"Kenapa hyung mengajakku kencan sekarang?" Jimin bertanya sambil menyendokan busa kopi kedalam mulutnya.

"Besok aku harus ke Busan bersama sutradara, mencari lokasi pemotretan sekalian lokasi syuting video klip grup yang sedang kami tangani" jawab Yoongi sambil memperbaiki posisi duduknya.

"Hyung kan produser? Kenapa ikut-ikutan pergi?" Jimin terdengar tidak setuju.

"Joohyun hyung minta tolong untuk ku temani, sayang." Yoongi berucap santai.

"Hanya pergi berdua?" Tanya Jimin lagi.

"Ne"

"Hyung tidak ku izinkan pergi!"

.

.

.

RUN TO YOU

.

.

.

"Dari semua karyawan yang bekerja untuk hyung di agensi, kenapa harus Yoongi hyung pergi ke Busan?" Jimin berdiri didepan Chanyeol sambil melipat tangan di dada. Dia ingin protes, tidak peduli sekalipun Chanyeol baru saja mendudukan bokongnya di sofa ruang tamu.

"KarenaYoongi yang di ajak pergi?" jawab Chanyeol sambil menyenderkan lehernya disandaran punggung sofa yang sedikit menonjol.

"Hyung! besok itu jadwal kencan ku dengan Yoongi hyung. Kenapa hyung mengizinkan Yoongi hyung pergi dengan si sutradara itu?"

"Mereka hanya pergi satu hari satu malam, kenapa kau harus protes begini? Kalian bisa kencan lain waktu, kan?" Chanyeol menegakkan duduknya, menatap Jimin yang sedang mematainya dengan tajam.

"Hyung! Yoongi hyung itu sibuk, dia harus ke kampus pagi hari dan sorenya harus bekerja. Bukannya adik ipar hyung itu hebat sekali? astaga… aku bangga sekali padanya…" Jimin berucap tidak nyambung dengan topic di awal. "Ah, aku sampai lupa sangkin bangganya pada Yoongi hyung. Hyung harus membatalkan kepergian Yoongi hyung ke Busan! Besok itu jadwalnya Jiminie! Hari sabtu dan minggu itu waktunya aku dan Yoongi hyung kencan!" Jimin melanjutkan protesnya.

"Tidak bisa. Kru lain sedang ada urusan untuk keperluan debut idol baru, Yoongi sudah menyelesaikan rekaman lagu bersama para idol itu, jadi hanya jadwal Yoongi yang sedikit longgar" jelas Chanyeol.

"Tapi besok dan lusa itu harinya JIMINIE!" Jimin berkeras.

"Sudahlah, tidak kencan juga tidak akan masalah, kan?"

"Tentu saja masalah! Aku perlu tau apa saja yang sudah dilakukan adik ipar Hyung selama kami tidak bertemu dan Yoongi hyung bisa punya waktu bertemu dengan ku cukup lama hanya di hari sabtu dan Minggu!"

"Hari minggu sore mereka juga sudah pulang…" tambah Chanyeol.

"Ah, dan lagi, kenapa Yoongi hyung hanya pergi berdua dengan sutradara itu?" Jimin masih setia berdiri didepan Chanyeol.

"Astaga, kalau sudah menyangkut Yoongi kau menjadi cerewet sekali. Yoongi besok akan menyusul ke Busan, sutradaranya sudah lebih dulu berangkat sore tadi dan mereka hanya berdua karena memang hanya perlu dua orang saja untuk mengurus tempat yang akan dipakai selama syuting" Chanyeol menjelaskan dengan sabar.

"Mereka menginap di satu kamar?" Tanya Jimin lagi.

"Ani"

"Dimana mereka akan menginap?"

"Tentu saja di hotel milik Appa. Biayanya gratis" Chanyeol memutar bola matanya. Mulai jengah dengan pertanyaan-pertanyaan Jimin yang tidak ada habisnya.

"Apa sutradara itu sudah menikah atau memiliki kekasih?" tanpa menghiraukan wajah jengah Chanyeol, Jimin bertanya lagi.

"Belum menikah dan soal memiliki kekasih, ku rasa Joohyun sudah punya kekasih. Ya, mereka tidak di satu kamar, pertanyaan mu seolah-olah kau ini adalah istri yang mencurigai suaminya pergi untuk berselingkuh saja." Chanyeol memutar bola matanya.

"Ini namanya antisipasi, hyung." Jimin membela diri. "Dan aku masih tetap ingin Hyung membatalkan keberangkatan Yoongi hyung besok!"

"Tidak bisa Jiminie…." Chanyeol berucap lelah.

"Kenapa tidak bisa? Hyung! besok itu…."

"Astagaaaa…." Chanyeol mengacak rambutnya frustasi. "Ya sudah, besok kau boleh ikut Yoongi ke Busan. Yoongi akan tidur dengan Joohyun dan kau tidur sendiri! Terserah mau terima atau tidak"

"Jinja?" Jimin mengedip-ngedipkan matanya tak percaya.

"Ne. Tapi kau dan Yoongi tidak boleh tidur di kamar yang sama"

"Kalau begitu, hyung harus menelepon Yoongi hyung dan bilang padanya untuk membawa seseorang ke Busan, sekarang" Jimin mendudukan diri merapat disamping Chanyeol. Wajahnya berbinar senang, membayangkan dia akan kencan diluar kota bersama Yoongi.

"Ne" Chanyeol yang lelah menghadapi Jimin hanya mematuhi permintaan Jimin agar Jimin berhenti merengek padanya.

Chanyeol mengambil ponselnya dari kantong jas miliknya, lebih dulu menghubungi sutradara yang sudah berada di Busan kalau besok Yoongi datang dengan seseorang lagi, lalu menghubungi Yoongi. Saat ponsel milik Chanyeol sedang menunggu panggilan diangkat oleh Yoongi, Jimin langsung menyambar ponsel yang tertempel ditelinga Chanyeol dan membuat ponsel itu dalam mode speakers agar Jimin juga bisa mendengar isi pembicaraan hyung nya dan Yoongi.

"Ye, sajangnim…" suara berat Yoongi langsung terdengar begitu telepon itu diangkat.

"Jangan terlalu formal padaku." Sahut Chanyeol "Begini Yoongi, besok kau boleh mengajak seseorang ke Busan untuk menemanimu di perjalanan. Aku juga sudah bilang pada Joohyun untuk mengajak temannya atau pacarnya atau siapapun menemaninya selama di Busan. Aku rasa kalian butuh teman, mengingat kalian mendatangi tempat yang berbeda di Busan" jelas Chanyeol langsung ke intinya.

