"Keren…." Mata Jimin berbinar melihat perut Tao yang terlihat membuncit saat Tao menarik kaos kebesaran miliknya kebelakang.

"Sudah berapa bulan?" Baekhyun menatap sama noraknya dengan Jimin, seperti tidak pernah melihat orang hamil sebelumnya.

Ketiganya adalah teman masa SMA, Baekhyun berkuliah di kampus yang sama dengan Jimin, tapi beda jurusan, sementara Tao pindah ke Cina, ikut suaminya. Dan saat ini ketiganya sedang berada di Café tempat biasa mereka menghabiskan waktu untuk bergosip saat SMA.

Iya, Tao sudah menikah saat baru saja masuk kuliah. Well, tidak akan ada orang yang menolak pernikahan jika pasanganmu mencintaimu dan mapan!.

"Empat. Ini masih terlihat kecil menurutku. Perutku hanya membuncit sedikit" jawab Tao bangga.

"Tapi itu keren" komentar Jimin lagi.

"Benar, perutmu membuncit dan keras, yang paling hebat lagi, adik bayi di dalamnya…" mata Baekhyun masih saja berbinar-binar.

"Makanya menikah" ucap Tao sambil mengelus perutnya.

"Inginnya begitu, kalau saja ada orang yang mencintaiku dan sudah mapan, aku tidak keberatan menikah muda…" Baekhyun berangan.

"Jim, ku dengar kau sudah punya kekasih? Apa dia yang ada social mediamu?" Tanya Tao mengabaikan khayalan Baekhyun.

"Hum? Bagaimana? Bisa masuk kedalam kategori papa anak-anak kan?" Jimin menaik turunkan alisnya.

"Ah, dia Min Yoongi sunbae kan? Dia juga salah satu senior yang mengejar-ngejar mu ya?" Baekhyun baru teringat. Gossip sudah menyebar dikampus kalau Jimin berpacaran dengan Yoongi tapi karena waktu yang tidak tepat, Baekhyun belum sempat bertemu Jimin untuk bertanya, dan akhirnya hari ini datang juga.

"Tentu saja tidak!" Jimin memutar bola matanya. "Yoongi hyung itu sangat cuek dan tidak peka, kalau aku tidak agresif, mungkin sampai sekarang aku hanya akan menjadi 'teman Taehyung' yang dikenalnya" cerita Jimin.

"Iya sih, di fakultas kami Yoongi sunbae memang terkenal cuek dan dingin, aku saja takut padanya" curhat Baekhyun. "Dan sedikit kaget kau bisa meluluhkan batu berjalan seperti itu."

"Kau dengar gossip darimana? Apa ada gossip aneh lagi tentangku?" Tanya Jimin penasaran.

"Tidak, mereka hanya penasaran saja kenapa bisa Yoongi sunbae yang dingin itu punya pacar dan yang jadi pacarnya, kau pula orangnya…." Baekhyun tertawa.

"Memangnya Yoongi itu sebegitu cueknya?" Tao ikut penasaran.

"Mungkin karena aku tidak terlalu kenal dengannya. Salah satu temanku ada yang kenal dekta dengannya, Kyungsoo, kata Kyungsoo, Yoongi sunbae itu baik, tapi tidak terlalu peduli keadaan, apa ya istilah gampangnya…" Baekhyun berpikir sejenak.

"Masa bodo?" potong Tao.

"Benar." Jimin dan Baekhyun mengangguk setuju.

.

.

.

RUN TO YOU

.

.

.

"Hidungku gatal" Yoongi mengusap-usap hidungnya yang sejak tadi sudah bersin-bersin.

"Kau alergi serbuk bunga? Biasanya kau tidak pernah bersin-bersin kalau distudioku" Seunghoon melirik pada Yoongi yang duduk disampingnya.

"Memangnya ada bunga disini?"

"Ada, aku baru membelinya untuk pemanis ruangan" cerita Seunghoon.

"Bukan karena ada gadis yang menolak bungamu kan?" ejek Yoongi.

