"Jungkook, tunggu" Taehyung menarik tanggan Jungkook yang berjalan sangat cepat didepannya.
"Apa? Hyung bilang ingin bicara, kan? Apa?" Jungkook memandang sengit pada Taehyung setelah menghempaskan tangan Taehyung.
"Kookie, tenang dulu. Aku bisa jelaskan. Jimin…"
"Jimin lagi… Jimin lagi. Di kampus Jimin, di rumah Jimin, waktu kencan Jimin, sekarang? Jimin lagi?" Jungkook menghempas lagi tangan Taehyung yang mencoba menariknya.
"Kookie, kami di undang oleh Yoongi hyung makan malam, Jimin juga di ajak. Lagian, kenapa kau masih cemburu pada Jimin? Aku sudah bilang kan kalau kami hanya bersahabat" Jelas Taehyung.
"Pembohong! Aku yakin tidak ada nama Jimin di daftar teman Yoongi hyung"
"Kookie…" Panggil Taehyung putus asa.
"Bagaimana aku tidak cemburu kalau pacarku berbohong? Hyung bilang akan makan malam dengan teman dan tidak bilang Jimin ikut. Apa itu maksudnya?" Cecar Jungkook.
"Jimin kan temanku juga…"
"See? Hyung selalu membela Jimin!"
"Kookie, jadi aku harus apa? Kami hanya makan malam saja dirumah Yoongi hyung, di jemput Namjoon hyung, dan…"
"Kita putus!"
"MWOYA?" Taehyung membulatkan matanya.
"Hyung tidak dengar? Pu-tus! End! Selesai!"
"Jungkook, jangan sembarangan bicara!" bentak Taehyung tanpa sadar.
"Aku tidak sembarangan bicara. Aku sudah lelah selalu jadi nomor dua untukmu. Aku sudah lelah tidak menjadi prioritasmu, jadi, silahkan pergi dengan Jimin-mu" Jungkook berbalik menuju rumah Yoongi.
Jungkook berjalan cepat kemudian memelankan langkahnya. Jauh dalam lubuk hatinya, dia ingin Taehyung mengejarnya atau sekedar menahannya, tapi tidak ada pergerakan dari Taehyung sama sekali di belakang sana.
Merasa kesal, akhirnya Jungkook berbalik dan melihat Taehyung tengah mematung ditempat. Matanya kosong dan mulutnya terbuka sedikit. Taehyung syok.
"Ck!" Jungkook berdecak kesal dan kembali kepada Taehyung yang masih mematung. Jungkook menarik wajah Taehyung dengan kedua tangannya dan memberikan lumatan kecil pada bibir Taehyung yang terbuka.
"Kookie…" Taehyung mengerjabkan matanya beberapa kali setelah Jungkook melepas ciumannya.
"Dasar menyebalkan! Lakukan sesuatu kalau pacarmu marah Hyung!" Jungkook berdecak kesal dan berkacak pinggang.
"Aku harus apa?" Taehyung bertanya di sela-sela keterkejutannya.
"Aku tidak akan berhenti cemburu sebelum Jimin punya kekasih! Carikan Jimin kekasih, hyung!" tuntut Jungkook.
Taehyung mengerjab beberapa kali. Kalau ada manusia yang sangat ingin Jimin punya pacar, Taehyung lah orangnya. Sudah setahun terakhir Taehyung selalu meminta Jimin memiliki pacar atau setidaknya punya gebetan, tapi Jimin selalu menolak semua ajakan para senior yang berusaha mendekatinya.
Terkadang, Taehyung menjebak Jimin dengan mengajak Jimin bertemu disuatu tempat dan meninggalkan Jimin berdua saja dengan senior yang tertarik pada Jimin, tapi pada akhirnya, Taehyunglah yang kena sialnya. Jimin mengamuk dan marah selama seminggu padanya.
Dan Taehyung selalu jadi sasaran terror pesan para senior yang cemburu padanya yang bisa dekat dengan Jimin. Kalau Taehyung boleh jujur, dia ingin menjelaskan pada senior-senior yang menerornya kalau dia dan Jimin hanya bersahabat dan Taehyung sudah punya pacar, tapi yang namanya terror, tidak pernah ada nama jelas si pengirim pesan.
"Kau tau itu sulit, kan? aku bahkan sudah berhenti menghitung para senior yang ditolak Jimin, Kookie. Terlalu banyak. Aku tidak tau lagi harus mencarikan Jimin kekasih yang seperti apa" Taehyung bercerita putus asa.
"Itu urusanmu, hyung. Kalau hyung tidak bisa, aku akan menyimpulkan kalau hyunglah yang menghalang-halangi Jimin untuk punya kekasih!"
"Kookie, itu tuduhan kejam…" Taehyung menatap Jungkook dengan tatapan merana.
"Terserah. Kalau tidak, aku akan berhenti jadi pacar…"
"Yoongi hyung! iya! Yoongi hyung!" Taehyung berucap gembira.
