"Jadi kau menemuiku karena ingin bertanya soal Daniel?" seungwoon mengangguk-anggukan kepalanya.

"Kau teman dekatnya kan?" Jimin menatap serius pada Seungwoon salah satu temannya di sekolah tari.

Setelah kelasnya selesai, Jimin langsung minta untuk bertemu Seungwoon. Temannya yang juga teman dekat Daniel dikampus.

"Kata orang-orang, begitu" jawab Seungwoon sekenanya. "Jadi apa yang ingin kau tanyakan?" Seungwoon memajukan duduknya.

"Kau satu angkatan dengan Yoongi hyung kan?" mulai Jimin.

"Oh, Min Yoongi?" Tanya Seungwoon memastikan.

"Ne" Jimin berucap tak sabar.

"Lebih tepatnya, aku, Daniel dan Yoongi itu satu angkatan saat masuk kuliah disini. Ada apa?"

"Ceritakan padaku soal Daniel dan Yoongi hyung" Jimin menatap serius pada Seungwoon.

.

.

.

RUN TO YOU

.

.

.

"Kau mengajakku bergosip dengan meneraktirku milkshake di kantin kalian?" Seungwoon tertawa.

"Anggap saja begitu" jawab Jimin cuek.

"Jadi, apa yang ingin kau tau? Silahkan Tanya saja. Kalau aku tau, akan ku jawab, kalau tidak, ya… mau bagaimana?"

"Yoongi hyung dan Daniel sunbae saling kenal?" mulai Jimin.

"Mungkin lebih tepatnya saling tau, tapi tidak saling kenal. Saat masa orientasi kampus, itu pertama kali mereka bertemu…" Seungwoon melirik Jimin dan tersenyum membuat rasa penasaran Jimin makin meninggi.

"Lalu?"

"Saat masa orientasi, Daniel sudah sangat terkenal. Banyak senior yang suka padanya, dari semua angkatan kami, dia yang paling menonjol kemudian di susul si jenius Namjoon." Seungwoon sengaja menggantung ceritanya dengan meminum minumannya dengan matanya melirik Jimin yang terlihat penasaran.

"Hubungannya dengan Yoongi hyung?" kejar Jimin karena Seungwoon seperti sengaja menahan-nahan ceritanya.

"Tunggu dulu… itu baru awal. Tidak sabaran sekali" Seungwoon tertawa menggoda.

"Oke, lalu?" Jimin memutar bola matanya. Jimin jelas sudah tau Daniel itu terkenal di kampus mereka, itu bukan fakta baru.

"Di hari pertama masa orientasi, semua jurusan dipecah dan digabung kembali, dibagi beberapa kelompok. Kebetulan, aku, Daniel, Yoongi dan Namjoon ada di grup yang sama" Seungwoon meletakkan gelas minumannya dan bersandar pada sandaran kursi kantin yang keras.

"Oke, lalu?" Tanya Jimin tak sabaran.

"Disitu pertama kali Daniel melihat Yoongi. Hari kedua orientasi, Daniel sering tertangkap olehku sering memperhatikan Yoongi yang duduk dibaris paling depan di lapangan, waktu itu Yoongi masih sangat kurus dan kecil, jadi dia selalu dibariskan paling depan" Seungwoon tertawa mengingatnya. "Tapi tingginya sepertinya sudah bertambah, badannya juga terlihat lebih berisi, bahunya juga terlihat makin lebar" Seungwoon berkomentar tidak penting.

"Bisa langsung ke intinya saja?"

"Tidak bisa. Masih hari ke dua. Masih panjang" Seungwoon balas menatap tajam pada Jimin.

"Nah, di hari ketiga orientasi, itu hari terakhir orietasi kampus dan akan berlanjut ke orientasi jurusan. Waktu itu Daniel tertangkap mataku lagi sedang menatap kearah Yoongi terus-terusan, saat istirahat makan siang, aku menekan Daniel agar mengakui sesuatu yang aku curigai" Seungwoon melirik lagi pada Jimin.

"Mengakui apa?" Jimin menaikkan alisnya.

"Singkatnya setelah aku menekannya, akhirnya dia mengaku kalau dia tertarik pada Yoongi"

Jimin membolakan matanya. Ini fakta baru yang terspektakuler yang baru di dengarnya. "Lalu?"

