"Ayolah, Min Yoongi… kau bisa tidur setelah menemaniku dan Joohyun hyung blind date" bujuk Seunghoon. Seunghoon sudah berjalan mondar-mandir dibelakang Yoongi yang masih sibuk didalam studio bersama computer miliknya, sama sekali tidak terganggu dengan apa yang Seunghoon lakukan dibelakangnya.

"Lebih baik aku tidur dirumah saja. Aku capek. Kau pikir seminggu ini aku tidak sibuk mengurus idol baru itu? Setelah bisa pulang lebih cepat lebih baik ku pakai untuk tidur" Yoongi merespon malas.

"Tapi mereka datang bertiga. Kasihan salah satu temannya kalau tidak ada pasangan" bujuk Seunghoon pantang menyerah.

"Aku malas" putus Yoongi.

"Ayolah… kau tidak harus tebar pesona, temani kami saja. Ya? Ya?" Seunghoon membalik kursi Yoongi dengan cepat kearahnya. "Ini hanya pertemuan di café dekat sini, setidaknya temani kami selama setengah jam saja, setelah itu kalau kau mau pulang, tidak masalah" bujuk Seunghoon lagi.

"Yoongi, Seunghoon, ayo" Joohyun melongokkan kepalanya diantar celah pintu studio Yoongi. Bibirnya tersenyum amat lebar, ada api semangat membara dimatanya, jelas sekali Joohyun sangat mengharapkan sesuatu dari blind date hari ini.

"Yoongi tidak mau, hyung" Seunghoon berucap putus asa.

"Ya, Min Yoongi, kau pikir siapa sahabatmu di kantor ini selain kami berdua? Kau tidak ingin melihat kami bahagia juga? Kami juga ingin punya pasangan, tapi kau tidak mau mendukung kami?" Joohyun masuk dengan berkacang pinggang didepan Yoongi yang masih duduk dikursi kerjanya.

"Kata siapa aku tidak mendukung kalian punya pasangan, hyung?" Yoongi menghela nafas lelah.

"Buktinya kau tidak mau ikut kami. Itu sama saja kau tidak mendukung!" Joohyun melotot kesal pada Yoongi.

"Ya sudahlah, aku ikut. Puas kalian?" Yoongi menghela nafas lagi, mematikan computer dan berjalan malas mengikuti Joohyun dan Seunghoon yang sedang ber-highfive ria didepannya.

.

.

.

RUN TO YOU

.

.

.

"Jadi, kalian bekerja sebagai produser di agensi Park?" gadis berbaju putih yang duduk didepan Seunghoon bertanya antusias.

"Ne. kami bertiga bekerja sebagai produser disana" Seunghoon menjawab dengan bangga.

"Berarti kalian sering bertemu dengan idol-idol? Oh ya, idol yang baru saja debut itu dari agensi kalian kan?" kali ini gadis berbaju hitam bertanya, matanya tepat mengarah pada Yoongi yang sejak tadi hanya diam dan memilik mengosongkan pikirannya, membayangkan tempat tidur nyamannya.

"Oh, kalau idol baru debut itu proyeknya" Joohyun menunjuk Yoongi yang duduk disampingnya. Merasa Yoongi tak member respon apapun, Joohyun menyiku pelan perut Yoongi dan mendapat pelototan kesal dari Yoongi.

"Yoongi-ssi? Idol baru debut itu, proyekmu? Benarkah?" ulang gadis berbaju hitam itu dengan mata berbinar-binar.

"Oh, iya" Yoongi mengangguk dan tersenyum sopan.

"Keren sekali. Bagaimana rasanya bekerja dengan artis?" gadis berbaju hitam yang duduk didepan Yoongi makin semangat bertanya.

"Capek" jawab Yoongi sekenanya.

Joohyun dan Seunghoon langsung membolakan matanya mendengar jawaban super ngasal dari Yoongi. Keduanya tersenyum tak enak hati pada ketiga gadis yang duduk didepan mereka.

Didepan pintu café, terlihat Jungkook yang sedang berdiri dengan ponsel ditelinganya. Dia sedang menunggu Jimin untuk bertukar informasi soal Park Jihoon. Keduanya sudah berjanji untuk bertemu sore ini karena Jimin baru bisa bertemu setelah jadwal kuliahnya selesai.

Jungkook melihat mobil Jimin terparkir didepan café dan memasukkan ponselnya kedalam saku Hoodie nya, menunggu dengan tak sabar Jimin yang baru saja turun dari mobilnya.

"Terlambat satu menit" protes Jungkook begitu Jimin sampai didepan pintu café.

