"Mana Yoongi hyung?" Namjoon mengernyit bingung menatap Jimin dan Jungkook yang duduk berhadapan didalam café. Hari ini Jimin meminta Namjoon untuk bertemu dengannya di café dekat sekolah Jungkook, tapi tidak mengatakan kalau Yoongi tidak ikut.
"Bekerja hyung, duduk dulu" Jimin mempersilahkan.
Namjoon mendudukan diri disamping Jungkook yang tersenyum ramah padanya.
"Jadi, ada apa?" Namjoon menatap bergantian antara Jungkook dan Jimin.
"Kau saja yang bilang" Jimin melirik Jungkook.
"Kenapa aku?" Jungkook mengernyit.
"Ya, kalian berdua, ada apa ini?" Namjoon kembali menatap bergantian antara Jimin dan Jungkook.
"Hyung, jangan katakan ini pada Yoongi hyung, janji dulu" Jimin memaksa.
"Soal?"
"Yang akan kami tanyakan pada hyung setelah ini, ya?" Jungkook bersuara.
"Kalian mau bertanya apa memangnya?"
"Hyung, ceritakan pada kami soal Daniel dan Yoongi hyung" guman Jimin pelan.
Namjoon tertawa.
.
.
.
RUN TO YOU
.
.
.
"Tidak banyak yang bisa ku ceritakan soal Daniel dan Yoongi hyung" mulai Namjoon.
"Tapi hyung pasti sudah tau kalau Daniel pernah suka dengan Yoongi hyung, kan?" Jimin menatap lurus pada Namjoon.
"Satu angkatan kami di kampus sudah tau, yang tidak tau hanya Yoongi hyung saja" Namjoon tertawa.
"Kenapa bisa tidak tau?" Jimin mengernyit heran, bagaiamana bisa Yoongi tidak tahu sementara satu angkatan mereka sudah tau?.
"Mungkin lebih tepatnya tidak percaya" Namjoon melirik Jungkook yang sedang menatap lurus padanya. "Jangan direkam." Namjoon mengambil ponsel digenggaman Jungkook, memaksa Jungkook untuk membuka kunci ponselnya dan menutup aplikasi perekam di ponsel Jungkook.
"Kan sebagai barang bukti..." Jungkook mencebik.
"Kalau masih direkam, aku tidak akan cerita" ancam Namjoon.
"Mian..." cicit Jungkook dan Jimin bersamaan.
"Mau dilanjutkan?" Tanya Namjoon sambil mengambil gelas minuman didepannya yang sudah dipesankan Jimin dan Jungkook padanya.
"Ne, hyung" cicit keduanya.
"Yoongi hyung sudah pernah ku beritahu kalau ada yang tertarik padanya diangkatan kami, orang paling terkenal seangkatan." Mulai Namjoon. "Tapi memang dasarnya tidak peduli, Yoongi hyung bahkan tidak penasaran untuk bertanya siapa orangnya, karena kesal ku sebut saja nama Daniel dan tebak, responnya?" pancing Namjoon.
"Syok?" guman Jungkook.
"Tidak percaya?" guman Jimin.
"Salah. Yoongi hyung hanya bilang 'oh'." Namjoon meletakkan gelasnya diatas meja.
"Hanya 'oh'?" Jungkook bertanya tak percaya. Jika itu Jungkook, mungkin Jungkook akan mencari tahu habis-habisan dan memberi sinyal pada Daniel kalau dia juga tertarik padanya, yang seperti Daniel ini jelas sangat sayang untuk dilewatkan.
"Mungkin karena tidak percaya, karena Daniel juga tidak pernah menunjukan terang-terangan kalau dia tertarik pada Yoongi hyung, jujur saja, anak itu agak pengecut, tidak seperti Jiminie" goda Namjoon.
Jimin menunduk malu.
"Kalian pasti sudah tau kalau Yoongi hyung tidak gampang percaya pada omongan orang, itu yang membuatnya sangat-sangat 'chill', hidup tanpa mendengarkan omongan orang tentang kita itu perlu" sambung Namjoon.
"Lalu, bagaimana setelahnya?" Tanya Jimin penasaran.
"Ya tidak terjadi apa-apa, Daniel-nya saja yang pengecut, mungkin kalau dia berani mendekati Yoongi hyung, bisa saja mereka sudah pacaran sekarang. Walaupun terlihat dingin diluar, sebenarnya Yoongi hyung itu pribadi yang hangat" jelas Namjoon.
