"Sekarang aku percaya kata-kata Taetae hyung. Otakmu benar-benar berlari meninggalkan tempurung kepalamu" Jungkook mengusap wajahnya, stress dengan tingkah Jimin yang baru saja mengaku minta putus dari Yoongi.
Jungkook baru saja pulang sekolah dan memilih untuk langsung mampir ke rumah Jimin setelah menelepon Jimin sebelumnya. Begitu sampai di kamar Jimir, wajah sembab habis menangis milik Jiminlah yang dilihatnya pertama kali.
"Yoongi hyung selingkuh!" tuduh Jimin.
"Selingkuh kepalamu. Bukannya Yoongi hyung sudah menjelaskan, bahkan memberikanmu bunga?" Jungkook berucap kesal. "Aku tau sekali kalau Yoongi hyung bukan tipe pria romantic kacangan yang memberi bunga seperti ini, tapi demimu, dia rela melunturkan ego dan menjadi pria pemberi bunga, harusnya dari situ saja kau sudah tersanjung!" geram Jungkook.
"Tetap saja dia mencoba selingkuh"
"Apa tidak ada argument lain yang bisa kau ucapkan? Telingaku sakit hanya mendengar Yoongi hyung seling terus menerus" Jungkook memutar bola matanya.
"Kau tidak tau rasanya jadi aku."
"Jangan mulai drama lagi. Masalah ini seharusnya sudah selesai sejak semalam kalau saja kau mau mendengarkan." Jungkook mendengus. "Oke, kau minta putus, itu hak mu, aku tidak akan memaksa. Tapi tolong pastikan kau benar-benar akan baik-baik saja kalau nanti Yoongi hyung punya pacar baru" Jungkook tersenyum remeh.
Didepannya Jimin mematung. Jimin mulai berpikir yang aneh-aneh, siapkah Jimin kalau Yoongi bersama orang lain? Jawabannya jelas tidak! Hatinya tidak akan pernah rela.
.
.
.
RUN TO YOU
.
.
.
"Bagaimana Jimin?" Joohyun memandang iba pada Yoongi yang sedang duduk sambil memegang kopi di kantin agensi.
"Masih marah. Dia bahkan tidak memandangku sama sekali semalam" Yoongi menghela napas lelah.
"Kau tidak menghubunginya lagi?" Seunghoon menatap penasaran.
"Tidak, aku rasa dia butuh waktu sendiri" Yoongi meletakkan minumannya diatas meja.
"Kalau dia benar-benar minta putus, bagaimana?" Tanya Joohyun khawtir.
"Mau bagaimana lagi? Tidak mungkin kan aku memaksa Jimin?" ucap Yoongi pasrah.
"Aku menyesal…" Joohyun berucap tak enak hati.
"Aku juga…" Seunghoon membeo.
"Lalu bagaimana dengan keluarga kalian?" Tanya Joohyun lagi.
"Kalau benar putus, aku akan menjelaskannya pada Appa-ku nanti." Yoongi menunduk pasrah.
"Semoga Jimin tidak serius dengan ucapannya" Seunghoon mengusap bahu Yoongi, kasihan.
"Min PD-nim…" Jihoon, trainee yang sempat dekat dengan Namjoon memanggil Yoongi takut-takut.
"Kau memanggilku?" Yoongi menoleh pada Jihoon yang berdiri agak jauh darinya.
Jihoon mengangguk ragu.
Yoongi berdiri, mengambil gelas minumannya dan berjalan kearah Jihoon, menduduki bangku kosong yang tepat berada disamping Jihoon berdiri.
"Duduk" Yoongi mempersilahkan.
Jihoon membungkuk dan mendudukan diri didepan Yoongi. "Maaf mengganggu waktu anda, PD-nim" mulai Jihoon.
"Ada apa?"
"Soal Namjoon hyung…" Jihoon menatap sedih kearah Yoongi.
Oh, jangan dulu. Yoongi mengumpat dalam hati. Namja imut didepannya ini sudah mulai berkaca-kaca dan Yoongi benar-benar tidak tau harus apa.
"Kenapa menangis?" Yoongi bertanya dengan nada frustasi.
"Namjoon hyung menjauhiku…" saat kata itu meluncur, air mata Jihoon pun ikut jatuh, membuat Yoongi mengerang pelan.
"Kami sibuk dikampus" jawab Yoongi sekenanya.
"Seminggu ini dia tidak mengangkat telepon dan membalas pesanku sama sekali…" Jihoon mulai terisak hebat dan Yoongi bisa melihat beberapa orang memperhatikan mereka.
