Yoongi kembali teringat kejadian seminggu lalu dimana Jimin memintanya kembali menjadi teman dan menghilang dibalik pagar rumahnya. Yoongi terdiam lebih dari setengah jam didalam mobil tanpa menyalakan mesin sama sekali, mencerna apa yang tengah terjadi antara dirinya dan Jimin.

Yoongi meletakkan pulpen yang digenggamnya untuk menulis lirik dan meremas rambutnya. Kepalanya pusing, otaknya buntu hanya karena memikirkan alasan Jimin mengakhiri hubungan mereka.

Yoongi sadar, sangat sadar dia begitu merindukan Jimin-nya. Setiap hari Yoongi mencoba menghubungi Jimin tapi tidak ada satu pun panggilan Yoongi yang diangkat. Yoongi juga mencari Jimin dikampus tapi Jimin seolah hilang. Seolah semua kembali ke awal dimana Yoongi tidak pernah melihat Jimin berkeliaran dikampusnya.

Jimin menghindari Yoongi mati-matian selama di kampus. Demi melancarkan usahanya dalam melupakan Yoongi, Jimin bahkan bertanya jadwal kelas Yoongi pada Namjoon untuk menghindari Yoongi. Jimin takut, saat dia melihat Yoongi, Jimin akan memohon pada Yoongi agar kembali dan kembali terlihat konyol. Jimin bahkan meninggalkan ponselnya dirumah Jungkook, menolak ponselnya untuk dikembalikan padanya. Dia tidak ingin teringat pada Yoongi, setidaknya jangan sekarang, dia masih menata hatinya agar bisa melupakan perasaannya yang kata Taehyung 'Konyol'.

Jimin bahkan membuat Chanyeol bingung karena tidak pernah bertanya soal Min Yoongi lagi padanya.

.

.

.

RUN TO YOU

.

.

.

"Kau terlihat aneh belakangan ini. Ada sesuatu yang mengganggumu? Mau bercerita?" Hoseok duduk berhadapan dengan Yoongi yang terlihat seperti orang bingung belakangan ini.

"Hobi, kalau seseorang memutuskanmu tiba-tiba tanpa alasan yang jelas, apa yang akan kau lakukan?" Yoongi bertanya tanpa melihat Hoseok sama sekali. Matanya sibuk menatap lurus pada jalanan diluar, disamping kaca.

"Kalau itu aku, aku tidak akan bisa menerima begitu saja. Kalau ingin putus, harus ada alasan yang jelas. Bahkan alasan ingin putus karena bosan, lebih baik daripada tidak tau alasannya sama sekali" Hoseok melirik kearah pandangan Yoongi dimana hanya ada mobil yang berlalu lalang.

"Apa itu tidak terlihat memalukan?"

"Persetan. Itu lebih baik daripada mati penasaran" Hoseok meminum kopi dingin didepannya tanpa minat. "Ngomong-ngomong, siapa yang sedang kita bicarakan sekarang?"

Yoongi melihat Hoseok yang terlihat tidak begitu tertarik dengan bahasan mereka kali ini. "Tentang Jimin" jawab Yoongi akhirnya.

"Jimin? Jimin dan?"

"Jimin dan aku" Yoongi mengangkat bahunya sekali.

"Kau dan Jimin?" Hoseok menaikkan alisnya.

"Dia memutuskanku tanpa alasan yang jelas…"

"Kapan kalian pacaran?" Hoseok terkejut dan mengernyit kebingungan.

.

.

.

"Kau ingin mengambil ponselmu kembali?" tidak ada basa-basi pembuka begitu Jungkook melihat Jimin berada didepan pintu rumahnya.

"Ne. Kenapa kau tidak memberikan ponselku pada Taehyung saja? Jadi aku tidak perlu repot-repot datang kerumah mu, kan?" Jimin mendorong Jungkook pelan dan berjalan masuk kerumah Jungkook tanpa dipersilahkan.

