Sudah seminggu sejak kejadian di kantor agensi berlalu dan Yoongi benar-benar kesulitan menemui Namjoon. Namjoon seolah berubah menjadi manusia paling sibuk sedunia. Datang ke kampus paling lama dan pulang paling cepat.
Seperti hari ini, Yoongi sudah menunggu Namjoon dikelas, dan Namjoon baru muncul tepat semenit sebelum dosen datang dan saat pelajaran selesai, Namjoon langsung menghilang didetik pertama saat dosen meninggalkan kelas. Benar-benar tidak bisa Yoongi sentuh apalagi Yoongi ajak bicara.
.
.
.
RUN TO YOU
.
.
.
"Namjoon seperti menghindariku" cerita Yoongi saat dirinya dan Jimin duduk bersama disebuah café yang tidak jauh dari kampus.
"Menghindar bagaimana maksudnya, hyung?" Jimin melirik Yoongi yang duduk disampingnya, wajahnya terlihat benar-benar tidak mengerti arah pembicaraan Yoongi.
"Bukan apa-apa. Belakangan ini Namjoon terlihat aneh. Dia selalu terlihat terburu-buru dan terkesan menghindariku. Ada hal yang ingin aku tanyakan padanya" Yoongi menatap Jimin dan tersenyum saat melihat wajah Jimin yang benar-benar kebingungan.
"Hyung ingin bertanya soal apa? Tanya padaku saja"
"Soal Namjoon yang bisa muncul bersama Appa-ku di kantor agensi kemarin" jelas Yoongi.
"Benar juga" Jimin memutar tubuhnya menghadap Yoongi. "Kenapa tidak bertanya pada Ahjussi saja, Hyung?"
"Aku sedang tidak dalam posisi yang berhak untuk bertanya pada Appa, Jiminie." Yoongi menggusak rambut Jimin dan tersenyum lagi.
"Eum, aku paham hyung" Jimin menyandarkan kepalanya pada bahu Yoongi. Mereka memang sedang dalam keadaan yang tidak baik sekarang, masalah yang mereka timbulkan jelas membuat mereka tidak berhak bertanya macam-macam.
"Kita benar-benar mengacau, hyung" ucap Jimin sedih. Tangannya memeluk tangan Yoongi erat-erat.
"Kau menyesal?" Yoongi melirik sekilas pada Jimin.
"Tentu saja tidak! Bagaimana bisa aku menyesal telah melakukannya dengan Papa anak-anak" Jimin membolakan matanya saat menyadari ucapannya, dia keceplosan.
"Huh? Papa… apa?" Yoongi menegakkan tubuhnya, menunggu penjelasan.
Sementara Jimin, menelan ludahnya susah payah. Jimin tau, wajahnya sudah memerah malu sekarang. Dia ketahuan.
.
.
.
Namjoon melirik ponselnya sekali lagi, memastikan apa Seokjin sudah membalas pesannya atau belum. Dia perlu bicara pada Seokjin sekarang, Namjoon sudah lelah bermain kucing-kucingan dengan Yoongi. Dia butuh Seokjin untuk melakukan persetujuan ataupun untuk melakukan karangan bebas mengenai alasan mereka bisa muncul bersama.
Namjoon menunggu Seokjin didalam mobil milik Appa-nya yang sengaja dia bawa untuk bertemu Seokjin. Sejak berbohong pada Yoongi kemarin, Namjoon jadi sering panaroid jika ingin menemui Seokjin. Bahkan sampai menganti mobilnya karena takut ketahuan Yoongi.
Namjoon mengambil ponselnya dan menelepon Seokjin saat melihat Seokjin terlihat sedang mencari-cari keberadaan Namjoon. Saat teleponnya diangkat Seokjin, Namjoon mengarahkan Seokjin untuk berjalan kearah mobil yang dipakaianya dan membukakan pintu untuk Seokjin.
Saat Seokjin masuk kedalam mobil, bau khas rumah sakit langsung tercium dihidung Namjoon, dan Namjoon tak pernah terbayang sebelumnya kalau dia bisa menyukai bau khas rumah sakit dalam hidupnya.