"Huh? Yoongi hyung?"
"Benar! Jimin suka pada Yoongi hyung!" Taehyung memegang kedua bahu Jungkook dan mengguncangnya.
"Jimin suka Yoongi hyung?" Jungkook membolakan matanya. Terlalu terkejut dengan fakta baru yang Taehyung ungkap.
"Ne! Dia suka Yoongi hyung. Baiklah, aku akan membantu Jimin mendapatkan Yoongi hyung" Taehyung memeluk Jungkook erat dan memberikan kecupan pada kepala Jungkook yang masih syok.
"Kau harus berhasil kali ini, hyung. Aku tidak main-main dengan ucapanku tadi" ancam Jungkook.
"Beri aku waktu, oke? Kau tau sendiri Yoongi hyung itu seperti batu, dia tidak peka sama sekali" Taehyung mendadak frustasi.
"Baiklah, aku akan memberi hyung waktu satu bulan"
"Mwo? Itu mustahil!"
"Tiga bulan"
"Jungkook, aku mendekatimu saja nyaris tujuh bulan baru kau mau jadi pacarku" Taehyung makin frustasi.
"Ya sudah. Enam bulan. Itu terlalu lama, bahkan. Kalau hyung tidak berhasil juga,atau tiba-tiba Yoongi hyung punya pacar selain Jimin, kita selesai" Jungkook melepas pelukan Taehyung pada bahunya dan berjalan menuju rumah Yoongi dengan tangan saling bertaut.
.
.
.
RUN TO YOU
.
.
.
"Foto siapa itu?" Kai melirik pada wallpaper ponsel Jimin. Foto seseorang yang sedang bergenggaman tangan, tapi hanya badan satu orang yang terlihat membelakangi kamera.
"Papa anak-anak" Jimin menaik turunkan alisnya, tersenyum telalu bahagia. Kai merinding melihatnya.
"Papa anak-anak?" Kai mengernyitkan alis pada Jimin yang terlalu bahagia.
"Iya. Masa depan Park Jimin…" Jimin merentangkan kedua tangannya dari atas ke bawah.
"Ya, imajinasi yang bagus, Park Jimin" Kai menepuk bahu Jimin dua kali.
"Huh? Kau lihat saja nanti. Kalau papa anak-anak sudah sukses, kami akan menikah dan kau tidak akan ku undang!" Jimin membuang muka karena kesal.
"Ya! Begitu saja marah. Memangnya siapa itu? Kekasihmu?" Kai menyentil kepala belakang Jimin.
"Duh, idiot ini… sudah jelas kan tadi aku bilang apa? Ini papa anak-anak!" Jimin memutar bola matanya jengah.
"Siapa namanya?"
"Rahasia!" Jimin menggulung celananya sampai setengah betisnya, memijit kakinya yang pegal karena baru saja selesai menari di studio tari milik kampus.
"Dia salah satu senior yang sering mengajakmu keluar ya?" Kai menyandaran tubuhnya didinding dan ikut memijit kakinya , seperti Jimin.
"Bukan. Dia tidak ada hubungannya dengan senior-senior itu"
"Dia bukan anak kampus kita?" Kai menaikkan alisnya.
"Huh? Rahasia…" Jimin tersenyum licik.
"Aku menyesal sudah bertanya" Kai melirik sinis pada Jimin.
Ponsel Kai yang terletak dilantai bergetar, ada nama Kyungsoo dilayar ponselnya.
"Ne?" Kai menekan tombol hijau dan speaker pada layar ponselnya. Membiarkan ponsel itu tergeletak begitu saja di lantai.
"Jongin, kau dimana?"
"Di studio tari, baru selesai latihan. Mau pulang sekarang?" Kai menegakkan tubuhnya.
"Ani. Bisa temui aku di studio music sekarang?"
"Huh? Ada apa?"
"Yoongi hyung si pucat dan Namjoon hyung si genius ingin bertemu denganmu. Katanya soal band junior mereka yang ingin tampil di cafe milik keluargamu" Jelas Kyungsoo.
Jimin yang sedari tadi tidak berminat menguping pembicaraan Kai dan Kyungsoo, mendadak merasa sangat tertarik saat telinganya menangkap nama Yoongi disebut-sebut.
"Oh, iya. Sebentar lagi aku akan kesana. Di studio music kan?" Kai memastikan.
"Ne. ku tunggu" Kyungsoo mematikan sambungan teleponnya.
Kai sudah bersiap berdiri saat tangannya ditarik Jimin, membuat Kai kembali terduduk dilantai studio, memandang Jimin kebingungan.
"Apa?"
"Aku ikut ya…" Jimin memelas.
"Untuk apa kau ikut? Aku ingin bertemu pacarku" Kai mengernyitkan alisnya.
"Tidak apa. Tapi aku ingin ikut, boleh ya?" Jimin memelas lagi.
"Kau mencurigakan"
"Boleh ya?" Jimin makin memelas.
