Diam-diam, Jimin tersenyum. Berarti dia boleh ikut kan? Iya kan?.
Dia tidak akan melewatkan kesempatan ini, dia harus tau siapa Yoongi. Harus! Karena Jimin sudah menetapkan Yoongi sebagai miliknya. Terkadang memiliki Taehyung sebagai sahabatanya yang aneh dan tidak tahu malu, menguntungkan juga. Tiba-tiba senyuman itu berubah jadi seringaian dibibir Jimin.
.
.
.
RUN TO YOU
YOONMIN
Slight: Taekook, Namjin
.
.
.
"Yoonji, tolong bukakan pintu, mungkin itu Hoseok" Yoongi berteriak dari dapur. Dia bersama Appa-nya sedang menyiapkan meja untuk makan malam.
"Ne…" balas Yoonji tak kalah kuat.
Yoongi melirik jam yang ada di dapaur, tepat jam tujuh malam. Seperti kebiasaan Hoseok, dia selalu on time.
"Wangi sekali…" Hoseok berjalan sambil mengendus-endus menuju dapur.
"Bantu aku" Perintah Yoongi sambil menyerahkan beberapa gelas, ketangan Hoseok yang sudah berada di dapur.
"Yoonji tidak ikut membantu?" Hoseok melirik Yoonji yang sudah duduk kembali diatas karpet bulu di ruang tamu bersama Holly- anjing Yoongi-.
"Dia ada PR"
"Oh.." Hoseok berjalan menuju meja makan, menyusun gelas dengan rapi di meja.
"Dimana dokter Seokjin?" Hoseok mendudukan diri disalah satu kursi makan, merasa pekerjaannya telah selesai.
"Mandi. Sebentar lagi juga turun" Yoongi menyusun sendok dan sumpit dimeja.
"Namjoon jadi datang?" Hoseok mengeluarkan ponselnya dari dalam kantong.
""Jadi. Tadi katanya masih menjemput Taehyung"
"Taehyung? Siapa itu?" Hoseok mengernyit heran.
"Adik kelasku di kampus. Masih satu fakultas, tapi beda jurusan" Jelas Yoongi.
"Oh… Ya! Lihat ini" Hoseok menyerahkan ponselnya pada Yoongi.
"Apa?"
"Kau kenal dia? Katanya anak fakultas seni jurusan seni tari dikampus kalian, hyung" ucap Hoseok semangat.
Yoongi mengamati foto yang tertera di ponsel Hoseok dan tersenyum miring.
"Kenapa? Kau suka?" Yoongi mengembalikan lagi ponsel Hoseok.
"Manis kan? beberapa temanku adalah pengikut setia akun social medianya" Hoseok terkekeh mengingat teman-temannya. "Kau kenal dia hyung?"
"Tau, tapi tidak kenal. Cuma dia yang punya kepala pink di kampus kami"
"Siapa namanya?" Hoseok antusias.
"Park Jimin"
.
.
.
"Kau mau kemana?" Taehyung memperhatikan penampilan Jimin dari ujung rambut sampai ujung kaki berulang kali.
"Makan malam dirumah calon suami…" ucap Jimin santai dan mendorong Taehyung melewati pintu rumahnya.
Di mobil sudah menunggu Namjoon yang dengan sangat berbaik hati mau menjemput Taehyung dan Jimin kerumah masing-masing.
"Calon suami, my ass. Aku yakin Yoongi hyung sudah lupa namamu" Taehyung mencibir, mengikuti Jimin ke mobil Namjoon yang terparkir di depan pintu rumah Jimin.
"Huh? Percaya diri sekali, Kim Taehyung. Dia pasti masih ingat aku. Aku bisa jamin" Jimin mendelik kearah Taehyung dibelakangnya.
"Ya, aku yakin dia ingat wajahmu, tentu saja. Kau sangat norak saat bertemu pertama kali dengannya. Tentu dia ingat, tapi aku yakin dia lupa namamu" Taehyung berkeras.
"Ya, terserahmu saja lah" Jimin mengakhiri pertengkaran tidak penting bersama Taehyung dan membuka pintu mobil penumpang milik Namjoon.
"Kau mau kemana, Jim?" Namjoon mengernyitkan alisnya bingung melihat penampilan Jimin yang super rapi. Kemeja warna baby blue, celana jeans hitam, jam tangan mahal, dan sepatu yang juga merek terkenal. Sangat kontras dengan penampilan Namjoon dan Taehyung yang hanya mengenakan kaos polos, celana jeans selutut dan sandal jepit.
