Fr: Park Jimin
Aku tidak sabar menunggu besok, hyung. Tidur yang nyenyak, Yoongi hyung
Yoongi tersenyum lebar saat menerima balasan pesan dari Jimin. Besok, Yoongi akan membuktikan sendiri, apa benar Jimin sedang berusaha mendekatinya atau memang beginilah cara Jimin berteman.
.
.
.
RUN TO YOU
.
.
.
"Mau kemana?" Chanyeol memperhatikan Jimin dari atas sampai bawah. Jimin menggunakan kaos besar lengan panjang berwarna putih dan jeans yang memiliki aksen robekan di lutut, terlihat manis.
"Kencan" Jimin berucap gembira.
"Hujan-hujan begini?" Chanyeol menatapnya tak percaya.
"Hujan?" Jimin berlari kearah jendela dengan wajah super sedih yang dia miliki. Hujan yang sangat deras.
"Sudah, batalkan saja" Chanyeol mengompori.
"Sebentar lagi pasti reda" Jimin melirik jam dinding yang tergantung diatas TV diruang tamu mereka. Masih ada waktu dua puluh menit lagi sebelum Yoongi menjemputnya.
"Dia pasti tidak jadi datang" Chanyeol makin menjadi-jadi mematahkan semangat Jimin.
"Hyung!"
"Kenapa marah? Aku kan hanya bicara menurut apa yang ada dipikiranku saja. Hujannya deras, kalau aku jadi dia, aku pasti membatalkan acara perginya"
"Thanks God, dia bukan kau, Hyung" Jimin menghempaskan tubuhnya disofa, di samping Chanyeol.
"Memangnya kalian mau kemana?" Chanyeol melirik Jimin dari ujung matanya.
"Hongdae, hyung. Kalau sampai batal, aku bisa menangis semalaman" Jimin melirik lagi kearah jendela.
Jimin mengambil ponsel dari kantongnya, mencoba menghubungi Yoongi. Selama di kampus, Jimin memang tidak bertemu Yoongi sama sekali, kata Namjoon, dia pergi ke kantor agensi untuk melihat ruangan kerjanya nanti.
"Tidak aktif" Guman Jimin kecewa.
Jimin duduk diteras rumah sambil memandangi hujan yang begitu deras turun malam ini, lagi-lagi Jimin mencoba menghubungi nomer Yoongi, tapi hasilnya masih sama, tidak aktif. Jam sudah menunjukan pukul setengah Sembilan malam, yang artinya Jimin sudah menunggu di teras lebih dari satu jam, tapi Yoongi tidak muncul juga.
Jimin beranjak masuk ke kamarnya dan mengabaikan panggilan Chanyeol yang pasti akan mengejeknya lagi. Sia-sia dia menghabiskan waktu berjam-jam dan berdandan semenarik mungkin untuk Yoongi. Berjam-jam juga sibuk memilih baju apa yang kiranya bisa menarik perhatian Yoongi dan juga parfum apa yang membuat Yoongi betah berjam-jam di dekatnya.
Jimin menghempaskan tubuhnya di ranjang, matanya memandang langit-langit kamarnya dengan pandangan kosong. Dia tidak pernah merasa sesedih ini seumur hidupnya. Rasa kecewa yang Jimin rasa membuatnya ingin marah dan menangis disaat yang bersamaan. Jimin mematikan ponselnya dan membuangnya sembarangan di kamar, kemana saja, asal benda itu tidak muncul di dekatnya.
Jimin merenung, dia merasa marah karena Yoongi membatalkan janji tanpa alasan yang jelas, bahkan Yoongi mematikan ponsel miliknya, itu kejam. Jika Yoongi tidak ingin pergi dengannya, setidaknya jangan memberikan Jimin harapan kosong. Jimin merenung sampai jam menunjukan pukul setengah sepuluh malam, bajunya yang tadinya terstrika rapi, kini kusut di bagian punggung, rambutnya juga sudah acak-acakan karena digusak dengan kasar.
Jimin baru saja ingin membuka bajunya saat pintu kamarnya di ketuk dari luar. Jimin berdecak kesal dan melempar bantal ke pintu, pertanda dia tidak ingin di ganggu. Perasaannya sedang tidak baik. Biarkan dia sendiri.
"Berhenti mengetuk pintuku!" Jimin berteriak kesal.
"Teman mu datang" Sahut Chanyeol dari luar.
"Suruh saja Taehyung pulang. Besok aku akan menemuinya di kampus. Aku tidak ingin di ganggu hyung" balas Jimin.