"Aku sudah memaksanya agar mengajak Yoongi bicara, tapi Yoongi itu seperti es. Dia sangat pendiam dan terlihat tidak peduli pada sekitar, dia hanya berada disamping Namjoon dan salah satu teman mereka, sepanjang hari. Dan Daniel tidak bernyali untuk mendekati Yoongi" Seungwoon tertawa kecil saat melihat wajah Jimin yang seperti sedang dalam masa syoknya.

"Mau kulanjutkan?" Seungwoon menaik turunkan alisnya.

"Lanjutkan…" guman Jimin pelan.

"Setelah masa orientasi selesai, aku sering membantu Daniel untuk mencari tau soal Yoongi, mengikuti Yoongi pulang ke rumahnya, mencari tau nomor ponsel Yoongi, pergi nongkrong di kantin seni music hanya untuk melihat Yoongi dan bahkan aku mencari tau soal Yoongi dari Namjoon" Seungwoon tertawa kecil mengingat betapa bodohnya mereka dulu.

"Kenapa malah kau yang mencari tau?" Jimin mengernyit bingung.

"Si bodoh itu tidak berani mendekat, jadi aku yang turun tangan."

"Tidak mungkin" Jimin menggeleng kepalanya. Setaunya Daniel itu punya jam terbang tinggi dalam masalah mendekati seseorang, sudah banyak juga terdengar kabar soal Daniel yang berkencan dari orang yang satu ke orang yang lain.

"Kau mungkin tidak akan percaya, tapi Cuma Yoongi yang tidak berani di dekatinya. Jangankan di dekati, di ajak bicara saja dia tidak akan berani. Nah, dari Namjoon lah aku tau kalau Yoongi sudah punya pacar, siapa ya namanya…"

"Kihyun?" sambar Jimin.

"Benar. Kihyun. Saat itu Daniel patah hati dan berhenti mencari tau soal Yoongi sampai terdengar kabar kalau Yoongi putus beberapa bulan kemudian" Seungwoon menunggu reaksi Jimin yang terlihat sedang berpikir keras.

"Lalu?"

"Setelah mendengar kabar kalau Yoongi putus, kami kembali lagi sering nongkrong di kantin music dan kami bertemu Namjoon disana. Dari Namjoon juga Daniel tau kalau Yoongi memang sudah putus dengan pacarnya. Seminggu kemudian, Daniel mencoba memberanikan diri untuk mendekati Yoongi dengan mengirim Yoongi pesan ke nomor ponsel Yoongi, tebak apa yang terjadi…"

"Apa?" Jimin bertanya dengan dada berdebar.

"Daniel di abaikan" Seungwoon tertawa histeris dan bertepuk tangan.

"Diabaikan bagaimana?" Jimin mengernyitkan alisnya bingung.

"Yoongi tidak menggubris pesannya sama sekali. Saat kami tidak sengaja berpapasan dengan Yoongi di kantin music, si bodoh itu malah berbelok untuk menghindari Yoongi." Seungwoon mendengus dan menggelengkan kepalanya, rasanya tak percaya mengingat Daniel yang begitu bodoh.

"Setelah itu?" Tanya Jimin penasaran.

"Setelah itu Daniel hanya kembali memperhatikan Yoongi diam-diam. Yang lebih konyolnya lagi, Daniel pernah memfoto pas foto Yoongi di kartu mahasiswa dan menjadikan wallpaper ponselnya. Astaga, aku yang malu kalau mengingatnya" Seungwoon terkekeh.

"Dia melakukannya?" Jimin membolakan matanya tak percaya.

"Kau pikir julukan gunug es untuk Min Yoongi itu asalnya dari mana?"

"Dari mana?" Jimin menatap lurus pada Seungwoon. Dia memang sering mendengar julukan gunung es berjalan yang digunakan beberapa senior untuk identitas panggilan Yoongi, tapi tidak tau asal panggilan itu dari mana.

"Dari anak-anak basket. Daniel ketahuan memasang wajah Yoongi sebagai wallpaper ponselnya dan gossip disebar di kampus kalau Daniel suka pada Yoongi, tapi yang lebih ajaibnya, Yoongi benar-benar clueless saat beberapa anak basket yang mengenal Yoongi menggoda Yoongi dengan memanggil 'Daniel' saat Yoongi lewat"

"Dia memang sangat tidak peka" komentar Jimin takjub.

"Dari situ awalnya, anak basket memberi julakan gunung es berjalan pada Yoongi. Namjoon yang sahabat Yoongi saja tau soal gossip itu, yang bersangkutan malah tidak mengerti sama sekali apa yang terjadi" Seungwoon tertawa.