"Makan malam, hyung" Jawab Jimin sambil memutar bola matanya, jengah.
"Kita makan malam dirumah Yoongi-hyung , kan?" Tanya Namjoon, mendadak ragu dengan arah yang mereka tuju.
"Biarkan saja dia, hyung. Jangan dihiraukan. Kita memang akan makan dirumah Yoongi hyung, dia saja yang salah kostum" Taehyung menutup pintu mobil dan melirik Jimin yang sudah duduk manis di belakang.
"Bisa kita jalan sekarang? Sepertinya kita akan terlambat" Jimin mengalihkan pembicaraan.
"Itu karena kau minta dijemput kerumah juga, kita jadi berkeliling kan. Coba kalau kau datang saja kerumahku, kita tidak akan terlambat." Balas Taehyung.
"Aku membutuhkan waktu lebih untuk berdandan, oke? Kalau aku kerumahmu, bisa-bisa aku dandan asal-asalan!" Jimin tidak mau kalah.
"Kita hanya makan malam dirumah, tidak perlu berdandan serapi mungkin, kurasa?" Namjoon ikut terlibat pembicaraan sambil tetap konsentrasi menyetir.
"Kau tidak tau posisiku, Namjoon hyung. Ayolah, kenapa kalian sangat menyebalkan?" Jimin akhirnya kesal.
"Posisi apa? Kau hanya tamu biasa, bukan pacarnya" Cibir Taehyung pelan.
"Bicara sekali lagi, ku pukul kepalamu dengan batu. Aku serius, Kim Taehyung!" ancam Jimin.
.
.
.
Taehyung, Namjoon dan Jimin akhirnya sampai dirumah Yoongi jam setengah delapan malam. Yoonji yang lagi-lagi bertugas membukakan pintu untuk tamu mereka.
"Kau Yoonji?" Namjoon tersenyum ramah pada gadis kecil yang membukakan pintu untuk mereka.
"Ne, oppa. Silahkan masuk" Yoonji membuka lebar pintu rumah untuk tamu mereka.
"Hai, aku Taehyung" Sapa Taehyung pada Yoonji sambil membungkukkan badannya.
"Hallo, Taehyung oppa"
"Aku Jimin" Jimin tersenyum ramah pada Yoonji sambil mengelus kepala Yoonji.
"Silahkan masuk, Jimin oppa" Yoonji membungkuk.
Yoongi, Hoseok dan Seokjin sudah diruang makan, menunggu.
Meja itu berbentuk persegi panjang dengan tiga bangku dikiri dan kanan, dan satu bangku diujung masing-masing meja.
Seokjin, sebagai kepala keluarga, duduk diujung, dikirinya ada Yoongi dan dikanan ada Hoseok yang sudah duduk manis sambil menatap makanan yang sudah dari tadi dia incar.
"Akhirnya, datang juga" Seokjin menyambut ramah tiga tamu lain yang datang bersamaan.
"Appa, kenalkan, ini Namjoon, teman kampusku. Ini Taehyung dan disebelahnya itu Jimin, adik kelasku" Jelas Yoongi.
"Annyeong" Namjoon, Taehyung, dan Jimin membungkuk bersamaan.
"Ya, selamat datang. Silahkan duduk, biar kita mulai makan" Seokjin mempersilahkan.
Namjoon berjalan memutar meja dan memilih duduk disamping Hoseok, menepuk bahu Hoseok kemudian duduk manis disampingnya. Taehyung sudah akan menarik bangku disamping Yoongi sampai Jimin memukul tangannya dan mereka saling adu pandang dengan sengit.
"Ini bangku-ku" Jimin tersenyum, tapi matanya sarat akan pertempuran soal bangku yang sedang di pegang Taehyung.
"Kau bisa duduk disebelahnya, kan? Masih ada bangku satu lagi disana." Taehyung berkeras.
"Ada apa?" Yoongi yang melihat pertengkaran kecil-kecilan itu akhirnya bereaksi.
"Bukan apa-apa, hyung." Jawab Jimin dan mendorong Taehyung paksa dari depan bangku itu.
"Awas kau" ancam Taehyung dan memilih duduk dibangku sebelah Jimin.