"Kau memutuskan Yoongi hyung?" Jungkook tidak berniat menjawab pertanyaan Jimin, malah bertanya balik pada Jimin.

Jimin membeku begitu nama Yoongi disebut-sebut.

"Aku tidak ingin memaksakan perasaanku padanya dan membuat Yoongi hyung menjadi seorang pembohong untuk menjaga perasaanku" jawab Jimin pelan, dadanya berdebar keras tanpa bisa dicegahnya.

"Kau bahkan masih membelanya setelah dia berbohong padamu? Kau benar-benar jatuh cinta atau benar-benar bodoh?" Jungkook berjalan kedepan Jimin dan berkacak pinggang. Geram sendiri karena Jimin masih saja memposisikan Yoongi sebagai pihak yang benar.

"Mana ponselku?" gantian Jimin yang menghiraukan pertanyaan Jungkook.

Jungkook melengos pergi menuju kamarnya tanpa menghiraukan Jimin sama sekali. Dengan kesal Jungkook membanting pintu kamarnya saat keluar lagi dari kamar dengan ponsel Jimin ditangannya. "Si bodoh itu…" Jungkook berucap geram.

"Ini ponselmu" Jungkook menarik tangan Jimin dan meletakan ponsel Jimin ditelapak tangan Jimin.

"Terimakasih" Jimin berbalik, ingin pergi begitu Jungkook menahan bahunya. "Apalagi?" Jimin mengernyit heran.

"Selama seminggu ini si 'Mine' meneleponmu setiap hari" lapor Jungkook.

Jimin tersentak, dadanya berdebar lagi. Yoongi menghubunginya setiap hari? Selama seminggu ini?.

"Siapa dia?" Jungkook bertanya lagi karena Jimin terlihat terkejut dan hal itu membuat Jungkook penasaran.

"Kenapa kau ingin tahu?" Jimin menolak menatap Jungkook yang sedang menatapnya tajam.

"Jangan menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan lagi, Park Jimin. Kau sangat menyebalkan!" Jungkook memutar bola matanya.

Sebenarnya, jauh didalam hatinya, perasaan bersalah seolah sedang mengarahkan pedang tepat kejantung Jungkook, membuat Jungkook merasa hampir mati karena merasa bersalah.

"Kenapa kau memutuskan hubunganmu dan Yoongi hyung?" Jungkook kembali bertanya.

"Aku tidak ingin dia menjadi seorang pembohong demi menjaga perasaanku. Aku sudah jawab kan?"

"Kenapa kau tidak meminta penjelasannya lebih dulu sebelum mengambil tindakan?"

"Aku tidak mau menyakiti diriku sendiri lebih dari ini. Memangnya aku siapa jika di banding orang itu? Aku hanya orang yang datang ke kehidupan Yoongi hyung, menyatakan perasaanku dan membuat Yoongi hyung menerima perasaanku dalam waktu singkat. Kau pikir aku bisa sebanding dengannya? Aku tidak ada apa-apanya!" Jimin berucap asal. Dadanya sesak, rasa cemburu itu belum juga padam dalam dadanya malah semakin berkobar dan berakhir dengan tangisan , lagi.

"Y-ya! Kenapa kau menangis lagi?" Jungkook panic dan menarik Jimin agar duduk di sofa ruang tamu.

Jimin menutup wajahnya dengan kedua tangan dan mulai menangis lagi. Sia-sia sudah usahanya selama ini menghindari Yoongi. Begitu Jimin tau kalau Yoongi menghubunginya setiap hari, Jimin merasa tembok rapuh yang sedang dibangunnya hancur begitu saja. Tidak ada lagi tempat untuk Jimin berlindung dan sembunyi. Kenyataan menghantamnya keras kalau dia merindukan Yoongi-nya.

"Maaf, karena aku…."

"Bukan salahmu." Potong Jimin sebelum Jungkook menyelesaikan ucapannya.

"Jungkook, ini…" tanpa Jimin dan Jungkook duga, Yoongi muncul dengan sebuah buku ditangannya. Bukan hanya Yoongi, Jimin dan Jungkook mendadak terdiam dengan kehadiran Yoongi yang tiba-tiba.

