"Yoongi, ini aku, Daniel"
"Daniel siapa?" Tanya Yoongi kebingungan.
"Kang Daniel. Kita satu kampus" Daniel tertawa kecil diakhir ucapannya, tidak mengejutkan kalau Yoongi lupa padanya.
"Oh, kau. Ada apa?"
"Kau ingat aku yang mana, kan?"
"Ingat. Yang kapten basket. Ada apa?"
"Kau sibuk?" Tanya Daniel ramah.
"Tiap hari juga aku sibuk. Bisa langsung saja?" Tanya Yoongi sambil meletakkan tubuhnya diatas tempat tidur.
Daniel terkekeh. Lagi-lagi tidak terkejut dengan jawaban terlalu jujur dari Yoongi. Justru Yoongi yang seperti ini yang membuat dia tertarik. Terkesan Jual mahal. "Bisa bertemu besok?" tembak Daniel.
"Tidak. Aku sibuk dengan keluargaku besok"
"Oh, oke, lusa?"
"Lusa aku berangkat ke Jeju. Bisa langsung katakan ada apa?" Tanya Yoongi tak sabar.
"Ada yang ingin ku bicarakan. Jadi, kapan kau bisa?"
"Minggu depan, mungkin"
"Oh, oke. Kabari aku kalau kau sudah bisa ditemui. Selamat istirahat" Daniel memutuskan sambungan teleponnya.
.
.
.
RUN TO YOU
.
.
.
"Mana mungkin Namjoon hyung berani seperti itu!" Jimin menggebrak meja makan rumah Jungkook dan menatap Jungkook dengan pandangan tidak percaya.
"Aku lihat sendiriiii!" Jungkook berucap geram.
"Ya, Jeon Jungkook, Namjoon hyung dan Seokjin Appa itu tidak pernah terlihat bersama hanya berduaan, bagaimana bisa mereka punya hubungan? Mungkin itu hanya reflex saja" Jimin berucap tak percaya.
"Mereka terlihat akrab, mana mungkin teman biasa berani bertindak semesra itu. Aku lihat sendiri dengan mata kepalaku cara Namjoon hyung menatap Seokjin ahjussi itu sangat berbeda."
"Kau pasti salah lihat" Jimin menatap tajam pada Jungkook.
"Terserah. Aku yang akan mencari tahu sendiri soal ini"
"kalau kau benar, apa yang akan kau lakukan?" Jimin menatap lurus pada Jungkook yang mendadak membeku.
"Aku tidak tau…" cicit Jungkook.
"Aku tidak bisa membayangkan apa jadinya kalau Yoongi hyung sampai tau soal ini…" guman Jimin. "Apalagi kalau sampai dugaan mu benar"
"Kau benar. Yoongi hyung itu orang yang paling sulit dibaca emosinya. Wajahnya selalu terlihat datar-datar saja" Jungkook menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi. "Ada baiknya masalah ini kita simpan saja dulu, tunggu sampai kita mendapat kebenarannya"
"Aku setuju" Jimin mengangguk pelan.
"Bagaimana soal Daniel itu?" Tanya Jungkook penasaran.
"Ah, aku melihat dia memberikan like pada postingan di instagram Yoongi hyung" Jimin berucap semangat.
"Yang mana? Fotomu?"
"Bukan, di foto kami berdua. Semalam Daniel sunbae juga mengirimiku pesan ucapan selamat karena sudah bertunangan" cerita Jimin.
"Lalu kau jawab apa?"
"Aku hanya bilang terimakasih dan dia bilang sampaikan ucapan selamat darinya untuk Yoongi hyung, begitu" sambung Jimin.
"Sebenarnya tujuannya apa ya? dia seperti mendekatimu, tapi setiap melihat Yoongi hyung, kau seperti butiran debu dimatanya." Jungkook mungusap-usap dagunya seperti berpikir keras.
"Aku rasa dia hanya ingin berteman denganku. Dia sering mengirimiku pesan karena teman dekatnya satu sekolah tari denganku, dia hanya sering menanyakan temannya itu dan terkadang mengajakku bergabung untuk pergi jalan dengan mereka berdua" jelas Jimin.
