Jimin sedang berguling-guling ditempat tidurnya. Perasaanya terlalu bahagia, bahkan hukuman yang menantinya dari Chanyeol sudah tidak menjadi pusat pikirannya lagi. Isi kepalanya seluruhnya tentang Yoongi.
Jimin masih bisa mengingat dengan jelas apa yang terjadi padanya dan Yoongi pagi tadi. Jimin bahkan masih bisa merasakan kecupan Yoongi diseluruh tubuhnya. Jimin mendadak malu sendiri dan memukul-mukul pelan bantal guling yang berada dipelukannya sambil terkekeh sendiri.
"Duh… papa anak-anak…" Jimin menyembunyikan wajah memerahnya kedalam guling.
"Astaga!" Jimin tersadar akan sesuatu, bukan saat yang tepat baginya untuk bahagia dan malu sendiri seperti ini. "Papa anak-anak pasti sedang dimarahi habis-habisan oleh Chanyeol hyung" Jimin berusaha mendudukan dirinya diatas tempat tidur selembut mungkin.
Dengan sedikit kesulitan berjalan, Jimin turun dari tempat tidur, menyambar kunci mobilnya dan berjalan turun ke garasi. Dia sudah bertekat untuk melindungi Yoongi dari amukan hyungnya. Apapun caranya!
.
.
.
RUN TO YOU
.
.
.
"Cemburu?" Chanyeol mendengus tak percaya dengan pendengarannya. Disaat genting seperti ini, bisa-bisanya pemuda didepannya ini salah mengartikan maksud Chanyeol? Yang benar saja!.
"Ah, berarti aku salah. Maafkan aku sajangnim" Yoongi membungkuk hormat. Diam-diam merasa lega karena kesimpulannya salah.
"Kau tau, Min Yoongi…."
"Maaf sajangnim…" Joohyun tiba-tia muncul dan berdiri diambang pintu, membuat Chanyeol terpaksa menahan kemarahannya.
"Apa?" Tanya Chanyeol ketus.
"Boleh aku masuk?" Joohyun bertanya takut-takut.
"Masuklah" ucap Chanyeol tak sabar.
Joohyun memukul bahu Yoongi sok akrab dan mendudukan diri disamping Yoongi. Ini dia biang kerok utamanya sudah hadir.
"Ada apa?" Tanya Chanyeol kesal.
"Ini soal Yoongi…" mulai Joohyun. Saat merasa Chanyeol mendengarkannya, Joohyung melanjutkan ucapannya "Maafkan aku sajangnim, ini semua karena aku yang meminta bertukar kamar dengan Yoongi"
Yoongi memandang Joohyun dengan raut wajah terkejut saat mendengar ucapan Joohyun yang membelanya. Ternyata Joohyun tak seburuk yang dia kira.
"Sebenarnya, saat tiba di Busan, aku meminta Yoongi untuk tidur di kamar terpisah…." Joohyun melirik Yoongi yang juga kebetulan meliriknya. "Seperti yang sajangnim perintahkan, harusnya aku dan Yoongi yang berada dikamar yang sama, tapi, aku membuat Yoongi melanggar peraturan"
"Kenapa kau melakukannya?" Tanya Chanyeol masih dengan nada kesal.
"Maafkan aku sajangnim, tapi aku dan pacarku sedang bertengkar waktu itu dan aku tidak ingin membuat keadaan memburuk antara pacar Yoongi dan pacarku, jadi, ya… seperti yang terjadi sekarang…" cerita Joohyun yang jelas-jelas berbohong.
"Kau bisa menyelesaikannya tanpa harus menginap satu kamar dengan pacarmu, kan?" Chanyeol melotot kesal.
"Maaf sajangnim, tapi, sebenarnya ini ada apa? Kenapa sepertinya sajangnim sangat marah? Begini, aku tidur dengan pacarku dan aku rasa, ini menurut pendapatku ya sajangnim, harusnya anda tidak ada hubungannya dengan hal ini sehingga membuat anda marah, pekerjaan kami beres, harusnya tidak masalah kan?" Tanya Joohyun penasaran.
"Yang menjadi masalahnya adalah pacar Min Yoongi ini, adik kandungku!" Chanyeol menekan setiap kata yang diucapkannya didepan Yoongi dan Joohyun.