"Aku tidak tahu Yoongi hyung secuek itu dengan sekitarnya" Jimin menatap bingung pada Seungwoon. "Setelah itu, apa yang terjadi?"

"Daniel mencoba mengajak Yoongi untuk bertemu melalui Namjoon, tidak mengajak secara langsung, modusnya ingin berkumpul saja dengan teman-teman yang lain juga, awalnya sudah setuju, Daniel bahkan sudah sangat senang, tapi Yoongi batal datang ."

"Kenapa?" Jimin penasaran.

"Papa-nya baru turun berlayar kata Namjoon, jadi dia batal ikut dan memilih pergi bersama orangtuanya"

"Kenapa Namjoon hyung tidak membantu saja kalau memang Namjoon hyung sudah tau kalau Daniel sunbae menyukai Yoongi hyung?" Guman Jimin pelan.

"Si Daniel bodoh itu saja yang pengecut. Namjoon sudah menawarkan diri tapi Daniel menolak. Dia takut Yoongi tidak suka dengannya" Seungwoon mencebik.

"Sebentar, seingatku Yoongi hyung tidak seterkenal itu di kampus, aku saja baru kenal beberapa bulan ini, itupun dari Taehyung dan tidak sengaja. Dari semua mahasiswa angkatan kalian yang terkenal di kampus, kenapa Daniel memilih Yoongi hyung?"

"Tidak tau, Tanya saja padanya." Seungwoon mengangkat bahunya. "Sebenarnya bukan hanya satu dua orang yang mendekati Daniel saat Daniel sibuk melihat Yoongi, para senior dan teman seangkatan banyak sekali yang gencar mendekati Daniel, tapi ya itu… Daniel mengabaikan mereka dan memilih melihat Yoongi yang mengabaikannya. Miris"

"Kenapa tidak langsung mendekat saja?" Jimin bertanya penasaran.

"Pertama, Daniel sudah hilang nyali karena Yoongi mengabaikan pesannya, yang kedua, dia takut kalau dia bukanlah tipe Yoongi, jadi dia hanya melihat dari jauh saja, begitu juga dia sudah senang" ucap Seungwoon tak peduli.

"Yoongi hyung memang tidak akan tau kalau tidak kita sendiri yang berbicara langsung padanya. Aku tau dia tidak peka dan sangat cuek dengan sekitarnya, tapi aku tidak tau dia se-eestrim ini" Jimin menggeleng.

"Aku sudah bilang pada Daniel untuk bicara langsung pada Yoongi, tapi dia benar-benar tidak berani. Pernah sekali kami berpapasan dengan Namjoon dan Yoongi yang kebetulan ada di kantin music, aku dengan sengaja mengajak Namjoon bicara, setidaknya dengan begitu Daniel bisa basa-basi sedikit dengan Yoongi, atau paling tidak, Yoongi sadar ada manusia bernama Daniel yang ingin dekat dengannya, tapi dasarnya es dan tidak peka, si Yoongi itu malah menepuk bahu Namjoon dan memilih pergi memesan makanan lebih dulu." Seungwoon menatap kosong pada air yang menetes diluar gelasnya.

"Ngomong-ngomong posisi Daniel sunbae…"

"Aku paham maksudmu" potong Seungwoon. "Daniel Cuma jatuh cinta. Itu saja. Dia tidak peduli posisi atas, bawah, kiri, kanan, depan, belakang"

"Jadi, apa Daniel sunbae masih menyukai Yoongi hyung sampai sekarang?" Jimin bisa merakan dadanya berdebar keras.

"Aku rasa sudah tidak, bukannya dia sedang mendekatimu?"

"Aku?" Jimin menunjuk dirinya sendiri.

"Iya. Bukannya dia sering menghubungi belakangan ini?" Seungwoon menaikkan alisnya. "Sebentar-sebentar, dari tadi kau bertanya soal Yoongi dan Daniel yang sudah berlalu lama itu, kau sedang cemburu?" Seungwoon menaikkan alisnya makin tinggi.

"Aku pacarnya" ucap Jimin.

"Huh? Pacar? Pacar siapa?"

"Min Yoongi"

"WHAT?"

.

.

.

"Sudah siap" Jimin berucap bahagia dengan piring berwarna putih di tangannya, ada asap yang mengepul dari atas piring dan wangi masakan dari sana.

Baekhyun yang lagi-lagi bertugas sebagai guru masak untuk Jimin dan Jungkook tersenyum dan mengambil garpu, bersiap untuk mencicipi hasil masakan muridnya.

"Tunggu, aku sedang menata makananku" Jungkook berucap heboh di dekat kompor.

