"Ya Tuhan…" Jungkook menggusak rambutnya frustasi. Dari seluruh manusia yang ada di bumi ini, kenapa harus Jimin yang lagi-lagi muncul didepan rumahnya.

"Biarkan aku masuk" Jimin melipat tangan di depan dada.

"Aku sibuk, jangan ganggu aku. Pergi sana" usir Jungkook.

"Oh, oke. Aku kerumah Taehyung saja kalau begitu" Jimin berbalik.

"Masuk!" perintah Jungkook keras.

Jimin terkekeh dibalik punggungnya. "Ya sudah kalau kau memaksa. Aku masuk" Jimin melewati Jungkook begitu saja.

.

.

.

RUN TO YOU

.

.

.

"Apa?" Tanya Jungkook tak sabar.

"Sepertinya kau sangat buru-buru. Tak apa, aku akan kerumah Taehyung saja untuk cerita" ucap Jimin.

"Aku akan memastikan panci di dapurku melayang ke wajahmu kalau kau berani menganggu Taehyung-ku dengan cerita drama mu" ancam Jungkook. "Cepat katakan, ada apa?" Jungkook menghempaskan diri dan duduk di sofa.

"Ya sudah" Jimin mendudukan diri di sofa tunggal ruang tamu Jungkook.

"Ada apa?"

"Ini soal Yoongi hyung" mulai Jimin.

"Ada drama apalagi kali ini?"

"Dia tidak memakai gelang kami. Aku baru mengetahuinya semalam saat dia datang ke acara kompetisi tari digedung kesenian" ungkap Jimin. Mimic wajahnya terlihat sedih ditahan-tahan, membuat Jungkook jadi ikut sedih tapi juga ditahan-tahan.

"Lupa mungkin" komentar Jungkook.

"Bagaimana perasaanmu jika Taehyung tidak memakai barang yang biasa dipakai setiap hari, terlebih lagi itu pemberianmu" Jimin meminta dukungan atas drama barunya.

"Bisa saja lupa kan?" Jungkook memutar bola matanya.

"Bagaimana bisa lupa? Selama ini Yoongi hyung selalu memakainya, bahkan mandi pun tidak dilepas" Jimin berkeras.

"Dari mana kau tahu Yoongi hyung memakai gelang saat mandi?" Jungkook menatap curiga.

"Huh? I-itu, Yoongi hyung sendiri yang bilang!" Jimin berucap panic. Hampir saja. "Intinya, Yoongi hyung sudah tidak memakai gelang kami lagi. Aku rasa Yoongi hyung tidak sayang padaku lagi" Jimin berucap sedih.

"Bagaimana bisa kau menilah kasih sayang seseorang hanya karena gelang?" Jungkook mengeryit tak paham dengan isi kepala Jimin.

"Coba itu Taehyung yang melakukannya? Apa kau akan berkata begitu juga dengan santainya? Bayangkan, kau membelikan Taehyung gelang atau cincin atau anting, atau apapun, Taehyung menggunakannya setiap hari dan tiba-tiba, Taehyung sudah tidak lagi memakainya. Bagaimana perasaanmu?" tantang Jimin.

Jungkook terdiam. Ingatannya kembali pada barang couple miliknya dan Taehyung. Sebuah cincin yang mereka beli bersama dan mereka pakai setiap hari. Diam-diam Jungkook menyentuh jari manisnya, meraba cincin yang berada disana dan termenung lama.

"Aku pasti menangis…" guman Jungkook.

"Benarkan?" Jimin melipat tangannya didada. "Lalu, aku harus bagaimana sekarang?" Jimin menunduk sedih.

"Aku tidak tau…" ucap Jungkook sedih. Terpengaruh dengan drama yang dibuatnya sendiri didalam kepalanya.

.

.

.

"Maaf lama…" Seokjin mendudukan diri di bangku penumpang.

Hari ini Namjoon ingin mengajaknya makan siang bersama dan tempatnya berada cukup jauh dari kota Seoul. Sekali lagi, mereka sedang backstreet dari Yoongi.

"Tidak kok. Capek?" Namjoon memijit pelan tengkuk leher Seokjin.

"Lumayan. Hari ini pasien IGD lumayan ramai" cerita Seokjin. "Kita akan kemana?" Seokjin menatap Namjoon, wajahnya memerah saat melihat mata Namjoon yang menatap sayang padanya.

"Makan" Namjoon tersenyum. "Ingin mengajak Yoonji sekalian?" Tanya Namjoon.

Seokjin menggeleng. "Kata Jungkook, Yoonji sudah makan dan sedang tidur siang dikamarnya"

"Oh, mungkin lain kali kita bisa ajak Yoonji lagi" Namjoon menarik tangannya dari tengkuk Seokjin.

