"Mana mungkin mereka sudah pacaran, bukannya mereka baru kenal? Hyung jangan membohongiku!" Jungkook berkacak pinggang, wajahnya jelas-jelas tidak percaya dengan info terbaru yang Taehyung sampaikan.
"Astaga, mereka sendiri yang bilang" Taehyung mengehela nafas frustasi.
"Apa buktinya?" tantang Jungkook.
"Aku tidak merekamnya, sayang. Bagaimana bisa aku punya bukti? Tapi Jimin dan Yoongi hyung sudah mengaku kalau mereka berkencan…" Taehyung menjelaskan dengan putus asa.
"Aku tidak percaya!" Jungkook berkeras.
"Kita telepon Jimin sekarang…"
"Jimin lagi… Jimin lagi" Jungkook memutar bola matanya kesal.
"Lalu harus bagaimana?"
"Buktikan dengan cara lain"
"Baiklah, aku akan membuktikan padamu, lihat saja. Aku tidak bohong soal Jimin dan Yoongi hyung berkencan. Bersiaplah untuk itu. Dan berhenti menyebalkan, Kookie" Taehyung mengeluh.
"Aku tidak akan menyebalkan kalau saja hyung tidak bohong. Bagaimana bisa orang yang baru kenal beberapa hari dan langsung berkencan? Apalagi orang itu Yoongi hyung, mustahil"
"Terserah. Nanti akan ku buktikan, lihat saja" Taehyung mendadak kesal menghadapi sikap Jungkook.
"Kau marah padaku, hyung?" Jungkook melemah.
"Siapa yang tidak akan marah kalau pacarnya menyebalkan? Turunlah, aku ingin pulang" Taehyung menilik dagunya kearah pintu mobil di samping Jungkook, dimana mobilnya terparkir tepat di depan rumah Jungkook.
"Aku kan hanya ingin kepastian saja."
"Aku tidak bohong, aku akan buktikan nanti kalau mereka benar berkencan."
"Ya sudah, jangan marah" Jungkook membujuk. Tangannya menarik tangan Taehyung dari stri mobil, membuat badan Taehyung ikut condong kearah Jungkook. "Hati-hati di jalan, hyung" Jungkook mengecup bibir Taehyung sebentar, melepas genggamannya pada Taehyung dan berjalan keluar dari mobil.
.
.
.
RUN TO YOU
.
.
.
Malam minggu yang Jimin idam-idamkan sudah batal dalam dua minggu berturut-turut. Yang pertama karena Yoongi sibuk membahas kontrak, dan sekarang karena Yoongi sibuk di studio untuk persiapan debut idol yang Yoongi tangani bersama para kru dan beberapa produser lain.
Sudah seminggu Jimin tidak bertatap muka langsung dengan Yoongi, menjadi mahasiswa dan bekerja sebagai produser saat pulang kuliah, Yoongi benar-benar tidak punya waktu untuk Jimin. Kadang Jimin hanya bisa berharap kalau-kalau Jimin bisa melihat mobil atau motor Yoongi terparkir di kampus, hitung-hitung bisa mengurangi rasa rindunya pada namja pucat itu.
Jimin sedang diruang tamu sendirian dengan ponsel yang selalu menemaninya di sampingnya, Jimin baru saja mengirimi Yoongi pesan agar tidak lupa makan, dan sudah dua menit berlalu, belum ada balasan dari Yoongi.
"Yoongi hyung, setiap sudah bekerja pasti lupa padaku" Jimin menggerutu. Rasanya Jimin sudah hapal kebiasaan Yoongi jika sudah di studio, Yoongi tidak akan memegang ponselnya.
"Tidak pergi? Bukannya kau sudah punya pacar?" Chanyeol yang baru saja sampai dirumah, langsung mendudukan diri disamping Jimin yang sibuk menggerutu entah tentang apa.
"Adik ipar hyung sibuk bekerja" Jimin makin kesal.
"Kerja apa? Sudah jam Sembilan malam, kantor mana yang buka?" Chanyeol mengernyitkan alisnya bingung.
"Dia produser lagu, hyung" Jelas Jimin.
"Jadi kau benar punya pacar?" Chanyeol terkejut dengan jawaban Jimin.
"Ya! Jadi hyung tidak percaya kalau aku punya pacar?" Jimin melirik Chanyeol dengan tajam. Sembarangan saja, dia tidak tau apa adiknya ini 'diva' di kampus. Berani-berani dia tidak mempercayai kalau Jimin bisa punya pacar.