"Oke, letakkan sini" Baekhyun duduk di kursi makan dan bersiap dengan garpu ditangannya.

"Ya! Jeon Jungkook, cepat sedikit, aku sudah tidak sabar mengetahui rasa masakanku" Jimin berucap tak sabaran.

"Sabar sedikit! Ini sudah selesai" Jungkook mencebik kesal, meletakkan piringnya di depan Baekhyun yang sudah duduk manis sambil memegang garpu.

"Aku coba punya Jimin dulu" Baekhyun menarik piring Jimin mendekat, menusuk daging didalam piring dan… ada tangan lain yang menggenggam tangan Baekhyun dari belakang, memasukkan makanan dari garpu Baekhyun kedalam mulutnya.

"Enak.." itu Chanyeol. Dia kembali melepas tangan Baekhyun dan mengunyah daging dimulutnya.

"Chanyeol hyung!" Jimin berucap geram.

"Apa?" Chanyeol bertanya penasaran.

"Kenapa dimakan?" geram Jimin.

"Namanya makanan ya buat dimakan, iya, Baekhyun?" Chanyeol membungkuk sedikit untuk melihat wajah Baekhyun yang sudah memerah. Modus.

"Tapi itu untuk Baekhyun hyung, kami ingin mendengar penilaiannya, hyung" Jungkook memutar bola matanya.

"Kenapa tidak meminta pendapatku saja? Semalam juga begitu kan?" Chanyeol mendudukan diri disamping Baekhyun, duduk menyamping agar bisa melihat Baekhyun dengan jelas.

"Kau tidak berkompeten, hyung" Jungkook menatap malas pada Chanyeol.

"Benar. Lagian penilaian hyung sangat sederhana, tidak mendetail" Jimin menyetujui.

"Benar aku seperti itu?" Chanyeol bertanya pada Baekhyun yang menatapnya gugup.

Baekhyun terdiam. Dia hanya menatap pada mata Chanyeol yang sedang menatap lekat padanya.

"Ya Tuhan, dari semua tempat yang bagus untuk pendekatan, kenapa memilih dapur kotor, sih?" Jungkook melemparkan celemek ditangannya diatas bangku, berjalan menuju kulkas.

"Benar-benar…" Jimin menggeleng, dengan sengaja Jimin membanting meja dengan sendok goreng, membuat Chanyeol dan Baekhyun akhirnya berkedip.

Baekhyun buru-buru memperbaiki posisi duduknya dan terlihat kebingungan harus apa setelah itu, sementara Chanyeol sedang menatap Jimin dengan tajam seperti sedang mengajak perang.

"Hyung, pergi sana" usir Jimin.

"Memangnya kenapa kalau aku ingin disini?" Chanyeol berkeras.

"Mengganggu!"

"Haruskah aku pergi?" Chanyeol kembali bertanya lagi pada Baekhyun yang sudah menunduk malu.

"Kau mau ku lempar panci, hyung?" Jimin bersiap dengan panci ditangannya.

.

.

.

Hari pertandingan basket, Jungkook dan Jimin sedang bersiap mengantri untuk masuk GOR. Yoongi sedang ada pekerjaan di kantor jadi dia tidak bisa datang, jadilah Jungkook yang menemaninya. Bukan tanpa alasan, sebenarnya Jimin bersyukur karena Yoongi tidak bisa datang, karena ini bisa dijadikan Jimin untuk melakukan investigasi bersama Jungkook.

Sejak Jimin berbicara dengan Seungwoon kemarin, Jimin makin penasaran, siapa yang sebenarnya dilihat Daniel. Bukan, bukan maksud Jimin ingin bersaing dengan Yoongi, hell no! dia hanya ingin memastikan siapa yang sebenarnya perlu diwaspadai.

Jimin hanya takut, kalau tiba-tiba Daniel kembali mendekati Yoongi dan lebih berani, bisa-bisa Yoongi terlepas dari tangannya. Alasannya tentu saja karena Yoongi itu termasuk orang yang gampang di dekati, Jimin saja hanya dalam beberapa hari bisa jadi pacarnya. Jimin jelas jadi khawatir.

"Berisik sekali" Jungkook menatap lurus kebawah saat mereka sampai di kursi penonton, dilapangan basket itu sedang melompat-lompat para anggota cheerleaders dengan teriakan-teriakan yang sulit ditangkap telinga karena dengungan suara penonton.

"Ini pertandingan antar kampus, ya?" Jimin berguman.