"Maaf aku lama" Seokjin berucap tak enak hati.
"Tidak apa-apa. Sudah makan?" Namjoon melirik Seokjin yang sedang melipat jas dokternya.
"Sudah"
"Seokjin-ssi, ini soal Yoongi…" mulai Namjoon.
"Ne, aku paham. Yoongi juga sepertinya ingin bertanya soal kemarin. Harusnya kita tidak perlu berbohong padanya. Selama dirumah, Yoongi selalu melihatku dengan curiga" Seokjin menyandarkan punggungnya, lelah.
"Aku akan bicara jujur padanya" putus Namjoon.
"Jangan. Nanti Yoongi berpikir yang macam-macam"
"Kau benar. Tapi aku tidak masalah kalau dia berpikir macam-macam. Aku hanya khawatir kalau dia tidak suka" ucap Namjoon jujur. "Aku takut tidak bisa bertemu denganmu lagi, dokter Seokjin"
Seokjin terdiam.
"Apa kau juga merasakan ketakutan yang sama denganku, Dokter Seokjin?" Namjoon memiringkan sedikit badannya agar bisa melihat Seokjin lebih jelas.
"Namjoon, jangan bicara yang aneh-aneh. Kita bertemu untuk membahas alasan yang tepat pada Yoongi, kan? Supaya kau tidak perlu menghindari Yoongi terus?" Seokjin mengernyit, menolak menjawab pertanyaan Namjoon.
"Berarti hanya aku yang takut tidak bisa bertemu dengamu lagi" ucap Namjoon dan kembali duduk menghadap kedepan.
"Namjoon, berhenti berbicara yang aneh-aneh." Seokjin memperingati.
"Apa semua perhatianku selama ini kau anggap main-main?" Namjoon memiringkan kepalanya, matanya menatap kosong pada mobil yang terparkir didepan mereka.
"Namjoon, kau lupa kalau aku ini Appa sahabatmu? Jangan konyol"
"Memangnya kenapa?" Namjoon tersulut emosi saat Seokjin seolah memberi Namjoon dinding pembatas untuknya dengan membawa nama Yoongi
"Seokjin, apa kau pikir aku seperhatian itu pada semua orang? Apa kau pikir aku memperlakukan temanku seperti aku memperlakukanmu? Selalu bertanya sedang apa, sudah makan, menelepon setiap malam, me…"
"Jadi kau mengharapkan imbalan?" potong Seokjin.
"Imbalan?" Namjoon mendengus kesal. Matanya menatap tajam tepat pada Seokjin. "Seokjin, aku menyukaimu!" ucap Namjoon.
"Namjoon, aku lebih tua darimu. Gunakan bahasa yang sopan" Seokjin memperingatkan.
"Setelah membawa Yoongi, sekarang kau membawa masalah umur? Seokjin, aku tau kau tidak mungkin meladeni temanmu seperti yang kau lakukan padaku selama ini. Kenapa kau masih menyangkal?" Namjoon bertanya penuh rasa frustasi. Dia sadar kalau dia sedang ditolak sekarang, tapi egonya jelas tidak bisa menerima penolakan.
"Aku akan pergi sekarang"
"Kita belum selesai" Namjoon menahan lengan atas Seokjin yang bersiap turun dari mobilnya.
"Namjoon, lepas!"
"Seokjin, lihat aku" Namjoon menarik pelan Seokjin agar menghadap padanya. "Katakan kalau kau tidak menginginkanku tepat didepan wajahku. Kalau kau bisa, aku akan menyerah" putus Namjoon.
Seokjin menunduk, matanya tidak berani menatap ke mata Namjoon.
"Katakan Seokjin"
"A-aku.. aku tidak menginginkanmu, kau salah paham dengan sikapku" cicit Seokjin.
"Katakan didepan wajahku, Seokjin" paksa Namjoon.
Seokjin bergeming, setelah mengumpulkan keberaniannya, Seokjin mengangkat kepalanya dan menatap Namjoon dengan mata bergetar. "A-aku, aku… Namjoon, aku.. aku tidak menginginkanmu" ucap Seokjin dan menghempas tangan Namjoon begitu saja, membuka pintu mobil dan berjalan cepat meninggalkan parkiran mobil.
