"Appa, kenapa Namjoon?" Tanya Yoongi tiba-tiba.
Setelah mengantar Jimin ke rumah, Yoongi langsung menjemput Seokjin ke toko buku dimana ada Papa-nya dan Yoonji juga. Setelah menjemput Seokjin, Yoongi membawa Seokjin ke sebuah café yang berada di daerah Gangnam, café yang Seokjin yakin memiliki harga yang mahal hanya untuk secangkir kopi.
Yoongi memilih duduk di sudut sebelah kaca dan berhadapan langsung dengan Seokjin yang sedang menunduk memandangi coklat hangat yang Yoongi pesankan untuknya.
"Appa sudah berhenti berhubungan dengan Namjoon, Yoongi-ya" cicit Seokjin.
"Bukan itu jawaban dari pertanyaanku, Appa. Aku tidak bertanya apa kalian masih berhubungan sampai sekarang, yang aku Tanya, kenapa Namjoon?" Tanya Yoongi pelan.
"Kenapa kau memilih Jimin?" Seokjin balik bertanya.
"Kenapa Appa balik bertanya?" Yoongi mengernyit bingung.
"Jawab saja, Appa ingin mendengar jawabanmu"
"Aku nyaman dengan Jimin yang berada disekitarku" jawab Yoongi.
"Sama. Appa juga merasakan hal yang sama seperti yang kau rasakan pada Jimin. Appa merasa nyaman bersama Namjoon" Seokjin menatap Yoongi sendu, ada kesedihan yang berusaha Seokjin sembunyikan tapi gagal. Gagal tersembunyi karena air matanya tiba-tiba jatuh.
Yoongi terdiam.
.
.
.
RUN TO YOU
.
.
.
Yoongi ke kampus untuk menemui dosen pembimbingnya, harusnya ada Namjoon juga hari ini, tapi Namjoon tidak terlihat dimana pun. Yoongi mencarinya. Setelah bertanya dengan teman sekelasnya yang juga datang ke kampus hari ini, Yoongi akhirnya mendapatkan jawabnnya, Namjoon sudah lebih dulu menemui dosen mereka.
Yoongi berjalan malas ke kantin sendirian, dia ingin membeli minuman dan duduk sebentar di kantin. Setelah mendapatkan minuman yang dia inginkan, Yoongi mendudukan diri di dekat pintu kantin, tangannya mengeluarkan ponsel untuk menghubungi Namjoon, tapi nomor Namjoon sedang tidak aktif.
Saat sedang sibuk dengan ponselnya, seseorang duduk di depannya. Yoongi menegakkan kepala dan di depannya tengah berdiri seorang Namja dengan senyum gugupnya.
"Apa?" Tanya Yoongi sambil menatap datar kedepan Namja itu.
"Boleh aku duduk?" Daniel berucap gugup.
"Masih banyak yang kosong, kan?" Yoongi menatap kesekitar dan memang masih banyak bangku kosong.
"Huh?" Daniel menaikan alisnya, tak percaya dengan pendengarannya. Apa Yoongi sedang menolaknya?
"Kau mengganggu pandanganku" ucap Yoongi.
Buru-buru Daniel menarik bangku dan mendudukan diri di depan Yoongi. "Apa sudah tidak mengganggu?" Tanya Daniel penasaran.
Yoongi menghela napas. "Ada apa?" Tanya Yoongi akhirnya.
"Kau tidak menghubungiku minggu lalu. Apa kau tetap sibuk setelah pulang dari Jeju?"
"Aku sibuk tiap hari" jawab Yoongi datar.
Daniel terkekeh. "Oke, lalu kenapa kau ada disini kalau kau sibuk?"
"Ini masih kampusku"
"Iya juga…" Daniel menggaruk tengkuknya.
"Kau bilang kau ingin bicara. Bicara soal apa?" tembak Yoongi.