"Jimin…" panggil Yoongi pelan.

Detik saat suara berat Yoongi yang menyebut nama Jimin terdengar ditelinga Jimin, saat itu juga seluruh tembok pertahanan Jimin hancur tanpa sisa. Dia tidak bisa menyangkal perasaannya lagi, Yoongi memang memiliki tempat khusus dihatinya.

"Jungkook, aku perlu bicara dengan Jimin" Yoongi meletakkan buku yang dibawanya diatas meja ruang tamu, berjalan kearah Jimin yang duduk tegang disamping Jungkook dan mengambil telapak tangan Jimin untuk digenggam.

"Hyung, mau kemana?" Jimin menghapus jejak air mata dipipinya terburu-buru dan ikut berjalan mengekori Yoongi dari belakang, meninggalkan Jungkook yang sudah melambai-lambaikan tangan dengan senyum menyebalkan.

Yoongi membawa Jimin masuk kemobilnya, setelah memasangkan seatbelt Jimin, Yoongi menginjak gas dan berjalan meninggalkan pekarangan rumah Jungkook.

"Hyung, kita mau kemana?" Jimin melirik Yoongi yang sedari tadi terus diam.

Yoongi memasuki parkiran bawah tanah agensi tempat dia bekerja, keadaan cukup lengang, hanya ada satu security yang terlihat berkeliling disekitar mobil-mobil yang terparkir.

"Tolong jelaskan semuanya" Yoongi melepas seatbeltnya dan mengarahkan badannya pada Jimin yang duduk menunduk disampingnya.

"Apa maksudnya, hyung?"

"Kau memutuskan hubungan kita tiba-tiba, apa yang salah?" Yoongi berucap tenang, berbeda jauh dengan dadanya yang berdebar. Dia ingin sekali memeluk Jimin didetik pertama matanya melihat Jimin lagi setelah seminggu, tapi keadaan membuat Yoongi tidak bisa melakukan hal itu lagi.

Jimin tersentak. Jimin tau Yoongi pasti akan bertanya soal ini.

"Aku hanya tidak ingin hyung terpaksa menjalin hubungan denganku…" cicit Jimin.

"Siapa yang mengatakan itu padamu?"

"Tidak ada. Aku tau hyung masih memiliki perasaan pada seseorang dimasa lalu hyung"

"Apa kau sedang mempermainkanku, Park Jimin?" Yoongi memandang tajam pada Jimin yang masih menunduk dalam.

Secepat kilat, Jimin langsung memandang Yoongi dengan tatapan tak percaya. Apa Yoongi sedang menuduh Jimin? Apa Yoongi terpengaruh dengan gossip yang beredar di kampus?.

"Kalau aku mempermainkanmu, aku tidak akan menangisimu hyung. Apa kau sedang menuduhku sekarang?"

"Tapi kenyataannya begitu kan?"

"Aku hanya tidak ingin Yoongi hyung berubah jadi pembohong karena aku! Aku tau Yoongi hyung tidak pergi dengan Namjoon hyung saat itu… aku tau. Hyung berbohong, hyung bertemu dengannya! Aku ada disana hyung! aku melihat semuanya!" Jimin menaikan suaranya. Rasa kecewa dan marah yang sudah ditahannya mendadak mendobrak dan keluar begitu saja.

"Siapa yang kau bicarakan?"

"Yoo Kihyun! Hyung bertemu dengannya saat itu!" Jimin bergetar hebat menahan tangisnya agar tidak berubah menjadi raungan.

Yoongi tersentak. Dia memang berbohong tanpa alasan yang jelas. Saat itu Yoongi hanya merasa dia harus berbohong agar hubungannya dan Jimin tidak ada masalah. Tapi semua menjadi sangat salah begitu Yoongi mengetahui faktanya.

