Jimin tidak pernah merasa sekesal ini pada keluarganya. Dia merasa dikhianati. Bagaimana tidak? Tidak ada seorang pun yang memberitahu Jimin kalau Yoongi datang malam ini kerumah mereka. Rasanya semakin kesal saat melihat wajah-wajahn dengan senyum tertahan dari Chanyeol, Eomma dan Appa-nya. Jimin dikerjai.
"Duduk, kenapa hanya berdiri disana?" Chanyeol terlihat jelas menahan tawanya setengah mati.
Chanyeol sangat tau, Jimin selalu menampilkan sisi terbaiknya jika Yoongi akan datang kerumah. Walaupun Yoongi hanya mampir sebentar, Jimin biasanya akan mengenakan baju bagus dan terlihat segar seperti baru mandi, dan malam ini, Jimin hanya mengenakan piyama kotak berwarna putih bergaris halus, tampil seadanya didepan Yoongi yang duduk sopan di kursi makan.
"Chim? Kita akan mulai makan malam, duduk" Tuan Park menyahut, tersenyum melihat wajah Jimin yang mulai terlihat kesal.
"Yoongi sudah lapar, duduk" Nyonya Park menepuk kursi makan disebelahnya, mengisyaratkan Jimin untuk duduk disana, tepat didepan Yoongi.
"Aku mau ganti…"
"Tidak perlu, kita hanya makan…" sela Chanyeol sebelum Jimin menyelesaikan ucapannya. "Yoongi, bujuk Jimin agar duduk" Chanyeol menyiku lengan Yoongi yang duduk diam disampingnya.
"Jiminie, duduk…" ucap Yoongi pelan, wajahnya memandang kebingungan pada Jimin. Diam-diam Yoongi merasa Jimin tak menginginkan kehadirannya dikeluarga Jimin. Saat Jimin berjalan melewatinya dan duduk disamping nyonya Park, Yoongi hanya bisa diam dan menolak memandang Jimin yang terlihat kesal padanya. Lagi-lagi Yoongi berpikir dia melakukan kesalahan lagi.
.
.
.
RUN TO YOU
.
.
.
"Seokjin, ingin makan apa?" Hyosang meletakkan menu didepan Seokjin. Di pangkuan Hyosang, terduduk Yoonji yang sejak tadi tidak mau berpisah dengan Papa-nya. Yoonji berubah sangat manja.
"Aku ikut denganmu saja" Seokjin tersenyum, tangannya menyebrang meja untuk merapikan poni Yoonji.
"Ya sudah" Hyosang balas tersenyum dan sibuk menanyai Yoonji tentang makanan apa yang ingin Yoonji makan.
Selama di restoran pikiran Seokjin melayang entah kemana. Dia tidak ingin pergi tapi tidak bisa. Bagaimanapun, Hyosang dan dia adalah orangtua dari Yoongi dan Yoonji, kapan lagi anaknya bisa merasakan kehadiran orangtua yang lengkap. Sebut saja Seokjin memaksakan diri, tapi melihat Yoonji yang bersemangat, Seokjin jadi tidak tega merusak kebahagiaan anak bungsunya dan berusaha seceria mungkin.
"Sangat disayangkan, Yoongi tidak bisa ikut" Hyosang mulai bicara setelah selesai memesan makanan.
"Ya, dia sudah janji dengan orangtua pacarnya" jelas Seokjin.
"Siapa yang menyangka anak kita sudah tumbuh jadi pria dewasa. Dia bahkan memilih mertuanya dari pada bertemu Papa-nya. Hah… aku merasa dinomor dua kan" Hyosang terkekeh.
"Kau harus siap saat Yoonji juga melakukan hal yang sama" Seokjin menimpali.
"Aku tidak bisa membayangkan anak-anakku menikah dan mereka memilih bertemu dengan keluarga barunya daripada denganku"
"Resiko jadi orangtua" Seokjin tersenyum.
"Bagaimana kehidupanmu, Seokjin?" Hyosang menatap lurus pada Seokjin dengan senyum hangat dibibirnya.
"Lebih baik, kurasa…" ucap Seokjin tak yakin.