Saat mendengar fakta mengejutkan itu, Yoongi tidak bisa untuk tidak merasa was-was. Mendadak satu ingatan terlintas diotaknya, pantas saja Chanyeol terasa tak asing bagi Yoongi, sedari awal Yoongi memang sudah merasa pernah melihat Chanyeol, tapi dia tidak yakin dimana. Dan saat ini, dia benar-benar ingat dimana dia pernah melihat Chanyeol. Dirumah Jimin, saat hujan deras, saat Yoongi ingin minta maaf pada Jimin. Fuck it, Min Yoongi! Maki Yoongi pada dirinya sendiri.
"Tinggalkan kami berdua saja" ucap Chanyeol pada Joohyun.
Joohyung yang merasa sedikit kaget, akhirnya berdiri dan mengundurkan diri dari hadapan Yoongi dan Chanyeol. Saat Joohyun membuka pintu, Joohyun dikejutkan oleh namja berambut pink yang juga sedang berdiri terkejut dihadapannya.
"Jimin…"sapa Joohyun terlalu ceria.
"Hyungnim.." Sapa Jimin sambil membungkuk hormat.
"Pantas saja aku tidak asing dengan wajahmu, ternyata adiknya sajangnim, kau sudah besar sekarang" Joohyun berucap ceria.
"Terimakasih hyung, tapi, apa hyung boleh bergerser sedikit, aku ingin bertemu Chanyeol hyung" ucap Jimin tak enak hati.
"Apa yang kau lakukan disana, Joohyun?" suara keras Chanyeol yang berada didalam ruangan mengagetkan Jimin dan Joohyun.
Buru-buru Joohyun menyingkir, mempersilahkan Jimin masuk dan berlari meninggalkan ruangan Chanyeol.
"Jiminie…" Chanyeol mengernyit saat adiknya muncul dikantor.
Mendengar nama Jimin, kepala Yoongi otomatis berputar untuk melihat Jimin. Didekat pintu, Jimin berdiri gugup saat matanya dan mata Yoongi bertemu, wajahnya bersemu merah dan membuatnya salah tingkah.
"Kenapa kemari? Bukannya sudah hyung bilang kita bicara dirumah?" Chanyeol mengernyitkan alisnya.
"Aku harus menjelaskan beberapa hal disini. Pada Chanyeol hyung, pada Yoongi hyung juga." Jimin berjalan takut-takut, meraih kursi disebelah Yoongi dan mendudukan diri disana.
"Yoongi hyung, ini Chanyeol hyung, hyungku…" ucap Jimin. Matanya menatap takut pada Yoongi, tapi Yoongi terlihat tersenyum padanya dan Jimin menunduk memerah lagi.
"Chanyeol hyung, soal di hotel itu…"
"Kami tidur bersama, sajangnim" Potong Yoongi.
"Tapi kami hanya tidur saja, tidak melakukan apa-apa" Jimin berujar panic.
Yoongi melirik Jimin, alisnya mengernyit bingung melihat Jimin berbohong.
"Kau berbohong, Jiminie" tuduh Chanyeol.
"Aku akan tanggung jawab" ucap Yoongi tegas. "Tolong jangan marahi Jimin, ini salahku"
"Bukan, ini salahku!" Jimin menyela.
"Salahku, Jiminie" Yoongi berkeras.
"Salahku Hyung!" balas Jimin.
"Kalian berdua bersalah!" Chanyeol merasa kesal karena Jimin dan Yoongi seperti saling melindungi satu sama lain.
"Ne…" ucap Yoongi dan Jimin kompak.
"Astaga, kepala ku sakit" Chanyeol memijit pangkal hidungnya untuk menguranyi nyeri di kepalanya. Kalau Eomma dan Appa-nya tau Jimin sudah tidak polos lagi, matilah Chanyeol ditangan orangtuanya.
"Aku bersungguh-sungguh soal tanggung jawab, sajangnim" Yoongi berucap yakin.
"Tanggung jawab apa, eoh? Kau mau menikahi adikku hari ini juga? Kepalamu mau ku lepas dari badan?" Chanyeol melirik kesal pada Yoongi.
"Mian sajangnim…" ucap Yoongi tak enak hati.
"Hyung, kami bersalah, tolong maafkan kami" bujuk Jimin.
"Dengar, apa kalian sadar yang sudah kalian lakukan itu sudah kelewatan?" Chanyeol menegakkan punggungnya, matanya menatap tajam pada Jimin dan Yoongi bergantian.
"Mian.." cicit Jimin.