"Apa mungkin dia masih menyukai Yoongi hyung, ya?"
"Aku rasa juga begitu, tapi entahlah. Selama Yoongi hyung tidak berubah, aku rasa aku baik-baik saja. Aku harus percaya pada papa anak-anak" Jimin berkedip genit.
"Kapan kau akan berhenti memanggil Yoongi hyung dengan sebutan norakmu itu?" Jungkook memutar bola matanya kesal.
.
.
.
"Yoongi hyung, kapan pulang?" Jimin merengek. Sudah empat hari Yoongi pergi ke Jeju dan sudah empat hari juga Jimin sulit menghubungi Yoongi. Baru malam ini Jimin bisa melakukan video call itupun karena Yoongi tidak bekerja sampai tengah malam lagi.
"Besok, sabar ya.." Yoongi meletakkan ponselnya di kepala ranjang, tubuhnya telungkup sambil memeluk bantal, memperhatikan Jimin dari layar ponselnya.
"Jiminie rindu sekali dengan Yoongi hyung…" Jimin mengikuti Yoongi dengan meletakan ponsel dikepala ranjang dan tubuhnya telungkup memeluk bantal.
Yoongi terkekeh pelan. "Jiminie merindukan Yoongi hyung?"
"Ne. rindu sekali" Jimin menjawab pelan. "Besok hyung sampai di Seoul jam berapa?"
"Aku mengambil pesawat paling terakhir, kita bisa bertemu lusa nanti."
"Masih lama" Jimin menatap sedih layar ponselnya.
"Hey, masih empat hari saja sudah sedih begitu" Yoongi tertawa kecil. "Kemana saja hari ini?"
"Pergi bersama Jungkook"
"Kemana?"
"Melakukan investigasi pada Namjoon hyung" jawab Jimin semangat.
"Namjoon?" Yoongi mengernyi heran.
Jimin membeku sedetik dan meruntuki kebodohannya, bisa-bisanya dia membocorkan misi rahasianya dan Jungkook pada Yoongi. "Ma-maksudnya, kami, aku, Jungkook, curiga pada Namjoon hyung, benar begitu.." ucap Jimin gugup.
"huh?"
"Maksudnya, kami curiga Namjoon hyung pacaran dengan seseorang, hehehe, iya hyung, begitu, jadi kami penasaran"
"Memangnya kalian berdua ini sudah kehabisan bahan gossip sampai Namjoon pun kalian jadikan bahan gossip?" Yoongi tertawa.
"Hyung, sudah beli oleh-oleh untukku?" Tanya Jimin berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Ingin dibelikan apa?" Yoongi bertanya kembali.
"Eum, sepertinya aku tidak mau apa-apa, hyung. Hyung cepat pulang saja aku sudah senang sekali" Jimin tersenyum lebar.
"Besok akan ku carikan sesuatu untukmu." Putus Yoongi. "Istirahat, sudah malam"
"Yoongi hyung capek?"
"Sedikit."
"Ya sudah, mimpi indah Yoongi hyung" Jimin melambaikan tangannya kearah ponselnya.
"Ne. mimpi indah Jiminie…"
.
.
.
Jimin dan Jungkook terperangah saat melihat mobil Seokjin masuk kedalam parkiran gedung apartemen dimana Namjoon tinggal. Dengan menjaga jarak aman, Jimin melajukan mobilnya kemana pun Seokjin pergi bahkan memarkir mobilnya tak jauh dari mobil Seokjin terparkir.
Seokjin terlihat sangat senang, wajahnya terlihat berseri-seri, khas orang jatuh cinta. Saat Seokjin sudah masuk kedalam lift, buru-buru Jungkook dan Jimin berlari kearah lift dan melihat dimana Seokjin berhenti. Lantai 5. Jimin dan Jungkook tanpa pikir panjang masuk kedalam lift disebelahnya, menuju lantai 5.
"Tanganku mendingin" guman Jungkook.
"Jantungku hampir pecah" Ucap Jimin.