"Apa tidak apa, sajangnim?" Tanya Yoongi ragu.

"Kalau kau mengajak pacarmu, pastikan kalian tidak tidur di kamar yang sama. Kau tidur dengan Joohyun dan teman Joohyun akan tidur dengan pacarmu, tapi aku rasa Joohyun membawa pacarnya" ucap Chanyeol, matanya melirik Jimin yang terlihat konsentrasi mendengarkan suara Yoongi disambungan telepon.

"Ah, aku akan membawa temanku saja…" ucap Yoongi.

"Huh? Siapa?" Chanyeol merasa pinggangnya dicubit, saat melirik, Jimin sudah memberi kode lewat matanya yang membola yang Chanyeol sendiri tak paham apa maksudnya.

"Teman kampus ku sajangnim, namanya Namjoon"

Chanyeol mengendikkan dagunya pada Jimin yang duduk disebelahnya, menanyakan maksud dari kode yang diberi Jimin lewat mata. Chanyeol melihat Jimin mengetik sesuatu di ponselnya dan kemudian menunjukkannya pada Chanyeol. Sebelum membacakan isi ponsel Jimin, Chanyeol menyempatkan diri untuk melirik tajam kearah Jimin.

"Tapi Joohyun membawa pacarnya, kau yakin tidak ingin membawa pacarmu juga? Kalian bisa sekalian liburan bersama kan?" Chanyeol akhirnya mau tidak mau membacakan isi yang tertera dilayar ponsel Jimin.

"Eum, aku rasa, aku akan tetap membawa Namjoon saja, Sajangnim."

"Tapi kenapa?" Chanyeol ikut-ikutan mengernyit bingung.

"Kalau begitu, nanti akan ku tanyakan pada pacarku dulu, sajangnim. Mungkin dia mau ikut…" putus Yoongi akhirnya, seterlah berpikir beberapa detik akhirnya dia memutuskan mengajak Jimin ikut bersamanya.

Jimin bersorak dalam diam disamping Chanyeol.

"Ya sudah, ingat pesanku. Jangan tidur di kamar yang sama dengan pacarmu"

"Oh, ne sajangnim…"

"Ne, ku tutup teleponnya" Chanyeol memutus panggilan tanpa menunggu jawaban dari Yoongi.

Chanyeol berdiri didepan Jimin yang tersenyum-senyum seperti idiot, menatapi ponselnya dengan wajah berbinar-binar. Isi kepala Jimin sudah meninggalkan raganya menuju Busan.

"Ya! Kau boleh ikut Yoongi pergi, tapi dengan catatan, kalian tidak boleh tidur di kamar yang sama. Kalau sampai kalian ketahuan tidur bersama, aku akan memberitahu Yoongi kalau selama ini kau melarangku memberitahu Yoongi kalau aku adalah hyung kandungmu. Kau tahu sendiri konsekuensinya kan?" ancam Chanyeol.

"Ne sajangnim…" ucap Jimin patuh sambil mengedip-ngedipkan genit kedua matanya.

.

.

.

Hari keberangkatan tiba dan Jimin sudah menunggu Yoongi untuk menjemputnya dirumah. Setelah semalam Yoongi menanyakan Jimin ingin ikut atau tidak, Jimin mengajukan syarat agar Yoongi minta izin pada orangtua Jimin- pura-pura jual mahal-, dan ajaibnya, Yoongi menyanggupinya.

Yoongi bicara langsung kepada ibu Jimin untuk minta izin, agar Jimin diperbolehkan ikut dengannya. Meskipun hanya dari sambungan telepon, tetap saja Yoongi merasa perutnya sakit dan dadanya mau meledak. Dari situ juga Yoongi baru tau kalau orangtua Jimin sedang berada di Jeju karena masalah pekerjaan, yang artinya selama ini Jimin hanya tinggal dengan hyungnya.

Saat melihat mobil yang biasa Yoongi pakai muncul di depan gerbang, Jimin memakai ranselnya dan berlari kearah gerbang dengan semangat. Saat membuka pintu gerbang, Yoongi turun dari pintu penumpang dan membuat Jimin mengernyit heran.

"Sudah siap?" Yoongi tersenyum dan mengacak poni Jimin yang terlihat bengong di depannya. "Appa yang akan mengantar kita ke stasiun…" Yoongi menjelaskan dan menggeser sedikit badannya, menunjukkan Seokjin yang duduk didepan setir sambil melambaikan tangan pada Jimin yang dibalas Jimin dengan sangat antusias.

"Hyung, Ahjussi sudah tau soal kita?" Jimin bertanya pelan.

"Sudah" Jawab Yoongi sambil terkekeh pelan. "Yoonji juga sudah tau" sambungnya dan membuat Jimin mendadak salah tingkah.

"Anak-anak, ayo, nanti kalian terlambat" Seokjin mengingatkan dari dalam mobil.

Yoongi membukakan pintu penumpang dibelakang untuk Jimin, kemudian menutupnya kembali dan kemudian Yoongi membuka pintu untuknya dan duduk disamping Seokjin.

Selama perjalanan, Jimin merasa jantungnya berdebar keras. Bersyukurlah dia karena Seokjin menerima Jimin dengan baik. Tidak ada yang berubah dari sikap Seokjin pada Jimin sejak mereka pertama kali bertemu. Seokjin tetap ramah padanya dan sering mengajak Jimin masuk kedalam obrolan mererka. Jimin tidak bisa untuk tidak senang karena PAPA MERTUA sudah positif menerima kehadirannya.

"Yoongi, ingat pesan Appa" Seokjin mengingatkan Yoongi.

"Ne, Appa…" jawab Yoongi sambil memperbaiki letak ransel miliknya.

"Jiminie, jaga diri…" Seokjin mengingatkan pada Jimin sambil merangkul bahu Jimin.

"Ne Ahjussi"

"Ya sudah, Appa harus pergi, Yoonji sebentar lagi akan pulang les. Besok kabari Appa kalau kalian sudah berangkat dari Busan. Besok akan Appa jemput ke stasiun" Seokjin menepuk pelan kepala Yoongi sebelum pergi dan melakukan hal yang sama pada Jimin.

"Hati-hati di jalan, Ahjussi…" Jimin mengingatkan sambil melambaikan tangannya pada Seokjin yang sudah beridir disamping pintu kemudi.