"Jangan berlebihan, oke? Itu hanya satu menit, kau tidak akan mati menungguku satu menit" Jimin memutar bola matanya.

Jungkook mendorong pintu kaca café dan berjalan kearah kasir untuk memesan minuman diikuti Jimin dibelakangnya. Saat menunggu pesanan mereka selesai dibuat, mata Jungkook tak sengaja melihat kearah sudut café. Meskinpun hanya terlihat punggung dan kepala, Jungkook sangat yakin kalau pria yang duduk disudut sana adalah hyungnya, Yoongi.

"Yoongi hyung" Jungkook menepuk heboh tangan Jimin yang masih sibuk melihat deretan kue-kue yang dipajang dietalase kaca.

"Huh? Mana?" Jimin mengernyit.

"Disana" Jungkook menunjuk kearah sudut café dimana ada tiga pria dan tiga wanita sedang duduk bersama, bercengkrama dengan akrab.

Jimin membolakan matanya. Dia jelas tau siapa pria yang mengenakan kemeja kotak merah hitam yang duduk tepat didepan gadis berbaju hitam. Jimin merasa ada asap yang mulai muncul dikepanya. Dia cemburu.

"Yoongi hyung… selingkuh?" Jungkook berguman pelan, tapi Jimin bisa mendengar dengan jelas gumanan Jungkook.

"Jangan sembarang! Mana mungkin Yoongi hyung begitu!" walaupun Jimin menyangkal, Jimin tidak bisa bohong, dadanya berdebar keras dan membuatnya tak nyaman.

Jimin dan Jungkook makin membolakan matanya saat gadis berbaju hitam didepan Yoongi dengan tiba-tiba memegang pergelangan tangan Yoongi. Jimin rasanya ingin menangis, tapi dia tidak boleh begitu, Jungkook bisa menertawakannya. Itu haram!.

"Tenang… tarik nafas…" Jungkook mengusap punggung Jimin pelan, mencoba menenangkan Jimin yang sudah mulai akan meledak melihat pemandangan yang tak jauh dari depannya.

"Jungkook, aku harus apa?" Jimin bertanya kalut, tangannya dingin dan nafasnya terasa sesak.

"Tenangkan dirimu dulu, oke? Tarik nafas…" Jungkook memperagakan cara tarik nafas pada Jimin yang masih saja bernafas tak teratur.

"Sudah" ucap Jimin tak sabar.

"Jangan mau kalah dengan wanita itu, buat dia mengerti kalau Min Yoongi adalah milikmu, tapi jangan merusak harga diri. Kau harus melakukannya dengan baik. Buat dia malu karena sudah mencoba genit dengan pacarmu, paham?" Jungkook memberi intruksi.

"Apa tidak sebaiknya mereka berdua ku lempar saja dengan bangku?" Jimin mengeram.

"Memangnya kau mau Yoongi hyung sekarat?"

"Tidak mau…" cicit Jimin.

"Nah, dengarkan aku baik-baik. Tenangkan dulu dirimu, datangi Yoongi hyung dan bermanja-manjalah padanya, mengerti?" Jungkook memegang kedua bahu Jimin kuat-kuat.

Jimin mengangguk.

"Jangan bertengkar disana. Ingat, harga diri harus di junjung tinggi"

Jimin mengangguk lagi.

"Kau paham apa yang ku katakan?" Jungkook mencoba memastikan.

"Aku harus tenang, datangi Yoongi hyung dan bersikap manja padanya, tidak ada perkelahian karena harga diri harus di junjung tinggi" ulang Jimin sambil menarik nafas, menetralkan detak jantungnya.

"Benar, lakukan seperti itu. Aku tidak akan ikut campur, aku akan melihat dari jauh. Kita bisa bertukar informasi nanti, karena Yoongi hyung lebih penting sekarang" Jungkook menepuk bahu Jimin, mengambil dua gelas minuman dari kasir dan berjalan kesudut lain dari café.

Jimin menarik nafas lagi sebelum berjalan kearah Yoongi, wajahnya di buat setenang mungkin, tidak terlihat emosi apapun diwajahnya.

"Awas saja kalian" guman Jimin geram dan sedih disaat bersamaan.

Jimin melirik lagi kebelakang, disana, Jungkook sedang menunjukkan kepalan tangannya dan mengucapkan fighting tanpa suara. Jimin mengangguk dan berjalan yakin kearah Yoongi.

"Yeobo~" Jimin memeluk bahu Yoongi dari belakang, menggesek pipinya pada bahu Yoongi dengan manja.