Lift yang membawa mereka berhenti di lantai 5, ada sekitar 10 pintu berbaris dibagian kiri dan kanan, Jimin dan Jungkook menatap satu sama lain. Bingung harus bagaimana lagi setelah ini.
"Yoongi hyung!" Jimin berucap heboh saat nama Yoongi muncul diponselnya.
"Angkat cepat" ucap Jungkook ikut-ikutan heboh.
"Ne, hyung?" Jimin berucap pelan, matanya menatap Jungkook khawatir. Ada rasa takut yang Jimin rasakan entah karena apa.
"Jim, ada nomor ponsel sajangnim yang lain yang bisa dihubungi?" Tanya Yoongi tanpa basa-basi.
"Memangnya kenapa hyung?"
"Aku sudah menghubungi nomor ponsel sajangnim yang biasa, tapi tidak aktif. Ada yang harus ku laporkan pada sajangnim, makanya aku perlu nomor ponsel yang lain" jelas Yoongi.
"Oh, sebentar hyung, setelah ini akan ku kirim" ucap Jimin gugup. Jimin melirik Jungkook yang sedang mengarahkan layar ponselnya padanya, disana ada tertera tulisan yang sepertinya Jungkook ingin Jimin tanyakan pada Yoongi. "Eum, H-hyung?" ucap Jimin pelan.
"Ne?"
"Bisa beritahu aku Namjoon hyung tinggal di lantai berapa dan berapa nomor unitnya?" Tanya Jimin ragu.
"Masih bermain detektif-detektifan?" Yoongi terkekeh.
"Hehhe iya hyung"
"Lantai lima, unit 510" ucap Yoongi. "Jiminie, aku tidak bisa lama, tolong setelah ini langsung kirim nomor sajangnim, ya" pinta Yoongi.
"Ne, hyung"
"Ya sudah. Aku tutup"
"Yoongi hyung…" buru-buru Jimin memanggil sebelum Yoongi memutus sambungan telepon.
"Ne?"
"Saranghae.." ucap Jimin malu-malu, sementara Jungkook sudah memutar bola matanya, jengah.
"Nado, Jiminie" balas Yoongi dan membuat Jimin merona.
"Jadi, apa kata Yoongi hyung?" Jungkook berkacak pinggang menatap Jimin yang masih saja sibuk merona.
"Unit 510. Astaga, aku rindu sekali pada calon suamiku, Jungkook" Jimin menutup mukanya dengan telapak tangan.
"Ayo kesana" ucap Jungkook mengabaikan kelakuan Jimin dibelakangnya.
"Tunggu!" Jimin menarik kerah baju bagian belakang Jungkook, membuat Jungkook berhenti mendadak.
"Kenapa?"
"Lebih baik kita tunggu di mobil saja, memangnya kau mau apa? Masuk kedalam apartemen Namjoon hyung? Itu gila namanya" Jimin mengingatkan.
"Ck, benar juga." Jungkook berbalik kearah Jimin. "Kita tunggu di mobil saja kalau begitu"
.
.
.
"Namjoon?" Seokjin tersentak saat Namjoon tiba-tiba memeluknya dari samping.
"Aku tidak ingin melepaskanmu, Jinseok" guman Namjoon setelah membuat Seokjin berdiri dihadapannya dan memeluknya erat.
"Kau ini bicara apa?" Seokjin mengelus kepala Namjoon yang diletakkan dibahunya.
"Cepat atau lambat Yoongi hyung akan tau, dan aku yakin dia tidak akan setuju. Aku juga yakin Jungkook pasti akan memberitahu Yoongi hyung soal kejadian di rumah Jimin kemarin"
Seokjin terdiam.
"Kalau Yoongi hyung memintamu memilih antara aku dan Yoongi hyung, kau pasti akan memilih Yoongi hyung, aku takut kau pergi Jinseok" guman Namjoon pelan.
Lagi-lagi Seokjin terdiam. Tidak tahu harus merespon seperti apa ucapan Namjoon.
"Kalau aku berkeras ingin mempertahankanmu meskipun Yoongi hyung tidak setuju, apa kau akan mempertahankanku juga?" Tanya Namjoon lemah.
"aku… tidak tau, Namjoon. Maaf" Guman Seokjin.