"Kau tidak tau siapa yang bertanding melawan siapa?" Jungkook mengernyit heran.

"Tidak, lagian aku tidak tertarik untuk tau siapa yang bertanding"

Jungkook menggelengkan kepalanya. "Jadi, yang mana namanya Daniel itu?" Jungkook memanjangkan lehernya kearah ujung lapangan dimana para pemain basket sedang melakukan pemanasan.

"Belum terlihat, masih diruang ganti mungkin" Jimin ikut memanjangkan lehernya.

Suara penonton yang berseru heboh dengan tepuk tangan sebagai tanda akan dimulainya pertandingan, terlihat kedua tim pemain mulai mengambil posisi masing-masing, saat peluit di tiup, bola dilempar keatas, pertandingan di mulai.

"Yang mana orangnya?" Jungkook menyiku Jimin yang duduk disampingnya.

"Yang disana" Jimin menunjuk Daniel yang terlihat berlari menuju tengah lapangan.

"Yang mana?" Jungkook mengernyit, kebingungan mengikuti jari Jimin yang menunju arah lapangan.

"Yang pakai kaos putih didalam baju basketnya"

"Yang sedang lari kearah ring?" Jungkook memastikan.

"Iya. Kau kenal?" Jimin melirik.

"Tidak, aku tidak pernah tau Yoongi hyung punya teman bernama Daniel. Aku kenal semua teman Yoongi hyung" jawab Jungkook yakin.

"Mungkin namanya pernah di singgung oleh Namjoon hyung atau Hoseok hyung?"

"Tidak, orang terakhir yang aku tau yang sedang mendekati Yoongi hyung itu salah satu teman Hoseok hyung, tapi aku lupa namanya. Tapi aku jamin bukan si Daniel ini."

"Oh ya?"

"Iya" Jungkook mengangguk. "Tapi tidak digubris Yoongi hyung, soalnya dia masih betah sendiri waktu itu" jelas Jungkook.

"Ngomong-ngomong, si Daniel itu lumayan juga" komentar Jungkook.

"Akan ku adukan kau pada Taehyung" ancam Jimin.

"Ya! aku hanya bilang dia lumayan kan?" Jungkook melotot kesal pada Jimin.

"Kagum itu bisa menjadi awal dari perselingkuhan" Jimin berargumen.

"Aku hanya bilang dia lumayan, aku memujinya bukan berarti aku ingin menjadi pacarnya. Dasar konyol" Jungkook memutar bola matanya.

"Kalau misalnya dia mendekati Yoongi hyung, menurutmu Yoongi hyung akan menerimanya?" Jimin menatap Jungkook dengan serius.

"Yoongi hyung bukan pria tukang selingkuh, jangan khawatir" Jungkook menghibur Jimin. "Lagian, dia bukannya Top?" Jungkook menatap kearah Daniel yang masih berlarian di lapangan.

"Kalau sudah jatuh cinta, posisi tidak penting kan?"

"Iya sih" Jungkook membenarkan.

Jimin berubah sedih karena ucapan Jungkook. Jungkook buru-buru tersadar dan menatap dengan rasa bersalah pada Jimin.

"Te-tentu saja penting! Itu sangat penting! Itu komponen utama dalam hubungan! " Jungkook mengoreksi ucapannya buru-buru.

"Sudahlah. Kau makin menyebalkan saja" Jimin memukul lengan Jungkook main-main.

"Bukannya kau bilang si Daniel itu sering menghubungi, ya?" Jungkook teringat akan ucapan Jimin.

"Itu yang membuatku bingung! Kalau dia memang bertujuan untuk mendekatiku, aku bisa jaga jarak, lagian si Daniel itu bukan tipeku. Aku tidak suka namja populer. Aku lebih suka yang seperti Yoongi hyung. Tampan, bertanggung jawab, penyabar, sayang padaku, tidak suka genit, dan…"

"Hentikan pujianmu itu, kupingku sakit mendengarnya" Jungkook memotong ucapan Jimin.

"Memang Yoongi hyung seperti itu!" Jimin berkeras.

"Ya.. ya.. ya. jadi tolong hentikan itu, aku sudah tau" Jungkook memutar bola matanya.

Pertandingan selesai dengan kampus Jimin keluar sebagai pemenang pertandingan. Beberapa penonton berhamburan kelapangan memberi selamat, Jimin dan Jungkook masih tetap berada di kursinya yang sekarang mulai sepi karena penonton mulai keluar GOR.

"Dia melihat kesini" Jungkook menyiku Jimin yang sedang sibuk menatap berkeliling.

