"Aku sudah di parkiran kampus kalian, lalu aku harus kemana?" Jungkook melirikkan kepalanya ke kiri dan ke kanan mencari-cari keberadaan Jimin.
Hari ini setelah beberapa hari permasalahan Jimin dan Yoongi selesai, Jimin ingin memenuhi janjinya dengan melakukan pertukaran informasi bersama Jungkook.
Jungkook sendiri yang sudah mati penasaran dengan anak bernama Park Jihoon itu berinisiatif untuk datang ke kampus Jimin langsung. Dia ingin melihat seperti apa wajah seseorang yang kata Jimin selalu memandang pacarnya dengan tatapan penuh cinta itu.
"Jungkook!" Teriakan Jimin membuat Jungkook menjauhkan ponsel dari telinganya.
Setelah melihat rambut pink mencolok Jimin yang sedang melambaikan tangan kearahnya, Jungkook berjalan kearah Jimin dengan sedikit berlari.
"Aku…"
Belum sempat Jungkook selesai berbicara saat sampai didepan Jimin, Jimin dengan terburu menarik Jungkook dengan sedikit berlari, tujuannya kantin fakultas.
"Kenapa buru-buru?" Jungkook terlihat protes saat tangannya ditarik paksa oleh Jimin.
"Dia ada di kantin" Ucap Jimin tak sabar.
"Siapa?"
"Park Jihoon!"
.
.
.
RUN TO YOU
.
.
.
"Aku pusing dengan tugas akhir. Rasanya hampir muntah setiap kali memikirkannya" Namjoon meletakkan kepalanya diatas meja dan sibuk berkeluh kesah.
"Jangan dipikirkan kalau begitu" Yoongi membalas dengan santai.
"Tetap saja kepikiran" Namjoon menegakkan kepalanya lagi.
"Aku lupa memberitahumu, beberapa hari yang lalu pacarmu mendatangiku" Yoongi melirik Namjoon yang terlihat terkejut dengan ucapan Yoongi.
"Pacarku? Siapa?" Namjoon merasa dadanya sedikit berdetak tak wajar.
"Memangnya pacarmu ada tujuh belas? Si trainee di agensi kami, Bihoon" jelas Yoongi.
"Jihoon" Koreksi Namjoon, diam-diam merasa lega karena yang terjadi tidak seperti apa yang dibayangkannya.
"Kalian bertengkar?"
Namjoon terdiam sebentar, bingung harus menjawab bagaimana pertanyaan Yoongi ini.
"Ya, kalau bertengkar jangan lama-lama, dan jangan libatkan aku dalam masalah kalian." Yoongi menajamkan pandangannya pada Namjoon yang masih saja terdiam.
"Ne" jawab Namjoon sekenannya.
"Hari ini hanya tinggal ini saja ya perkuliahan?" Yoongi membereskan bukunya diatas meja.
"Ne. minggu depan sudah ujian"
"Ingin pergi nongkrong? Hoseok bilang hari ini dia pulang sore, jadi bisa pergi keluar " ajak Yoongi.
"Kemana?" Namjoon melirik penasaran.
"Tidak tahu, kata Hoseok ada café yang baru buka dekat rumah sakit, dia ingin mengajak kesana. Dia bilang kalau kau tidak sibuk, kau harus datang."
"Oke, aku ikut. Sekarang?"
"Ne"
Namjoon berjalan dikoridor menuju parkiran bersama Yoongi disampingnya. Yoongi terlihat sibuk dengan ponselnya sementara Namjoon sedang melirikkan matanya tajam kearah kantin fakultas. Rasanya tidak asing dengan dua orang yang sedang duduk dibagian luar kantin, keduanya terlihat sedang serius dengan pembicaraan mereka sendiri.
"Yoongi hyung, itu Jungkook kan?" Namjoon menepuk bahu Yoongi.
"Dimana?"
"Di kantin. Itu juga Jimin, kan?" Namjoon menunjuk kearah dua orang yang duduk berhadapan dibagian luar kantin.
"Benar. Ada apa Jungkook kesini" Yoongi mengernyit.
"Mau kesana dulu?" Namjoon menawarkan.
"Boleh"
Namjoon dan Yoongi berbelok arah menuju kantin.
Sangkin seriusnya pembicaraan Jimin dan Jungkook, keduanya bahkan tidak sadar kalau Yoongi dan Namjoon sudah berada tepat dibelakang Jimin.