"Aku belum makan siang, keberatan kalau kita makan dulu di luar? Itu.. itu juga kalau kau tidak keberatan"
"Maksudnya aku hanya menemani mu makan?" Yoongi mengernyitkan alisnya.
Daniel tertawa kecil sampai matanya menghilang tinggal segaris. "Aku mengajakmu makan, Min Yoongi"
"Oh, tidak masalah kalau begitu. Kemana?"
Daniel terkejut Yoongi menerima ajakannya, padahal Daniel sudah mempersiapkan hati untuk kembali di tolak bahkan di abaikan lagi. "Café dekat kampus?" Daniel memberi penawaran.
"Ya sudah, ayo." Yoongi berdiri dari kursinya dan berjalan lebih dulu, tanpa menyadari Daniel yang sedang ber yes-yes ria tanpa suara di belakangnya.
"Naik mobilku saja" ucap Yoongi sambil membalikan badannya. Yoongi mengernyit heran saat melihat tangan Daniel yang terkepal di depan dadanya. "Kau… kenapa?" Tanya Yoongi bingung.
"Huh? Oh.. bukan apa-apa…" Daniel buru-buru menurunkan tangannya dan menggaruk telinganya yang tidak gatal.
Mereka sampai di café dekat kampus, duduk berdua saling berhadapan. Daniel sudah bilang dia akan meneraktir Yoongi hari ini dan Yoongi merasa keberatan. Setelah bertengkar kecil soal siapa yang akan membayar, akhirnya Yoongi memutuskan untuk membayar makanan sendiri-sendiri.
"Kau bilang ingin bicara" mulai Yoongi sambil meletakan kunci mobil dan ponselnya di atas meja.
"Selamat sudah bertunangan dengan Jimin" ucap Daniel.
"Ne. hanya itu?"
"Bisa kita makan dulu?"
"Makanannya belum datang. Kalau kau masih ingin menahan, biar aku yang lebih dulu bicara denganmu" Yoongi menatap lurus pada Daniel yang tengah menatap bingung padanya.
"Ada apa?" Tanya Daniel. Matanya bergerak bingung menatap wajah datar dan serius Yoongi.
"Aku tau kau sering menghubungi Jimin. Bisa dibilang setiap hari." Mulai Yoongi. "Entah apapun tujuanmu, tapi tolong hargai aku. Aku tunangannya, aku tidak melarangmu berteman dengan Jimin, tapi…"
"Sepertinya kau salah paham" potong Daniel.
"Aku belum selesai" potong Yoongi lagi.
Daniel menatap bingung pada Yoongi dan menunggu Yoongi menyelesaikan ucapannya.
"Aku tau kau mungkin tertarik pada Jimin, jika tidak, tidak mungkin hampir setiap hari kau mengirimi Jimin pesan. Jujur saja aku tidak membaca apapun isi pesanmu pada Jimin, tapi aku melihat notif pesan darimu setiap hari di ponselnya. Itu menggangguku" Yoongi berucap jujur.
"Yoongi, tapi kami hanya berteman… maksudku…"
"Aku juga punya teman, Niel. Dan aku tidak setiap hari menghubungi temanku itu"
Daniel terdiam. Bukan karena ucapan yoongi, tapi karena Yoongi menyebut namanya. Dadanya berdebar halus.
"Maaf kalau itu mengganggumu, mungkin kau curiga, tapi aku hanya bertanya soal Seungwoon pada Jimin. Mereka satu sekolah tari dan Jimin berteman dekat juga dengan Seungwoon, hanya itu. Aku tidak ada niatan sedikitpun untuk mendekati Jimin lebih dari teman" Daniel berucap jujur.
"Setiap hari kau bertanya soal Seungwoon pada Jimin?"
"Dari dulu memang aku sering membagi cerita pada Jimin, bahkan sebelum aku tau kalian berpacaran. Aku dan Jimin berada di circle pertemanan yang sama" Aku Daniel.
