Kneelx Present

ChanBaek

HunHan

KaiSoo

Disclaimer : Fanfic ini benar-benar berasal dari otak author sendiri, author hanya meminjam nama untuk kepentingan cerita. Tidak suka dengan cerita ataupun cast silahkan menekan/memencet tanda kembali/back. Terima kasih


REVIEWW GAEES..


Semilir angin membelai wajahnya lembut, pemuda dengan balutan syal putih yang tampak pas dilehernya seakan-akan syal tersebut sengaja dibuat khusus untuk menghangatkan letak pita suara indahnya.

Pemuda itu, Baekhyun, melangkah pelan memasuki sebuah rumah tahanan atau yang biasa kita sebut sebagai penjara. Setelah melalui beberapa proses dan pengisian formulir, Baekhyun memasuki sebuah ruangan dimana terdapat sebuah kaca sebagai pemisah antara ruangan yang satu dengan ruangan lainnya.

Kepalanya yang menunduk, perlahan terangkat saat decit pintu menyapa indra pendengarannya. Sudut bibirnya tertarik perlahan, begitupula dengan seseorang yang kini tengah berada dihadapannya.

"Kau kurusan Baekkie"

Baekhyun menganggukan kepalanya setuju. Bahunya mulai bergetar, isakan lirihnya pun mulai terdengar. Pemuda di balik kaca itu menempelkan telapak tangannya pada kaca dingin disana dengan tatapan sedih.

"Baek, kau tau? Sejak pertama aku kesini, aku tak pernah membenci tempat ini sama sekali. Tapi sekarang aku sangat membencinya. Kau tau kenapa?"

Baekhyun menggelengkan kepalanya sebagai jawaban, tatapannya menatap lurus kedalam iris hitam itu.

"Karena aku tak bisa menghapus air matamu meskipun kita berada diruangan yang sama"

"Yeollie, tunggulah sebentar lagi. Aku pasti akan mengeluarkanmu dari sini"

"Jangan memaksakan dirimu. Makanlah yang banyak. Kau mengerti?"

"Bagaimana bisa aku makan banyak kalau setiap aku menyuap makanan, aku selalu terpikir apa yang kau makan disini!" bentaknya keras

"Aku bahkan nggak bisa tidur nyenyak meskipun aku menggunakan selimut setebal apapun karena aku terpikir kau yang kedinginan disini!"

Baekhyun meluapkan semuanya. Nafasnya mulai tak beraturan karena tak kunjung berhenti menangis. Kenapa bisa seperti ini? Baekhyun tak ingin seperti ini.

Bagaimana bisa Chanyeol yang selalu menjadi yang terbaik dimatanya kini menggunakan pakaian abu-abu khas tahanan. Baekhyun membenci ini semua dan bersumpah akan menghukum brengsek itu secepatnya.

"Bertahanlah sebentar lagi. Saat aku mendapat surat ijin, aku akan menampar pengacara brengsek itu tepat diwajahnya"

Chanyeol terkekeh pelan "Aku mencintaimu" ujar Chanyeol mengalihkan pembicaraan beserta senyum lebarnya "Chanyeollie tak suka melihat Baekhyunnie sedih. Heung heung"

Baekhyun tertawa pelan "Itu menggelian Yeol"

"Hahaha.. Ini juga menggelikan untukku Baek. Tapi kalau ini bisa membuatmu ketawa aku akan melakukannya terus-menerus"

Pintu dibalik punggung Chanyeol terbuka menampakkan 2 sipir yang bertugas mengembalikan Chanyeol kedalam sel karena waktu kunjungan telah habis.

Chanyeol memberikan senyum lebar khas dirinya "Jaga kesehatanmu" ucapnya setelah dia bangun dari duduknya.

"Chanyeollie" panggil Baekhyun, Chanyeol memutar tubuhnya kembali ke arah Baekhyun dan menunggu kata selanjutnya "Aku juga mencintaimu" lanjutnya.

Chanyeol mengangguk dengan senyuman lembutnya, kemudian menghilang dibalik pintu besi disana.

/\

Flashback

2 Minggu Lalu

"Seh lu dimana?"