Saat mobil Seokjin sudah tidak terlihat, Jimin melirik Yoongi sekilas dan tersenyum malu. Dikepalanya sudah tersusun rencana indah untuk kencan pertama mereka di luar daerah.

"Ayo" Yoongi mngulurkan tangannya pada Jimin yang menunduk, tersenyum malu-malu pada pikirannya sendiri.

Jimin mendongak dan matanya tertuju pada uluran tangan besar Yoongi padanya, tanpa berpikir dua kali, Jimin meletakkan telapak tangannya diatas telapak tangan Yoongi dan menggenggam tangan Yoongi erat-erat. Hanya di genggam tangannya saja oleh Yoongi, Jimin sudah senang sekali.

Di dalam kereta, Jimin memilih duduk disamping kaca, kamera sudah menggantung dilehernya dengan setia. Selama di perjalanan, Jimin sudah beberapa kali memotret jika melihat pemandangan bagus disamping kaca, sementara Yoongi memilih untuk mengerjakan tugas kuliahnya dengan ditemani sepasang earphone ditelinganya. Jimin membiarkan Yoongi untuk menyelesaikan tugasnya lebih dulu, sementara Jimin sibuk dengan dunianya sendiri.

Tidak terasa perjalanan tiga jam lebih menuju Busan sudah dilewati dan mereka sudah sampai di stasiun Busan. Jimin melirik ke kiri dan kanan dengan semangat. Ini pertama kalinya dia pergi dengan naik kereta menuju Busan, tentu saja dia terlihat sedikit, eum… norak. Tangan Yoongi sudah menggenggam erat tangan Jimin, memastikan anak itu agar tidak hilang secara tiba-tiba. Seperti yang sudah sering Yoongi alami, Jimin sering hilang ditengah keramaian karena terlalu asik melihat kesana kemari.

"Siapa yang akan menjemput kita, hyung?" Jimin bertanya penuh semangat.

"Joohyun hyung. Katanya sudah dekat stasiun" Yoongi melirik ponselnya.

"Si sutradara itu?" Jimin bertanya memastikan.

"Ne"

Saat sedang menunggu sambil berdiri didepan stasiun, ponsel Yoongi bergetar dan menunjukan nama Joohyun disana.

"Hyung?"

"Yoongi, disebelah kanan, mobil warna abu" Joohyun berucap sambil melambaikan tangan dari dalam mobil agar Yoongi bisa melihatnya.

Saat Yoongi melihat Joohyun yang melambaikan tangan dengan heboh, Yoongi memutuskan panggilan telepon dan menarik Jimin berjalan bersamanya menuju mobil berwarna abu.

"Wajahmu seperti tak asing" ucap Joohyun begitu Yoongi dan Jimin masuk kedalam mobil, badannya berbalik menatap Jimin sambil berpikir keras, dimana dia pernah melihat Jimin sebelumnya.

"Namanya Jimin dan dia pacarku, hyung" Ucap Yoongi sambil menatap tajam pada Joohyun yang duduk di kursi depan bersama supir yang berasal dari hotel.

"Ya! Aku bukannya sedang menggoda pacarmu, astaga… aku tidak tau kau orang yang pencemburu" Joohyun tertawa. Wajah Yoongi memang terlihat datar, tapi Joohyun tau, Yoongi merasa Joohyun sedang menggoda pacarnya dengan berkata seperti itu. Tapi sepertinya Yoongi benar-benar salah paham, karena Joohyun memang merasa tak asing dengan wajah Jimin.

"Aku hanya memperkenalkannya padamu, hyung" ucap Yoongi cuek.

"Ne.. ne.. oh ya, Jimin pacar Min Yoongi, aku Joohyun. Rekan satu tim pacarmu di agensi" Joohyun terkekeh saat Yoongi memukul bahunya. Terdengar jelas kalau Joohyun sedang menyindir Yoongi terang-terangan.

"Ne hyungnim… aku Jimin.." ucap Jimin sopan.

"Aigoo… pacarmu benar-benar tau sopan santun, sangat berbeda denganmu, Min Yoongi" ejek Joohyun.

"Hyung, kau ingin mengajakku berkelahi?" Yoongi menunjukkan kepalan tinjunya dihadapan Joohyun.

.

.

.

"Jimin, aku pinjam Yoongi sebentaaarrr saja…" ucap Joohyun. Dari ucapannya, terlihat jelas kalau dia tidak membutuhkan persetujuan Jimin atas hal ini.

Mereka tiba dihotel pukul tiga sore, saat akan menuju kearah kamar hotel yang dituju, Joohyun tiba-tiba mendekat pada Yoongi dan merangkul bahu Yoongi agar menjauh sebentar dari Jimin.

"Apa hyung?" Yoongi mengernyit heran. Sesekali melihat Jimin yang tertinggal dibelakang, tak jauh darinya.

"Min Yoongi, kau taukan, kalau dua orang yang sedang dalam hubungan jarak jauh akan…."

"Langsung saja ke intinya" Yoongi memotong ucapan Joohyun yang terkesan bertele-tele.

"Aish, jinja… bocah ini!" Joohyun memukul kepala belakang Yoongi dengan geram.

"Sakit hyung!" Yoongi terlihat protes, tapi Joohyun malah menggepit kepala Yoongi dengan tangannya.

"Kau tau sajangnim pasti sudah bilang kita harus berada dikamar yang sama jika pergi bersama pacarkan?" mulai Joohyun.

"Ne"

"Min Yoongi, aku sudah lama tidak bertemu pacarku, kau mengerti maksudku kan?" Tanya Joohyun sambil melirik-lirik Jimin yang mengernyit heran karena Joohyun masih saja menggepit kepala Yoongi dengan salah satu tangannya.

"Tidak, aku tidak paham. Dimana kamarnya?" Yoongi berusaha melepas tangan Joohyun dari lehernya.

"Aishh! Papan skate yang baru" Joohyun membuat penawaran.

"Merk supreme"

"Bocah sialan…"

"Terserah, kalau tidak aku akan tetap mengikuti perintah sajangnim…" Yoongi berasa diatas angin sekarang.

"Call! Papan skate baru merk supreme!" Joohyun memutuskan dan melepas gepitan tangannya dileher Yoongi. "Ingat! Jangan ke kamarku nanti malam."

"Ne. Berikan kunci kamar yang satu lagi padaku, hyung" Yoongi tersenyum licik. Tidak ada salahnya kan memeras sutradara dengan gaji fantastis seperti Joohyun?