Seunghoon dan Joohyun meneggakkan punggungnya, sementara Yoongi sudah kesulitan menelan ludahnya. Ketiga gadis didepan mereka menatap bingung pada Yoongi dan sikepala pink yang tiba-tiba muncul dan bermanja-manja pada Yoongi, dan jangan lupakan panggilan yang digumankan Jimin.

"Ji-jimin…" Joohyun tersenyum canggung dan menatap iba pada Yoongi yang sudah membeku ditempat duduknya.

Jimin mengabaikan panggilan Joohyun dan makin menggesekkan pipinya dibahu Yoongi.

"Yeobo~ kenapa disini? Bukannya harusnya bekerja?" Jimin menekan kata bekerja yang diucapkannya, membuat Yoongi makin kesulitan untuk menelan ludahnya.

"Jiminie…. Ini…"

"Kau siapa?" gadis yang mengenakan dress bunga-bunga menatap heran pada Jimin.

Jimin menegakkan tubuhnya dan tersenyum ramah. Tangannya menempel dibahu Yoongi, mengelus pelan bahu Yoongi dan membuat Yoongi kesulitan untuk berdiri.

"Aku?" Jimin menunjuk dirinya sendiri. "Aku istrinya, benarkan, Yeobo?" Jimin mengelus bahu Yoongi, matanya menatap tajam pada gadis berbaju hitam, gadis yang dengan lancang menyentuh pergelangan tangan Yoongi-nya. Sialan.

"Jiminie, kita…"

"Kenapa? Hyung tidak mau mengakuiku?" potong Jimin saat Yoongi berusaha menjelaskan.

Yoongi berdiri dan mencoba meraih tangan Jimin, dan Yoongi sangat bersyukur karena Jimin tidak menepis tangannya dengan kasar.

"Bukan begitu, tapi…"

"Oh, aku paham." Jimin mengangguk dan menatap tak percaya pada Yoongi, lagi-lagi memotong ucapan Yoongi tanpa mau mendegarkan penjelasan Yoongi sama sekali. "Kencan buta, eoh?" Jimin menatap bergetar pada Yoongi, Seunghoon, dan Joohyun yang salah tingkah ditempat duduknya.

"Jiminie…" Yoongi melunakkan suaranya, mencoba menjelaskan tanpa mengundang keributan.

"Lanjutkan saja, hyung" ucap Jimin lemah, pelan Jimin berusaha melepaskan tangan Yoongi dari tangannya. Dia harus ingat saran Jungkook, tidak boleh ada keributan, ingat harga diri.

"Maaf merusak suasana, sepertinya istriku salah paham" Yoongi membungkuk dan menarik Jimin keluar café.

Jimin berjalan sedikit berlari karena Yoongi menarik tangannya, membawa Jimin ke gedung agensi dengan langkah terburu. Jimin sudah berkali-kali mencoba melepaskan genggaman tangan Yoongi tapi Yoongi begitu erat menggenggam tangannya.

Saat sampai di studio milik Yoongi, Yoongi menutup pintu pelan, mengunci pintu dan mengantongi kuncinya. Jaga-jaga kalau Jimin berusaha kabur.

Jimin berdiri kalut didekat piano milik Yoongi, sementara Yoongi sedang menarik kursi kerjanya, mempersilahkan Jimin untuk duduk disana, sementara Yoongi memilih berjongkok didepan Jimin.

"Jiminie" Yoongi menarik tangan Jimin, menggenggamn tangan Jimin yang mendingin, meletakkan tautan tangan mereka diatas paha Jimin.

"Kenapa hyung?" Jimin berucap lemah, suaranya nyaris seperti bisikan. Ada nada sedih yang bisa Yoongi tangkap dengan jelas. "Apa hanya aku saja tidak cukup?" suara Jimin bergetar menahan tangis.

"Jim, kau salah paham, tadi…"

"Yoongi hyung bosan denganku?" potong Jimin lagi. "Apa hyung sudah bosan dengan sifatku yang kekanakan?"

"Jiminie, dengarkan aku dulu. Jangan potong saat aku bicara" Yoongi mencium punggung tangan Jimin.

Jimin menunduk, enggan melihat wajah Yoongi. Matanya sibuk menatap pada tangan pucat Yoongi yang sedang menggenggam tangannya.

"Tadi, Joohyun hyung dan Seunghoon hyung mengajakku pergi, oke, itu memang kencan buta, tapi aku tidak ada sangkut pautnya dengan itu, mereka hanya minta aku ikut, itu saja"

Jimin mendongak, matanya sudah berair dan makin deras mendengar pengakuan Yoongi. Yoonginya pergi kencan buta sementara Jimin masih hidup dan sehat jiwa raga.