"Hehehe, ku pikir kau tidak akan punya pacar. Jadi, siapa namanya?"
"Yoongi"
"Yoongi? Sepertinya namanya tidak asing, ahh iya, di agensi ada produser baru, namanya sama seperti pacarmu"
"Oh ya? Berani sekali dia mempunyai nama yang sama dengan pacarku" Jimin berucap tak suka.
"Ya! Kau pikir hanya pacarmu saja yang boleh mempunyai nama Yoongi?" Chanyeol menaikkan alisnya sebelah.
"Dia pasti tidak setampan adik ipar hyung…" Jimin berucap bangga, sedetik kemudian dia menyadari sesuatu. Produser baru di agensi milik Chanyeol? Yoongi? Jangan-jangan itu papa anak-anak! "Hyung, apa nama prosuder itu Min Yoongi?" Jimin berucap antusias.
"Huh? Apa nama pacarmu juga Min Yoongi?"
"Jadi benar, namanya Min Yoongi? Apa dia tampan dan pucat?" Jimin makin antusias.
"Tampan? Ya… bisalah, nilai 70" Chanyeol menilai tanpa diminta. "Kalau pucat, aku memberinya nilai 1000, dia benar-benar pucat" Sambung Chanyeol.
"70? Jangan sembarangan menilai pacarku! Enak saja nilai 70." Jimin protes.
"Ya! Belum tentu produser baru di agensi ku itu pacarmu, kan?"
"Tunggu hyung" Jimin mengambil ponselnya dan memamerkan wallpaper ponselnya pada Chanyeol dimana hanya tubuh bagian belakang Yoongi saja yang terlihat. "Apa dia seperti ini?" Jimin mendekatkan ponselnya kea rah Chanyeol.
"Aku sudah makan, Jiminie. Jangan lupa makan, nanti ku telepon" Bukannya menjawab pertanyaan Jimin, Chanyeol malah membaca line yang baru masuk ke ponsel Jimin.
Jimin langsung menarik ponselnya dan melihat pop up chat line Yoongi yang terpampang di layarnya. "Hyung, membaca pesan pribadi orang tanpa izin itu illegal, walaupun aku adik kandungmu" Jimin menasehati, wajahnya terlihat bahagia melihat chat yang masuk dari Yoongi.
Jimin hanya membaca chat itu tanpa berniat membalasnya, biar saja, Jimin ingin balas dendam. Berani sekali Yoongi membalas pesan Jimin lewat dari lima menit!.
"Nah, hyung, apa Yoongi di agensi mu seperti ini?" ulang Jimin dengan menunjukan layar ponselnya pada Chanyeol.
"Sepertinya iya, dari belakang terlihat mirip"
Jimin bersorak senang dalam hati. Huh, lihat saja Min Yoongi, kau tidak akan bisa macam-macam. Jimin sudah menyusun rencana dalam otaknya untuk menjadikan Chanyeol sebagai informan kepercayaanya sekaligus mata-mata.
"Proyek apa yang sedang pacarku kerjakan, hyung?" Jimin mendadak berubah seperti anak kucing yang manis.
"Tim nya sedang sibuk mengurus idol baru yang akan debut"
"Idol pria atau wanita?"
"Idol pria"
"Bagaimana performa kerja adik ipar hyung selama seminggu ini?"
"Dia jenius dalam menciptakan lagu, sejauh ini sudah tiga lagu yang dia ciptakan masuk ke daftar list album"
"Lagu tentang apa hyung? apa lagu tentang orang yang sedang jatuh cinta?" Jimin menggeser duduknya makin dekat dengan Yoongi, matanya terlihat berbinar-binar.
"Itu bukan lagu tentang jatuh cinta, lagunya seperti lagu orang yang patah hati"
.
.
.
Jimin sudah bersiap dari pagi, Yoongi berjanji akan mengajaknya kencan hari ini. Mendadak hari minggu menjadi begitu membahagiakan di mata Jimin. Jam sebelas siang dan Jimin terlihat masih sibuk menggonta ganti bajunya berkali-kali, ini kencan pertama mereka setelah resmi berpacaran, jadi Jimin ingin menampilkan yang terbaik untuk Yoongi-nya.
Saat sedang sibuk dengan menggonta-ganti pakaiannya, ponsel Jimin bergetar diatas nakas, Jimin berlari kencang dan menyambar ponselnya dengan semangat.
"Hyung"
"Sudah siap? Aku sudah di depan pagar. Aku lapar" suara berat Yoongi terdengar diseberang telepon.