"Gue mau otw. Kenapa? Tumben lu nelpon pagi-pagi?"

"Cek artikel terbaru. Pas lu nyampe langsung keruangan Chanyeol. Cepetan!"

Setelah Jongin menutup panggilannya, Sehun dengan segera membuka situs Naver dan mencari artikel terbaru. Mulutnya menganga membaca headline berita yang menjadi trending topic di situs internet pagi ini.

"What the fuck?!" umpatnya kaget

Tanpa ba bi bu Sehun memasuki mobil dan mengemudikannya dengan kecepatan tinggi. Guanlin yang baru saja selesai menggunakan sepatu berteriak memanggil mobil Sehun yang semakin menjauh.

Headline News, Presiden Direktur Park Construction Company Terlibat Penipuan Saham di Cina?

Headline News, PCC Mengambil Keuntungan Sepihak?

Headline News, Buruknya Kinerja Presiden Direktur Sebuah Perusahaan Konstruksi

Headline News, PC Company VS Pyramid Company

/\

Bunyi panggilan tak hentinya berdering diseluruh ruangan PC Company pagi ini. Para wartawan pemburu berita tak hentinya menelpon ke perusahaan karena Chanyeol yang belum memberikan konfirmasi apapun.

Jongin terlihat berjalan mondar-mandir, dan di soffa terlihat Tiffany yang tengah menjawab panggilan dari para pemegang saham. Chanyeol sendiri kini tengah duduk di kursinya dengan kepala yang sepenuhnya menyender pada kursi kebesarannya.

"Hoejangnim, para wartawan semakin menggila" lapor Tiffany lelah

Chanyeol menghela nafasnya pelan lalu bangkit dari duduknya "Jongin sini"

Bergerak cepat, Jongin mendekati Chanyeol dan berdiri disampingnya. Chanyeol mengambil sebuah pena dan kertas lalu menuliskan serentetan kalimat.

"Lihat, program yang belum kita selesaiin ada 5. Utamain projek yang kita dapet dari Singapura kemarin, baru lu boleh lanjut ke yang lain"

"Lu bicara apaan si Yeol?"

"Gue lagi ngejelasin pekerjaan yang lu lanjutin ntar ogeb" sepertinya mereka berdua tak perduli dengan keberadaan Tiffany disana.

"Lanjutin apaan? Kagak, pokoknya tetap lu yang megang kendali"

"Iya, gue yang megang kendali. Tapi untuk beberapa minggu atau bulan lu yang pegang. Gue percaya ke lu Jong"

"Hoejangnim, bagian resepsionis mengatakan bahwa ada polisi yang sedang menuju kemari"

Chanyeol terdiam sejenak, perkiraannya benar.

"Yeol" panggil Jongin pelan

"Gue mohon Jong, dengerin gue sebentar"

Jongin tak dapat berkata apapun lagi dan kini lebih memilih fokus mendengarkan penjelasan Chanyeol tentang hal apa saja yang harus dilakukannya selama Chanyeol tak ada.

Pintu besar itu terbuka, 2 petugas polisi berseragam lengkap dan satunya lagi menggunakan pakaian bebas yang sepertinya seorang detektif.

"Park Chanyeol-ssi, anda ditahan atas tuduhan penipuan dalam skala besar. Anda diperbolehkan memilih pengacara ataupun saksi yang dapat membantu dalam persidangan" Detektif bernametag Choi Minho itu mengangkat sebuah kertas berupa surat perintah penahanan.

"Hey tunggu sebentar. Dia bahkan belum ditentukan bersalah tapi anda sudah mendapatkan surat penahan?" Jongin bertanya garang. Sejak kapan hukum di Korea berganti?

"Kami sudah memiliki bukti yang sangat kuat. Pengusaha sekarang memang selalu bermain kotor" Minho menggelengkan kepalanya mengejek.

BRAK

Pintu itu kembali terbuka namun kini dengan suara yang lebih keras. Sehun yang tengah mengatur nafasnya terlihat kaget saat hazelnya mendapati keberadaan polisi di ruangan Chanyeol.

"Hey hey, apa-apaan ini?" Sehun mendorong pelan tubuh polisi yang hendak menuntun Chanyeol untuk keluar ruangan.