"Kau mau mati?" Seunghoon berdiri, mengambil bunga dari pot berisi air dan berjalan keluar studio, membuang bunga itu ke tong sampah.

"Tadi sajangnim mencarimu" Seunghoon mendudukan diri lagi disamping Yoongi yang sibuk dengan peralatan Mixer didepannya.

"Ada apa?"

"Soal idol yang akan debut besok,"

"Lalu?"

"Cuma itu kata sajangnim. Kalau kau tak sibuk, kau disuruh ke ruangan sajangnim, tapi karena aku bilang kita masih ada pekerjaan soal solois wanita senior itu, sajangnim bilang selesai ini, kau temui dia" sambung Seunghoon.

"Aku keruangan sajangnim saja dulu, kalau menunggu selesai ini bisa-bisa baru sebulan lagi aku menghadap sajangnim" Yoongi berdiri, menepuk bahu Seunghoon yang hanya mengangguk cuek.

"Oh ya, tadi aku tidak sengaja melihat Jimin disalah satu café dekat sini bersama dengan dua temannya. Temannya yang berambut coklat sangat manis, katakan pada Jimin aku menitip salam pada si rambut coklat, oke?"

"Aku tidak janji" jawab Yoongi santai.

"Ya! Min Yoongi! Aku juga mau punya pacar! Ya! Ya!" teriak Seunghoon dan detik itu juga Yoongi menutup pintu studio Seunghoon dari luar.

Saat mendorong pelan pintu ruangan Chanyeol setelah mendapat izin masuk, Yoongi mengernyit heran, bukan Chanyeol yang duduk disana tapi seorang pria separuh baya yang sedang duduk diatas kursi milik Chanyeol.

"Mencari Chanyeol?" Sapa pria itu sambil tersenyum ramah.

"Maaf mengganggu tuan, tapi tadi temanku bilang sajangnim mencariku" Yoongi membungkuk tak enak hati.

"Oh, masuk saja. Chanyeol hanya sedang ke toilet. Duduk" pria itu mempersilahkan.

Dengan ragu Yoongi berjalan dan duduk dengan canggung didepan pria paruh baya itu.

"Bekerja disini?"Tanya pria itu basa-basi.

"Ne tuan." Yoongi mengangguk canggung.

"Sebagai?"

"Produser" jawab Yoongi sopan.

"Masih muda sudah bekerja di agensi sebesar ini, orangtuamu pasti bangga" ucap pria itu ramah.

Yoongi lagi-lagi tersenyum canggung.

Yoongi jelas yakin kalau orang yang duduk didepannya ini bukanlah orang sembarangan. Dari penampilannya yang mengenakan setelan jas yang rapi dan mahal saja Yoongi sudah yakin orang ini adalah orang penting, kalau tidak, mana mungkin dia berani duduk di kursi Chanyeol. Jimin saja tidak berani.

"Aku punya anak yang sepertinya umurnya tidak beda jauh denganmu, tapi dia sangat manja" pria itu terkekeh. "Sama sekali tidak mandiri dan suka merajuk. Dia anakku yang paling kecil" sambungnya.

"Kalau anak bungsu memang biasa seperti itu, tuan. Adikku juga begitu" ucap Yoongi menimpali.

"Kau anak paling besar?" pria itu menaikkan alisnya, penasaran.

"Ne tuan. Dua bersaudara"

"Anakku juga hanya dua. Tapi keduanya punya sifat yang jauh berbeda. Yang sulung lebih mandiri sejak umur belasan, sedangkan adiknya, seperti yang ku bilang tadi…"

Yoongi hanya tersenyum.

"Appa…" Chanyeol muncul dari balik pintu kamar mandi, sedang merapikan jas miliknya.

"Sudah siap?"Pria itu melirik pada Chanyeol.

"Yoongi?" Chanyeol mengernyit dan berjalan kearah Yoongi.

"Seunghoon bilang sajangnim mencariku" Yoongi berdiri.