"Hyung sudah sampai? Tunggu sebentar, oke?" Jimin menyambar sweater kuning ditempat tidur dengan sembarang, dia tidak ingin membuat Yoongi-nya yang kelaparan menunggu lama.
Saat Jimin sampai di depan pagar, Jimin mematung. Kalau ada satu hal yang Jimin benci dari Yoongi adalah mobil Yoongi!. Jimin benci pergi kencan naik mobil. Dia jadi tidak bisa memeluk Yoongi sepuasnya.
Jimin berjalan kearah mobil Yoongi yang terparkir, membuka pintunya dan mendadak mood Jimin naik lagi saat melihat wajah Yoongi yang tersenyum. Yoongi terlihat tampan dengan kaos putih, jaket kulit hitam dan celana jeans dan jangan lupakan kacamata hitamnya! Too damn hot!
Jimin mematung didepan pintu mobil, Yoongi-nya sangat menggoda iman. Ini gawat.
"Jiminie?"
Suara berat Yoongi membuat Jimin berkedip dari ketersimaannya pada Yoongi. Jimin berkedip berkali-kali dan terkekeh seperti orang bodoh dan terburu masuk kedalam mobil.
"Sudah lama, hyung?" Jimin berucap basa-basi.
"Belum. Ingin pergi kemana?"
"Hongdae?" Jimin terkekeh, mengingat janji mereka yang batal.
"Siap"
Yoongi melirik Jimin, saat matanya menangkap seatbelt Jimin belum terpasang, Yoongi mencondongkan badannya dan memasangkan seatbelt untuk Jimin. Jimin yang kebingungan, hanya membiarkan Yoongi, dan saat bunyi klik terdengar, Jimin baru sadar kalau Yoongi memasangkan seatbelt untuknya.
Jimin berkedip lagi, ini sangat manis untuknya, bagaimana Yoongi memperhatikan hal kecil dari Jimin. Bagaimana Jimin bisa lari dari Yoongi kalau dia semanis ini?.
"Gomawo, hyung" cicit Jimin. Dia tidak berani menatap Yoongi. Malu.
"Sama-sama" Yoongi menggusak rambut Jimin.
Saat hendak menginjak gas, Yoongi baru teringat akan dompetnya yang tidak berada di dashboard, Yoongi biasa meletakkan dompetnya disana kalau mengunakan mobil.
"Sepertinya dompetku tinggal" Ucap Yoongi.
"Huh?"
"Kita kerumahku sebentar, ya."
Jimin hanya mengangguk.
Sesampainya dirumah Yoongi, Yoongi hanya memarkirkan mobilnya di depan pagar dan meminta Jimin menunggu di dalam mobil.
"Kenapa aku tidak boleh masuk?" Jimin terlihat protes.
"Aku hanya ingin mengambil dompet dikamar, Jiminie"
"Lalu? Kenapa aku tidak boleh masuk?"
"Tidak ada orang di rumah" ucap Yoongi akhirnya.
"Dan?"
"Ya sudahlah, ayo ikut" Yoongi menyerah, dia tidak ingin membuat Jimin kesal dan berakhir dengan pertengkaran konyol.
Jimin seperti tidak mengerti maksudnya. Yoongi hanya gugup berduaan di dalam rumah dengan Jimin.
Jimin tersenyum senang dan dengan semangat membuka pintu mobil, mengikuti Yoongi dari belakang seperti anak ayam pada induknya. Jimin makin semangat saat pintu rumah Yoongi sudah terbuka.
Yoongi melihat kebelakang, dia melihat Jimin yang tersenyum lebar padanya.
"Tunggu diruang tamu saja"
"Kenapa aku tidak boleh masuk ke kamar hyung?" Jimin protes lagi. Dia ingin tau kamar pacarnya seperti apa, kenapa Yoongi tega mengahalanginya?
Yoongi menghela nafas, tangannya naik memegang bahu Jimin.
"Jiminie, kita hanya berdua disini…"
"Lalu?" Jimin masih tidak mengerti arah pembicaraan Yoongi. Memangnya kenapa kalau hanya berdua?
Yoongi menghela nafas lagi, sepertinya pemikiran Jimin tidak sekotor isi kepala Yoongi. Yoongi menyerah dan membiarkan Jimin mengekorinya lagi ke kamarnya.
Jimin berbinar begitu melihat pintu kamar dengan gantungan dipintu kamar Yoongi. 'YOONGI OPPA' begitu tulisan yang tergantung di pintu Yoongi. Sebuah kertas putih dengan tulisan tangan berantakan khas anak kecil yang ditulis dengan crayon warna-warni.