"Kenapa hyung?" Jimin mengusap kasar pipinya yang dialiri air mata, memandang Yoongi penuh tuntutan penjelas.

Yoongi terdiam, tidak tau cara menjelaskan semuanya pada Jimin.

"Maaf sudah meninggikan suaraku, hyung. Kita lupakan saja. Aku tidak ingin hyung hilang dari hidupku, aku ingin kita tetap berteman." Putus Jimin. Dadanya sesak karena tidak ada sangkalan apapun dari Yoongi.

"Aku tidak tau kalau hal itu menyakitimu…" Yoongi bersuara pelan. "Aku memang bersalah karena sudah berbohong soal hal itu. Tapi, aku dan Kihyun sudah lama berakhir…"

"Lagu yang hyung ciptakan bahkan seluruhnya tentang dia…" Jimin tersenyum sendu. Dia tidak ingin hal ini berakhir buruk untuknya dan Yoongi, tapi Jimin tidak bisa menahannya lagi. Dia tidak ingin ada perasaan yang mengganjal lagi dihatinya.

"Itu sudah berlalu sangat lama. Lagu mana yang kau dengar? Itu memang tentang dia, tapi lagu manapun yang kau dengar itu, itu sudah ku buat beberapa tahun yang lalu… jauh sebelum kita bertemu" Yoongi memandang setir didepannya.

"Sudahlah hyung, tidak perlu dibahas lagi, aku…"

"Aku ingin memperbaiki hubungan kita, apa tidak bisa?" Yoongi menunduk dalam. Jujur saja, dia memang ingin memperbaiki hubungannya dan Jimin, dia tidak ingin Jimin pergi darinya, apalagi setelah mengetahui apa yang terjadi.

"Hyung, aku…"

"Aku minta maaf soal itu. Aku dan Kihyun sudah tidak ada hubungan apapun. Saat itu kami bertemu karena tidak sengaja bertemu dan dia mengajakku untuk bicara. Ku pikir tidak ada salahnya untuk bicara lagi, toh kami sudah baik-baik saja dan sudah punya pasangan masing-masing, kami hanya bicara sebentar karena aku harus pergi bekerja dan Kihyun juga bertemu kekasihnya. Aku hanya tidak tau kenapa aku memilih berbohong dan berakhir menyakitimu…" jelas Yoongi.

"Dia sudah punya kekasih? Bagaimana perasaan hyung saat tau dia punya kekasih?" Jimin memandang Yoongi tepat dimata.

"Aku tidak merasakan apa-apa" Yoongi memandang lurus pada mobil yang terparkir di depan mobilnya.

"Kenapa hyung berbohong padaku waktu itu?"

"Aku tidak tau. Mungkin aku merasa sangat bersalah karena bertemu dengan mantan kekasihku tanpa sepengetahuanmu. Aku hanya tidak ingin membuat hubungan kita rusak karena hal itu, tapi aku malah mengacau…" sesal Yoongi.

Jimin terdiam. Yoongi memang salah karena berbohong, tapi setelah mendengar penjelasan Yoongi, Jimin mau tidak mau merasakan hangat di dadanya. Secara tidak langsung, Yoongi mengakui Jimin sebagai kekasihnya dan itu membuat Jimin memerah tanpa sadar.

"Apa hyung masih memiliki perasaan padanya?" Jimin memandang sendu pada Yoongi lagi.

"Tidak ada. Sama sekali."

"Kenapa hyung bisa sampai bertahun-tahun tidak punya kekasih setelah putus dengannya?" Jimin bertanya lagi.

"Aku hanya tidak bisa menemukan seseorang yang bisa membuat dada ku berdebar menyenangkan saat itu dan aku baru menemukanmu sekarang…"

Jimin memerah. Bolehkan Jimin melepas seatbeltnya dan menghujani Yoongi dengan ciuman diseluruh wajahnya? Karena… euh… Yoongi yang seperti ini jarang sekali muncul.