"Kalian membahas rahasia Negara?" Namjoon yang lebih dulu merusak acara berbagi gossip antara Jungkook dan Jimin.
"Namjoon hyung?" Jimin membalikkan tubuhnya. "Yoongi hyung?" Jimin membolakan matanya.
Ini kejadian cukup langka. Biasanya jadwal kelas Jimin dan Yoongi sering bertabrakan dan membuat mereka sangat jarang bertemu dikampus. Dan hari ini, dihari yang cerah dan sangat penting ini, kehadiran Namjoon dan Yoongi jelas tidak diharapkan.
"Kalian serius sekali. Membahas apa?" Yoongi menggusak rambut Jimin, masih tetap berdiri dibelakang Jimin, sementara Namjoon sudah mendudukan diri disamping Jimin.
"Huh? Bukan apa-apa, Yoongi hyung" Jungkook langsung menyambar. Dia takut Jimin akan mendadak bodoh dan mengatakan yang sejujurnya. Mau dimana wajah Jungkook ditaruh kalau Yoongi tau Jungkook datang ke kampus hanya untuk mencari tahu siapa Park Jihoon.
"Aku hanya sedang ingin membicarakan sesuatu hal pada Jimin, itu saja" sambung Jungkook.
"Yoongi hyung, tumben ada dikampus?" Jimin memiringkan badannya sedikit agar bisa melihat Yoongi yang masih berdiri dibelakangnya.
"Ada kelas ganti" jelas Yoongi. Tangannya diletakkan diatas bahu Jimin dan mengelus bahu sempit Jimin pelan.
Pemandangan asing itu membuat beberapa pasang mata mahasiswa yang berada di kantin menatap penuh minat pada Yoongi dan Jimin.
Sudah sejak beberapa bulan yang lalu beredar kabar kalau Yoongi dan Jimin menjalin hubungan. Makin diperkuat dengan munculnya wajah Yoongi di instagram pribadi milik Jimin, tapi baru kali ini mereka melihat interaksi langsung 'diva' kampus mereka dengan 'gunung es' berjalan.
Ini cukup membingungkan mengingat reputasi Yoongi di kampus dikenal sebagai orang yang cuek dan tidak banyak bicara, Yoongi juga tidak terlalu terkenal dikampus, hanya anak-anak jurusan seni yang kebanyakan mengenal Yoongi, berbeda dengan Jimin yang ramah, menyenangkan, dan diyakini dikenali seluruh mahasiswa dikampus mereka. Ajaibnya, kedua orang berbeda sifat itu, berkencan. Dan dari seluruh mahasiswa yang pernah digosipkan mengincar Jimin, nama Yoongi jelas tidak pernah muncul dipermukaan. Lalu, bagaimana bisa?
"Sudah makan?" Jimin mendongak untuk bisa melihat wajah Yoongi.
"Tadi siang, sudah" Yoongi tersenyum lembut.
"Kalian sedang membahas apa? Sepertinya seru sekali, aku jadi penasaran.." Namjoon menginterupsi kemesraan yang mulai disebarkan Yoongi dan Jimin disekitar mereka.
"Hanya hal-hal tidak penting saja, Namjoon hyung" Jungkook cepat-cepat menjawab.
"Pelit sekali" Namjoon mencibir karena Jungkook tidak juga menjawab inti dari pembahasannya dan Jimin.
"Oh, ya, kami tidak akan mengganggu urusan kalian. Namjoon, ayo kita tinggalkan mereka yang sedang sibuk membuat rahasia ini." Yoongi memperbaiki posisi ranselnya, salah satu tangannya menepuk bahu Namjoon agar berdiri.
"Yoongi hyung mau kemana?" Jimin menarik tangan Yoongi erat, matanya menyiratkan keberatan yang tidak ditutup-tutupi sama sekali.
"Bertemu Hoseok. Sudah lama kami tidak berkumpul" Yoongi menggenggam tangan Jimin yang tadi menarik tangannya.
"Bersama siapa saja? Bukan kencan buta kan?" Jimin menatap tajam pada Namjoon dan Yoongi secara bergantian.
"Astaga… kami hanya bertemu Hosoek, sayang" Yoongi menghela napas.
"Memangnya Yoongi hyung pernah pergi kencan buta?" Namjoon mengernyitkan alisnya penasaran.