Jimin melihat kearah lapangan dan benar, Daniel sedang menatap kearah mereka dan berjalan kearah mereka. Matanya terlihat seperti sedang mencari seseorang karena pandangan Daniel tak focus pada mereka, Jimin dan Jungkook mengernyit heran.

"Selamat sudah menang" Jimin menyalam tangan Daniel dengan senang.

"Terimakasih sudah datang" Daniel membalas uluran tangan Jimin. "Siapa?" Tanya Daniel saat melihat Jungkook hanya berdiri sambil menatap padanya.

"Temanku, Jungkook"

"Jungkook?" Daniel menaikkan alisnya. Dia terlihat ingin bicara tapi seolah memilih menahannya.

"Salam kenal. Aku Jungkook" Jungkook mengenalkan diri.

"Daniel" Daniel mengulurkan tangannya.

"Hanya berdua?" Daniel menatap bergantian antara Jungkook dan Jimin. "Yang lain dimana?"

Jimin menatap bingung pada Daniel. Dugaannya benar, Daniel sedang mencari Yoongi.

"Yoongi hyung maksudnya?" Jimin memberanikan diri bertanya lantang.

"Dia tidak datang?" Daniel balik bertanya.

"Tidak. Sibuk di studio" balas Jimin.

"Oh" Daniel hanya ber-oh ria, tapi Jimin bisa menangkap raut kecewa dari wajahnya.

"Daniel!" seseorang mengalihkan keterdiaman ketiganya, Daniel berbalik dan melihat salah satu teman tim nya sedang melambai padanya.

"Aku permisi dulu" pamit Daniel dan berlari menuruni tangga bangku penonton.

"Positif" komentar Jungkook tiba-tiba.

"Huh?"

"Matanya terlihat sekali kalau dia kecewa Yoongi hyung tidak datang" Jungkook bersidekap tangan di depan dada.

"Apa ku bilang! Aku yakin dia masih menyukai Yoongi hyung, aku bahkan melihat dia mengirim pesan pribadi di instagram Yoongi hyung" Jimin berucap tidak suka. Dia benci ada orang lain yang berusaha mendekati Yoongi-nya.

"Kita harus Tanya Namjoon hyung!" Jungkook menatap serius pada Jimin.

.

.

.

"Yoongi hyuuung…" Jimin merentangkan tangannya begitu pintu studio terbuka.

Yoongi yang mengerti, hanya tertawa kecil dan memeluk Jimin erat dan mengecup kepala Jimin dengan sayang.

"Aku rindu sekali dengan Yoongi hyung" Jimin menyembunyikan wajahnya di bahu Yoongi.

"Nado. Bagaimana pertandingannya?" Yoongi mengurai pelukannya dan menarik Jimin masuk kedalam studio.

"Kampus kita menang" cerita Jimin.

"Jadi pergi dengan Jungkook?"

Jimin mengangguk kencang dan mendudukan diri diatas paha Yoongi yang menatapnya kebingungan.

"Bagaimana pekerjaan hyung hari ini?" Jimin mengelus rambut Yoongi dan salah satu tangannya memegang bahu Yoongi.

"Sudah beres, tinggal proses rekaman saja dengan solois itu" Yoongi menyandarkan tubuhnya disandaran sofa, membuat Jimin tertarik dan menempel padanya.

"Berarti setelah ini Yoongi hyung akan punya waktu kosong, kan?"

"Iya. Lagunya masih dipelajari oleh solois itu selama seminggu ini, jadi seminggu ini tidak banyak pekerjaan" jelas Yoongi, tangannya memegang pinggul Jimin, mencegah anak itu jatuh dari pahanya.

"Hyung, cincin kita?"

"Sudah di ambil Appa. Sudah ada di rumah sekarang. Aku tidak sempat pergi karena tadi ada rapat internal dengan sajangnim" jelas Yoongi.

"Oh…" Jimin mengangguk paham.

"Jiminie, sebentar" Yoongi ingin berdiri dan meminta Jimin untuk turun dari pahanya, tapi Jimin malah memeluk Yoongi erat-erat. Yoongi tertawa dan mengelus pinggang Jimin.

"Sebentar saja, hanya mengambil selebaran" Yoongi meminta izin tapi Jimin menggeleng dipangkuannya.

"Tidak mau" cicit Jimin pelan.

"Aku ingin menunjukan contoh apartemen kita nanti" jelas Yoongi.

"Ya sudah, gendong saja, Jiminie kan tidak terlalu berat" Guman Jimin dileher Yoongi.