"Jiminie, apa kau mau memaafkanku? Aku akan melakukan apa saja agar kau memaafkanku, bahkan aku akan mengajakmu bertemu Kihyun agar kau percaya kalau kami sudah tidak ada apa-apa. Aku akan meminta Kihyun menjelaskan apa saja yang kami bicarakan saat itu" Yoongi hanya berani menatap Jimin tanpa berani menyentuhnya. "Tolong beri aku kesempatan sekali lagi…"

Jimin merasa kakinya lemas, dadanya makin berdebar dengan gilanya. Yoongi meminta Jimin untuk kembali, itu artinya Jimin tidak bertepuk sebelah tangan kan?.

"Memangnya apa yang kalian bicarakan, hyung?" Jimin menggantung permintaan Yoongi sebagai hukuman karena sudah berbohong padanya.

"Aku menceritakan tentangmu…" jawab Yoongi jujur.

Jimin terdiam. Rasanya dia ingin memeluk Yoongi sekarang , tapi rasa kesal masih terasa di dadanya.

"Bisakah kita kembali bersama?" Yoongi menatap tepat dibola mata Jimin. Apapun akan Yoongi lakukan asal Jimin kembali padanya. Seminggu tanpa kehadiran Jimin membuat Yoongi merasa ada yang kurang, suatu kebiasaan yang menyenangkan menghilang dan Yoongi tidak suka itu.

"Hyung tidak boleh berbohong tentang apapun lagi padaku, sekalipun itu demi menjaga perasaanku" Jimin mengajukan syarat.

"Aku janji…"

"Dan aku juga ingin bertemu Kihyun, untuk memastikan apa hyung berbohong padaku atau tidak. Aku ingin bertemu dengannya sekarang"

.

.

.

"Yoongi, ada apa?" Kihyun mendudukan diri didepan Jimin dan Yoongi yang menunggunya disebuah café.

"Kenalkan, ini Jimin, kekasihku" Yoongi memperkenalkan Jimin dan Kihyun. "Jiminie, ini Kihyun"

Jimin membungkuk kaku didepan Kihyun. Tadinya dia hanya ingin mengetes apakah Yoongi berani mempertemukan Jimin dan Kihyun, tapi Yoongi benar-benar melakukannya. Jimin tidak tau jika Yoongi berani melakukannya. Dari sini pun Jimin bisa menilai kalau Yoongi tidak berbohong dengan penjelasannya.'

"Kekasih barumu? Sialan, selera mu tinggi juga sekarang" ucap Kihyun bercanda. "Hai, aku Kihyun" sapa Kihyun ramah.

"Ne, salam kenal Kihyun-ssi, aku Jimin" Jimin membungkuk lagi.

"Ne. Jadi, ada apa?" Kihyun memandang pada Yoongi dan Jimin bergantian.

"Tolong ceritakan semua yang aku katakan padamu minggu lalu" pinta Yoongi tanpa basa-basi.

"Huh? Kau Yakin?" Kihyun menaikkan alisnya.

Yoongi hanya mengangguk pasti.

"Baiklah, tapi sebelumnya, apa kalian bertengkar? Mata Jimin terlihat seperti habis menangis" Tanya Kihyun penasaran.

"Ne, kami bertengkar. Aku tidak ingin Jimin salah paham pada kita berdua, jadi tolong jelaskan" Yoongi menjawab tanpa ragu, membuat Jimin ingin pulang saja karena malu.

"Ah.. maafkan aku Jimin-ssi. Minggu lalu aku tidak sengaja bertemu Yoongi dijalan dan mengajaknya ngopi sebentar. Maaf karena tidak meminta izinmu dulu, harusnya aku tidak boleh begitu…" sesal Kihyun. "Kami membicarakan tentangmu, ngomong-ngomong…" sambung Kihyun membuat Jimin makin malu.

"Tidak, bukan begitu, Kihyun-ssi, aku…" Jimin berucap berantakan karena gugup.