Yoongi mengangguk mengerti. Tidak heran Jimin bisa berteman dengan Daniel, mereka sama-sama terkenal. Yoongi rasa remaja Korea kebanyakan mengenal mereka. Jika di golongkan, Daniel dan Jimin sama-sama orang terkenal di social media, gampangnya, mereka adalah selebgram. Tidak heran mereka memiliki lingkaran pertemanan yang sama.
"Maaf menuduhmu, hanya itu yang ingin aku bilang. Sekarang, giliranmu" ucap Yoongi. Tipikal Yoongi, minta maaf hanya untuk basa-basi. Tidak ada tampang penyesalan sama sekali di wajahnya karena sudah menuduh Daniel yang bukan-bukan.
"Sebenarnya ada yang hadiah yang ingin kuberikan untukmu, tapi hadiahnya tertinggal di mobilku" mulai Daniel.
Yoongi mengernyit bingung. "Hadiah?"
"Ne" Daniel mengangguk dan tersenyum menatap Yoongi.
"Aku rasa kita tidak seakrab itu sampai kau harus memberikan aku hadiah pertunangan" Yoongi menaikan alisnya. "Namjoon saja yang sudah jadi sahabatku sejak kuliah tidak memberikanku apa-apa. Oh, atau itu hadiah untuk Jimin?"
"Bukan untuk Jimin, tapi untukmu. Aku tidak menyiapkan hadiah untuk pertunanganmu ngomong-ngomong" Daniel terkekeh.
Pembicaraan mereka terhenti saat seorang pelayan meletakan makanan pesana mereka, setelah keduanya mengucapkan terimakasih, pelayan itu pergi.
"Maksudnya?" Yoongi mengernyit tak paham. Jika bukan untuk kado pertunangan, kado untuk apa? Yoongi tidak sedang berulang tahun.
"Apa kau benar-benar tidak pernah mendengar apapun soal aku di kampus?" Tanya Daniel serius.
"Aku tidak suka bergosip" Yoongi mengernyit, bingung kemana arah pembicaraan Daniel.
"Aku tau. Tapi, apa tidak pernah sekalipun kau mendengar gossip soal kita?"
Yoongi makin mengernyit. Oke, dia memang sudah pernah dengar kalau Daniel suka padanya dari Namjoon dan terakhir dari Jimin. Tapi, apa Yoongi harus percaya soal itu? Yoongi mana mungkin bisa percaya orang seperti Daniel menaruh hati padanya. Ayolah, mereka sangat berbeda. Daniel itu anak orang kaya, terkenal, banyak orang yang siap antri untuk jadi pacarnya.
"Soal apa memangnya?" Tanya Yoongi akhirnya. Tidak mungkin kan Yoongi bilang langsung. Kalau ternyata itu tidak benar, mau ditaruh dimana wajah yoongi. berbicara dengan Daniel saja baru hari ini.
"Apa kau tidak pernah mendengar anak-anak basket yang meneriakkan namaku saat kau lewat dari lapangan basket, dulu?"
Yoongi menatap bingung. "Bisa langsung saja?"
"Aku menyukaimu Yoongi." Aku Daniel. Daniel bisa merasakan dadanya berdebar keras dan ada perasaan lega yang di rasakannya sekarang.
"Bercanda" Yoongi tertawa dan menggeleng.
"Sudah sejak masuk kuliah aku menyukaimu, tapi kau seperti gunung es. Kau bahkan tidak menyadarri keberadaanku sejak dulu. Sudah lama aku memperhatikanmu. Aku bahkan sering nongkrong di kantin fakultas seni hanya untuk bisa melihatmu, meskipun dari jauh." Daniel mengeluarkan seluruh isi hatinya sekarang.
"Huh? Aku tersanjung, terimakasih" ucap Yoongi karena tidak tahu harus membalas seperti apa kata-kata Daniel barusan.