"Yoonji? PR nya sudah selesai?" Panggi Seokjin saat menyadari anak bungsunya belum muncul di meja makan.
"Sebentar appa, sedang membereskan buku kedalam tas" Jawab Yoonji.
Saat Yoonji datang, gadis kecil itu memilih duduk di ujung meja yang berhadapan dengan Seokjin. Makan malam itu berlangsung santai dengan sedikit cerita dari Namjoon soal Yoongi dikampus. Jimin jelas jadi orang yang sangat-sangat memperhatikan cerita Namjoon, tidak ada satupun yang Jimin lewatkan dari cerita Namjoon soal Yoongi.
"Kalau kau seperti ini dikampus, kau pasti bisa lulus dengan cepat" sindir Taehyung pada Jimin yang sangat konsentrasi mendengarkan Namjoon.
"Diam, brengsek. Namjoon hyung sedang bercerita soal calon suami-ku" balas Jimin berbisik sambil mencubit perut Taehyung.
"Jadi, Jimin dan Taehyung adik kelas kalian beda jurusan?" Tanya Seokjin pada Namjoon.
"Ne. Kami baru kenal Jimin tadi, tapi kalau Taehyung, kami sudah lumayan lama kenal" Jelas Namjoon.
"O.. begitu. Jimin, kau jurusan apa?" kali ini Seokjin melirik Jimin yang duduk ditengah-tengah Taehyung dan Yoongi.
"Aku jurusan seni tari, Taehyung jurusan seni rupa, Ahjussi" jelas Jimin.
"Kalian beda jurusan semua ternyata…" Seokjin menganggukan kepalanya , mengerti.
Saat mereka kembali bercerita, bell pintu rumah mereka kembali berbunyi, Seokjin melirik Yoonji yang masih sibuk dengan ayam gorengnya, menjadi tidak tega menyuruh anak bungsunya membukakan pintu. Pilihannya ada pada Yoongi, yang tanpa disuruh, sudah mengerti dan berdiri membukakan pintu.
"Kookie?" Yoongi terkejut mendapati adik sepupunya sudah berdiri di depan pintu.
"Hyung, aku datang ingin memberi hadiah!" Jungkook-Kookie- menyerahkan sebuah bungkusan cantik berwarna emas pada Yoongi.
"Untukku?"
"Tentu. Appa bilang, Hyung mendapatkan pekerjaan di sebuah agensi besar sebagai produser, jadi aku berinisiatif memberikan hyung kado. Dimana Yoonji dan Jin Ahjussi?" Jungkook membuka sepatu dan berjalan mengikuti Yoongi.
"Terimakasih. Kau sudah makan? Kami sedang makan malam" Yoongi meletakkan kado Jungkook dimeja ruang tamu.
"Belum. Kebetulan sekali" Jungkook berucap semangat dan berjalan menuju ruang makan. Langkahnya terhenti saat melihat Taehyung- kekasihnya, lagi-lagi bersama dengan si kepala pink, Park Jimin.
"Taetae hyung?" Jungkook mengernyitkan alisnya, matanya menatap tak suka pada Jimin yang duduk disebelah Taehyung.
"Kookie? Sedang apa disini?" Taehyung berdiri dari duduknya dan berjalan menyambut Jungkook.
"Hyung sendiri sedang apa? Katanya pergi bersama teman-teman!"
"Aku memang pergi dengan teman-temanku…" Taehyung menarik Jungkook, mendudukan namja kelincinya di samping Namjoon, duduk berhadapan dengan Taehyung.
Yoongi muncul lagi diruang makan, alisnya mengernyit mendengar kalimat protes Jungkook entah untuk siapa.
"Ada apa?" Yoongi mendudukan diri lagi disamping Jimin dan bertanya padanya.
Jimin yang sudah mulai kesal, mendadak berbunga karena Yoongi akhirnya mengajaknya bicara.
"Jungkook mungkin cemburu karena aku duduk disamping Taehyung" Jelas Jimin acuh. Dia sudah terbiasa dicemburui Jungkook, jadi itu bukan masalah besar, meskipun masih menyebalkan.
"Huh? Mereka pacaran?" Tanya Yoongi penasaran.
"Sudah enam bulan" jawab Jimin cuek.
"Lalu, kau dan Taehyung?" Tanya Yoongi lagi. Matanya menatap tepat dibola mata Jimin, membuat Jimin gugup seketika.
