"Ini benar-benar menyenangkan, ponsel Kyungsoo rusak" Kai meregangkan ototnya yang kaku dengan mengangkat tangannya tinggi-tinggi di udara.

"Kenapa kau malah senang ponsel pacar mu rusak?" Jimin mengernyit heran, meletakkan gelas milkshake nya diatas meja dan memandang keluar jendela café.

Saat ini, Jimin, Kai, dan Taemin sedang duduk bersama dicafe milik Kai. Jimin yang minta diajak kesana karena Yoongi pernah pergi kesana. Bukan, Jimin bukannya terlalu over dalam segala hal pada Yoongi, dia hanya penasaran, tempat macam apa yang semalam didatangi Papa anak-anak. Itu saja. Jangan menuduh yang bukan-bukan.

"Tentu saja aku senang. Setidaknya aku punya satu hari santai tanpa harus terganggu dengan pesan dan telepon pacarku. Akhir-akhir ini Kyungsoo mulai terlalu berlebihan, sedikit-sedikit telepon, sedikit-sedikit mengirimiku pesan, kalau aku terlambat membalas pesannya, dia pasti akan merajuk seharian" jelas Kai.

"Apa kau mulai bosan?" Taemin bertanya sambil terkekeh mendengar curahan hati Kai.

"Entahlah. Aku sendiri tak paham, aku hanya merasa bebas sekarang. Setidaknya aku bisa sedikit bernafas tanpa kekangan dari Kyungsoo" jawab Kai santai.

"Dia mengekangmu?" Taemin menaikan alisnya tak percaya.

"Apa ditelepon setiap hari dan dikirimi pesan seharian bukan pengekangan namanya?" Kai memutar matanya.

"Kau terganggu karena telepon dan pesan pacarmu?" Tanya Jimin memastikan.

"Mungkin iya, sedikit. Aku juga butuh space untukku bisa bertemu dengan teman-temanku seperti sekarang ini. Sudah lama kan kita tidak berkumpul begini?" Kai melirik Jimin yang terdiam didepannya, seperti tengah berpikir keras. "Kalau terlalu sering bertemu dengan pacar, aku bisa-bisa bosan" tambah Kai.

.

.

.

RUN TO YOU

.

.

.

Yoongi sedang sibuk diruang studionya. Hari ini Chanyeol memberinya proyek baru setelah proyek dengan idol yang akan debut itu sudah Yoongi selesaikan sampai tahap rekaman. Chanyeol meminta Yoongi untuk menulis lagu bertema kesedihan untuk salah satu penyanyi wanita yang sudah punya nama besar dan itu cukup membuat Yoongi tertekan.

"Bagaimana ini? Mana bisa aku memberikan lagu sembarangan pada artis sekaliber dia" Yoongi menunduk. Tangannya sibuk memencet mouse tak tentu arah.

"Lagu mana yang harus ku ajukan pada sajangnim?" Yoongi melirik pada layar computer didepannya dimana folder berisi lagu-lagu ciptaannya berada.

Yoongi melirik ponsel diatas meja. Ini sudah lewat jam makan siang dan Yoongi belum mendapatkan pesan satupun dari Jimin sejak Jimin mengantar Yoongi pulang kerumah. Cukup aneh untuk Yoongi yang terbiasa diingatkan Jimin untuk makan.

Yoongi baru saja ingin menghubungi Jimin begitu pintunya terbuka. Seunghoon berdiri disana dengan cengiran dibibirnya.

"Ya, Min Yoongi, aku masuk ya" ucapnya Seunghoon.

"Biasakan mengetuk pintu" ucap Yoongi sambil memutar bola matanya.

"Ingatkan aku lagi nanti. Ini soal penyanyi wanita itu, sajangnim bilang padaku, kita harus mengirim demo lagu untuknya paling lama minggu depan, kita satu tim ngomong-ngomong" ucap Seunghoon sambil mendudukan diri di sofa panjang distudio Yoongi.

"Aku tidak tahu harus memberikan lagu yang mana pada Sajangnim" Yoongi tidak percaya diri.