Jungkook dan Jimin mengangguk setuju.
"Lalu, apa Yoongi hyung pernah bercerita soal Daniel?" Tanya Jimin lagi.
"Tidak. Memangnya apa yang mau diceritakan Yoongi hyung soal Daniel? Begitu berpapasan dengan Yoongi hyung saja dia kabur karena malu" Namjoon memutar bola matanya.
"Mungkin soal Daniel yang terlihat aneh setia bertemu Yoongi hyung?" Jungkook mencoba memancing ingatan Namjoon.
"Tidak ada, Yoongi hyung itu tidak peka pada keadaan. Aku rasa kalian sudah paham."
"Benar juga..." Jimin dan jungkook berucap setuju.
"Oh, tapi dulu Yoongi hyung pernah bilang ada orang bernama Daniel yang mengirimnya pesan, hanya pesan sapaan biasa dan memperkenalkan diri sebagai Daniel..." ucap Namjoon.
"Lalu?" Jimin bertanya penasaran.
"Pesannya tidak dibalas karena Yoongi hyung tidak kenal Daniel mana yang menghubungi dia, Yoongi hyung kan tidak suka membalas pesan iseng seperti itu" Jawab Namjoon. "Yoongi hyung itu orang yang pasif, jika yang menyukainya juga bersifat sama dengannya, tidak akan ada hal yang terjadi, bersyukurnya dia bertemu Jiminie yang bicara apa adanya" Namjoon tertawa.
"Sebenarnya aku sempat sangsi jika Yoongi hyung tidak akan menyadari kalau kau mengirim sinyal-sinyal suka padanya, tadinya aku berniat membantu, tapi sepertinya Jiminie sangat ahli menarik perhatian Yoongi hyung" Namjoon menggoda Jimin yang sudah memerah.
"Aku hanya bersikap apa adanya, lagian tidak susah memahami Yoongi hyung. Jika dia tidak peka, kita saja yang mengatakan keinginan kita, jangan mengharapkan kalau Yoongi hyung mau menebak-nebak, sampai tahun baru juga tidak akan peka." Jimin menarik gelas diatas meja, memainkan uap air di luar gelasnya.
"Sudahlah, tidak perlu mencari tahu soal masa lalu Yoongi hyung. Dia sudah serius denganmu, kan?" Namjoon melirik Jimin. "Percaya saja, Yoongi hyung bukan tukang selingkuh, move on dari Kihyun saja sampai setahun lebih" sambung Namjoon.
"Hyung, kenapa Kihyun hyung dan Yoongi hyung putus?" Jimin bertanya penasaran, mengabaikan nasehat Namjoon yang baru saja terucap.
Namjoon menghela napas, sia-sia rasanya menasehati Jimin. "Sudah tidak cocok. Jadwal kuliah yang bentrok membuat mereka sulit bertemu dan membuat mereka sering bertengkar, belum lagi soal gossip yang di dengar Kihyun yang entah dari mana soal Yoongi hyung yang katanya sedang dekat dengan Daniel saat itu, jadi Yoongi hyung diputuskan"
"Aku tidak pernah tau kalau Kihyun hyung meminta putus karena Daniel" potong Jungkook.
"Kau kan hanya tahu sedikit, yang setiap hari bersama Yoongi hyung kan aku." Namjoon menggelengkan kepalanya.
"Yoongi hyung bilang mereka putus karena memang sudah tidak cocok dan mereka sering bertengkar sebelum akhirnya putus" Sambung Jungkook.
"Nah, itu alasan yang sebenarnya, alasan tambahan karena Kihyun cemburu pada Daniel. Itu awal masalahnya kenapa mereka makin sering bertengkar sebelum putus, Kihyun tidak pernah jujur soal perasaan yang mengganjal ditambah Yoongi hyung yang tidak peka, bukannya sudah jelas menjadi perfect combo untuk berpisah?" Namjoon menatap Jungkook lekat.
"Kenapa aku bisa melewatkan fakta yang satu itu ya…" guman Jungkook.
"Jangan terlalu banyak mencari tahu, Jungkook." Nasehat Namjoon.
.
.
.
"Chanyeol hyung, dimana Papa anak-anak?" Jimin melongokkan kepalanya kedalam ruangan Chanyeol yang memang pintunya setengah terbuka.