"Kau bisa mengurus Jimin kan?" Tanya Joohyun "Pastikan kalau namaku masih terlihat baik di depannya, jangan sampai citraku terlihat seperti namja mesum egois yang ingin bermesraan dengan pacarnya didalam kamar selama di Busan"

"Tentu. Jimin tidak akan tau kalau hyung Cuma namja mesum sialan yang ingin berbuat mesum di kamar bersama pacarnya…atau harus kubilang kalau orang itu adalah 'jajanan'?"

Joohyun kembali memukul kepala Yoongi, kali ini dengan kertas yang berada ditangannya.

"Ingat, jaga imej ku di depan pacarmu, oke?"

"Ne…" ucap Yoongi santai.

"Tapi Yoongi, aku benar-benar tidak asing dengan pacarmu. Sepertinya aku sering melihatnya, tapi dimana ya…" ucap Joohyun lagi.

.

.

.

"Hati-hati hyung…" Yoongi melambaikan tangan sambil tersenyum lebar saat Joohyun pamit ingin pergi menuju lokasi yang akan dipakai syuting video klip, meninggalkan Jimin dan Yoongi di depan kamar mereka.

Yoongi membuka pintu kamar hotel dan Jimin mengekor masuk dibelakang Yoongi. Jimin mendudukan dirinya diatas tempat tidur didekat jendela kaca besar yang menuju balkon, Jimin melihat Yoongi yang sedang membuka air mineral dan meminumnya dengan rakus.

"Hyung, kita satu kamar?"

Detik saat pertanyaan polos Jimin terdengar ditelinga Yoongi, Yoongi menyemburkan air yang masih setengah diminumnya dan terbatuk-batuk kemudian. Yoongi lupa akan fakta ini. Dia akan berada dikamar yang sama dengan Jimin, di tempat tidur yang sama dengan Jimin. Ini benar-benar marabahaya. Bagaimana Yoongi bisa lupa fakta ini. Ini gila.

"Hyung, kau tak apa?" Jimin langsung berjalan cepat kearah Yoongi, menepuk pelan punggung Yoongi yang masih terbatuk karena tersedak air minumnya sendiri.

"Maaf, aku tak apa" jawab Yoongi sambil mengelap air disekitar bibirnya.

"Astaga, hati-hati hyung…" Jimin masih setia menepuk pelan punggung Yoongi.

"Eum, Jiminie" Yoongi berbalik dan berhadapan langsung dengan Jimin yang masih terlihat sedikit panic.

"Ne, hyung?"

"Tidak apa kalau kita tidur satu kamar? aku akan tidur di sofa kalau kau keberatan, soalnya Joohyun hyung, dia, pacarnya, mereka berhubungan jarak jauh dan…" Yoongi tau penjelasannya benar-benar berantakan dilihat dari Jimin yang mengernyit heran mendengarkan ucapan Yoongi.

"Hyung, aku tidak paham…"

"Joohyun hyung, dia, sajangnim bilang seharusnya kami tidur dikamar yang sama, tapi Joohyun hyung, pacarnya, dia…"

Jimin menarik wajah Yoongi dan menciumnya tepat dibibir.

"Aku paham sekarang" Jimin tersenyum malu. Meskipun benar-benar berantakan, Jimin paham kemana arah pembicaraan Yoongi.

"Kalau kau keberatan, aku akan bilang pada Joohyun hyung…"

"Aku tidak keberatan" Jimin menggeleng dengan pasti. Jimin merasa pipinya memanas. "Hyung, kau terlihat sangat gugup, aku juga jadi ikut gugup" Jimin menarik baju depan Yoongi, jujur saja, dia merasa malu dan gugup seolah menelannya bulat-bulat.

"Ah, maaf" Yoongi mengusap tengkuknya.

"Jam berapa kita akan pergi mencari lokasinya hyung?" Jimin mengalihkan pembicaraan. Jika tetap membiarkan atmosfer canggung berlangsung lama, Jimin bisa-bisa minta pulang kerumah sekarang juga.

"Lebih baik kita mandi dulu sebelum pergi. Sudah sore"

"Benar juga" Jimin melepaskan tangannya dari baju Yoongi dan berjalan menuju ranselnya untuk mengambil pakaian. "Hyung, aku mandi lebih dulu" Jimin langsung berlalu menuju kamar mandi tanpa menunggu jawaban Yoongi.

Yoongi menghempaskan tubuhnya diatas tempat tidur. Dia merutuki dirinya sendiri dan papan skate yang membuatnya lupa diri dan melupakan fakta kalau dia akan berada didalam kamar yang sama dengan Jimin. Ingat kalau Yoongi itu hanya manusia biasa, bisa lepas kendali dan Yoongi mengacak rambutnya saat pikiran kotor mulai menyerang isi kepalanya.

"Astaga, aku perlu merendam kepalaku dengan sabun. Ini benar-benar kacau" Yoongi langsung mendudukan diri ditempat tidur saat bunyi air yang berasal dari shower terdengar ditelinganya, matanya melirik kearah pintu kamar mandi yang tertutup. "Yoongi, aku akan membunuhmu kalau berani macam-macam pada Jiminie!" Yoongi mengancam dirinya sendiri.

Jimin selesai mandi dan melihat Yoongi tengah tertidur telungkup diatas tempat tidur. Yoongi benar-benar jatuh tertidur karena sibuk bertengkar dengan isi kepalanya sendiri, dan salahkan Jimin karena terlalu lama dikamar mandi.

Jimin berjalan mendekat kearah Yoongi, sebelum membangunkan Yoongi, Jimin memperbaiki tali bathrobe, memastikan agar bathrobe nya menutupi badan Jimin dengan sempurna.

"Yoongi hyung…" Jimin mengguncang bahu Yoongi pelan agar Yoongi tidak terkejut. "Yoongi hyung, bangun" ucap Jimin lagi.

Yoongi bergerak sedikit dan perlahan membuka matanya. Pandangannya kosong khas orang bangun tidur yang nyawanya belum terkumpul.

"Sudah selesai mandi?" Yoongi dengan suara serak khas bangun tidurnya. Salah satu hal yang paling disukai Jimin.

"Ne, bangun hyung. kita harus mencari lokasi untuk syuting kan?" Jimin meletakkan tangannya dibahu Yoongi lagi.

Yoongi berguling kesamping dan mendudukan diri diatas tempat tidur. Matanya setengah terpejam dan tangannya memeluk bantal, kepalanya bersandar malas diatas bantal yang dipeluknya.