"Aku juga. Beban mentalnya berat sekali" Seunghoon mengacak rambutnya.

"Kau benar." Yoongi menghela napas.

"Hey, sudah jam makan siang. Aku kesini juga diminta Joohyun hyung untuk mengajakmu makan siang bersama. Kau kan jarang sekali ada dikantor siang-siang begini. Ayo ikut, Joohyun hyung yang bayar" Seunghoon menaik turunkan alisnya.

"Ya sudah" Yoongi berdiri dari kursinya. Menyambar ponsel dan dompetnya diatas meja dan berjalan mengikuti Seunghoon keluar ruangan.

Mereka sudah sampai disebuah restoran yang tidak jauh dari kantor agensi. Hanya perlu berjalan kaki beberapa menit saja untuk sampai kesana. Setelah memesan makanan, ketiganya duduk dengan ponsel masing-masing ditangannya, sampai Yoongi menangkap sosok Namjoon yang sedang duduk berdua dengan namja putih berparas manis yang tersenyum malu-malu didepan Namjoon.

"Kena kau" Yoongi menyeringai. "Aku permisi sebentar hyung" pamit Yoongi, tanpa menunggu jawaban dari Joohyun dan Seunghoon, Yoongi berjalan menuju meja Namjoon.

"Oh… ini…" Yoongi menepuk bahu Namjoon yang Nampak terkejut dengan kemunculan Yoongi.

"Yoongi hyung?" Namjoon buru-buru berdiri dan memandang panic pada Yoongi yang sudah tersenyum iblis.

"Boleh aku duduk?" Yoongi menyeringai pada Namjoon.

"Ah, silahkan Min PD-nim"

"Kau mengenalku?" Yoongi melirik pada namja manis yang duduk didepan Namjoon dengan penuh Tanya.

"A-aku Jihoon, trainee di agensi itu…" ucap namja bernama Jihoon itu gugup.

"Oo.. trainee…" Yoongi membeo dan mendudukan diri disamping Namjoon. "Jadi, kalian janjian makan siang? Kau kelas apa? Kenapa bisa keluar?" Yoongi mengintrogasi Jihoon.

"Aku masih dikelas C, PD-nim. Hari ini tidak ada jadwal dan tadi pagi Namjoon hyung mengajakku makan siang bersama" jelas Jihoon.

"Kencan, eoh?" Yoongi menyiku perut Namjoon yang terlihat siap protes atas gangguan Yoongi.

"Kenapa kau ada disini hyung?" Namjoon memutar bola matanya kesal. Mengabaikan godaan Yoongi soal kencan.

"Pantas saja kau sering hilang saat dikampus, ternyata sudah punya teman kencan" Yoongi mengangguk-anggukan kepalanya.

"Kami tidak sedang berkencan, PD-nim" koreksi Jihoon.

"Hey, kau tidak mengakui temanku?" Yoongi mengernyit. "Oh, aku tau, kalian sedang pendekatan? Benar kan?" Yoongi menaik turunkan alisnya, memandang usil kearah Namjoon dan Jihoon.

"Hentikan hyung. Pergi sana" usir Namjoon.

"Baiklah-baiklah… aku tidak akan mengganggu dua orang yang sedang dimabuk asmara" ejek Yoongi dan berdiri dari kursi.

"Sukses Namjoon. Lain kali ajak Jihoon untuk berkumpul, kita bisa double date, mungkin?" Yoongi makin menjadi-jadi dan dihadiahi pukulan di bokongnya oleh Namjoon.

Setelah Yoongi pergi, Namjoon melirik pada Jihoon yang menunduk didepannya. Jihoon terlihat memerah malu karena ucapan Yoongi dan Namjoon hanya bisa menghela nafas. 'Tidak apa Namjoon, kau pasti bisa. Dekati Jihoon dan lupakan Seokjin' batin Namjoon.

.

.

.

"Tidak boleh! Nanti Yoongi hyung terganggu!" Jimin meletakan lagi ponselnya diatas tempat tidur setelah memarahi didirinya sendiri.