"Chim?" Chanyeol mengangkat kepalanya dan menatap Jimin yang masih berdiri di dekat pintu. "Masuk"
"Aku kesini mencari Yoongi hyung, bukannya mau berbicara dengan Chanyeol Hyung" Jimin berkeras tetap berdiri di dekat pintu.
Chanyeol memutar bola matanya. "Ada di ruang latihan, ada evaluasi bulanan para trainee, tunggu saja disini, paling sebentar lagi selesai"
"Kenapa Yoongi hyung harus ikut-ikutan?" Jimin mengernyit tidak suka dan berjalan masuk kedalam ruangan Chanyeol.
"Sebagai produser dia juga harus bertemu trainee untuk melihat calon artis baru agensi kami, itu biasa" Jawab Chanyeol. "Kenapa mencari Yoongi?"
Jimin mendudukan diri didepan Chanyeol dan menangkup pipinya, dia bosan. Dirumah tidak ada orang, Jungkook sudah pulang karena Taehyung akan datang kerumahnya, sementara Namjoon sudah pergi lebih dulu setelah di telepon seseorang bernama 'Jinseok' saat di café tadi.
"Tidak ada, hanya bosan saja di rumah" jawab Jimin.
"Bisa-bisa Yoongi bosan melihatmu jika setiap hari muncul" Chanyeol berkomentar. Rasanya sangat heran melihat Jimin seperti kecanduan Yoongi, sehari saja tidak melihat Yoongi, Chanyeol yang dijadikan sasaran amukan karena Yoongi tidak bisa ditemui selama bekerja.
"Mana mungkin Yoongi hyung bosan, aku manis begini" balas Jimin cuek.
"Aku mau muntah" Chanyeol menatap kesal pada Jimin.
"Hyung, pesankan aku makanan" pinta Jimin, mengabaikan ucapan Chanyeol barusan.
"Pesan saja sendiri, nanti ku bayar"
"Pinjami aku ponselmu hyung" Jimin memajukan telapak tangannya.
"Sudah membayar makanan mu, sekarang kau juga pakai ponsel ku untuk memesan makanan?"
"Pelit sekali, padahal aku ada info soal Baekhyun" cibir Jimin.
"Pakai" Chanyeol menggeser ponselnya kedepan Jimin dengan cepat.
"Kalau tidak ikhlas, tidak usah saja"
"Mau makan tidak?" Chanyeol menatap lurus pada Jimin.
"Hehehe mau…" Jimin mengambil ponsel Chanyeol.
Setelah memesan makanan, Jimin meletakkan lagi ponsel Chanyeol diatas meja, menatap Chanyeol yang sudah sibuk menatap layar komputernya.
"Hyung, kau masih suka genit dengan orang lain, tidak?" mulai Jimin, dia kembali memangku pipinya dengan kedua tangan sambil memperhatikan Chanyeol yang bekerja.
"Lumayan" jawab Chanyeol sekenanya.
"Masih suka ikut kencan buta dengan Joohyung hyung?"
"Kadang-kadang kalau tidak sibuk. Kenapa memangnya?" Chanyeol menggeser duduknya hingga menghadap tepat didepan Jimin.
"Batal saja" guman Jimin.
"Apanya yang batal?"
"Tadinya aku ingin mendekatkan Chanyeol hyung dengan Baekhyun, tapi kebiasaan buruk hyung sama sekali tidak berubah, aku tidak mau temanku sakit hati"
"Ya! namanya manusia pasti mencari yang terbaik, aku kencan buta juga bukan dengan sembarang orang. Lagian, kalau dengan Baekhyun, tidak ada jaminan juga dia siap menikah muda kan? Dia kan tidak sama denganmu. Aku sedang berpikir untuk mencari orang yang umurnya hanya berbeda dua tahun dariku, bukannya lima tahun dan yang lebih penting, siap di ajak menikah tahun ini" komentar Chanyeol.
"Benar juga, hyung sedang mencari calon pendamping ya, bukan calon pacar. Mungkin hyung terkena karma karena terlalu sering bergonta-ganti teman kencan" ucap Jimin serius.
"Mulutmu, Park Jimin" Chanyeol menatap tajam pada Jimin yang terlihat tanpa dosa.
"Memangnya yang hyung cari seperti apa?