"Sajangnim, aku tau ini sudah kelewatan, tapi tolong maafkan kami kali ini" ucap Yoongi pelan. "Sajangnim boleh memukulku kalau sajangnim mau…" ucap Yoongi penuh keyakinan.
"Jangan…" Jimin buru-buru menarik kepala Yoongi kedalam pelukannya. Kepalanya menggeleng-geleng kearah Chanyeol penuh permohonan.
"Lepaskan tanganmu, Park Jimin" geram Chanyeol.
"Hyung berjanji dulu jangan memukul Yoongi hyung" Jimin berkeras.
"Astaga, kepalaku…." Chanyeol menyandarkan punggungnya disandaran kursi kerjanya. Kepalanya pusing melihat tingkah Jimin.
"Jim, lepas…" pinta Yoongi pelan.
"Dengar, aku tidak akan memukul Yoongi walaupun aku ingin sekali" Chanyeol memandang tajam pada Yoongi. "Dan Yoongi, bisa pertemukan aku dengan orangtuamu hari ini? Aku perlu bicara, orangtua mu harus tau" ucap Chanyeol.
"Akan ku telepon sekarang, sajangnim" Yoongi menyanggupi.
.
.
.
"Yoonji, aaa…" Seokjin mengarahkan garpu berlilitkan spageti kearah Yoonji yang duduk disampingnya, tangan Seokjin dengan telaten membersihkan sisa saos yang menempel di bibir Yoonji.
Didepan mereka, Namjoon merasa hidupnya sempurna hari ini. Rasanya seperti pergi bersama keluarga kecilnya sendiri dengan istri dan anak yang duduk manis didepannya. Rasanya Namjoon tidak ingin hari ini berlalu begitu saja.
"Namjoon, kenapa tidak makan?" Seokjin menatap Namjoon kebingungan karena dari tadi Namjoon tidak menggerakan sendok ditangannya sama sekali dan malah asik menatap Yoonji yang disuapi makan.
"Oh, iya…" Namjoon tersenyum dan menyendokkan pasta miliknya ke mulut.
"Yoonji rindu sekali dengan Yoongi Oppa…" mulai Yoonji. "Namjoon Oppa, terimakasih sudah menggantikan Yoongi Oppa hari ini"
"Ne, terimakasih juga sudah mengizinkan Oppa datang keacara sekolahmu" Namjoon tersenyum, menunjukan lesung pipinya yang menawan.
"Tapi banyak yang salah mengira, banyak ibu-ibu teman sekelas Yoonji yang bertanya soal Namjoon Oppa. Mereka pikir, Namjoon Oppa adalah Daddyku, lucu sekali" Yoonji terkekeh. "Ini semua karena wajah Appa yang terlalu muda. Orang-orang jadi salah mengira…" Yoonji terkekeh lagi.
Seokjin ikut terkekeh melihat Yoonji, tangannya terulur untuk mengelus kepala anak bungsunya itu.
"Yoonji menjelaskan dengan baik, kan? Siapa Namjoon Oppa pada ibu-ibu teman Yoonji ?" Seokjin tersenyum pada Yoonji.
Didepan Seokjin, Namjoon tiba-tiba tersedak. Namjoon terbatuk-batuk dan Seokjin mengambil gelas Namjoon dan memberikannya pada Namjoon.
"Namjoon Oppa…" ucapan Seokjin saat menyebut namanya dengan embel-embel Oppa kembali terngiang diotak Namjoon .
"Namjoon? Kau tak apa?" Seokjin bertanya khawatir.
"Oh, maaf, aku baik-baik saja" Namjoon berucap salah tingkah.
"Hati-hati kalau makan" nasehat Seokjin.
"Namjoon Oppa, baik-baik saja?" Tanya Yoonji penasaran.
"Ne. Oppa baik-baik saja" Namjoon tersenyum.
"Syukurlah" Yoonji mengelus dadanya, berlagak seperti orang yang merasa lega, membuat Seokjin tersenyum dan mengacak rambut anaknya gemas.
"Oh iya, Yoonji menjelaskan dengan baik, Appa. Tapi Minhyuk saem selalu memotong ucapan Yoonji dan bilang kalau Namjoon Oppa itu calon Daddy Yoonji. Memangnya iya?" Yoonji berucap polos.
Saat mendengar pertanyaan Yoonji, gantian Seokjin yang tersedak.
Namjoon mengambil gelas Seokjin dan memberikan gelas berisi air putih itu untuk Seokjin minum, saat batuknya mereda, Seokjin berdehem.