.
.
.
"Ya! Jangan kabur kau!" Yoongi berlari kencang saat melihat Namjoon baru saja muncul setelah semalam Namjoon lagi-lagi menghindarinya. Tangannya memegang tas Namjoon erat-erat, takut Namjoon kabur lagi.
"Hyung, kau seperti anak monyet bertemu pohon…" Namjoon berucap pasrah saat Yoongi bergelantungan di punggungnya.
"Ini antisipasi agar kau tidak kabur!" Yoongi memanjat punggung Namjoon, membuat Namjoon terpaksa menggendong Yoongi di punggungnya.
"AKu tidak akan kabur, tenang saja" ucap Namjoon pasrah.
"Kau kenapa?" Yoongi melirik kesamping wajah Namjoon yang terlihat menyedihkan.
"Aku baru saja ditolak. Hatiku perih, hyung" cerita Namjoon.
"Ew, menjijikan…" Yoongi melompat turun dari punggung Namjoon. "Jadi selama seminggu ini kau sedang melakukan pendekatan dengan seseorang makanya kau sok sibuk selalu? Siapa yang sedang kau dekati?"
"Salah satu teman Hoseok di rumah sakit" jawab Namjoon.
"Teman Hoseok? Kenapa kau tidak bilang padaku!"
"Kau sibuk dengan Jiminie mu dan pergi ke kantor agensi. Sebenarnya yang sering kabur itu, aku apa kau hyung?"
"Ya! Kenapa kau baru protes sekarang… Kalau kau bilang padaku butuh teman cerita, aku akan membantumu" ucap Yoongi.
"Jimin apa kabar?" Tanya Namjoon mengalihkan pembicaraan.
"Dia baik. Hey, mau pergi nongkrong? Hanbin menawariku untuk pergi ke café tempat bandnya tampil regular nanti malam. Café milik Kai, kau ingat?"
"Tidak boleh membawa pacar" Namjoon mengajukan persyaratan.
"Tidak. Hari ini kita hanya akan pergi dengan anak-anak kelas music saja"
"Call. Aku ikut"
"Bisa jemput aku dirumah? Mobilku di bawa Appa-ku" Yoongi berjalan santai disamping Namjoon.
Namjoon mendadak berhenti sedetik tanpa Yoongi ketahui dan kembali berjalan disamping Yoongi seolah tidak terjadi apapun dengan hatinya.
"Minta jemput Woozi saja, hyung. Aku juga akan minta jemput Woozi, aku malas bawa kendaraan" Namjoon beralasan.
"Oh, ya sudah"
"Katakan pada Woozi untuk menjemputmu lebih dulu, baru menjemputku" usul Namjoon.
"Call" Yoongi menyetujui tanpa curiga. Namjoon hanya tidak ingin mengingat Seokjin.
.
.
.
"Yoongi hyung tidak boleh pulang malam-malam!" Jimin memberi syarat.
Yoongi sedang meneleponnya untuk meminta izin pergi bermain dengan teman-temannya dikampus.
"Ne, tidak akan sampai tengah malam. Aku janji" ucap Yoongi.
"Tidak boleh genit! Awas saja kalau Yoongi hyung genit" ucap Jimin lagi.
"Kami hanya menonton pertunjukan Band milik Hanbin saja, sayang. Lagian, sudah lama aku tidak pergi dengan teman-temanku"
"Pokoknya tidak boleh genit!" Jimin berkeras.
"Iya sayang… iya…" Yoongi terkekeh diseberang telepon.
"Hyung, setelah pulang dari café, hyung bisa kerumah sebentar?"
"Ada apa?"
"Aku merindukan Yoongi hyung. Hari ini kita belum bertemu sama sekalikan…" cicit Jimin malu-malu.
"Aigoo, manisnya… ne, setelah pulang dari café, aku akan mampir. Apa sajangnim dirumah?"
"Ne, Chanyeol hyung…."
"Chim, emergency!"ucapan Jimin terputus saat Chanyeol muncul didepan pintu kamar Jimin.