"Hyung.." Jimin menarik bantal dari pelukan Yoongi dan menarik tangan Yoongi agar berdiri dan pergi mandi.

Dengan malas, Yoongi berdiri menghadap kaca yang tergantung didepan tempat tidur, kakinya dengan malas menyusuri lantai kamar dan berjalan menuju tas ranselnya yang tergeletak diatas sofa.

"Hyung, jangan tidur lagi" Jimin melipat tangannya didada saat melihat Yoongi malah bersandar dan menutup lagi matanya. "Yoongi hyuunnggg…." Jimin berjalan kearah Yoongi dan menepuk-nepuk pelan kedua pipi Yoongi dengan tangannya

Yoongi menegakkan tubuhnya yang terduduk malas diatas sofa, menarik Jimin hingga terduduk diatas pangkuannya dan memeluk Jimin erat, menenggelamkan wajahnya di dada Jimin. "Aku sudah bangun, Jiminie"

"Hyung, bisa-bisa kita kemalaman sampai disana, kita masih belum tau kan dimana lokasinya" Jimin mengelus rambut Yoongi yang berada dipelukannya, membuat orang yang berada dalam pelukannya semakin mengantuk.

"Hmm…" Yoongi berguman malas.

"Hyung, ini pekerjaanmu, tidak boleh malas!" Jimin menangkup wajah Yoongi dengan tangannya. Membuat Yoongi mendongak menatap Jimin.

"Ne.. ne…" Yoongi berucap malas dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Jimin langsung berdiri dan mendorong Yoongi agar pergi kekamar mandi.

Sesaat sebelum Yoongi sampai di depan pintu kamar mandi, Yoongi berbalik dan memeluk Jimin lagi. Menenggelamkan wajahnya dibahu Jimin dan memeluk pinggang Jimin dengan posesif. "Jiminie…"

"Ne, hyung? kau sangat manja jika mengantuk…" Jimin terkekeh.

"Ayo mandi bersama"

Jimin mematung saat mendengar ucapan Yoongi, kakinya lemas dan jantungnya berdebar dengan hebat. "Andwe! Mandi sana!" Jimin langsung mendorong bahu Yoongi dan memaksa Yoongi masuk kedalam kamar mandi.

Dari dalam kamar mandi, Jimin bisa mendengar tawa puas Yoongi yang berhasil mengerjai Jimin dengan sifat usilnya.

.

.

.

Dibantu oleh supir yang sudah disediakan oleh Chanyeol, akhirnya mereka bisa menemukan tempat yang akan dipakai untuk proses syuting video klip idol baru yang akan debut. Sebuah pantai tenang dengan nuansa batu-batuan . Yoongi langsung menghubungi Joohyun dan mengatakan kalau Yoongi sudah menemukan tempatnya dan sudah menyewa tempat tersebut untuk keperluan syuting mereka.

Pekerjaan telah selesai saat jam sudah menunjukan pukul sepuluh malam. Jimin terlihat mengantuk disamping Yoongi, terlihat dari kepala Jimin yang menyandar di bahu Yoongi. Menyadari kalau Jimin tengah mengantuk, Yoongi merentangkan tangannya dan memeluk bahu Jimin, membiarkan kepala Jimin bersandar di dadanya. Jimin pasti lelah setelah seharian tidak ada istirahat sama sekali semenjak sampai di Busan.

Jimin terbangun saat mesin mobil juga ikut dimatikan, matanya berkedip-kedip untuk menyesuaikan cahaya yang masuk kedalam matanya. Diliriknya kesamping, dimana Yoongi masih memeluk bahunya dan tersenyum kearahnya.

"Maaf membuatmu terbangun…" Yoongi mengelus kepala Jimin.

"Kita dimana, hyung?"

"Sudah di parkiran hotel. Kau pasti kelelahan, maaf. Seharusnya aku mengajak Namjoon saja. Kita sama sekali tidak bisa kencan karena aku harus bekerja" sesal Yoongi.

Jimin menegakkan duduknya, menghiraukan ucapan Yoongi dan mengecup pipi Yoongi lalu tersenyum. "Terimakasih sudah mengajakku ke Busan, hyung. " Jimin menarik tangan Yoongi untuk turun dari mobil.

Jimin memilih langsung masuk ke kamar mandi untuk cuci muka, sikat gigi dan ganti baju, sementara Yoongi sedang merapikan kertas tugasnya, memasukkan kertas tugasnya kedalam ransel yang dibawanya.

"Hyung tidak ganti baju?" Jimin keluar dengan setelan piyama berwarna hitam polos. Benar-benar bersiap untuk melanjutkan tidurnya.

"Ne. sebentar"

"Hyung, besok kita pulang naik kereta? Jam berapa?" Jimin mendudukan diri di ujung ranjang, berhadapan dengan Yoongi yang duduk disofa.

"Ne, besok kita berangkat sore. Mungkin tiba di Seoul malam hari"

Jimin mengangguk mengerti.

"Tidurlah, kau pasti lelah kan?" Yoongi berdiri dengan setelan piyama miliknya ditangan.

"Ne. Yoongi hyung juga pasti lelah. Ayo istirahat"

Yoongi mengelus kepala Jimin dan tersenyum, kemudian berlalu menuju kamar mandi untuk melakukan hal yang sama dengan Jimin sebelum pergi tidur.

Jimin memainkan ponselnya sambil menunggu Yoongi selesai bersiap untuk tidur, saat sibuk dengan ponselnya, Jimin baru sadar kalau dia sudah tidak pernah update apapun di instagramnya nyaris sebulan. Semenjak kenal dengan Yoongi, rasanya Jimin mulai lupa dengan kebiasaanya bermain social media. Seluruh atensinya sudah diambil oleh Yoongi seluruhnya.

Yoongi yang baru keluar dari kamar mandi, melirik sekilas pada Jimin dan kembali duduk di sofa, mengambil ponselnya dan mengetik beberapa hal yang harus dia laporkan pada Joohyun mengenai lokasi syuting.

Saat Yoongi sedang sibuk dengan ponselnya, Jimin diam-diam mengambil foto Yoongi yang sedang menunduk memandangi ponselnya. Jimin terlihat puas dengan jepretannya kali ini, terlihat Yoongi sedang menunduk dengan kaki bersila, wajahnya sampingnya memperlihatkan garis rahang yang jelas denga kulit pucat dan rambut hitam yang kontras. Foto ke tiga Yoongi di ponsel Jimin.