"Sayang, jangan menangis" Yoongi mengusap air mata Jimin. Yoongi benar-benar merasa bersalah. "Aku hanya diajak saja. Kencan buta itu untuk Seunghoon dan Joohyun hyung" Yoongi berusaha menjelaskan.

"Tapi hyung ada disana, hyung ikut kencan buta! Dan lagi ada tiga gadis disana, gadis yang duduk didepan hyung itu malah memegang pergelangan tangan hyung, dan hyung membiarkannya!" Jimin meledak.

"Dia hanya bilang kalau gelangku bagus, lalu tiba-tiba dia memegang pergelangan tanganku…"

"Dan hyung membiarkannya" Jimin menatap tak percaya pada Yoongi.

"Aku bersalah, Jiminie. Maafkan aku" Yoongi mengalah.

"Sudahlah Hyung, aku mau pulang saja." Jimin berdiri, tapi tangannya masih saja digenggam Yoongi.

"Jiminie, maaf" Yoongi memeluk Jimin erat. Kalau sudah seperti ini, Yoongi yakin Jimin merasa tingkahnya keterlaluan.

"Kalau hyung bosan, harusnya hyung bilang padaku" Jimin menangis lagi, tangannya tergantung disamping badan, enggan membalas pelukan Yoongi.

"Aku tidak bosan, maafkan aku." Yoongi menghujani kepala Jimin dengan kecupan, dia benar-benar merasa bersalah dan sangat menyesal mengiyakan ajakan Seunghoon dan Joohyun.

"Kalau hyung tidak berniat mencari yang baru, kenapa hyung pergi?" Jimin berucap lemah.

"Aku di ajak Jiminie…" Yoongi berucap putus asa. Entah harus bagaimana lagi Yoongi menjelaskan agar Jimin bisa mengerti.

"Hyung bisa menolak, tapi hyung tetap pergi." Jimin tersenyum miris, dahinya bersandar pada bahu Yoongi yang masih memeluknya erat.

"Sayang, aku disana hanya untuk menemani Seunghoon dan Joohyun hyung, mereka memintaku untuk menemani mereka, itu saja. Aku tidak berniat mencari yang baru atau apapun itu." Yoongi berucap putus asa.

Ketukan di pintu kaca studio Yoongi membuat Yoongi mengumpat kesal, Jimin menghapus air matanya buru-buru dan berdiri membelakangi pintu. Saat pintu terbuka, Seunghoon dan Joohyun sudah muncul dengan senyum tak enak hati. Mereka melirik Yoongi dengan tatapan penuh permintaan maaf, setelah Yoongi mengangguk, keduanya duduk manis disofa studio Yoongi.

"Eum… Jimin…" Joohyun, sebagai yang paling tua, berusaha membantu Yoongi. Sedikit kasihan melihat wajah putus asa Yoongi.

Jimin berbalik dan tersenyum terpaksa, kemudian menunduk, enggan melihat wajah ketiga orang yang sedang menatap padanya.

"Maafkan kami. Ini tidak seperti yang kau pikirkan…" mulai Joohyun. "Kami hanya minta Yoongi untuk menemani kami pergi, itu saja. Dia sudah menolak untuk ikut, tapi kami memaksa…" ucap Joohyun jujur.

"Benar. Kami tidak bermaksud memberi pengaruh buruk untuk hubungan kalian, tapi Yoongi hanya ikut untuk menemani saja, itu juga karena kami paksa" tambah Seunghoon.

"Jimin? Kau mendengarkan kami, kan?" Joohyun menatap ragu pada Jimin yang masih menunduk.

Jimin mengangkat kepalanya, tersenyum lemah pada Yoongi, menarik nafas dan menutup matanya erat. "Yoongi hyung, ayo berpisah"

.

.

.

"Namjoon?" Seokjin mengetuk pintu kamar Namjoon pelan.

Namjoon sedang demam. Dari cerita Yoongi, Namjoon sudah tidak masuk kuliah dua hari terakhir karena sakit. Seokjin mengernyit heran saat tau Namjoon sedang demam, karena Namjoon sama sekali tidak memberitahunya.

Seokjin berusaha menahan diri untuk tidak bertanya lebih pada Yoongi, takut anaknya menjadi curiga. Akhirnya, setelah selesai bekerja, Seokjin memilih ke apartemen Namjoon untuk menjenguk kekasihnya itu. Ehem.

Jangan heran bagaimana bisa Seokjin masuk ke apartemen Namjoon, Namjoon sendiri yang memberikan password apartemennya pada Seokjin. Tidak ada alasan khusus, hanya ingin memberitahu Seokjin saja.