"Kalau mereka bertanya, aku harus jawab apa?" Kai melirik kesal pada Jimin.
"Bilang saja, aku kebetulan ada denganmu, ingin pulang, atau apalah. Kyungsoo tidak akan marah, aku jamin…" Jimin membujuk.
"Sebenarnya siapa yang ingin kau lihat disana?" Kai mengintrogasi.
"Tidak ada. Aku hanya penasaran dengan studio mereka"
"Alasanmu masuk akal, tapi aku masih curiga" Kai berdiri, menyambar ransel dan Jimin mengikuti dengan patuh di belakangnya.
.
.
.
Pintu ruangan studio music milik kampus terbuka, ada empat orang disana, Yoongi, Namjoon, Kyungsoo dan Hanbin sedang berbicara entah tentang apa. Jimin lagi-lagi mengekori Kai yang masuk lebih dulu kedalam studio. Saat mata mereka menangkap warna pink mencolok dibelakang Kai, mereka pun sadar, ada tamu lain yang datang.
"Jimin…" Namjoon berucap heboh dan bersiul-siul menatap Yoongi dan Jimin.
"Hai, Namjoon hyung" Sapa Jimin ceria. "Hallo, Yoongi hyung" Jimin melirik Yoongi yang tersenyum padanya.
"Mencari siapa?" Namjoon berjalan kearah Jimin dan mendudukan Jimin disamping Yoongi.
"Dia ikut denganku, hyung" Kai menjelaskan dan duduk di kursi yang tadinya di duduki Kyungsoo.
"Oh, kebetulan sekali ya…" Sindir Namjoon dengan senyum menggoda di wajahnya.
"Sudah pulang kuliah?" Yoongi melirik ke samping, melihat Jimin.
"Huh? Oh, iya hyung" Jimin terkejut karena Yoongi mengajaknya bicara dengan sangat santai, seperti sudah kenal lama.
"Oh" Yoongi mengangguk.
"Hyung sudah pulang kuliah?" Jimin melirik pada Yoongi.
"Sudah, hanya tinggal mengurus beberapa urusan saja dengan Kai" jelas Yoongi.
"Begitu ya.." Jimin mengangguk, tersenyum terlalu lebar setelah Yoongi meluruskan pandangannya pada Hanbin.
"Jadi, bagaimana soal band Hanbin? Mereka bisa tampil di café milik mu, Kai?" Yoongi memulai.
"Kata hyungku, mereka harus melewati tahap seleksi dulu, hyung. Ada beberapa band yang mengajukan proposal di café milik kami, jadi hyungku minta, mereka di seleksi, siapa yang lebih layak tampil regular di café" jelas Kai.
"Bagaimana, Hanbin?" Yoongi melirik Hanbin.
"Tidak masalah, hyung. Setidaknya kami bisa berusaha dulu. Kalau band kami cukup layak, kami pasti bisa mendapatkannya" ucap Hanbin antusias.
"Jadi, kapan mereka akan ikut audisi?" Namjoon yang bersandar pada pintu bersuara.
"Aku akan bertanya pada hyungku dulu, hyung." Jawab Kai.
"Supaya lebih gampang, lebih baik minta nomor ponsel Hanbin saja. Kau bisa memberitahu Hanbin langsung, kan?" Kyungsoo memberi saran.
"Benar juga. Berikan aku nomor ponselmu" Kai menyodorkan ponselnya pada Hanbin.
"Jimin, berkedip.." tegur Namjoon.
Jimin terkejut mendengar suara Namjoon. Pasti Namjoon tau kalau daritadi Jimin memperhatikan wajah Yoongi dengan sangat serius. Jimin mendadak memerah.
"Kau tak apa?" Yoongi melirik kesamping, melihat Jimin yang sedang menatap kesal pada Namjoon yang tertawa padanya.
"Tidak hyung" Jimin menggeleng kepala, tidak berani menatap Yoongi. Malu.
"Kai, berikan aku nomor ponselmu" Yoongi memberikan ponselnya pada Kai.
Kai mengambil ponsel Yoongi dan mengetik nomor ponselnya, kemudian mengembalikan pada Yoongi.
"Akan ku hubungi nanti" sambung Yoongi.
"Yoongi hyung, minta nomor ponsel Jimin juga, siapa tau perlu atau Jimin rindu…" Namjoon bertujuan menggoda Jimin dan berhasil. Jimin melirik Namjoon dengan tajam.
"Benar juga. Jim, aku minta nomor ponselmu" Yoongi yang sepertinya tidak mendengar kata terakhir yang Namjoon ucapkan, menyodorkan ponselnya pada Jimin.
Jimin mengambil ponsel Yoongi, melihat dengan ketelitian penuh wallpaper diponsel Yoongi. Wallpaper lukisan api dengan background dominan hitam. Jimin mengetikkan nomornya pada ponsel Yoongi dan menghubungi nomornya sendiri, saat ponsel Jimin bergetar di kantongnya, Jimin mengembalikan ponsel Yoongi.
