Jimin menyesal karena sudah memaksa Chanyeol untuk mengambil lagu ciptaan Yoongi untuk Jimin dengar, makin menyesal begitu mendengar lagu ciptaan Yoongi yang semuanya tentang seseorang yang patah hati dan sedang berada dalam keadaan bimbang antara menyesal, mencintai, dan ingin orang tersebut kembali.
Mungkin ini hanya perasaan Jimin, tapi Jimin merasa yakin kalau lagu ini Yoongi ciptakan bukan hanya karena dia sedang iseng, lagu ini memiliki makna yang dalam, dan Jimin cemburu pada seseorang yang begitu Yoongi cintai sehingga bisa membuat Yoongi menciptakan lagu yang indah dan menyedihkan untuknya.
Jimin merasa kalah. Perasaan Yoongi pada orang itu tentu sangat dalam sampai Yoongi bisa seperti ini. Jimin bahkan merasa dirinya bukanlah tandingan untuk 'seseorang' itu. Jimin hanya orang yang tiba-tiba datang ke kehidupan Yoongi dan membuat Yoongi menerima perasaannya.
Satu hal yang Jimin sadari, dia merasa cemburu, tidak, sangat-sangat cemburu pada 'seseorang' itu. Dia ingin marah tapi atas dasar apa? Dia tidak bisa tiba-tiba marah pada Yoongi karena cemburu buta. Hanya satu yang bisa Jimin lakukan sekarang, menangisi dirinya sendiri.
.
.
.
RUN TO YOU
.
.
.
Bukan tanpa alasan kalau Jungkook masih tidak percaya kalau Yoongi menjalin hubungan dengan Jimin. Dibandingkan dengan Namjoon dan Hoseok, Jungkook lah orang yang paling tahu kehidupan Yoongi, masalah keluarga Yoongi, kecintaan Yoongi pada music dan juga masalah percintaan Yoongi, Jungkook tau semuanya, nyaris seluruh detailnya. Seperti sekarang, lagi-lagi Jungkook mengajak Taehyung berdebat soal hubungan Jimin dan Yoongi.
"Kau lihat sendiri bagaimana Yoongi hyung memperlakukan Jimin, kan, Kookie?" Taehyung mengambil gelas plastic berisi minuman didepannya. Dengan tak sabar, Taehyung menyedot sampai habis isi minuman dalam gelas plastic ditangannya.
"Tapi tetap saja aku tidak bisa percaya, hyung. aku tau Yoongi hyung bukan orang yang mudah. Dan lagi, alasan selama dua tahun terakhir ini Yoongi hyung belum punya kekasih kan karena orang itu" Jungkook berkeras.
"Lalu, tiba-tiba dalam beberapa hari setelah bertemu Jimin, mereka berkencan? Konyol!" sambung Jungkook.
"Lalu, kenapa aku jadi orang yang kau tuntut penjelasan?" Taehyung memutar bola matanya kesal.
"Karena kau sahabat Jimin, tentu saja" Jungkook bernada menyindir.
"Hentikan, oke? Kau bisa Tanya sendiri pada Yoongi hyung soal hubungannya dan Jimin. Jangan membuat keadaan jadi buruk untuk hubungan kita. Kau sudah lihat sendiri bagaimana Yoongi hyung terlihat sangat memanjakan Jimin. Demi Tuhan, kita bahkan membuntuti mereka sampai Jimin diantar pulang…" Taehyung berucap tak sabar.
"Tapi aku masih yakin kalau Yoongi hyung masih belum bisa melupakan orang itu" Jungkook menaikkan alisnya.
"God… kita telepon Yoongi hyung sekarang" putus Taehyung.
"Tidak perlu, aku saja yang akan bertanya langsung"
"Bagus kalau begitu" Taehyung memutar lagi bola matanya. "Sebenarnya, dari pada aku, kau lebih terlihat tidak setuju kalau Jimin dan Yoongi hyung berpacaran?"
"Hyung, Kookie punya alasan kuat! Kalau Jimin hanya dijadikan sebagai pelampiasan oleh Yoongi hyung, kasihan Jimin, kan? bagaimana kalau mereka putus dan Jimin kembali mengekorimu?" Jungkook berkedip-kedip, wajahnya terlihat berpikir keras.
"Aku harus memastikan mereka tidak putus agar Jimin tidak selalu mengekorimu" Sambung Jungkook.
"Dia tidak mengekoriku, sayang. Kami satu kampus dan kebetulan jadwal kami sering bertemu, jadi aku sering pergi dengannya jika kau masih di sekolah dan Jimin itu sahabatku sejak sekolah, jangan cemburu buta seperti itu." Jelas Taehyung.
"Jangan membela Jimin didepan Kookie!"
.
.
.
"Hyung, aku merindukanmu…" Jimin menempelkan ponselnya ditelinga sambil berguling-guling diatas tempat tidur.
Jimin menolak untuk melakukan videocall dengan Yoongi karena dia sedang tidak menarik untuk pamer wajah pada Yoongi. Wajahnya sembab karena menangis semalaman.
"Kenapa menolak panggilan video ku?" suara Yoongi terdengar protes diseberang telepon.