"Aku paham, aku juga akan marah kalau kekasihku bertemu dengan mantan kekasihnya tanpa sepengetahuanku. Tapi, tolong jangan curiga pada ku, kami sudah tidak ada hubungan apapun. Kami sudah lama berpisah dan aku juga sudah memiliki kekasih sekarang" jelas Kihyun.

Jimin terdiam, merasa tidak enak pada Yoongi, terlebih pada Kihyun. Tapi ini semua karena Yoongi! Jadi salahkan saja Yoongi!.

"Maafkan aku…" cicit Jimin tak enak hati.

"Anio! Jangan minta maaf, ini salahku. Harusnya aku tidak mengajak Yoongi ngopi. Kalian jadi bertengkar karena aku…" Kihyun menggenggam tangan Jimin yang tergeletak diatas meja. Mengelus tangan Jimin penuh penyesalan.

"Lepaskan tanganmu atau aku akan menendangmu sekarang juga" Yoongi memandang tajam pada tangan Jimin yang dilingkupi tangan Kihyun diatas meja.

.

.

.

Yoongi mengantarkan Jimin pulang saat jam sudah menunjukan pukul Sembilan malam. Jimin sudah melepaskan seatbeltnya dan bersiap turun sampai tangan Yoongi menarik bahunya pelan.

"Jadi, apa jawabannya?" Yoongi menatap tajam pada mata Jimin diantara remangnya suasana mobil.

"Ne hyung?" Jimin bertanya bingung.

"Jiminie, tolong kembali padaku…" pinta Yoongi serius.

Jimin berdebar keras, Jimin bisa merasakan pipinya memanas. Dengan gugup, Jimin mengangguk.

Yoongi merasa lega. Benar-benar lega. Jimin-nya kembali. "Terimakasih…" Yoongi mengelus kepala Jimin. "Masuklah, sudah malam…"

"Hati-hati dijalan, hyung…" Jimin mengecup pipi Yoongi dan langsung berlari masuk kedalam rumah. Meninggalkan Yoongi yang sudah tersenyum hangat menatap punggung Jimin yang menghilang di balik pagar.

.

.

.

"Apa?" Yoongi mengernyit bingung menatap Namjoon yang sejak berada dikelas seperti ingin mengatakan sesuatu tapi selalu tidak jadi.

"Eum… hyung… apa…"

"Bicara yang benar, kau membuatku bingung" Yoongi makin mengernyitkan alisnya.

"Apa, Seokjin-ssi… maksudku, Ahjussi, Appa-mu ada bicara sesuatu tentang ku?" Tanya Namjoon hati-hati.

"Huh? Apa ini tentang kau yang pergi ke club penari telanjang?" Tanya Yoongi santai.

"Kau tau, hyung?" Namjoon menegakkan tubuhnya.

"Tentu saja, Appa-ku bilang kau pergi kesana. Sejak kapan kau menjadi orang mesum seperti itu?" Yoongi memandang risih pada Namjoon.

"Ya! Jangan salah paham, waktu itu aku hanya gugup karena…" Namjoon langsung menghentikan ucapannya begitu menyadari dia nyaris saja keceplosan. Bisa-bisa Yoongi memecatnya menjadi sahabat detik itu juga.

"Karena?" Yoongi bertanya tanpa minat.

"Karena aku… ah, sudahlah! Intinya aku tidak begitu. Apa saja yang Appa-mu katakan tentangku, hyung?" Namjoon bertanya penasaran.

"Tidak ada. dia hanya bilang tidak sengaja bertemu denganmu, memberi tumpangan, kau berhenti di club malam, dan Appa-ku hanya mengingatkan agar aku tidak sepertimu, begitu saja" cerita Yoongi, singkat, jelas dan padat.

"Aku bersumpah, itu tidak seperti yang Appa-mu duga hyung…"

"Aku tau. Aku sudah menjadi sahabatmu sejak awal masuk kuliah, bagaimana bisa aku tidak tau tabiatmu…"

"Syukurlah kau percaya padaku, hyung…" ucap Namjoon lega.

Saat sedang menuju parkiran, ponsel Yoongi berbunyi, ada panggilan dari Appa-nya masuk ke ponselnya.