Jimin menghempaskan tubuhnya begitu saja diatas tempat tidur setelah berperang dengan dirinya sendiri. Dia rindu Yoongi, tapi ucapan Kai saat di kafe benar-benar mengganggu Jimin dan sulit untuk Jimin abaikan begitu saja. Nyaris seharian Jimin tidak ada mengabari Yoongi, begitupun sebaliknya. Tapi untuk kasus Yoongi, agaknya Jimin sudah paham, kalau Yoongi sudah berada di studio, gempa bumi pun Yoongi tidak akan tau.

"Tapi aku ingin mendengar suara Yoongi hyung…" Jimin merengek sendiri dan berguling ditempat tidur.

"Tidak… tidak, nanti Yoongi hyung bisa bosan padamu, Jiminie. Berikan Yoongi hyung ruang untuknya sendiri. Jangan manja! Semalam Yoongi hyung sudah menginap" ucap Jimin bermonolog.

Jimin melirik sedih ponselnya, ini sudah malam dan Jimin tidak tau Yoongi sudah pulang atau masih berada di studio. Saat Jimin hendak pergi untuk turun dan mencari kegiatan, ponsel Jimin bergetar. Nama 'mine' muncul disana dan Jimin tidak bisa untuk tidak bahagia.

"Yoongi hyung?" Jimin berucap terlampau semangat.

"Kemana saja seharian?" suara berat Yoongi terdengar.

"Pergi dengan Kai dan Taemin hyung. Hyung sudah pulang kerumah?"

"Sudah makan?" Yoongi mengabaikan pertanyaan Jimin.

"Sudah hyung, tadi. Hyung sudah?"

"Sudah. Ya sudah, istirahat sana." Yoongi menutup teleponnya.

"Yoongi hyung? Hallo?" Jimin melihat kelayar ponselnya dan merengut kesal. "Kenapa dimatikan?" Jimin cemberut sedih. Rindunya belum hilang, tapi Yoongi sudah memutuskan sambungan telepon mereka.

Distudio, Yoongi sedikit merenung setelah menelepon Jimin. Tidak biasanya Jimin tidak mengatakan 'Aku merindukan Yoongi hyung' sesaat setelah telepon diangkat. Hari ini Jimin sedikit aneh untuk Yoongi, tidak manja seperti biasanya. Jimin sedikit mendingin padanya.

"Dia butuh waktu sendiri" ucap Yoongi dan kembali serius didepan komputernya.

.

.

.

Seminggu dan hubungan Yoongi-Jimin terasa merenggang. Telepon dan bertukar pesan sudah jarang mereka lakukan, sekali dalam satu hari saja sudah sukur. Saat ini Jimin sedang duduk didepan TV. Ini hari minggu, biasanya dia akan merengek pada Yoongi untuk mengajaknya berkencan, tapi lagi-lagi dia takut Yoongi bosan padanya. Akhirnya Jimin memilih berdiam dirumah seperti saat dia belum memiliki Yoongi.

Dilain sisi, Yoongi memilih pergi ke studio karena tumben sekali semalam Jimin tidak merengek untuk diajak kencan dihari minggu, seperti kebiasaan mereka. Yoongi memilih menghabiskan waktunya di studio karena Seokjin dan Yoonji pergi ke acara penggalangan dana yang diselenggarakan oleh rumah sakit.

Sampai distudio, Yoongi menyalakan computer miliknya dan siap untuk bekerja lagi. Deadline sudah didepan mata dan Yoongi sudah hampir selesai dengan demo lagu yang akan dia tunjukan pada Chanyeol besok. Setidaknya Yoongi punya pelarihan dari kekosongan yang mulai terasa untuknya karena perubahan sikap Jimin padanya.

"Min Yoongi?" Seunghoon mengintip dari celah pintu yang terbuka karena Yoongi lupa mengunci studionya.

"Ketuk pintu dulu! Kau mengagetkanku!" omel Yoongi.

"Aish, ingatkan aku lagi nanti. Ada apa kau kesini siang begini?" Seunghoon mengernyit heran. Tidak biasanya Yoongi bekerja dihari minggu.