"Bukan Taehyung. Yang ini seperti kurang darah" Chanyeol kembali mengetuk pintu Jimin.
"Aku tidak ingin bertemu siapa-siapa. Suruh saja dia pulang"
"Kasihan dia, dia basah kuyup, setidaknya temui dia sebentar, katanya namanya Min Yoongi"
Jimin merasa dadanya berdebar keras, Yoongi datang?.
Jimin berjalan cepat menuju pintu kamar, membuka dengan tergesa dan berjalan menuruni tangga tanpa menyapa Chanyeol yang mematung di depan kamarnya sama sekali.
Selama perjalanan menuju teras rumah, Jimin merapikan sedikit penampilannya, meskipun sedang marah, Jimin tidak ingin terlihat konyol, apalagi di depan Yoongi. Jimin menarik napas panjang sebelum mendorong salah satu daun pintu rumahnya, menetralkan detak jantungnya karena Yoongi ada dibaliknya.
"Jimin…" Yoongi terduduk dikursi teras langsung berdiri begitu pintu terbuka dan menampilkan Jimin yang memandang kesal dan kecewa padanya.
"Kenapa?" Jimin berdiri dengan jarak yang cukup jauh dari Yoongi. Jimin bisa melihat baju Yoongi yang basah kuyup dari atas sampai bawah, hanya rambutnya yang kering. Saat Jimin melirik ke depan, Jimin bisa melihat motor milik Yoongi terparkir di depan teras rumahnya.
"Maaf" Yoongi masih berdiri disana, tidak berani mendekat.
"Sudah malam hyung, pulanglah"
"Tadi aku ke kantor agensi untuk menata ruang studio ku yang baru" Yoongi mulai menjelaskan tanpa di minta. "Aku tidak bawa mobil ke kantor agensi, saat aku ingin pulang, hujan deras sekali dan aku tidak bisa pulang" sambung Yoongi.
"Kenapa ponselmu tidak aktif?"
"Batrainya habis" sesal Yoongi "Maaf tidak bisa memenuhi janji ku" Yoongi menatap Jimin yang menundukkan kepalanya. Yoongi tau, Jimin pasti kesal. Jimin sudah berdandan untuknya dan Yoongi mengacaukan segalanya.
"Tak apa. Pulanglah, hyung pasti kedinginan, bajumu basah" Jimin berusaha menekan mati-matian rasa kecewanya pada Yoongi.
"Ya, aku permisi pulang" Yoongi berbalik karena merasa tidak ada lagi yang perlu di bicarakan.
Jimin memandangi punggung Yoongi dengan sedih yang menelannya mentah-mentah, sampai Jimin lupa kalau Yoongi sudah menempuh hujan hanya untuk menjelaskan semuanya padanya.
.
.
.
"Kau kenapa?" Taehyung melirik Jimin yang seperti tidak ada rasa semangatnya sama sekali.
Mereka sedang berada di kantin fakultas, Taehyung menunggu kelas yang berikutnya dan Jimin sedang malas pulang cepat kerumah.
"Aku sedang kecewa…" Jimin berguman pelan, matanya menatap kosong ke depan tanpa focus pandangan yang pasti.
"Huh?"
"Yoongi hyung membatalkan janji sepihak"cerita Jimin.
"Kau benar-benar sedih?" Taehyung tertawa keras melihat wajah Jimin yang merana.
"Brengsek! Aku sedang sedih, kau malah tertawa" Jimin melempar tasnya ke wajah Taehyung.
"Ya! Sakit!" Taehyung mengelus-elus hidungnya yang terkena lemparan tas Jimin. "Apa yang terjadi?"
"Semalam harusnya kami pergi, tapi Yoongi hyung membatalkannya sepihak" cerita Jimin.
"Karena?"
"Hujan"
"Oh, semalam memang ada badai, kan? wajar saja. Lalu? Apa Yoongi hyung sudah minta maaf atau berkata sesuatu, begitu?"
"Badai? Bukannya hanya hujan deras?"
"Kau tinggal di korea utara?" Taehyung berucap sarkastik.
"Ck, bukan itu intinya! Aku sedang sedih, tau!" Jimin berucap tak mau kalah.
"Apa semalam Yoongi hyung sudah menghubungimu? Minta maaf atau apa,begitu?" ulang Taehyung.
"Dia datang kerumahku, semalam"
"Lho? Bukannya tidak jadi datang? Bagaimana sih?" Taehyung menegakkan tubuhnya.