Yoongi terkekeh pelan. Jimin sedang manja dan Yoongi hanya bisa memakluminya.

"Pegangan, nanti jatuh" Yoongi memperingatkan dan Jimin mengeratkan pelukannya dileher Yoongi, kakinya melingkar posesif di pinggang Yoongi.

Dengan sedikit berjalan, akhirnya Yoongi sampi dimeja depan komputernya dimana selebaran contoh apartemen berada disana.

"Pegang" Yoongi memberikan kertas selebaran itu pada Jimin, lagi-lagi Jimin menggeleng dan hanya memeluk Yoongi erat-erat.

"Dasar manja" Yoongi tertawa pelan kembali berjalan kearah sofa, mendudukan diri dengan nyaman.

"Mau lihat apartemennya tidak? Ini lebih kecil dari apartemen yang kemarin" Yoongi kembali mengelus pinggang Jimin.

"Tidak semewah yang pertama, kan?" Jimin mengurai pelukannya dan menatap tajam pada Yoongi.

"Dilihat dulu, baru komentar" Yoongi menggusak rambut Jimin.

Jimin melirik kertas ditangan Yoongi, melihat sekilas dan memicing kesal pada Yoongi. Apanya yang kecil, apartemen ini sama mewahnya dengan yang pertama, hanya harganya saja yang berbeda beberapa ribu won.

"Hyung, memangnya kita tidak bisa tinggal di apartemen sederhana saja?" Jimin menatap kesal pada Yoongi. "Lagian, kita tidak mungkin tinggal selamanya di apartemen, kan?"

"Memangnya kenapa?"

"Aku ingin tinggal di rumah kecil yang ada tamannya saja, hyung. Aku tidak suka apartemen. Aku tidak bisa punya taman kalau tinggalnya disana" rengek Jimin.

"Seperti rumahku?" Yoongi menaikkan alisnya.

Jimin mengangguk cepat. "Iya, rumah minimalis dengan taman kecil. Itu yang terbaik"

"Yakin tidak mau tinggal di apartemen ini?" Tanya Yoongi lagi.

Jimin mengangguk lagi.

"Tapi di apartemen ini punya fasilitas taman dan taman bermain anak yang luas, lho" bujuk Yoongi.

Jimin terlihat menimbang-nimbang keputusannya.

"Kita hanya punya waktu enam bulan lebih sampai kita menikah, mulai sekarang kita sudah memikirkan tempat tinggal" Yoongi menggusak rambut Jimin.

"Hyung, bagaimana kalau ada orang yang mendekati hyung, mengaku kalau dia sudah menyukai hyung dari lama?" Tanya Jimin tiba-tiba.

"Ya biar saja" jawab Yoongi acuh.

"Kenapa begitu?"

"Memangnya harus bagaimana? Aku tidak tertarik. Malas juga harus memulai hubungan baru, lagian calonku sudah yang terbaik"

"Hyung berani janji tidak akan melirik orang lain?" Jimin menatap serius pada Yoongi. Jujur saja dia merasa agak khawatir sekarang.

"Janji"

Jimin tersenyum dan mengecup bibir Yoongi sekilas. "Gomawo Yoongi hyung." Jimin memeluk erat leher Yoongi, menyembunyikan wajahnya diceruk Yoongi.

"Tangannya!" Jimin menatap memicing pada Yoongi saat tangan Yoongi menyusup nakal dibalik bajunya.

"Huh?"

"Tangan, Yoongi hyung…" geram Jimin dan menarik pipi Yoongi.

Yoongi mengakat kedua tangannya dan tertawa kecil.

"Ayo pergi kencan…" usul Yoongi.

"Tidak mau, aku mau disini saja" Jimin kembali memeluk Yoongi erat-erat, mencari rasa aman yang Yoongi berikan Cuma-Cuma padanya.

"Ya sudah kalau begitu" Yoongi mengalah.

"Hyung, saat masuk kuliah pertama kali, apa ada yang mendekati Yoongi hyung? Atau ada gossip yang beredar menjodoh-jodohkan hyung dengan orang lain?" Tanya Jimin pelan.

"Tidak. Aku tidak semenarik itu sampai ada orang yang mau repot-repot bergosip tentangku, Jiminie, apalagi menjodoh-jodohkan" Yoongi terkekeh mendengar pertanyaan Jimin.

Seperti dugaan Jimin. Yoongi pasti tidak tau dan tidak mau tau dengan sekitarnya. Gossip tentang dirinya sendiri saja dia tidak tau.