"Kau terlihat banyak pikiran. Apa kau merasa terganggu karena aku datang?" Hyosang menatap pada Yoonji kali ini. Gadis kecilnya sedang meluncur turun dari pangkuannya dan duduk di kursi disamping Hyosang.
"Kenapa bicara begitu?" Seokjin mengernyit. "Aku hanya lelah saja, jangan dipikirkan"
"Jangan terlalu memaksakan diri dalam bekerja, Jin. Kau butuh istirahat." Nasehat Hyosang.
"Aku tau, kapten" Seokjin terkekeh.
"Seokjin…"
Seokjin melihat kearah Hyosang, dadanya berdebar halus saat lagi-lagi melihat tatapan mata itu. Meskipun pernikahan mereka berjalan tidak baik, bukan berarti mereka harus berakhir dengan tidak baik juga. Seokjin tidak bisa bohong kalau dia sering merindukan sosok pria yang duduk didepannya ini. Bagaimanapun, Hyosang adalah pernah jadi orang yang paling Seokjin cintai.
"Aku ingin bicara serius" Hyosang menarik tangan Seokjin, menautkan jari mereka diatas meja.
"Ne?"
"Ini soal kita dan anak-anak" mulai Hyosang.
Seokjin berdebar.
"Apa kita bisa memperbaiki semuanya? Mengulang dari awal dan memberikan anak-anak kita keluarga yang utuh?" Hyosang terlihat serius dengan ucapannya.
"Hyosang, kau… kenapa tiba-tiba?" Seokjin bergerak tak nyaman dibangkunya.
"Aku tahu, banyak luka yang tertinggal dimasalalu kita. Tapi Jin, apa kita bisa membunuh ego kita dan memberikan apa yang menjadi hak anak-anak?"
"Hyosang, aku rasa ini bukan saat yang tepat untuk membicarakan itu" Seokjin menarik tangannya dan menyimpannya diatas pahanya.
"Aku tahu, Jin. Tapi aku hanya ingin kau tau kalau… kalau aku ingin kita memperbaiki semuanya demi anak-anak…"
Seokjin terdiam, matanya memandang Yoonji yang juga sedang menatapnya dengan wajah polos dan terlihat bahagia.
"Hyosang, aku lapar" Seokjin memaksakan senyum dibibirnya, mengalihkan pembicaraan.
Hyosang terkekeh dan menggusak rambut Seokjin, seperti yang selalu Hyosang lakukan untuknya saat mereka masih bersama.
"Kau tidak berubah" Hyosang tersenyum tulus.
.
.
.
Makan malam sudah selesai dan mereka memilih duduk diruang tamu. Chanyeol duduk disamping nyonya Park, sementara Yoongi duduk disofa tunggal. Jimin terlihat duduk dikarpet, disebelah kaki tuan Park yang juga duduk disofa tunggal, berhadapan dengan Yoongi.
"Jadi, orangtuamu bekerja sebagai dokter dan pelaut?" mulai tuan Park.
"Ne, Ahjussi" Yoongi mengangguk.
"Kenal dengan Jimin darimana?" kali ini nyonya Park yang berbicara. Dia penasaran.
"Dari Taehyung, teman Jimin, Ahjumma" Yoongi menjawab seadanya. Jujur saja, Yoongi sangat gugup saat ini, ditambah lagi dengan Jimin yang seperti tengah merajuk padanya.
"Begitu ya. Ahjumma sangat senang karena Jimin punya pacar yang mandiri sepertimu, Ahjumma harap kau bisa mengajari Jimin agar bisa mandiri juga"
Yoongi hanya mengangguk dan tersenyum. Jujur saja, Yoongi takut banyak bicara, takut salah ucap dan membuat orangtua Jimin tidak suka padanya.
"Sekali-sekali, ajak juga orangtuamu untuk makan malam bersama kami" tuan Park menawarkan. "
"Oh, ne Ahjussi" Yoongi lagi-lagi hanya mengangguk.
"Kata Jimin, Appa-mu sudah menerima Jimin dengan baik?" Nyonya Park melirik pada Yoongi dan Jimin bergantian.