"Hehehe aku belum mandi, hyung." Jimin berbohong. Matanya terasa panas lagi. Rasanya dia sangat sensitive mendengar pertanyaan 'kenapa' semenjak mendengar lagu milik Yoongi.
"Tidak ke kampus?"
"Tidak hyung. Hyung sedang dimana?" Jimin berguling kesudut kepala ranjangnya, menyandarkan punggungnya disana dan menarik bantal untuk dipeluknya erat-erat.
"Dikampus. Sedang apa?"
"Berguling-guling ditempat tidur. Hyung sudah selesai perkuliahan?"
"Sudah. Ini sedang dikantin bersama Namjoon. Aku pikir kau sedang di kampus, kita sudah beberapa hari tidak bertemu, kan?"
Jimin tersenyum sendu. Yoongi mencarinya? Jimin ingin berteriak heboh tapi lagu Yoongi terlintas dipikirannya, membuat perasaan bahagianya rusak seketika.
"Jiminie? Bisa kita bertemu sebentar?" Yoongi bertanya lagi karena Jimin tidak bersuara.
"Hyung ingin bertemu denganku?" Jimin mendudukan dirinya diatas tempat tidur, dadanya berdebar. Ini pertama kalinya Yoongi berinisiatif berteme tanpa Jimin pancing lebih dahulu.
"Kau sibuk?"
"ANIO! Aku akan segera ke kampus, hyung" Jimin berucap semangat, melupakan sejenak kesedihannya.
"Tidak perlu, aku akan menjemputmu. Kabari aku kalau sudah selesai mandi"
"Ne" Jimin berucap semangat.
Jimin langsung berlari turun dari tempat tidur, membuka lemarinya dengan terlalu semangat, mencari pakaian bagus yang akan dikenakannya untuk bertemu Yoongi-nya, dan sedikit berdadan agar Yoongi betah bersamanya.
.
.
.
"Jiminie?" Namjoon mengernyit penasaran. Sedari tadi dia menguping pembicaraan Yoongi ditelepon tapi tidak berani menginterupsi sama sekali.
"Huh?" Yoongi mendongak, memasukkan ponselnya kedalam saku celana dan memandang Namjoon kebingungan.
"Kau akan bertemu Jimin, hyung?" Namjoon bertanya penasaran.
"Ne"
"Urusan apa?"
"Sejak kapan kau jadi cerewet begini, Kim Namjoon? Kau seperti orangtua ku saja" Yoongi memutar bola matanya.
Mendengar ucapan Yoongi, Namjoon merasa jantungnya seperti dihantam palu lagi.
"Ah, Mian.." Ucap Namjoon tak enak hati. "Tapi, sejak kapan kau dekat dengan Jimin, hyung?" Namjoon bertanya lagi, benar-benar tidak bisa menahan rasa penasarannya sama sekali.
"Huh? Sudah dua minggu lebih mungkin?" ucap Yoongi tak yakin.
"Kalian sedang pendekatan?" Namjoon memajukan badannya kearah Yoongi yang duduk didepannya dengan dibatasi meja kantin.
"Tidak" jawab Yoongi cuek.
"Lalu?" Namjoon makin penasaran. Meskipun Yoongi berucap acuh tak acuh, tapi Namjoon bisa menangkap sedikit senyum bahagia yang terbungkus rapi diwajah datar Yoongi.
"Kenapa kau penasaran sekali?"
"Jangan bilang kalian sedang pendekatan, tapi hyung malu mengakuinya? Iya kan? Ah.. ini berita baik, akhirnya kau bisa move on, hyung" Namjoon menepukkan tangannya, merasa bahagia karena Yoongi kembali jatuh cinta. Setidaknya, itu yang dipikirkan Namjoon.
"Jangan bahas soal move on-move on mu itu di depan Jimin. Lagian, aku sudah lama Move on, hanya belum menemukan yang tepat saja waktu itu"
"Hemm… baiklah…" Namjoon berucap sambil tersenyum menyebalkan.
"Dan satu lagi, Jimin itu pacarku"
Namjoon terkejut, benar-benar terkejut. Secepat itu?
.
.
.
"Hyuuungg…" Jimin berlari kencang menuju pagar begitu melihat motor Yoongi terparkir didepan pagar rumahnya.
Yoongi sudah menunggu Jimin sekitar dua menit, helm sudah dilepas dari kepalanya, dan Jimin sudah menghambur memeluk Yoongi.
"Hey, nanti orangtua mu lihat…" Yoongi mengingatkan dan merenggangkan pelukan Jimin di lehernya.
Jimin yang perasaannya memang sedang sensitive, merasa Yoongi sedang menolaknya dan itu membuat rona bahagia diwajahnya meluntur sedikit.
"Oh..." Hanya itu respon Jimin dan berdiri tegak disamping Yoongi dengan senyum yang dipaksa.
Tanpa Jimin duga, Yoongi menyentuh wajahnya dan mematai wajah Jimin lamat-lamat. Dahi Yoongi mengenyit heran, meskipun Jimin sudah berusaha menyembunyikan bengkak matanya akibat menangis, tapi sepertinya Yoongi menyadari, ada yang salah dengan Jimin-nya hari ini.