"Yang mungil, bisa masak, berwajah manis, ceria, lucu, wajahnya seperti anak anjing…"
"Sebentar, kenapa ciri-cirinya seperti Baekhyun?" potong Jimin.
"Oh ya? mungkin Baekhyun itu jodohku"
"Ya, bicara dengan telapak tanganku, hyung" Jimin memutar bola matanya. "Aku tidak akan membiarkan Baekhyun mendekat kalau kelakuan hyung masih seperti ini."
"Bisa saja kalau aku dekat dengan Baekhyun, aku bisa berubah kan?"
"Mustahil sepertinya, tapi, akan ku pikirkan lagi, kalau hyung benar berubah, aku bisa mendekatkan hyung dengan Baekhyun"
"Senang berbisnis dengan anda" Chanyeol menarik tangan Jimin di pipinya dan menjabat erat-erat tangan Jimin.
"Aku tidak bilang setuju kan?" Protes Jimin.
"Kau tidak akan tega, aku jamin. Nanti malam juga pasti kau akan bicara dengan Baekhyun. Aku sudah jadi kakak mu selama dua puluh tahun, aku paham benar dengan sifatmu" ucap Chanyeol bangga.
.
.
.
"Yoongi hyung, disini Jimin sedang merindukanmu, ganti…" Jimin melongokkan kepalanya kedalam studio Yoongi, menatap Yoongi yang sedang berbalik menghadapnya kearah pintu.
"Disini Yoongi hyung juga sedang merindukan Jiminie, ganti…" Yoongi terkekeh, memutar kursinya dan merentangkan tangannya, isyarat agar Jimin mendekat dan memeluknya.
Jimin berjalan mengendap-endap menuju Yoongi, meletakkan bungkusan makanan yang dibawanyaa diatas piano, kemudian menjatuhkan badannya kearah Yoongi yang masih duduk di kursi.
"Yoongi hyung, aku sudah menunggu Yoongi hyung satu jam di ruangan Chanyeol hyung" adu Jimin, wajahnya disembunyikan dibahu Yoongi dan memeluk Yoongi erat.
"Maaf, tadi ada sedikit pekerjaan, kenapa tidak bilang lebih dulu kalau mau datang? Jadi tidak perlu menunggu kan?" Yoongi mengusap punggung Jimin pelan.
"Aku pikir Yoongi hyung hanya ada distudio saja seharian" Jimin mengecup rahang Yoongi kemudian berdiri tegak. "Yoongi hyung sudah makan?"
"Tadi siang, sudah"
"Aku bawa buah, hyung" Jimin menarik kantongan berisi buah, meletakkannya diatas paha Yoongi.
"Gomawo" Yoongi menggusak rambut Jimin.
"Hyung, besok Appa dan Eomma akan sampai, dan hyung, aku boleh menambah satu undangan lagi?" pinta Jimin yang masih berdiri didepan Yoongi.
"Huh? Siapa?"
"Baekhyun, temanku yang satu jurusan dengan hyung, boleh ya?" pinta Jimin.
"Yakin ingin di undang? Nanti kalau dia menyebarkan di kampus, bagaimana? Fans mu bisa patah hati semua" Yoongi terkekeh, tangannya sibuk mengambil buah potong yang diletakkan dalam wadah.
"Fans apanya" Jimin mendudukan diri dilantai, tangannya memeluk kaki Yoongi dan menyandarkan dagunya dilutut Yoongi. "Memangnya hyung tidak ingin ada orang kampus yang tau kita bertunangan?"
"Bukan begitu, aku hanya tidak ingin terjadi kehebohan di kampus" jawab Yoongi. "Bisa-bisa selesai bertunangan aku masuk rumah sakit karena fans mu yang mengamuk" Yoongi terkekeh lagi.
"Bukan karena hyung malu bertunangan dengan ku kan?" ucap Jimin sedih.
"Hey, kenapa bilang begitu?" Yoongi menarik tangan Jimin, membuat Jimin berdiri dan terduduk dipahanya.
"Yoongi hyung tidak ingin orang tau kita bertunangan" Jimin memeluk Yoongi erat.
"Astaga, salah lagi. Ya sudah, kita undang seluruh kampus saja, tidak kenal juga tidak apa-apa, di undang saja"
Jimin tertawa pelan dan memukul bahu Yoongi. "Kalau begitu, setelah kita bertunangan, hyung harus pamer di social media milik hyung kita sudah bertunangan"
"Tidak masalah" ucap Yoongi sok keren.