"Oh, iya, soal debut idol itu, aku ingin kau mengurus beberapa hal bersama Jinwoo, aku sudah memberikan list pekerjaan tambahan kalian. Tidak banyak, tapi Jinwoo bilang, dia ingin kau membantunya" Chanyeol menepuk bahu Yoongi.

"Aku tau pekerjaanmu banyak, tapi khusus untuk hari sabtu dan minggu ini, aku ingin kau membantu Jinwoo, tenang, ada komisi" Chanyeol tersenyum.

"Tapi, soal solois itu, sajangnim?" Yoongi mengernyit.

"Tenang, deadline ku undur"

"Oh, oke" Yoongi berucap tak semangat.

"Oh, astaga, Appa, kenalkan ini Min Yoongi" ucap Chanyeol sambil tertawa, merangkul bahu Yoongi sok akrab.

Yoongi membatu. Jadi daritadi orang yang duduk dan bicara dengannya ini Appa-nya Jimin? Tuan Park?

"Ya! Kenalkan dirimu dengan benar" Chanyeol masih tertawa.

"Oh, A-annyeong tuan Park, Min Yoongi imnida" Yoongi membungkuk kaku.

"Kau pacar Jiminie?" tembak tuan Park.

Yoongi membolakan matanya. Saat mendengar tawa Chanyeol yang makin keras, Yoongi sudah tau siapa ember-nya.

"Ne, tuan" Yoongi mengangguk ragu.

"Jangan takut seperti itu, aku tidak memakan manusia" tuan Park tersenyum ramah. "Oh ya, Min Yoongi, aku ingin mengenal seperti apa pacar anakku, keberatan kalau nanti malam datang kerumah kami untuk makan malam?" undang tuan Park.

Yoongi terlihat gusar. Sejujurnya dia sudah siap bertemu dengan orangtua Jimin, tapi tidak dengan cara yang tiba-tiba seperti ini. Yoongi bahkan memaki tampilannya dalam hati, bagaimana bisa dia hanya mengenakan jeans dan kaos abu polos saat bertemu Appa Jimin.

"Aku ingin kau datang kerumah kami nanti malam. Jangan beritahu Jimin, ini perintah" putus Chanyeol dan terkekeh jahat. Dia sudah menyadari ketegangan Yoongi saat merasa bahu Yoongi menegang kaku.

"Jangan memaksanya, Chanyeol-ah…" nasehat tuan Park.

"Aku akan datang, tuan" ucap Yoongi cepat.

"Berita bagus, kami akan senang kalau kau datang, apalagi Jimin" tuan Park terkekeh.

"Ya sudah, kembali bekerja sana. Aku masih ada urusan dengan keluargaku, kalau ada apa-apa telepon saja" Chanyeol mendorong bahu Yoongi keluar ruangan.

Sebelum benar-benar keluar, Yoongi berbalik dan membungkuk sopan, kemudian menutup pintu dari luar.

"Sudah berapa lama dia berpacaran dengan Jimin?" Tanya Tuan Park saat pintu sudah tertutup dari luar.

"Entahlah, Aku tak ingat Appa. Tapi yang harus Appa tau, Jimin sangat menyukainya. Kurasa Jimin rela meninggalkan kita untuk mengikuti Yoongi" Chanyeol tertawa.

"Sampai seperti itu?"

"Setiap hari aku pulang kerja, yang Jimin tanyakan hanya Yoongi. Jimin bahkan marah padaku karena membuat Yoongi lembur dan tidak bisa kencan dengannya" Chanyeol tertawa lagi.

"Appa sudah bisa membayangkan bagaimana wajahnya jika keinginannya tidak dipenuhi" tuan Park tertawa.

"Tapi setidaknya semenjak berpacaran dengan Yoongi, Jimin makin dewasa. Tidak selalu manja seperti dulu"

"Ya, pantas saja Appa dan Umma sudah jarang mendengar rengekannya ditelepon untuk menyuruh Appa dan Umma pulang, ternyata sudah ada yang lain. Hah… Appa jadi sedih, Jimin kecil kita sudah dewasa ternyata" tuan Park berjalan, diikuti Chanyeol disampingnya.