Namjoon menghela napas. Rasanya dia mulai lelah kucing-kucingan dengan Yoongi, tapi mengaku pada Yoongi pun Namjoon merasa belum siap.
"Namjoon…"
"Kita makan diluar saja. Kau pasti capek habis dari rumah sakit dan harus masak untukku" ucap Namjoon mengurai pelukannya.
"Ne" guman Seokjin sebagai jawaban. Tiba-tiba saja seleranya untuk memasak sudah hilang.
"Aku akan ganti baju, tunggu sebentar" ucap Namjoon dan berlalu ke kamar.
Namjoon merangkul pinggang Seokjin selama menuju parkiran, membukakan pintu mobil Seokjin dan masuk ke kursi kemudi.
Tak jauh dari mereka, Jungkook dan Jimin yang sedang sibuk makan jajanan dibuat terperangah. Mereka melihat dengan begitu jelas saat Namjoon merangkul pinggang Seokjin, membukakan Seokjin pintu mobil dan dibalas Seokjin dengan elusan di pipi Namjoon. Jungkook yang agaknya terlihat paling syok. Meskipun sudah menerka-nerka lebih dulu, tapi dia tidak pernah membayangkan Namjoon dan Seokjin semesra itu.
"Ju-Jungkook, kau lihat kan?" Jimin berkedip-kedip, tangannya sibuk mengguncang lengan Jungkook sementara matanya sibuk memperhatikan mobil Seokjin yang sudah berlalu.
"Kau juga lihat kan?" Tanya Jungkook dengan wajah syok nya yang masih terpampang jelas.
Jimin menelan ludahnya susah payah. Dia baru saja mengetahui rahasia besar yang Yoongi tidak tau.
"Bagaimana sekarang?" Tanya Jimin was-was.
"Kita pulang saja, aku merasa jantungku mulai tidak normal" guman Jungkook.
.
.
.
"Appa…." Guman Yoongi tak percaya dengan penglihatannya sendiri. Di ruang tamu rumah mereka, Seokjin terlihat sedang berciuman dengan seseorang dan jam sudah hampir tengah malam begini.
Bukan ini hal yang ingin Yoongi lihat begitu dia sampai di rumah setelah lelah bekerja di luar daerah.
"Y-yoongi?" Seokjin mendorong pemuda itu menjauh.
"Namjoon" Yoongi meninggikan suaranya saat melihat Namjoonlah yang bersama Appa-nya. Yoongi ingin marah tapi sesuatu menahannya, dia tidak tau itu apa, mungkin saja rasa lelah dan tertekan yang sedang dialaminya sekarang.
"Hyung, biar ku jelaskan…" ucap Namjoon dan berjalan terburu kearah Yoongi.
"Pergi" ucap Yoongi dingin dan tenang. Matanya menyorot tajam pada Namjoon yang terlihat panic di depannya.
"Hyung…" Namjoon mencoba untuk tidak panic.
"Keluar, Kim Namjoon" ucap Yoongi dingin.
"Yoongi-ya, ini…"
"Aku yang salah hyung, jangan marah pada dokter Seokjin" Namjoon memotong ucapan Seokjin.
"Kau tidak mengerti ucapanku? Ku bilang, keluar" ucap Yoongi sangat tenang.
"Aku tau kau marah, tapi…"
"Keluar dari rumahku, brengsek!" maki Yoongi geram.
Namjoon terkejut dengan intonasi suara Yoongi, matanya melirik pada Seokjin yang terlihat ketakutan didekat sofa. Ini salahnya, seharusnya dia pulang lebih awal tadi.
"Hyung, aku rasa kita perlu bicara soal ini" pinta Namjoon.
"Namjoon, ku mohon, sudahlah" ucap Seokjin ketakutan. "Pergilah, aku tak apa" ucap Seokjin mencoba meyakinkan.
Yoongi tersenyum miris melihat Seokjin yang berdiri didekat sofa, matanya bergantian menatap kearah Seokjin dan Namjoon.
"Hyung, kita benar-benar perlu bicara" ucap Namjoon mengabaikan ucapan Seokjin.