"Yoongi hyung…" Jimin menatap Yoongi lekat.
"Ne?"
"Hyung, kalau Daniel sunbae menyukaimu, bagaimana?" Tanya Jimin tanpa mengalihkan pandangannya dari mata Yoongi.
"Kenapa membahas Daniel lagi?" Yoongi mengernyit.
"Dia suka padamu hyung, sudah sejak lama" Jimin menunduk.
"Ya sudah, itu urusannya"
"Yooongii hyyuuunggg" Jimin berucap geram dan menarik pipi Yoongi. "Ini serius!" Jimin melepaskan cubitannya dan menatap Yoongi lekat.
"Memangnya kalau dia suka, aku harus apa?"
"Bagaimana pendapat hyung saat tau dia suka pada Yoongi hyung?" Tanya Jimin.
"Dia punya selera yang bagus" jawab Yoongi.
"Menyebalkan!" Jimin memukul dada Yoongi. "Sudah, ah, mau tidur saja" Jimin berdiri, berjalan ke sofa dan menidukan diri disana.
Jimin memunggungi Yoongi yang masih tersenyum geli sambil memakan buah ditangannya. Pelan Yoongi membuka lemari kecil yang ada disudut ruangan tempat dia menyimpan pakaian miliknya, mengeluarkan selimut, dan berjalan kearah Jimin hanya untuk menyelimuti Jimin.
"Selamat tidur" Yoongi menggusak rambut Jimin dan mengecup pipi Jimin pelan.
"Yoongi hyung…" cicit Jimin pelan.
"Ne?"
"Temani.." ucap Jimin malu-malu, badannya masih saja memunggungi Yoongi.
Yoongi tersenyum, menidurkan diri disamping Jimin, memeluk Jimin dari belakang.
.
.
.
Acara pertunangannya sudah selesai. Mereka sedang bercakap-cakap ringan di taman rumah Jimin yang disulap menjadi tempat acara. Yoongi sedang duduk berbincang dengan tuan Park, Chanyeol, Papa-nya, Namjoon dan Hoseok di dekat pintu masuk menuju taman rumah. Sementara Jimin sedang mengobrol seru dengan Jungkook, Baekhyun, dan Taehyung yang sedang berdiri tak jauh dari mereka duduk, sedang menemani Yoonji bermain didekat pohon.
Seokjin berdiri menatap kedekat pintu dimana Namjoon sedang terlihat bicara dengan serius bersama orang-orang didekatnya, Seokjin tersenyum kecil. Rasanya Namjoon sudah seperti orang dewasa saja.
"Seokjin, kapan kau akan menyusul Yoongi? Bukannya sudah saatnya mencari yang baru?" Ibu Jungkook, nyonya Jeon, mantan adik ipar Seokjin bertanya seolah menggoda Seokjin.
"Haruskah aku menikah lagi?" Tanya Seokjin ikut membalas godaan mantan adik iparnya. Keduanya memang akrab, bahkan setelah Seokjin dan Hyosang bercerai, tidak ada yang berubah dari kedekatan keduanya.
"Tentu saja. Mau sampai kapan kau sendirian?"
Seokjin tertawa kecil, matanya berganti menatap Yoonji yang berlari mengelilingi pohon karena dikejar Taehyung. "Sampai ada yang bisa mengambil hati kedua anak ku tentu saja" jawab Seokjin sambil tersenyum lebar.
"Bagaimana bisa seseorang itu mengambil hati anakmu jika kau masih menutup hati?"
"Pasti ada saatnya" Seokjin melirik kearah Namjoon yang juga sedang menatap kearahnya, tersenyum lembut dan mengangguk sopan pada Seokjin.
"Tapi kapan?"
"Sabarrr…" Seokjin tertawa kecil.
"Jimin terlihat masih sangat kecil…" guman Hyorin- Ibu Jungkook.
"Kau benar, aku sempat ragu soal pertunangan ini, tapi banyak hal yang membuatku yakin dan setuju. Jimin, meskipun terlihat agak manja, dia bisa memahami Yoongi lebih baik daripada aku"
"Aku sering mendengar cerita Jimin soal Yoongi kalau dia sedang bermain kerumah" cerita Hyorin. "Dia banyak bertanya padaku soal pernikahan, apa yang harus dilakukan kalau sudah menikah, bagaimana menghadapi masalah saat sudah menikah, dia bahkan memintaku mengajarinya masak beberapa kali" Hyorin tertawa mengingatnya.