"Kau tidak keberatan membawa anak kecil?" Tanya Seokjin penasaran.

"Aku suka anak kecil."

Seokjin tersenyum mendengar ucapan Namjoon. "Kalau Yoongi?"

Namjoon melirik pada Seokjin yang sedang tertawa kecil disampingnya.

"Kau sudah siap memperkenalkanku pada Yoongi sebagai kekasih, Dokter Seokjin?" gentian Namjoon menantang Seokjin.

"Aku rasa mentalku belum cukup" Seokjin tertawa kecil lagi.

"Manis sekali" puji Namjoon tanpa sadar, membuat pipi Seokjin memerah dan tawanya terhenti tiba-tiba.

Namjoon memberhentikan mobilnya disebuah restoran setelah satu jam lebih perjalanan dari kota Seoul. Keduanya turun bersama dan memilih duduk paling sudut, lagi-lagi karena takut Yoongi tiba-tiba muncul.

Setelah memesan makanan, keduanya sibuk dengan ponsel masing-masing. Seokjin yang sedang menelepon Jungkook untuk bertanya soal Yoonji dan Namjoon yang sibuk membalas pesan Jihoon.

Namjoon merasa sangat bersalah Pada Jihoon. Dia tidak bisa tiba-tiba hilang begitu saja, rasanya sangat jahat langsung mencampakan Jihoon begitu saja. Setidaknya, Namjoon masih ingin berteman dengan Jihoon, meskipun intensitas mereka berkirim kabar sudah sangat berbeda drastis. Jika awalnya nyaris setiap jam Namjoon dan Jihoon bertukar pesan, kali ini Namjoon sengaja membalas pesan Jihoon jauh lebih lama dari seharusnya.

"Namjoon?" Seokjin memiringkan kepalanya penasaran. Ini sudah panggilan ketiga dan Namjoon seperti tidak berada ditempatnya.

"Namjoon?" Seokjin menyentuh tangan Namjoon pelan dan membuat Namjoon terkejut. "Kau bosan?"

"Ah? Ne?" Namjoon kebingungan.

"Bukan apa-apa" Seokjin tersenyum dan menarik kembali tangannya. Meletakkannya diatas pangkuan pahanya.

"Maaf" guman Namjoon, merasa bersalah karena dia mengabaikan Seokjin.

Seokjin terdiam. Selama makan pun keduanya tidak banyak bicara, hanya sesekali jika Namjoon bertanya, maka Seokjin akan menjawab seperlunya.

Selesai makan, Seokjin meminta untuk langsung pulang. Dia masih ada urusan dirumah sakit dan Namjoon hanya mengiyakan. Menggenggam tangan Seokjin erat, membukakan pintu untuk Seokjin dan kembali menyetir.

Selama perjalanan menuju rumah sakit, Seokjin masih saja diam dan Namjoon makin merasa bersalah. Merasa ada yang tidak beres, Namjoon meminggirkan mobilnya dan berhenti dipinggir jalan.

"Kenapa berhenti?" Seokjin bertanya penasaran. "Mobilnya rusak?"

"Seokjin, ada apa?" Namjoon melepas Seatbelt miliknya dan memiringkan tubuhnya kearah Seokjin.

"Huh?"

"Ada apa? Kenapa jadi diam?" Tanya Namjoon lagi.

"Oh, maaf. Aku pikir kau butuh waktu sendiri untuk berpikir. Sepertinya ada sesuatu yang menggangumu" jelas Seokjin.

Namjoon menunduk dan mendesah pasrah. Ini pasti karena Namjoon sempat mengabaikan Seokjin saat direstoran. Seokjin jadi salah paham.

"Maaf" guman Namjoon.

"Namjoon, nanti aku terlambat kerumah sakit"

"Setelah pulang dari rumah sakit, aku pikir kita perlu bicara berdua" ucap Namjoon.

"Kita bisa menyelesaikannya sekarang, kan?"

"Aku tau kau kesal karena aku sempat mengabaikanmu"

"AKu pikir kau yang sedang menyesal telah menjalin hubungan denganku" ungkap Seokjin.

Namjoon mengernyit. "Seokjin, kita benar-benar harus bicara berdua setelah kau pulang kerja" putus Namjoon.

Namjoon memilih duduk di café yang tak jauh dari rumah sakit sambil menunggu Seokjin pulang kerja. Namjoon termenung, kembali memikirkan ucapan Seokjin yang jelas-jelas keluar dari topic. Tidak sekalipun terlintas dalam kepala Namjoon kalau dia menyesal menjalin hubungan dengan Seokjin, tapi bagaimana bisa Seokjin mengambil kesimpulan seperti itu? Namjoon tak habis pikir.