"Menyelesaikan demo lagu milikku"

"Belum selesai?"

"Sedikit lagi" Yoongi melirik pada pakaian yang dikenakan Seunghoon. Namja itu Nampak rapi hari ini. "Mau kemana?"

"Tentu saja kencan. Aku bisa gila jika setiap hari berada di studio" Seunghoon memutar bola matahya. "Ah, kau bertengkar dengan Jimin? Hahahaha" Seunghoon menertawai Yoongi.

"Keluar dari studioku, brengsek!" Yoongi melempar pensil dimejanya kearah Seunghoon yang sudah kabur lebih dulu.

Saat seunghoon pergi, Yoongi terdiam lagi sambil berpikir tentang hubungannya dan Jimin yang mulai terasa hampa. Hubungannya dengan Jimin memang masih baik, mereka juga tidak bertengkar, hanya saja Yoongi merasa Jimin mulai terasa asing untuknya.

"Apa aku berbuat kesalahan lagi ya?" Yoongi bermonolog dan sibuk mengingat apa kira-kira yang telah dia lakukan sampai Jimin seperti bersikap dingin padanya.

"Aku tidak bertemu Kihyun…" guman Yoongi. "Apa Jimin marah karena aku pergi dengan teman-temanku dan tidak mengajaknya? Tidak mungkin. Saat aku menginap, Jimin masih manja padaku" Yoongi berguman lagi.

Setelah lelah berpikir dan tidak juga menemukan letak salahnya. Yoongi memilih menyerah dan menyibukkan diri dengan demo lagu miliknya.

.

.

.

Jimin berakhir di rumah Jungkook. Dia tidak tau lagi harus kemana. Ketakutan kalau Yoongi merasa terkekang karena sikapnya membuat Jimin enggan menghubungi Yoongi lebih dulu.

"Astaga, hari minggu ku yang berharga" Jungkook mengerang kesal saat melihat Jimin didepan pintu rumahnya.

"Minggir, aku mau masuk" Jimin menggeser tubuh Jungkook dari dekat pintu.

"Kenapa kau kesini?" Jungkook berjalan dibelakang Jimin yang sudah lebih dulu masuk kedalam rumahnya

"Ingin saja" Jimin mengangkat kedua bahunya dan mendudukan diri disofa ruang tamu Jungkook.

"Aku akan pergi sore nanti. Cepat, katakan apa maumu? Aku perlu bersiap-siap untuk pergi kencan dengan Taetae hyung" Jungkook melipat tangannya didepan dada.

"Kau akan pergi kencan?" Jimin merengut sedih.

"Tentu saja! Lagian, kenapa kau harus mengganggu minggu siangku yang berharga? Ganggu Yoongi hyung sana" Jungkook menghentakkan tubuhnya diatas sofa, matanya menatap tajam pada Jimin yang masih merengut sedih. "Kalian bertengkar?" Jungkook menebak.

"Tidak" elak Jimin.

"Bohong. Kalau kalian tidak bertengkar, kenapa kau ke rumahku?"

"kami tidak bertengkar. Aku kesini karena ingin saja" Jimin berkeras.

"Oke, sekarang katakan apa mau mu dan segera lenyap dari rumahku" Jungkook menatap tajam pada Jimin. "ah, kalau kau berani putus dengan Yoongi hyung, aku akan menendang bokongmu" ancam Jungkook.

"Kami tidak putus! Jangan sembarangan bicara!" Jimin berucap kesal. Sialan si kelinci ini.

"Baguslah. Tetap bersama Yoongi hyung, oke? Sejak kau berkencan dengan Yoongi hyung, hubunganku dan Taetae hyung jadi lebih damai. Oh, dan jangan coba-coba berpikir untuk menyelingkuhi Yoongi hyung, ancamanku masih berlaku" Jungkook mengancam lagi.

"Jadi, ada apa?" Jungkook melipat kakinya.

"Aku pikir, Yoongi hyung butuh waktu sendiri dan berkumpul dengan teman-temannya" mulai jimin.

"Apa maksudnya itu?" Jungkook mengernyit bingung.