Bagus, sekarang Yoongi sudah sukses jadi pusat perhatian.
"Ya, trainee, kami memang sibuk dengan tugas akhir. Dan soal Namjoon, kenapa tidak mendatanginya saja ke apartemennya?" Yoongi menatap nelangsa.
"Aku… aku tidak berani"
"Lalu kenapa kau berani mendatangiku yang jelas-jelas tidak tahu?" Yoongi mengernyit, membuat air mata Jihoon makin deras. "Ya Tuhan…" Yoongi berguman pelan, mengusap dahinya pelan.
"Maaf membuat PD-nim kesal" Jihoon terisak lagi.
"Tidak apa, hanya…" belum sempat Yoongi selesai bicara, Jimin dan Jungkook sudah berdiri tak jauh darinya. Jimin menatap Yoongi dengan pandangan tak percaya.
"Jiminie…" Yoongi cepat berdiri dan menghampiri Jimin dan Jungkook yang masih berdiri tak jauh darinya.
"Aku membawa Jimin dan juga otaknya dikepalanya. Kalian butuh bicara, hyung" Jungkook mendorong Jimin kearah Yoongi.
"Gumawo, Kookie" Yoongi menggusak rambut Jungkook.
"Ne, pergi sana. Jangan bertengkar lagi ya…" pesan mendorong punggung Yoongi dan Jimin menjauh.
Setelah Jimin dan Yoongi memasuk lift, mata Jungkook tertarik pada lawan bicara Yoongi tadi. Iseng, Jungkook berjalan kesana dan mendudukan diri tepat didepan Jihoon yang buru-buru menghapus air matanya.
"Lee Jihoon?" Jungkook membolakan matanya. Jihoon adalah teman satu kelasnya disekolah.
"Jeon Jungkook?" Jihoon menatap kaget pada Jungkook yang duduk didepannya.
"Kau? Kenapa menangis?" Jungkook memajukan duduknya, penasaran. Dia akan mengorek informasi soal ini untuk Jimin.
"Bukan apa-apa" Jihoon mengelak.
"Kau ditolak Yoongi hyung?" tebak Jungkook asal.
"Mwoya? Kenapa kau berpikir begitu?" Jihoon mengernyit heran.
"Lalu, kenapa kau menangis pada Yoongi hyung?" Tanya Jungkook lagi.
"Oh, itu… aku.. aku hanya sedang bertanya soal seseorang yang Min Pd-nim kenal" mulai Jihoon.
"Siapa?" Jungkook bertanya penasaran.
"Teman dekat Min PD-nim"
"Namjoon hyung?" tembak Jungkook.
"Kau kenal?" Jihoon membolakan matanya.
"Kau suka Namjoon hyung?" Jungkook menutup mulutnya, bertingkah dramatis atas info baru yang didapatnya.
"Bu-bukan begitu…"
"Aku kenal Namjoon hyung. Dia sering kerumahku" Jungkook berucap santai, melipat kaki dan meminum minuman Yoongi dengan cueknya.
"Huh? Kenapa dia kerumahmu?"
"Menjemput adik Yoongi hyung. Kesayanganku, Yoonji kecilku"
"Kenapa dia menjemput adik Min PD-nim?" Jihoon kebingungan.
"Well, gampangnya dia menjemput Yoonji bersama Appa Yoongi hyung" Jungkook terdiam kemudian. Ucapannya berputar-putar dikepalanya. Benar juga, seminggu ini Yoonji selalu dijemput Seokjin bersama Namjoon, bukannya agak aneh?.
"Jungkook?" Jihoon menupk tangan Jungkook pelan karena Jungkook terlihat sedang berpikir keras.
"Ah, aku harus pergi. Sampai bertemu disekolah." Jungkook berjalan buru-buru keluar gedung agensi. Kepalanya sudah sibuk dengan pikiran soal Namjoon dan Seokjin.
"Yang seragam sekolah itu siapa?" Seunghoon bertanya sambil memandangi punggung Jungkook yang sudah menghilang dibalik pintu kaca.
"Adik sepupu Yoongi. Aku pernah bertemu dengannya, sekali." Joohyun berucap tak peduli.
"Aku tidak tau Yoongi punya adik sepupu semanis itu"
Joohyun mendengus, matanya memutar dan menatap Seunghoon kesal.
"Kambing diberi bedak juga kau taksir" Joohyun menatap sinis pada Seunghoon.
.
.
.
"Yoongi hyung, aku minta maaf…" cicit Jimin begitu sampai didalam studio Yoongi.