Jam enam sore, Seokjin menelepon Namjoon dan Namjoon bergegas menjemput Seokjin kerumah sakit.

"Kita akan kemana?" Tanya Seokjin sambil melepas jas putih yang memeluk tubuhnya.

"Kita butuh suasana tenang, hanya berdua. Kita ke apartemenku" putus Namjoon.

Saat sampai di apartemen Namjoon, Seokjin hanya terdiam menunggu diruang tamu apartemen yang cukup luas dan sedikit berantakan. Khas anak laki-laki. Seperti Yoongi yang agak berantakan, batin Seokjin.

"Minumlah" Namjoon menyerahkan jus kalengan dingin pada Seokjin dan mendudukan diri dibawah karpet, berhadapan dengan Seokjin yang duduk di sofa.

"Terimakasih" guman Seokjin pelan. Duduknya tak lagi nyaman karena Namjoon memeluk kakinya dan menyandarkan dagunya dipaha Seokjin.

"Maaf karena sempat mengabaikanmu, tadi. Tapi aku tidak berpikir apa-apa. Kepalaku hanya kosong sampai aku tidak mendengar kau memanggilku" mulai Namjoon. "Tolong jangan berkata seperti itu lagi Seokjin. Aku tidak suka kau rendah diri"

"Aku hanya takut kau berubah pikiran, aku rasa belum terlambat untuk mengakhiri semunya."

"Damn it, Kim Soekjin!" geram Namjoon. "Ah, atau kau yang berubah pikiran?" Namjoon menatap mendongak pada Seokjin yang duduk makin tak nyaman di sofa.

"Aku tidak"

"Aku tau kau belum percaya padaku, kau boleh curiga, tapi jangan berpikir kalau aku main-main Seokjin. Aku mencintaimu" Namjoon berucap geram. "Aku tidak tau apa yang terjadi di masalalu antara kau dan mantan suami mu dulu, tapi aku bukan dia. Aku Namjoon! Jangan membandingkan aku dengannya"

"Namjoon, kau membuatku takut…" cicit Seokjin saat suara Namjoon mulai meninggi.

Namjoon tersentak. Tak seharusnya dia tersulut emosi disaat seperti ini. "Maaf Seokjin, Maafkan aku…" Namjoon menarik tangan Seokjin dan mengecupnya beberapa kali.

"Bagaimana dengan Jihoon?" Seokjin sejujurnya cukup terganggu dengan hubungan Namjoon dan Jihoon. Bukan tanpa alasan, Seokjin sudah pernah melihat sendiri bagaimana protektifnya Namjoon pada Jihoon dan perasaan kekanakan bernama cemburu, benar-benar menggangu Seokjin.

"Aku sudah berusaha menghindar, aku tau aku brengsek, tapi aku tidak ingin dia merasa tersakiti, Seokjin"

Seokjin terdiam. Dia benci harus mengakui ini, tapi Seokjin lagi-lagi merasa cemburu.

"Namjoon, sudah hampir malam. Aku harus menjemput Yoonji" Seokjin berdiri dan Namjoon juga ikut berdiri.

"Seokjin, aku tau kau merasa ini tak adil untukmu, tapi aku bersumpah, aku tidak memiliki perasaan apapun pada Jihoon. Aku tidak akan bohong, aku memang masih bertukar pesan dengannya, tapi aku mencoba untuk sejarang mungkin membalas pesannya" Namjoon menjelaskan panjang lebar, menghadang Seokjin yang siap pergi dari apartemennya.

"Kau membuatku bingung, Namjoon" Seokjin menatap kosong pada Namjoon.

"Aku tau, maafkan aku Seokjin. Beri aku waktu untuk menyudahi ini semua tanpa menyakiti Jihoon." Namjoon memohon, memeluk Seokjin yang enggan membalas pelukan Namjoon. "Kami tidak ada hubungan apa-apa. Aku hanya mencintaimu" Namjoon mengeratkan pelukannya pada Seokjin.

"Kau membuatku makin bingung. Sepertinya kau perlu berpikir ulang."Seokjin berusaha melepas pelukan Namjoon pada tubuhnya.

"Aku tidak perlu berpikir ulang, ku mohon Seokjin, jangan bergini" pinta Namjoon.

Seokjin menghela napas lelah, dia mencintai Namjoon tapi sepertinya ada yang salah dengan hubungan mereka. Seokjin mungurai pelukannya dan mengelus pipi Namjoon pelan dan tersenyum.

"Pikirkan sekali lagi, Namjoon" Seokjin tersenyum maklum.

"Aku hanya menginginkanmu. Aku tidak perlu berpikir lagi" Namjoon menggeleng.

"Selesaikan lebih dulu dengan Jihoon, setelahnya kau bisa datang padaku untuk memperjelas keadaan kita" Seokjin tersenyum, masih mengelus wajah Namjoon yang terlihat kusut.