"Hyung…" Jimin menegakkan tubuhnya diatas tempat tidur, menunggu Yoongi merespon panggilannya.

"Ne, Jiminie?" tanpa melepas pandangan dari ponselnya, Yoongi menjawab panggilan Jimin.

"Apa aku boleh mengupload foto hyung di instagram milikku?" Jimin menatap penuh harap pada Yoongi yang mengernyitkan alisnya bingung.

"Hanya fotoku?"

"Ne. boleh?" Jimin bertanya takut-takut tapi juga berharap Yoongi mau meloloskan permintaannya.

"Kenapa kita tidak foto berdua saja? Kita tidak pernah foto berdua kan?" Yoongi berdiri dari sofa dan berjalan menuju tempat tidur, dimana Jimin sedang duduk diatasnya.

"Hyung tidak keberatan?" Jimin melirik kesamping, dimana Yoongi sudah duduk tepat disebelahnya.

"Kenapa harus keberatan? Ayo foto"

"Apa nanti boleh ku upload ke instagram hyung?"

"Di upload kemana saja juga boleh" Yoongi mengacak surai pink Jimin dengan jarinya. "Ayo foto"

Jimin mengambil foto tiga kali. Yang pertama mereka tersenyum, kedua mereka tersenyum dengan tangan Yoongi berada diatas kepala Jimin, yang ketiga Jimin bersandar pada Yoongi dan menjepit pipi Yoongi dengan jari jempol dan telunjuknya, membuat bibir Yooongi maju beberapa senti.

Jimin tersenyum hangat melihat hasil fotonya dan Yoongi. Setelah sibuk memilih foto mana yang akan di upload, akhirnya Jimin menyerah. Semua foto hasil jepretannya hari ini bagus semua dan Jimin memutuskan mengupload seluruhnya, termasuk foto Yoongi yang diambilnya diam-diam.

"Matikan lampunya kalau sudah selesai dengan ponselmu, Jim" Yoongi berucap sambil memperbaiki posisi bantal dan selimut yang akan dipakainya tidur.

"Sudah selesai hyung" Jimin berucap senang, berjalan turun menuju saklar lampu dan mematikan lampu kamar dan memasang lampu tidur yang remang, kemudian tidur disamping Yoongi.

"Hyung tidak lupa sesuatu?" Jimin menyamping untuk melihat Yoongi yang tidur telentang dengan selimut sebatas dada.

"Huh? Apa?" Yoongi memiringkan kepalanya untuk melihat Jimin.

"Karena biasanya Yoongi hyung yang melakukannya, hari ini aku yang akan melakukannya" Jimin beranjak dari baringnya menuju keatas Yoongi dan memberikan ciuman tepat di bibir Yoongi. "Mimpi indah, Yoongi hyung" Jimin mengelus pipi Yoongi dengan jari-jarinya.

Yoongi mematung. Rasa kantuknya menguap entah kemana setelah Jimin menciumnya. Salah satu Tangannya naik kepinggang Jimin, menahan Jimin agar tetap berada diatasnya dan tangan satunya Yoongi pakai untuk memegang salah satu pergelangan tangan Jimin yang Jimin letakkan diatas dada Yoongi.

"Yoongi hyung?" Jimin merasa dadanya berdebar keras karena Yoongi menatap tajam tepat dimatanya.

"Lakukan lagi…" suara berat Yoongi terdengar semakin berat dan seksi ditelinga Jimin, ditambah lagi Yoongi seperti sedang berbisik saat mengatakannya.

Jimin menelan ludahnya susah payah, darahnya berdesir deras naik keatas dan menciptakan rona merah pekat dipipi Jimin. Dengan gugup Jimin berusah lepas dari Yoongi dengan mendudukan diri ditempat tidur, diluar dugaan Jimin, Yoongi ternyata melepaskan pelukannya dipinggang Jimin, membuat Jimin bisa duduk dengan baik diatas tempat tidur.

"Yoongi hyung…" Jimin menunduk saat Yoongi juga ikut duduk, menatap tajam pada Jimin dan menggenggam tangan Jimin.

"Selamat malam Jiminie…"Yoongi akhirnya terkekeh dan mengelus kepala Jimin, membuat Jimin mendongak dan dengan kesal memukuli lengan Yoongi. Lagi-lagi Jimin berhasil diusili.

"Yoongi hyung menyebalkan!" Jimin berbaring memunggungi Yoongi yang masih tertawa kecil.

Yoongi ikut berbaring dan memilih menggeser bantalnya merapat pada bantal milik Jimin, kemudian memeluk perut Jimin dari belakang.

"Hey, Jiminie…"

"Tidak dengar!" Jimin berucap kesal.

"Hey, jangan marah. Aku hanya bercanda…" bujuk Yoongi, tangannya bergerak aktif mengelus perut rata Jimin yang dipeluknya.

Bercanda apanya? Jimin nyaris mati karena jantungan karena sifat Yoongi hari ini.

"Itu. Tidak. Lucu. hyung!" Jimin berbalik dan menunjuk hidung Yoongi dengan jari telunjuknya.

Yoongi tertawa, mau tidak mau Jimin ikut tertawa dan menenggelamkan wajahnya di dada Yoongi. Dia benar-benar malu.

"Maaf…" ucap Yoongi, tangannya mengelus rambut pink Jimin dan menghujani kepala Jimin dengan kecupan.

"Hari ini Yoongi hyung benar-benar menyebalkan…" Jimin mendongak dan menarik kedua pipi Yoongi dengan jarinya.

Yoongi menggenggam tangan Jimin yang menarik salah satu pipinya dan mencium punggung tangan Jimin. Matanya menatap lurus pada Jimin yang kembali dibuat salah tingkah.

"Aku mencintaimu…" ucap Yoongi serius.

Ingin rasanya Jimin lari dari kamar itu dan kembali ke Seoul. Jimin berdebar dan malu lagi karena Yoongi. Ini pertama kalinya Jimin mendapat pernyataan cinta yang sesungguhnya dari Yoongi. Jimin menatap lurus pada mata Yoongi yang juga menatapnya, mencari-cari sesuatu yang salah, tapi yang Jimin dapat hanyalah tatapan serius seorang pria pada pasangannya.

"Hyung tau sendiri kalau aku lebih mencintai Yoongi hyung" Jimin mencicit pelan. Pandangannya menunduk, tidak berani menatap Yoongi lebih lama.