"Ini buatan Yoonji?" Jimin tersenyum sambil memegang kertas yang di laminating tergantung di pintu kamar Yoongi.
"Iya. Dia masih kecil sekali saat membuat itu. Tulisannya masih berantakan" Yoongi terkekeh.
"Manis sekali…" Jimin memuji. "Hyung bahkan melaminating kertas ini dan menjadikannya gantungan dipintu kamar…."
"Jangan membuatku malu…" Yoongi membuka pintu kamarnya.
Saat pintu kamar dibuka, Jimin bisa mencium bau parfum Yoongi merebak diseluruh kamar Yoongi. Kamarnya terbilang cukup rapi untuk ukuran anak laki-laki dan nuansanya dominan hitam.
Jimin mendudukan diri di tempat tidur Yoongi dan sibuk melihat-lihat isi kamar Yoongi, rasanya baru lima detik Jimin duduk ditempat tidur Yoongi, saat Yoongi mengajaknya pergi dari ruangan itu lagi.
"Kenapa cepat sekali?" Jimin berucap sedih.
"Huh? Aku hanya mengambil dompet di nakas, Jiminie. Ayo.." ajak Yoongi sambil menggandeng tangan Jimin.
Jimin hanya menurut dan menempel rapat disamping Yoongi.
"Kemana ahjussi dan Yoonji?" Jimin berjalan sambil menyenderkan kepalanya dibahu Yoongi, tangannya memeluk lengan Yoongi dengan erat.
"Belanja ke supermarket"
"Ah,hyung, kita naik motor saja ya" tiba-tiba Jimin teringat hal itu. Mumpung sudah di rumah Yoongi, jadi bisa gampang kan menukar mobil dengan motor.
"Tidak, naik mobil saja" tolak Yoongi.
"Hyuuuungggg…. Ayolah, naik motor saja ya… ya…" Bujuk Jimin lagi.
"Tidak, Jiminie" tolak Yoongi.
"Naik motor saja ya…"
"Jimin…" Yoongi memandang tajam pada Jimin yang sudah berdiri di depannya, menghalangi jalan Yoongi.
"Yoongi hyung tidak…"
Jimin tersentak saat Yoongi mendorongnya pelan ke dinding disamping tangga, dan mata Jimin membola saat Yoongi menciumnya tepat dibibir. Tangan Jimin meremas lengan jaket kulit yang Yoongi gunakan saat Yoongi menghisap kuat bibir bawahnya, rasanya Jimin nyaris pingsan karena sakit jantung dan terlalu senang.
"Kita naik mobil saja" ucap Yoongi tepat didepan bibir Jimin, membuat Jimin tidak bisa berkutik dan hanya mengangguk patuh pada Yoongi.
Bukan salah Yoongi jika akhirnya Yoongi tidak tahan untuk 'tidak melakukan apa-apa' pada Jimin. Jimin sangat manja padanya, dan Yoongi sama seperti kebanyakan laki-laki diluar sana, jika sedang berduaan dengan kekasihnya, keinginan untuk menyentuh kekasihnya tentu sangat kuat.
.
.
.
Kencan yang sudah Jimin atur dalam kepalanya seketika gagal saat mereka berjumpa dengan pasangan Taehyung dan Jungkook di salah satu Mall yang ada di Hongdae. Jimin merasa kesal setengah mati karena Yoongi menyetujui ide Jungkook untuk double date, dan yang paling membuat Jimin jengkel adalah, Yoongi lebih memilih berbicara pada Taehyung ketimbang menggandeng tangan Jimin seperti sebum bertemu pasangan TaeKook.
Mereka baru saja selesai menonton di bioskop saat tidak sengaja berpapasan dengan Taehyung dan Jungkook.
"Jadi, benar kau berkencan dengan Yoongi hyung?" Jungkook melirik sinis pada Jimin yang berjalan di sampingnya, sementara Taehyung dan Yoongi berjalan di depan mereka.
"Haruskah aku menciumnya di depanmu agar kau percaya?" Jimin membalas dengan tidak kalah sinis. Dia kesal karena semua orang meragukan statusnya sebagai kekasih Yoongi.
"Seperti kau berani saja" Jungkook tertawa meremehkan.
"Jangan menantangku, Jeon Jungkook…" Jimin tersenyum sinis.
"Kalian membicarakan apa?" Yoongi berbalik untuk melihat Jimin dan Jungkook.