"Ka.. kami berteman sejak sekolah" Jimin membuang pandangannya, kemana saja asal bukan ke Yoongi.
"Tapi, dikampus, bukannya…"
"Jangan dengarkan gossip, hyung. Aku dan Taehyung berteman baik" Jimin menjelaskan. Dia tahu kemana arah pembicaraan Yoongi, karena buka hal baru bagi Jimin terkena gossip berpacaran dengan Taehyung.
"Oh…" Yoongi kembali menyantap makanannya, menghiraukan Jimin yang sedang memperhatikan wajah samping Yoongi yang sedang mengunyah makanan.
Hoseok yang duduk didepan Yoongi melirik Jimin dan Yoongi bergantian, kemudian menyenggol lengan Namjoon yang sedang sibuk makan.
"Itu Park Jimin yang katanya 'diva' dikampus kalian kan?" Hoseok berbisik pelan pada Namjoon.
"He'um. Wae?" Namjoon bertanya meskipun tidak begitu tertarik.
"Lihat dia.." senggol Hoseok lagi pada Namjoon.
Namjoon melirik Jimin, kemudian melirik Yoongi, dan terkekeh sendiri.
"Jimin, makananmu" tegur Namjoon.
Sangkin kagetnya mendengar suara Namjoon yang menyebut namanya, sendok ditangan Jimin sampai jatuh bertabrakan dengan piring dimeja dan menciptakan bunyi denting yang cukup mengagetkan mereka.
"Mian.." Jimin menunduk berkali-kali.
"Jangan melamun, Jim. Makan dulu makananmu, baru nanti nikmati dessert mu" sindir Namjoon. Sementara Hoseok disampingnya sudah ikut terkekeh melihat Jimin yang salah tingkah dan Yoongi yang clueless.
.
.
.
Makan malam sudah selesai, mereka memilih duduk di ruang tamu sambil berbincang. Tidak semuanya, karena Taehyung dan Jungkook permisi pergi keluar sebentar. Menyelesaikan salah paham yang terjadi antara keduanya.
Jimin lagi-lagi mendudukan diri disamping Yoongi yang memilih duduk dikarpet sambil mengelus bulu-bulu Holly. Namjoon dan Hoseok memilih duduk di sofa panjang dengan stik PS ditangan masing-masing. Sementara Seokjin dan Yoonji sudah naik keatas. Karena sudah jam Yoonji untuk tidur.
Jimin melirik Yoongi yang sibuk melihat kearah layar TV dimana Namjoon dan Hoseok sedang tanding PS, bosan juga lama-lama diabaikan. Jimin mengeluarkan ponsel dari sakunya dan memainkan games yang ada diponselnya.
"Hyung, tidak ada cemilan?" Namjoon bersuara.
"Tidak ada. Kau ingin apa? Biar ku beli" Yoongi siap-siap berdiri.
"Apa saja. Jangan lupa cola ya, hyung" sambung Namjoon.
"Hoseok, kau ingin apa?" Tanya Yoongi pada Hoseok yang masih konsentrasi.
"Keripik kentang dan cola. Itu saja" Jawab Hoseok cepat.
"Jim, mau ikut denganku?" Yoongi melirik Jimin yang terlihat bosan.
"Ikut!" Jimin berdiri dengan semangat, mengekori Yoongi dari belakang menuju pintu rumah.
Yoongi memilih jalan kaki karena supermarket tidak begitu jauh dari rumah Yoongi, hanya tujuh menit jika jalan kaki. Jimin jangan ditanya, dia sudah sangat senang hanya dengan jalan kaki berdua dengan Yoongi.
Mereka sampai disebuah supermarket terkenal yang cukup besar di daerah itu, banyak mobil terparkir rapi didepan supermarket itu. Jimin berjalan mengikuti Yoongi dari belakang. Yoongi melirik Jimin yang sibuk melirik kesana-kemari entah mencari apa.
"Kau ingin apa, Jim?" Yoongi memasukkan 2 botol cola ukuran 1 liter dalam keranjangnya.
"Tidak ingin apa-apa, hyung."