"Hyung, itu nomerku" ucap Jimin.
"Ne" Yoongi mengetik nama pada kontak baru ponselnya.
Jimin melirik tajam pada layar ponsel Yoongi dan melihat Yoongi membuat nama 'Park Jimin' sebagai nama kontak Jimin. Mau tidak mau Jimin sedikit senang sekaligus kecewa. Namanya sangat biasa tersimpan dikontak Yoongi. Memangnya harus apa? Cintaku? Manjaku? Sayangku hanya untukmu?
"Ya sudah, ini sudah sore. Nanti aku akan langsung menghubungi kalian kalau sudah ada tanggal pasti audisinya, hyung" Kai berdiri, menggenggam tangan Kyungsoo disampingnya. "Ayo pulang" Ajak Kai pada Jimin yang masih betah duduk disamping Yoongi.
Tanpa bicara, Jimin berdiri dengan enggan dari samping Yoongi, mengikuti Kai dan Kyungsoo yang sudah berjalan lebih dulu.
"Namjoon, tas mu" Yoongi melempar tas ransel milik Namjoon.
"Kunci ruangan sudah, hyung?" Namjoon bertanya.
"Ini" Yoongi menunjukan kunci dijarinya, berjalan keluar ruangan, kemudian mengunci ruangan studio itu.
"Hyung, aku duluan ya" Pamit Hanbin. Tanpa menunggu jawaban, Hanbin berlari kencang dikoridor.
"Kami juga permisi ya, hyung. Sudah sore" pamit Kai mewakili Kyungsoo. "Kau bawa mobil, Kan?" Kai melirik Jimin.
"Ne" Jimin mengangguk.
"Jimiiinnnn…." Taehyung berlari kencang dikoridor, mengejutkan Jimin yang merasa namanya dipanggil.
Taehyung berhent disamping Namjoon, mengantur nafasnya yang berantakan karena berlari di koridor. Setelah menyapa Kai dan Kyungsoo, Taehyung beralih pada Jimin.
"Apa?" Jimin menatapnya bingung.
"Aku pinjam mobilmu" Taehyung berbicara dengan nafas yang masih berantakan.
"Lalu aku pulang naik apa?" Jimin terlihat tidak setuju.
"Ini penting, darurat. Aku tidak bawa mobil, tapi dosen memintaku membeli peralatan lukis untuk praktikum kami dan harus ada hari ini, paling lama jam tujuh malam" jelas Taehyung, mengabaikan pertanyaan Jimin.
"Ya sudah, ku antar saja" usul Jimin.
"Jangan!" tolak Taehyung.
"Yoongi hyung, tolong antarkan Jimin, ya…" Taehyung memelas pada Yoongi, minta dikasihani.
Jimin mendadak ingin memeluk Taehyung dengan erat, rasa kesal yang Jimin rasakan karena Taehyung, mendadak menguap. Dia kembali bangga telah bersahabat dengan Taehyung. Ini artinya, Jimin bisa naik motor Yoongi dan memeluk Yoongi lagi, kan? Wow, Kim Taehyung, ayo bersahabat selamanya.
"Wah, sepertinya Taehyung sangat terburu-buru. Kasihan Taehyung, hyung. Antarkan Jimin untuk Taehyung, jadi Taehyung bisa menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat. Berikan kunci mobilmu, Jimin" Namjoon menambahi dengan dramatis.
"Tolong ya, hyung…" Taehyung memelas lagi.
"Kau tidak keberatan, Jim?" Yoongi memandang Jimin, meminta persetujuan.
"Tidak, dia tidak akan keberatan hyung" Taehyung menyambar dengan cepat.
"Hyung bagaimana? Tidak apa mengantarkan ku dulu?" Jimin balik bertanya. Dalam hati dia sudah bersorak gembira.
"Tidak masalah" jawab Yoongi yakin.
"Ya sudah, berikan aku kunci mobilmu, cepat…" Taehyung berucap tak sabar.
Jimin merogoh ranselnya dan berpura-pura kesal pada Taehyung sambil menyerahkan kunci mobilnya.
"Nanti ku kembalikan" Taehyung kembali berlari dengan cepat menuju parkiran.
"Ayo pulang" ajak Yoongi pada Namjoon dan Jimin.
"Aku parkir disana, Hyung" Namjoon menunjuk arah lari Taehyung. Menuju parkiran seni tari.
"Tumben kau parkir disana?" Yoongi curiga.
"Hehehe, kau seperti tidak tahu saja. Sekalian cuci mata…" Namjoon terkekeh.
"Dasar. Ya sudah, sampai bertemu besok" Yoongi berjalan berlawanan arah dengan Namjoon.
"Jangan lupa bernafas, Jim" ejek Namjoon sebelum pergi menuju parkiran di gedung seni tari.