"Aku juga minta maaf, Jiminie" Yoongi menunduk dan menghela nafas. Dia ingin memeluk Jimin tapi nyalinya seperti tidak ada.
"Aku kekanakan kan hyung? Hyung pasti kesal padaku…" Jimin berdiri gugup didekat piano.
"Tidak, aku tidak kesal"
"Hyung, maaf aku terlalu cemburuan" Jimin mengaku tanpa sadar.
"Ne. Maafkan aku juga"
Jimin mendongak dan melirik pada Yoongi. Dia ingin Yoongi memeluknya seperti biasa dan mengatakan mereka sudah baik-baik saja. Tapi Jimin tidak mendapatkan apa yang dia mau dan membuat Jimin semakin sedih. Yoongi seperti mengabaikannya. Bahkan saat menuju ke studio, Yoongi sama sekali tidak menggandeng tangannya.
"Y-ya sudah, aku akan pulang sekarang" Jimin berjalan menuju pintu dengan perasaan sedih sampai Yoongi menariknya lagi dan memeluknya erat. Jimin menangis.
"Jangan minta putus lagi, Jiminie…" Yoongi mengeratkan pelukannya pada tubuh Jimin.
"Yoongi hyung, maafkan aku…" Jimin terisak.
"Kalau kau minta putus lagi, aku akan benar-benar mengiyakan dan aku tidak akan pernah kembali lagi, Jiminie" Yoongi berucap serius. Sesekali bersikap keras pada Jimin, mungkin itu perlu. Setidaknya Jimin bisa lebih dewasa dalam bertindak.
"Jangan…" Jimin menangis keras. Dia takut. Tangannya memeluk pinggang Yoongi dengan erat. Wajahnya tersimpan dibahu Yoongi yang sudah mulai basah karena air mata Jimin.
"Bagaimana kita bisa menikah secepatnya kalau kau masih seperti ini, Jiminie? Ada masalah sedikit, langsung minta putus. Kalau kita menikah dan ada masalah, kau akan minta cerai?" Yoongi mengeluarkan unek-uneknya.
"Yoongi hyung, maafkan aku…" suara Jimin teredam dibahu Yoongi.
"Mulailah berpikir dewasa, Jiminie. Aku juga punya batas sabar. Aku manusia" Yoongi mengecup kepala Jimin. Bukan inginnya untuk bertindak keras pada Jimin, hanya saja, Yoongi butuh Jimin mengerti, menyelesaikan masalah itu bukan hanya dengan meminta putus.
"Maafkan aku, Yoongi hyung" Jimin terisak lagi.
Yoongi menghela nafas, mengurai pelukannya dan mengusap wajah Jimin yang basah dengan tangannya. Bagaimana pun, Yoongi tidak akan pernah tega untuk marah pada Jimin. Apalagi melihat wajahnya yang memerah karena menangis. Yoongi merasa menjadi pacar paling jahat yang pernah ada.
"Jangan menangis lagi, kau jelek kalau menangis" Yoongi mengusap air mata Jimin yang jatuh dan tersenyum.
"Yoongi hyung sudah tidak marah?" Jimin sesenggukan menahan tangisnya.
"Tidak. Bukannya kau yang sedang marah" Yoongi terkekeh. Lagi-lagi mengusap pipi Jimin yang dialiri air mata.
"Aku benar-benar kekanakan, ya, hyung." Jimin menunduk sedih. Tangannya terangkat memegang tangan Yoongi yang masih berada dipipinya. Jimin menarik tangan Yoongi dan mengecupnya lembut.
"Kau tau, aku memang tidak bisa marah padamu. Kenapa juga aku jatuh cinta pada anak manja seperti ini" Yoongi terkekeh, menarik wajah Jimin dan mengecup bibir Jimin. "Jangan menangis lagi…" Yoongi tersenyum dan mengecup bibir Jimin lagi.
"Yoongi hyung, maaf…" cicit Jimin lagi.
"Aku sudah memaafkanmu bahkan sebelum kau datang kesini" Yoongi memeluk Jimin erat.
"Gumawo…" cicit Jimin pelan.
"Ne… Yeobo…" bisik Yoongi dan Jimin memerah padam dipelukan Yoongi. "Aku suka dengan panggilan itu… bisa sebutkan itu lagi?" Yoongi tertawa saat Jimin mencubit perutnya.
"Jiminie tidak akan memberikan panggilan apapun lagi pada Yoongi hyung!" Jimin melepas pelukan Yoongi dan menatap Yoongi kesal. Kenapa Yoongi selalu saja menggodanya dengan panggilan yang Jimin berikan padanya.