Daniel menunduk dan terkekeh kosong, reaksi Yoongi sudah bisa di tebaknya sejak dia memutuskan akan berucap jujur pada Yoongi. "Aku tau kau pasti menolakku, bahkan aku sudah mempersiapakan diri untuk ditolak mentah-mentah seperti ini, tapi tetap saja rasanya sakit" Daniel terkekeh lagi dan mengangkat kepalanya, tersenyum kecil menatap Yoongi yang sedang kebingungan menatapnya.
Daniel tersenyum lebar saat melihat tidak ada perubahan dari wajah Yoongi, padahal Daniel berharap bisa melihat Yoongi sedikit merona karena pengakuannya, tapi sepertinya khayalan Daniel terlalu tinggi. Wajah datar pucat Yoongi, masih tetap terpasang di sana.
"Jangan merasa terganggu karena pengakuanku, Yoongi. Aku hanya ingin jujur saja. Aku sudah menyimpan perasaanku selama tiga tahun lebih, dan bodohnya aku baru berani mengatakannya sekarang, saat aku benar-benar sudah tidak punya kesempatan. Bodoh sekali" Daniel tertawa kecil.
"Ya, kau bodoh" Yoongi membenarkan dan membuat Daniel tertawa.
"Bagaimana kalau aku mengatakannya saat pertama kali kita saling kenal?" Daniel berandai-andai.
"Kau akan ku tolak. Aku punya pacar waktu awal kuliah" Yoongi mulai menyuapkan makanan miliknya ke mulutnya.
"Aku sudah berusaha mendekatimu saat kau putus dengan pacarmu dulu, tapi kau mengabaikan pesanku" Daniel kembali mengaku.
"Aku tidak pernah tau kau pernah menghubungiku dulu" ucap Yoongi cuek.
"Aku melakukannya. Setelah seminggu kau putus dengan pacarmu, aku mengirimmu pesan, tapi kau abaikan"
"Aku tidak ingat" Yoongi menyuapkan lagi makanan kedalam mulutnya.
"Tidak heran. Memangnya apa yang kau ingat tentang ku?" cibir Daniel.
"Tidak ada hal khusus yang bisa ku ingat tentangmu"
"Kenapa kau bisa sesantai ini menanggapiku, Min Yoongi?" Daniel menegakkan tubuhnya. Selama hidupnya, Cuma Yoongi yang terlihat biasa saja saat Daniel mengatakan perasaan. Biasanya orang yang Daniel incar akan terlihat gugup dan terkesan malu-malu di depannya, dan apa yang Yoongi tunjukan pada Daniel hari ini benar-benar membuat Daniel yakin kalau Yoongi itu benar-benar gunung es berjalan.
"Pertama, aku tidak percaya kalau kau suka padaku. Itu tidak masuk akal. Lebih masuk akal kalau kau suka pada Jimin dan itu lebih bisa aku percaya. Kedua, Kau bilang kau suka padaku sejak tiga tahun yang lalu, itu artinya sejak kita baru masuk kuliah, bagaimana bisa kau percaya kalau kau saja tidak pernah mengajakku bicara. Ketiga, aku bukan mahasiswa menonjol kalian, berasal dari keluarga kaya raya, terkenal dan jadi pujaan di kampus. Bisa kau bayangkan, bagaimana aku bisa percaya kalau ada orang terkenal yang suka padaku yang hanya mahasiswa biasa? Itu konyol" jelas Yoongi panjang lebar.
"Tapi aku menyukaimu" ucap Daniel lagi.
"Ya, terimakasih kalau begitu"
Daniel terkekeh pelan. Dia di tolak.
"Kado ulang tahunmu" Daniel menyerahkan tiga buah kotak berbungkus kertas kado polos pada Yoongi.
Setelah selesai makan, Yoongi mengantarkan Daniel ke fakultas Daniel karena mobil Daniel di parkir disana. Daniel meminta untuk turun sebentar karena Daniel ingin menyerahkan kado yang sudah sangat lama Daniel simpan untuk Yoongi.
"Aku tidak ulang tahun" Yoongi menatap bingung kearah Daniel yang berdiri disamping mobilnya.