"Aku harus pulang" Seokjin menarik wajah Namjoon mendekat dan memberikan kecupan di bibir Namjoon.

Tanpa Seokjin duga, Namjoon menarik pinggang Seokjin, memeluknya posesif dan memperdalam ciuman mereka. Namjoon tak ingin Seokjin pergi. Namjoon juga tak ingin masalah ini berlarut-larut dan membuat hubungan mereka yang baru saja dimulai menjadi rusak.

"Namjoon…" cicit Seokjin saat ciuman Namjoon terlepas. Tangannya yang tertekuk berada diantara mereka, memberi jarak pada tubuhnya dan Namjoon.

Namjoon tak lagi bersuara. Namjoon tak lagi peduli. Dia hanya tidak ingin Seokjin pergi. Setidaknya sampai masalah mereka terselesaikan lebih dulu.

Namjoon kembali mencium Seokjin saat merasa Seokjin memberikan lampu hijau untuk Namjoon melanjutkan ciumannya. Seokjin terdorong kearah sofa dan terjatuh dengan Namjoon berada diatasnya, sama sekali tak melepas ciuman mereka.

Seokjin menggeliat tak nyaman, saat wajah Yoonji dan Yoongi terlintas, pelan-pelan Seokjin mendorong dada Namjoon dan melepaskan ciuman mereka.

"Kenapa?" Tanya Namjoon diantara nafasnya yang mulai memberat.

"A-aku harus pulang. Yoonji menunggu…" cicit Seokjin.

Namjoon menunduk dan menenggelamkan wajahnya dileher Seokjin, memeluk Seokjin erat untuk menenangkan sesuatu yang mulai membakar Namjoon dari dalam.

"Maaf, aku tidak bisa" Seokjin merasa bersalah dan mengelus rambut Namjoon yang masih memeluknya erat.

"Aku yang harusnya minta maaf." Namjoon berguman. "Lima menit, biarkan aku begini lima menit" Namjoon mengeratkan pelukannya.

"Namjoon, kau berat" ucap Seokjin, mencairkan suasana dan Namjoon terkekeh.

.

.

.

Yoongi sedang sibuk mencari-cari dimana keberadaan gelang keramat miliknya berada. Semalam Yoongi benar-benar diabaikan oleh Jimin. Telepon tidak diangkat, pesan tak dibalas bahkan sampai sore ini Yoongi belum menerima pesan ataupun telepon.

"Ingat Yoongi, dimana gelangmu…" Yoongi mondar-mandir di kamar. Setelah mengecek seluruh studio sampai kesudut-sudutnya, kali ini Kamar Yoongi yang menjadi sasarannya.

"Aku tidak ingat…" Yoongi mendesah putus asa dan menjatuhkan badannya diatas tempat tidur. Dia benar-benar tidak ingat dimana gelangnya berada. "Bagaimana ini?" Yoongi menggusak rambutnya.

Saat sedang sibuk merana, ponsel Yoongi berbunyi dan memunculkan nama Chanyeol disana. Yoongi langsung merampas ponselnya dan buru-buru mengangkat telepon Chanyeol.

"Ne, sajangnim?" Yoongi mendudukan dirinya diatas tempat tidur.

"Ini soal lagu mu dan Seunghoon. Bisa ke ruanganku sekarang?"

"Oh? A- begini sajangnim, aku sedang berada di rumah. Mungkin setengah jam lagi aku akan sampai di kantor."ucap Yoongi tak enak hati.

"Ya sudah. Nanti langsung keruanganku" Chanyeol menutup sambungan telepon, menyisakan Yoongi yang lagi-lagi menghela napas.

"Min Yoongi pabooo, bisa-bisanya kau menghilangkan gelangmu sendiri" Yoongi mengacak rambutnya frustasi.

.

.

.

"Sebenarnya kalian berdua ini kenapa?" Taehyung menggaruk kepalanya yang tak gatal. Didepannya, Jimin dan Jungkook berubah seolah menjadi jaksa penuntut.

"Jawab saja. Kenapa kalian melepas barang couple yang biasa kalian pakai setiap hari?" Tanya Jungkook, memaksa.

"Bisa saja karena lupa kan?" Taehyung menjawab dengan gemas.

"Yang lebih masuk akal" tuntut Jimin.

"Memangnya alasan lupa tidak masuk akal?" Taehyung mengernyit heran.

"Untuk kasus ini, kurang masuk akal" jawab Jungkook.

Taehyung memutar bola matanya, pertanda mulai kesal.

"Sayang, aku tidak pernah melepas cincin kita. Bagaimana aku bisa memberi jawaban yang memuaskan?" Taehyung merana. Sudah setengah jam dia dipanggil kerumah Jungkook hanya untuk di adili atas sesuatu yang bukan salahnya.