"Kau menangis?" tembak Yoongi.
Jimin tersentak dan berjalan mundur dua langkah dari Yoongi untuk menjauh dan mengalihkan pandangannya. "Hyung, bisa kita pergi sekarang?" Jimin berusaha mengalihkan pembicaraan. Kalau dilanjutkan, Jimin bisa-bisa menangis lagi.
"Oh.. ya, ayo.." Yoongi mengulurkan tangannya untuk membantu Jimin naik keatas motornya dan dengan senang hati disambut oleh Jimin.
"Sudah?" Yoongi melirik Jimin kebelakang, memastikan kalau Jimin sudah duduk dengan nyaman.
"Sudah hyung, ayo jalan…" Jimin berucap ceria.
Yoongi melirik Jimin lagi kebelakang, menunggu Jimin selesai memakai helmnya dan Yoongi masih menunggu, tapi Jimin tidak juga memeluknya. "Tidak mau memelukku?" akhirnya Yoongi bertanya setelah Jimin hanya diam dan memandang Yoongi kebingungan.
Jimin merona. Dengan malu-malu Jimin mengarahkan kedua tangannya untuk memeluk perut Yoongi dan menempelkan badannya erat dipunggung Yoongi. "Ayo jalan, hyung" Jimin mencicit pelan karena Yoongi belum juga menyalakan motornya.
Tanpa Jimin ketahui, Yoongi tersenyum senang meskipun ada sedikit yang mengganjal perasaanya mengenai Jimin.
Yoongi membawa Jimin ke studio Yoongi di agensi tempat Yoongi bekerja. Jimin begitu semangat memperhatikan setiap detail studio milik Yoongi, ada piano, layar monitor, sofa, pending ruangan dan miniature-miniatur lain yang memenuhi ruang kerja Yoongi. Ruangannya tidak terlalu besar, tapi cukup nyaman untuk ditempati.
"Hyung bekerja disini? Aku sangat senang karena Yoongi hyung mengajakku kesini" Jimin berucap jujur. Dari awal Yoongi bekerja, dia memang ingin melihat studio Yoongi, tapi Jimin malu mengatakannya. Ingat ya, agresif begini, Jimin juga punya rasa malu.
"Ne. Kau suka design nya?" Yoongi mendudukan dirinya disofa samping pintu, sementara Jimin masih sibuk berdiri dan memperhatikan setia detail ruangan Yoongi.
"Huh? Ini terlalu Yoongi…" komentar Jimin.
"Tentu saja ruangan ini 'terlalu Yoongi', ini kan ruanganku"
"Hyung, apa tidak masalah kalau aku datang kesini? Apa CEO agensi hyung tidak akan marah aku ada disini?" Jimin bertanya khawatir. Jujur saja dia belum mau kalau Yoongi tau, dia adalah adik kandung dari Park Chanyeol, atasan Yoongi. Ada beberapa alasan yang membuat Jimin enggan memberitahu Yoongi. Bukan alasan yang seerius, Jimin hanya ingin mengorek informasi dengan nyaman saja dari Chanyeol tentang 'Yoongi di lingkungan kerja'.
"Sajangnim orang yang baik. Aku sudah bilang padanya akan membawa seseorang ke studio ku hari ini, dia bilang oke" jelas Yoongi.
"Syukurlah kalau Yoongi hyung sudah izin" Jimin mendudukan dirinya dikursi kerja Yoongi sambil melirik kelayar yang menyala didepannya.
"Yoongi hyung…" Jimin memanggil pelan.
"Ne?"
"Yoongi hyung menciptakan lagu, kan? Dapat inspirasi dari mana?" Jimin memulai introgasinya. Dadanya berdebar keras menunggu jawaban Yoongi.
Yoongi menaikkan alisnya, agak terkejut dengan pertanyaan Jimin. "Kebanyakan Dari pengalaman pribadi" Jawab Yoongi jujur.
Jimin memejamkan matanya erat-erat, posisinya yang membelakangi Yoongi membuat Jimin merasa sedikit aman. Mati-matian Jimin menahan rasa cemburu yang sudah membakar dirinya dari dalam perlahan.
"Hehehe aku penasaran, lagu seperti apa yang Yoongi hyung ciptakan" Jimin berucap pelan, menahan getaran suaranya mati-matian.
"Kau ingin mendengar laguku?" Yoongi berdiri, berjalan kearah Jimin yang masih membelakanginya.
"Aku ingin sekali hyung, tapi aku ingin mendengar lagu yang hyung ciptakan untukku, bukan lagu tentang orang lain" jawab Jimin.
Yoongi mengernyit heran. Yoongi memang bukan orang yang peka, tapi dia yakin ada yang aneh dengan Jimin hari ini. Yoongi memutar kursi kerjanya yang diduduki Jimin agar menghadap kearahnya. Yoongi bisa melihat bahu Jimin terangkat karena terkejut.
"Kau aneh hari ini…" komentar Yoongi. Kedua tangannya memegang lengan kursi dan badannya sedikit menunduk melihat Jimin yang duduk diam di kursi. Membuat Jimin terkurung dan tidak bisa lari.