Jimin hanya terkekeh menanggapi Namjoon. Jimin jadi heran, Namjoon saja sadar kalau Jimin menyukai Yoongi, bagaimana bisa Yoongi tidak sadar?
.
.
.
Khayalan Jimin yang sudah menembus langit ketujuh itu mendadak rusak karena ternyata Yoongi membawa mobil ke kampus. Hancur sudah harapan Jimin untuk memeluk Yoongi lagi seperti kemarin. Jimin memandang kesal pada mobil jazz berwarna hitam itu, mencibir sendiri.
"Ayo" Ajak Yoongi saat melihat Jimin masih berdiri, tidak berniat membuka pintu mobil Yoongi.
"Oh, ne hyung" Jimin tersadar dan membuka pintu penumpang.
Jimin duduk dengan raut wajah kesal yang berusah di tahannya mati-matian. Karena mobil ini, Jimin jadi tidak bisa memeluk Yoongi, merasakan kehangatan Yoongi seperti kemarin.
Yoongi menyalakan mesin mobil, menyalakan pendingin dan melirik Jimin yang menundukan pandangan kearah kakinya. Yoongi melirik pada seatbelt Jimin yang belum terpasang.
Jimin tersentak saat Yoongi mendekat, tangan Yoongi bergerak kesamping pintu, menarik seatbelt dan memasangkannya pada Jimin. Jimin bisa merasakan jantungnya berdebar keras sekarang. Jimin nyaris sekarat.
"Sudah nyaman?" Yoongi duduk kembali dikursi kemudi, melirik Jimin, setelah Jimin mengangguk, Yoongi memasang seatbeltnya sendiri.
Yoongi baru saja akan memijak pedal gas saat ponselnya berbunyi, Appa nya menelepon, dan Yoongi menetralkan kembali posisi mobilnya. Yoongi memencet tombol hijau pada layarnya.
"Ne, Appa?"
"Yoongi, Appa dan Yoonji pergi ke acara pernikahan anak teman Appa. Appa lupa memberitahumu, makan di luar saja ya"
"Tidak ada makanan dirumah?" Yoongi terdengar protes. Dia malas kalau harus makan sendiri, apalagi makan diluar sendirian.
"Appa tidak sempat memasak. Pergi makan dengan Namjoon atau Hoseok saja, ya?" Bujuk Appanya.
"Ya sudahlah. Selamat bersenang-senang, Appa. Jam berapa Appa akan pulang?"
"Mungkin jam Sembilan malam, kalau ingin tidur duluan juga tidak apa. Appa bawa kunci rumah sendiri" jelas Seokjin.
"Ne, Appa"
"Sudah ya, Appa mau masuk gedung acaranya"
"Ne" Seokjin mematikan sambungan teleponnya dan Yoongi setelah Yoongi menjawabnya.
Yoongi meletakkan ponselnya di dashboard begitu saja.
"Jim, keberatan kalau kita makan dulu sebelum pulang?" Yoongi menatap Jimin tepat dimata.
"Tentu tidak hyung!" jawab Jimin semangat. Sedetik kemudian Jimin menyesali reaksinya yang berlebihan.
"Syukurlah. Aku janji akan langsung mengantarmu pulang selesai makan" janji Yoongi.
"Dibawa menginap juga tidak apa" batin Jimin.
"Ne hyung" Jawab Jimin lebih santai.
Mereka sampai disalah satu café yang cukup tenang. Yoongi memilih café yang tidak terlalu jauh dari rumah Jimin agar lebih mudah mengantar Jimin pulang nanti. Mereka duduk berhadapan disudut ruangan. Café nya cukup ramai tapi tidak berisik dan Yoongi sangat suka suasana café ini.
Keduanya terdiam sambil menunggu pesanan, tidak tau apa yang harus mereka bicarakan, karena mereka masih asing satu dengan yang lain. Jimin melirik Yoongi yang sedang menunduk asik dengan ponselnya, kemudia diam-diam Jimin mengambil ponsel miliknya, membuka aplikasi kamera dan mengarahkan ponselnya pada Yoongi yang sedang menunduk.
Bunyi Shooter kamera dari ponsel Jimin membuat Yoongi menegakkan kepalanya, mendapati Jimin yang sedang kelabakan menyembunyikan ponselnya dibawah meja. Jimin bisa mati karena malu kalau sampai Yoongi tau Jimin diam-diam mengambil foto Yoongi.
"Bunyi kamera siapa itu?" Yoongi memandang penuh Tanya pada Jimin yang tersenyum canggung didepannya.
"Itu…."
"Pesanan anda tuan…" pelayan meletakkan pesanan makanan mereka di meja. Jimin tak pernah sesenang ini melihat pelayan café selama hidupnya. Pelayan yang satu ini akan menjadi favorit Jimin kedepannya. Sang penyelamat.
"Ayo makan hyung, aku lapar sekali" Jimin mengalihkan pembicaraan.