"Aduh, Taetae hyung harus berpikir. Kenapa kalian bisa melepas barang couple kalian?" Tanya Jungkook lagi.

"Aku tidak tau, Jeon Jungkook. Aku tidak pernah melepas cincin kita…" Taehyung mengeram.

"Dasar tidak bisa di andalkan" cibir Jimin.

"Benar, dasar payah" tambah Jungkook.

"Kenapa jadi aku yang salah?" Taehyung membela diri. "Memangnya siapa yang melepas barang couplenya? Yoongi hyung?"

Jungkook dan Jimin kompak tidak ingin menjawab.

"Kalau memang Yoongi hyung, kenapa tidak Tanya pada Yoongi hyung saja? Kenapa aku yang jadi korban?" Taehyung protes.

"Dasar drama" cibir Jiminlagi.

"Benar, dasar berlebihan" Jungkook menambahi.

Sebenarnya siapa yang drama disini, Park Jimin, Jeon Jungkook?

"Dengar ya. Karena aku bukan yoongi hyung, jadi aku tidak akan tau jawabannya sama sekali, percuma kalian memaksa dan melontarkan pertanyaan yang sama seribu kali pun, aku tidak akan memberikan jawaban yang kalian inginkan, oke? Jadi, silahkan bertanya pada tersangkanya langsung!" Taehyung berkacak pinggang.

"Ya sudahlah" ucap Jungkook dan Jimin tak peduli.

"Memang lebih baik kau bertanya langsung pada Yoongi hyung. Percuma bertanya pada Taetae hyung, sama sekali tidak membantu" Jungkook menepuk-nepuk bahu Jimin.

"Kau benar. Aku akan menemui Yoongi hyung saja" Jimin membenarkan.

Taehyung berkedip tak percaya. Sudah di adili, di hina pula.

.

.

.

Jimin pergi dari rumah Jungkook dan memilih melihat Yoongi ke studio. Dari kabar terakhir yang Jimin dapat dari Yoongi, Yoongi bilang dia akan berada di studio sampai malam. Bahkan tanpa dikabari pun Jimin sudah tau Yoongi pasti di studio.

Jimin melirik keadaan lantai tempat para produser bekerja yang berisi ruangan-ruangan kedap suara dan berlari ke ujung dimana studio milik Yoongi berada. Jimin sengaja membawakan Yoongi makan malam, walaupun Jimin sedang ngambek, tapi dia tidak ingin Yoongi lupa makan seperti biasa, Jimin masih tetap memperhatikan kesehatan Papa anak-anak.

Jimin mengetuk pintu kaca studio Yoongi tapi tidak ada jawaban. Lampu studio menyala tapi tidak ada siluet Yoongi terlihat. Jimin mencoba mengintip kearah sofa, tapi tidak bisa terlihat sama sekali. Saat Jimin meraih handle pintu, pintu ruangan itu terkunci, membuat Jimin sedikit kesal.

"Jimin pacar Min tidak punya tata krama Yoongi?" Joohyun menyapa Jimin yang berdiri didepan pintu studio Yoongi. Dia berjalan penuh semangat kearah Jimin yang tersenyum ramah juga padanya.

"Hai, hyung-nim. Lama tidak bertemu" Jimin membungkuk hormat.

"Mencari Yoongi?"

"Ne, hyung-nim." Jimin mengangguk.

"Dia ada dikantor sajangnim. Sedang rapat internal"

"Oh…" Jimin cemberut kecewa.

"Sebentar lagi mungkin selesai. Sudah jam delapan, Sajangnim pasti akan pulang sebentar lagi. Tunggu saja di studionya" ucap Joohyun.

"Studionya terkunci" Jimin memainkan handle pintu Yoongi berkali-kali.

"Tenang saja, serahkan pada Joohyun hyung-nim. Semua masalah ada solusinya" Joohyun menaik turunkan alisnya dan berlalu meninggalkan Jimin. Tidak sampai lima menit, Joohyun sudah muncul lagi dengan sebuah kunci ditangannya.

"Hyung-nim punya kunci studio Yoongi-hyung?" Jimin menaikkan alisnya.

"Oh, sebenarnya ini kunci rahasia, kunci ini bisa dipakai kesemua lubang kunci studio para produser. Tapi karena kau adik sajangnim, aku akan membantumu. Tolong ceritakan kebaikan ku ini pada Sajangnim. Tidak perlu sungkan menceritakan kebaikan ku ini" Joohyun menepuk bahu Jimin membuka pintu.

Jimin hanya mengangguk sambil tertawa.

"Terimakasih hyung" Jimin masih terkekeh.