Keadaan supermarket yang ramai membuat Jimin kesulitan mengikuti Yoongi, Jimin melirik kesana-kemari dan tanpa sadar, Yoongi sudah menghilang entah kemana. Jimin mendadak panic, ini pertama kali baginya berada ditempat sebesar ini sendirian. Ingin menelepon, tapi Jimin tidak punya nomor Yoongi. Ingin meneleponTaehyung, bisa-bisa Jimin membuat Taehyung diputuskan saat itu juga, jadilah Jimin hanya melirik kesana-sini untuk mencari Yoongi.
Disisi lain, Yoongi juga mencari Jimin yang sudah tidak lagi mengekorinya dari belakang. Yoongi kembali ketempat terakhir kali Yoongi melihat Jimin, tapi Jimin tidak ada disana. Hampir sepuluh menit Yoongi mencari Jimin, tapi tidak juga terlihat.
Baru saja Yoongi akan menghubungi Taehyung untuk meminta nomor ponsel Jimin, saat rambut pink mencolok Jimin tertangkap mata Yoongi. Yoongi berjalan kencang kearah Jimin yang sepertinya juga sedang mencarinya, menepuk bahu Jimin dan Yoongi bisa melihat kelegaan di wajah Jimin.
"Hyung! Kemana saja!" suara Jimin terdengar kesal ditelinga Yoongi.
"Aku mencarimu" jawab Yoongi sambil memutar bola matanya, jengah. "Kau yang kemana saja"
"Aku juga mencari hyung. Tapi hyung hilang" Jimin menatap kesal pada Yoongi.
"Sudahlah. Kita harus mencari keripik kentang untuk Hoesok, ayo" Yoongi menyudahi pertengkaran kecil mereka. Malas, lebih tepatnya untuk meladeni pertengkaran kecil ini.
Yoongi sudah berjalan didepan Jimin saat merasa tangannya digenggam, ada jari yang bertaut dengan jarinya. Saat Yoongi membalik badan, Yoongi melihat Jimin yang sudah buang muka, menghindari tatapan Yoongi. Saat Yoongi melihat tautan tangan mereka, Yoongi hanya menggeleng dan tersenyum kecil.
"Apa ini?" Yoongi mengangkat tautan tangannya dan Jimin.
"Nanti aku hilang lagi" Jawab Jimin pura-pura tidak peduli. Modus baru.
"Ya sudah, ayo jalan" Yoongi berjalan mendahuli Jimin.
Seringaian muncul di bibir Jimin, tanpa Yoongi ketahui, Jimin diam-diam mengambil foto Yoongi yang terlihat sedang menarik tangan Jimin. Hanya badan bagian belakang tubuh Yoongi saja yang terlihat dalam foto yang Jimin ambil.
Mereka sampai dimeja kasir, tapi Jimin masih enggan melepas tautan tangannya dan Yoongi, sampai Yoongi menegur Jimin karena Yoongi harus membayar belanjaan mereka. Dengan tidak ikhlas, Jimin melepas tautan tangan mereka dan memandang tajam pada kasir yang sedang tersenyum ramah pada Yoongi.
Pandangan Jimin yang tajam akhirnya disadari oleh penjaga kasir. Mata Jimin seoalah siap untuk mengajak penjaga kasir supermarket itu untuk berkelahi karena sudah genit pada Yoongi. Jimin sengaja bergeser kebelakang punggung Yoongi yang berdiri tegak sambil menunggu belanjaannya selesi dihitung, dengan sengaja Jimin menundukkan kepala hingga dahinya terbentur dengan bahu Yoongi.
"Ada apa?" Yoongi melirik Jimin yang masih setia menempelkan dahi dikening Yoongi.
"Tidak, hyung. Aku hanya capek" Jimin menjawab tanpa mengangkat kepalanya dari bahu Yoongi.
"Ohh.." Yoongi hanya ber-oh ria sambil kembali menunggu belanjaannya.
Jimin melirik tajam sang kasir dari balik bahu Yoongi, memata-matai sang kasir agar tidak berani genit lagi pada Yoongi-nya. Saat mata Jimin dan sang kasir bertatapan, Jimin sengaja mencium bahu Yoongi dan menaikkan satu alisnya, benar-benar siap untuk berkelahi dengan sang penjaga kasir.
Yoongi yang tidak tau sedang ada perang batin dengan kedua orang didekatnya, hanya bersikap santai dan mengeluarkan dompet untuk membayar belanjaan mereka. Saat sang penjaga kasir ingin memberikan kembalian, penjaga kasir itu dengan sengaja meletakkan kembalian ditangan Yoongi dengan cara menggenggamnya, lagi-lagi dihadiahi Jimin dengan tatapan tajam siap berkelahi.