Jimin menunduk selama makan, tidak berani menatap Yoongi karena takut Yoongi membahas kembali soal bunyi kamera itu. Saat sedang asik dengan makanannya, Yoongi mengajak Jimin bicara, keheningan ternyata membuat Yoongi tak nyaman.
"Kau berapa bersaudara, Jim?" Yoongi memulai pembicaraan.
"Dua hyung. Aku anak paling kecil" jawab Jimin. Jimin merasa terharu karena Yoongi menanyai hal pribadi Jimin, seperti sedang pendekatan yang sesungguhnya. Memikirkannya, Jimin merona sendiri.
"Oh, sudah lama kenal dengan Taehyung?"
"Sudah, kami berteman sejak sekolah dulu. Hyung sendiri? Kenal Taehyung darimana?"
"Pertama kali kenal, saat Taehyung baru masuk kuliah, dia salah masuk kelas dan masuk ke kelas kami, duduk disebelahku" cerita Yoongi sambil tertawa mengingat kejadian itu.
'Si brengsek Taehyung ternyata sudah kenal lama dengan calon suamiku, sialan.' Batin Jimin.
"Tipikal Taehyung. Dia memang ajaib hyung. Maklum ya." Jimin menimpali.
"Dia anak yang lucu walaupun sedikit ajaib" Yoongi terkekeh.
Jimin tersenyum hangat, bukan karena cerita Taehyung, tapi karena Yoongi sedang tersenyum. Saat Jimin sedang asik memandangi Yoongi yang sedang makan, mata Jimin melirik kesamping dimana ada kumpulan gadis-gadis SMA sedang melirik sambil berbisik heboh dan tertawa-tawa kearah mereka.
Jimin melirik sambil tersenyum pada mereka, tapi Jimin dibuat sadar, mereka tidak melihat Jimin tapi pada Yoongi. Yoongi-nya. Hey, anak-anak, pria pucat ini sudah punya calon istri. Maaf-maaf saja.
Jimin yang merasa tidak suka, mencari-cari cara agar bisa melancarkan aksinya untuk membuat gadis-gadis itu mengerti kalau Yoongi sudah ada yang punya. Ya, anggap saja Jimin sudah memiliki Yoongi.
Jimin melirik pada pergelangan tangan Yoongi yang dibalut jam, tidak habis akal, tangan Jimin menyebrangi meja, menggenggam tangan milik Yoongi.
"Jam mu bagus, hyung" puji Jimin. Tatapan Jimin sengaja dibuat sehangat mungkin untuk member efek lebih meyakinkan kalau mereka adalah pasangan.
Yoongi yang terkejut karena tangannya dipegang, menaikkan alisnya menatap bingung pada Jimin. Kalau boleh jujur, tangan Jimin sangat… eumm… kenyal? Dan… hangat?.
"Oh, hadiah dari Jungkook" jawab Yoongi canggung.
"Begitu ya, hadiah dalam rangka apa hyung?" Jimin sengaja menahan tangannya untuk tetap memegang tangan Yoongi diatas meja. Kemudian melirik gadis-gadis yang tidak jauh dari meja mereka itu dengan seringaian tercetak jelas di bibir Jimin.
"Karena aku dapat pekerjaan?" Jawab Yoongi ragu.
"Oh ,begitu" Jimin menarik tangannya dari tangan Yoongi setelah memastikan gadis-gadis itu mulai menggertu karena tindakan Jimin. Jimin tersenyum menang.
"Oh ya, Jim. Dimana pacarmu?" Yoongi menarik tangannya kebawah meja dan menyentuh bekas genggaman tangan Jimin. Yoongi tidak bisa bohong kalau dia sedikit berdebar, tapi ini Jimin, hey, dia terkenal sering berganti pacar, ini pasti hal biasa untuknya.
"Aku belum pernah pacaran, hyung. Pacar darimana…" Jimin memutar bola matanya.
"Lho, bukannya…"
"Gosip dikampus lagi? Biar ku jelaskan supaya hyung tidak salah paham padaku. Begini hyung, para senior itu sering mengajakku makan siang, tapi aku selalu menolak, pengecualian kalau Taehyung sengaja menjebakku. Mereka yang ku tolak mengarang cerita kalau aku mempermainkan mereka, pada kenyataannya, tidak pernah satupun dari mereka yang pernah jalan denganku berdua saja" jelas Jimin.
Yoongi terdiam, menunggu Jimin selesai bercerita.
"Aku sudah sering mendengar soal itu. Aku diam karena memang itu hanya karangan senior-senior yang sakit hati padaku. Hyung bisa tanyakan pada Taehyung atau Kai, atau siapapun yang ada dikelasku, mereka semua tau yang sebenarnya" sambung Jimin.
"Oh, mian, aku tidak bermaksud untuk mengorek soal…"
"Aku tidak ingin hyung menilaiku dengan buruk. Tidak masalah kalau orang lain percaya soal gossip di kampus, tapi aku tidak ingin hyung termakan gossip juga. Itu membuatku sedih" Jimin tanpa sadar membuka sedikit perasaannya.