"Yoonji, tidak boleh begitu" nasehat Seokjin. "Harusnya Yoonji menjelaskan ulang pada ibu-ibu itu kalau Namjoon Oppa bukan…"
"Yoonji keberatan kalau Namjoon Oppa menjadi Daddy Yoonji?" Namjoon memotong ucapan Seokjin dan membuat Seokjin tersedak lagi.
"Hati-hati…" Namjoon mengulur lagi gelas Seokjin dan menepuk bahu Seokjin beberapa kali sampai batuknya reda.
"Gomawo" ucap Seokjin gugup, matanya menolak memandang Namjoon yang sedang tersenyum padanya.
"Jadi, Yoonji keberatan?" Nada bicara Namjoon memang terdengar seperti bercanda, tapi Namjoon jelas-jelas menunggu jawaban Yoonji.
"Tidak, ibu-ibu di sekolah bilang, Appa dan Namjoon Oppa cocok" ucap Yoonji cuek.
Namjoon bersorak dalam hati. Setidaknya dia sudah berada di lampu kuning, bukan lagi dilampu merah seperti kemarin-kemarin.
"Yoonji…" Seokjin melirik Yoonji, tapi anaknya terlihat cuek dengan jus dan sedotannya. Mirip sekali dengan Yoongi.
"Kenapa tidak kita realisasikan saja ucapan ibu-ibu di sekolah Yoonji, dokter Seokjin?" Namjoon menatap lurus pada Seokjin yang juga sedang menatapnya dengan mata membulat lucu.
"Na-namjoon, apa yang…" Seokjin berucap gugup, dia bisa melihat mata Namjoon yang berkilat serius dengan ucapannya dan kali ini, Seokjin yang ingin lari.
Seokjin benar-benar berterima kasih pada siapapun yang sedang meneleponnya detik itu. Setidaknya Seokjin bisa mengalihkan pandangannya dari Namjoon untuk sesaat dan melupakan ucapan Namjoon barusan.
Seokjin mengambil ponselnya yang terletak di meja dan makin bersyukur karena Yoongi yang meneleponnya.
"Yoongi-ya? Sudah di rumah?" Seokjin menunduk saat bicara, matanya tidak berani lagi menatap pada Namjoon yang duduk tepat didepannya.
"Appa, masih di sekolah Yoonji?"
"Kami sedang makan diluar. Sudah di rumah?"
"Belum Appa, aku di gedung agensi." Ada jeda beberapa detik saat Yoongi ingin mengatakan maksudnya, terdengar dari kata 'eee' yang Yoongi ucapakan, Seokjin tau anaknya belum selesai bicara. "Appa, bisa datang ke gedung agensi sekarang?"
"Kau membutuhkan sesuatu? Biar Appa antar ke kantormu"
"Anio, aku ingin Appa datang saja. Appa sedang bersama Yoonji?"
"Ne…" Jawab Seokjin terdengar ragu. Matanya melirik Namjoon sedetik dan kembali menundukkan pandangannya.
"Oh, bisa tolong datang sekarang Appa? Atau setelah Appa dan Yoonji selesai makan, bisa langsung kesini, kan?"
"Ne. Sampai bertemu nanti, Yoongi-ya"
"Ne, Appa"
Sambung telepon terputus.
Namjoon menaikkan alisnya seolah bertanya lewat ekspresi yang ditunjukannya dan Seokjin memahaminya dengan baik.
"Yoongi" jawab Seokjin. "Dia memintaku ke kantornya" jelas Seokjin.
"Oh, akan ku antar kesana nanti" Namjoon berucap santai dan kembali makan.
.
.
.
Namjoon, Seokjin dan Yoonji sudah sampai digedung kantor tempat Yoongi bekerja. Seokjin menuju meja receptionist yang berada didepan pintu gedung sementara Namjoon disampingnya sedang menggendong Yoonji yang jatuh tertidur.
"Aku ingin bertemu Min Yoongi" ucap Seokjin pada wanita yang berada dibalik meja receptionist.
"Oh, Produser Min. Sudah buat janji sebelumnya?" wanita bertanya ramah.
"Ne, tadi dia memintaku menemuinya" jawab Seokjin.
"Maaf, ini dengan tuan siapa? Saya perlu nama anda untuk menelepon ke lantai empat tempat para produser bekerja"
"Kim Seokjin. Appa Yoongi" jelas Seokjin.
Mata wanita receptionist itu berkilat curiga. "Maaf, anda bilang anda ini Appa-nya Prosuder Min?" Tanya wanita itu tak percaya.