"Sayang sekali, padahal papa anak-anal sangat suka dengan panggilan-panggilan yang Jiminie buat" Yoongi berucap kecewa yang terlalu dibuat-buat.
"Yoooonggggii hyyuunngg" Jimin menubruk tubuh Yoongi dan memeluknya erat-erat, sementara Yoongi tertawa puas.
"Mungkin aku juga harus membuat panggilan untuk Jiminie… apa ya? My love? My darling? Sweetheart?Honey? "
Jimin mendongak, wajahnya memerah dan Jimin buru-buru menutup bibir Yoongi dengan tangannya agar berhenti bicara. "Norak, tau!" Komentar Jimin, meskipun terlihat kesal tetap saja sebenarnya Jimin tengah malu.
Em.. bukannya lebih norak panggilan papa anak-anak?
.
.
.
Jimin sedang bahagia hari ini, setelah berbaikan, menunggu Yoongi selesai bekerja sambil tertidur di studio, malamnya Jimin diajak kencan. Akhirnya setelah sekian lama…
Jimin memeluk Yoongi erat-erat, pipinya menempel dibahu Yoongi, sambil menikmati angin malam yang terasa cukup dingin di kulitnya. Jimin merasa harinya makin lengkap karena Yoongi membawa motornya! Itu artinya Jimin bisa memeluk Yongi berlama-lama.
"Apa kita ganti mobil saja? Udara mulai dingin, Jiminie." Yoongi melirikkan kepalanya ke samping dan tersenyum saat melihat rambut pink milik Jimin.
"Tidak mau, mau naik motor saja" Jimin mengeratkan pelukannya.
"Sudah mulai dingin, Jiminie" bujuk Yoongi.
"Tidak mau, Yoongi hyung…" Jimin berkeras.
"Ya sudah, kita pulang cepat saja nanti" Yoongi melirik sekilas lagi.
Jimin mengangguk. Tidak masalah pulang cepat, Jimin bisa menahan Yoongi lebih lama dirumahnya nanti.
Keduanya sudah sampai di café yang Jimin tunjuk. Jimin langsung menggandeng tangan Yoongi begitu memasuki ruangan café yang cukup ramai, Jimin memilih duduk di kursi dekat kaca dan Yoongi hanya menurut.
Setelah memesan makanan, mata Yoongi terganggu dengan ponsel Jimin yang terlalu sering menyala. Dari depannya, Yoongi bisa melihat beberapa notifikasi chat yang masuk ke ponsel Jimin. Beberapa kali Juga Yoongi melirik Jimin yang duduk rapat disampingnya, tapi sepertinya Jimin tidak peduli dan sibuk memainkan jari-jari Yoongi sambil menunggu makanan pesanan mereka datang.
"Jiminie, ponselmu" Yoongi mengingatkan.
"Biarkan saja, hyung" Jimin kembali menyandar di bahu Yoongi dan kembali sibuk memijit telapak tangan Yoongi, matanya sibuk memperhatikan tangan pucat Yoongi dan beberapa kali menyatukan telapak tangannya dan milik Yoongi, membandingkan ukuran telapak tangan mereka.
"Siapa tau ada yang penting, kan?" Yoongi mengingatkan lagi.
Jimin mendengus, matanya menatap kesal pada ponselnya yang kembali memunculkan notifikasi chat dilayarnya. Dasar ponsel tidak tau aturan, berani sekali mencari perhatian disaat-saat Jimin sedang ingin manja pada Yoongi.
Dengan setengah hati Jimin mengambil ponselnya dan membuka aplikasi chat miliknya. Yoongi menatap terang-terangan pada ponsel Jimin dan matanya membelalak. Ada belasan chat yang masuk ke ponsel Jimin dengan isi yang nyaris sama, seperti ingin mengajak kenalan dan Yoongi mengernyit tidak suka.
"Siapa?" Yoongi menatap Jimin lekat.
"Tidak tau. Kalau yang ini sunbae di jurusanku, hyung" Jimin menunjuk salah satu chat yang belum dibukanya.
"Kenapa tidak di baca?"
"Malas. Paling minta kenalan atau mengganggu saja" jawab Jimin cuek.
Yoongi terdiam, matanya menatap pintu masuk dengan pandangan kosong. Sedikit banyak Yoongi merasa terganggu dengan banyaknya chat asing yang masuk ke ponsel Jimin. Oke, singkatnya Yoongi agak cemburu.
Memangnya Yoongi bisa apa kalau sudah begitu? Salahnya sendiri memacari diva kampus, sudah jadi resiko kalau Jimin sering di ganggu. Tapi tetap saja Yoongi cemburu meskipun Jimin bersikap tidak peduli.