"Tidak perlu dibahas, ayo pergi" Yoongi menarik Namjoon yang masih saja duduk.
"Janji ya, hanya bertemu Hoseok hyung" Jimin memaksa.
"Janji" Yoongi menghela napas lagi. Sudah jadi resikonya akan dicurigai kala pergi. Salah sendiri kenapa kemarin menyetujui pergi kencan buta.
"Ya, Park Jimin, Yoongi hyung hanya pergi dengan teman-temannya, jangan berlebihan. Kau bukan istri Yoongi hyung" Jungkook memutar bola matanya.
"Dengar ya, Jeon Jungkook…" Jimin memutar duduknya agar berhadapan langsung dengan Jungkook. "Aku ini sudah 65%, Yoongi hyung sudah melamarku kalau kau mau tau" Jimin tersenyum menyebalkan.
Namjoon dan Jungkook sama-sama membolakan matanya. Yang benar saja.
"Benar hyung?" Namjoon yang lebih dulu memberi reaksi.
"Kami sudah memesan cincin semalam" Jawaban yoongi secara tidak langsung membenarkan kalau dia sudah melamar Jimin.
"Kau dengar itu, Jeon Jungkook?" Jimin tersenyum bangga.
"Ta-tapi, kapan acaranya?" Jungkook sedikit merasa terkhianati. Dia masih adik sepupu Yoongi kan? Kenapa dia tidak diundang?
"Sabtu ini, Jungkook, tapi hanya keluarga kami saja" Jimin berucap sombong.
"Ba-bagaiman bisa?" Jungkook seperti tidak menerima kenyataan. Dia kalah dari Jimin.
"Itu hanya acara kecil, kau bisa datang kerumah sabtu ini. Min ahjumma dan Min Ahjussi juga akan di undang." Yoongi menjelaskan.
"Lalu aku?" Namjoon bertanya.
"Hanya keluarga saja, Namjoon. Kalau aku menikah, kau memang diharuskan datang" Yoongi terkekeh melihat wajah Namjoon yang tidak terima karena tidak di undang. Sahabatnya akan tunangan dan dia tidak di undang?
"Bercanda. Tadinya aku akan bilang saat kita bertemu Hoseok. Tapi ini hanya acara kecil, hanya acara keluarga saja" Yoongi tertawa.
"Sial, aku pikir kau sudah tidak menganggapku sebagai sahabatmu lagi, hyung" Namjoon mengomel. "Mau acara kecil, acara besar, aku tetap akan datang. Kau akan tunangan dan aku harus ada disana untuk melihat wajah menyebalkanmu yang akan berganti status"
Yoongi tertawa sementara Jimin mencubit pelan pergelangan tangan Yoongi.
"Kami memang hanya mengundang teman terdekat dan keluarga saja hyung. Yoongi hyung yang minta, dia tidak suka keramaian soalnya. Lagian ini masih tunangan" Jimin membantu menjelaskan.
"Jadi, kalian berencana menikah muda?" Namjoon bertanya makin antusias.
"Begitulah…" Yoongi berucap santai.
"Kapan?" kejar Namjoon.
"Setelah aku lulus kuliah"
"Enam bulan lagi?" Namjoon membolakan matanya.
"Benar sekali"
.
.
.
"Itu Taehyung" Jimin berucap heboh saat melihat Taehyung muncul dari pintu samping.
Di dalam kantin masih ada Park Jihoon yang sejak tadi mereka perhatikan. Jungkook berusaha menyembunyikan wajahnya, menutupi dengan masker dan memakai hoodie untuk menyempurnakan penyamaran.
Didalam kantin, Jungkook bisa melihat Taehyung yang sedang memesan minuman bersama seorang temannya yang Jungkook kenal. Perlahan pandangan Jungkook beralih pada Jihoon yang duduk dekat Taehyung yang masih berdiri menunggu minumannya.
Jimin tidak berbohong. Mata Jihoon benar-benar berbinar penuh cinta saat melihat Taehyung-nya. Hell yeah, si Jihoon ini harus tau siapa pemilik orang yang sedang dia pandangi dengan tatapan penuh cintanya.
"Jimin, bagaimana penampilanku?" Jungkook melepas Hoodie dan maskernya buru-buru.
"Biasa saja" Jimin mengangkat bahunya cuek.
"Kau mau ku hajar?" Jungkook berucap tak sabar.
