan ibunya.

\/

"Han bangun, udah pagi woy.." pemuda yang wajahnya tak setua umur itu menggoyangkan tubuh Luhan lumayan keras

"5 menit lagi Xiu.. Pleasee.."

"No no no. Bangun kagak lu" gelitikan dari Xiumin membuat Luhan terlonjak kaget

"Hahaha.. ok gue bangun. Stop it!" gerutu Luhan dan bangun dari ruang istirahat dokter IGD.

Luhan meregangkan badannya dan menuju kamar mandi, mencuci muka kemudian menggosok giginya dua kali.

Luhan melihat pantulan wajahnya di kaca, mata panda dan pipi yang mengecil. Sekarang dia menyesal memilih profesi ini, bahkan diakhir minggu pun dia harus masuk kerja.

"Sialan.." gumam Luhan dan terakhir mencuci tangannya sebelum keluar.

"Pagi" sapa Luhan pada beberapa perawat yang sedang berjaga

"Pagi juga Dokter Xi"

Luhan hanya mengeluarkan senyum sebagai balasan.

"Ah iya. Dokter Xi, tadi ada lelaki yang menitipkan sesuatu untuk anda"

"Untuk saya?"

"Iya. Ini.." perawat itu memberikan titipan berupa kotak persegi panjang pada Luhan ".. sepertinya bekal. Lelaki yang selalu datang kemari yang memberikannya" lanjut suster bernametag Kim Yeri itu

"Baru atau dari tadi?" tanya Luhan cepat

"Ne?" Yeri malah kebingungan

"Maksud saya dia memberikannya barusan atau dari tadi?" ulang Luhan lebih jelas

"Tadi saat Dokter Xi datang, dia keluar IGD"

Dengan kecepatan tinggi Luhan berlari keluar IGD. Entah apa yang dipikirkannya sekarang, yang pasti dia ingin bertemu dengan orang itu sekarang.

Luhan berada di area parkir, matanya bergerak kesana kemari mencari seseorang. Putus asa, Luhan berballik dan berniat balik ke IGD

"Kan udah gue kirim lewat e-mail semalem. Cek dulu makanya tem"

Luhan berbalik dan mengedarkan pandangannya mencari suara jengkel yang sangat dia hafal. Tubuhnya seakan tak bisa digerakkan saat irisnya bertemu dengan pemuda albino disana.

Tak jauh beda dengan Luhan, Sehun juga terdiam diposisinya yang berdiri disamping kursi pengemudi dengan pintu terbuka. Dengan canggung Sehun memasukkan ponselnya kedalam kantung setelah menekan tanda merah mengakhiri panggilan dengan Jongin.

Sehun menutup pintu mobilnya dan berjalan menuju Luhan

"Pagi Lu, ngapain ke sini?"

"Ya, pagi juga. Tidak ada, hanya mencari udara segar" Luhan rasanya ingin menampar diri sendiri
"Kau sedang kenapa kesini pagi-pagi?"

"Aku membawakanmu bekal, jadwal jagamu setiap akhir pekan kan? Apa perawat itu belum memberikannya padamu?" Sehun menautkan alisnya bingung

"Aa.. jadi itu darimu. Kukira dari siapa"

jawab Luhan terkesan tidak peduli. Sehun yang mendengarnya meringis pelan 'Bahkan tak ada ucapan 'Terima kasih'' ratap Sehun.

"Kalau begitu aku pa-.."

"Kau kemana saja?"

Salam pamitnya di potong. Tak sadarkah Luhan bahwa Sehun ingin cepat-cepat pergi sekarang? Berada dekat dengan Luhan membuat jantungnya berdenyut bahagia dan sakit sekaligus.

"Jepang" jawab Sehun singkat

"Ada apa kesana?" tanyanya lagi

"Tak ada, hanya urusan pekerjaan"

"Urusan pekerjaan di Jepang dua minggu lebih? Wow"

Sehun tak tahu apakah Luhan sekarang sedang kesal atau hanya biasa saja, yang Sehun tahu dia suka dengan Luhan yang seperti ini.

"Kenapa? Kau menungguku?"

"Aku hanya bertanya tuan Oh?"

"Ya ya, aku tau kau juga rindu denganku" Sehun tak dapat menahan cengirannya melihat rona merah di kedua pipi Luhan.

"Ckckck.. Teruslah bermimpi"

"Padahal aku merindukanmu" ungkap Sehun pelan
"Jangan lupa sarapan, aku membuatkanmu nasi goreng kimci. Aku duluan"

Sehun berbalik menuju mobilnya dan melesat keluar area rumah sakit. Luhan masih berdiri disana, antara tak rela dan merasa bodoh. Tak rela karena pertemuannya dengan Sehun terasa singkat dan merasa bodoh karena dia tak seharusnya seperti ini.

Setelah sadar, Luhan juga berbalik dan kembali ke IGD. Sesampainya di IGD Luhan terduduk kemudian tiduran di atas meja disana. Pandangannya menatap kotak bekal pemberian Sehun

"Bocah itu lagi?" Xiumin tiba-tiba muncul
"Kenapa gak lu coba terima aja Han? Dia juga kan udah lama ngejar-ngejar lu. Kasih kesempatan sekali gak apa-apa kan"

"Gue kan udah pernah kasih tau lu Xiu, gue nggak gay. Gue normal. Ok?"

