"Aku tidak keberatan hyung menjadi ciuman pertamaku"
'Oh Shit.' Yoongi memaki dirinya sendiri dalam hati. Dia tidak bisa menampik kalau dia merasa senang sekarang.
"Kenapa?" Yoongi kembali bertanya.
"Aku menyukaimu, hyung" ucap Jimin malu-malu.
.
.
.
RUN TO YOU
.
.
.
"Apa?" Yoongi bertanya dengan wajah terkejut, memastikan kalau telinganya memang tidak salah dengar. Jimin menyukainya? Yang benar saja!.
"A.. aku memang menyukaimu, hyung" Jimin berucap gugup.
"Kita baru saja kenal, kan?" Yoongi memastikan lagi, suaranya berbisik pelan karena orang di depan mereka melirik tajam.
"Kau tidak bisa memilih akan jatuh cinta dengan siapa dan kapan kan , hyung?" Jimin menunduk, menolak melihat wajah Yoongi yang pasti sedang bertampang kaget dan terlihat bodoh.
"Tapi…"
"Hyung tidak perlu menjawabku. Aku hanya ingin hyung tau, kalau aku menyukai mu hyung" Jimin berucap pelan, tapi Yoongi masih bisa mendengar dengan jelas ucapan Jimin.
Yoongi melirik Jimin yang sudah menunduk dalam, kemudian Jimin mengangkat kepalanya dan berusaha sekuat tenaga untuk tidak menangis. Dia malu. Bahkan Jimin duduk agak menjauh dari Yoongi.
Selama sisa film berlangsung, Jimin dan Yoongi hanya diam. Keduanya bahkan baru sadar kalau film telah selesai saat lampu studio dinyalakan dan orang-orang berjalan meninggalkan bioskop.
"Hyung, ayo pulang" Jimin berdiri, memaksakan senyum pada Yoongi.
Yoongi hanya berdiri tanpa bicara, kemudian berjalan keluar studio bioskop, meninggalkan Jimin dibelakang dengan tangan tergantung di udara.
Jam sudah menunjukan pukul tujuh malam saat Yoongi mengantarkan Jimin ke rumah. Selama dalam perjalanan, tidak ada dari mereka yang bicara. Jimin juga enggan memulai pembicaraan. Jimin turun dari motor Yoongi dan berdiri disamping motor, kembali memaksakan senyum pada Yoongi.
"Hyung, apa setelah ini kita masih bertemu?" Jimin bertanya takut-takut.
"Kau serius dengan ucapanmu?" Yoongi yang sejak tadi diam bak patung, akhirnya mengeluarkan suaranya.
"Huh?" Jimin tersentak. "Soal aku menyukai Yoongi hyung?"
"Ne, apa kau serius?" Yoongi bertanya tak sabar.
"Apa kalau aku bilang aku serius dengan ucapanku, Yoongi hyung akan menghindariku?" Jimin memandang sedih pada Yoongi yang masih berada di atas motor. Kalau benar Yoongi akan menghindarinya setelah ini, Jimin rela harus berbohong seumur hidup, asal tetap dekat dengan Yoongi.
Selama berpikir di bioskop, Jimin tau Yoongi hanya mencoba mencari tau perasaan Jimin dengan cara menciumnya. Jimin tidak sebatu itu hanya untuk tahu soal seperti itu. Dia bukan Yoongi yang tidak peka sama sekali.
"Bukan itu intinya, apa kau serius menyukaiku?" Tanya Yoongi makin tak sabar.
"Aku serius, hyung" Jimin memilih jujur. Lebih baik ditolak setelah berkata jujur, daripada menyimpan perasaan.
"Apa kita pacaran sekarang?" Yoongi bertanya lagi.
Jimin tersentak saat mendengar pertanyaan Yoongi. Apa Jimin bisa berharap lagi sekarang?
"Jimin, apa kita pacaran?" ulang Yoongi lagi.
"Kau menerimaku, hyung?" cicit Jimin pelan. Dia benar-benar tidak percaya dengan apa yang sedang terjadi Setelah Yoongi mendiamkannya nyaris satu jam, dan Yoongi memberikan Jimin pertanyaan seperti itu? Yang benar saja. Mana bisa Jimin percaya dengan keadaan yang sedang dialaminya sekarang.
"Aku mungkin masih ragu dengan perasaanku, tapi, apa kita boleh mencobanya lebih dulu? Aku menyukaimu, tentu saja. Tapi…"
"Tidak apa hyung! kita bisa mencobanya lebih dahulu, aku janji menjadi pacar yang baik untuk Yoongi hyung" Jimin terlalu bersemangat, sedetik kemudian dia menyadari kelakuannya dan memerah malu di depan Yoongi.