"Dia bahkan menyebut Yoongi suaminya, ada lagi sebutan noraknya untuk Yoongi. Apa ya? Papa anak-anak? Entahlah.." adu Chanyeol. Semakin banyak Chanyeol bicara, semakin banyak rahasia Jimin yang terbongkar.

"Lalu, kau kapan jadi papa anak-anakmu?" sindir tuan Park.

"Ya! Appa! Kita kan sedang membahas Jimin" protes Chanyeol.

.

.

.

"Jihoon?" Namjoon membolakan matanya saat Jihoon memeluknya.

Hari ini Namjoon khusus datang ke agensi menemui Jihoon, karena Jihoon yang memintanya.

"Namjoon hyung, kemana saja?" Jihoon mengurai pelukannya.

"Oh, maaf, aku sibuk kuliah" ucap Namjoon tak enak hati. "Kau taka pa menemuiku disini? Bukannya trainee tidak boleh…."

"Makanya aku mengajak Namjoon hyung kesini" potong Jihoon malu-malu. "Disini sangat jarang dilewati, karena lorong ini hanya terhubung ke kamar mandi. Dan lantai ini milik para produser, diruangan masing-masing sudah ada kamar mandi, jadi tidak mungkin ada yang lewat" jelas Jihoon.

"Jadi, ada apa?" Tanya Namjoon sambil menyandarkan diri disamping jendela.

"Namjoon hyung belakang ini berubah. Apa aku ada berbuat salah?" mulai Jihoon.

Namjoon menegakkan tubuhnya, jujur saja dia tidak siap menjawab pertanyaan-pertanyaan kelewat jujur dari Jihoon. Kalau boleh, Namjoon ingin menghilang saja sekarang. Dia tidak akan tega untuk mengatakan yang sebenarnya terjadi atas perubahan sikapnya. Selain itu sangat brengsek, Jihoon juga pasti sakit hati.

"Maaf, aku sibuk dikampus" Namjoon tak sepenuhnya berbohong, dia memang agak sibuk dikampus dan dengan… Seokjin.

"Jadi, bukan karena aku berbuat salah, hyung?" Tanya Jihoon memastikan.

"Bukan" Namjoon tersenyum. Rasa bersalah sudah menelannya bulat-bulat.

"Syukurlah" Jihoon merasa lega dan memeluk pinggang Namjoon dengan erat. Menyandarkan kepalanya dibahu Namjoon dengan nyaman. "Aku pikir hyung sedang menghindariku"

Namjoon merasa kepalanya seperti dijatuhi batu bata. Dia benar-benar merasa bersalah pada Jihoon. Bagaimana bisa dia menyakiti anak sebaik ini? Menjadikan Jihoon pelarian dan kemudian mencampakkannya.

"Maaf membuatmu khawatir" ucap Namjoon akhirnya karena tidak tahu lagi harus berkata apa.

Atas dasar rasa bersalah yang besar, Namjoon memeluk Jihoon erat-erat, diam-diam menjeritkan kata maaf berkali-kali dalam hati.

"Sekarang aku sudah tidak khwatir, hyung" Jihoon berguman pelan.

"Ini masih fasilitas umum kan?"

Jihoon menjadi orang pertama yang melepaskan pelukan, mendorong Namjoon pelan dan berdiri menunduk takut.

"Yoongi hyung?" Namjoon membolakan matanya. Jantungnya berdebar keras entah atas dasar apa. Rasanya seperti ketahuan selingkuh oleh Seokjin saja.

"Ya! Kalau pacaran jangan disini. Dan kau trainee, jangan mau diajak pacaran disini" ucap Yoongi santai.

"Maafkan aku PD-nim" Jihoon menunduk takut. "Namjoon hyung, ayo pergi" ajak Jihoon pelan.

"Kembali saja ke kelas, aku masih disini dulu." Namjoon menggusak rambut Jihoon, memberikan ketenangan pada sipemilik.

"Ne. permisi PD-nim" Jihoon membungkuk pada Yoongi tanpa berani melihat, secepat kilat berlari meninggalkan keduanya.