"Kau tuli? Kau tidak dengar apa yang di ucapakan Appa-ku?" Yoongi menatap nyalang pada Namjoon. Ini pertama kalinya Yoongi menatap Namjoon sebenci ini.
"Namjoon…" Seokjin mengiba.
"Besok kita benar-benar harus bicara, hyung" ucap Namjoon sebelum berlalu keluar rumah Seokjin.
Saat pintu tertutup dari luar, Yoongi berlalu begitu saja melewati Seokjin menuju kamarnya. Buru-buru Seokjin mengikuti Yoongi ke kamar, bahkan tas dan koper Yoongi dibiarkan begitu saja diruang tamu.
"Yoongi-ya…" Seokjin menarik tangan Yoongi pelan. Jujur saja dia takut, sudah sangat lama saat terakhir kali Seokjin mendengar Yoongi menaikan suaranya.
"Aku ingin istirahat, Appa" Yoongi melepaskan tangannya pelan.
"Dengarkan Appa dulu" pinta Seokjin.
Yoongi mendengus. Dia ingin marah, ingin berteriak dan memaki sekuat-kuatnya. Tapi dia sadar dia akan menyesal pada akhirnya. Perlahan Yoongi mencoba menelan amarahnya, mendudukan diri di kursi didepan computer di kamarnya dan menunduk sambil meremas rambutnya.
"Yoongi-ya, maaf" ucap Seokjin pelan.
"Dari semua orang yang ada di dunia ini, kenapa harus Namjoon, Appa?" Tanya Yoongi pelan. Rasa lelahnya seolah menjadi berjuta kali lipat karena hal ini.
"Maaf…" guman Seokjin karena dia tidak tahu harus seperti apa menanggapi Yoongi.
"Dia sahabatku!" geram Yoongi.
"Yoongi, maaf"
"Apa kalian tau konsekuensi apa yang akan kalian terima dengan hubungan kalian ini? Appa! Namjoon bahkan lebih muda dariku! Kenapa Namjoon!" Yoongi berteriak frustasi.
"Maaf…" Seokjin mulai menangis. Dia takut mendengar suara Yoongi yang mulai meninggi. Badannya bahkan bergetar tanpa Seokjin sadari.
"Appa, jangan Namjoon, ku mohon" kemarahan Yoongi menguap begitu melihat Seokjin menangis didepannya. Dia merasa sangat bersalah karena membuat Seokjin takut padanya. Perlahan Yoongi berjalan dan memeluk Seokjin erat.
"Yoongi, maaf…" Seokjin lagi-lagi hanya bisa menggumankan kata maaf dan memeluk Yoongi erat-erat.
"Jangan Namjoon, Appa… jangan Namjoon…" Ucap Yoongi memohon.
.
.
.
Yoongi berakhir di studio. Setelah meminta izin pada Seokjin, dia memilih menginap di studio saja. Dia butuh menenangkan diri. Berada di rumah hanya akan membuatnya makin marah dan bisa saja meledak tanpa sadar dan menyakiti perasaan Appa-nya.
Yoongi menghempaskan tubuhnya diatas sofa, menarik selimut sampai ke dada dan matanya menerawang dilangit-langit studionya. Ini perasaan paling kacau yang pernah Yoongi alami setelah perceraian orangtua nya. Dia tidak tahu harus bagaimana menanggapi masalah kali ini. Dia juga tidak bisa hanya diam seperti apa yang dilakukannya saat Seokjin dan Hyosang bertengkar hebat dulu.
Yoongi melirik ponselnya yang berkedip-kedip diatas meja piano yang tidak jauh dari sofa tempat dia tidur, dengan sedikit malas, Yoongi meraba meja dan mengambil ponselnya, ada nama Jimin tertera disana, Meminta sambungan videocall padanya.
Yoongi hanya memandangi layar ponselnya tanpa berniat mengangkat panggilan Jimin. Dia tidak siap berhadapan dengan Jimin sekarang. Panggilan video berhenti dan diganti dengan panggilan biasa, lagi-lagi Yoongi hanya terdiam memandang ponselnya. Saat panggilan itu terhenti, Yoongi menatap layar ponselnya dan menunjukan jam dua pagi. Yoongi tersetak. Jimin pasti khawatir dan menunggunya.