"Ne, Ahjumma. Mereka sudah lumayan sering bertemu" Yoongi berucap salah tingkah.
"Jujur saja Ahjumma sempat terkejut saat kau menelepon Ahjumma untuk minta izin membawa Jimin ke Busan" nyonya Park terkekeh, " Tadinya aku tidak ingin setuju, tapi karena Chanyeol bilang kau adalah pria yang baik dan bisa dipercaya, jadi aku mempercayakan anakku padamu" sambung Nyonya Park.
Yoongi menunduk tak enak hati. Yoongi jelas tau dia bukan pria seperti itu. Tolong jangan lupakan kejadian di Busan.
"Min Yoongi" tuan Park memanggil, matanya menatap tepat pada Yoongi yang terlihat gugup didepannya.
"Ne, Ahjussi?"
"Kau serius dengan Jimin, kan?" tembak tuan Park.
Yoongi membolakan matanya. Dia tau pertanyaan ini akan meluncur entah itu dari tuan Park, nyonya Park ataupun Chanyeol dan Jimin, makan Yoongi sudah bulat dengan keputusannya.
"Aku sangat serius, Ahjussi" jawab Yoongi yakin.
Jimin memerah, menyandarkan tubuhnya di kaki Appa-nya. Rasanya seperti meleleh. Papa anak-anak sangat tegas dengan ucapannya dan Jimin merasa senang akan hal itu dan sedikit melupakan kekesalannya pada keluarganya dan Yoongi yang tidak memberitahu Jimin soal Yoongi yang ikut datang dimakan malam keluarga mereka.
"Kalau memang serius, aku ingin kau mempertemukanku dengan keluargamu. Jangan salah paham, aku hanya ingin melihat saja apa keluargamu bisa menerima Jimin kami yang seperti ini" jelas tuan Park.
"Seperti ini? Seperti apa maksudnya, Appa?" Jimin mendongak menatap Appanya.
"Kau yang manja, menyebalkan, semaunya, suka merajuk dan tidak bisa melakukan pekerjaan rumah" Chanyeol dengan senang hati menyambar.
"Hyung!" Jimin sudah siap akan protesnya sebelum tuan Park menyela.
"Aku tidak bermaksud menekanmu, aku tidak akan meminta macam-macam, misalnya seperti memaksamu menikahi Jimin. Seperti kata Chanyeol, Jimin belum cukup dewasa untuk kearah sana. Aku hanya ingin melihat respon keluargamu terhadap Jimin. Bagaimanapun, aku ingin anakku mendapatkan pasangan yang menerimanya dengan baik, juga keluarga pasangannya yang juga menerima Jimin dengan baik" jelas tuan Park.
"Kim Ahjussi sangat baik padaku" bela Jimin.
"Benar, tapi orangtua Yoongi bukan hanya Kim ahjussi" nyonya Park tersenyum menenangkan pada Yoongi. "Yoongi, kami tidak meminta bertemu dengan keluarga besok hari. Cari saja waktu yang tepat untuk mempertemukan kami, jangan jadi tertekan karena permintaan kami, ya" nyonya Park lagi-lagi memberikan senyum menenangkan.
"Ne, aku tidak meminta bertemu orangtuamu besok. Seperti kata istriku, cari saja waktu yang tepat untuk kami bertemu" tuan Park ikut tersenyum menenangkan. "Seperti kau yang sudah kami terima di keluarga kami, kami juga ingin Jimin diterima dengan baik di keluargamu"
Saat perkataan tuan Park masuk ketelinga Yoongi, Yoongi tidak bisa untuk tidak lega. Dia benar-benar sangat-sangat lega! Yoongi rasanya ingin menerjang kedua orangtua Jimin dan berterimakasih karena sudah memberi izin resmi pada Yoongi untuk memacari Jimin.
"Tapi lebih cepat lebih baik" Chanyeol ikut bersuara. "Appa dan Eomma harus lihat seperti apa cantiknya Appa Yoongi. Astaga, kalau saja Seokjin bukan orangtua Yoongi, aku pasti menikahinya" ucap Chanyeol asal.
Jimin dengan segera melempar bantal kursi sebagai hadiah untuk Chanyeol yang benar-benar sudah kurang ajar pada calon mertuanya.