"Mohon untuk tidak menganggu proses, jika anda tidak ingin mendapatkan masalah"sahut salah satu polisi dan kembali menuntun Chanyeol

Namun lagi-lagi Sehun menahan Chanyeol pergi

"Bisa berikan saya waktu sebentar?" Chanyeol akhirnya buka suara. Minho menganggukkan kepalanya setuju.

Perlahan Chanyeol melangkahkan kakinya hingga berhadapan dengan Sehun.

"Kampret, kenapa lu yang mau nangis? Seharusnya gue yang nangis" Chanyeol menepuk pundak Sehun pelan sambil terkikik geli

"Bantu Jongin jaga perusahaan selama gue pergi bentar. Jaga Baekhyun juga, pastiin dia makan teratur"

Sehun menganggukkan kepalanya cepat

"Bagus" tangannya terangkat untuk mengacak surai Sehun sebentar

"Nuna, bantu mereka berdua juga" Chanyeol kini menghadap Tiffany yang masih belum sadar dari rasa kagetnya.

/\

"Tidak diborgol?" tanya Chanyeol polos pada dua polisi yang menjaganya di sebelah kiri dan kanan.

"Ck, seharusnya anda bersyukur karena saya tidak memakaikan anda borgol dan juga lebih memilih mengeluarkan anda lewat pintu belakang seperti ini"

"Lewat pintu utama juga gak apa-apa" sahut Chanyeol

"Bukankah seharusnya sekarang anda memohon untuk dilepaskan atau mencari alasan-alasan yang bisa membantu anda dipengadilan nanti?" Minho mulai kehabisan rasa sabar menghadapi Chanyeol yang terlihat santai.

Bukan reaksi seperti itu yang ingin dia lihat.

"Saya tidak bersalah. Jika saya memohon untuk dilepas berarti secara tidak langsung saya mengatakan bahwa saya bersalah" jawab Chanyeol tegas.

/\

Dan kini Chanyeol berada disebuah ruangan yang tak terlalu besar namun tak juga terlalu kecil, yang jelas ini bukan ruangannya melainkan ruangan interogasi.

Dibalik ujung meja yang berlawanan dengan Chanyeol terdapat seorang lelaki dengan lingkaran hitam di bawah matanya seperti panda.

"Perkenalkan saya Huang Zi Tao, jaksa yang akan menangani kasus anda"

"Saya Park Chanyeol. Salam kenal"

"Untuk ukuran pengusaha yang melakukan penipuan anda terlihat tenang. Apa firma hukum perusahaan anda sangat bagus? Sepertinya begitu"

Chanyeol tersenyum miring "Terima kasih"

"Maaf tapi saya tidak memuji"

"Saya tau" sahut Chanyeol tersenyum

Sejenak Tao terdiam lalu berdehem pelan "Baiklah Park Chanyeol-ssi. Berapa banyak yang anda dapat dari penipuan ini?"

"Entahlah, saya belum melihat nominalnya"

"Waw, pasti besar sekali"

"Bisa jadi. Mungkin sekarang uangnya sudah mulai masuk ke rekening saya"

"Ck, apa anda langsung mengaku sekarang?"

"Bukankah itu yang biasa dilakukan oleh orang yang melakukan penipuan? Seseorang melakukan sebuah penipuan, lalu untuk menghilangkan jejaknya dia mengirimkan uang ke rekening orang yang tak ada sangkut pautnya"

"Maksudnya?"

"Saya tau anda tidak bodoh jaksa Huang"

"Tapi saya benar-benar tidak mengerti tuan Park"

"Anda merekam percakapan ini, nanti juga bisa anda putar ulang" Chanyeol menyender pada kursi besi disana. Dapat dilihatnya Tao yang mulai habis kesabaran.

/\

"Kami akan bekerja keras untuk mengeluarkan anda dari sini Hoejangnim"

"Tak perlu terburu-buru pengacara Shim"

Selesai dengan interogasi bersama Tao, kini Chanyeol duduk berhadapan bersama seorang pengacara yang akan membelanya dipengadilan.

"Apa anda sudah mulai dipindahkan ke dalam sel?"