"Dia datang jam sepuluh malam kerumahku"
"Hujan-hujan begitu? Yang benar saja, Park Jimin" Taehyung berucap tak yakin.
"Dia memang datang kerumahku!"
"Kenapa juga harus repot-repot datang kerumahmu? Cukup lewat telepon saja, kan?" Taehyung menaikkan satu alisnya.
Saat ucapan Taehyung sampai ketelinganya, Jimin merasa sangat-sangat konyol sekarang. Semalam dia tidak menganggap yang dilakukan Yoongi padanya adalah hal yang cukup special. Yoongi datang kerumahnya basah kuyup, tanpa jas hujan, tanpa jaket, naik motor, bukannya harusnya Yoongi menerima maaf atau secangkir teh hangat? Lalu apa yang Jimin lakukan semalam? Jimin hanya berpusat para perasaan kecewanya tanpa memikirkan perjuangan Yoongi. Dan lebih parah, Jimin mengusirnya!.
"Kau kenapa?" Taehyung mengibaskan tangannya didepan wajah Jimin yang mendadak mematung.
"Tae, sepertinya aku harus minta maaf pada Yoongi hyung" Jimin duduk tegak dan mengambil tasnya dari depan Taehyung.
"Kenapa sekarang malah kau yang minta maaf?" Tanya Taehyung kebingungan.
"Aku harus menghubungi papa anak-anak ku sekarang" Jimin merogoh tas miliknya untuk mencari ponselnya.
"Papa anak-anak mu?" Taehyung mengerutkan alisnya bingung.
"Iya, Yoongi hyung" Jimin menarik ponselnya dari dalam ransel dengan terburu-buru.
"Kau tidak punya anak dengan Yoongi hyung, jangan mimpi terlalu tinggi" ejek Taehyung.
"Bukan tidak, tapi belum!" tegas Jimin.
"Aku rasa otak mu sudah berlari meninggalkan tempurung kepalamu" Taehyung menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Terserahlah" Jimin mengabaikan ucapan Taehyung, berkonsentrasi pada ponselnya yang sedang menghubungi nomor Yoongi.
"Jim?" suara berat Yoongi terdengar di seberang telepon.
"Yoongi hyung, ini aku, Jimin" ucap Jimin salah tingkah.
"Aku sudah tau. Ada apa?"
"Kau sedang dikampus, hyung?" Jimin merasa jarinya mendingin, suara berat Yoongi terdengar seksi di telinganya.
"Baru akan pulang. Sedang di parkiran"
"Hyung, tunggu. Aku ingin bicara, hyung di parkiran mana?" Jimin sudah berdiri dari tempat duduknya.
"Di parkiran motor depan studio music"
"Hyung, aku boleh ikut?"
"Oh, kau tidak bawa mobil?"
"Ne, boleh?"
"Tentu. Ku tunggu di parkiran"
"Ne hyung, aku kesana" Jimin mematikan sambungan teleponnya dan Yoongi. Wajahnya mendadak cerah, ada semburat merah di pipinya.
"Apa?" Taehyung menaikkan alisnya heran saat melihat Jimin mengedip-ngedipkan matanya berkali-kali.
"Papa anak-anak sudah menungguku di parkiran. Aku harus pulang, tidak baik membuat suami menunggu lama" Jimin berkedip-kedip lagi.
"Enyahlah, kau membuatku mual" Taehyung memasang wajah ingin muntah melihat Jimin.
"Sampai bertemu, Taehyung ahjussi. Akan ku sampaikan salam mu pada suamiku, tenang saja." Jimin berlalu dengan berlari kencang menuju
"Berhenti berkhayal, Park Jimin" ucap Taehyung keras dan berhasil membuatnya menjadi pusat perhatian di kantin. Tapi bukan Taenhyung namanya kalau dia peduli.
.
.
.
"Hyung, maaf merepotkan mu lagi. Tidak apakan kalau aku ikut pulang?" Jimin berdiri sambil mengatur napasnya yang berantakan.
"Kau sudah tidak marah padaku?" Yoongi memastikan.
"Tidak.. tidak" Jimin menggelang semangat.
"Ayo naik" Yoongi mengulurkan tangannya untuk membantu Jimin naik di atas motor.
Jimin tidak menyia-nyiakan uluran tangan Yoongi. Jimin menjabat tangan Yoongi yang membantunya naik keatas motor.