"Sampai seperti itu?" Seokjin tertawa.
"Ne, dia benar-benar ingin berubah dan menjadi lebih baik untuk Yoongi. Aku senang Yoongi mendapatkan seseorang yang begitu peduli dengan perasaannya." Hyorin tersenyum sendu.
"Maaf karena kami gagal menjadi orang tua yang baik dan pernah menghancurkan perasaan Yoongi" Seokjin menunduk.
"Hey! Aku tidak sedang mengungkit masa lalu" Hyorin menyenggol bahu Seokjin pelan.
"Rasanya tidak percaya melihat Yoongi ku sudah begitu besar" Seokjin tersenyum kecil. "Dia tumbuh menjadi pria yang tenang dan sangat dewasa, kan?"
"Ya, aku setuju. Aku berharap Jungkook-ku juga begitu, tapi sepertinya sulit. Appa-nya sangat memanjakannya" Hyorin menggelengkan kepalanya.
"Jungkook anak kalian satu-satunya, itu wajar. Kalian juga sangat memanjakan Yoonji"
"Yoonji anak yang penurut, tentu saja kami menyukainya. Aku sering membawanya pergi arisan, teman-teman arisanku juga banyak yang suka" Hyorin tertawa. "Hey, apa tidak ada orang yang sedang mendekatimu akhir-akhir ini?" Tanya Hyorin penasaran.
"Kenapa bertanya soal itu terus?"
"Aku juga ingin kau bahagia, Kim Seokjin" Hyorin tersenyum tulus.
.
.
.
"Appa, Yoonji, kita pulang sekarang" panggil Yoongi saat Seokjin masih saja sibuk menemani Yoonji bermain.
"Ne" Seokjin melirik sekilas dan menatap Yoongi yang sedang berjalan bersama Namjoon kearahnya. "Yoonji, ayo pulang, sudah malam"
"Ne appa…" Yoonji berlari melewati Seokjin dan berakhir memeluk Yoongi.
"Aigoo, berat sekali…" Yoongi menggendong Yoonji, membawa adiknya itu berjalan menuju rumah.
Yoonji terkekeh digendongan Yoongi. "Oppa, Yoonji menginap di tempat Papa ya"
"Kenapa menginap di tempat papa lagi?" Yoongi mengernyit.
"Besok Papa sudah janji ingin mengajak Yoonji pergi melihat lumba-lumba"
"Tidak mau mengajak Oppa?"
Keduanya sibuk bercerita, meninggalkan dua orang yang berjalan beriringan dengan jarak cukup jauh dibelakang.
"Kita kapan?" mulai Namjoon, matanya menatap lurus pada punggung Yoongi yang mulai menjauh masuk kedalam rumah.
"Apa? Kencan melihat lumba-lumba?" Seokjin melirik Namjoon sebentar dan tertawa kecil.
"Kau ingin kencan melihat lumba-lumba?"
"Sepertinya aku lebih suka kencan di restoran dekat gunung"
"Besok bagaimana?"
"Akan ku usahakan, besok aku berencana membantu Yoongi untuk packing barang-barang yang akan dibawanya ke Jeju"
"Yoongi sudah punya colan istri, kau sudah tidak diperlukan lagi, sayang" Namjoon terkekeh.
"Aku masih Appa-nya" Seokjin melotot kesal pada Namjoon.
Namjoon menggusak kepala Seokjin tanpa sadar, keduanya terdiam sesaat dan melirik sekitar, ada Jungkook yang sedang berdiri dengan tatapan terkejut dibelakang mereka.
.
.
.
"Appa, aku dan Jimin ingin keluar sebentar, tidak apa kan Appa pulang bersama Papa?" Tanya Yoongi sambil menyerahkan Yoonji yang ada di gendongannya.
"Huh? Eum.. ya…" ucap Seokjin gugup.
"Ya sudah, Papa, aku titip Appa, ya. ada yang ingin ku beli, besok mungkin tidak sempat, besok kan kita akan pergi bertiga" Yoongi menatap Hyosang sambil tersenyum lebar.
"Jangan pulang larut, bukan berarti karena sudah tunangan kau boleh memulangkan Jimin larut malam" Nasehat Hyosang yang disambut kekehan dari kedua orangtua Jimin.