"Ne…" Seokjin terlihat bingung dengan ekspresi wanita didepannya.
"Benarkah?" Tanya wanita itu tak yakin.
"Bisakah anda memanggilkan Min Yoongi saja?" sela Namjoon.
"Oh, Mian" Wanita itu membungkuk dan menelepon ke lantai empat dimana studio para produser agensi berada.
"Produser Min ada di ruangan sajangnim. Ini kartu pass anda. Disebelah kiri ada lift langsung kelantai tujuh, Produser Min sudah menunggu anda di dekat lift. Terimakasih" ucapnya ramah.
"Ne, terimakasih" ucap Seokjin dan berjalan bersama Namjoon menuju lift.
"Berikan Yoonji padaku, Namjoon. Yoonji sudah cukup berat" Seokjin mengulurkan tangannya untuk meminta Yoonji dari gendongan Namjoon.
"Yoonji tidak berat" ucap Namjoon, penolakan secara tidak langsung atas permintaan Seokjin.
Lift didepan terbuka, beberapa pekerja kantor keluar dari dalam lift. Setelah semua penumpang lift keluar, Seokjin masuk lebih dulu disusul dengan Namjoon, berada hanya berdua didalam lift denga Yoonji yang tertidur, membuat Seokjin merasa janggal dan ingin lift ini cepat-cepat sampai kelantai tujuh.
Saat lift terbuka di lantai tujuh, Seokjin diam-diam merasa lega dan berjalan keluar lebih dahulu. Di ruang tunggu lantai tujuh sudah ada Yoongi menunggu sambil termenung di kursi sofa.
"Yoongi-ya" tegur Seokjin karena anaknya benar-benar tidak menyadari keberadaannya.
"Appa, Yoonji man… Namjoon?" Yoongi mengernyit bingung melihat Namjoon muncul bersama dengan Appa-nya terlebih ada Yoonji berada di gendongannya.
"Yoongi…" Seokjin memegang bahu Yoongi untuk mengalihkan perhatian Yoongi dari Namjoon.
"Bagaimana bisa kalian datang bersamaan?" Tanya Yoongi bingung.
"Oh, aku tidak sengaja bertemu Dokter Seokjin di bawah…" Namjoon berbohong saat dilihatnya kilat kepanikan diwajah Seokjin.
"Oh ya? Ada apa kau kesini?" Yoongi bertanya mengintimidasi.
"Ingin bertemu Park Chanyeol-ssi" jawab Namjoon santai.
"Ada urusan apa kau dengan sajangnim?" Yoongi bertanya lagi.
"Dia relasi bisnis Appa-ku. Appa memintaku untuk bertanya soal design interior gedung baru agensi disamping itu dan pemilihan beberapa property yang akan digunakan didalam gedung" jelas Namjoon.
"Oh…" Yoongi mengangguk, percaya dengan ucapan Namjoon. Dan tidak mempermasalahkan Yoonji yang berada digendongan Namjoon sama sekali.
Well, perusahaan keluarga Namjoon memang bergerak dibidang Design interior, masuk akal kalau Namjoon datang kesini untuk hal itu. Toh seperti yang Yoongi sudah lama ketahui, Namjoon memang akan meneruskan perusahaan Appa-nya.
"Ada apa kau menyuruh Appa kesini, Yoongi-ya?" Seokjin mengalihkan pembicaraan.
"Eum, Appa, ikut aku kedalam" Yoongi menolak menjelaskan apa yang terjadi didepan Namjoon. "Namjoon, bisa tolong jagakan Yoonji untuk ku? Sebentar saja, tunggu disini" pinta Yoongi.
"Ne. tidak masalah. Beritahu aku kalau kau butuh sesuatu atau bantuan" ucap Namjoon. Dari ekspresi wajah Yoongi, Namjoon yakin kalau sahabatnya itu sedang terlibat masalah.
"Aku akan meneraktirmu makan setelah ini" janji Yoongi dan menarik pergelangan tangan Seokjin ke ruangan Chanyeol.
Yoongi mengetuk dua kali sebelum membuka pintu ruangan Chanyeol yang memang tidak terkunci, didalam sudah ada Jimin dan Chanyeol yang menunggu. Seokjin yang melihat keberadaan Jimin, mengernyit heran dan hanya berjalan mengikuti Yoongi yang masih menggenggam pergelangan tangannya.
Yoongi mendudukan Seokjin dibangku yang tadinya di dudukinya, bersebelahan dengan Jimin.