"Jadi, kau pacar ku sekarang?" Yoongi tertawa pelan saat Jimin mengangguk. "Terimakasih sudah mau jadi pacarku" Yoongi menggusak rambut Jimin.
"Harusnya aku yang bilang seperti itu kan, hyung?" Jimin berucap malu-malu, tangannya memainkan ujung bajunya. Salah tingkah.
"Tidak penting siapa yang bilang lebih dulu. Masuklah…" Yoongi menggusak rambut Jimin sekali lagi.
"Terima kasih sudah mengantarku, lagi, hyung. Kabari aku kalau hyung sudah sampai di rumah, ne?" Jimin berjalan mundur pelan-pelan sampai punggungnya menabrak gerbang rumahnya.
"Ne. Masuklah" Yoongi menunggu Jimin sampai masuk.
Jimin mengintip Yoongi di gerbang, hanya kepalanya yang terlihat. Benar-benar belum rela berpisah dari pacar barunya.
"Masuk…" perintah Yoongi saat melihat kepala Jimin masih menyembul di antara pagar.
Tapi bukannya makin masuk, Jimin malah keluar lagi dengan berlari kearah Yoongi. Yoongi hanya kebingungan dengan tingkah Jimin, sedetik kemudian Mata Yoongi membola saat Jimin mengecup pipinya dan kembali berlari ke dalam rumah tanpa berani melihat Yoongi.
"Dasar" Yoongi menyentuh pipinya dan tersenyum malu. Matanya melirik ke kanan kiri, memastikan tidak ada yang melihat tingkah Jimin tadi. Saat merasa aman, Yoongi memakai helmnya dan menjalankan motornya dengan senyum yang tidak berhenti terukir di wajahnya.
.
.
.
"Kau kenapa?" Taehyung memandang curiga kearah Jimin yang tidak berhenti tersenyum sejak muncul di kantin.
"Hehehe, memangnya aku kenapa?" Jimin kembali bertanya sambil terseyum bodoh.
"Kau menyeramkan. Hentikan cengiranmu itu" marah Taehyung.
"Hehehe, Taehyungie…" panggil Jimin.
"Ew, berhenti dengan panggilan menyeramkan itu, Jim. Kau membuatku merinding ketakutan. Ada apa denganmu?" Taehyung mengusap tangannya yang merinding.
"Aku dan Yoongi hyung… hehehe"
"Jimin! Kau benar-benar membuatku merinding. Kau sangat aneh!" Taehyung menyeru kesal.
"Huh, dasar menyebalkan. Tapi, aku sedang bahagia, jadi ku maafkan" Jimin meletakkan tas ranselnya di atas meja. "Hey, aku ingin mengatakan sesuatu padamu, ini soal papa anak-anak" Jimin kembali tersenyum bodoh. Ya, Jimin selalu tersenyum bodoh setiap mengingat Yoongi sejak semalam.
"Yoongi hyung? bisa tidak sih kau berhenti menanggap Yoongi hyung itu suamimu? Kau membuatku merasa iba" Taehyung menatap kasihan kearah Jimin.
"Brengsek! Dengarkan dulu ucapanku sampai selesai" akhirnya Jimin menjadi kesal sungguhan pada Taehyung.
"Oke, ada apa dengan Yoongi hyung?" Taehyung menegakkan tubuhnya yang sejak tadi bersandar di sandaran kursi.
"Aku dan Yoongi hyung, sudah pacaran" ucap Jimin malu-malu.
"Ya Tuhan, kau sebegitunya menyukai Yoongi hyung sampai berkhayal, Jim? Jangan khawatir sahabatku, aku akan membantumu mewujudkan impianmu" Taehyung menggengam tangan Jimin diatas meja, matanya menatap iba melihat Jimin. Dimata Taehyung, Jimin seperti pasien sakit jiwa dengan tingkat halusinasi selevel Tuhan. Sangat tinggi. Mahatinggi.
"Aku serius, Kim Taehyung!" Jimin menarik tangannya dan memukul kepala Taehyung dengan keras.
"Jim, jangan membuatku sedih…" Taehyung masih tidak percaya.
"Sialan! Aku sungguhan! Ck, lihat saja nanti kalau Yoongi hyung sudah datang" Jimin menatap Taehyung dengan tatapan super kesal.
"Hentikan, oke? Apa kau lapar? Aku akan meneraktirmu hari ini, kau terlihat tidak sehat…" Taehyung makin merasa iba.
"Ya! Kim Taehyung! Aku…"
"Suaramu keras sekali, Jiminie…" Yoongi meletakkan telapak tangannya diatas kepala Jimin. Membuat namja bersurai pink itu terdiam.
"Yoongi hyung…" ucap Taehyung dan Jimin bersamaan.