"Rapikan rambutmu" Jimin berkomentar.
Jungkook buru-buru merapikan rambutnya. "Bagaimana?" Tanya Jungkook lagi.
"Kancing kemejamu, aku sesak melihatnya" komentar Jimin lagi.
Jungkook membuka kancing kemejanya paling atas.
"Ada lagi?" Jungkook bertanya lagi.
"Sudah. Kau mau apa?" Jimin melirik Jungkook yang bersiap untuk berdiri.
"Menemui Taetae hyung tentu saja" Jungkook memutar bola matanya.
"Tunggu!" Jimin menahan pergelangan tangan Jungkook, memaksa namja kelinci itu untuk duduk kembali. "Kau ingin membuat keributan? Belum tentu juga Taehyung sadar kalau Jihoon memperhatikannya kan?" Jimin berucap panic. Bisa-bisa Taehyung memecatnya jadi sahabat kalau tau Jimin yang memulai gossip ini.
"Kau pikir aku sudah kehilangan otak di kepala? Tentu saja aku tidak akan membuat keributan. Harga diri!" Jungkook melepas tangan Jimin dan beranjak kedalam kantin.
Di kursinya, Jimin menatap dengan perasaan was-was.
Jungkook berjalan santai menuju Taehyung yang sudah siap pergi karena minumannya sudah selesai dibuat. Belum sempat Taehyung melangkah, Jungkook menarik pergelangan Taehyung dan memberikan senyum terbaiknya.
"Taetae hyung" Jungkook tersenyum cerah.
"Kookie?" Taehyung menaikkan alisnya dan berangsur-angsur tersenyum. Tangannya mengarah ke kepala Jungkook dan menggusak rambutnya. "Kenapa kemari?" Taehyung merangkul bahu Jungkook.
"Mengantarkan barang milik Yoongi hyung" Jungkook beralasan. Tidak mungkin kan dia menjelaskan yang sebenarnya?. Sekilas Jungkook melirik pada Jihoon yang sedang menatap kearah mereka dengan mata membola. Jungkook menyeringai dalam hati.
"Oh, sudah bertemu dengan Yoongi hyung?"
Jungkook mengangguk. "Taetae hyung…" Jungkook dengan sengaja menarik Taehyung mendekat kearah tempat duduk Jihoon dan temannya. Dengan sengaja juga Jungkook mendudukan diri tepat didepan Jihoon yang kebetulan bangkunya kosong.
"Ne, Kookie?" Taehyung menggenggam tangan Jungkook erat tanpa menyadari ada mata lain yang memandang terkejut pada mereka.
"Bisa antarkan Kookie pulang? Jimin bilang dia masih ada kelas sore nanti, jadi tidak bisa aku mintai tolong" Jungkook merengek.
"Tentu saja. Aku tidak ada kelas setelah ini. Mau kencan?" Taehyung menawarkan.
Jungkook melirik dengan ekor matanya pada Jihoon yang sudah menunduk. "Ahh pacarku manis sekali…" Jungkook dengan sengaja menguatkan suaranya. Bisa dipastikan Jihoon dan temannya mendengar ucapan Jungkook dengan jelas.
"Kau manja sekali hari ini" Taehyung menggusak lagi rambut Jungkook. "Nonton bioskop?" Taehyung menawarkan.
"Call" Jungkook berdiri, menarik tangan Taehyung dan memeluk tangan itu erat.
Sebelum benar-benar meninggalkan kantin, Jungkook melirik kebelakang, tepat kearah Jihoon yang sedang melihat Jungkook dan Taehyung. Jungkook tersenyum remeh dan mengedipkan matanya pada Jihoon., kemudian kembali bergelayutan di tangan Taehyung dengan manja.
Jimin yang dari tadi mengintip dari luar, akhirnya bisa bernapas lega. Benar-benar si Jungkook itu. Jimin terdiam sebentar sebelum akhirnya tersenyum lucu, apa dia terlihat seperti itu saat menemui Yoongi di kencan buta kemarin? Jimin tertawa sendiri memikirkannya. Dia malu.
.
.
.
Yoongi memasuki café tempat janjian bersama Namjoon yang mengekor dibelakangnya. Cafenya cukup tenang dan tidak begitu banyak pengunjung, terasa nyaman untuk berbicara karena tidak terlalu berisik.