"Aku tau, Yoongi. Ini kado ulang tahunmu selama tiga tahun terakhir. Ini kado ulang tahunmu tahun lalu" Daniel menarik tangan Yoongi dan meletakkan satu kotak berwarna hitam kilat ditangan Yoongi. "Ini kado ulang tahunmu dua tahun lalu" Daniel meletakkan satu kotak berukuran besar berwana krim diatas kedua tangan Yoongi. "Yang ini kado ulang tahunmu tiga tahun lalu" Daniel meletakkan kotak terakhir diatas tumpukan kotak ditangan Yoongi.
"Kau…"
"Selamat ulang tahun, Min Yoongi" Daniel tersenyum sendu menatap Yoongi.
"Aku tidak bisa menerima ini" Yoongi kesulitan untuk mengembalikan kotak kado itu pada Daniel.
"Cukup tolak perasaanku saja, jangan tolak kadoku juga" Daniel menatap Yoongi seolah memohon.
Yoongi terdiam.
.
.
.
Namjoon berguling diatas tempat tidurnya. Sudah seminggu rasanya dia seperti mayat hidup. Semangatnya terasa hilang bersamaan dengan Seokjin yang juga ikut hilang dari sisinya.
Sudah seminggu lebih Seokjin tidak ada kabar, melihat ponselnya saja Namjoon sudah enggan. Namjoon bahkan sering meninggalkan ponselnya dalam keadaan batrei yang kosong. Toh Namjoon hanya akan merasa makin sedih saat tidak mendapati notifikasi yang berasal dari Seokjin.
Saat Namjoon sibuk menatapi langit-langit kamarnya, seseorang menekan bell apartemennya. Namjoon mendecih. Dia sedang tidak ingin bertemu orang, dia tidak ingin ada orang lain yang sedang melihatnya dalam keadaan kacau seperti sekarang ini.
Saat bell apartemennya tidak juga berhenti di tekan, Namjoon dengan enggan berjalan keluar kamar, Memandang sebentar kearah ruang tamunya yang hancur berantakan karena ulah Namjoon yang melampiaskan emosinya disana. Ada pecahan kaca tercecer disana karena Namjoon melemparkan vas bunga miliknya ke dinding sebagai pelampiasan marahnya. Melihat keadaan apartemennya yang hancur berantakan membuat Namjoon enggan membukakan pintu untuk tamu yang berada diluar sana. Dan berjalan kembali ke kamar.
Langkah Namjoon terhenti saat mendengar suara dari intercom miliknya. Dia kenal suara itu. Itu milik Seokjin.
"Namjoon, kau didalam?"
Namjoon membeku di tempat.
"Namjoon-ah…" panggilan Seokjin terdengar lemah.
Saat suara itu hilang, Namjoon berlari kearah pintu, membuka kasar pintu apartemennya dan matanya mengabur saat melihat punggung Seokjin yang sudah berjalan beberapa langkah dari pintu apartemennya.
"Jinseok…"
Seokjin berbalik, matanya terlihat redup dan semakin redup saat melihat tampilan Namjoon yang berantakan.
Seokjin terkesiap saat Namjoon memeluknya erat, di detik berikutnya, Seokjin menangis. Menenggelamkan wajahnya di bahu Namjoon dan terisak disana.
"Aku pikir aku tidak akan bisa melihatmu lagi…" bisik Namjoon dan makin merapatkan tubuh Seokjin dalam pelukannya.
"Namjoon, kita harus bicara" ucap Seokjin dan menguraikan pelukannya.
Namjoon mengangguk dan membawa Seokjin masuk kedalam apartemennya.
Seokjin menatap takjup pada ruang tamu Namjoon yang terlihat sangat mengerikan, seperti ada perang besar yang terjadi disana. Meja terbalik, serpihan kaca yang pecah, sofa yang tidak lagi tersusun rapi, cermin yang retak seperti seseorang sudah melayangkan kepalan tangannya disana dan masih banyak lagi kekacauan yang tidak bisa Seokjin jabarkan.