Yoongi melirik lagi pada ponsel Jimin dan menatap lekat pada salah satu chat yang juga belum dibuka, Yoongi kenal dengan wajah itu. Itu ketua tim basket kampus mereka. Yang benar saja? Kalau saingannya ketua tim basket itu jelas saja Yoongi kalah telak.
"Itu ketua tim basket kampus kita, kan?" Yoongi menatap Jimin yang juga tengah menatapnya.
"Yang ini?" Jimin menunjuk pada chat yang belum dibacanya dengan foto profil namja berbaju basket.
"Ne" Yoongi mengangguk.
"Iya. Hyung kenal?" Jimin bertanya penasaran.
"Tau, tapi tidak kenal. Siapa yang tidak tau ketua tim basket itu di kampus kita?" Yoongi berucap sesantai mungkin, menyembunyikan perasaan bernama cemburu yang seperti sedang menggerogotinya.
"Iya. Dulu dia sering menghubungiku, sering mengajak bertemu juga" cerita Jimin.
"Oh" jawab Yoongi sekenanya.
Jimin melirik pada Yoongi yang memasang wajah datar, kemudian kembali meletakkan kepalanya dibahu Yoongi. Tangannya kembali sibuk memainkan jari-jari Yoongi.
"Lalu, sekarang?" Yoongi tidak tahan. Dia penasaran dan memilih untuk bertanya soal kelanjutan hubungan Jimin dan ketua tim basket itu, tentu saja dengan nada yang terdengar santai dan terdengar seperti basa-basi. Ini soal harga diri. Cuma laki-laki yang mengerti perasaan Yoongi sekarang.
"Huh? Dia tetap menghubungiku hyung" jawab Jimin santai.
Yoongi merasa statusnya sebagai pacar Jimin seolah terancam.
"Dia juga sering menelepon…" ucap Jimin lagi.
"Oh.." Yoongi hanya ber-oh ria. Tidak tau harus merespon seperti apa ucapan Jimin. Kalau Jimin selingkuh dengan ketua tim basket itu, Yoongi tentu bisa memakluminya. Dia tampan, kaya, terkenal, idola kampus, siapa yang tidak mau jadi pacarnya?
Makanan datang dan Jimin menegakkan tubuhnya. Setelah mengucapkan terimakasih pada pelayan, Jimin meletakkan makanan pesanan Yoongi di depan Yoongi, menyusun garpu dan sendok untuk Yoongi, kemudian meletakkan gelas minuman milik Yoongi dan memasukan sedotan kedalam gelas, selesai menyusun, Jimin melirik lagi pada Yoongi yang kembali terdiam.
"Yoongi hyung, aaa…"Jimin mengarahkan garpunya yang sudah berisi waffle coklat kearah Yoongi.
"Huh? Wae?" Yoongi sedikit kaget karena Jimin tiba-tiba sudah mengarahkan garpu berisi waffle padanya.
"Aaaa…" ulang Jimin lagi.
Yoongi membuka mulutnya ragu-ragu dan memakan waffle yang Jimin suapkan untuknya.
"Enak?" Jimin tersenyum antusias.
"Hmm.." Yoongi mengangguk.
"waffle disini memang terkenal enak, hyung" Jimin berucap bangga. "Yoongi hyung tidak makan?" Jimin menatap lagi pada Yoongi yang sama sekali tidak menyentuh sendok dan garpu miliknya.
"Ini mau makan" Yoongi mengambil sendok dan garpu yang sudah Jimin susunkan untuknya dan makan dengan tenang.
Selama makan, Jimin berkali-kali menyuapi Yoongi dengan waffle miliknya, terkadang Jimin mengambil makanan milik Yoongi tanpa izin dan juga meminum minuman milik Yoongi, sementara minum miliknya dibiarkan begitu saja.
Selesai makan, Jimin ingin ngobrol lagi dengan Yoongi, tapi Yoongi langsung berjalan ke kasir, membayar makan mereka dan mengajak Jimin pulang.
Selama diperjalanan, Jimin sengaja tidak memeluk Yoongi. Dia ingin Yoongi sendiri yang meminta Jimin untuk memeluknya, tapi Yoongi sama sekali tidak bicara apapun. Jimin mulai merasa ada yang aneh dengan Yoongi.
Dilampu merah, Jimin sengaja mengusap-usap lengannya, sebagai gesture kalau Jimin kedinginan, tapi lagi-lagi Yoongi mengabaikan kode yang Jimin berikan.
"Dingin sekali" Jimin sengaja menguatkan suaranya dan berhasil menarik perhatian Yoongi.