"Aku tidak bisa memonopoli Yoongi hyung untukku sendiri. Dia juga butuh waktu privasi" Jimin menunduk sedih.

"Drama bodoh macam apa lagi ini?" Jungkook menaikkan sebelah alisnya. "Apa Yoongi hyung bilang dia terganggu?" mau tidak mau Jungkook jadi ikut merasa sedih melihat Jimin.

"Tidak. Tapi mungkin dia hanya segan untuk meminta waktu sendiri padaku" jawab Jimin.

"Ada apa dengan hubungan kalian? Pasti kalian bertengkar kan? Siapa yang mulai lebih dulu? Pasti kau kan? Aku tau Yoongi hyung bukan seorang drama queen, jadi, ini pasti ulahmu sampai Yoongi hyung butuh waktu sendiri." Tuduh Jungkook bertubi-tubi.

"Kami tidak bertengkar! Aku hanya memberikan Yoongi hyung ruang untuknya bisa bertemu dengan teman-temannya lebih sering"

"Kau bosan dengan Yoongi hyung?" tebak Jungkook.

"Jangan sembarang bicara! Mana mungkin aku bosan dengan papa anak-anak" Jimin melirik kesal pada Jungkook.

"Hentikan panggilan norakmu itu, oke? Aku merinding mendengarnya" protes Jungkook. "Lalu, atas dasar apa kau ingin memberi jarak pada Yoongi hyung?"

"Temanku bercerita saat kami berkumpul. Dia senang ponsel pacarnya rusak karena tidak harus menerima telepon dan pesan dari pacarnya sepanjang hari. Dia bilang dia terkekang diperlakukan seperti itu, dan aku merasa tertampar saat mendengarnya. Dia bilang, dia bisa bosan jika setiap hari bertemu dengan pacarnya dan aku takut" cerita Jimin.

Jungkook tersentak. Diam-diam juga merasa tertampar mendengar cerita Jimin. Bagaimana kalau Taehyung juga merasa terkekang karena sikapnya yang mirip dengan kekasih teman Jimin itu? Jungkook mau tidak mau merasa perasaan tak nyaman didadanya.

"Aku hanya khawatir berlebihan, kurasa?" sambung Jimin saat melihat Jungkook tak juga merespon ceritanya.

"Bagaimana kalau Taehyung hyung juga mulai bosan denganku?" Jungkook berguman pelan, seperti tidak sadar dengan ucapannya sendiri.

Keduanya terdiam diruang tamu, sama-sama sibuk berpikir dan tidak ada penyelesaian sama sekali. Sia-sia Jimin datang kerumah Jungkook.

.

.

.

Namjoon terduduk diruang tunggu lobby hotel bersama dengan Jihoon disampingnya. Namjoon sedang menunggu Appa-nya untuk turun ke lobby untuk bertukar kunci mobil karena Appa-nya butuh mobil miliknya. Saat sibuk melirik kesekeliling Lobby, Mata Namjoon berakhir menatap Jihoon yang terduduk disofa tunggal disampingnya dan memberikan senyum pada Jihoon.

"Terimakasih sudah mau menemaniku hari ini" ucap Namjoon tulus.

"Kenapa hyung bilang begitu? Harusnya aku yang berterima kasih karena sudah diajak pergi" ucap Jihoon membalas senyum Namjoon.

Namjoon hanya terkekeh dan menggusak rambut Jihoon.

Namjoon memang belum bisa melupakan Seokjin, tapi setidaknya, dengan adanya Jihoon, Namjoon merasa lebih baik. Katakan Namjoon jahat karena menjadikan Jihoon pelarian, tapi Namjoon sedang berusaha. Dan usaha untuk melupakan Seokjin yang bisa terpikirkan oleh Namjoon hanyalah dengan mendekatkan diri pada orang lain, meskipun tak jarang Namjoon membanding-bandingkan Seokjin dan Jihoon dalam hati.