"Mana Hoseok?" Namjoon memanjangkan lehernya mencari-cari keberadaan Hoseok, tapi bukan Hoseok yang tertangkap matanya, tapi Seokjin. Namjoon menelan ludahnya gugup.
"Appa?" Yoongi mengernyit, berjalan menuju kearah Seokjin yang sedang serius menjelaskan sesuatu dengan orang yang duduk didepannya.
"Hoseok?" Yoongi menepuk bahu Hoseok yang sedang membahas kasus dengan Seokjin.
"Yoongi? Dengan siapa?" Seokjin tersenyum melihat anaknya muncul. "Duduk sini" Seokjin menpuk bangku disebelahnya.
"Bersama Namjoon" Yoongi mendudukan dirinya disamping Seokjin.
Seokjin mendadak gugup.
"Ya! kenapa berdiri disana?" Yoongi memanggil Namjoon yang terlihat berdiri kaku di dekat kasir.
Dengan gugup Namjoon berjalan kearah meja dimana Hoseok, Yoongi dan Seokjin berada, mendudukan diri disamping Hoseok dan tersenyum canggung pada Seokjin. Ini benar-benar sangat salah.
"Appa kenapa disini?" Yoongi melirik Seokjin yang sedang merapik kertas-kertas didepannya.
"Aku sedang bimbingan sekalian menunggu kalian datang, hyung" jelas Hoseok.
Seokjin mengangguk.
"Kau tidak bilang kalau sedang bersama Appaku" Yoongi menatap datar pada Hoseok.
"Kenapa harus bilang? Dokter Seokjin ada disini sebagai pembimbingku, bukan Appamu" Hoseok memutar bola matanya.
Sibuk berdebat, Hoseok dan Yoongi tidak meyadari kecanggungan yang terjadi antara Seokjin dan Namjoon. Berkali-kali Namjoon mencuri pandang kearah Seokjin, begitu juga sebaliknya. Sejujurnya keduanya ingin pergi, tapi bingung dengan alasan apa mereka meninggalkan meja ini. Jujur saja, mereka merasa tak nyaman, ada perasaan takut yang terselip.
"Appa harus kembali ke rumah sakit" Seokjin angkat suara, merasa jengah dengan kecanggungan yang hanya dirasaka oleh Seokjin dan Namjoon.
"Bukannya dokter sudah selesai bekerja?" Hoseok bertanya dengan polos.
"Ah, Appa harus menjemput Yoonji, ya? bukannya hari ini Papa yang menjemput kerumah Jungkook?" Yoongi melirik Seokjin yang sudah mati gaya.
"Oh, itu… Appa, Appa masih ada kunjungan pasien" Seokjin beralasan, dengan terburu Seokjin merapikan barang-barangnya dan berdiri. "Sampai bertemu dirumah" Seokjin menggusak kepala Yoongi, membungkuk pada Namjoon dan Hoseok.
"Hati-hati, Appa" pesan Yoongi.
Namjoon akhirnya bisa bernafas lega.
"Hyung, kata dokter Seokjin kau akan bertunangan?" Hoseok memajukan badannya, terlihat anak itu benar-benar penasaran.
"Appaku sudah bilang ya. begitulah" Yoongi menaikkan alisnya.
"Ah… kau benar-benar sudah dewasa hyung! Keren sekali!" Hoseok berucap bangga. "Memangnya orangtua Jimin sudah setuju?"
"Tentu saja sudah, semalam aku sudah di sidang oleh Appanya" Yoongi merinding saat mengingat kejadian semalam saat dia disidang keluarga Jimin dan juga keluarganya.
"Bagaimana rasanya disidang?" Namjoon bersuara, setelah sejak tadi tidak bicara.
"Tidak semenyeramkan yang ku bayangkan" Yoongi berucap santai.
"Apa saja pertanyaannya?" Namjoon makin penasaran.
"Apa aku benar-benar serius, apa aku bisa menerima sifat Jimin, apa aku bisa bertanggung jawab kedepannya, apa aku bisa berkomitmen dengan keputusanku sendiri dan masih banyak lagi" Yoongi menjawab santai.
"Menikah kan bukan keputusan gampang, hyung. Kau terlalu nekat. Karirmu saja masih baru dimulai" Hoseok berkomentar.