"Sudah?" Yoongi melirik kebelakang, memastikan Jimin sudah duduk dengan nyaman.
"Sudah, hyung" Jimin berucap ceria.
Yoongi tersentak saat Jimin memeluk perutnya dan menempelkan badannya di punggung Yoongi. Dengan sedikit gugup, Yoongi menjalankan motornya meninggalkan parkiran kampusnya.
"Hyung, aku boleh menagih janji mu yang semalam batal?" Jimin meletakkan dagunya di bahu Yoongi.
"Tentu, aku benar-benar minta maaf soal semalam. Kau ingin pergi sekarang?" Yoongi melirik Jimin dari kaca spion sambil tetap berkonsentrasi membawa motornya.
"Aku ingin nonton ke bioskop hyung"
"Oke" Yoongi mengarahkan motornya ke sebuah mall besar dimana ada bioskop di dalamnya.
Yoongi memperbaiki posisi ranselnya saat memasuki mall, disampingnya Jimin sedang melirik ke kiri dan ke kanan, kebiasaan Jimin jika berada ditempat ramai. Yoongi berjalan dengan santai, dibelakangnya Jimin sedang menimbang-nimbang sesuatu. Jimin berkali-kali melirik tangan besar Yoongi, ingin menggenggam tapi Jimin tidak punya alasan yang tepat.
Saat sedang sibuk berpikir, Jimin sudah tertinggal agak jauh dari Yoongi. Saat Yoongi melirik ke belakang, Jimin sudah tidak ada disana, beruntung kali ini Yoongi tidak perlu waktu lama mencari Jimin, karena Jimin hanya berjarak sepuluh langkah dari posisi Yoongi sekarang.
Yoongi berjalan kembali menuju Jimin yang masih terlihat sibuk berpikir. Yoongi berhenti di depan Jimin dan menjentikkan jarinya agar Jimin tersadar dari pikirannya.
"Hyung?" Jimin tersentak dan sadar dari lamunannya.
"Kau punya kebiasaan menghilang di tempat ramai, ya?"
"Tidak kok" Jimin mengelak.
"Tanganmu" Yoongi mengulurkan tangannya di depan Jimin.
"Huh?" Jimin memandang tangan Yoongi yang terulur didepannya, kebingungan.
Yoongi berdecak dan langsung menarik tangan Jimin tanpa permisi, menggenggam tangan kecil Jimin dan membuat jari mereka bertautan.
"Hyung?" Jimin berlari kecil untuk mengimbangi langkah Yoongi.
"Nanti kau hilang" Yoongi berucap cuek dan membawa Jimin masuk kedalam lift.
Jimin jangan ditanya, dalam hati dia sudah bersorak gembira. Yoongi yang lebih dulu menggenggam tangannya. Ini kemajuan luar biasa.
Mereka memilih menonton film horror, karena Jimin yang minta. Setelah membeli makanan dan minuman, Jimin dan Yoongi memasuki ruang bioskop. Jimin memilih duduk di deretan paling atas dan berada di tengah-tengah bangku.
Selama film berlangsung, sudah tidak terhitung berapa kali Jimin menyembunyikan wajah di bahu Yoongi karena ketakutan, sementara Yoongi dengan santai memakan popcorn di pangkuannya tanpa peduli kengerian yang ditampilkan dari film yang sedang mereka tonton.
"Hyung, hantunya sudah pergi?" Jimin berakhir memeluk lengan Yoongi dan bersembuyi disana.
"Belum, masih muncul di cermin" jawab Yoongi cuek dan memasukan lagi popcorn di pangkuannya kedalam mulut.
"Kenapa lama sekali" Jimin menggerutu.
"Kenapa kau menonton film ini kalau takut hantu?" Yoongi melirik Jimin yang bersembunyi dibahunya.
"Aku pikir, kalau menonton dengan Yoongi hyung, hantunya tidak seseram itu"
"Apa maksudnya itu? Maksudnya aku lebih seram dari hantu?" Yoongi menaikkan alisnya.
"Anio…" elak Jimin.
"SSSShhhhh…." Orang di depan Yoongi dan Jimin berdesis, menyuruh Jimin dan Yoongi untuk diam.
"Ini gara-gara hyung, kita jadi kena tegur" Jimin menuduh sambil berbisik.
"Kenapa jadi aku yang disalahkan?" Yoongi ikut berbisik.
Jimin terkekeh pelan dibalik bahu Yoongi, tangannya makin erat memeluk tangan Yoongi.