"Namjoon…" Seokjin mencoba mengetuk pintu kamar Namjoon sekali lagi.

Samar-samar Seokjin bisa mendengar suara Namjoon seperti mengerang, mungkin merasa kesal karena tidurnya terganggu. Saat pintu terbuka, Seokjin bisa melihat wajah baru bangun tidur milik Namjoon, sweater hitam tebal dan celana panjang yang nyaman untuk dipakai tidur. Seokjin mengerjab beberapa kali, sementara Namjoon masih berdiri didepannya, matanya terpejam.

"Namjoon…" panggil Seokjin pelan.

Saat suara pelan Seokjin masuk ketelinga Namjoon, detik itu juga mata Namjoon terbuka lebar , badannya tersentak mundur kebelakang.

"Seokjin?" Namjoon terkejut dan buru-buru menutup pintu kamarnya. Menghalangi pandangan Seokjin dari kamarnya yang berantakan. "Ke-kenapa tidak bilang dulu kalau mau datang?" Namjoon menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Hilang sudah rasa ngantuknya.

"Aku sudah meneleponmu sejak dua jam yang lalu" Seokjin memundurkan tubuhnya.

"Oh, aku mengantuk, jadi… tidur" Namjoon tersenyum tak enak hati.

"Kenapa tidak bilang kalau sakit?" Seokjin melipat tangannya didepan dada. Sedikit banyak Seokjin merasa kesal karena Namjoon tidak jujur dengan kondisinya.

"Hanya demam" Namjoon tersenyum, mengalungkan tangannya dibahu Seokjin dan membawa dokter pribadinya itu ke sofa ruang tamu.

"Hanya demam?" Seokjin menatap tajam pada Namjoon.

"Aku sudah minum obat. Cuacanya saja yang kurang bagus" Namjoon beralasan.

"Tetap saja, harusnya kau memberitahuku" Seokjin protes.

"Ini hanya demam biasa. Aku tidak ingin kau khawatir dan kepikiran" Namjoon menggusak rambut Seokjin dengan sayang.

"Kau sudah membuatku kepikiran, tuan Kim" Seokjin menatap tajam pada Namjoon.

"Ah… senangnya" Bukannya merasa bersalah, Namjoon malah memeluk Seokjin erat dan menenggelamkan wajahnya dibahu Seokjin.

"YA, Kim Namjoon, aku sedang marah"

"Kau peluk saja, demamnya pasti langsung turun" Namjoon terkekeh dan menguraikan pelukannya. "Lihat, demamnya langsung turun" Namjoon meletakkan telapak tangan Seokjin diatas dahinya.

"Menyebalkan" Seokjin meninju pelan perut Namjoon dan mendudukan diri di sofa.

"Terimakasih sudah menjengukku, Dokter Kim" Namjoon terkekeh dan mengecup dahi Seokjin. "Minuman dingin?" Namjoon menawarkan.

Seokjin hanya mengangguk.

"Silahkan…" Namjoon mengulurkan jus kalengan dingin pada Seokjin yang sedang sibuk menatap berkeliling di apartemen Namjoon. Saat pertama kali datang ke apartemen ini, Seokjin sama sekali tidak memperhatikan detail ruangan milik Namjoon.

"Namjoon"

"Ne?" Namjoon menyamankan diri dan duduk disamping Seokjin.

"Aku boleh ke dapur?"

"Huh? Ada yang kau perlukan? Biar aku yang ambil" Namjoon menawarkan.

"Anio. Keberatan kalau aku memeriksa kulkas?"

Namjoon menatap bingung pada Seokjin. Apa kulkas lebih menarik dari dirinya sekarang?

"Boleh?" Tanya Seokjin lagi saat Namjoon hanya memandanginya saja.

Namjoon akhirnya mengangguk dan mempersilahkan Seokjin berjalan kedapur dengan Namjoon mengikuti dibelakang.

Sampai di dapur, Seokjin langsung memeriksa kulkas milik Namjoon dan terperangah. Dikulkas Namjoon hanya berisi minuman kaleng, makanan beku dan beberapa makanan ringan. Seokjin mengernyit, hidup Namjoon benar-benar tidak sehat.

"Ada apa?" Namjoon menggaruk pipinya yang tidak gatal saat Seokjin menatapnya tajam.

"Dimana letak sayur dan buah-buahan milikmu, Kim Namjoon-ssi?" Seokjin menutup pintu kulkas dan menatap makin tajam pada Namjoon.