"Aku masih akan bertunangan, bukan menikah" koreksi Yoongi. "Masalah karir, entah aku sudah menikah atau tidak, tidak ada pengaruhnya sama sekali"
Namjoon mengangguk setuju.
"Apa yang membuatmu mengambil keputusan bertunangan hyung?" Hoseok menegakkan tubuhnya. "Maksudku, Jimin masih terlalu muda dan agak… ya… kekanakan. Kau bisa mencari seseorang yang lebih dewasa yang bisa mengerti tentang…"
"Aku paham maksudmu" potong Yoongi. "Tapi…"
"Hubungan itu berbicara soal kenyamanan." Potong Namjoon tiba-tiba. "Kau tidak bisa memilih dengan siapa kau jatuh cinta, lagi-lagi semua tergantung kau nyaman dengan siapa. Mau mendapatkan seseorang yang sikapnya sangat dewasa sekalipun, kalau tidak nyaman, buat apa?"
"Wooo…. Lihat pakar cinta yang sedang bicara" Hoseok dan Yoongi berucap kompak dan tertawa.
"Aku serius" Namjoon memutar bola matanya. "Yoongi hyung sudah bertemu dengan orang yang membuatnya nyaman, kenapa tidak di lanjutkan ke jenjang yang lebih serius?"
"Kau bicara seperti seorang pakar cinta saja, Kim Namjoon" Hoseok meninju main-main bahu Namjoon.
"Aku juga ingin seperti Yoongi hyung, aku ingin mengajak pasanganku ke jenjang yang lebih serius" Ucap Namjoon serius.
"Si Bihoon?" Yoongi menaikkan alisnya.
"Jihoon" koreksi Namjoon. "Aku dan Jihoon tidak pacaran hyung…" Namjoon berucap kesal.
"Lalu, kenapa tidak kau ajak ke jenjang yang lebih serius saja?" Hoseok bertanya penasaran, mengabaikan ucapan Namjoon barusan.
"Masalah keyakinan…" jawab Namjoon.
"Huh?" Hoseok dan Yoongi mengernyit
"Aku yakin padanya, dia tidak yakin padaku" Namjoon tertawa.
"Sialan" Hoseok memutar bola matanya.
"Kalau bukan Bihoon, siapa pacarmu?" Yoongi bertanya penasaran.
"Teman Hoseok di rumah sakit" jawab Namjoon santai. Enggan menerima pertanyaan lebih banyak, Namjoon berdiri, memesan minuman untuknya dan Yoongi.
.
.
.
Sebelum pulang dari café, Yoongi sempat membelikan Jimin sebuah mug bergambar bebek kuning yang dijual dicafe itu. Yoongi meletakkan mug hadiah untuk Jimin diatas meja komputernya di studio dan tersenyum kecil saat melihat mug itu, sedikt banyak bebek di mug itu mengingatkannya pada Jimin.
Yoongi mendudukan diri didepan computer miliknya, sibuk berpikir sambil menyandarkan kepala disandaran kursi kerjanya. Saat sibuk berpikir, pintu studionya diketuk dari luar, Yoongi bisa melihat siluet Jimin yang berdiri didepan pintunya. Yoongi tersenyum
Pintu studio terbuka memunculkan Jimin yang tengah tersenyum lebar padanya. Memeluk erat tubuh Yoongi dan berbisik pada Yoongi kalau Jimin merindukannya. Yoongi terkekeh, mengecup kepala Jimin dan menariknya masuk kedalam studio.
"Ada hadiah untukmu" Yoongi mendudukan Jimin di kursi kerjanya.
"Hadiah?" Jimin berbinar.
"Ini" Yoongi memberikan mug kuning bergambar bebek pada Jimin.
"Lucunyaaa…" Jimin tersenyum senang sambil menatap berbinar pada mug barunya.
"Suka?"
Jimin mengangguk cepat. "Yoongi hyung, terimakasih" Jimin memeluk pinggang Yoongi yang berdiri didepannya.
"Ne. Ada apa malam-malam kesini?" Yoongi menarik kursi yang diduduki Jimin kearah sofa, sementara Yoongi mendudukan diri disofa berhadapan dengan Jimin.
"Hyung" Jimin menarik wajah Yoongi dan menatapnya lekat-lekat.
"Apa?" Yoongi mau tidak mau tertawa melihat wajah serius Jimin yang berjarak sangat dekat dengannya.