"Sajangnim, tolong terus ingat kalau Appa-ku sudah punya dua anak" ucap Yoongi pelan.
.
.
.
"Kenapa kau mengajakku bertemu?" Jungkook memainkan sedotan jusnya dan menatap Jimin penasaran.
Sudah sejak pagi Jimin mengajak Jungkook untuk bertemu, seperti biasa, Jungkook pasti menolak mentah-mentah, tapi karena Jimin mengancam akan mengajak Taehyung untuk bercerita, Jungkook akhirnya berakhir di café ini bersama Jimin sehabis pulang sekolah. Hell no! Jungkook tidak akan membiarkan Jimin berduan dengan Taehyung.
"Kau lihat ini?" Jimin memamerkan gelang bertali merah dipergelangan tangannya.
"Hanya gelang murahan bertali merah, apa hebatnya?" Jungkook memutar bola matanya.
"Si kecil brengsek ini… benar-benar…" Jimin menggeleng kepalanya kesal. "Perhatikan dengan baik!" paksa Jimin.
"Oke, gelang bertali merah dengan huruf Y kecil, lalu apa?" Jungkook mengernyit.
"Gelang baruku dan Yoongi hyung. Dan huruf Y ini dari emas! Enak saja kau bilang murahan."
"Oke, lalu?" Jungkook bertanya tanpa minat.
"Oh, semalam Yoongi hyung datang kerumahku" ucap Jimin mendadak semangat. Inilah yang ingin dia pamerkan pada Jungkook sejak semalam.
"Dimana letak luar biasanya, ngomong-ngomong? Bukannya Yoongi hyung biasa kerumahmu?"
"Dia bertemu dengan kedua orangtuaku. Yoongi hyung keren sekali. Dia dengan tegas mengatakan pada Appa-ku kalau dua serius dengan ku. Well, tidak seperti Taehyung, Yoongi hyung ku sangat jantan!" pamer Jimin.
"Kau sedang mengarang cerita?" Jungkook mau tidak mau merasa iri. Jungkook menegakkan tubuhnya dan menatap kesal pada Jimin.
"Tentu saja tidak" Jimin makin besar kepala. "Yoongi hyung bahkan akan mempertemukan keluarga kami minggu-minggu ini, setelah proyek debut idol nya di agensi selesai" ucap Jimin sambil memainkan sedotannya. Wajahnya terlihat sombong dan sangat menyebalkan dimata Jungkook.
"Lalu, apa tujuanmu menceritakan hal ini padaku?"
"Hanya ingin pamer saja" Jimin semakin menyebalkan. "Setidaknya hubunganku dan Yoongi hyung sudah maju satu langkah. Kau tidak ingin mengucapkan selamat?" Jimin terkekeh dan menutup bibirnya dengan tangan. Benar-benar makin menyebalkan dimata Jungkook.
"Selamat" ucap Jungkook tanpa minat.
"Ah, terimakasih…" Jimin menepuk bahu Jungkook main-main.
"Oh, ya, Jungkook. Di kampus aku mendengar desas desus soal Taehyung" Jimin memajukan badannya kearah meja. Matanya melirik ke kiri dan ke kanan, memastikan tidak akan ada yang mendengar ucapannya.
"Apa? Jangan membuatku penasaran" Jungkook ikut memajukan duduknya.
"Sekarang, kau tidak perlu merasa cemburu padaku lagi karena aku sudah 50% milik Yoongi hyung, yang harus kau waspadai adalah Park Jihoon" bisik Jimin.
"Siapa itu?" Jungkook mengernyit.
"Aku baru mendengar gossip ini tadi pagi dari temanku, tapi ada anak di kampus kami yang bernama Park Jihoon yang sangat menyukai Taehyung. Dia selalu menatap Taehyung dengan tatapan penuh cinta di matanya" Jimin berbisik makin pelan.
"Bokongmu akan bertemu panci dirumahku kalau kau berani berbohong, Park" ancam Jungkook.