"Bu.. bukan begitu.." Yoongi menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sepertinya dia salah pilih topic pembicaraan.
"Tidak apa, hyung. Aku suka hyung bertanya, jadi aku bisa menjelaskan langsung, setidaknya hyung tidak menerka-nerka atau mengambil kesimpulan sendiri" Jimin kembali tersenyum ceria.
"Maaf…" Yoongi berucap tak enak hati.
"Hyung ku maafkan kalau besok hyung menemaniku jalan-jalan" Modus berjalan mulus!. Yoongi mungkin tidak sadar, Jimin selalu memanfaatkan keadaan untuk bisa membuat Yoongi tidak jauh darinya.
"Kau ingin jalan denganku?" Yoongi tidak bisa untuk tidak terkejut. 'Diva' kampus, pujaan para mahasiswa mengajaknya jalan. Tolong digaris bawahi kata mengajak jalan.
"Hyung keberatan jalan berdua denganku?" Jimin menatap sedih.
"Bu.. bukan begitu, tapi, bukannya kau tidak mau jalan dengan senior…"
"Yoongi hyung pengecualian. Tapi kalau Yoongi hyung menolak ajakanku, tidak apa" bahu Jimin melorot, aura sedih terpancar dari dirinya.
"Oke, besok malam jam tujuh, ku jemput" putus Yoongi.
"Benarkah?" Jimin kembali ceria.
"Ne"
"Berdua saja, kan?" Jimin memastikan.
"Kau ingin mengajak yang lain?"
"Ani! Kita berdua saja. Gomawo Yoongi hyung" Jimin tersenyum manis, otaknya sudah berkhayal tentang kencannya besok dengan Yoongi.
"Ya sudah, besok ingin kemana?"
"Jalan-jalan di Hongdae? Atau nonton ke bioskop? Atau makan malam berdua?"
"Kau ingin yang mana?"
"Aku ingin semuanya…" jawab Jimin terlalu jujur.
"Kita lakukan semuanya"
"Yey!" Jimin bersorak pelan.
Yoongi mengambil gelas, meminum cairan berwarna orange dari gelasnya. Matanya sibuk memperhatikan Jimin yang sedang tersenyum bahagia. Ini hanya perasaannya saja, atau memang Jimin sedang berusaha mendekatinya? Yoongi tidak ingin terlalu percaya diri, tapi hatinya mengatakan kalau benar Jimin sedang melakukan pendekatan yang cukup berani padanya.
.
.
.
"Terimakasih atas makan malam dan sudah mengantarku pulang, hyung" Jimin melepas seatbelt dan membuka pintu mobil.
"Ne, terimakasih juga sudah mau menemaniku makan" Yoongi tersenyum.
"Sampai bertemu besok" Jimin sudah berdiri disamping mobil yang kacanya terbuka.
"Ne. Masuklah" Yoongi menunggu.
"Ne, hyung. Hati-hati di jalan. Eum… kabari aku kalau hyung sudah sampai di rumah" setelah mengucapkan itu, Jimin berlari kecil menuju gerbang yang sudah terbuka sedikit. Merasa malu sendiri dengan ucapannya.
Melihat Jimin yang sudah masuk gerbang rumah, Yoongi menginjak pedal gasnya dan berjalan menuju rumah. Pikirannya masih bersarang seputar spekulasinya tentang tindak prilaku Jimin padanya. Tanpa Yoongi sadari, bibirnya tertarik membentuk senyum mengingat Jimin.
"Yang diantar pacar…." Seruan menggoda itu membuat Jimin berhenti tersenyum malu dan mencari suara yang sangat familiar ditelinganya.
"Chanyeol hyung?" Jimin berjalan kearah Chanyeol yang berdiri di pinggir pagar.
"Siapa itu?" Chanyeol bertanya sambil menutup gerbang.
"Adik ipar hyung, tentu saja…" Jimin mencubit perut Chanyeol main-main.
"Hey, pendek, kalau kau sudah punya pacar, kenalkan padaku dulu. Kalau dia sudah lulus interview dariku, baru bisa dikenalkan pada umma dan appa, setelah umma dan appa setuju, baru dia oleh jadi adik iparku" Chanyeol menyelentik dahi Jimin.
"Tentu saja dia pasti lulus jadi menantu keluarga Park. Dia pekerja keras hyung, begini-begini aku juga pemilih dalam urusan pasangan" Jimin membela diri.
"Ya… ya… kenalkan saja dulu. Kau masih terlalu bodoh dalam menilai seseorang"
"Aku tidak bodoh!"
"Kau tidak bodoh, tapi idiot" ejek Chanyeol
"Ya! Hyung!"
"Taehyung baru saja pulang dari sini, dia mengantar mobilmu. Pantas saja, ternyata kau sedang kencan, ya"
"Oh! Aku harus membelikan Taehyung hadiah hyung. Dia sahabat Park Jimin yang paling membanggakan tahun ini" Jimin mendadak heboh sendiri.