Jimin membungkuk sopan saat Seokjin tersenyum kearahnya. Mata Seokjin bergulir pada Chanyeol yang menatapnya sambil mengerutkan alis, seperti sedang menilai Seokjin.
"Sajangnim, ini Appa-ku, Kim Seokjin" jelas Yoongi.
"Oh, Park Chanyeol" Chanyeol mengulurkan tangannya pada Seokjin dan disambut dengan ramah oleh Seokjin.
"Kim Seokjin" ucap Seokjin memperkenalkan diri.
Jimin melirik pada Chanyeol, mata hyungnya yang semula berkilat bak petir menyambar mendadak seperti dipenuhi bintang. Ini aneh, baru sedetik yang lalu Jimin dimarahi dan mendadak kemarahan Chanyeol menguap entah kemana saat Seokjin masuk ke ruangan. Ini benar-benar mencurigakan.
"Jadi, anda…"
"Saya orang tua Yoongi" potong Seokjin sebelum ucapan Chanyeol selesai.
"Benarkah?" Tanya Chanyeol tak percaya.
"Haruskah saya membawa kartu keluarga?" Seokjin mengernyit.
"Ah, maaf…" Chanyeol membungkuk tersenyum, salah tingkah.
Jimin memundurkan kursinya sedikit, memandang Yoongi sambil melambai-lambaikan tangannya dibalik kursi Seokjin agar Yoongi yang berdiri disamping Seokjin, bisa menyadari Jimin yang sedang memberi kode mendekat padanya.
Yoongi melirik pada tangan Jimin yang bergerak seperti memanggil Yoongi, dengan perlahan, Yoongi mendekat, menggenggam tangan Jimin dibalik kursi Seokjin dan matanya seolah bertanya ada apa. Tapi bukannya menjawab, Jimin malah malu sendiri dan kembali duduk menghadap pada Chanyeol, membiarkan tangannya tetap digenggam Yoongi. Lupa sudah Jimin dengan tujuannya memanggil Yoongi.
"Jadi, ada apa saya dipanggil kesini?" Seokjin bertanya, melirikkan matanya kearah Chanyeol dan Jimin bergantian.
Chanyeol menegakkan tubuhnya, sudah tersadar dari keterpukauannya pada Seokjin dan matanya memandang penuh intimidasi pada Yoongi yang berdiri dibelakang Seokjin.
"Bisa tolong jelaskan apa yang terjadi, Min Yoongi?" tantang Chanyeol.
Yoongi merasa nafasnya seperti tercabut dari tubuhnya. Dia mungkin bisa setegar karang kalau berhadapan dengan Chanyeol, tapi Seokjin?.
Yoongi melirik pada Seokjin yang berbalik untuk bisa menatap anak sulungnya itu, matanya seolah bertanya dan meminta penjelasan pada Yoongi. Yoongi merasa tenggorokannya tercekat, tangannya yang menggenggam tangan Jimin terlepas dan dia menunduk, mengumpulkan seluruh keberaniannya untuk mengaku pada Seokjin.
"Yoongi-ya?" Seokjin menyentuh tangan Yoongi yang terasa dingin ditangannya.
"Aku melakukan kesalahan, Appa" mulai Yoongi. "Aku… aku dan Jimin, kami… kami melakukan yang tidak seharusnya kami lakukan" aku Yoongi.
Seokjin terdiam beberapa detik, mencoba mencerna maksud dari ucapan anaknya, matanya berkedip-kedip memandang Jimin dan Yoongi bergantian. Setelah keterdiamannya yang mencekam, Seokjin berdiri dari kursinya, berhadapan dengan Yoongi dan melayangkan tamparan tepat di pipi kiri Yoongi.
Chanyeol terkejut, sementara Jimin tanpa sadar memekik kecil saat tangan Seokjin melayang di pipi Yoongi.
"Aku bersalah, Appa" sesal Yoongi. Wajahnya menunduk tak berani menatap Seokjin.
"Seokjin-ssi, tolong duduk dulu" pinta Chanyeol, mendadak merasa iba melihat pipi Yoongi yang mulai memerah. Chanyeol bahkan berdiri dari kursinya dan membantu Seokjin untuk duduk kembali ke kursi, sekalian mencuri kesempatan.
"Aku, tidak tahu harus bagaimana menanggapi situasi seperti ini…" guman Seokjin. "Jiminie, maaf…" Seokjin memegang tangan Jimin yang sudah menunduk ketakutan disampingnya.