"Ini… kenapa?" Tanya Seokjin sambil menatap Namjoon bingung. Air mata Seokjin seketika mengering begitu melihat keadaan apartemen Namjoon.
"Akan ku perbaiki nanti" guman Namjoon. Matanya menatap rindu pada Seokjin yang berdiri di depannya. Rasanya seperti mimpi.
"Kau terlihat kacau" guman Seokjin saat melihat penampilan Namjoon.
"Aku merindukanmu" guman Namjoon. Tidak tahan dengan jarak yang ada, Namjoon menarik tubuh Seokjin dan memeluknya erat. Namjoon takut, kalau dia melepaskan Seokjin, Seokjin akan hilang dari sisinya.
"Namjoon.. kita…"
"Jangan minta berpisah dariku, Seokjin… jangan…" Namjoon menggeleng dan memohon dalam pelukan Seokjin.
"Kita tidak bisa melanjutkan ini, Namjoon-ah. Aku kesini untuk memperjelas semuanya" Seokjin berbicara dengan suara yang bergetar hebat.
"Tidak Jinseok, jangan… ku mohon…" pinta Namjoon.
"Berbahagialah dengan orang lain, Namjoon-ah" isak Seokjin.
"Jinseok, jangan…" Namjoon memohon.
"Jangan hancurkan dirimu seperti ini. Hiduplah dengan baik dan lupakan soal kita" pinta Seokjin. Tangisnya terdengar pilu ditelinga keduanya. Seokjin bahkan sudah meluruhkan tangannya disamping tubuhnya, tidak membalas pelukan Namjoon lagi.
"Jinseok, kumohon…" Namjoon mengeratkan pelukannya. Bisa Seokjin rasakan kemeja dibahunya menjadi basah. Namjoon menangis. Sama sepertinya.
"Hubungan kita ini keliru, Namjoon-ah. Tidak seharusnya kita memiliki hubungan. Mari sama-sama saling melepaskan…" Seokjin mendorong tubuh Namjoon pelan. Menjauhkan jarak tubuhnya dari Namjoon.
"Apa kau berpikir tentang hal yang sama seperti yang dipikirkan orang lain tentang kita?" Namjoon menatap kosong pada mata Seokjin.
"Mereka benar, Namjoon-ah…" guman Seokjin tersenyum lemah.
"Kau juga memandang hubungan kita seperti itu? Kau menganggap ini tidak benar karena usia dan status kita?"
"Namjoon dengarkan aku…"
"KAU YANG SEHARUSNYA MENDENGARKANKU!" bentak Namjoon. "AKU TIDAK PEDULI SEPERTI APA ORANG MEMANDANG KITA. AKU TIDAK PEDULI MEREKA MERASA HUBUNGAN KITA TIDAK BENAR! AKU TIDAK PEDULI DENGAN MEREKA!"
"Namjoon…"
"MEREKA TIDAK PUNYA HAK, SEOKJIN!" bentak Namjoon lagi. "Aku tidak peduli apa kata orang, asal kau mencintaiku, itu sudah cukup… Seokjin, kumohon"
"Tapi aku peduli" guman Seokjin pelan, matanya menatap lurus pada Namjoon yang menatapnya dengan pandangan terluka.
"Kau malu dengan hubungan kita?" Namjoon melemah, tangannya terjatuh kesamping tubuhnya, matanya menatap tak percaya pada Seokjin yang hanya menunduk dalam.
"Benar, kau malu…" Namjoon mendengus dan tertawa sinis karena Seokjin terdiam. "Keluar dari rumahku" ucap Namjoon dingin.
"Namjoon…" Seokjin terkejut mendengar nada dingin Namjoon, tangannya berusaha menggapai bahu Namjoon dan dengan kasar, Namjoon menepis tangan Seokjin.
"Keluar, Kim Seokjin" ucap Namjoon makin dingin.