"Sama-sama. Aku harus pergi sekarang. Sampai bertemu lagi" Joohyun berlalu, meninggalkan Jimin didepan pintu studio Yoongi yang terbuka.

Lebih dari setengah jam Jimin menunggu Yoongi dalam studio. Semua sudah Jimin lakukan, memeriksa laci studio Yoongi, memandang lukisan dan poster, memainkan miniatur, memeriksa kamar mandi studio bahkan memainkan piano milik Yoongi. Jimin sudah bosan.

Jimin memilih menidurkan tubuhnya disofa saat pintu seperti dikunci dan dibuka kembali, Jimin mendudukan diri dan melirik pada pintu kaca buram yang terbuka, Yoongi muncul disana dengan kaos hitam lengan pendek dan celana jeans hitam dengan aksen robek di dengkul.

Yoongi tidak sadar ada Jimin di studionya langsung berjalan kedepan computer, menyalakannya dan meremas rambutnya cukup kuat, Jimin meringis melihatnya.

"Penat sekali" guman Yoongi pelan sambil memijit kepalanya.

Jimin menatap sedih pada Yoongi. Beban pekerjaannya pasti banyak sekali ditambah lagi harus menghadapi sikap Jimin yang kekanakan.

Computer menyala, Yoongi menegakkan badannya dan sibuk membuka aplikasi di computer. Jimin tidak paham, tapi sepertinya itu digunakan untuk membuat lagu.

Yoongi yang sedang serius bekerja menjadi seribu kali lebih tampan dimata Jimin, Yoongi bahkan bisa tidak sadar ada orang lain didalam studionya. Kepala Yoongi pasti sedang penuh sekali. Jimin ingin memeluk Yoongi tapi dia ingat kalau dia sedang ngambek, tapi hati kecilnya merasa tak tega melihat Yoongi.

Yoongi mengambil ponselnya dan Jimin penasaran, sedikit memanjangkan lehernya hanya untuk tahu siapa yang ingin dihubungi Yoongi. Saat ponsel itu tertempel ditelinga, Jimin makin penasaran dan menajamkan pendengarannya.

"Appa, sudah dirumah? Kalian sudah makan?" Yoongi menyadarkan kepalanya disandaran kursi.

Jimin meleleh. Bahkan disaat banyak hal yang menumpuk dikepala Yoongi, Yoongi tidak lupa menanyakan kabar keluarganya. Yoongi-nya manis sekali.

"Oh, Yoonji sudah tidur?" Yoongi kembali memijat kepalanya. "Sepertinya malam ini aku lembur, Appa. Tidurlah lebih dulu. Kalau kemalaman, aku akan menginap distudio saja… ne, Appa. Selamat malam" Yoongi meletakkan ponselnya diatas pahanya dan dia melihat kearah pergelangan tangannya. Dia tersadar, gelangnya belum ditemukan.

Yoongi menghela nafas lelah. "Kemana aku menaruh gelang itu" guman Yoongi, tangannya sibuk mengacak meja computer mencari-cari lagi.

Saat sibuk mencari, kebawah lantai, Yoongi melirik kearah bayangan yang terlihat dan membalikan badannya. Jimin disana, duduk disofa, wajahnya cemberut kesal.

"Jiminie?" Yoongi berdiri, terkejut. "Sejak kapan kau ada disitu?"

"Sejak tadi." Jawab Jimin ketus.

"Kenapa tidak memanggil?" Yoongi berjalan dan mengecup kepala Jimin yang masih duduk disofa dengan tangan terlipat diatas dada, oh, jangan lupa wajah cemberutnya.

"Yoongi hyung, makan dulu!" Jimin menyerahkan bungkusan makanan pada Yoongi dengan ketus dan Yoongi terima dengan senyum lucu di bibirnya.

"Baik sekali, pacar siapa ini?" goda Yoongi.

"Jiminie sedang marah! Jangan sok akrab!" ketus Jimin lagi.

"Oh, ya sudah, tahan dulu marah-marahnya…" Yoongi terkekeh dan mulai makan.

Selesai makan, Yoongi keluar studio untuk membuang sampah, sementara Jimin membuatkan kopi untuk Yoongi. Ingat, meskipun kesal harus tetap sayang papa anak-anak!. Itu aturan nomor 1.

"Ini kopinya hyung" Jimin meletakan kopi buatannya diatas meja dan kembali duduk di sofa.

"Terimakasih"

"Jadi, kenapa hyung tidak memakai gelang kita lagi?" Jimin memulai introgasi.

Yoongi duduk miring dengan kaki terlipat diatas sofa menghadap Jimin, pelan-pelan mengambil tangan Jimin dan menggenggamnya erat.