"Terimakasih. Silahkan datang kembali" ucap sang kasir ramah.
Yoongi hanya mengangguk dan menenteng belanjaan mereka, sementara Jimin masih menatap tajam pada sang kasir yang juga menatapnya dengan tajam.
"Ayo" Yoongi berbalik dan mengulurkan tangan pada Jimin.
"Ne" Jimin berucap senang dan menautkan jarinya lagi dengan milik Yoongi. Jimin membalik dan tersenyum menyebalkan pada sang kasir.
Dasar licik.
.
.
.
Tautan tangan mereka terlepas begitu mereka sampai rumah, Yoongi meletakan belanjaan mereka di meja ruang tamu dan langsung di serbu oleh Hoseok dan Namjoon, sementara Jimin diminta Yoongi untuk mengambilkan gelas di dapur.
Hampir jam sebelas malam dan akhirnya Taehyung dan Jungkook muncul lagi dirumah Yoongi. Sepertinya sudah berbaikan, terlihat dari Jungkook yang sudah menempel pada Taehyung lagi. Permainan yang dimainkan Hoseok dan Namjoon pun sudah usai.
"Hyung, kita tidak pulang?" Taehyung mendudukan dirinya dan Jungkook di karpet bersamaan dengan Jimin dan Yoongi.
"Benar juga, sudah malam" Namjoon meletakkan gelas colanya di meja.
"Hoseok, tolong antarkan Kookie ya, rumah kalian searah, kan?" Yoongi melirik Hoseok yang hanya menganggukan kepala.
"Benar, Hoseok hyung. Tolong antarkan Kookie ya, aku tidak bawa kendaraan" Pinta Taehyung. Lagi-lagi Hoseok hanya menganggukkan kepala.
"Yoongi hyung, bisa antarkan Jimin?" Taehyung bertanya dengan santai sementara Jimin sudah terkejut mendengar pertanyaan Taehyung. Wow, Kim Taehyung, memang sahabat terbaik Park Jimin.
"Mobil Namjoon masih muat, kan?" Yoongi mengernyitkan alisnya bingung.
"Terlalu jauh kalau harus mengantar Jimin lagi, hyung. Bisa-bisa kami sampai rumah sudah tengah malam" jelas Taehyung.
Jimin nyaris menangis terharu atas perbuat Taehyung kali ini. Dia tidak pernah sebangga ini selama bersahabat dengan Taehyung.
"Oh, ya sudah" Yoongi mengiyakan.
Jimin bersorak dalam hati, Yoongi akan mengantarnya pulang! Hell Yes! Jimin nyaris akan memeluk Taehyung, menangis dan mengucapkan terimakasih berjuta kali karena sudah memberikan Jimin waktu berduaan dengan Yoongi, tapi saat Jimin melihat wajah cemberut Jungkook, niatnya hilang.
"Oke, ayo pulang" Ajak Namjoon.
Hoseok bergerak malas dan merogoh celananya, mengambil kunci mobil. Mereka berjalan kedepan pintu bersamaan, menunggu Yoongi yang masih mengambil kunci motor didalam rumah.
Yoongi muncul dengan dua helm ditangan, satu diberikan pada Jimin, yang diterima dengan senang hati. Mereka menunggu sampai mobil Hoseok dan Namjoon berlalu dari depan pagar rumah Yoongi, kemudian yoongi berjalan menuju motornya yang terparkir didepan pintu garasi.
"Rumahmu dimana?" Tanya Yoongi sambil menunggu Jimin naik keatas motor.
"Nanti akan kutunjukan jalannya, hyung" Jimin menaiki motor Yoongi dengan berpeganggan pada bahu Yoongi. Jimin sangat senang karena Yoongi memilih naik motor ketimbang naik mobil, itu artinya Jimin punya kesempatan memeluk Yoongi kan? Jimin tersenyum licik.
Motor sudah berjalan memasuki jalan besar yang lengang, udara mulai terasa dingin dan Jimin tidak memakai pakaian tebal untuk menghangatkan tubuhnya dari udara dingin. Yoongi melirik Jimin dari spion saat lampu merah dan mendapati Jimin sedang mengelus-elus bahunya untuk megurangi rasa dingin yang dirasakannya.