"Namjoon, aku tidak ingin berakhir seperti ini"
"Keluar! KAU TIDAK DENGAR APA YANG KU KATAKAN? KELUAR DARI SINI!" Namjoon meledak, menarik paksa lengan Seokjin dan menyeret Seokjin yang meronta keluar dari apartemennya, saat pintu terbuka, Namjoon mendorong tubuh Seokjin begitu saja dan menutup pintu dengan keras.
Kali ini, gelas hias yang berada di meja dapur menjadi sasaran kemarahan Namjoon. Semuanya, hancur tanpa sisa.
.
.
.
"Ini apa hyung?" Jimin mengernyit melihat kotak-kotak kado yang Yoongi letakkan diatas sofa ruang studionya.
"Kado"
"Dari siapa?" Jimin berjalan kearah Yoongi yang masih sibuk dengan layar computer di depannya.
"Daniel" jawab Yoongi jujur.
"Kado untuk apa?" Jimin mendudukan diri diatas pangkuan Yoongi saat merasa Yoongi tidak juga ingin berbalik kearahnya.
"Love, aku kesulitan bekerja kalau aku memangkumu seperti ini…" guman Yoongi.
"Kenapa dia memberikan hyung kado?" Jimin menatap lurus pada Yoongi yang sedang mendongak untuk menatap Jimin.
"Untuk ulang tahunku, katanya"
"Hyung tidak ulang tahun, kan?" Jimin mengeryit.
"Memang. Dia hanya memberikannya Cuma-Cuma."
"Hyung" Jimin turun dari pangkuan Yoongi dan berdiri tepat didepan Yoongi. Matanya memicing tajam dengan tangan yang menangkup wajah yoongi. "Dia mengakui sesuatu?" Tanya Jimin panic.
"Ya. dia bilang dia suka padaku"
"Lalu?"
"Ku bilang saja terimakasih" jawab Yoongi jujur.
"lalu?" Tanya Jimin penasaran.
"Tidak ada kelanjutannya, sayang. Dia hanya menyatakan perasaan sukanya, dan aku hanya mendengarkan, lalu aku bilang terimakasih. selesai. Habis. Tamat. The end!" Yoongi menarik Jimin mendekat dan mengalungkan tangannya di pinggang Jimin.
"Hyung… tidak berniat se…"
"Aku mencintaimu, kau tau itu"
Jimin terlihat ragu, tangannya yang berada di bahu Yoongi hanya bertengger diam tanpa bergerak.
"Aku sudah janji, kan, tidak akan melirik orang lain walaupun ada orang lain yang lebih menarik dari Jiminie" Yoongi menyakinkan.
"Hyung, mau pulang…" ucap Jimin pelan dan melepaskan pelukan Yoongi di pinggangnya. Perasaannya tidak tenang. Ada rasa tidak suka yang Jimin rasakan saat tau Daniel begitu berani menyatakan rasa sukanya pada yoongi.
"Masih jam tujuh, kan?" Yoongi berdiri dan menggenggam tangan Jimin. "Apapun yang Daniel katakan padaku, itu tidak ada pengaruh apa-apa untukku." Yoongi menggusak rambut Jimin.
Jimin memeluk pinggang Yoongi dan menyembunyikan wajahnya dibahu namja pucat itu. "Hyung, aku punya hak untuk melarang Yoongi hyung agar tidak dekat-dekat dengan Daniel sunbae, kan?" guman Jimin pelan. Katakan dia egois, tapi dia takut terjadi sesuatu pada hubungannya dan Yoongi.
Yoongi terkekeh. "Mulai posesif, eoh?"
"Jiminie kan tunangan Yoongi hyung. Jiminie tidak suka Yoongi hyung jadi dekat dengan Daniel sunbae"
"Cemburu?" Yoongi mengecup puncak kepala Jimin dan tertawa kecil.
"Sangat" Jimin terdengar merajuk.
Yoongi tertawa.