"Huh? Apa yang hyung bicarakan?" Jimin mendongak.
"Matamu bengkak seperti habis menangis dan hari ini kau tidak manja sama sekali padaku. Ada apa?" Yoongi memandang tajam kedalam mata Jimin yang masih mendongak menatapnya.
"Aku hanya kurang tidur, hyung…" Jimin terkekeh untuk menutupi rasa gugupnya.
"Ada apa?" Yoongi mendesak.
"H-hyung, bicara apa? Aku tidak apa-apa…" Jimin mengelus lengan Yoongi lembut.
"Kau menyembunyikan sesuatu…" Yoongi menatap Jimin curiga.
"Aku tidak menyembunyikan apapun!" tanpa sadar, Jimin menaikkan nada suaranya. Saat menyadari perbuatannya, Jimin menutup mulutnya dengan kedua tangan. "H-hyung, aku tidak bermaksud membentak…"
"Ayo pulang" Yoongi menarik tangan Jimin pelan, membuat Jimin berdiri dari kursi.
"Hyung, aku tidak…"
"Tidak apa. Mungkin harimu sedang buruk, maaf memaksamu" Yoongi tersenyum kecil.
"Yoongi hyung, maafkan aku" Jimin memeluk pinggang Yoongi sangat erat dan menyembunyikan wajahnya di bahu Yoongi. Jimin benar-benar menyesal dengan perbuatannya kali ini.
"Tidak, aku yang salah karena memaksamu"Yoongi memeluk bahu Jimin dan mengelus rambut Jimin. "Hey, jangan menangis…" Yoongi terkejut bukan main karena mendengar isakan pelan dari Jimin. Yoongi berusaha mengurai pelukan Jimin, tapi Jimin makin mengeratkan pelukannya.
"Yoongi hyung, maafkan aku…" Jimin terisak lagi.
"Tidak apa Jiminie, jangan menangis…" Yoongi berucap kalut. Dia benar-benar tidak tau caranya menghadapi orang yang menagis di depannya. Lagian, Jimin yang membentak, kenapa Jimin yang menangis?.
"Sudahlah, orang-orang bisa berpikir aku melakukan macam-macam padamu, Jiminie" Yoongi mengelus kepala Jimin dengan kaku.
Selama sepuluh menit Jimin menangis dan Yoongi hanya memeluknya dan kebingungan sendiri dengan sikap Jimin hari ini. Yoongi ingin bertanya tapi takut kalau Jimin menangis lagi. Hasilnya, Yoongi harus menelan mentah-mentah rasa penasarannya.
"Jangan menagis lagi, oke? Aku tidak marah, sumpah" Yoongi menangkup wajah menangis Jimin dengan tangan besarnya dan jempolnya bertugas menghapus air mata Jimin yang masih jatuh.
Jimin terkekeh melihat wajah panic Yoongi.
"Kenapa tertawa?" Yoongi mengernyit heran.
"Hyung lucu kalau sedang panic"
"Tolong jangan menangis lagi, aku tidak tau caranya membuat orang tenang" Yoongi berucap jujur dan meletakkan dahinya di dahi Jimin yang lagi-lagi terkekeh.
"Hyung, cium aku…"
Yoongi membolakan matanya, kaget dengan permintaan Jimin yang tiba-tiba. Tanpa diminta dua kali, Yoongi mengikis jarak diatara mereka dan memberikan Jimin ciuman yang dalam. Dan Yoongi terkejut karena Jimin membalas ciumannya kali ini meskipun masih berantakan.
"Tolong jangan menangis lagi…" pinta Yoongi disela-sela ciuman mereka dan Jimin hanya mengangguk, dan menarik leher Yoongi untuk mencium namja pucat itu lagi.
.
.
.
"Matamu bengak, kau bertengkar dengan Yoongi hyung?" Jungkook berkomentar tanpa diminta.
Hari ini Taehyung sengaja mengajak Jimin makan siang bersama atas permintaan Jungkook sendiri. Dan agaknya Taehyung mulai menyesal telah meluluskan permintaan Jungkook yang satu ini. Belum ada satu menit Jungkook sampai dihadapn mereka, Jungkook bahkan sudah mengibarkan bendera perang pada Jimin.
"Tidak, aku dan papa anak-anak baik-baik saja" Jimin membalas ucapan Jungkook dengan cara yang sama menyebalkannya dimata Taehyung yang hanya jadi penonton atau bisa berubah menjadi wasit sewaktu-waktu.
"Papa anak-anak? Sebutan norak macam apa itu" Jungkook mendengus mengejek.
"Kalau kau mengundangku datang kesini hanya untuk mengajakku berperang, sebaiknya aku pergi saja. Lebih baik aku mengurus suamiku saja, daripada meladenimu" Jimin menatap tajam pada Jungkook.
"Suami my ass…" Guman Taehyung disela-sela kobaran api perang antara Jungkook dan Jimin.
"Oh, maaf. Aku sengaja mengundangmu untuk memberitahu sesuatu" ucap Jungkook angkuh, seolah-oleh berita yang akan dia sampaikan pada Jimin adalah penentu hidup dan mati Jimin.