Saat sedang sibuk berbicara, mata Namjoon tertarik melihat kearah lift. Lehernya memanjang untuk bisa melihat apakah ada Appa-nya dari antara kerumunan orang yang baru saja keluar dari lift. Saat itu Namjoon sedikit tersentak karena beberapa orang yang baru saja keluar dari lift mengenakan jas putih dokter dan beberapa menenteng jas yang sama di sikunya dan Namjoon memilih membuang pandangan dari arah lift.

"Hyung, ponselmu" Jihoon menyentuh bahu Namjoon.

"Oh," Namjoon tersentak dan buru-buru melihat kearah ponselnya. Ada nama Appa-nya disana.

Setelah selesai berbicara dengan Appa-nya, Namjoon meninggalkan Jihoon sebentar di lobby. Appanya sedang ada tamu dan diajak makan siang di restoran hotel. Setelah menemui Appa-nya, Namjoon kembali le lobby dan matanya membulat saat melihat Yoonji dan beberapa anak-anak lain sedang duduk manis di sofa panjang yang tadinya Namjoon duduki. Ditangan mereka ada bingkisan berisi botol kaca bening dengan permen warna-warni.

Namjoon memantung sedetik dan matanya dengan liar mencari keberadaan Seokjin. Saat sadar dengan apa yang sedang dilakukannya, Namjoon mengumpat. Tidak seharusnya dia merasa senang karena bisa melihat Seokjin meskipun hanya sedetik, bagaimana dia bisa menjadi orang sebrengsek ini, melihat orang lain saat dia datang bersama orang yang lain lagi.

Namjoon menggeleng sesaat dan melanjutkan berjalan menuju Jihoon. Focus matanya hanya tertuju pada Jihoon, tapi saat matanya tak sengaja menangkap Yoonji yang sedang berbincang seru dengan teman kecilnya, Namjoon mengalah pada ego-nya. Setelah tersenyum pada Jihoon, Namjoon berjalan dan berjongkok didepan Yoonji yang sedang duduk disofa.

"Hey, dimana Yoongi hyung?" Namjoon menggusak kepala Yoonji.

"Namjoon Oppa!" Yoonji bersorak riang. "Yoonji kesini bersama Appa" jawab Yoonji.

"Oh, dimana dokter Seokjin?" Namjoon tersenyum.

"Pergi sebentar dengan Appa-nya Kyunie" Yoonji menunjuk temannya yang duduk bersebelahan dengannya.

"Oh…" Namjoon mengangguk dan matanya melirik pada Jihoon yang tersenyum padanya. "Adik Yoongi. Min PD-nim" jelas Namjoon pada Jihoon.

"Cantik sekali" puji Jihoon sambil menatap Yoonji.

"Yoonji-ya, Namjoon oppa harus pergi sekarang. Jangan berkeliaran disini, tetap duduk manis dan tunggu dokter Seokjin sampai datang. Oke?" Namjoon menggusak rambut Yoonji dan berdiri menghampiri Jihoon.

"Sampai bertemu, Namjoon Oppa" Yoonji melambaikan tangannya.

Tepat saat tangan Namjoon menggenggam tangan Jihoon, Seokjin datang dari arah depan. Seokjin tersentak, tapi Namjoon terlihat datar, karena dia sudah tau ada Seokjin disini.

Seokjin tidak tau kenapa tubuhnya bisa-bisa mematung saat melihat Namjoon berdiri didepannya lagi. Perasaanya seolah tercubit saat melihat tangan Namjoon dan Jihoon yang terkait satu sama lain. Dan makin merasa hancur saat Namjoon melewatinya begitu saja, seperti mereka tak pernah mengenal satu sama lain sebelumnya. Seokjin hanya tidak tau, Namjoon meremas tangan Jihoon kuat-kuat saat melihat Seokjin, seperti sedang mencari kekuatan dari Jihoon. Namjoon sadar, dia pengecut.

.

.

.

"Kenapa kau disini?" Taehyung mengernyit heran saat melihat Jimin berada dirumah Jungkook.

"Diamlah. Aku sedang sibuk berpikir" Jimin memarahi Taehyung.

"Taetae hyung, duduk sini" Jungkook menepuk sofa disampingnya.