"Gelangnya hilang…" sesal Yoongi. "Aku sudah mencarinya, tapi tidak ketemu"

"Kenapa bisa hilang?"

"Entahlah" Yoongi mendongakkan kepalanya keatas dan kemudian menunduk. "Maaf…" Guman Yoongi.

"Yoongi hyung bosan padaku?" Jimin memasang wajah sedih.

"Hey, kenapa berpikir begitu? Mana mungkin aku bosan" Yoongi menarik kepala Jimin, memeluknya erat dan mengecup kepala Jimin berkali-kali.

"Nanti kita beli barang yang sama lagi, oke? Aku akan tetap mencari gelangnya."Yoongi mengelus kepala Jimin.

"Janji jangan dihilangkan lagi?" Jimin memajukan kelingkingnya. Yoongi terkekeh.

"Janji" Yoongi mengaitkan kelingking dan kelingking Jimin, memeluk gemas dan mengecup kepala Jimin lagi.

"Hyung akan menginap di studio?" Jimin mendongak dan dihadiahi kecupan dihidung oleh Yoongi.

"Mungkin. Lagian besok tidak kuliah, ku rasa menginap di studio juga tak masalah. Terkadang lebih banyak dapat inspirasi saat tengah malam, keadaan lebih tenang."

Jimin menarik kepalanya dan mengelus tangan Yoongi yang berada diatas paha, kemudian tersenyum lemah. "Jangan terlalu berlebihan dalam bekerja, hyung. Badanmu butuh istirahat"

"Gomawo" Yoongi tersenyum dan menggusak rambut Jimin. "Kemana saja seharian?"

"Kerumah Jungkook"

Yoongi menaikkan alisnya, seingatnya Jimin dan Jungkook tidak akrab. Mereka lebih sering bertengkar dari pada akur.

"Tadi aku bertemu Yoonji dan Ahjussi" cerita Jimin.

"Oh ya?"

"He-eum" Jimin mengangguk semangat. "Tapi Cuma sebentar. Ahjussi buru-buru, dan sejak siang aku tidak bisa bermain dengan Yoonji karena dia diajak pergi arisan saat baru bangun tidur"

Yoongi tertawa.

"Aku baru tau kalau Yoonji setiap hari di titipi di rumah Jungkook" Jimin memandang penasaran pada Yoongi.

"Dari kecil memang sudah sering di titip, Jeon Ahjumma juga tidak keberatan. Dia malah sering menelepon kerumah supaya aku mengantarkan Yoonji kerumahnya sekalipun di hari minggu" cerita Yoongi. "Kasihan kalau ditinggal dirumah sendiri. Appa kerja dan aku kuliah. Kalau di rumah Jungkook, ada ahjumma yang menjaga" lanjut Yoongi.

"Kalau kita punya anak?" Jimin bertanya dengan mimic wajah yang serius.

Yoongi tertawa.

"Uri Jiminie ingin punya anak?" Yoongi terkekeh dan menarik Jimin duduk diatas pangkuannya.

"Kenapa Yoongi hyung tertawa?" Jimin mengeryit dan mengalungkan tangannya dileher Yoongi.

"Kalau kita punya anak ya…" Yoongi terlihat berpikir serius dan Jimin yang merasa dipermainkan, kemudian mencubit perut Yoongi. "Sakit.." Yoongi menaikkan alisnya.

"Sudah ah, Yoongi hyung menyebalkan." Jimin ingin turun dari pangkuan Yoongi, tapi Yoongi buru-buru mengalungkan tangannya dipinggang Jimin, membuat Jimin tidak bisa lari, malah makin menempel pada Yoongi.

"Kalau kita punya anak, mungkin anak kita bisa kita titipkan pada Jeon Ahjumma juga" komentar Yoongi. "Memangnya Jiminie ingin punya anak dari ku?" Yoongi terkekeh dengan ucapannya sendiri.

Jimin memerah.

"Mau pulang…" Jimin mengalihkan pembicaraan.

"Benar, sudah malam. Ciuman sebelum tidurnya?" goda Yoongi.

Jimin terlihat ragu. Tangannya yang mengalung dileher Yoongi sudah bertengger diatas kedua bahu Yoongi. "hyung, pintunya sudah terkunci?" Tanya Jimin pelan.

Yoongi menelan ludahnya susah payah, pertanyaaan Jimin terdengar seperti mengundang ditelinganya.

"Kenapa bertanya begitu?" Yoongi mengelus pinggang Jimin pelan dan berakhir jatuh disisi samping tubuh Jimin.

"Hanya ingin memastikan saja" ucap Jimin gugup, membuat Yoongi bertambah gugup. "Sudah dikunci?" Tanya Jimin lagi.

"Sudah" Yoongi mengangguk.