"Boleh duduk?" Yoongi melirik kursi kosong disamping Jimin.
"Silahkan, hyung" Taehyung mempersilahkan.
"Hyung akan pulang?" Jimin duduk menyamping agar bisa melihat Yoongi-nya dengan jelas.
"Tidak. Aku akan ke gedung agensi hari ini. Mulai senin aku akan mulai bekerja, jadi masih ada beberapa berkas kontrak yang harus di bahas hari ini."Jelas Yoongi. "Kalian sudah pulang kuliah?" Yoongi melirik Taehyung dan Jimin.
"Aku sudah pulang hyung, sedang menunggu Jungkook pulang sekolah. Jungkook minta ditemani membeli sepatu baru" Taehyung menjelaskan tanpa diminta.
"Aku masih ada praktik setelah makan siang, hyung." Jimin menjawab. "Hyung sedang mencari siapa?" Jimin bertanya penasaran. Soalnya Jimin sangat tau, Yoongi tidak akan datang ke kantin fakultas sendirian. Dia pasti sedang ingin bertemu seseorang, dan Jimin harus tau. hey, Jimin bukan posesif, hanya ingin tahu.
"Sedang menunggu Namjoon. Katanya dia ada disini, tapi sepertinya dia bohong" Yoongi memanjangkan lehernya mencari Namjoon di kantin.
"Oh, Namjoon hyung? tadi aku melihatnya pergi, dia mengantarkan seseorang kerumah sakit. Sepertinya anak seni music juga hyung" Taehyung menjelaskan.
"Siapa?" Yoongi mengernyit bingung.
"Aku tidak tau, tapi seseorang memanggil nama anak itu Woozi. Kepalanya terbentur dan berdarah. Jatuh membentur meja kantin" Jelas Taehyung lagi.
"Woozi?" Yoongi menaikkan alisnya. "Ah, pantas saja tidak ada di kantin"
"Memangnya hyung ada perlu apa?" Jimin bertanya penasaran.
"Tidak ada, hanya ingin menghabiskan waktu saja sampai selesai makan siang, setelahnya aku harus pergi ke kantor agensi"
"Kenapa tidak mencari pacar hyung saja untuk menemani hyung?" Jimin bersidekap.
Yoongi hanya tertawa dan menggusak rambut Jimin menanggapi ucapan Jimin. Di depan mereka, Taehyung memandang Jimin dan Yoongi bergantian.
"Kalian pacaran?" Taehyung bertanya penuh minat. Interaksi seperti ini tidak biasa di lakukan dua orang yang hanya punya status teman saja dan tatapan mereka? Itu terlalu mesra.
"Aku sudah bilang kan! kau saja yang tidak percaya!" Jimin kembali kesal mengingat kelakuan Taehyung.
"Apa benar hyung?" Taehyung bertanya kepada Yoongi.
"Ne" Yoongi menjawab singkat.
"Kau dengar itu, Kim Taehyung?" Jimin berucap menang. Wajahnya terlihat sangat menyebalkan dimata Taehyung.
"Syukurlah, ternyata Papa…."
Jimin terburu berdiri dan menutup mulut Taehyung dengan panic. Hell! Jangan sampai Yoongi tau panggilan itu. Jimin bisa mati karena malu.
"Ada apa?" Yoongi yang terkejut memandang Jimin dan Taehyung bergantian.
"Ucapkan itu, kau akan ku buat putus dengan Jungkook" Jimin mendesis pelan. Tangannya masih membekap mulut dan hidung Taehyung, setelah Taehyung mengangguk, Jimin melepas tangannya dan kembali duduk.
"Bukan apa-apa, Yoongi hyung" Taehyung menjawab, matanya menatap tajam pada Jimin.
"Hyung, sampai jam berapa di gedung agensi?" Jimin mengalihkan pembicaraan.
"Mungkin sore"
"Eum… kita tidak pergi kencan? Ini hari sabtu…" Jimin menatap penuh harap pada Yoongi.
Yoongi tertawa pelan. "Kau ingin kita kencan?"
Jimin mengangguk dengan semangat.
"Nanti akan ku kabari, oke? Aku tidak berani membuat janji." Yoongi menggenggam tangan Jimin yang terletak diatas paha Jimin.
Jimin merasa dadanya berdebar keras. Yoongi menggenggam tangannya. Tolong usir Taehyung dan semua penghuni kantin ini, Jimin ingin mencium Yoongi sebentar saja.
"Kabari aku secepatnya, hyung" Jimin menjawab pelan.
"Wah, aku jadi butiran debu" Taehyung bersuara, merusak momen romatis antara Jimin dan Yoongi.
.
.
.