Jimin mendongak saat tangan Yoongi menarik dagunya, Jimin bisa melihat mata Yoongi yang menatap dengan penuh minat pada bibir Jimin. Jimin tidak pernah untuk tidak merona jika Yoongi akan menciumnya, Jimin menutup matanya yang merupakan lampu hijau untuk Yoongi bisa mencium Jimin.

Ciuman yang awalnya tidak menuntut itu, berubah menjadi penuh tuntutan. Posisinya pun sudah berubah dengan Yoongi yang menaungi Jimin yang berada di bawahnya. Tangan Jimin sudah berada dirambut Yoongi, meremas rambut Yoongi dengan gemas.

Tangan Yoongi dengan telaten mencoba membuka satu persatu kancing piyama Jimin, hingga dikancing terakhir, ciuman Yoongi kemudian berpindah turun keleher Jimin kemudian semakin turun kebawah. Jimin tercekat saat Yoongi mengigit kecil tepat dibagian bawah dada Jimin.

Nafas berantakan Jimin bak racun yang membuat Yoongi lupa diri. Ciuman Yoongi naik lagi hingga keleher Jimin, membuat Jimin lagi-lagi tercekat oleh nafasnya yang benar-benar berantakan. Tangan Jimin meremas sprei dibawahnya dengan frustasi. Dia takut, tapi juga tidak ingin berhenti.

Dilain sisi Yoongi juga sudah lupa pada nasehat Seokjin, Jimin benar-benar candu terparah untuk Yoongi. Tidak tau kapan dan bagaimana caranya agar Yoongi bisa berhenti.

"Yoo- Yoongi hyung, aku takut…" Jimin bersuara ditengah sesuatu yang mulai menggulung Jimin dan bersiap menghempaskan Jimin dengan keras.

Yoongi berhenti. Seolah disiram air dingin, suara Seokjin yang mengingatkan Yoongi agar tidak macam-macam kembali berputar dikepala Yoongi. Tidak seharusnya Yoongi melakukan ini, terlebih pada Jimin. Yoongi menegakkan tubuhnya, memandang hasil dari kerjaan tangan dan bibirnya di tubuh atas Jimin. Kancing piyama yang terbuka seluruhnya, nafas Jimin yang naik turun dengan berantakan dan ekspresi wajah Jimin… 'Shit' Yoongi memaki dirinya sendiri dalam hati.

"Jiminie, maafkan aku" sesal Yoongi. Tangannya gemetaran saat mengancingkan kembali piyama Jimin.

"Hyung, aku takut…" cicit Jimin lagi. Dia menatap Yoongi penuh harap agar Yoongi memelukanya dan mengatakan semua baik-baik saja.

Yoongi merebahkan tubuhnya disamping Jimin dan menarik tubuh Jimin kedalam pelukannya. Yoongi memeluk tubuh gemetaran itu dengan erat, membisikan kata maaf berkali-kali dan mengecup kepala Jimin lama sekali. Rasa bersalah benar-benar menghujani Yoongi sekarang.

"Maaf, aku kelewatan" Bisik Yoongi.

"Hyung, jangan marah…" Jimin memeluk Yoongi erat, ketakutan kalau Yoongi marah dan meninggalkannya.

"Tidak sayang, aku yang salah. Maafkan aku…" Yoongi makin merasa bersalah mendengar ucapan Jimin.

"Maaf karena aku ketakutan, hyung" ucap Jimin. Suaranya bergetar menandakan Jimin benar-benar belum siap untuk Yoongi.

"Tidak, tidak, jangan minta maaf Jiminie. Ini salahku" Yoongi makin mengeratkan pelukannya pada Jimin.

Selama sepuluh menit Yoongi mencoba menenangkan Jimin yang gemetar dalam pelukannya. Saat merasa Jimin mulai tenang dalam pelukannya, Yoongi memberikan sedikit jarak antara dadanya dan wajah Jimin, mematai wajah Jimin yang juga sedang memandang Yoongi dengan wajah penuh rasa bersalah.

"Yoongi hyung, apa setelah ini Yoongi hyung akan pergi dariku?"

Yoongi bisa melihat mata Jimin yang berkaca-kaca. Lagi-lagi Jimin menyalahkan dirinya atas segala hal yang terjadi dan Yoongi benar-benar tidak suka itu.

"Kemana aku harus pergi, kalau kau adalah rumahku?"

"Jangan pergi. Aku janji akan mempersiapkan diri untuk Yoongi hyung. Jangan mencari orang lain, hyung. Tolong bersabar , tunggu aku…" ucap Jimin putus asa.

"Hey, bukan ini yang harusnya kau lakukan. Harusnya kau menamparku karena sudah kurang ajar…"

Jimin menggeleng. "Yoongi hyung, berjanjilah padaku, jangan cari orang lain…"

"Ne, aku janji. Sudahlah, jangan bahas ini lagi" Yoongi menghujanji kepala Jimin dengan kecupan. Yoongi terdiam lama. Seberapa besar Jimin mencintainya sampai seperti ini? Yoongi merasa menjadi orang paling brengsek se bumi karena tega melakukan itu pada Jimin meskipun itu diluar kendalinya.

"Yoongi hyung, terima kasih sudah mau menungguku" Jimin memeluk erat Yoongi yang juga makin erat memeluknya.

.

.

.

Namjoon menatap bosan jalanan didepannya. Pergi berkendara tanpa tujuan sepertinya merupakan ide yang buruk. Bukannya menghilangkan bosan, Namjoon malah semakin bosan. Kemacetan benar-benar menambah rusak mood Namjoon.

Namjoon memarkirkan mobilnya di supermarket terdekat dari posisinya. Daripada menikmati macet, Namjoon memilih pergi ke supermarket walaupun tanpa tujuan jelas, setidaknya itu lebih baik daripada harus bermacet-macetan seperti itu.

Namjoon melangkah menuju rak minuman, mengambil minuman rasa buah dan kembali berjalan menuju rak berisi makanan ringan. Saat sibuk memilih, mata Namjoon tanpa sengaja menangkap sosok yang tak asing baginya dengan kemeja biru laut dan celana bahan sedang mendorong troli sendirian.

Namjoon berkedip sekali, dua kali dan pada kedipan ketiga, Namjoon mengucap syukur sebanyak-banyaknya karena sudah terdampar di supermarket ini. Di depannya ada Seokjin yang sedang mendorong troli penuh dengan makanan dan keperluan bulanan, sendirian.