"Aku sudah bilang ini gossip kan? Dia itu anak semester satu, tapi jujur saja aku belum pernah melihat orangnya. Katanya anaknya sangat imut, lembut, tidak sepertimu, galak, menyebalkan, sok dewasa, suka marah-marah…"
"Kau mau mati?" Jungkook menatap kesal pada Jimin.
"Aish, aku mengatakan apa yang kudengar saja…" Jimin menegakkan tubuhnya.
"Taehyung tidak mungkin mengkhianatiku…" ucap Jungkook tak yakin.
"Aku harap begitu, tapi kalau Taehyung juga suka padanya, bagaimana?" Jimin melipat tangannya didepan dada.
"Kau akan membantuku, kan?" Jungkook menatap tajam pada Jimin.
"Aku harap aku bisa. Tapi jangan langsung mengkonfrontasi Taehyung. Ini baru gossip, untuk lebih pastinya aku akan mencari tahu lebih detail tapi….." Jimin melirik pada Jungkook.
"Tapi apa?"
"Beritahu aku soal Kihyun dan Yoongi hyung"
"Kau gila" tolak Jungkook. "Kau hanya akan memulai drama baru dan akhirnya bertengkar dengan Yoongi hyung, kemudian menyusahkanku lagi, aku tidak mau"
"Aku hanya ingin tahu alasan mereka putus"
"Kenapa tidak Tanya langsung?"
"Anggap saja kita melakukan pertukaran informasi" Jimin melakukan penawaran.
Jungkook terdiam dan berpikir.
"Aku akan memastikan semua info yang kudapat soal Park Jihoon itu akurat. Aku jamin. Temanku punya Bandar gossip terpercaya dikampus." Jimin meyakinkan.
"Call" Jungkook terjebak di drama baru Jimin.
.
.
.
"Kenapa Yoongi hyung ingin membeli apartemen?" Jimin mengernyit tak setuju.
"Aku ingin mandiri, sayang" Yoongi meletakkan kertas-kertas ditangannya keatas piano dan menggeser kursi kerjanya untuk duduk didepan Jimin yang sedang duduk bersila di sofa studionya.
"Uangnya lebih baik ditabung, kan? Lagian Yoongi hyung belum memerlukan itu" Jimin menatap kesal.
"Kita perlu"
Jimin mengernyit mendengar jawaban Yoongi.
"Memangnya kau mau tinggal dirumahku atau dirumah Chanyeol sajangnim terus?"
Jimin memiringkan kepalanya, semakin bingung dengan arah pembicaraan Yoongi.
"Menggemaskan sekali" Yoongi terkekeh dan menggusak rambut Jimin. Tangan pucatnya menarik tangan Jimin dan meletakkannya keatas pangkuannya. "Aku sudah memikirkan apa-apa saja yang harus aku punya sebelum menikah" mulai Yoongi.
"Yoongi hyung? Aku tidak mengerti"
"Aku sedang memikirkan masa depan kita, Park Jimin. Setidaknya mulai sekarang aku harus memiliki rumah sendiri sebelum menikah. Aku tidak ingin memberatkan orangtuaku lagi kalau sudah menikah. Masih belum paham?" Yoongi tersenyum makin lebar. "Aku sudah bilang kalau ingin serius, kan? Nah, sebagai bukti kalau aku serius memikirkan hubungan kita kedepannnya, aku ingin mulai dari memilik tempat tinggal untuk kita lebih dulu"
"Yoongi hyung ingin kita menikah?" Jimin memerah.
"Tentu saja. Memangnya kau tidak ingin menikah denganku?" Yoongi mengernyit.
"Mau…" ucap Jimin sambil menunduk malu, membuat Yoongi terkekeh dan menghadiahi sebuah kecupan dikepala Jimin.
"Makanya aku perlu membeli apartemen untuk kita" jelas Yoongi.
"Tapi tidak harus apartemen mewah begitu, kan?" Jimin mendongak.
"Aku sudah memikirkan banyak hal. Kalau kita membeli apartemen kecil, bagaimana kalau nanti kita punya anak? Anak-anak pasti membutuhkan ruang lebih lebar untuk bermain" jelas Yoongi.