"Sesuatu my ass…" guman Taehyung lagi sangat pelan. Sejujurnya, Taehyung tidak tahu menahu rencana apa yang sedang ingin dilaksanakan oleh kelinci menyebalkan kesayangnnya ini dan Taehyung mendadak kesal karena itu.
"Tolong jangan bertele-tele. Langsung saja" balas Jimin tak kalah angkuh.
"Ini" Jungkook meletakan selembar foto di meja yang membatasi dirinya dan Jimin. "Yoo Kihyun, mantan kekasih Yoongi hyung" jelas Jungkook.
Jimin merasa sesuatu memukul keras dadanya. Rasanya sangat tidak nyaman dan sedikit sakit. Jimin mendekatkan diri kemeja dimana foto itu diletakkan oleh Jungkook. Disana Jimin bisa melihat foto Yoongi dan seseorang bernama Kihyun sedang berpose dengan wajah tersenyum. Jimin bahkan tidak berani menyentuh foto itu.
"Jim, kau tak apa?" Taehyung bertanya khawatir karena Jimin mendadak membeku.
"Jangan ikut campur!" Jungkook memelototi Taehyung.
"Kalau kau bertanya, dari mana inspirasi lagu Yoongi hyung selama ini, ini orangnya. Mereka berpacaran tiga tahun lebih, kalau kau mau tau" Jelas Jungkook.
"Kenapa kau menceritakan ini semua padaku?" Jimin merasa kakinya lemas, tapi dia tidak ingin kalah oleh Jungkook.
"Hanya memberitahumu siapa musuh mu sebenarnya disini" jawab Jungkook.
"Dia hanya masa lalu Yoongi hyung. dia juga bukan musuhku, kenal juga tidak" ucap Jimin santai, berlawanan dengan perasaannya yang merasa kecil saat mengetahui Yoongi berhubungan lama dengan orang itu.
"Well, setidaknya kau tidak akan penasaran lagi dengan orang yang ada dibalik lagu-lagu Yoongi hyung" Jungkook menatap tajam kearah Jimin dan seketika rasa bersalah menampar Jungkook karena melihat mata Jimin yang sudah berkaca-kaca.
"Y-Ya! Kenapa kau menangis?" Jungkook menegakkan tubuhnya dan dengan panic mearik tangan Taehyung untuk meminta pertolongan. "Taetae hyung, Jimin menangis. Kookie tidak bermaksud jahat, Kookie tidak bermaksud membuat Jimin menangis" Jungkook mengguncang tangan Taehyung kencang.
"Jim? Ya! Kau suka sekali dengan Yoongi hyung sampai menagis begini hanya karena ini? Ya!" Taehyung ikut panic karena Jimin hanya memandang kosong dengan air mata terus mengalir. "Kau sendiri yang bilang kalau dia adalah masalalu Yoongi hyung, kenapa menangis?" Taehyung melirik antar Jungkook dan Jimin bergantian.
"Hyung, Kookie tidak bermaksud jahat…" Jungkook benar-benar menyesal. Dia tidak memperhitungkan kalau Jimin akan menangis. Tujuannya hanya ingin membuat semuanya jelas untuknya kalau Jimin dan Yoongi serius dengan hubungan yang mereka jalin, tapi apa ini?.
Jungkook menarik foto yang tergeletak diatas meja dan menyimpannya kembali kedalam ransel sekolahnya. Saat foto itu menghilang, Jimin berkedip beberapa kali dan menunduk dalam, kembali menangis dalam diam, membuat Jungkook dan Taehyung makin kebingungan.
Disaat yang sama, Yoongi terlihat masuk ke café tempat janjian Jimin, Jungkook dan Taehyung bersama dengan orang yang menjadi topic pembicaraan merka sedari tadi. Yoo Kihyun.
"Yoongi hyung…" Jungkook berguman pelan, tapi telinga Jimin terlalu tajam untuk segala hal yang berhubungan dengan Yoongi.
Jimin menegakkan tubuhnya dan menatap lurus pada kaca di depannya yang memantulkan bayangan Yoongi dan Kihyun yang baru saja masuk kedalam café dan memilih duduk dekat pintu masuk.
"Ya! Kau mau apa?" Jungkook pindah duduk disamping Jimin dan berusaha menyembunyikan rambut pink Jimin dari pandangan Yoongi.
"Aku mau menelepon Yoongi hyung. kenapa kau menutupi kepalaku dengan jas sekolahmu?" Jimin melontarkan protes padahal pipinya masih basah karena air mata.
"Kau…"
"Yoongi hyung?" Belum sempat Jungkook protes, Jimin sudah memotong ucapannya karena teleponnya sudah diangkat oleh Yoongi.
"Ne?"
"Sedang dimana?" Jimin berusaha mengontrol suaranya agar tidak bergetar.
"Makan"
"Oh, dengan Namjoon hyung?" Jimin berdebar keras menunggu jawaban Yoongi.
Ada jeda beberapa detik sebelum Yoongi menjawab pertanyaan Jimin. "Ne"
Dan Jimin memejamkan matanya erat-erat. Yoongi berbohong padanya.
"Oh, makan yang banyak Yoongi hyung…" Jimin memutus sambungan teleponnya dan Yoongi tanpa menunggu jawaban dari Yoongi.