"Tidak pergi dengan pacarmu?" Yoongi terkekeh.

"Dasar pengganggu" ucap Namjoon asal.

"Ya, ini kantor, kau pikir ini hotel. Masih bagus aku yang mengetahuinya, kalau orang lain? Si trainee itu bisa kena masalah besar" ucap Yoongi berbangga.

"Kenapa kau disini hyung?" Namjoon menaikkan alisnya.

"Bukannya itu seharusnya jadi pertanyaanku?"

"Ya sudahlah, aku pergi saja. Dan yang tadi itu tidak seperti yang kau lihat" ucap Namjoon.

"Ya… ya… ya… tadi aku tidak melihat kau yang sedang memeluk erat pacarmu seperti takut diambil orang" ejek Yoongi.

Namjoon tak menanggapi dan berlalu, sementara Yoongi sudah terkekeh sendiri.

.

.

.

"Jimin?" Yoongi terkejut saat mendapati Jimin sudah duduk manis di sofa studionya. "Sudah lama?"

"Ani, baru saja. Yoongi hyung habis dari studio Seunghoon hyung ya?" Jimin berdiri tegak dideka sofa. "Hyung tidak mau memelukku?"

Yoongi tertawa dan berjalan kearah Jimin, memeluk erat si kepala Pink yang selalu merajuk padanya. "Aku merindukanmu…" bisik Yoongi.

"Rindu tapi tidak pernah menemuiku…" Jimin berucap sarkas. "Ini semua karena pacar kedua hyung!" Jimin mencubit pinggang Yoongi.

"Pacar kedua?" Yoongi mengurai pelukannya.

"Iya. Studio ini pacar kedua Yoongi hyung! Yoongi hyung lebih suka disini daripada bersamaku"

"Aigoo, aku bekerja sayang" Yoongi menggusak rambut Jimin. "Ada apa kesini?" Yoongi menarik Jimin untuk duduk kembali ke sofa.

"Oh iya! Ini…" Jimin memberikan gelang bertali merah tipis dengan bandul hurup J kecil pada Yoongi. "Gelang kita yang baru, karena Yoongi hyung sudah menghilangkan yang lama" mata Jimin menyipit tajam, menatap Yoongi dengan kesal. Jimin memang selalu kesal setiap mengingat gelang yang dihilangkan Yoongi.

"Maafkan aku" sesal Yoongi.

"Sebenarnya tidak termaafkan, tapi karena Yoongi hyung pacarku, jadi di maafkan" ucap Jimin.

"Aku harus berterimakasih karena sudah menjadi pacar Jiminie" Yoongi terkekeh.

"Nah, sudah" Jimin mengangkat pergelangan tangan Yoongi yang sudah bergelang keatas, menunjukkan satu bandul huruf J yang bergoyang-goyang.

"Bagus, gomawo" ucap Yoongi dan menarik pelan kepala Jimin untuk dikecup.

"Kalau hilang lagi, Yoongi hyung akan ku belikan borgol, lihat saja" ancam Jimin.

"Ne… semoga yang ini tidak hilang"

"Oh iya, tadi siang aku pergi dengan Baekhyun dan Tao, hyung" cerita Jimin. Tangannya bergerak untuk memeluk tangan Yoongi dan menyandarkan kepalanya dibahu Yoongi.

"Baekhyun yang anak music?"

Jimin mengangguk.

"Tao siapa?"

"Temanku saat SMA hyung. Dan hyung tau, dia sudah hamil. Keren sekali. Perutnya membuncit dan dia sudah kesusahan kalau membungkuk ataupun mengikat sepatu" cerita Jimin penuh semangat.

"Dia sudah menikah?"

"Sudah. Dia tinggal di Cina bersama suaminya."

"Berarti menikah muda ya. Berani juga" Yoongi berucap salut.

"Memangnya kenapa kalau menikah muda hyung?" Jimin memiringkan duduknya. Tangannya yang memeluk lengan Yoongi terlepas dan berganti meletakkannya diatas paha Yoongi.