"Kau kedinginan?" Yoongi melirik kebelakang, menaikkan kaca helm-nya.
"Sedikit" Jawab Jimin, ikut menaikkan kaca helmnya dan tersenyum pada Yoongi.
"Maaf, aku lupa bawa jaket" sesal Yoongi.
"Tidak apa hyung, kau juga hanya pakai kaos, kan?" Jimin terkekeh mendengar nada penyesalan Yoongi.
"Merapat saja kalau kedinginan" Yoongi menawarkan.
Lagi, Jimin bersorak riang dalam hati. Dari tadi Jimin sudah gemas ingin memeluk Yoongi, tapi dia malu karena Yoongi tidak mempersilahkannya. Akan aneh kalau tiba-tiba Jimin memeluk pinggang Yoongi dari belakang. Agresif begini, Jimin juga masih tau malu.
Jimin tidak ingin membuat Yoongi mengulang ucapannya apalagi menarik kata-katanya barusan, dengan perlahan Jimin mendekat kearah Yoongi dan memeluk pinggang Yoongi erat. Dan ajaibnya, punggung Yoongi terasa hangat saat Jimin peluk.
"Sudah tidak dingin?" Yoongi melirik sekilas dan menjalankan kembali motornya.
"Tidak, kau hangat hyung" Jimin terkekeh sendiri atas jawabannya.
Setelah menunjukan arah jalan menuju rumah, akhirnya Jimin sampai didepan pagar rumahnya. Jimin melepas pelukannya pada Yoongi dengan berat hati dan memberikan helm yang dipakainya pada Yoongi.
"Masuklah" Yoongi menunggu diatas motor sampai Jimin masuk rumah.
Seorang security muncul untuk membukakan pagar untuk Jimin, dan masuk lagi kedalm pos penjagaan saat Jimin memintanya.
"Hyung, hati-hati dijalan" pesan Jimin.
"Ne"
Badan Jimin sudah tertelan separuh oleh pagar, Yoongi juga sudah memasang helm-nya dan bersiap pergi. Saat pintu pagar Jimin tertutup, Yoongi menjalankan motornya meninggalkan rumah Jimin.
"Pacar baru, bos?" Security yang tadi membuka pagar menggoda Jimin.
"Bagaimana? Tampan kan?" jawaban Jimin seolah membenarkan kalau Yoongi adalah pacarnya. Sang security hanya tertawa heboh dan bertepuk tangan, akhirnya ada juga namja yang di akui bos paling kecil mereka sebagai pacarnya.
"Dia kurang darah, bos. Pucat…" Securitynya berkomentar.
"Tapi tetap tampan, kan?" Jimin menuntut pengakuan.
"Tentu saja, pacar Bos Chimchim…." Ucap sang security menyenangkan hati Jimin.
"Ah, kau memang tidak pernah mengecewakan, hyung. Tuhan memberkatimu" ucap Jimin ceria sambil berjalan menuju pintu rumah. Sang security hanya menggeleng dan tertawa melihat tingkah anak bosnya itu.
.
.
.
Jimin masuk kekamar dan menghempaskan diri diatas tempat tidur. Bajunya belum diganti dan dia sudah berguling-guling diatas tempat tidur seperti cacing ditaburi garam. Jimin mengeluarkan ponselnya dan mengirimkan pesan terimakasih yang dramatis pada Taehyung. Kemudian dia membuka galeri ponselnya, dimana Jimin diam-diam mengambil foto Yoongi dan tangan mereka yang bertautan.
"Duuh, sayangku…" Jimin berguling-guling lagi diatas tempat tidur sambil memeluk ponselnya. Padahal foto itu hanya memperlihatkan tubuh bagian belakang Yoongi.
"YOSH! Park Jimin! Ini adalah awal yang baik, aku harus bisa mendapatkan Yoongi hyung. Baru awal saja sudah bisa kenal keluarganya. Besok, aku harus punya nomer ponsel Yoongi-hyung. Harus!" Jimin berikrar pada dirinya sendiri.
Ya, selamat berjuang, Park Jimin…
.
.
.
TBC
Makasih kakak-kakak yang sudah review kemari, ayaflu…
Jangan capek-capek review lagi ya, biar makin semangat updatenya
*Ketjup satu-satu*