"Aku… tidak menyimpan yang seperti itu…" guman Namjoon pelan. "Tapi aku punya jus kalengan di kulkas" Namjoon mencoba membela diri. Dia paham maksud pertanyaan Seokjin. Ya, Namjoon akui, hidupnya memang sembarang.

"Jus kalengan jelas berbeda dengan jus yang langsung dibuat"

"Yang penting sama-sama berisi buah kan…" Namjoon mencoba membela diri lagi.

Seokjin membolakan matanya, kesal karena Namjoon terus saja membela diri.

"Oh, oke. Jus kalengan dan jus buah asli… tidak sama" Namjoon tersenyum kaku.

"Kau juga memakan makanan beku" ucap Seokjin lagi.

"Aku tidak selalu memakannya, kok. Biasanya aku makan diluar. Itu Cuma cadangan saja kalau aku kelaparan tengah malam" Namjoon menjelaskan.

Seokjin menghela nafas maklum. Dia tidak bisa berargumen soal itu. Namjoon tinggal sendiri, tidak ada pembantu, dan Seokjin yakin Namjoon tidak bisa masak sama sekali, jelas pilihannya jatuh pada makanan beku yang hanya tinggal digoreng dan langsung bisa dimakan.

"Perhatikan kesehatanmu, Namjoon" Seokjin melunak. "Setidaknya isi kulkasmu dengan buah-buahan segar, jangan Cuma mengkonsumsi jus buah kalengan, itu tidak sehat" Nasehat Seokjin.

"Iya.. iya.. mulai besok aku akan mengganti jus kalengan milikku dengan buah-buahan" Namjoon berjalan kearah Seokjin dan merangkul bahu Seokjin.

"Bagaimana pekerjaanmu?" Namjoon mengalihkan keadaan.

"Seperti biasa, banyak pasien."

Namjoon memijit tengkuk Seokjin, mendudukan Seokjin disofa dan ikut duduk disamping Seokjin.

"Hyosang-ssi sudah kembali?"

"Belum, Hyosang pergi liburan berdua dengan Yoonji"

"Kemana?" Tanya Namjoon penasaran.

"Ke Jepang. Harusnya Yoongi ikut, tapi karena pekerjaan di agensi menggunung, Yoongi terpaksa membatalkan tiketnya…" cerita Seokjin.

"Kenapa tidak ikut pergi?" Namjoon menatap pada Seokjin lekat.

"Memangnya kau memperbolehkan aku pergi dengan Hyosang?" Seokjin balas menatap Namjoon dan tersenyum. "Yakin tidak cemburu?" tambah Seokjin lagi.

Namjoon hanya menatap Seokjin, enggan menjawab.

"Kalau kau izinkan, aku bisa menyusul ke Jepang nanti malam…" Seokjin menaik turunkan alisnya.

"Memangnya kau berniat pergi?" Namjoon balik bertanya.

"Aku rasa pergi liburan untuk beberapa hari bisa membuatku lebih fresh. Aku rasa aku butuh liburan juga"

"Kalau begitu, pergi liburan denganku" putus Namjoon.

Seokjin tertawa puas. "Apa susahnya sih tinggal mengaku cemburu?" Seokjin menggusak rambut Namjoon.

"Aku cemburu. Puas?"

Seokjin tertawa lagi. "Aku hanya bercanda, jangan marah begitu" Seokjin memeluk pinggang Namjoon dan menyandarkan kepanya dibahu Namjoon.

Saat Namjoon hanya diam saja, Seokjin mengurai pelukannya dan menatap Namjoon yang terdiam tanpa emosi apapun diwajahnya. Seokjin meraba pipi Namjoon dan tersenyum hangat, mengelus pipi namja berlesung pipi itu dengan lembut dan mengecup bibir Namjoon.

"Aku mencintaimu" bisik Seokjin didepan bibir Namjoon.

Seokjin tersentak saat Namjoon menciumnya dan menarik pinggang Seokjin perlahan hingga terduduk diatas pangkuan Namjoon. Seokjin mengalungkan tangannya dileher Namjoon yang terasa panas dikulit tangannya. Perlahan, Seokjin melepas ciuman mereka dan menatap Namjoon lekat.

"Kau masih demam" Seokjin meletakkan telapak tangannya leher Namjoon yang memang terasa panas dan beralih pada dahi Namjoon kemudian.

Namjoon hanya diam dan menatap pada mata Seokjin.

"Sudah minum obat?" Seokjin mengeluskan tangannya dirambut Namjoon.

Namjoon hanya mengangguk samar.