"Selentingan kabar soal Yoongi hyung?" pancing Jimin.

"Satu-satunya kabar tentangku yang pernah terdengar adalah soal aku yang diterima bekerja di agensi ini, Jiminie. Aku tidak seperti mu yang banyak dikenal orang di kampus"

"Yoongi hyung, cukup perhatikan aku saja ya" pinta Jimin. Tangannya bergerak ke sisi wajah Yoongi dan menatap Yoongi lembut. Dia ingin egois, dia ingin mengambil keuntungan dari sikap Yoongi yang acuh pada sekitar. Jimin tau dia seharusnya tidak boleh berlaku seperti itu, tapi itu cara satu-satunya yang dia bisa.

"Aku memang hanya memperhatikanmu saja"

Jimin tersenyum lega. Yoongi adalah orang yang bisa dipegang omongannya. Dia selalu bertanggung jawab atas semua tindakannya dan Jimin merasa perasaan khawatirnya sedikit menghilang.

"Kau juga jangan memperhatikan yang lain! Apalagi si Daniel itu. Aku cemburu" Yoongi menatap serius pada Jimin.

"Kapan aku memperhatikannya?" Jimin menyela.

"Kau sering bertukar pesan dengannya, kan?"

"Dia hanya bertanya soal temannya, terkadang dia menghubungiku hanya untuk bertanya soal Seungwoon, teman dekatnya yang satu sekolah tari denganku, Yoongi hyung" Jimin menjelaskan.

"Bisa saja itu modusnya, kan?"

"Cemburu, eoh?" Jimin terkekeh kecil.

"Iya. Dari tadi juga sudah bilang begitu, kan?"

"Manissnnyyaaa…" Jimin mencium seluruh wajah Yoongi dan tertawa kecil kemudian. "Saranghae, Yoongi hyung" Jimin tersenyum kecil.

Yoongi menaikkan tangannya, menarik tengkuk Jimin, mempertemukan bibir mereka dan mencium Jimin dengan lembut sampai…

"Ommmooooo….Aku rasa aku mengganggu…" Seunghoon terkekeh pelan didepan pintu. Jelas sekali tidak ada penyesalan dari dirinya karena sudah mengganggu.

Jimin buru-buru melepas ciumannya dan bergerak turun dari pangkuan Yoongi, sementara Yoongi sedang menatap malas pada Seunghoon.

"Aigoo, calon pengantin baru, tahan sedikit lagi…" goda Seunghoon. "untung aku yang datang, bagaimana kalau sajangnim?"

"Ada apa?" Yoongi berdiri, merangkul Jimin yang terlihat salah tingkah.

"Ini. Tugas baru dari Jinwoo hyung. Dia ingin kau mencari lokasi syuting di Jeju, untuk persiapan comeback idol selanjutnya" Seunghoon memberikan kertas ditangannya pada Yoongi dan tersenyum lebar pada Jimin yang menunduk dan sesekali melirik Seunghoon malu-malu.

"Kenapa aku?" Yoongi mengernyit tidak suka. Baru saja dia bisa merasakan sedikit kelonggaran, kini sudah diberikan tugas baru.

"Jinwoo hyung mempercayakanmu. Karena aku adalah teman yang baik, aku bilang pada Jinwoo hyung kalau sabtu ini kalian akan bertunangan, jadi kau akan mulai bertugas mencari lokasi syuting, hari senin" Seunghoon menjelaskan.

"Aku sendirian?" Yoongi mengernyit lagi.

"Tidak, ada Joohyun hyung juga, tapi kalian beda lokasi tempat tinggalnya"

"Kenapa dengan tua bangka itu lagi…" Yoongi menghela napas.

"Nanti saja mengeluhnya setelah aku pergi. Aku hanya ingin menyampaikan itu saja dan Jimin…" Seunghoon tersenyum lebar pada Jimin "Hatti-hati, Yoongi suka menggigit kalau sedang berduaan" Seunghoon berlari menutup pintu saat Yoongi sudah bersiap melemparkan sepatunya pada Seunghoon.

"Jiminie, kenapa?" Yoongi melirik bingung pada Jimin yang terlihat kesal padanya.

"Jadi selain aku, Yoongi hyung juga mengigit orang lain?"

Yoongi membolakan matanya tak percaya karena Jimin bisa termakan omongan tidak masuk akal Seunghoon. Berdoa saja agar Jimin tidak merajuk panjang kali ini.

.

.

.

TBC

Namjinnya mana thor? Ada di next chap…