"Anio, Ahjussi, maafkan kami…" Jimin memengan erat tangan Seokjin dan menekan dahinya ditangan Seokjin.
"Ini keterlaluan, Yoongi-ya" guman Seokjin.
"Eum, Seokjin-ssi…" panggil Chanyeol. Chanyeol memperbaiki posisi duduknya setelah sempat berdiri, matanya melirik pada Yoongi yang berdiri dengan pandangan kosong. "Mereka memang sudah keterlaluan, tapi dengan memukul anak juga bukan tindakan yang benar" ucap Chanyeol.
Seokjin melirik lemah pada Chanyeol, dia masih bingung kenapa hal ini bisa melibatkan Chanyeol juga di dalamnya.
"Mungkin anda belum tau, tapi aku hyung-nya Jimin. Dan ya, mereka sudah melakukan kesalahan. Tunggu.." Chanyeol buru-buru menyela saat melihat Seokjin ingin bicara. "Aku tidak sedang membela perbuatan mereka, aku juga marah. Tapi dengan memukul, tidak akan menyelesaikan apa-apa" keadaan seolah berbalik sekarang. Jika tadi Chanyeol adalah orang yang perlu dijinakkan, maka sekarang Chanyeol berubah menjadi yang menjinakkan.
"Lalu apa yang harus Yoongi lakukan untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya?" Tanya Seokjin putus asa.
"Yang pasti mereka tidak bisa menikah sekarang. Mereka terlalu muda untuk menikah. Mungkin membiarkan mereka tetap menjalin hubungan dan dengan kita pantau itu lebih baik. Dan yang lebih penting, tidak ada lagi pergi keluar kota berdua" ucap Chanyeol. Matanya menatap pada Seokjin, mencoba menunjukan pesona wibawanya pada Seokjin.
Jimin yang mendengar ucapan hyungnya, menyunggingkan sedikit senyumnya. Perasaannya lega bukan main, tapi saat menatap kearah Chanyeol yang sedang menatap Seokjin seperti lelaki yang sedang mencoba tebar pesona, Jimin mengernyit tidak suka. Jangan sampai pemikiran gilanya kalau Chanyeol menyukai Seokjin saat pertama kali melihatnya menjadi kenyataan, Jimin akan mengeluarkan Chanyeol dari kartu keluarga mereka.
"Terimakasih." Ucap Seokjin lemah. Kepalanya terasa penuh karena masalah yang tidak pernah diduganya sebelumnya, dia bahkan tidak bisa membantah atau member pendapat tentang apa yang Chanyeol ucapkan, hanya sebuah ungkapan terimakasih saja yang bisa Seokjin keluarkan.
Jimin melirik kebelakang dimana Yoongi masih menunduk dengan pandangan kosong. Diam-diam Jimin memundurkan bangkunya dan menggenggam tangan Yoongi erat, mengelus tangan besar itu dengan jempolnya seolah mengisyaratakan kalau mereka sudah baik-baik saja.
Yoongi mengangkat sedikit kepalanya dan melihat kearah tangannya dan Jimin yang bertautan dan menyunggingkan senyum lega tanpa ada yang mengetahuinya.
"Ehm, mungkin kita bisa bertukar nomor ponsel untuk mempermudah memantau Yoongi dan Jimin?" Chanyeol menatap penuh harap pada Seokjin.
Seokjin yang tidak sadar situasi, hanya mengangguk dan menerima uluran ponsel Chanyeol. Menekan nomor ponselnya dilayar Chanyeol kemudian mengembalikan ponsel Chanyeol diatas meja.
"Apa masih ada lagi?" Tanya Seokjin pada Chanyeol.
"Apa anda sudah makan malam?" Chanyeol bertanya santai. Mengundang pandangan terkejut dari Yoongi, Jimin dan Seokjin yang berada didepannnya. Yang benar saja, Park Chanyeol!.
"Sepertinya kau salah bicara" ucap Chanyeol sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
.
.
.
"Jiminie, tolong lebih jaga diri" Seokjin memeluk Jimin erat, mengelus kepala Jimin penuh permintaan maaf.
"Ahjussi, tolong maafkan aku…" cicit Jimin.
"Sudahlah" Seokjin mengurai pelukannya pada Jimin dan memandang kearah Yoongi. "Mulai sekarang, jaga Jimin dengan benar, mengerti?" Seokjin menatap tajam pada Yoongi. Saat matanya menatap mata pipi Yoongi yang memerah, hatinya mencelos, rasa bersalah seolah menggerogoti perasaan Seokjin.