"Tidak apa tuan Min" tuan Park menimpali.
"Ya sudah, kami permisi, tuan Park, Nyonya Park" Pamit Hyosang sambil membungkuk yang diikuti oleh Seokjin yang berdiri disampingnya.
"Hati-hati"
Selepas berpulangannya para tamu, barulah Yoongi dan Jimin pergi. Yoongi berencana membeli sandal baru untuk dia pakai selama di Jeju.
"Hyung, bilang pada Appa dan Eomma agar aku boleh ikut ke Jeju" bujuk Jimin begitu dia mendudukan diri di kursi penumpang milik Yoongi.
"Tidak sayang, aku disana bekerja" Yoongi mulai menstater mobil, matanya melirik kesamping dan melihat seatbelt Jimin belum terpasang. Jimin memang sengaja, ngomong-ngomong. Karena selama ini selalu Yoongi yang memasangkan seatbelt nya.
"Gomawo" ucap Jimin senang dan mengecup pipi Yoongi setelah Yoongi memasangkan seatbeltnya.
"Sudah nyaman duduknya?" Tanya Yoongi memastikan.
Jimin mengangguk. "Hyung disana sampai empat hari, ya?" Tanya Jimin sedih.
"Ingin dibawakan apa nanti?" Yoongi melirik sambil memegang kemudi mobilnya.
"Tidak mau, maunya ikut…" Jimin mulai merengek.
"Tidak bisa, sayang. Kau akan bosan mengikutiku mengurus izin untuk pemakaian lokasi syuting disana, lagian, Sajangnim tidak akan mengizinkan"
"Makanya minta izin pada Appa dan Eomma saja…"rengek Jimin lagi.
"Nanti saja kalau kita sudah menikah, kita pergi liburan bersama" ucap Yoongi sambil menggusak rambut Jimin.
"Masih lama"
"Kalau ingin ke Jeju, ikut saja dengan Appa dan Eomma, mereka juga tinggal di Jeju kan?"
"Appa dan Eomma baru pulang ke Jeju minggu depan"
"Ya sudah, temani Appa dan Eomma saja dulu dirumah"
Jimin mendengus.
Sampai di Mall, Yoongi menautkan jari-jarinya dengan milik Jimin, menggandeng Jimin keliling mall untuk mencari sandal untuknya. Keduanya memasuki toko yang menjual peralatan untuk mendaki gunung, Yoongi sibuk mencari sandal gunung yang pas dengan kakinya, sementara Jimin sibuk memperhatikan isi toko.
Setelah mendapatkan apa yang Yoongi inginkan, keduanya langsung pulang karena jam sudah menujukan pukul sepuluh malam.
"Besok hyung ke rumah, kan?" Jimin memiringkan tubuhnya menghadap Yoongi. Mereka sudah sampai di depan rumah Jimin.
"Setelah pulang melihat lumba-lumba, aku akan kesini"
"Ne, ku tunggu hyung. Oh!" Jimin teringat sesuatu. "Ponsel hyung" Jimin menggerakaan telapak tangannya kearah Yoongi.
"Untuk apa?" Yoongi yang kebingungan, menyerahkan ponselnya begitu saja pada Jimin.
"Aku ingin pamer di social media milik Yoongi hyung" Jimin terkekeh dan mulai mengotak atik ponsel Yoongi.
"Ingin memasukan foto yang mana?" Yoongi mendekat untuk melihat apa yang Jimin lakukan dengan ponselnya.
"Fotoku yang sudah ku kirim ke ponsel Yoongi hyung" Jimin tersenyum lebar, menunjukan fotonya pada Yoongi yang sedang memamerkan cincin.
"Kapan kau mengirimnya?" Yoongi tertawa melihat tingkah Jimin.
"Tadi setelah acara selesai, Yoongi hyung saja yang tidak membuka ponsel sejak tadi"
"Yang ini bagus tidak, hyung?" Tanya Jimin, ada sekitar lima foto yang Jimin kirim. Foto mereka berdua ada dua, dan sisanya adalah foto Jimin sendiri.
"Semuanya bagus" komentar Yoongi.
"Upload semuanya saja kalau begitu" ucap Jimin girang. Dan Jimin benar-benar mengupload seluruhnya satu persatu.
Akhirnya, setelah satu setengah, instagram Yoongi akhirnya kembali berfungsi dan melakukan comeback dengan gebrakan terbaru dan status terbaru.