"Tidak ada hyung" jawab Jimin dan Jungkook bersamaan dengan tersenyum manis. Hilang sudah wajah-wajah penuh permusuhan di kedua wajah mereka.
Yoongi melirik Jimin sekilas dan tau jika Jimin memaksakan senyum padanya.
"Ada apa?" Yoongi mengulurkan tangannya pada Jimin, menarik pergelangan tangan Jimin untuk berdiri di samping Yoongi.
"Huh? Tidak ada hyung" jawab Jimin sambil tersenyum.
Yoongi memandang lama wajah Jimin agar Jimin mau buka suara, tapi lagi-lagi senyum palsu yang Jimin pamerkan pada Yoongi.
"Kau ingin kita pergi berdua saja?" tebak Yoongi.
Jimin tersentak dan terdiam. Dalam hati dia merasa tidak enak pada Taehyung, tapi pacar Taehyung ini benar-benar membuat Jimin kesal.
"Taehyung, tidak masalahkan kalau aku dan Jimin pergi berdua saja?" Yoongi berucap tak enak hati.
"Ah, tidak apa hyung. aku mengerti, jangan merasa tidak enak seperti itu…" Taehyung tersenyum kotak.
"Lain kali kita akan pergi kencan bersama" Yoongi menepuk bahu Taehyung dua kali dan menggusak rambut Jungkook sebelum pergi.
Jimin hanya terdiam, dia merasa senang karena Yoongi memahaminya tanpa harus Jimin ucapkan. Jimin menempel rapat disisi Yoongi saat Yoongi merangkul bahunya.
"Ada apa?" Yoongi melirik Jimin tajam.
"Huh?"
"Taehyung dan Jungkook, kau seperti tidak suka soal ide double date…"
"Kita sudah tidak bertemu seminggu, hyung. Aku Cuma ingin menghabiskan waktu dengan pacarku tanpa di ganggu orang lain" Jimin menunduk.
Tanpa Jimin duga, Yoongi mencium rambut Jimin gemas.
"Hyung?" Jimin melirik Yoongi malu-malu.
"Akan lebih mudah untukku kalau kau bicara jujur begitu…" Yoongi menggusak rambut Jimin.
"Eum, Hyung, bagaimana menurutmu kalau kita memilik barang yang sama?" Jimin mencicit pelan. Seperti Taehyung dan Jungkook, Jimin juga ingin punya barang yang sama dengan Yoongi. Barang ehem couple ehem.
"Kau ingin ku belikan apa?" Yoongi tersenyum geli.
"Anioo, aku tidak bermaksud meminta hyung membelikanku sesuatu" Jimin berucap tak enak hati. Jimin tidak bermaksud meminta Yoongi membelikan dia sesuatu, Jimin malah berencana membelikannya dengan uangnya sendiri kali ini, karena selalu Yoongi yang membayar saat mereka pergi berdua.
"Ini hadiah untukmu. Kau ingin apa?"
Jimin berdebar karena Yoongi memandangnnya dengan hangat.
"Tidak jadi, hyung. lupakan saja"
"Kau menolak hadiah dariku?" Yoongi menaikan alisnya.
"Bukan begitu, setiap kita pergi, selalu Yoongi hyung yang membayar semuanya. Aku juga ingin membelikan Yoongi hyung sesuatu, jadi biarkan aku yang membelinya kali ini. Kalau hyung masih ingin berkeras memakai uang hyung, lupakan saja. Aku tidak menginginkan apapun, asal Yoongi hyung ada waktu untuk menemuiku saja, aku sudah senang" Jimin berucap dengan mimic wajah serius.
Menanggapi ucapan Jimin, Yoongi malah tertawa dan menggandeng tangan Jimin, menautkan jari mereka erat. "Wah, aku penasaran dengan barang couple pertama kita" Yoongi tertawa lagi.
"Hyung setuju kita memilik barang… eum… couple?"
"Kenapa tidak? Pacarku ingin memiliki barang yang sama dengan ku, apa yang salah dengan itu?"
Jimin merona hebat. Kau dengar itu? Papa anak-anak bilang Jimin adalah PACARNYA!. Catat itu.
"Ayo kita cari, hyung…" Jimin berucap semangat
Jimin menarik Yoongi kesana- kemari, memasuki satu toko ke toko lain. Satu jam lebih Jimin berkeliling pusat perbelanjaan, karena Yoongi menolak setiap barang mahal yang Jimin sodorkan padanya. Setelah lelah dengan semua penolakan Yoongi, akhirnya mereka sepakat untuk membeli sebuah gelang yang harganya jauh lebih murah dari semua barang yang ditawarkan Jimin pada Yoongi.