"Tumben sekali. Biasanya kau selalu memakinya dan mengatainya bodoh"
.
.
.
Jimin baru saja selesai mandi dan sudah berpakaian, bersiap untuk tidur. Jimin menghempaskan badannya di tempat tidur dan merogoh laci nakas dimana ponselnya tersimpan. Dia membuka aplikasi galeri, mencoba melihat hasil foto yang diambilnya diam-diam saat di café. Jimin langsung merasa sedih bukan main saat hasil foto itu blur, bibirnya mengerucut kesal mendapati hasil foto yang tidak sesuai dengan keinginannya.
"Jimin bodoh…" Jimin menatap layar ponselnya dengan wajah sedih.
Saat sedang bersedih hati, Jimin teringat akan nomor Yoongi yang belum dia simpan sejak tadi. Jimin memeriksa daftar panggilan masuk di ponselnya dan mendapati nomor Yoongi disana, mendadak suasana hatinya kembali ceria.
"Ku beri nama apa ya?" Jimin menimbang-nimbang, berpikir dengan keras harus dia namai apa Yoongi di ponselnya. "Yoongi" Jimin mengetik nama Yoongi diponselnya untuk kemudia merasa tidak puas dan menghampus kata Yoongi di ponselnya.
"Mine! Iya! Karena Yoongi adalah milik Jimin, jadi nama Yoongi hyung di kontakku adalah 'Mine'." Jimin berguman sendiri dan mengetik kata 'Mine' untuk nama kontak Yoongi. Setelah nomor ponsel Yoongi tersimpan dikontaknya dengan ID Mine, Jimin tersenyum puas.
Jimin kembali ke galeri foto miliknya dan kembali menyesali hasil fotonya tadi, wajah tampan Yoongi terlihat kabur karena Jimin langsung terburu-buru menyembunyikan ponselnya. Saat sedang meratapi nasibnya, sebuah panggilan dengan ID Call Mine, masuk ke ponsel Jimin.
Jimin terduduk dengan mulut ternganga lebar, ini seperti mimpi yang jadi kenyataan. Dia baru saja memikirikan Yoongi dan Yoongi meneleponnya. Jodoh, batin Jimin.
"Hyung?" Jimin menyapa setelah menekan tombol hijau pada ponselnya.
"Maaf lupa mengabarimu, aku sudah sampai rumah"
Jimin bersemu merah, ini benar-benar seperti orang pacaran. Dada Jimin berdetak menyenangkan mendengar suara berat Yoongi di telpon untuk pertama kalinya.
"Ah, iya hyung. Aku menunggu kabarmu daritadi"
"Oh, maaf, aku lupa. Aku sudah dirumah daritadi"
"Tidak apa, hyung sedang apa?" Jimin tidak ingin percakapan mereka cepat berakhir, mengajak Yoongi berbicara basa-basi sedikit.
"Sedang menunggu Yoonji dan Appa pulang. Kau sendiri?"
"Aku sedang dikamar, ingin tidur" jawab Jimin.
"Ah, ya sudah, istirahat sana. Selamat malam"
"Hyung, tunggu…" sambungan telepon mereka berakhir, Jimin lagi-lagi meratapi kebodohannya. Kenapa juga dia bilang ingin tidur?.
"Chanyeol hyung benar, kau idiot, Park Jimin" Guman Jimin pada dirinya sendiri.
Jimin masih saja murung setelah sambungan telepon mereka berakhir satu menit yang lalu, Jimin memandangi layar hitam ponselnya tanpa minat sama sekali, kemudian satu pesan masuk diponselnya. Tanpa minat, Jimin membuka pesan itu.
Fr: Mine
Sampai bertemu besok. Selamat istirahat.
Jimin membaca berulang kali pesan yang sangat singkat itu, berkali-kali sampai Jimin yakin kalau memang benar kalau Yoongilah yang mengirim pesan itu. Setelah mendapatkan keyakinannya, Jimin bersorak heboh dan berguling-guling diatas tempat tidurnya, merayakan pesan pertama dan telepon pertama Yoongi untuknya.
"Ah, aku harus balas apa?" Jimin terduduk gelisah diatas tempat tidurnya. "ah, iya…" Jimin mengetikan balasan untuk Yoongi diponselnya.
Fr: Park Jimin
Aku tidak sabar menunggu besok, hyung. Tidur yang nyenyak, Yoongi hyung
Yoongi tersenyum lebar saat menerima balasan pesan dari Jimin. Besok, Yoongi akan membuktikan sendiri, apa benar Jimin sedang berusaha mendekatinya atau memang beginilah cara Jimin berteman.
.
.
.
TBC
Yak, buat kakak-kakak sekalian yang akuh cintai, terimakasih sudah baik hati sekali untuk mereview ff ini :')
Ayaflu kakak-kakak, jangan bosan-bosan review ya.