"Ada apa?" Tanya Taehyung penasaran, sebelum mendudukan dirinya, Taehyung menyempatkan untuk mencium kepala Jungkook.

"Hyung, jawab aku dengan jujur" Jungkook memegang kedua sisi wajah Taehyung dan membuat Taehyung makin merasa bingung.

"Apa hyung terkekang berhubungan denganku?" Tanya Jungkook.

"Kau apakan pacarku?" Taehyung menuduh pada Jimin.

"Aish! Jangan melirik Jimin, lihat saja aku!" Jungkook berucap kesal.

"Aku tidak terkekang. Ada apa dengan kalian berdua?" Taehyung melepas tangan Jungkook dari pipinya.

"Apa hyung kesal jika aku menelepon dan mengirimi hyung pesan setiap hari" sambung Jungkook.

"Tidak sayang." Taehyung menggusak rambut Jungkook. "Ya! Kau mencuci otak pacarku, ya?" Taehyung melirik kesal pada Jimin.

"Jangan menuduhku sembarang, brengsek!" Jimin marah.

"Jadi, bisa jelaskan ada apa ini sebenarnya?" Taehyung melirik pada Jimin dan Jungkook bergantian.

"Taetae hyung, sama sekali tidak bosan padaku?" bukannya menjawab, Jungkook masih terus bertanya.

"Pertanyaan macam apa itu?" Taehyung mengernyit heran.

Jimin diam-diam memperhatikan Jungkook dan sebuah penyesalan merayapi perasaannya. Dia tidak seharusnya seperti ini, harusnya Jimin lebih terbuka seperti Jungkook yang berani blak-blakan didepan Taehyung.

"Aku pergi" pamit Jimin buru-buru.

"Ya! Kau mau kabur setelah mencuci otak pacarku? Ya! Park Jimin!" Taehyung berteriak, tapi Jimin sudah tidak peduli lagi. Dia harus bertemu Yoongi.

Jimin tidak tau kenapa dia membawa mobilnya ke gedung agensi milik Chanyeol. Dia hanya merasa jika yoongi ada disana, sibuk dengan 'pacar kedua'nya. Saat Jimin sampai didepan pintu studio Yoongi, Jimin merasa dadanya berdebar. Sudah seminggu dia tidak bertemu Yoongi dan hubungan mereka seperti sedang sekarat. Jimin sudah mengetuk pintuu tapi tidak ada jawaban sama sekali. Jimin bisa melihat siluet Yoongi yang sedang duduk menghadap computer dengan earphone ditelinganya melalui kaca buram didepan pintu.

Jimin mencoba mengetuk sekali lagi dan setelah tidak ada juga jawaban dari Yoongi, Jimin memegang handle pintu dan ternyata tidak terkunci. Saat ruangan terbuka, wangi parfum Yoongi samar-samar bisa Jimin cium. Dia rindu. Dan Jimin hanya diam berdiri sambil memandangi Yoongi dengan tatapan rindu.

Yoongi terlalu sibuk dengan dunianya sampai tidak sadar ada orang lain yang masuk ruangannyaa. Sesekali Yoongi bersiul mengikuti irama lagu yang didengarnya. Saat sepasang tangan memeluk bahunya dari belakang, Yoongi tersentak dan melepas earphone yang sedari tadi dipakainya.

"Jiminie?" Yoongi melirik kesamping dan bertabrakan dengan rambut pink milik Jimin.

Jimin mengubur wajahnya dibahu Yoongi, pelukannya mengerat saat tangan Yoongi menyentuh helaian rambutnya.

"Aku merindukan Yoongi hyung…" guman Jimin pelan. Yoongi tersenyum lega.

"Nado" jawab Yoongi. Kepalanya bersandar nyaman dibadan Jimin yang masih memeluk bahunya.

"Yoongi hyung…"

"Hmm?"

"Hyung masih mencintaiku kan?"

"Kalau kau masih dingin padaku, sepertinya tidak lagi" Yoongi tersenyum jahil.

Jimin berdiri tegak dan melepas pelukannya dibahu Yoongi.

"Ada apa?" Yoongi memutar kursinya agar bisa berhadapan dengan Jimin.