"Ya sudah, aku akan pulang, kau butuh istirahat" Seokjin mencoba turun dari pangkuan Namjoon tapi Namjoon malah berdiri dengan Seokjin yang berada digendongannya. Kaki Seokjin mengalung dipinggang Namjoon, tangannya memegang bahu Namjoon erat-erat.

"Namjoon, turunkan aku" Seokjin menggoncang pelan bahu Namjoon.

"Aku ingin istirahat" Namjoon berucap cuek.

"Iya, tapi turunkan aku. Aku harus pulang supaya kau bisa istirahat tanpa terganggu"

"Aku tidak mau. Temani aku tidur" Namjoon berjalan santai kearah kamarnya, membuka pintu kamar dan menendang dengan kakinya saat menutup kembali, sementara Seokjin sudah panic dengan memukul bahu Namjoon berkali-kali.

"Namjoon…" Seokjin masih berusaha turun.

"Aku janji tidak akan macam-macam. Hanya peluk aku saat tidur, itu saja" Namjoon berucap serius, membuat Seokjin yang masih digendongannya sedikit lebih tenang.

"Aku pengang kata-katamu, Namjoon"

Namjoon tersenyum, menurunkan Seokjin diatas tempat tidurnya dan segera memeluk Seokjin erat-erat.

.

.

.

Yoongi sudah berdiri didepan pintu kamar Jimin, ditangannya ada sebuket bunga mawar yang kata Joohyun bisa ampuh meluluhkan pacar yang sedang merajuk. Yoongi sudah beberapa kali mengetuk kamar Jimin tapi tidak jawaban. Didekatnya ada Chanyeol yang sedang berdiri memperhatikan.

"Masuk saja, mungkin sedang tidur" Chanyeol berdiri menyandar di dinding dekat tangga.

"Tidak apa, sajangnim?" Yoongi bertanya ragu.

"Tidak apa. Kalian sedang bertengkar dan kau mau minta maaf, apa yang salah?" Chanyeol berucap santai.

"Tidak apa aku masuk kamar Jimin?" Tanya Yoongi lagi.

"Tidak apa, toh ada CCTV, aku bisa menghajarmu kapan saja kalau kau macam-macam didalam sana" Chanyeol tertawa. "Masuk saja"

"Aku masuk dulu, sajangnim" Yoongi membungkuk sopan, tangannya sudah memegang pintu dan ternyata pintu bisa terbuka, Yoongi bernafas lega.

"Fighting!" Chanyeol berucap mengejek pada Yoongi kemudian tertawa menuruni tangga.

Yoongi menarik nafas gugup saat memasuki kamar Jimin yang remang. Yoongi bisa melihat Jimin yang sedang tertidur telungkup sambil memeluk bantal. Yoongi menghela nafas.

Setelah mengatakan ingin putus, Jimin langsung lari dari studio. Sementara tiga orang yang berada didalam studio hanya bisa mematung. Jelas Yoongi yang paling syok, dia yang diputuskan, sementara kedua orang lain yang ada disana hanya berfungsi sebagai pelengkap penderitaan.

Tadinya Yoongi ingin langsung mengejar Jimin, tapi karena Joohyun bilang Jimin masih emosi dan butuh waktu untuk sendiri, jadilah Yoongi menunggu hingga malam hari. Yoongi datang bersama Chanyeol yang sudah habis-habisan mengejek Yoongi selama diperjalanan menuju rumahnya. Chanyeol memang menumpang mobil Yoongi karena supir pribadinya sedang ada acara keluarga.

Yoongi mendudukan diri disamping Jimin yang tertidur lelap, Yoongi bisa melihat mata Jimin yang terlihat bengkak karena menangis. Yoongi mengelus rambut Jimin pelan dan mengecup kepala Jimin hati-hati.

"Jiminie…"

Jimin yang merasa ada seseorang sedang memanggil namanya dan mengelus rambutnya, perlahan membuka mata, berkedip-kedip, sebelum akhirnya mendongak dan melihat wajah Yoongi. Jimin buru-buru duduk dan membuang pandangannya dari Yoongi.

"Kenapa kesini?" Jimin bertanya ketus, badannya membelakangi Yoongi yang sedang menghela nafas, lagi.

"Jiminie, ini hanya salah paham" Yoongi mencoba menjelaskan.

"Kita kan sudah putus" ucap Jimin ketus.

"Kau yakin ingin putus?"

Jimin terdiam, enggan menjawab pertanyaan Yoongi.

"Biarkan aku menjelaskannya dulu, setelahnya kalau mau putus, itu keputusanmu, dan aku akan menghargainya. Tapi tolong dengarkan aku dulu" bujuk Yoongi.