Namjoon berusaha berakting senatural mungkin, pura-pura tidak menyadari keberadaan Seokjin. Saat Namjoon melewati Seokjin, Namjoon bisa melihat dari ekor matanya kalau Seokjin menyadari keberadaan Namjoon, tapi sepertinya dewi fortuna tidak bersedia membantu Namjoon kali ini karena Seokjin membiarkan Namjoon melewatinya dan dengan santai mendorong kembali troli belanjaannya.

Namjoon membalikan badannya karena Seokjin tak juga memanggilnya, saat berbalik, Seokjin sudah tidak ada disana, gentian Namjoon yang sibuk mencari keberadaan Seokjin.

"Kemana dia?" Namjoon melirik ke kiri dan ke kanan mencari keberadaan Seokjin dan gotcha! Namjoon menemukannya.

"Tidak ada lagi cerita jual mahal Kim Namjoon, atau bidadari itu akan hilang dari hadapanmu. Ayo hadapi dengan jantan!" Namjoon menyemangati dirinya sendiri.

Dengan sesantai dan senatural mungkin, Namjoon berjalan kearah Seokjin yang sedang memilih jus di rak pendingin.

"Dokter Seokjin?" Namjoon pura-pura merasa tak yakin kalau Seokjinlah yang sedang berada di sampingnya.

"Ah, Namjoon?" Seokjin tersenyum ramah.

"Sendirian? Dimana Yoongi dan Yoonji?" Namjoon bertanya basa basi. Namjoon jelas tau Yoongi berada di Busan dan Yoonji pasti sedang di rumah Jungkook.

"Oh, Yoongi di Busan dan Yoonji ada dirumah Jungkook. Oh iya, aku belum mengucapkan terimakasih kemarin. Terimakasih sudah menjemput Yoonji dan sampai mengantarkan Yoonji kerumah sepupunya juga, aku benar-benar merasa tidak enak hati karena sudah merepotkanmu" Seokjin mengigit bibir bawahnya. Kebiasaan jika Seokjin merasa tidak enak ataupun merasa bersalah.

Namjoon geram. Benar-benar geram. Seokjin mungkin tidak bermaksud menggoda Namjoon dengan mengigit bibir bawahnya, tapi Namjoon benar-benar tergoda sekarang. Dia ingin sekali mengganti gigi-gigi Seokjin dengan miliknya untuk mengigit bibir penuh itu. Yeah Namjoon, jika Yoongi tau kau melecehkan Appa-nya, kau akan tamat.

"Bukan masalah. Baru pulang kerja?" Namjoon berusaha menetralkan monster didalam tubuhnya dengan bersikap sok santai didepan Seokjin.

"Ne. hari ini aku shift sore, jadi baru pulang sekarang" Seokjin tersenyum lagi.

"Masih banyak yang ingin di beli?" Tanya Namjoon lagi.

"Huh? Oh, ya. Masih ada beberapa barang yang perlu ku beli"

"Biar ku bantu" Namjoon berjalan kearah troli di belakang Seokjin, memegang pegangan pada troli sebelum mendorongnya pelan.

"Tidak usah Namjoon-ssi. Aku tidak bisa merepotkan mu lagi" ucap Seokjin panic.

"Aku sedang tidak sibuk sekarang, jadi biarkan aku membantumu Dokter Seokjin" Namjoon menatap tepat dimata bulat Seokjin. Namjoon tidak bisa menampik, jika keberadaan Yoongi di Busan membuatnya sedikit lebih berani dan merasa aman untuk mendekati Seokjin.

"Tidak perlu, aku…"

"Aku memaksa, dokter Seokjin" Namjoon berucap tak terbantah.

"Yakin tidak apa?" Seokjin bertanya memastikan.

"Ne"

Namjoon berjalan dibelakang Seokjin dengan troli barang milik Seokjin, mengikuti kemana saja Seokjin pergi. Lagi-lagi Namjoon mulai berkhayal yang bukan-bukan. Dia merasa seperti suami istri yang sedang pergi berbelanja keperluan rumah tangga. Memikirkannya, Namjoon tersenyum sendiri.

Selesai menemani belanja dan memaksa membayar semua belanjaan Seokjin, Namjoon membantu Seokjin memasukan semua barang-barang belanjaan kedalam mobil Seokjin. Namjoon berdiri dihadapan Seokjin dan tersenyum, membuat Seokjin sedikit salah tingkah karenanya.

"Terimakasih sudah membantu dan bahkan membayar belanjaan ku, Namjoon-ssi" ucap Seokjin tak enak hati.

"Keberatan kalau kita makan diluar dulu? Aku rasa kau belum makan malam, benar?" Namjoon benar-benar tidak melepas pandangannya dari wajah Seokjin.

"Aku makan dirumah saja. Lagian ini sudah malam, aku harus menjemput Yoonji"

"Besok? Bagaimana kalau kita makan siang bersama?" Namjoon mengejar Seokjin untuk menerima ajakan Namjoon untuk makan bersama.

"Tapi…"

"Ajak Yoonji juga" Namjoon menatap dalam kemata Seokjin, membuat Seokjin tidak bisa berkutik.

"Tapi, besok Yoonji ada kegiatan kesenian di sekolah, sepertinya tidak bisa"

"Tidak masalah, kalau begitu, izinkan aku ikut kesekolahan Yoonji menemanimu, setelahnya kita bisa makan siang bersama"

Seokjin terdiam. Laki-laki didepannya ini benar-benar mengejar Seojin agar mau meloloskan permintaannya.

"Besok acaranya jam Sembilan disekolah Yoonji" Seokjin membungkuk dan bergegas masuk kedalam mobil.

Namjoon mengetuk kaca mobil Seokjin dan Seokjin langsung menurunkan kaca mobilnya. Dengan sedikit membungkuk, Namjoon menatap lekat wajah Seokjin lagi sebelum membiarkan Seokjin pergi.

"Aku akan datang besok. Sampai jumpa disekolah Yoonji. Hati-hati menyetirnya, dokter Seokjin"

Seokjin hanya mengangguk kaku dan bergegas menginjak gas mobilnya tanpa berani memandang Namjoon lagi. Seokjin tau, tidak seharusnya dia berdebar hanya karena hal ini. Demi Tuhan, Namjoon itu sahabat anaknya!

.

.

.

TBC

Nah, kemarin ada kakak yang nanya gamau di masukin di wattpad?

Mau kak! Aku juga udah punya wattpad (Yunkiminsugar), tapi jujur aja aku ga ngerti pake wattpad!

*ternorak 2k17*

BTW, makasih kakak-kakak yang uda review, jangan bosan-bosan ya.