Yoongi melirik kebelakang, kaca helm miliknya dinaikkan sedikit dan menatap datar pada Jimin yang sudah acting kedinginan diboncengan. "Sabar, Sebentar lagi juga sampai"
Jimin membolakan matanya. Kemana perginya calon suami perhatiannya? Biasanya Yoongi akan menyuruhnya memeluk, tapi kali ini hanya disuruh sabar? Jimin menatap punggung Yoongi tak percaya. Yang benar saja, Min Yoongi.
Sampai dirumah, Jimin turun dengan berpegangan di bahu Yoongi. Jimin berjalan kedepan motor dan melepas helm Yoongi pelan-pelan. Setelah helm Yoongi terlepas, Jimin merapikan rambut Yoongi yang mencuat.
"Mampir dulu, ya, hyung" pinta Jimin. Tangannya memegang stang motor milik Yoongi, menatap memohon pada Yoongi yang sepertinya ingin langsung pergi.
"Sudah malam, aku ha…"
"Yoongi hyung, Chanyeol hyung belum pulang, aku tidak ada teman di rumah" bujuk Jimin.
"Tapi sud…"
"Biasanya Yoongi hyung tidak begini!" Jimin menatap kesal pada Yoongi yang tidak juga meluluskan permintaannya.
Yoongi menghela nafas dan memarkirkan motornya digarasi Jimin yang terbuka.
"Sana masuk" Yoongi mengelus kepala Jimin yang masih terlihat kesal padanya, menuntun Jimin agar masuk kerumah.
Jimin menarik tangan Yoongi menuju kamarnya, mendudukan Yoongi di kursi belajarnya dan menyuruh Yoongi menunggunya selesai mandi. Yoongi hanya menurut dan memilih memainkan game di ponselnya. Setidaknya bisa menjadi pelarian dari isi kepalanya yang mulai kalut.
Lima belas menit lebih Jimin gunakan untuk mandi dan meredakan sedikit kekesalannya, setelah merasa perasaannya cukup tenang, Jimin keluar kamar mandi dengan piyama, berjalan kearah Yoongi yang sudah menutup telinganya dengan earphone dan sibuk sendiri dengan game di ponselnya.
Jimin menghela napas lagi. Yoonginya benar-benar aneh. Jimin mulai berpikir kalau Yoongi berubah semenjak Jimin minta putus semalam. Jimin agaknya menyesal sekarang.
"Yoongi hyung" Jimin memeluk bahu Yoongi dari belakang, meletakkan pipinya diatas puncak kepala Yoongi.
Yoongi melepaskan earphone miliknya, meletakkan ponselnya dan sedikit mendongak hanya untuk melihat Jimin yang sudah mendaratkan kecupan di dahinya. Yoongi tersenyum.
"Sudah malam, istirahatlah" Yoongi melepaskan tangan Jimin dari bahunya pelan dan mengarahkan Jimin untuk tidur.
Jimin terdiam memandangi Yoongi. Kepalanya berteriak ribut dengan sikap Yoongi malam ini. Apa Jimin sudah tidak menarik lagi? Apa Jimin sudah tidak enak lagi untuk dipeluk? Jimin benar-benar bingung sekarang, Yoongi seperti menolak sentuhan Jimin.
"Yoongi hyung jahat sekali…" Jimin menatap Yoongi dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Yoongi yang melihat Jimin menangis, langsung berdiri kaku di depan Jimin.
"Aku salah apa, hyung?" Jimin merasa dadanya naik turun karena menahan tangis, rasanya sedih sekali saat Yoongi menolak sentuhannya.
"Jim, ada apa? Kenapa menangis?" Yoongi bertanya panic, mengelus bahu Jimin untuk mencoba menenangkannya..
"Bukannya itu seharusnya menjadi pertanyaanku hyung?" Jimin mengusap kasar air matanya yang jatuh. Jimin makin sedih, bahkan setelah Jimin benar-benar menangis, Yoongi tidak memeluknya seperti biasa.
"Jim, ada apa?" Yoongi menghapus air mata Jimin dengan tangannya. Wajahnya sangat jelas menunjukan kepanikan.
Jimin terdiam, menunduk didepan Yoongi dan makin menangis. Bahunya terlihat tergoncang karena isak tangisnya yang terdengar memilukan.
"Astaga, Jiminie, Ada apa?" Yoongi berjalan mendekat, memeluk Jimin dan mengecup kepala Jimin berkali-kali, tangannya mengelus punggung Jimin yang bergetar hebat karena menangis.