"Terserah lu dah. Asal jangan nyesel belakangan aja. Cowok ganteng kayak itu bocah gak bakal nunggu lu selamanya"

Sejenak Luhan tertegun mendengarnya, khayalannya mulai bermain membayangkan tak ada lagi Sehun yang mengganggunya setiap hari.

Luhan meringis merasa perih hanya dengan membayangkan hal yang mungkin saja terjadi. Tapi Luhan tetap berpegang teguh pada pendiriannya.

Bahwa dia tidak gay.

"Dokter Xi ada pasien baru yang masuk di IGD"

Luhan yang baru saja selesai menghabiskan bekalnya langsung menuju ke IGD. 'Oke Luhan, semangat. Jangan pikirkan apapun' pikir Luhan mantap

\/

Jongin terbangun dari tidur nyenyaknya lalu meregangkan tubuhnya sejenak. Hidung minimalisnya menangkap aroma sedap dan tentu saja dia sudah bisa menebak dari mana dan siapa yang menciptakan aroma itu.

Jongin mendudukkan dirinya di ranjang normal size itu dan menempelkan tangan pada keningnya sendiri. Kepalanya sedikit pusing, dengan perlahan dia keluar dari kamar.

"Kyung, spertinya aku demam"

"Hah?!" Kyungsoo yang sedang fokus menyiapkan sarapan paginya mendadak panik setelah mendengar aduan Jongin.

Melihat Kyungsoo mendekat, Jongin melebarkan kedua kakinya kearah samping menyebabkan tingginya memendek. Kyungsoo tersenyum singkat dan menempelkan punggung tangannya di kening hangat Jongin.

"Sudah kubilang jangan lupa bawa mantelmu saat keluar. Ish!" oceh lelaki dengan mata bulat cantik itu kesal

"Makanya jangan tinggalkan aku sendiri lama-lama" rajuk Jongin dan memeluk Kyungsoo erat, kepalanya bertumpu pada pundak Kyungsoo

"Baru kutinggal 4 hari juga" Kyungsoo mendengus pelan, jemarinya mengelus helaian rambut Jongin

"4 hari terasa seperti 40 tahun" sahutnya.

Dapat Kyungsoo rasakan kepala Jongin yang menggeleng di pundaknya

"Lebaay. Tunggu bentar lagi, supnya belum matang" Jongin mengangguk setelahnya pergi ke meja makan

"Seh, file data survey sekitaran lokasi Lotte Mart mana? Belum lu kirim-kirim"

"Kan udah gue kirim lewat e-mail semalem. Cek dulu makanya tem"

"Pagi-pagi ngajak war ni anak" tak ada balasan dari sebrang
"Woy seh? Sialan dimattin"

Omel Jongin sembari jemari lincahnya berpindah mengecek e-mail, dan benar saja, file itu sudah dikirim Sehun semalam.

"Aww Kyuuung~" Jongin meringis setelah sebelumnya Kyungsoo memukulnya dengan sendok

"Whut? Simpan hp mu. Sekarang makan" Jongin tak membalas dan langsung menyantap sarapannya

"As always, masakanmu yang terbaik baby Kyuung" puji Jongin dengan 2 jempolnya yang terangkat penuh

"Makan yang banyak, setelah itu minum obatmu. Siang nanti aku harus ke restaurant, jadi untuk makan siangmu panaskan ikan yang kutaruh dikulkas barusan dan untuk makan soremu datang ke resaurant. Jangan makan dimanapun dan langsung ke restaurant. Arra?"

"Siyap kapten" balas Jongin dengan sikap hormat
"Apa weekend pun kau harus kesana?"

"Tentu saja. Aku juga mau mulai mencoba menu baru dari Indonesia kemarin"
"Ah, ajak Chanyeol dan Sehun juga"

"Chanyeol mungkin ada acara dengan Baekhyun. Nanti kuhubungi"

"Okay" Kyungsoo mengangguk setuju dan ikut memakan masakannya.

Kyungsoo sudah tau tentang Baekhyun, jadi dia tak perlu mendapat penjelasan lagi tentang siapa itu Baekhyun.

Bagaimana dia tidak tahu jika hampir setiap malam Jongin bercerita tentang hubungan dua manusia itu baik secara langsung, melalui via suara maupun vidcall.

Awalnya Kyungsoo terkejut, dia kira saraf cinta Chanyeol sudah putus karena selama dia mengenal pemuda tinggi itu, Kyungsoo tak pernah mendengar tentang Chanyeol menjalin sebuah hubungan atau sedang dekat dengan seseorang.

Dan yang lebih mengejutkan lagi, ternyata Chanyeol juga belok seperti dua sahabatnya. Kyungsoo sempat berfikir bahwa Chanyeol lah satu-satunya yang lurus. Ternyata tidak.

TBC


See you di next chapter.

REVIEW JUSEYOOOOOOO...