Jimin sudah tidak lagi berkonsentrasi pada film yang sedang ditayangkan di layar, Jimin sibuk dengan urusannya memperhatikan wajah Yoongi yang datar-datar saja menonton film horror di depannya. Saat beberapa penonton berteriak ketakutan, Jimin mengerjab dan menjauhkan wajahnya yang entah sejak kapan sudah sangat dekat dengan pipi Yoongi, Jimin mendadak memerah malu karena kelakuannya.
"Kau takut?" Yoongi melirik Jimin sekilas.
"Huh? Oh, iya.. itu seram hyung" jawab Jimin asal.
Yoongi tersenyum dan kembali menatap lurus pada layar di depannya, kembali berkonsentrasi menonton dengan wajah datar tanpa ekspresinya.
Jimin memilih menyandarkan kepalanya di bahu Yoongi, isi kepalanya sudah berantakan karena Yoongi, film di depannya pun udah Jimin abaikan sejak tadi. Jimin berharap dengan menyandarkan kepalanya pada Yoongi, Jimin bisa mendapatkan ketenangan di kepalanya yang sudah terkontaminasi, tapi wangi parfum Yoongi malah menambah parah isi kepalanya. Membuat Jimin berkhyal kemana-mana.
"Jimin, hentikan pikiran-pikiran anehmu itu…" Jimin berguman pelan memperingatkan dirinya sendiri.
Meskipun pelan, Yoongi bisa menangkap dengan jelas apa yang digumankan Jimin, hal itu membuat Yoongi teringat akan niatnya untuk membuktikan apakah Jimin menyukainya atau memang beginila Jimin dengan teman-temannya.
"Jim?" Yoongi melirik pada Jimin yang bersandar di bahunya.
Jimin mendongak dan Jimin merasa berdebar karena jarak wajah mereka yang terlalu dekat. Yoongi tidak lagi mengatakan apa-apa. Yoongi mencari mata Jimin dan menatap dalam ke mata itu, membuat Jimin terkunci disana, di mata Yoongi.
Yoongi memajukan wajahnya semakin dekat, menunggu reaksi Jimin, tapi Jimin membatu disana. Nafasnya tercekat mendapati wajah Yoongi yang makin menunduk mendekatinya. Mata Yoongi melihat bibir Jimin penuh minat dan melihat lagi ke mata Jimin, tapi Jimin tidak memberikan reaksi apapun. Yoongi makin berani dan menempelkan bibirnya diatas bibir Jimin, hanya menempel saja, dan Yoongi bisa melihat dari ujung matanya, mata Jimin membulat tapi tidak melakukan apa-apa, seperti membiarkan Yoongi melakukannya.
Saat Yoongi mengulum bibir bawah Jimin untuk pertama kalinya, Jimin meremas lengan baju Yoongi yang dipeluknya erat, matanya terpejam. Takut, penasaran, senang dan berdebar bercampur menjadi satu disana. Jimin makin memeluk tangan Yoongi erat saat Yoongi mengigit kecil bibir bawahnya sebelum ciuman singkat itu terlepas. Sangat seksi, batin Jimin.
Perlahan Yoongi menjauhkan wajahnya dari Jimin, Yoongi bisa melihat mata Jimin yang masih terpejam dengan semburat merah di pipinya. Manis sekali, batin Yoongi.
"Jim?" Yoongi memanggil Jimin pelan.
Jimin tersentak, perlahan membuka matanya. Dia tidak tau lagi harus membuang pandangannya kemana, dia malu setengah mati. Itu ciuman pertama Jimin, ngomong-ngomong.
"Kau tidak marah aku menciummu?" Yoongi berbisik pelan.
"Kenapa hyung mencium ku?" Jimin menunduk, pelukannya di lengan Yoongi terlepas.
"Kau tidak ingin menamparku?"
"Kenapa aku harus menamparmu, hyung?" Jimin bertanya pelan sekali.
"Aku menciummu"
"Aku tidak keberatan hyung menjadi ciuman pertamaku"
'Oh Shit.' Yoongi memaki dirinya sendiri dalam hati. Dia tidak bisa menampik kalau dia merasa senang sekarang.
"Kenapa?" Yoongi kembali bertanya.
"Aku menyukaimu, hyung" ucap Jimin malu-malu.
.
.
.
TBC
Hay kakak-kakak… makasi lo buat reviewan di chap kemaren.
*Ketjup satu-satu*
Sampai ketemu di chap selanjutnya, yes?
*Lari naruto*