"Ne Appa.." Yoongi menempelkan ponsel ketelinga sambil merogoh tas ranselnya mencari kunci mobilnya.

"Yoongi, bisa jemput Yoonji? Appa ada rapat dadakan di rumah sakit jadi tidak bisa menjemput Yoonji. Kau sudah pulang kuliah?"

"Aku ada pekerjaan di studio, Appa. Bagaimana ini…" Yoongi mengernyit kebingungan. Kasihan Yoonji kalau tidak ada yang menjemput, tapi pekerjaannya juga sudah menunggu.

"Apa tidak bisa terlambat sebentar? Jemput Yoonji dulu baru ke studio?"

"Tidak bisa Appa, hari ini sajangnim akan mengevaluasi pekerjaan kami…"

"Bagaimana ini…" Ucap Seokjin terdengar khawatir.

"Bagaimana ya? Ah, aku akan minta tolong Namjoon menjemput Yoonji" Yoongi melirik Namjoon yang menaikkan alisnya penasaran.

"Namjoon, kau tidak kemana-mana kan setelah ini? Bisa tolong jemput Yoonji? Setelah itu antar saja Yoonji kerumah sakit tempat Hoseok koas. Tolong ya…" Yoongi menatap Namjoon minta tolong.

"Huh? Oh… oke…" ucap Namjoon gugup. Menjemput Yoonji? mengantar kerumah sakit tempat Hoseok koas, berarti ke rumah sakit tempat Seokjin bekerja, itu artinya Namjoon punya alasan untuk bertemu Seokjin. Namjoon berusaha terlihat tenang, padahal dalam hati dia ingin memeluk Yoongi karena sudah memberi alasan untuk Namjoon bisa bertemu Seokjin.

"Appa, Namjoon sudah setuju akan menjemput Yoonji, nanti Namjoon akan mengantarkan Yoonji kerumah sakit. Jangan khawatir, oke?"

"Namjoon yang itu?" Seokjin memastikan.

"Ne, yang pergi ke club malam itu…" ucap Yoongi menjelaskan.

"O..oh, oke. Sampaikan ucapan terimakasih Appa padanya. Jangan lupa makan siang, Yoongi-ya" ucap Seokjin.

"Ne, Appa. Sampai bertemu di rumah" Yoongi menutup panggilan teleponnya dan Seokjin dan beralih menatap Namjoon yang berdiri disamping mobilnya. "Appa-ku bilang terimakasih. Kemarikan ponselmu…"

Tanpa bertanya, Namjoon menyerahkan ponselnya pada Yoongi.

Yoongi terlihat mengetik sesuatu diponselnya, kemudian mengembalikan ponsel milik Namjoon setelah selesai mengetik sederet angka dilayar ponsel Namjoon.

"Apa ini?" Namjoon mengernyit bingung.

"Nomor ponsel Appa-ku. Hubungi saja saat kau sudah dirumah sakit. Ku tinggal, oke? Tolong jemput adikku, jangan lupa…" Yoongi menepuk bahu Namjoon dua kali dan masuk kedalam mobilnya.

Saat melihat mobil Yoongi sudah meninggalkan pelataran parkir kampus, Namjoon ber-yes ria seperti orang yang menang lotre. Setelah menyimpan nomor ponsel Seokjin di ponselnya, Namjoon langsung berlari menuju mobilnya untuk menjemput Yoonji dari sekolah.

"Yoonji, Appa datang…" ucap Namjoon entah pada siapa. Sepertinya dia sudah mulai berkhayal terlalu jauh, gays….

.

.

.

"Yoongi-ssi, apa kau punya kekasih?"

Pertanyaan Chanyeol yang terdengar santai itu membuat Yoongi terlonjak dari sofa yang didudukinya.

"Ne sajangnim?" Yoongi bertanya untuk memastikan kalau telinganya tidak salah dengar.

"Apa kau punya kekasih?" ulang Chanyeol.