"Ne Appa" Yoongi menjawab pelan. Matanya membola saat Seokjin berjalan memeluknya erat, kemudian tersenyum lega, Appa-nya sudah memaafkannya.
"Tolong jangan membuat masalah, Yoongi-ya. Appa hanya sendiri…" guman Seokjin pelan.
Saat suara Seokjin terdengar ditelinganya, rasa bersalah Yoongi menjadi berkali lipat. Dia menyalahkan dirinya sendiri karena sudah gagal mengendalikan diri dan membuat Appa-nya seperti ini. Harusnya Yoongi membantu Seokjin, bukannya malah membuat masalah. "Appa aku minta maaf…" Yoongi mengeratkan pelukannya pada Seokjin.
"Sudahlah, kau akan pulang bersama Appa? Atau masih ada hal yang perlu kalian bicarakan?" Seokjin mengurai pelukannya pada Yoongi, memandang Yoongi dan Jimin bergantian.
"Sepertinya aku dan Jimin perlu bicara, Appa" Yoongi merangkul bahu Seokjin untuk berjalan menuju ruang tunggu dimana Namjoon dan Yoonji berada. Sementara Jimin berdiri tak jauh dibelekang Seokjin dan Yoongi, memperhatikan bagaimana manisnya Yoongi memperlakukan Appanya. Jimin ingin memekik gemas, tapi dia sadar, lagi-lagi ini bukan waktu yang tepat untuk memuja Papa anak-anak.
Saat sampai diruang tunggu, pemandangan pertama yang dilihat Seokjin, Yoongi dan Jimin adalah Namjoon tertidur bersandar disofa dengan Yoongi yang ikut tertidur dengan berbantalkan paha Namjoon dann tangan Namjoon yang berada dikepala Yoonji seolah sedang melindungi gadis kecil yang sedang tertidur itu.
Seokjin bisa saja menipu dengan ekspresinya yang terlihat datar-datar saja, tapi jantungnya tidak bisa menyembunyikan fakta kalau hal yang dilihatnya saat ini memberikan rasa berdebar yang menyenangkan dan menghangatkan perasaannya.
Disamping Seokjin, Yoongi tersenyum lucu melihat pemandangan langka didepannya. Selama beberapa tahun menjadi sahabat Namjoon, tak pernah sekalipun Namjoon terlihat berinteraksi dengan anak kecil.
"Sepertinya dia sudah cocok jadi ayah" canda Yoongi.
"Manis sekali…" Komentar Jimin saat melihat Namjoon dan Yoonji. Yoongi langsung melirik pada Jimin yang terpesona, kemudian mencubit pelan pipi gendut Jimin.
"Katakan sekali lagi" Yoongi menaikan satu alisnya.
"Hyung! Nanti pipiku bertambah lebar!" Jimin protes.
"Hey, sudahlah. Appa akan pulang sekarang, Yoonji belum mandi sore. Kalian, jangan pulang terlalu malam" nasehat Seokjin. "Dan jangan macam-macam!" Seokjin memperingatkan dengan keras.
Seokjin berjalan kearah Namjoon dan Yoonji. Lebih dulu membangunkan Namjoon kemudian menggendong Yoonji yang masih saja tertidur.
"Sudah?" Namjoon merenggangkan ototnya yang pegal karena posisi tidur yang kurang nyaman.
"Ne, ayo pulang…" Ajak Seokjin.
"Yoongi hyung?" Tanya Namjoon lagi.
"Mereka berdua masih ada urusan" jelas Seokjin yang sedang memperbaiki posisi Yoonji dalam gendongannya.
"Oh, ya sudah. Ayo pulang" Namjoon berjalan dibelakang Seokjin. Saat melewati Yoongi dia menepuk bahu Yoongi dua kali dan menyapa Jimin, kemudian menghilang dibalik pintu lift bersama Seokjin dan Yoonji.
"Ada Namjoon hyung juga? Ada apa Namjoon hyung kesini?" Jimin melirik Yoongi yang terdiam memandangi pintu lift.
"Bukannya Namjoon ingin menemui Sajangnim?" Yoongi bertanya pada Jimin yang tidak mengetahui apa-apa. Yoongi diam sebentar, ini pasti ada yang salah.
.
.
.
TBC
*Lari Naruto*
Ayaflu kakak-kakak…