"Aku suka gelangnya" Yoongi memandang gelang polos tanpa hiasan apapun yang melingkari tangannya, sama seperti milik Jimin.
"Lain kali aku akan membeli sendiri hadiah untuk Yoongi hyung" Jimin merengut. Dari semua barang bermerek yang Jimin tawarkan untuk Yoongi, Yoongi malah lebih memilik gelang murah ini. Jelas saja Jimin kesal.
"Gomawo gelangnya, sayang" Yoongi membujuk Jimin yang merajuk padanya.
Jimin yang mendengar panggilan sayang dari Yoongi jelas saja senang bukan main, tapi dia sedang marah, dia tidak ingin terpengaruh. Ini soal harga diri!.
Tidak terasa jam sudah menunjukan pukul Sembilan malam, sudah saatnya Yoongi harus memulangkan Jimin. Saat dimobil, Jimin masih saja merajuk pada Yoongi. Berkali-kali Yoongi mencoba merangkul Jimin saat menuju parkiran, tapi Jimin selalu menghindar. Hanya saat Yoongi memasangkan seatbelt untuk Jimin saja Jimin tidak menghindar. Dia senang mendapat perhatian kecil seperti ini, tapi ingat, Jimin sedang merajuk.
"Kenapa marah?" Yoongi meletakkan telapak tangannya diatas rambut Jimin, mengelusnya dengan jari-jarinya.
Jimin hanya terdiam, tidak ingin menanggapi Yoongi sama sekali.
"Besok kita beli yang kau inginkan, oke?" Bujuk Yoongi.
Jimin kembali diam.
"Oke, apa kita harus masuk lagi dan membeli yang kau inginkan Jiminie?"
"Tidak mau. Hyung pasti menolak pilihanku. Apa salahnya sih kalau membeli sesuatu pakai uangku?"Jimin memandang kesal pada Yoongi.
"Kau belum bekerja, sayang. Kenapa harus membeli barang yang mahal, begini saja aku sudah senang" jawab Yoongi.
Jimin menghela nafas. Dia tau tujuan Yoongi itu baik, tapi dia juga ingin memiliki barang yang sama dengan Yoongi dengan kwalitas yang bagus. Bukan yang seperti mereka miliki sekarang.
"Nanti, saat kau sudah bekerja, baru kau boleh membelikan aku barang mahal. Bagaimana?" Yoongi melakukan penawaran.
"Itu masih lama, hyung. aku saja masih semester tiga!" Jimin berujar kesal.
"Akan ku tunggu. Itu bukan masalah. Jangan marah lagi, oke?" Yoongi menggusak poni Jimin.
Jimin akhirnya menangguk, capek juga harus kesal terus karena masalah sepele seperti ini.
"Hyung, aku ingin kopi" Jimin menyandarkan kepalanya di bahu Yoongi yang sedang konsentrasi menyetir.
"Huh? Ya sudah, kita beli sekarang" Yoongi menuruti.
Jimin tersenyum menyeringai tanpa Yoongi menyadarinya, Jimin hanya ingin memperlama kebersamaannya dan Yoongi. Sudah seminggu dia tidak bertemu dengan papa anak-anak, dan waktu dengan teganya bergerak sangat cepat saat mereka sedang bersama.
Yoongi memarkirkan mobilnya di parkiran salah satu kedai kopi terkenal di dekat rumah Jimin. Tadinya Yoongi berpikir Jimin akan meminumnya dirumah, tapi anggapannya salah karena Jimin malah duduk di kursi sudut dekat kaca.
"Kenapa duduk lagi?" Yoongi mengernyit heran.
"Aku tidak mau pulang hyung, nanti saja ya" bujuk Jimin.
"Sudah malam, ayo pulang"
Jimin melirik ke jam dinding disana, jam sudah menunjukan pukul setengah sepuluh malam.
"Jiminie…" Yoongi melirik Jimin tajam, tidak ingin di bantah.
Jimin akhirnya berdiri, berjalan menghentak di depan Yoongi.
Selama perjalanan menuju rumah Jimin, Jimin hanya diam, Yoongi juga sibuk berkonsentrasi menyetir. Sesekali Jimin mencuri pandang pada Yoongi, berharap Yoongi memberi sedikit perhatian padanya.