"Belum. Mungkin jika dipengadilan kedua belum ada putusan, saya akan dipindahkan ke sel tahanan"

"Saya dan seluruh firma hukum tak akan membiarkan itu terjadi"

Sudut bibir Chanyeol sedikit terangkat. Dia sendiri tak yakin bila ocehan pemuda dengan nama Shim Changmin ini bisa dia pegang.

Ini pertama kalinya Chanyeol bertemu dengan pengacara dihadapannya. Karena sebelumnya pengacara Jung lah yang selalu membantu perusahaannya jika terdapat masalah dalam bidang hukum.

Namun kali ini Chanyeol merasa heran karena pengacara Jung bahkan tak menghubunginya.

"Bagaimana kabar pengacara Jung?"

"Beliau baik-baik saja. Kalau begitu, saya mohon undur diri Hoejangnim"

Alis Chanyeol terangkat bingung 'Hanya itu saja?'

Jangan salahkan Chanyeol yang tidak tahu apapun tentang hukum karena dia merasa berkhianat pada jurusannya jika dia mempelajari ilmu keadilan itu. Lagipula sekarang Chanyeol mempunyai pacar seorang pengacara.

Mengingat sang kekasih membuat Chanyeol terpikir sesuatu. Pasti sekarang berita tentang dirinya sudah beredar diseluruh stasiun televisi. Dia mengkhawatirkan keadaan Baekhyun dan dia ingin melihat kekasihnya itu sekarang.

"Tunggu sebentar"

Changmin yang baru saja selesai merapikan berkas-berkasnya tersentak kaget saat Chanyeol menggenggam lengannya.

"Ne Hoejangnim? Ada apa?"

"Bisakah saya mendapat kunjungan tamu? Saya rasa ada yang ingin bertemu dengan saya sekarang"

"Maafkan saya Hoejangnim, sepertinya itu belum bisa dilakukan"

"Kenapa?"

"Saya permisi Hoejangnim"

Chanyeol memijit lehernya kesal. Dia jelas-jelas bertanya, namun pemuda yang tak kalah tinggi dengannya ini malah mengabaikan pertanyaannya.

"Kubilang tunggu sebentar" Suara berat Chanyeol berseru dingin. Changmin menghentikan langkahnya.

"Ok, tak apa jika saya tidak bisa mendapatkan kunjungan. Tapi bisakah anda bertemu dengan kekasih saya dan mengatakan padanya bahwa saya baik-baik saja?"

"Akan saya lakukan" Changmin berbalik dan keluar dari sana setelah sempat membungkuk hormat.

/\

Bunyi hentakan gagang vacum cleaner yang baru saja menyentuh lantai terdengar. Baekhyun si pelaku menutup mulutnya tak percaya menatap layar tv yang tengah menayangkan berita penangkapan Chanyeol.

"Chanyeol-ah!" Baekhyun berlari keluar apartement. Pikirannya hanya tertuju untuk bertemu dengan Chanyeol.

Sebelum sempat Baekhyun berlari menuju lift, lengannya ditarik oleh seseorang menuju tangga darurat.

"Lepas brengsek!"

"Baekhyun tenanglah, ini gue Jongin"

"Jongin?"

"Jangan lewat lift. Para wartawan lagi menuju kesini sekarang karena mereka tau lu ada di apart dan mereka semua lewat lift. Sekarang lu ke rumah gue sama Kyungsoo"

Baekhyun mengangguk lemah dan mulai mengikuti Jongin.

/\

"Gue gak ngerti sama sekali Jong. Jadi sebenernya Chanyeol dituduh ngelakuin penipuan? Dan tanpa ada kejelasan, surat perintah penahanan sudah didapet sama pihak polisi? What the hell is this?!"

"Gue juga gak tau Baek. Sekarang firma hukum perusahaan mulai bekerja buat keluarin Chanyeol"

Kini Baekhyun dan Jongin telah sampai dengan selamat tanpa diketahui awak media. Baekhyun yang kini berada dalam rangkulan Kyungsoo tak dapat menghentikan tangisnya.

"Chanyeol pasti baik-baik aja Baek" usapan Kyungsoo di lengannya tak membuat Baekhyun tenang.