"Kenapa hyung tidak bilang kalau hyung punya social media" Jimin menekan tangannya di pipi Yoongi membuat bibir Yoongi mengerecut. "aaa… lucunyaaa" Jimin mengecup bibir Yoongi dengan gemas. Dia gemas sendiri.
"Oh, tidak-tidak, tidak boleh terpesona sekarang, Jiminie ingin bicara serius. Kenapa Yoongi hyung tidak bilang kalau punya social media?" Tanya Jimin lagi.
Perlahan Yoongi melepas tangan Jimin dari sisi wajahnya, menggenggam tangan Jimin dan meletakkannya diatas paha Jimin.
"Kau tidak pernah Tanya, Jiminie"
"Oke, masuk akal. Lalu kenapa tidak ada fotoku disana?" Jimin memicing tajam.
"Aku tidak pernah bermain social media lagi"
"Benarkah?" Jimin melirik tak yakin.
Jimin memang baru tahu social media milik Yoongi –instagram- dari Jungkook setelah mereka berbagi gossip dari aplikasi chatting. Mengetahui fakta kalau Yoongi punya social media, dengan kecepatan cahaya Jimin langsung mencarinya dan sialnya, akun milik Yoongi terkunci.
Berbekal rasa penasaran yang sudah menumpuk, Jimin memutuskan untuk bertemu Yoongi yang sedang berada distudio tanpa pikir panjang hanya untuk tau foto yang di upload Yoongi di social medianya yang hanya berisi enam foto. Padahal bisa saja Jimin meminta Jungkook untuk mengirim hasil screenshoot-nya.
"Ne. lihat saja kapan terakhir kali aku mengupload foto" Yoongi menyerahkan ponselnya ditangan Jimin.
Ini pertama kalinya Jimin memegang ponsel Yoongi. Biasanya Jimin hanya melirik tajam pada ponsel Yoongi tanpa berani menyentuhnya, dan kali ini Yoongi sendiri yang menyerahkan ponselnya. Jimin merasa dia harus melakukan investigasi, mencari tau isi dari ponsel Yoongi.
"Benar aku boleh lihat hyung?" Jimin bertanya basa-basi, padahal jelas-jelas tangannya sudah gatal ingin memeriksa ponsel Yoongi.
"Lihat saja" Yoongi mengangguk yakin.
Jimin langsung memeriksa aplikasi chat milik Yoongi, Jimin memperhatikan seluruh pesan yang masuk di ponsel Yoongi dan merasa pesan-pesan yang masuk keponsel Yoongi masih batas wajar. Tidak ada yang mencurigakan.
Jimin beralih pada instagram milik Yoongi, hal pertama yang menarik perhatiannya adalah adanya notifikasi DM milik Yoongi yang berjumlah belasan, Jimin menahan diri untuk memeriksa itu. Dia ingin melihat foto milik Yoongi dan saat melihatnya, Jimin tersenyum. Tiga dari enam foto yang Yoongi upload adalah foto Yoonji. Sisanya adalah foto masa kecil Yoongi, foto holy, dan foto pemandangan.
"Hyung, ini boleh ku buka?" Jimin menunjuk lingkaran merah disudut kanan, tempat DM berada.
"Boleh" ucap Yoongi cuek.
Tanpa menunggu, Jimin menekan jarinya pada lingkaran merah itu dan melihat pesan-pesan yang masuk yang kebanyakan tidak Jimin kenali dan lagi pesan-pesan itu sudah lama bahkan yang paling terkahir berasal dari 82 minggu yang lalu dan itu dari… kapten tim basket kampus mereka. Jimin membolakan matanya.
"Hyung, kapan terakhir kali hyung membuka aplikasi ini?" Jimin bertanya penasaran.
"Lupa. Saat terakhir kali aku mengupload foto Yoonji?" ucap Yoongi tak yakin.
Jimin buru-buru membuka foto yang Yoongi upload terakhir kali, itu sekitar satu setengah tahun yang lalu. Jimin terdiam lagi.
"Ada apa?" Yoongi menaikkan alisnya.
"Oh, ani…" Jimin tersenyum canggung.
Tangannya bergulir lagi menuju pesan yang menyita perhatiannya, sedikit merasa bersalah, Jimin membuka pesan itu yang hanya berisi kata 'hey' dan emot senyum. Jimin merasa ada yang aneh.