Harusnya Namjoon tidak usah membantu Woozi, harusnya Namjoon tidak usah berbaik hati menawarkan diri mengantar Woozi kerumah sakit, harusnya Namjoon tidak usah pergi ke kantin, harusnya Namjoon tidak perlu berbedar keras saat melihat namja cantik yang mengenakan Jas dokter yang sedang duduk dihadapannya. Seharusnya…
"Namjoon, kau melamun?" Seokjin mengibaskan tangannya di depan Namjoon.
"Ah, Maafkan saya Seokjin-ssi" Namjoon menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Minum dulu. Temanmu sedang beristirahat, mungkin satu jam lagi kalian bisa pulang. Jangan khawatir, dia hanya mendapatkan dua jahitan di dahinya" Jelas Seokjin.
'Aku sedang mengkhawatirkan jantungku, Dokter Seokjin' batin Namjoon.
"Apa lukanya dalam?" Namjoon bertanya, sebenarnya bukan karena khawatir, Namjoon hanya ingin sedikit bisa lebih santai.
"Lumayan. Tapi tidak masalah, dia akan segera pulih. Dan kenapa kau memanggilku Seokjin-ssi dan bukan Ahjussi?" Seokjin memandang penuh Tanya pada Namjoon. Seingatnya, Namjoon tidak pernah memanggilnya dengan 'Ahjussi', seperti teman Yoongi yang lain.
"Apa anda keberatan?" Namjoon melirik dari ujung matanya.
"Huh? Kau keberatan memanggilku Ahjussi?" Seokjin balik bertanya.
"Apa tidak boleh aku memanggilmu Seokjin-ssi, saja?"
"Aku tidak keberatan. Kau membuat ku terlihat lebih muda" Seokjin tertawa.
Namjoon memaki dirinya sendiri dalam hati. Bagaimana dia bisa menikmati tawa dari ayah temannya sendiri? Bagaimana bisa jantungnya bisa berdebar menyenangkan seperti ini? Sejak kapan dia jadi bengini? Yoongi pasti membunuhnya jika tau kalau dia menaruh rasa pada ayahnya. Namjoon, kau dalam masalah besar.
"Namjoon?" Seokjin memanggil Namjoon yang lagi-lagi melamun.
"Ah, maaf, aku melamun" Namjoon berucap tak enak hati.
"Sepertinya kau sangat mengkhawatirkan temanmu. Dia tidak apa, dia sudah baik-baik saja" Seokjin tersenyum dan menepuk punggung tangan Namjoon pelan.
Namjoon tersentak saat Seokjin menyentuh punggung tangannya. Getaran listrik menyenangkan seperti menyerang seluruh tubuh Namjoon. Lagi-lagi Namjoon memaki dirinya sendiri. Dia menyesal datang kerumah sakit ini.
Namjoon menyesal memperhatikan Seokjin yang dengan cekatan membantunya untuk memapah Woozi ke ruang IGD, Namjoon menyesal memperhatikan Seokjin merawat luka Woozi sampai dengan gilanya Namjoon merasa cemburu pada Woozi, Namjoon menyesali semua yang menimpanya hari ini, bahkan menyesali Seokjin yang merupan ayah dari Yoongi, sahabatnya.
Namjoon sering mendengar kata-kata yang dulu dianggapnya omong kosong, seperti ' kau tidak bisa memilih dengan siapa kau akan jatuh cinta'. Kini, Namjoon memaki dirinya lagi karena menganggap sepele hal itu, karena dia benar-benar merasakan sendiri omong kosong itu. Dia benci harus mengakui, tapi dia sepertinya jatuh cinta pada Seokjin, ayah sahabatnya.
Jangan salahkan Namjoon, Seokjin adalah orang yang menarik. Sangat menarik! Kulitnya putih, matanya bagus, bibirnya, tangannya, semuanya yang ada didiri Seokjin terlihat bagus di mata Namjoon.
"Namjoon, kita bisa melihat temanmu kalau kau merasa tidak nyaman jika tidak melihatnya" Seokjin berucap lagi, karena lagi-lagi Namjoon membisu.
"Ah, Maafkan aku dokter, tapi sepertinya aku harus melihat Woozi" Namjoon berdiri dan membungkuk didepan Seokji.
Meninggalkan Seokjin sendirian di kantin rumah sakit. Bukan karena Woozi, tapi Namjoon tak tahan dengan jantungnya yang berdetak lebih cepat saat dekat dengan Seokjin.
"Namjoon, Yoongi hyung benar-benar akan membunuhmu" Namjoon menggusak rambutnya frustasi.
.
.
.
TBC
Akhirnya update….
Terimakasih sudah suka dengan FF ini kakak-kakak…
Sampai bertemu chap selanjutnya
:*