Jimin meremas kuat ponsel ditangannya, mati-matian menahan cemburu dan kecewa yang menggerogoti seluruh tubuhnya.
"Yoongi hyung berbohong…" Jungkook membolakan matanya tak percaya setelah berhasil mencuri dengan isi percakapan Yoongi dan Jimin.
"Apa disini ada pintu keluar yang lain?" Jimin menegakkan kepalanya, tidak ingin cengeng dan dikasihani.
"Kita pergi dari sini. Jungkook, bawa Jimin keluar pintu belakang, aku akan membayar tagihannya dulu." Putus Taehyung.
.
.
.
Lebih dari tiga jam Taehyung dan Jungkook membiarkan Jimin menangis dikamar Jungkook. Mereka memutuskan membawa Jimin kerumah Jungkook atas permintaan Jungkook sendiri. Dia tidak tega melihat Jimin menangis sendiri dirumah sendirian.
"Hyung, aku merasa sangat bersalah. Seharusnya aku tidak usah saja mengajak Jimin bertemu" sesal Jungkook.
"Dan membiarkan Jimin dibohongi ?" Taehyung memeluk bahu Jungkook yang menyender padanya.
"Aku tidak menyangka kalau Yoongi hyung akan berbohong…" cicit Jungkook.
"Sudahlah, lebih baik tau dari awalkan? Anggap saja ini pelajaran untuk Jimin agar tidak sembarangan menyukai orang lain dan mau-mau saja diajak berkencan tanpa tau apa-apa soal orang itu"
Ini yang selalu disukai Jungkook, dibalik sifat anehnya, Taehyung adalah orang yang berpikiran dewasa dan cukup tenang dalam mengendalikan situasi dan mengambil kesimpulan.
"Lalu, bagaimana sekarang?" Jungkook mendongak untuk melihat Taehyung.
"Sudahlah, nanti juga Jimin capek sendiri dan berhenti menangis. Biarkan saja. Ini pelajaran untuknya agar semakin dewasa dalam bersikap" ucap Taehyung.
"Tapi kasihan Jimin. Dia menyebalkan, tapi sebenarnya dia orang yang baik…"
"Tumben sekali?" Taehyung terkekeh.
"Hyung! sahabatmu sedang patah hati, kau malah begini" Jungkook mendengus kesal.
"Ne… Ne… jadi aku harus apa? Membelai kepalanya sampai tertidur? Begitu?"
"Awas saja kalau hyung berani begitu" Jungkook menunjukan kepalan tangannya pada Taehyung.
"Coba lihat ke kamar, apa Jimin masih menangis atau sudah pingsan" Taehyung memegang pinggang Jungkook dan membuat Jungkook berdiri.
Jungkook tidak protes, dia berjalan ke kamarnya dan mengintip Jimin di balik celah pintu yang terbuka sedikit. Jungkook bisa melihat tangan Jimin yang tergantung mengarah lantai dan nafasnya terlihat teratur, Jungkook kembali ketempat Taehyung.
"Sudah tidur…" Lapor Jungkook.
"Baguslah. Kenapa tidak daritadi saja tidurnya…" Taehyung merentangkan tangannya, mereganggkan otot-ototnya yang terasa kaku.
"Dasar tidak berperasaan!" Jungkook berjalan kembali ke kamar, meninggalkan Taehyung yang mematung kebingungan.
Jungkook mendudukan dirinya disofa yang ada di kamarnya, tangannya sibuk bermain dengan remote TV ditangannya dan memencet asal remote itu. Saat sibuk dengan remotenya, Jungkook merasa seperti ada getaran disofa, Jungkook mencari ke kiri dan kanan, dan matanya melihat ponsel berwana silver terselip diantara dengan sofa. Itu bukan ponselnya.
Jungkook mengambil ponsel yang masih berkelap-kelip menunjukan sebuah panggilan dengan ID Caller 'Mine' tertera dilayarnya.
"Ponsel Jimin?" Jungkook menimbang-nimbang ponsel ditangannya. Apa dia harus membangunkan Jimin atau tidak untuk menerima panggilan telepon ini. Saat badannya berbalik melihat Jimin yang tertidur di tempat tidurnya, Jungkook memutuskan untuk membiarkan panggilan itu.
Sepuluh kali dan Jungkook mulai kesal dengan si penelepon itu. Dia tidak tega harus membangunkan Jimin, tapi juga sudah emosi dengan ponsel Jimin yang tidak berhenti bergetar.
"Bagaimana ini? Angkat saja?" Jungkook melirik lagi kebelakang dimana Jimin masih tertidur.
Ponsel Jimin akhirnya berhenti ordering, dengan iseng, Jungkook memencet tombol bulat diponsel Jimin dan ponsel itu menunjukan wallpaper Jimin, dimana ada foto seorang laki-laki yang manjadi wallpaper itu, hanya bagian belakang tubuhnya saja yang terlihat dan Jungkook tidak perlu berpikir tujuh kali untuk mengetahui siapa orang yang menjadi wallpaper ponsel Jimin.