"Hyung memikirkan sampai sejauh itu?" Jimin menatap takjup pada Yoongi. Pria di depannya ini sungguh dewasa dan memiliki pemikiran yang jauh, sangat berbeda dengan Jimin.
"Aku bahkan sudah memikirkan untuk memilik dua anak" Yoongi menaikkan alisnya, menatap Jimin tepat dimata.
"Tapi aku tetap tidak setuju dengan apartemen itu hyung. Itu terlalu mewah, harganya pasti mahal" tolak Jimin.
"Makanya kau harus kerja keras, Park Jimin" Yoongi berdiri dan mendudukan diri disamping Jimin. "Kau terbiasa hidup mewah sejak kecil, dan jika menikah denganku kau malah kesulitan, tuan dan nyonya Park bisa-bisa menolak lamaranku" Yoongi terkekeh.
"Aku tidak minta hidup mewah, kan hyung? Appa dan Eomma juga tidak minta hyung harus memiliki ini itu." Jimin berkeras menolak.
"Kau memang tidak minta, tapi aku memang ingin memberikannya padamu"
Jimin terdiam. Sedikit banyak dia terharu Yoongi memikirkannya sampai sejauh itu, sementara Jimin merasa pemikirannya masih dangkal dan kekanakan.
"Yoongi hyung, terimakasih sudah memikirkanku" Jimin memeluk Yoongi erat.
"Ne. terimakasih juga sudah bersabar dengan sikapku" Yoongi menenggelamkan wajahnya dibahu Jimin. "Maaf aku tidak bisa mengajakmu kencan seperti biasa. Kau terpaksa menemuiku di studio terus"
"Aku tahu Yoongi hyung sibuk. Dan aku memang harus menemui Yoongi hyung, kalau tidak, Yoongi hyung bisa-bisa tidak makan seharian dan hanya minum kopi saja!"
"Baik sekali… pacar Min Yoongi ,ya?" goda Yoongi sambil mengurai pelukannya.
"Ne. Anda ini pacar Park Jimin, ya?" Jimin menunjuk dada Yoongi dengan jarinya.
"Bukan"
"Huh? Apa-apaan? Yoongi hyung tidak mengakui ku?" Jimin mengernyit kesal.
"Aku bukan pacar Park Jimin, aku papa anak-anaknya"
"YOOONGIII HYYUUUNGGG" Jimin menerjang Yoongi dan memeluk Yoongi erat-erat. Dia malu.
.
.
.
"Aku tidak ingin kita terus-terusan begini" Namjoon menunduk, kepanya bersandar pada stir didepannya.
"Maksudnya?" Seokjin melirik Namjoon, matanya terlihat lelah.
"Seokjin, aku tidak ingin hubungan kita berantakan seperti ini. Demi Tuhan, kita bahkan baru memulainya." Namjoon mengangkat kepalanya, memeringkan tubuhnya agar bisa melihat Seokjin.
"Kau sudah mengambil keputusan?" Seokjin menatap lekat pada Namjoon.
"Sudah. Aku ingin kita bersama. Aku tidak perlu berpikir lagi Seokjin, jangan suruh aku berpikir lagi. Aku hanya ingin kau"
Seokjin tersenyum, tanganya terulur untuk mengelus pipi Namjoon dengan sayang.
"Aku tidak tau kapan aku siap menghadapi Yoongi, orangtuamu dan omongan orang lain tentang kita. Tapi, apa kau tidak masalah kalau kita menyembunyikan hubungan kita?"
"Apapun Seokjin, aku akan melakukan apapun untukmu" Namjoon menatap bersungguh-sungguh.
"Terimakasih" Seokjin tersenyum.
"God… akhirnya. Tolong jangan hindari aku lagi" Namjoon memeluk Seokjin erat.
Seokjin menutup matanya erat, menikmati kehangantan yang diberikan Namjoon melalui pelukannya. Dia sudah mengambil keputusan semalam. Dia sudah menolak Hyosang. Bukan keputusan gampang, karena ini berhubungan dengan anak-anaknya. Bersyukur ada Yoongi yang bisa dijadikannya teman tukar pikiran dan berakhir mengambil keputusan kalau Hyosang, bukan lagi yang Seokjin inginkan.
.
.
.
TBC