"Hyung, biasakan ketuk pintu!" Jimin protes. Dia sedang sibuk dengan papa anak-anak, beraninya Chanyeol mengganggu.
"Aish, ini darurat. Aku harus pergi malam ini, tak apakan kalau kau dirumah sendiri?" Chanyeol mendudukan diri ditempat tidur Jimin.
"Yoongi hyung, sebentar" Jimin pamit pada Yoongi dan meletakkan ponselnya diatas tempat tidur.
"Kau sedang menelepon Yoongi? Berikan ponselnya padaku" Chanyeol menyambar ponsel Jimin tanpa permisi. "Ya, Min Yoongi" Chanyeol menekan tombol speaker pada ponsel Jimin.
"Ne, sajangnim?" jawab Yoongi ragu.
"Aku harus pergi ke Busan mala mini. Bisa tolong temani Jimin dirumah? Aku akan menelepon Seokjin-ssi untuk minta izin"
"Tapi…" Yoongi terdengar ingin menolak.
"Jangan berani-berani menolak. Aku benar-benar butuh bantuanmu sekarang. Pembantu dirumah ini hanya datang pagi sampai sore hari, jadi tidak ada orang dirumah kecuali security didepan. Jadi, kau, tolong temani Jiminie malam ini"
"Ne, sajangnim" jawab Yoongi pasrah.
"Oh, ya, jangan beritahu Seokjin-ssi dulu. Kalau perlu, aku akan datang kerumahmu untuk minta izin. Benar juga, kirim aku alamat rumahmu, sebelum ke Busan, aku akan mengunjungi Seokjin-ssi dulu." Modus Chanyeol.
"Jiminie sudah tau alamat rumahku, Sajangnim.."
"Benar juga. Ya sudah, jam berapa kau akan datang?"
"Sekitar dua jam atau tiga jam lagi?"
"Ya sudah, jangan sampai kemalaman. Sudah ya" Chanyeol menutup sambungna telepon Jimin.
"Kenapa teleponnya hyung tutup!" Jimin terlihat kesal.
"Ya! Jiminie, malam ini Yoongi boleh menginap disini, tapi ingat! CCTV di kamarmu harus menyala." CHanyeol memperingati.
"Apa maksudnya?"
"Yoongi akan menemanimu mala mini di rumah. Jangan berani-berani mematikan CCTV kamarmu!"
"Yoongi hyung menginap?" Jimin merangkak mendekat pada Chanyeol. Wajahnya berbinar bahagia tanpa bisa Jimin tahan.
"Ya! Kau dengar ucapanku tidak sih?" Chanyeol memukulkan bantal ke kepala Jimin.
"Hehhehe, tentu saja dengar. Aku janji tidak akan mematikan CCTV kamar. Gomawo Chanyeol hyuuunggg" Jimin memeluk tubuh samping Chanyeol.
"Ingat, hyung akan memantau kalian. Awas kalau macam-macam!" Chanyeol berucap tegas "Oh ya, tulis alamat rumah Yoongi, hyung harus bertemu Seokjin untuk minta izin"
Jimin mencebik. Dia tahu itu hanya akal bulus Chanyeol saja untuk bisa bertemu dengan Seokjin. Tapi Jimin sedang senang, jadi dia membiarkan hyungnya ikut senang juga mala mini.
.
.
.
Pukul sebelas malam akhirya Yoongi muncul didepan rumah Jimin dengan diantar taxi. Didepan pintu, Jimin sudah menunggu dengan senyum yang terlampau lebar. Dia sangat senang karena Yoongi menginap dirumahnya.
Jimin bahkan merapikan kamarnya, mengganti sprei-nya dan menyemprot pengharum ruangan untuk membuat Yoongi nyaman berada dikamarnya.
"Selamat datang" Jimin tersenyum malu. Rasanya seperti menyambut suami pulang dari kantor. Jimin menggeleng saat menyadari pikiran konyolnya.
"Selamat malam" Balas Yoongi sambil menggusak rambut Jimin.