"Sudah lihat-lihat nya?" Yoongi menyentuh paha Jimin untuk meyadarkan Jimin dari keterdiamannya.
"Huh? Yoongi hyung perlu ponselnya?" Jimin mengerjab.
"Tidak, aku perlu Jimin ku" Yoongi terkekeh melihat wajah Jimin yang mulai memerah.
Jimin berdiri dan mendudukan diri disamping Yoongi, memeluk lengan Yoongi dan mencium lengan itu berkali-kali.
"Hyung, kalau ada yang lebih baik daripada aku, hyung tetap akan memilihku, kan?"
"Kenapa Tanya begitu?" Yoongi melirik Jimin yang menyembunyikan wajahnya dilengan atas Yoongi.
"Jawab saja" Jimin menggoyangkan tangan Yoongi.
"Ada apa lagi ini?" Yoongi memiringkan tubuhnya hingga berhadapan dengan Jimin.
"Aku hanya takut kalau Yoongi hyung tiba-tiba bertemu dengan orang yang lebih baik daripada aku" Jimin menunduk.
"Kenapa tiba-tiba menjadi seperti ini?" Yoongi menarik Jimin untuk mendekat hingga kepala Jimin yang menunduk, bersentuhan dengan dadanya.
"Bercanda…" Jimin terkekeh dan mengecup pipi Yoongi, menutupi perasaan ganjil yang sedang dirasakannya.
Jimin menatap gugup kearah Yoongi saat Yoongi tidak menanggapinya lagi dan hanya menatap lekat pada Jimin. Jimin berubah gugup dan dadanya mulai berdebar.
"Hyung…" Jimin menatap mata Yoongi dengan bingung.
Yoongi tidak bersuara sama sekali. Yoongi hanya mengambil tangan Jimin dan mengecupnya lama, membuat Jimin memerah malu.
"Aku mencintaimu"
Saat Yoongi mengucapkannya tepat didepan mata Jimin, Jimin merasa nyaris terbang dan kemudian meleleh. Oh, Jimin bisa merasakan debaran dadanya mulai menggila dan semakin menggila saat Yoongi makin mendekat padanya.
Saat bibir mereka bertemu, Jimin sudah tidak punya daya lagi untuk duduk dengan benar. Jimin merebahkan tubuhnya di sofa, tangannya melingkar dileher Yoongi dengan Yoongi yang masih menciumnya dengan lembut.
Jimin meremas rambut Yoongi saat merasakan tangan Yoongi mengelus pinggangnya dengan lembut, suhu tubuh Jimin sudah naik drastis dan nafasnya mulai memburu.
"Yoongi hyung…" Jimin melenguh pelan saat ciuman terlepas. Jimin bisa melihat nafas Yoongi yang mulai memberat.
Mata Yoongi menatap lekat pada Jimin yang memandangnya dengan pandangan sayu, ini bahaya. Otak Yoongi sudah berusaha mengingatkan tapi tubuhnya seolah enggan beranjak dari atas Jimin. Yoongi menelan ludahnya susah payah saat Jimin membelai wajahnya. Darurat 1. Yoongi benar-benar bisa membuat Jimin terkurung di studio nya kalau sudah begini.
"Jiminie, aku rasa…"
"Yoongi hyung sudah lama tidak menyentuhku, kan…" Jimin menundukkan pandangannya. Rasanya malu sekali, tapi dia rindu pada Yoongi nya.
Yoongi mengumpat dalam hati dan berusaha menyadarkan dirinya sendiri.
"Yoongi hyung selalu sibuk beberapa minggu ini" Jimin menurunkan tangannya kelengan Yoongi yang mengurungnya, mengelus lengan pucat itu dan membuat Yoongi merinding.
"Jim, kita…"
"Aku rindu sekali dipeluk Yoongi hyung"
Hancur sudah pertahanan Yoongi. Jimin benar-benar menggodanya habis-habisan. Yoongi menurunkan wajahnya dan mencium Jimin dengan lembut, tangannya yang selalu aktif mulai menjelajah kedalam baju milik Jimin, menyentuh seluruh kulit Jimin dengan telapak tangannya. Kemudian berganti dengan lidahnya yang menjelajah dan memberi tanda ditubuh Jimin.
Terlambat untuk mundur sekarang. Jimin terlalu sayang untuk dilewatkan.
.
.
.
TBC
*Lari ditengah hujan…. Kang potong naena muncul lagi*