Tidak sampai satu menit, notifikasi ponsel Yoongi sudah ramai. Jimin tersenyum puas. Followers Yoongi harus tau kalau Yoongi sudah punya calon.
"Ok, terimakasih Yoongi hyung" Jimin meletakkan ponsel Yoongi ketangan Yoongi.
"Sudah pamernya?" Yoongi terkekeh dan menarik kepala Jimin untuk dikecup.
Jimin mengangguk. "Jungkook pasti kesal" Jimin tertawa dan memeluk pinggang Yoongi erat.
"Dasar, sudah, masuk sana." Yoongi mengurai pelukannya.
"Ne, sampai bertemu besok, Yoongi hyung" ucap Jimin ceria.
"Tidak ada ciuman selamat tidur untuk papa anak-anak?" goda Yoongi, membuat wajah kelewat ceria milik Jimin berubah memerah padam.
Jimin terdiam malu.
"Ya sudah, papa anak-anak saja yang mencium kalau begitu" Yoongi menarik tengkuk Jimin, mencium tepat di bibir Jimin, menghisap pelan bibir bawah Jimin dan kemudian melepaskannya. "Mimpi indah, Jiminie"
"Sampai bertemu besok… papa anak-anak, mimpi indah." cicit Jimin pelan dan berlari keluar dari mobil Yoongi. Meninggalkan Yoongi yang berganti memerah padam karena panggilan Jimin.
.
.
.
"Kau sangat menyebalkan, kau tau?" Jungkook mengomel begitu teleponnya diangkat Jimin.
"Agar kau semakin kesal, aku baru saja pulang kencan dengan calon suami-ku" pamer Jimin.
"Hentikan panggilan-panggilan norakmu itu" kesal Jungkook.
"Ada apa kau meneleponku malam-malam?" Jimin menghempaskan tubuhnya keatas tempat tidur. "Oh, apa kau baru saja melihat instagram milik calon suami-ku? Bukannya calon suami-ku itu manis sekali, dia mengupload fotoku banyak sekali hari ini, aku jadi tidak enak dengan followersnya." ucap Jimin, membuat Jungkook semakin kesal.
"Kenapa kau semakin menyebalkan?" Jungkook memutar bola matanya di ujung telepon. "Aku menelepon karena ada hal yang mengganjal"
"Huh? Apa maksudmu?" Jimin menegakkan tubuhnya ditempat tidur.
"Tadinya aku ingin bicara soal ini langsung sebelum pulang, tapi kau terlihat seperti debu yang selalu menempeli Yoongi hyung saat diluar rumah" omel Jungkook. "Ini soal Namjoon hyung"
"Namanya juga bersama calon suami, kau akan paham kalau Taehyung melamarmu nanti, itu juga kalau di lamar" ucap Jimin semakin menyebalkan. "Jadi, ada apa dengan Namjoon hyung?"
"Bisa tidak kau berhenti menyebalkan sebentar saja?" kesal Jungkook.
"Oke, maaf. Jadi ada apa?" Tanya Jimin sambil terkekeh puas.
"Ini hanya antara kita berdua saja, oke? Aku curiga Namjoon hyung ada hubungan khusus dengan Namjoon hyung…"
"Ya! Jeon Jungkook, atas dasar apa kau berkata begitu?" Jimin tidak bisa untuk tidak terkejut.
"Aku melihat sendiri Namjoon hyung mengelus kepala Seokjin Ahjussi. Aku tidak mengarang cerita" ucap Jungkook pelan, takut suaranya didengar orangtuanya.
"Kita bicara besok! Aku akan kerumahmu pagi-pagi" putus Jimin.
"Bagus, aku juga lebih suka bicara langsung, ingat, ini hanya kita berdua yang boleh tau"
"Ne, sampai bertemu besok"
.
.
.
Yoongi mengernyit bingung dengan nomor ponsel asing yang tertera dilayar ponselnya. Dia baru saja selesai mandi dan berencana tidur, sampai nomor asing ini muncul dengan tiga panggilan tidak terjawab.
Yoongi mencoba menghubungi kembali nomor tersebut, mungkin saja itu dari kantor atau ada yang perlu, tidak sampai deringan kedua, telepon Yoongi sudah diangkat dengan suara asing yang masuk ketelinga Yoongi.
"Yoongi, ini aku, Daniel"
.
.
.
TBC