"Dia benar-benar menyukai Yoongi hyung? Daebak!" Guman Jungkook takjub. "Lalu, siapa si Mine ini?" guman Jungkook lagi.
.
.
.
Yoongi sudah menghubungi Jimin berkali-kali sejak sore tapi Jimin tidak juga mengangkat teleponnya. Yoongi mencari Jimin di kampus dan dari info yang Yoongi dapat dari Kai, kelas mereka sudah berkahir bahkan sebelum makan siang.
Yoongi kembali mencoba menghubungi Jimin entah untuk yang keberapa kali, tapi hasilnya masih sama. Tidak di angkat. Yoongi berjalan mondar-mandir di studionya, merasa tidak tenang sebelum Jimin mengangkat teleponnya. Yoongi bahkan pecah konsentrasi selama bekerja.
"Hoseok, apa kau sedang membuka social mediamu?" Jalan terasa buntu untuk Yoongi, dia bahkan menelpon Hoseok untuk mencari Jimin, seolah Hoseok bisa tau Jimin ada dimana.
"Huh? Sejak kapan kau tertarik dengan social media?" diseberang telepon, Hoseok mengernyit heran.
"Apa kau melihat Jimin?"
"Huh?"
"Ck, apa kau ada melihat update terbaru dari Jimin?" Tanya Yoongi tak sabar.
"Bung, ada apa denganmu?"
"Jawab saja!"
"Tidak"
"Ya sudah" Yoongi memutus sambung teleponnya dan Hoseok.
Yoongi menghempaskan tubuhnya kesofa. Mulai berpikir apa hal yang kira-kira di lakukannya sampai Jimin marah dan tidak mau mengangkat teleponnya, tapi lebih dari itu, Yoongi khawatir terjadi sesuatu yang buruk pada Jimin.
Yoongi kembali teringat kejadian kemarin saat Yoongi membawa Jimin ke studio, Jimin memang sudah aneh dan tidak manja padanya hari itu, dan hari ini, Jimin benar-benar hilang kontak dengannya sudah lebih dari enam jam. Biasanya Jimin akan mengiriminya pesan untuk mengingatkan jam makan, atau hanya pesan-pesan lain yang mengatakan kalau dia merindukan Yoongi. Ini benar-benar aneh untuk Yoongi yang mulai terbiasa dengan Jimin yang selalu memperhatikan hal-hal kecil darinya.
Jimin terbangun saat jam sudah menunjukan pukul sepuluh malam. Suasana kamar itu gelap, hanya pencahayaan remang dari luar jendela yang menerangi kamar sedikit. Jimin terduduk diatas ranjang, mengucek mata dan berjalan menuju pintu.
Saat membuka pintu, Jimin bisa melihat Taehyung yang sedang makan cemilan dengan Jungkook sambil menonton. Jungkook berbalik dan melihat Jimin yang sedang berjalan menuju mereka, menyambar makanan dari tangan Taehyung untuk kemudian duduk di sofa tunggal sambil mengunyah cemilan.
"Aku lapar" Jimin mengeluh.
"Ada makanan di dapur…" Jungkook sebagai tuan rumah menjawab.
"Kau tak apa?" Taehyung melirik Jimin, wajahnya seolah mengejek Jimin dengan patah hatinya yang menyedihkan.
"Jangan menatapku begitu, kau mau ku tinju?" Jimin berucap dengan tenaga yang tersisa.
"Huh? Wahh aku takut sekali…" Taehyung kembali mengejek Jimin.
"Hentikan, hyung" Jungkook memperingati.
"Aku mau pulang saja. Rasanya badanku mau patah" Jimin merenggangkan badannya.
"Antarkan Jimin, hyung" perintah Jungkook.
"Ya sudah. Ayo. Sekalian kau juga pulang" Taehyung berdiri dan mengecup kepala Jungkook.
Taehyung mengantarkan Jimin tepat didepan gerbang, tanpa mengucapkan basa-basi, Jimin langsung turun dan Taehyung langsung berlalu begitu saja. Saat Jimin akan membuka pagar, sinar lampu mobil menyilaukan mata Jimin, dan saat Jimin berbalik, dadanya berdebar keras. Mobil Yoongi sudah muncul didepan pagar rumahnya.
"Jiminie…" Yoongi berlari kecil kearah Jimin yang mematung didepan pagar. Kepala Jimin menunduk, tidak berani menatap Yoongi. Rasa kecewa dan cemburu kembali menyerbu Jimin tanpa bisa Jimin cegah.
"Kemana saja?" Yoongi memegang bahu Jimin dan sebelah tangannya berada disisi wajah Jimin.
Jimin tidak menjawab, dia hanya menubrukkan tubuhnya pada Yoongi dan memeluk Yoongi erat-erat, mencium wangi parfum yang tersisa di tubuh Yoongi. Jimin tidak menangis, Yoongi sudah memintanya untuk tidak menangis didepannya.
"Aku mencintaimu hyung. Dalam setengah jam aku sudah ratusan kali menyangkal dan mencoba membenarkan ucapan Taehyung tentang perasaanku yang konyol, tapi tidak bisa…" Jimin memulai.
"Ada apa?" Yoongi mengernyit heran.