Merasa bersalah, akhirnya Yoongi menelepon Jimin, tidak menunggu lama sampai panggilan telepon Yoongi diangkat.
"Hyung, sudah sampai?" Tanya Jimin dengan suara khas orang yang sudah mulai mengantuk.
"Sudah, mimpi indah, Jiminie"
"Hyung, terjadi sesuatu?" Jimin yang berada di kamarnya menangkap ada keanehan dari cara Yoongi yang seperti terburu-buru ingin mengakhiri panggilan telepon mereka.
"Tidak ada. Sudah malam, kau harus tidur" ucap Yoongi.
"Hyung dimana?" Jimin sudah kehilangan rasa ngantuknya. Yoongi jelas sedang menutupi sesuatu darinya.
"Di.. rumah" jawab Yoongi agak lama.
"Angkat videocall dariku, hyung" pinta Jimin.
"Sudahlah, ini sudah malam. Kau harus tidur" Yoongi mencoba mengelak.
"Hyung tidak dirumah" tembak Jimin. "Yoongi hyung dimana?"
"Jiminie…"
"Di studio? Aku kesana sekarang" putus Jimin.
Tidak sampai setengah jam Jimin benar-benar muncul di studio Yoongi dengan piyama dan sebuah sweater membalut tubuhnya. Jimin bisa melihat wajah lelah Yoongi yang berusaha Yoongi sembunyikan darinya. Jimin rasa, Yoongi tau sesuatu.
"Hyung…" Jimin menghambur kepelukan Yoongi dan memeluk Yoongi erat-erat. Selain karena dia rindu, Jimin merasa kalau Yoongi benar-benar butuh sandaran sekarang. "Jiminie rindu sekali pada Yoongi hyung" bisik Jimin.
"Sudah izin akan kesini?" Tanya Yoongi. Tangannya berusaha menutup pintu dan mengunci studio miliknya.
"Sudah" Jimin berbohong. mana mungkin Jimin diberi izin keluar rumah di jam segini.
"Hampir seminggu tidak bertemu, kau sepertinya semakin kurus" komentar Yoongi dan mengecup dahi Jimin.
"Berarti dietku berhasil" Jimin terkekeh, mencoba mencairkan suasana.
"Jangan diet, nanti kau sakit" ucap Yoongi.
"Hyung.." Jimin mengelus sisi wajah Yoongi lembut, matanya menatap lurus pada Yoongi yang masih melingkarkan tangannya dipinggang Jimin. "Kau terlihat lelah sekali" komentar Jimin.
"Aku baru saja sampai, tentu saja wajahku lelah" Yoongi tersenyum kecil dan membawa Jimin duduk disofa.
"Kenapa hyung?" Tanya Jimin serius. Matanya masih menatap lurus pada Yoongi yang lagi-lagi berusaha menyembunyikan sesuatu darinya.
"Huh?"
"Terjadi sesuatu?" Tanya Jimin. Tangannya bergerak kearah kepala Yoongi dan merebahkan kepala Yoongi di pahanya. Jimin tau, Yoongi benar-benar banyak pikiran sekarang.
Yoongi terdiam dan hanya menyurukkan wajahnya keperut Jimin.
"Kau bisa katakan apapun padaku, hyung." Jimin menatap sedih dan mengelus rambut Yoongi dengan jarinya.
"Apa kau sudah tau?" guman Yoongi.
Jimin terdiam, membiarkan Yoongi melanjutkan ucapannya.
"Soal Namjoon dan Appa-ku" ucap Yoongi lagi.
"Apa yang terjadi hyung?" Tanya Jimin pelan. Tangannya masih sibuk membelai rambut Yoongi dengan jarinya.
"Kau sudah tau kalau Namjoon dan Appa-ku punya hubungan, kan?" Tanya Yoongi miris.
"Aku baru tau tadi sore, hyung" ucap Jimin jujur.
Yoongi mendegus dan tertawa mengejek, mendudukan diri disamping Jimin yang menatapnya lembut.