Jimin hanya terdiam lagi, matanya sudah berkaca-kaca.

Diamnya Jimin, Yoongi anggap sebagai persetujuan kalau Jimin akan mendengarkannya. Yoongi membalik tubuh Jimin agar duduk menghadapnya, dengan enggan akhirnya Jimin duduk menghadap Yoongi tapi masih tidak mau melihat wajah Yoongi.

"Jiminie…" Yoongi mengambil tangan Jimin untuk digenggam. "Tadi Seunghoon dan Joohyun hyung mengajakku ke café hanya untuk menemani mereka kencan buta, mereka yang menyusun rencana kencan buta itu, aku sama sekali tidak tau dan tidak terlibat, aku ada disana karena mereka minta ditemani, itu saja." Jelas Yoongi.

"Mereka membuat janji dengan dua wanita yang mengenakan baju putih dan berdress bunga, aku bahkan tidak ingat nama mereka bertiga. Dan soal wanita berbaju hitam itu, aku sama sekali tidak ada hubungan, dia hanya memegang pergelangan tanganku karena dia tertarik dengan gelang kita" sambung Yoongi.

"Kalau kau tidak percaya, kau bisa Tanya pada sajangnim, karena seharusnya sajangnim yang datang kesana. Tapi karena sajangnim ada rapat soal solois yang akan comeback, aku jadi dipaksa ikut. Itu juga aku baru tau karena sajangnim sendiri yang bilang saat akan kesini. Harusnya yang pergi kencan buta itu, sajangnim, Seunghoon dan Joohyun hyung." Yoongi menghela nafas saat lagi-lagi Jimin tidak memberikan reaksi.

"Jiminie, aku sudah mengatakan yang sebenarnya" Yoongi melepas genggaman tangannya, mengambil bunga mawar yang tadi diletakkannya dilantai dan meletakkannya dipangkuan Jimin.

Lagi-lagi Jimin tidak memberikan reaksi apapun membuat Yoongi putus asa.

"Maaf menganggu waktumu, aku akan pulang" Yoongi berdiri, berjalan menuju pintu. Sebelum benar-benar membuka pintu Yoongi berbalik, sedikit berharap Jimin akan berlari kearah-nya, tapi nihil. Jimin masih membatu disana.

"Aku mencintaimu, Jiminie" ucap Yoongi sebelum benar-benar menutup pintu kamar Jimin dan berjalan turun.

Diruang tamu, Chanyeol sudah menunggu, terlihat sekali dari wajahnya yang sumringah kalau dia benar-benar tidak sabar untuk mengetahui hasil akhirnya. Yoongi hanya memutar bola matanya malas. Sedikit banyak, ini juga salah Chanyeol. Kalau saja Chanyeol tidak pergi rapat Yoongi tidak akan diputuskan Jimin.

"Bagaimana?" Chanyeol bertanya antusias saat kaki Yoongi sudah menapak ditangga terakhir.

"Jimin diam saja, sepertinya dia masih marah" Yoongi lagi-lagi menghela nafas.

"Jadi kalian putus?" Chanyeol bertepuk tangan dan tertawa.

"Dimana letak lucunya, sajangnim?" Yoongi menatap kesal pada Chanyeol.

"Maafkan aku" Chanyeol berusaha menghentikan tawanya. "Tenang saja, Chimchim hanya sedang merajuk, nanti juga baik sendiri. Nanti akan ku bantu menjelaskan, tenang saja" Chanyeol menepuk bahu Yoongi. "Tapi kalau dia tetap ingin putus, itu bukan salahku" Chanyeol meledak dalam tawa.

"Sialan" Yoongi mengumpat pelan. "Aku pulang dulu, sajangnim. Sampaikan salamku pada Jiminie"

"Ne.. Ne…" Chanyeol merangkul bahu Yoongi menuju pintu depan rumah, masih dengan sisa tawanya yang tak kunjung berhenti.

"Hati-hati" pesan Chanyeol saat sudah sampai didepan pintu mobil Yoongi.

"Ne" jawab Yoongi malas.

"Sampaikan salamku pada Seokjin-ssi. Aku tidak sabar bertemu dengannya minggu depan, itu juga kalau kau tidak putus dengan Jimin" Chanyeol kembali tertawa dan membuat Yoongi makin kesal.

Yoongi memilih tidak merespon ucapan Chanyeol dan berlalu begitu saja.

"Dasar anak-anak" Chanyeol menggeleng dan kembali tertawa.

.

.

.

TBC

Dibuat balikan tyda ya, kakak yorobun?

*Ditimpuk bata*