"Aku benar-benar menyukai Yoongi hyung sampai rasanya sakit sekali…"
"Jiminie?" Yoongi mencoba merenggangkan pelukannya pada Jimin, tapi Jimin kembali memeluknya erat.
"Maaf sudah memaksakan perasaanku padamu hyung…" Jimin mengurai pelukannya pada Yoongi, memegang kedua sisi wajah Yoongi yang terlihat kebingungan dengan sikap Jimin.
Jimin menutup matanya dan mengikis jarak antara dia dan Yoongi. Jimin mencium Yoongi dalam dan lama, seolah itu adalah hari terakhir Jimin bisa mencium Yoongi. Saat ciuman itu terlepas, Jimin mengelus bibir Yoongi yang basah dengan jarinya dan tersenyum sendu.
"Mulai sekarang, hyung tidak perlu merasa tidak enak padaku. Maaf sudah memaksakan perasaanku padamu, sampai hyung harus berbohong untukku. Yoongi hyung, mulai sekarang, ayo kembali berteman…."
.
.
.
Namjoon tidak tau hal apa yang sudah memasukki kepalanya sampai dia berada dirumah sakit pada malam hari seperti ini. Setelah menelepon Hoseok untuk memastikan Seokjin ada di ruamh sakit, Namjoon langsung tancap gas tanpa berpikir dua kali.
Saat sampai di parkiran rumah sakit, Namjoon sudah bertekat akan menjelaskan kejadian waktu itu. Entah kenapa Namjoon merasa harus menjelaskannya pada Seokjin dan keberanian dan tekat Namjoon yang setinggi langit itu langsung runtuh begitu melihat pintu kaca rumah sakit. Nyalinya ciut. Namjoon sudah akan kabur saat merasa seseorang menepuk bahunya. Dokter Seokjin!
"Namjoon? Ada apa kesini malam-malam? Siapa yang sakit?" Seokjin memberondong Namjoon dengan pertanyaan.
Namjoon menelan ludahnya susah payah. Jas dokter sialan! Kenapa Seokjin menjadi seribu kali lipat lebih menarik saat mengenakan jas dokternya?.
"A-.. ah, ya, tidak ada" jawab Namjoon kacau.
"Huh? Namjoon, kau oke?"
"Huh? Ya, aku… Dokter Seokjin, aku"
"Namjoon, masuk dulu, disini dingin…" Seokjin memegang siku Namjoon untuk membimbing Namjoon masuk ke gedung rumah sakit.
Namjoon merasa nyawanya sudah tercabut dari kepala, Seokjin menyentuhnya.
"Jadi, ada apa?" Seokjin melepas tangannya dari siku Namjoon dan berdiri di hadapan Namjoon.
Namjoon berusaha menenangkan dirinya, cukup dia menjadi konyol dua kali di hadapan Seokjin. Tidak boleh terjadi lagi kali ini.
"Ini soal kemarin, Seokjin-ssi" mulai Namjoon setelah berhasil menenangkan jantungnya.
"Huh?"
"Soal club itu…" guman Namjoon pelan.
"Ah… iya" Seokjin mengingatnya sekarang. "Ada apa?"
"Aku tidak ingin kesalahpahaman ini berkepanjangan, soal kemarin itu, club itu, aku sedang gugup dan sembarangan memarkirkan mobil milikmu" Aku Namjoon.
"Dan?" Seokjin berusaha mendengarkan penjelasan Namjoon, meskipun Seokjin tidak bisa mengerti kenapa Namjoon mau repot-repot menjelaskan ini padanya. Seingatnya dia tidak melarang Yoongi berteman dengan Namjoon, lalu apa?
"Ya.. aku gugup, jadi aku sembarangan…" ucap Namjoon kembali gugup saat matanya tidak sengaja menatap mata Seokjin yang terlihat bingung. God, itu manis sekali… Batin Namjoon berteriak frustasi.
"Gugup kenapa?" Seokjin makin bingung kemana arah pembicaraan ini.
Namjoon menarik nafas dan menghembuskannya, tangannya naik menyentuh bahu Seokjin yang terlihat kaget dengan tindakan Namjoon padanya.
"Namjoon…" Seokjin melirik kesekeliling rumah sakit yang Nampak masih ramai.
"Aku tidak ingin kau salah paham. Aku bukan orang yang suka pergi ke club, aku hanya gugup, dan itu karena kau ada di dekatku" Namjoon berucap tanpa berpikir dua kali. Dia kelepasan bicara dan dengan refleks tangannya terlepas dari bahu Seokjin yang terkejut mendengar ucapan Namjoon.
Keadaan berubah canggung, Seokjin terlihat bingung sementara Namjoon ingin lari, berganti nama dan kewarganegaraan nya sangkin malunya.
"To-tolong katakan sesuatu Seokjin-ssi.." Pinta Namjoon diantara suasan canggung yang terjadi diantara mereka.
"A-aku masih ada pekerjaan…." Seokjin membungkuk di depan Namjoon dan berjalan cepat meninggalkan Namjoon yang melongo melihat Seokjin. Seokjin bisa merasakan pipinya memanas. Seokjin, kau sudah punya dua anak….
.
.
.
TBC