"Oh, ne sajangnim…" jawabYoongi jujur. Suasana mendadak canggung untuk Yoongi, sementara beberapa produser yang masuk dalam satu tim dengan Yoongi mulai bersiul-siul menggoda Yoongi.

"Teman kampusmu?" Chanyeol tersenyum, ikut menggoda Yoongi yang blak-blakan mengaku punya kekasih.

"Ne sajangnim…" jawab Yoongi lagi.

"Sajangnim tidak mau bertanya tentang pacar baruku?" salah satu tim produser bersuara.

"Aku sudah tau, dan lagi, aku tidak penasaran dengan deretan pacar-pacarmu…" jawab Chanyeol cuek disambut tawa mengejek dari para tim produser lain.

"Siapa namanya?" Chanyeol menatap tajam pada Yoongi. Kalau Yoongi berani menyebut nama lain selain adiknya, Chanyeol berjanji akan menjauhkan Yoongi sejauh-jauhnya dari Jimin.

"Park Jimin, sajangnim…"

Chanyeol menyeringai.

"Kau hanya punya satu pacar? Aku rasa tidak mungkin. Jadi, selain Park Jimin, siapa lagi?" Chanyeol bertanya santai, seolah itu hanya pertanyaan biasa diantara sesame pria.

"Aku tidak punya yang lain, sajangnim…"

"Ya, Min Yoongi, bagaimana bisa kau Cuma punya satu pacar? Lihat Jiyo, dia punya dua pacar, kalau kau mau tahu…" ucap Chanyeol memanasi.

Yoongi melihat kearah Jiyo yang menaik turunkan alisnya saat namanya disebut Chanyeol.

"Tidak ada, sajangnim. Aku hanya punya Jimin…" jawab Yoongi mulai merasa santai. Tidak seperti bayangannya, Chanyeol adalah orang yang gampang dekat dengan orang lain. Dia bahkan akrab dengan semua produser di agensi miliknya.

"Tidak ada rencana menambah kekasih?" pertanyaan Chanyeol ini terkesan bercanda, tapi Chanyeol jelas-jelas sedang menebar ranjau untuk Yoongi.

"Aku tidak tertarik dengan hal yang seperti itu, sajangnim…" jawab Yoongi pasti.

"Oh ya? Kau muda, tampan, dan punya uang. Aku rasa punya dua pacar bukan hal sulit untukmu" Chanyeol makin menebar ranjaunya disekeliling Yoongi.

"Aku rasa, kekasihku saja sudah cukup, Sajangnim" jawab Yoongi sambil tersenyum.

"Hey, jangan munafik begitu, punya dua pacar itu menyenangkan…" ucap Chanyeol lagi.

Yoongi hanya tersenyum, enggan menanggapi lagi ucapan Chanyeol.

"Sepertinya kau begitu menyayangi kekasihmu. Beruntung sekali kalau kau benar-benar setia padanya" Chanyeol mulai mengorek informasi.

"Aku yang harusnya beruntung karena dia mau jadi kekasihku, sajangnim…"

Chanyeol menaikkan alisnya mendengar ucapan Yoongi. Jika Chanyeol melihat penampilan Yoongi, rasa-rasanya Yoongi bukanlah orang yang betah dengan satu orang saja. Tapi setelah mencari tahu dari beberapa produser yang bekerja dengan Yoongi, mereka hanya pernah mendengar nama Jimin yang terucap dari mulut Yoongi. Satu-satunya orang yang selalu Yoongi tunggu pesan dan teleponnya untuk membuat Yoongi makin semangat bekerja.

"Ah, kau orang yang membosankan…." Ucap Chanyeol akhirnya.

Wajahnya terlihat menyebalkan di mata Yoongi, tapi dalam hati Chanyeol bersyukur karena Jimin tidak salah memilih kekasih. Sial sekali Min Yoongi ini.

.

.

.

TBC

Sampai ketemu di chap selanjutnya kaka-kaka….

*ketjup satoe-satoe*