Jimin terdiam. Matanya menyorot sedih pada Yoongi.

"Aku hanya bercanda" Yoongi berdiri dan memeluk Jimin yang masih juga mematung ditempat.

"Itu tidak lucu hyung. Kau membuatku takut"

"Mian" Yoongi menghujani kepala Jimin dengan kecupan. "Kenapa kau menghindariku selama seminggu ini? Apa aku berbuat salah lagi?"

"Tidak. Aku pikir hyung butuh waktu untuk sendiri" cicit Jimin.

"Siapa yang mengatakan itu padamu?" Yoongi mengurai pelukannya pada Jimin dan mengeryit bingung.

"Hyung tidak merasa terkekang kalau aku setiap hari menelepon dan mengirimi Yoongi hyung pesan?" Jimin mencubit-cubit kaos yang Yoongi gunakan dibagian perut.

"Apa ini?" Yoongi mengernyit makin bingung.

"Hyung tidak bosan jika aku selalu manja?"

"Entah apa yang terjadi padamu, Park Jimin. Tapi dengarkan aku baik-baik. Aku mencintaimu, aku tidak merasa terkekang jika kau setiap hari menelepon dan mengirimiku pesan, sebaliknya, aku makin semangat jika kau perhatikan. Aku tidak bosan. Bahkan saat ku dingin padaku, aku makin merindukanmu dan menyalahkan diriku sendiri karena perubahan sikapmu. Yang paling perlu kau ingat adalah, aku mencintaimu" jelas Yoongi panjang lebar.

Jimin memerah. Harusnya dia tidak bodoh. Yoongi bukan Kai. Mereka berbeda.

"Dengar, Park Jimin, kalau ada yang mengganggu pikiranmu, ceritakan pada ku. Entah dalam hal apapun itu. Jangan bersikap dingin padaku. Aku tidak mengenal Jimin yang tidak manja padaku, mengerti?" Yoongi menangkup wajah Jimin.

"Hyung, masih merindukanku?" cicit Jimin.

"Tentu saja. Aku terbiasa dengan kau yang manja, aku terbiasa dengan kau yang sering merengek padaku. Seminggu ini aku sibuk berpikir ada apa dengan hubungan kita. Siapa yang mengatakan hal bodoh itu padamu?"

"Kai…. Dia bilang…" dan Jimin menceritakan ulang soal Kai dan kekasihnya.

"AKu bukan Kai" tegas Yoongi.

"Aku tahu. Maafkan aku hyung" Jimin memeluk pinggang Yoongi dan menyembunyikan wajahnya dibahu Yoongi.

"Aku merindukanmu, Jiminie" Yoongi mengecup kepala Jimin berkali-kali.

Jimin mendongak. Matanya mencari pada mata Yoongi dan tersenyum. Tanpa menunggu, Yoongi menunduk dan mencium Jimin tepat dibibir. Seminggu tanpa sikap manja dan rengekan Jimin, membuat Yoongi merasa kosong.

Jimin menarik Yoongi yang masih menciumnya ke sofa panjang disamping pintu studio Yoongi, menidurkan diri dengan nyaman sementara Yoongi berada diatasnya, masih menciumnya dengan lembut. Saat ciuman itu terlepas, Jimin tersenyum lagi. Mengusap lebut pipi Yoongi dan tangannya yang lain memainkan jarinya dirambut Yoongi. Jimin terkekeh saat melihat rambut Yoongi yang berantakan karena ulah tangannya.

"Yoongi hyung, tidak rindu memelukku?" Jimin berucap malu-malu. Pandangnnya menunduk dan tangannya turun kebahu Yoongi.

Tidak perlu lulus strata tiga untuk tahu maksud dari ucapan Jimin. Yoongi berdiri, mematikan lampu studio dan hanya ada penerangan dari layar computer milik Yoongi, kemudian mengunci pintu dan mengunci Jimin diantara kedua tangannya. Melepaskan rindu miliknya dan Jimin.

.

.

.

TBC

Wiu… wiu… wiu…

*Tukang motong adegan ena-ena numpang lewat*