"Menikah muda tidak segampang itu, Jiminie. Selain emosi yang belum stabil, menikah muda juga rentan dengan perpisahan" ucap Yoongi.

"Kenapa hyung bilang begitu?" Jimin mengernyit.

"Appa ku menikah saat umurnya masih 17 tahun, kau percaya? Dia melahirkanku saat umur 18…" mulai Yoongi. "Kemudian melanjutkan perkuliahaan saat aku masih bayi. Pernikahan mereka akur hanya beberapa tahun, kemudian Papa-ku pergi berlayar dan jarang pulang. Mereka sempat bertengkar hebat dan kemudian akur kembali dan Yoonji lahir. Tapi saat Yoonji satu tahun, mereka kembali bertengkar hebat, kemudian memutuskan bercerai" sambung Yoongi. Matanya menatap lurus pada mata Jimin yang terlihat mulai berkaca-kaca.

"Kenapa malah menangis?" Yoongi terkekeh dan menghapus air mata Jimin yang turun.

"Aku tidak tahu hyung mengalami hal seperti itu" Jimin memeluk Yoongi erat-erat, seperti ketakutan kalau Yoonginya terluka lagi.

"Semua sudah baik-baik saja, Jiminie" Yoongi mengelus kepala Jimin yang bersandar dibahunya.

"Hyung pasti ketakutan saat Kim Ahjussi dan Min Ahjussi bertengkar" cicit Jimin.

"Tentu saja takut, anak mana yang tidak takut orangtuanya bertengkar." Yoongi memeluk Jimin erat.

"Aku hanya terlalu kecil untuk memahami apa yang terjadi saat itu. Tapi saat ini aku sudah paham, perpisahan memang yang paling baik untuk mereka berdua. Mereka sudah baik-baik saja, kurasa" ucap Yoongi tak yakin.

"Hyung pasti sedih saat orangtua hyung berpisah, iya kan?" Jimin mendongak dan hidungnya bertabrakan dengan rahang Yoongi.

"Dulu, iya. Tapi itu jauh lebih baik daripada melihat mereka terus bertengkar" Yoongi tersenyum mengingat dimasa lalunya.

"Lalu, Papa hyung ada dimana sekarang?" Jimin mendongak dan mengecup rahang Yoongi.

"Masih berlayar di laut, mungkin?" ucap Yoongi tak yakin.

"Hyung tidak pernah berkomunikasi lagi?"

"Satu-satunya yang menghubungkan aku dengan Papa hanya uang yang setiap bulan dikirimnya padaku" Yoongi menunduk dan dengan satu tangannya, Yoongi menaikkan dagu Jimin dan memberikan Jimin ciuman dibibir.

Yoongi hanya ingin Jimin berhenti bertanya, karena sadar atau tidak, pertanyaan Jimin sedikit membuka luka lama Yoongi dan Yoongi tidak ingin terlihat lemah didepan orang lain. Baik itu Seokjin, teman-temannya, bahkan Jimin sekalipun.

Saat ciuman itu terlepas, Jimin seperti sadar, Yoongi hanya ingin membuat Jimin berhenti bertanya, mungkin itu hanya perasaan Jimin saja, tapi Jimin yakin ciuman itu adalah cara halus Yoongi untuk meminta Jimin berhenti bertanya.

"Maafkan aku, hyung" cicit Jimin.

Yoongi hanya tersenyum lembut dan mengelus rambut Jimin.

"Apa saja yang kalian bicarakan tadi?" Yoongi mengalihkan pembicaraan.

"Banyak. Tapi lebih banyak soal Tao" Jimin tersenyum ceria.

"Oh ya, tadi Seunghoon bilang, dia melihatmu bersama dua temanmu. Katanya titip salam pada temanmu yang berambut coklat, yang manis" ucap Yoongi.

Jimin menarik badannya yang bersandar ditubuh Yoongi, duduk tegak dengan mata memicing tajam. Kalau sudah begini, Yoongi pasti salah lagi.

"Yang manis?" ulang Jimin tajam.