"Kau sudah tau, tapi berusaha menutupinya?" Tanya Yoongi tak percaya.
Jimin bergerak mendekat pada Yoongi, memilih untuk berlutut dihadapan Yoongi yang hanya menatap kosong pada lantai. Tangan Jimin diletakkannya diatas paha Yoongi dan menelungkupkan kepalanya diatas paha Yoongi.
"Kenapa?" Tanya Yoongi lemah.
"Kenapa hyung marah?" Tanya Jimin lembut.
"Kenapa aku marah?" Tanya Yoongi tak percaya.
Jimin mendongak, membuka kaki Yoongi hingga dia berada diantara kaki Yoongi, tangannya bergerak memeluk pinggang Yoongi. "Hyung marah karena Namjoon hyung yang menjalin hubungan dengan Kim Appa, atau karena Kim Appa akhirnya punya kekasih?" Tanya Jimin lembut.
Yoongi terdiam.
"Hyung, pangku, ya?" Pinta Jimin.
Yoongi hanya mengangguk dan membiarkan Jimin duduk di pahanya.
"Jadi, hyung marah karena apa? Karena pacar Kim Appa itu Namjoon hyung atau karena Kim Appa punya pacar?" Tanya Jimin lagi, matanya menatap lurus pada Yoongi yang juga sedang menatap lurus padanya.
"Namjoon itu temanku" jawab yoongi.
"Oh, Oke, jadi karena Namjoon hyung yang menjadi pacar Kim Appa." Jimin tersenyum lembut. "Jadi, hyung lebih memilih Kim Appa menjalin hubungan dengan orang lain yang Yoongi hyung tidak kenal secara pribadi, begitu?"
Yoongi terdiam.
"Apa yang salah hyung? Karena Namjoon hyung teman Yoongi hyung dan jarak umur mereka?" Jimin tersenyum lembut dan mengusap rambut Yoongi pelan.
"Apa yang akan orang-orang bilang soal hubungan mereka, Jim? Namjoon bahkan lebih muda dariku"
"Apa sekarang perkataan orang lain lebih penting daripada kebahagiaan Kim Appa, hyung?" Tanya Jimin dan membuat Yoongi membeku.
"Aku yakin Yoongi hyung bisa berpikir lebih dewasa. Yooongi hyung yang aku tau tidak akan mengambil tindakan berdasarkan emosi sesaat. Hyung pasti sedang lelah dan sulit untuk berpikir jernih sekarang. Iya, kan?" Jimin tersenyum kecil.
Jimin mendekatkan bibirnya pada Yoongi. Mencium namja pucat itu dengan lembut dan dibalas lumatan kecil dari Yoongi. Ciuman itu berakhir dengan satu kecupan kecil di bibir Yoongi dari Jimin.
"Ayo tidur" ucap Jimin dan menurunkan diri dari pangkuan Yoongi.
Diatas sofa sempit itu, Yoongi tertidur dengan wajah yang disembunyikannya di dada Jimin, Sementara Jimin memeluk Yoongi dan mengelus kepala namja pucat itu dengan penuh sayang. Pertama kalinya bagi Jimin melihat sisi Yoongi yang seperti ini. Biasanya orang-orang selalu bersandar pada Yoongi, tidak ada salahnya kali ini Jimin yang menjadi sandaran untuk Yoongi-nya. Sebenarnya apa yang Jimin lakukan sekarang masih belum ada apa-apanya jika dibandingkan Yoongi yang harus menghadapi sikap manja Jimin setiap hari.
"Mimpi indah, Yeobo" bisik Jimin pelan saat merasa Yoongi sudah tertidur.
"Aku masih mendengarmu, Jiminie" Yoongi terkekeh dan Jimin merona malu.
"Selamat tidur, Love" bisik Yoongi dan mengeratkan pelukannya ditubuh Jimin, membuat wajahnya makin terbenam di dada Jimin.
.
.
.
TBC
*Lari Ditengah ujan*
Maaf atas lamanya update-an ini ya kakak yorobun.
Akunya sibuk di RL. Masih masa ujian di sekolah.