Tanpa terasa, gerbang rumah Jimin sudah terlihat, Yoongi memberhentikan mobilnya tepat di depan gerbang. Jimin masih diam di kursinya, tidak ingin bergerak se inchi pun dari sana.
"Hyung, kapan lagi kita bisa pergi seperti ini?" Jimin melirik Yoongi yang sedang melepas seatbeltnya.
"Aku akan sering mampir kerumahmu kalau kau mau" Yoongi tertawa.
"Aku sering sedih jika Yoongi hyung lupa padaku jika sedang bekerja" cerita Jimin. Jimin kembali menyandarkan kepalanya di bahu Yoongi, tangannya memeluk tangan Yoongi posesif. Benar-benar tidak ingin pisah.
"Maaf soal itu, aku sering lupa waktu jika berada di studio" Yoongi menekuk tangannya hingga jari-jarinya bisa menyentuh pipi Jimin yang masih bersandar di bahunya.
Jimin mengangguk.
"Masuklah, Appa, Umma, dan hyung mu pasti sudah menunggu di rumah" Yoongi memperingati.
Jimin menegakkan kembali tubuhnya, saat dia hendak membuka pintu, Jimin melirik ke kiri-kanan, kedepan dan kebelakang mobil, setelah memastikan tidak ada orang, Jimin berbalik lagi kearah Yoongi dan tiba-tiba saja Jimin sudah mengecup bibir Yoongi.
Jimin sudah siap-siap berlari, memegangan handle pintu mobil, tapi pintu itu sudah terkunci kembali. Jimin meneguk ludahnya kasar, Jimin benar-benar malu sekarang, dia bahkan tidak berani memandang Yoongi yang berada di balik punggungnya.
"Mau kemana?" suara berat Yoongi membuat Jimin terperanjat ditempat duduknya.
"Bukan begitu caranya memberi ciuman selamat malam pada pacarmu, Park Jimin" sambung Yoongi.
Jimin mendadak merona malu. Jimin terkejut saat tangan Yoongi memegang lengan atasnya, memaksa Jimin kembali berhadapan dengan Yoongi.
"Hyung… ini.. ini sudah malam…" Jimin berucap gugup. Di depannya, Yoongi sudah menyeringai jahat padanya. Itu seksi. Sialan.
"Lain kali, lakukan seperti ini" Yoongi menarik Jimin lebih dekat padanya.
Jimin berdebar keras saat merasakan bibir Yoongi hanya mengecupnya berkali-kali. Jimin sudah meremas baju depan Yoongi, dia geram karena Yoongi tidak benar-benar menciumnya. Ingin rasanya Jimin memulai, tapi Jimin tidak tahu caranya berciuman.
Saat Yoongi merasakan Jimin ingin memundurkan badannya sedikit, Yoongi langsung menyambar bibir Jimin, bukan lagi kecupan-kecupan yang Yoongi berikan, tapi lumatan lembut untuk Jimin. Yoongi sengaja menjilat belahan bibir Jimin sebelum benar-benar melepas ciumannya, membuat ciuman yang diberikannya terkesan seksi, terbukti dari reaksi bahu Jimin yang menegang saat Yoongi menjilat belahan bibirnya.
Damn, Yoongi!
"Mimpi indah, Jiminie" Bisik Yoongi tepat di depan bibir Jimin.
"Hyung… juga" balas Jimin gugup sambil perlahan menjauhkan bibir Yoongi dari bibirnya.
.
.
.
"Yoonji, yakin bisa bawa sendiri?" Seokjin kembali bertanya untuk yang kesekian kalianya. Seokjin dan Yoonji baru saja keluar dari toko buku untuk membeli cat dan kuas untuk Yoonji.
"Bisa, Appa" jawab Yoonji yakin.
"Ya sudah, ingin makan sesuatu?" tawar Seokjin.
"Ayo belikan Yoongi oppa sesuatu Appa" ujar Yoonji senang.
"Ayo…" ajak Seokjin semangat.
Saat menuju parkiran, Yoonji melihat Namjoon seperti sedang menunggu seseorang, Yoonji menarik Seokjin untuk mendekat kearah Namjoon.
"Namjoon Oppa" sapa Yoonji.
Namjoon yang sedang menunggu taksi, terperanjat mendengar suara Yoonji. Dan saat Namjoon berbalik, rasanya Namjoon ingin kabur saat melihat Seokjin sudah tersenyum manis padanya.
"Hai… Yoonji… Seokjin-ssi" Sapa Namjoon kaku.
"Sedang apa disini?" Seokjin bertanya ramah.