"Iya, yang manis…" ucap Yoongi sambil menegakkan tubuhnya.

Jimin terdiam memandang kesal pada Yoongi. Berani sekali Yoongi memuji orang lain didepan pacarnya sendiri! Tidak bisa dibiarkan!.

"Yoongi hyung memuji Baekhyun manis?" Tanya Jimin kesal.

"Oh, jadi maksudnya Baekhyun yang manis, yang berambut coklat" Yoongi berucap santai tanpa memahami situasi yang sudah berubah.

"Baekhyun yang manis?" ulang Jimin lagi.

"Sepertinya aku salah lagi" guman Yoongi pelan.

"Ya sudah, pacaran sana sama Baekhyun!" Jimin menepuk keras paha Yoongi dan berdiri, bersiap pergi.

"Huh? Ya! Jiminie, kenapa marah?" Yoongi menahan pintu studio agar tidak bisa dibuka, mengunci dari dalam dan mengantongi kuncinya kesaku celana.

"Katanya Baekhyun manis, kenapa tidak dipacari saja? Kalian satu jurusan kan, hyung? Sudah cocok. " Jimin berdiri sambil melipat tangannya didepan dada.

Yoongi tertawa, memeluk Jimin erat dan mengangkat Jimin seperti koala, kemudian mendudukan diri di sofa.

Jimin sudah berontak ingin turun dari pangkuan Yoongi, tapi Yoongi masih saja keras kepala dan memeluk pinggang Jimin dengan erat. "Nanti jatuh" Yoongi memperingatkan.

"Biar saja jatuh!" Jimin berucap kesal.

"Jangan, nanti aku kena marah sajangnim" Yoongi tertawa lagi.

"Biar saja Yoongi hyung kena marah!" Jimin memukul bahu Yoongi pelan, minta dilepaskan.

"Hey, kenapa marah?" Yoongi menarik Jimin makin mendekat, bahkan badan mereka sudah menempel erat. Yoongi mendongak hanya untuk melihat wajah kesal Jimin yang menolak melihatnya.

"Tidak marah" elak Jimin.

"Cium kalau begitu…"

"Minta cium saja pada Baekhyun yang manis"

Yoongi tertawa makin keras.

"Cemburu?" tembak Yoongi.

"Tidak…" Jimin melirik Yoongi sebentar dan kembali buang muka.

"Tidak marah, tidak cemburu, tapi tidak mau menciumku" Yoongi terkekeh.

"Minta saja pada Baekhyun yang manis"

"Aigoo, sayangku yang sedang marah cantik sekali" Yoongi terkekeh saat Jimin menatapnya tajam.

"Lebih cantik Baekhyun, kan?"

"Astaga, kenapa membawa-bawa Baekhyun lagi?" Yoongi mengecup leher Jimin dan meletakkan kepalanya didadanya Jimin, pelukannya mengerat.

"Tadi Seunghoon yang menitip salam, Seunghoon yang bilang Baekhyun manis, aku hanya menyampaikan ucapannya saja, Jiminie…" Yoongi menjelaskan.

"Tapi Yoongi hyung setuju kan, kalau Baekhyun manis?" Jimin mendorong bahu Yoongi pelan hanya untuk bisa melihat wajah Yoongi saat menjawabnya.

"Lebih manis Jiminie tentu saja" ucap Yoongi bangga.

"Pembohong"

"Tidak kok, mana mungkin papa anak-anak berbohong" ucap Yoongi.

Skak mat. Jimin tidak lagi bisa melawan. Semenjak ketahuan memberikan Yoongi julukan yang kata Jungkook NORAK itu, Jimin selalu malu setengah mati. Jimin akan menjadi pendiam karena tidak berani menatap Yoongi, dia malu. Benar-benar malu.

"Mau pulang…" cicit Jimin. Dia sudah memerah, wajahnya sudah panas, dia malu.

"Huh? Tapi papa anak-anak belum selesai mendengarkan cerita Jiminie, bagaimana ya?" goda Yoongi.

Jimin menunduk, tidak berani menatap Yoongi yang mendongak.