Dia butuh Chanyeol sekarang. Baekhyun benar-benar ingin melihat Chanyeol sekarang.

"Tapi kenapa kita belum bisa buat kunjungan? Selama gue kerja di bagian ini, terdakwa seharusnya sudah bisa dapat kunjungan meskipun putusan belum ditentukan" Baekhyun kini meremas rambutnya tak tenang.

Jongin tak bisa memberikan jawaban karena dia sendiri tidak mengerti.

"Penipuan? Hah! Orang yang membuat berita palsu itu pasti sudah gila" bentak Baekhyun tiba-tiba

"Tenang dulu Baek"

"Gimana caranya gua bisa tenang Kyung? Coba bayangin kalau lo diposisi gua sekarang!" Baekhyun berteriak marah

Kyungsoo membisu, dia merasa bersalah karena tak sempat memahami perasaan Baekhyun sekarang.

Isakannya lagi-lagi terdengar "Maaf Kyung, seharusnya gue gak marah sama lu" Baekhyun menutup wajahnya dan kembali menanngis.

"Gak Baek, jangan minta maaf. Gue yang gak bisa ngertiin lu"

Kyungsoo semakin menarik Baekhyun dalam dekapannya. Berusaha sebisa mungkin menenagkan pemuda manis bermarga Byun itu.

Sehun yang baru saja kembali dari halaman belakang karena menerima sebuah panggilan berlari ke arah Jongin dengan ekspresi tak percaya.

"Jong gawat"

Jongin yang tengah mengirimkan pesan pada Changmin untuk bertanya bagaimana keadaan Chanyeol kini memandang Sehun penuh tanya.

"Taejoon di perusahaan, sekarang"

"Bangsat"

Choi Taejoon, adik tiri Chanyeol kembali.

/\

Taejoon memasuki ruangan pemimpin perusahaan itu angkuh. Kedua tangannya tertanam sempurna dibalik kantong celana hitamnya. Senyum remehnya tertarik saat irisnya menatap ukiran nama Chanyeol pada papan nama di meja yang penuh dengan berkas-berkas yang dianggapnya tak penting.

Tanpa malu dia mendudukkan dirinya di kursi buatan salah satu perusahaan furniture terkenal di Perancis itu.

"Ini nyaman. Pantas saja Park bodoh itu betah duduk lama-lama disini"

"Ne, anda benar sekali Choi Hoejangnim"

"Cih. Jangan panggil aku dengan marga itu. Panggil aku Park Hoejangnim" senyum puasnya tercetak lebar.

Taejoon yang tengah melihat-lihat dokumen diatas meja menengadah dan mendapati Jongin dan Sehun memasuki ruangannya(?)

"Ah, Kim Daepyo dan Oh Daepyo. Apa kabar?" sapanya pelan
"Apa kalian
kesini untuk menyambut presedir baru kalian?" tanya Taejoon dengan smirk penuh kemenangat diwajah tampannya.

"Presedir? Apa maksudmu pengemis?" Sehun balik bertanya datar

"Pengemis?"

"Tentu saja. Saat perusahaan ini hampir hancur dan bangkrut kalian kabur setelah membawa hampir setengah harta Seunghyun ajeosi dan sekarang kalian kembali dengan muslihat iblis untuk menyingkirkan Chanyeol dari sana"

Taejoon mengepalkan tangannya kuat, namun perlahan kepalannya melonggar dan mendecih "Wow, Oh Sehun. Kurasa ini kalimat terpanjang darimu yang pernah kudengar"
"Oh iya, bagaimana kabar Kyu ajeosi? Apa stroeknya sudah sembuh?"

"BRENGSEK!"

Sehun bisa saja berlari dan menghajar rahang Taejoon. Jika saja pundaknya tak ditahan oleh Jongin, hal itu pasti sudah jadi kenyataan.

"Kalem Seh. Makhluk kayak gini jangan di teriakin. Kagak bakal kedengeran. Kan udah ketutup syaiton" ucap Jongin dengan suara tenang
"Tapi, aku paling terkejut melihatmu berdiri di sana. Komisaris Lee"

Salah satu komisaris kepercayaan Chanyeol yang mempunyai nama lengkap Lee Seunggi itu tersenyum kecil lalu membungkuk tubuhnya.