"Oh, aku.. aku menunggu taksi, Seokjin-ssi" jawab Namjoon kaku. Dadanya seperti di hantam palu saat melihat Seokjin tiba-tiba muncul dihadapannya.
Ayolah, Namjoon sedang berusaha membuat dirinya kembali waras dengan menghindari untuk datang kerumah Yoongi, dan tiba-tiba Seokjin muncul lagi. Ini kesalahan besar.
"Mau kemana?" Tanya Seokjin lagi.
"Huh?"
"Ayo kami antar" Seokjin menawarkan.
Namjoon mulai kritis.
"Ayo Oppa, kami bisa antarkan oppa kemana saja, iya kan, Appa?" Yoonji berujar senang.
"Tapi…."
"Sudah, ayo, jangan sungkan…" Seokjin dan Yoonji menarik tangan Namjoon bersamaan, membuat Namjoon nyaris mati sakit jantung. Seokjin sedang memegang tangannya, ini bisa berakibat fatal untuk Namjoon.
Mereka sampai didepan mobil milik Seokjin, Seokjin menyerahkan kunci mobilnya pada Namjoon yang kebingungan.
"Karena kau tidak ingi menyebutkan kemana kau akan pergi, jadi kau yang menyetir." Seokjin menjelaskan.
Namjoon terdiam memandangi kunci mobil Seokjin yang berada di tangannya. Dia senang bukan main, tapi saat wajah Yoongi terlintas, Namjoon merasa bersalah bukan main. Namjoon memejamkan matanya erat-erat, dan menghembuskan nafas.
'Yoongi hyung, maafkan aku. Biarkan aku bersama Appa-mu sebentar saja, tolong maafkan aku' bantin Namjoon.
Saat Namjoon masuk kedalam mobil, Yoonji sudah duduk manis di belakang dan Seokjin sedang memandangnya dari kursi penumpang dengan senyuman yang lagi-lagi membuat Namjoon ingin lari dari sana.
"Ayo berangkat…" Yoonji bersorak girang.
Selama perjalanan, Namjoon tidak berani sedikit pun melirik Seokjin, dia hanya berusaha memusatkan pikirannya kejalan, berusaha sekuat tenaga menolak pesona Seokjin yang duduk di sampingnya.
"Bagaimana kabar temanmu yang kemarin?" Seokjin memulai pembicaraan.
"Kurasa dia baik-baik saja" Namjoon menjawab tanpa melirik Seokjin.
"Syukurlah kalau begitu. Aku mencari kalian di IGD, tapi kata perawat kalian sudah pulang" cerita Seokjin lagi.
"Oh, ya, aku memaksanya pulang" ucap Namjoon keceplosan.
Saat itu dia memang membangunkan Woozi paksa, dan menyeret Woozi kembali ke kampus setelah bertemu Seokjin di kantin rumah sakit.
"Kenapa?" Seokjin menaikkan alisnya, kaget.
"Ah, bukan apa-apa" jawab Namjoon gugup.
Keduanya kembali terdiam. Dalam keterdiaman itu bahkan Namjoon dengan gilanya berkhayal kalau dia dan Seokjin adalah keluarga yang memiliki satu anak yang sedang duduk manis di belakang. Namjoon menggelengkan kepala untuk menghilangkan pikiran gilanya itu. Bagaimana bisa dia melakukan ini pada Appa sahabatnya sendiri?
"Namjoon-ah, aku tak apa?" Seokjin bertanya penasaraan.
"A.. aku berhenti disini, aku.. aku ingin kesini Seokjin-ssi" Namjoon menepikan mobil Seokjin sembarangan. Dia sudah tidak tahan berada di dekat Seokjin lebih lama dari ini.
Saat Namjoon dan Seokjin keluar dari mobil, Namjoon baru menyadari dimana dia berhenti. Club malam yang terkenal memiliki para penari telanjang sebagai hiburan tengah malam, dan Namjoon mengumpat dalam hati.
"Kau… kesini?" Seokjin mengambil kunci mobil yang diserahkan Namjoon padanya.
"Bu.. bukan begitu, ini bukan…"
"Tidak apa, jangan gugup begitu." Seokjin menepuk bahu Namjoon dua kali. Dalam hati dia akan memperingati Yoongi dengan keras agar tidak terjerumus ke pergaulan yang seperti Namjoon jalani ini.
Rusak sudah image Namjoon dimata Seokjin karena ulahnya sendiri.
.
.
.
TBC
*Ketjup satoe-satoe*