"Yoongi hyung…." Rengek Jimin. Dia ingin Yoongi berhenti memanggil dirinya sendiri dengan sebutan itu, karena sungguh, Jimin tidak tahan mendengarnya. Tangan Jimin turun dari bahu Yoongi dan berada di kerah depan kaos yang Yoongi pakai, tangannya sibuk mencubit kecil kaos Yoongi karena dia sudah mati gaya.

"Kau belum boleh pulang, Jiminie…" putus Yoongi.

"Aku tidak pulang, tapi Yoongi hyung berhenti menyebut diri sendiri seperti itu…" Jimin mengajukan persyaratan.

"Seperti itu? Seperti apa maksudnya? Papa anak-anak?" Yoongi tersenyum jahil.

"Yoongi hyung…" Jimin memeluk leher Yoongi erat. Dia benar-benar malu. Kalau bisa, Jimin ingin menghapus ingatan Yoongi soal kata-kata norak itu.

Yoongi tertawa. Mengelus punggung Jimin yang masih ada dipangkuannya dengan lembut.

"Saranghae, Jiminie" bisik Yoongi.

"Nado hyung.." cicit Jimin pelan.

"Hey, apa yang kalian ceritakan tadi? Bagaimana soal Tao? Sepertinya kau senang sekali melihat dia hamil" Yoongi mengurai pelukannya dan menatap Jimin yang masih saja memerah.

Jimin mengangguk semangat. "Tadi aku menyentuh perutnya beberapa kali hyung…." Dan Jimin terus bercerita dengan semangat diatas pangkuan Yoongi.

.

.

.

"Namjoon, ada apa?" Seokjin mengernyit saat melihat Namjoon duduk dengan gelisah di kursi kantin rumah sakit. Shift kerja Seokjin sudah selesai, dia baru saja akan menjemput Yoonji sampai Namjoon menelepon dan minta bertemu.

"Aku hanya ingin bertemu" Namjoon tersenyum lemah.

"Oh…" Seokjin tersenyum. Meletakkan jas dokternya di kursi didepan Namjoon dan mendudukan diri disana.

"Seokjin… aku…"

"Seokjin…" ucapan Namjoon terpotong oleh seseorang yang juga memanggil Seokjin.

Namjoon bisa melihat jelas wajah terkejut Seokjin dan Seokjin langsung berdiri dengan kikuk saat pria itu berjalan kearah mereka.

"Hyosang…" guman Seokjin pelan.

"Hey, apa kabar?" Tanya Hyosang sambil memeluk Seokjin erat.

"Baik" ucap Seokjin gugup.

"Tadi aku kerumah, ingin bertemu anak-anak. Tapi rumah kosong, makanya aku kerumah sakit"

"Oh, iya… Yoongi sudah bekerja dan Yoonji ada dirumah Jungkook" jelas Seokjin.

"Anakku sudah bekerja?" Hyosang terlihat bangga.

Seokjin mengangguk kaku.

"Aku juga merindukan gadis kecilku, Yoonji. Bisa kita jemput dia sekarang?" Hyosang menarik tangan Seokjin pelan.

"Eum, Hyosang, tunggu" Seokjin menahan tangannya. "Aku masih ada urusan, bisa tunggu aku didekat pintu masuk saja?" pinta Seokjin.

"Oh, konseling pasien ya?" Hyosang melirik Namjoon dan tersenyum. "Aku mengerti. Ku tunggu didepan ya" Hyosang tersenyum dan berlalu.

"Namjoon…" Seokjin melirik pada Namjoon yang terdiam kaku di kursi.

"Aku permisi, dokter Seokjin" Namjoon berdiri dan berlalu.

Seokjin terdiam, dia bingung harus kemana. Apa dia harus mengejar Namjoon atau menemui Hyosang yang menunggunya?

Seokjin terdiam lama, sampai dia mengambil jas miliknya dan berjalan kepintu depan, menemui Hyosang.

.

.

.

TBC

Yak, bapak'e Yoongi sama bapak' e Jimin wes muncul kakak yorobun….