"Yoongi hyung, kenapa selalu menolakku? Huks.. apa.. apa aku ada berbuat salah?" Jimin terisak lagi.
"Menolak apa?" Yoongi mengernyit tak paham. Tangannya mengurai pelukan dan beralih pada Jimin yang tengah menangis didepannya, lagi, Yoongi menghapus air mata Jimin dengan tangannya.
"Yoongi hyung aneh…" Jimin mengusap kasar air matanya sebelum kembali bicara. "Apa aku berbuat salah hyung?"
Yoongi menghelan napas. Dia mengerti kenapa Jimin menangis sekarang. Yoongi akui dia agak berubah kaku pada Jimin, tapi bukan karena dia menolak sentuhan Jimin. Yoongi hanya merasa terganggu dengan pikirannya sendiri dan berefek pada tingkahnya yang aneh dimata Jimin.
Yoongi hanya merasa tidak nyaman dengan fakta baru yang dia ketahui, kalau ternyata cukup banyak orang diluar sana yang menaruh perhatian pada kekasihnya. Terlebih lagi fakta tentang si kapten tim basket itu yang sepertinya juga menaruh perhatian lebih pada Jimin. Oke, Yoongi mengaku. Dia merasa bukan lawan yang seimbang jika dibandingkan dengan si kapten tim basket itu.
"Maaf Jiminie. Kau benar, aku memang aneh…" Yoongi mengecup dahi Jimin cukup lama sebagai permintaan maaf.
"Yoongi hyung, ada apa?" Jimin menatap lurus pada mata Yoongi yang terlihat gelisah didepannya.
"Aku cemburu" Yoongi mengaku.
Jimin mengernyit bingung, tangannya bergerak menyentuh kedua sisi wajah Yoongi dan menatapnya lekat.
"Cemburu?" ulang Jimin tak yakin.
"Lebih baik aku jujur daripada kau salah paham. Iya, Jiminie, aku cemburu. Aku cemburu mengetahui pacarku ternyata banyak diminati. Rasanya cukup tidak nyaman saat tau bukan hanya aku yang memperhatikanmu" Yoongi menghela napas lagi, dia tau dia sudah kekanakan.
"Maaf membuatmu salah paham, tadi" Yoongi melepas tangan Jimin dari sisi wajahnya dan menggenggamnya erat. "Maaf membuatmu jadi menangis" tambah Yoongi.
"Hyung cemburu?" Jimin menatap tak percaya pada Yoongi.
"Ne" jawab Yoongi pasrah.
"Yeobo manis sekali…" Jimin berucap dengan mata berbinar.
Yoongi menatap pasrah pada Jimin. Ya, mungkin Yoongi harus menerima karmanya karena sering mengejek Jimin. Mungkin ini saatnya keadaan berbalik padanya.
"Jiminie senang sekali Yoongi hyung cemburu" Jimin memeluk erat leher Yoongi dan terkikik riang.
"Ya, kenapa malah senang? Kau sedang ku curigai" Yoongi memutar bola matanya, tangannya bergerak ke pinggang Jimin dan balas memeluk Jimin
"Tentu saja senang, itu artinya Yoongi hyung sayang padaku, iya kan?" Jimin menatap mata Yoongi dan tertawa pelan.
"Kau senang sekali aku cemburu"
"Yoongi hyung lucu sekali…" Jimin tertawa kecil dan menutup bibirnya dengan telapak tangannya, sementara tangan yang satunya bertengger dibahu Yoongi. "Ya, papa anak-anak, sudah sampai sejauh ini masih saja bisa cemburu pada orang lain?" Jimin tertawa lagi.
"Dengar ya, tuan Min Yoongi, selain tuan kulit pucat ini, tidak ada yang lagi yang Jiminie suka" Jimin mengecup bibir Yoongi.
"Saranghae, Yoongi hyung" bisik Jimin didepan bibir Yoongi.
Yoongi menatap tajam pada mata Jimin yang masih dipeluknya erat, membuat Jimin salah tingkah dan memerah malu. "Nado, Jiminie…" balas Yoongi dengan wajah serius.
Jimin memerah seluruh wajah.
Jimin yang memulai lebih dulu, mengecup bibir Yoongi dan kemudian dibalas Yoongi dengan ciuman yang lembut dan dalam. Mereka berciuman cukup lama sampai Jimin merasa kakinya sudah mulai kehilangan daya. Jimin memundurkan tubuhnya hingga betisnya berbentur dengan tempat tidur, perlahan Jimin mendudukan diri dengan tangannya yang masih berada ditengkuk Yoongi, bermain dengan rambut Yoongi yang masih menciumnya.