"Hyung, ingin langsung istirahat?" Jimin memeluk lengan Yoongi setelah mengunci pintu rumah, membawa Yoongi menaiki tangga menuju kamarnya.
"Jiminie, bisa pinjami aku piyama?"
"Tentu" Jimin berucap senang dan membuka pintu kamarnya.
Pertama kalinya bagi Yoongi masuk kerumah Jimin dan kedalam kamar kekasihnya itu. Nuansa dominan biru langit langung menyita perhatian Yoongi. Tempat tidur king size dengan sprei biru laut, partisi berwarna putih, lemari yang juga berwarna putih dan sebuah karpet bulu berwarna putih mempercantik kamar Jimin.
"Hyung, ini piyamanya" Jimin menyerahkan piyama yang sudah sengaja disiapkannya diatas tempat tidur untuk Yoongi. "Ada handuk dan sikat gigi dikamar mandi, milik Yoongi hyung"
"Gomawo" Yoongi memggusak rambut Jimin dan berlalu kekamar mandi.
Selama menunggu Yoongi berganti baju, Jimin merasa dadanya berdebar. Tidak, bukannya Jimin mengharapkan hal yang sama terjadi malam ini seperti di Busan, tapi Jimin… ah, sudahlah.
"Duh, bagaimana ini?" Jimin mendudukan dirinya diatas tempat tidur dan bersandar dikepala ranjang. Dadanya seolah membuncah saat menyadari Yoongi menginap dikamarnya.
Saat sibuk dengan pikirannya, pintu kamar mandi terbuka, memunculkan Yoongi yang sudah siap dengan piyamanya. Jimin tersenyum gugup, sementara Yoongi berjalan santai menuju Jimin.
"Sudah malam, tidurlah" Yoongi mengecup kepala Jimin sebentar.
"Oh, n-ne hyung" Jimin langsung menidurkan tubuhnya memunggungi Yoongi.
Yoongi hanya tersenyum melihat kegugupan Jimin. Setelah mematikan lampu dan menggunakan lampu tidur, Yoongi ikut masuk kedalam selimut, menidurkan tubuhnya disamping Jimin yang memunggunginya.
"Mimpi indah, Jiminie" Yoongi mengusap kepala Jimin.
"Yoongi hyung, Jiminie tidak bisa tidur…" cicit Jimin.
Yoongi tersenyum mendengar ada nada manja saat Jimin bicara padanya.
"Kenapa tidak bisa tidur?" Yoongi memiringkan tubuhnya yang menghadap langsung pada punggung Jimin.
"Entahlah, mungkin karena Yoongi hyung tidur disamping Jiminie sekarang…"
Yoongi terkekeh. Tangannya lagi-lagi menggusak rambut Jimin dengan sayang.
"Keberatan kalau Yoongi hyung memeluk Jiminie agar bisa tidur?" Yoongi ikut-ikutan gaya bicara Jimin.
"Apa tidak apa-apa?" Jimin melirik Yoongi dibalik punggungnya.
"Kemarilah Jiminie" Yoongi menarik Jimin yang sudah berbalik kedalam pelukannya. "Apa sudah nyaman?"
Jimin mengangguk dan mempererat pelukannya ditubuh Yoongi.
"Tidurlah, besok kau harus ke kampus, kan?" Yoongi membanjiri Jimin dengan kecupan dikepala Jimin.
"Hyung besok tidak ke kampus?" Jimin menggusakkan kepalanya didada Yoongi.
"Tidak. Besok tidak ada jadwal ke kampus."
"Yoongi hyung…" Jimin mendongak menatap Yoongi ditengah keremangan lampu kamar.
"Ne?"
"Ciuman selamat tidurnya?"
Yoongi terkekeh lagi. Jiminnya sangat manis hari ini.
Yoongi menunduk, memagut dalam bibir Jimin dan melepaskannya perlahan.
"Selamat tidur, Jiminie"
"Selamat tidur, Yoongi hyung. Saranghae"
"Nado, Jiminie" Yoongi mempererat pelukannya ditubuh Jimin.
.
.
.
TBC
Yosh,,, da update karena ketumpahan ide.
Minta reviewnya bole kali kakak-kakak…