"Saya hanya menginginkan yang terbaik untuk perusahaan" kata demi katanya terdengar sopan dan bijaksana, tak seperti hatinya yang sangat busuk.

Jongin menggeleng lalu tertawa mengejek "Yang terbaik pantatku"

Apapun yang akan terjadi sekarang itu semua berada diluar kendali Jongin dan Sehun.

Karena satu hal yang sudah pasti Jongin tahu. Chanyeol dalam bahaya.

/\

Setelah hampir satu minggu lebih Baekhyun tak pernah bertemu dengan Chanyeol. Akhirnya pagi ini dia dapat kembali memandang wajah yang teramat dia rindukan. Namun melihat Chanyeol duduk disana bukanlah hal yang ingin dia lihat.

Sebisa mungkin dia akan menahan air matanya agar tak membuat Chanyeol kehilangan fokus saat menghadapi persidangannya yang kedua. Setelah sebelumnya persidangan dilakukan untuk membacakan dakwaan dari jaksa, sekarang adalah giliran pihak Chanyeol yang akan memberikan pembelaan.

"Dipersilahkan kepada pengacara Shim untuk memberikan pembelaan" Hakim Kim bersuara. Karisma serta ketegasannya dapat terasa dengan jelas meskipun umurnya masih terbilang muda dan baru dua tahun berada di kursi tahta paling tinggi dalam ranah pengadilan.

Changmin berdiri dan memberikan hormat pada Jumyeon sang hakim. Para audience terlihat heran karena Changmin tak kunjung melontarkan septah kata apapun.

"Hakim yang terhormat, kami menerima segala tuduhan yang diberikan. Tuan Park Chanyeol juga telah mengakui kesalahannya. Mohon dipertimbangkan untuk keringanan dalam masa tahanan"

Seluruh pasang mata disana membelalak dengan rahang yang menganga kaget. Beberapa diantaranya mengorek telinga lalu mencoba meyakinkan pendengarannya sekali lagi.

Ruangan sidang menjadi ribut dan panas saat Jongin dan Sehun berdiri dan melemparkan seluruh sumpah serapahnya. Terdengar ketokan palu yang meminta untuk tenang.

"Pengacara Shim, apa anda yakin dengan ucapan anda?" Junmyeon bertanya.

Karena jujur, dia juga tak menyangka akan kejadian ini. Bukankah tugas pengacara adalah membela clientnya, tapi kenapa Changmin malah tampak tak peduli.

Apa dia lupa bahwa orang yang kini berada disamping kanannya adalah seorang Presiden Direktur yang membiayai firma hukum ditempat Changmin bernaung?

Tak jauh beda dengan audience, Chanyeol juga membeku ditempatnya. Apa ini sungguh terjadi? Ditengah rasa terkhianatinya, Chanyeol menatap lurus kedalam netra Baekhyun. Tanpa suara dia mencoba mengatakan bahwa dia tidak apa-apa.

"Mohon tenang. Sidang akan dilanjutkan" Junmyeon sekali lagi mengetuk palunya.

Sidang pun berlanjut, namun kali ini jaksa Hwang tak membacakan dakwaannya dan lebih memilih untuk memundur sidang karena dirinya mengatakan bahwa ada berkas yang belum dia periksa terkait kasus Chanyeol.

Bahu Changmin menegang tak suka dan tangannya terkepal erat dibawah meja. Chanyeol melihatnya sekilas dan membuang pandangannya ke arah lain.

/\

"Hoejangnim"

"Terima kasih atas kerja keras anda selama ini jaksa Jung" Chanyeol membungkukkan tubuhnya lalu kembali berjalan melewati Yunho yang tak berpindah dari posisinya di lorong penghubung antara ruang sidang dan sel tahanan.

Flashback off

.

.

TBC


Kalau ada yang punya ide buat lanjutannya bisa pm author atau review yaa ;)

Jangan lupa komen/review ya readerku tersayang. Sampai jumpa di ch slanjutnyaa. Muah muaah :*