Jimin menarik Yoongi hingga menunduk sementara Jimin menyamankan diri diatas tempat tidurnya. Saat ciuman itu terlepas, Jimin tersenyum lembut pada Yoongi yang masih berada diatasnya. Tangannya mengelus sayang kedua sisi wajah Yoongi, menggesekan ujung hidungnya dan milik Yoongi sebelum akhirnya Yoongi kembali menciumnya lebih dalam.
Jimin melenguh pelan saat lidah Yoongi bermain didalam mulutnya, Jimin merasa gerah. Perlahan Jimin melepaskan ciumannya dan mengatur napasnya yang berantakan, malu-malu Jimin menatap Yoongi yang masih saja menatapnya dengan tatapan sayang. Oh.. Jimin benar-benar merasa dicintai hanya dengan ditatap seperti itu.
"Hyung… geraah.." Jimin merengek pelan, tubuhnya menggeliat tak nyaman diatas tempat tidur.
Yoongi? Yoongi sudah kesulitan menelan ludahnya. Ucapan Jimin seolah menantang Yoongi untuk membuka pakaian Jimin sekarang juga. Sebelum Yoongi hilang akal, CCTV disudut kamar Jimin membuat Yoongi tersadar dari sesuatu yang mulai membakar tubuh Yoongi. Kamera CCTV Jimin, menyala.
Yoongi mengecup bibir Jimin sebelum akhirnya bangkit dan merapikan sedikt bajunya yang berantakan karena Jimin. Jimin terduduk bingung diatas tempat tidurnya, menatap Yoongi penuh Tanya.
"Yoongi hyung?" Jimin menatap bingung pada Yoongi.
Yoongi tersenyum, menarik tangan Jimin dan mengecupnya lama. "CCTV" ucap Yoongi.
Jimin menatap kesudut kamarnya dan menatap tak enak hati pada Yoongi.
"Sepertinya aku harus cepat lulus kuliah" Yoongi mendudukan diri diujung tempat tidur.
"Huh?"
"Jiminie, kalau kita menikah setelah aku lulus kuliah, kau bersedia?"
Jimin memerah. Apa Yoongi sedang melamarnya sekarang? Jimin rasanya ingin berlari kerumah Jungkook dan memamerkan Yoongi lagi.
"Hyung sedang melamarku?" Jimin melirik malu pada Yoongi.
"Besok saja kalau begitu, aku tidak membawa cincin hari ini"
"Hyung benar-benar sedang melamarku?" Jimin membolakan matanya, dadanya berdebar liar dengan harapan yang mulai meninggi.
"Kau tidak mau?" Yoongi menaikan alisnya. "Tentu saja tidak mau. Sudah tidak bawa cincin, tidak romantis lagi" Yoongi menjawab pertanyaannya sendiri.
"Y-Yoongi hyung, tidak sedang bercanda?" Jimin bertanya lagi. Debaran dadanya sudah menggila sekarang.
"Aku serius. Aku takut kau diambil orang lain. Sepertinya aku harus melamarmu lebih dulu, tapi aku tidak bawa cincin"Yoongi berucap serius.
Jimin menerjang Yoongi, membuat Yoongi terbanting ketempat tidur dengan Jimin yang berada diatasnya memeluknya erat, menyembunyikan wajahnya dibahu Yoongi.
"Besok Yoongi hyung harus membeli cincinnya…" Jimin menangis lagi.
"Besok aku akan melakukannya dengan lebih romantis. Maaf karena menjadi pacar yang payah.." Yoongi tersenyum dan mengelus rambut Jimin dengan sayang.
Jimin mengangguk dan makin erat memeluk Yoongi. Jimin rasanya tidak berani meminta lebih dari ini. Yoongi yang benar-benar serius padanya saja Jimin sudah bersyukur. Meskipun tidak ada romantis-romantisnya sama sekali, tapi Jimin benar-benar bahagia sekarang. Yoongi-nya, menginginkannya.
.
.
.
TBC
Namjinnya mana thor? Ntar dulu kakak yorobun, namjinnya disimpan dulu…
.
.
.
"Aku curiga Seokjin ahjussi dan Namjoon hyung punya hubungan khusus" Jungkook menatap Taehyung dengan wajah serius.
"Jangan terlalu banyak menonton drama, sayang" Taehyung memperingatkan, menarik Jungkook kembali agar tidur dilengannya.
"Tapi aku punya alasan kuat atas kecurigaanku, hyung"
"Iya, iya."
"Taetae hyung!" Jungkook mencubit perut Taehyung karena tidak serius menanggapi ucapannya.