Jimin menunduk saat mendapatkan jawaban pasti dari Yoongi, malu-malu Jimin mendekatkan wajahnya pada Yoongi dan mencium kening, mata, hidung dan berakhir dengan mengecup bibir Yoongi.

Yoongi tersenyum. "Lagi" bisik Yoongi.

Jimin merasa ada palu besar menghantam dadanya. Yoonginya sangat tampan malam ini. Malu-malu, Jimin kembali mengecup bibir Yoongi. "Sudah" Bisik Jimin didepan bibir Yoongi.

Yoongi meraup bibir Jimin dengan lembut. Jimin bisa merasakan tangan nakal Yoongi yang sudah bergerilya menjelajah dibalik kaos Jimin. Jimin meremas rambut Yoongi saat Yoongi dengan sengaja mengeluskan tangannya diperut Jimin, memberikan sensasi geli menyenangkan.

"Yoongi hyung…" cicit Jimin saat ciuman Yoongi beralih kelehernya, tangannya dengan gemas meremas rambut Yoongi berkali-kali sebagai pelampiasan.

Sesuatu terbangun dibawah sana. Jimin bisa merasakannya. Diantara paha Yoongi yang sedang memangkunya, Jimin tau ada sesuatu yang terbangun disana. Jimin memerah. Dengan sedikit keberanain, Jimin menarik Yoongi, membuat Jimin tertidur dengan kepala yang menyadar dilengan sofa dan Yoongi yang masih sibuk menjelajah dilehernya.

Jimin memekik pelan saat Yoongi mengigit bagian dadanya, Nafasnya memburu dan wajahnya memarah malu. Dia ingin protes, tapi sepertinya Yoongi sedang sibuk sendiri disana.

Jimin menarik wajah Yoongi dari dadanya dan mengecup bibir Yoongi kemudian mengerucutkan bibirnya.

"Jangan di gigit" guman Jimin malu-malu. "Sakit"

Yoongi terkekeh. "Apanya?"

"Dadanya, jangan di gigit. Sakit hyung" protes Jimin.

Yoongi tertawa. "Maaf…" Yoongi mencium Jimin lagi dan kemudian melepas ciumannya.

"Jiminie, kakimu" ucap Yoongi saat dia tidak bisa berdiri, ada kaki Jimin yang melingkar di pinggangnya.

"Huh?"

"Sudah malam, nanti sajangnim mencarimu…" Yoongi mengusap rambut Jimin yang sedikit lembab dan menarik turun kaos yang dipakai Jimin.

Perlahan, Jimin menurunkan kakinya dan menurunkan tangannya yang melingkar dileher Yoongi hingga kebahu Yoongi.

"Tapi hyung…" Jimin menatap sayu pada Yoongi.

"Kita tidak bisa melakukannya sekarang, Jiminie" Yoongi mengecup hidung Jimin yang masih terlihat protes.

"Kenapa? Apa hyung tidak tertarik lagi padaku?" Jimin terlihat panic.

"Astaga sayang… berhenti menyalahkan dirimu. Kita tidak bisa melakukannya soalnya tidak ada pengaman"

Jimin merona malu. Malu sekali.

"Tapi di Busan…" cicit Jimin.

"Kita pakai pengaman, Jiminie"

Jimin terdiam. Kemana saja nyawanya selama di Busan sampai-sampai tidak tahu Yoongi melakukannya dengan pengaman.

"Jiminie?"

Jimini mengerjabkan mata beberap kali, matanya menatap Yoongi sayu.

"Yoongi hyung…" panggil Jimin pelan. Tangannya meluncur turun sampai kelengan Yoongi.

"Ne?"

"Aku tidak keberatan melakukannya tanpa pengaman" cicit Jimin.

Yoongi merasa jantungnya seperti akan putus jatuh kelambung. Wajahnya memerah samar.

"Jim, kau yakin?" Tanya Yoongi.

Yoongi memaki dirinya sendiri dalam hati saat pertanyaan itu terlontar dari mulutnya. Harusnya bukan itu pertanyaan keluar, harusnya Yoongi menahan diri dan seharusnya juga Yoongi harus belajar menahan godaan, godaan bernama Park Jimin, bukannya malah terlena.

"Kalau dengan Yoongi hyung, tidak apa…" cicit Jimin. "Cuma Yoongi hyung yang boleh menyentuh Jiminie…"

Yoongi hilang akal. Sekuat apapun iman Yooongi, jika Jimin yang menggoda, dia tidak akan pernah bisa menang.

"H-hyung, matikan lampunya…" Jimin berucap gugup.

"Ani, malam ini aku ingin melihatmu seluruhnya"

Jimin merona hebat.

.

.

.

TBC

.

.

Wiu… wiu… wiu…

Kang potong adengan naena lewat disaat yang tidak tepat, lagi.