"Hyung, Jiminie lapar" Jimin mengurai sedikit pelukannya dan menatap dengan mata anak kucing pada yoongi.
"Aku juga lapar" bisik Yoongi, matanya menatap penuh minat pada bibir Jimin.
"Hyung! Jangan mulai nakal.." Jimin merona dan mencubit perut Yoongi. "Jiminie…."
Belum sempat seluruh protes Jimin dikeluarkan, Yoongi sudah menutup bibir Jimin dengan bibirnya, membawa Jimin kedalam ciuman panjang dan dalam. Yoongi Perlahan membawa Jimin menuju sofa dan membaringkan Jimin disana tanpa melepaskan tautan bibir mereka. Lagi-lagi Jimin berada didalam kukungan tangan Yoongi yang sudah berada tepat diatas tubuh Jimin.
Yoongi memiringkan kepalanya, ciumannya berpindah dari bibir Jimin menuju rahang dan semakin turun ke leher Jimin. Tangan Yoongi sudah dengan liar menarik kaos yang Jimin gunakan hingga naik sebatas dada, memunculkan perut rata Jimin.
Saat ciuman Yoongi berpindah dan lidah Yoongi sibuk bermain diperut Jimin, Jimin mati-matian menahan desahan yang siap meluncur kapan saja dari bibirnya. Tangannya dengan putus asa meremas ujung sofa sebagai pelampiasan.
Jimin memekik saat Yoongi mengigit kecil dan menghisap kulit perutnya. Wajahnya sudah merona merah dan matanya terlihat sayu. Dia sudah pasrah dan mengingankan yoongi untuk menyentuhnya lebih lagi, tapi Yoongi tiba-tiba berhenti, menarik turun baju Jimin dan mensejajarkan wajah keduanya.
"Ayo makan…" bisik Yoongi.
Jimin perlahan menatap bingung pada Yoongi dengan mata sayunya. "Hyung…" Jimin menaikan tangannya hingga kebahu Yoongi.
"Ne? kau lapar, kan? Ayo makan…" ajak Yoongi. Tangannya mengelus rambut Jimin dengan penuh sayang dan tertawa kecil.
"Hyung, balas dendam?" Jimin merajuk. Mendorong bahu Yoongi dan berdiri.
Yoongi tertawa, menarik Jimin hingga Jimin kembali jatuh ke pangkuan Yoongi.
"Lepas!" Jimin berucap kesal.
"Tidak mau" Yoongi mengeratkan pelukannya di perut Jimin dan menenggelamkan wajahnya di bahu Jimin.
"Lepas, Yoongi hyung. Jiminie lapar!" kesal Jimin.
"Kesal kan? Semalam aku juga begitu…" Yoongi terkekeh.
"Jadi hyung benar-benar balas dendam?" Jimin memukul tangan Yoongi yang melingkar di perutnya.
"Tidak, ini namanya pelajaran" guman Yoongi.
Jimin memutar bola matanya. "Hyung, Jiminie mau makan" ucap Jimin terdengar kesal. Dengan sedikit usaha akhirnya Jimin bisa melepas pelukan Yoongi di perutnya. Jimin berdiri dan menatap kesal pada Yoongi.
"Bagaimana kalau setelah makan?" Yoongi memeluk Jimin dari belakang, tidak membiarkan si rambut pink berlalu begitu saja.
Jimin berubah gugup, nafas Yoongi yang berada di lehernya seperti sedang menggodanya untuk mendorong Yoongi ke sofa.
"Terserahlah" Jimin berdecak kesal, mendorong Yoongi ke sofa dan mendudukan diri di pangkuan Yoongi.
Jimin mengalungkan tangannya di leher yoongi, perlahan menggoda Yoongi dengan mengecup bibir Yoongi berkali-kali. Saat Yoongi akan memajukan wajahnya, Jimin akan menarik diri, membuat Yoongi mendesah frustasi.
"Love…" bisik Yoongi memohon.
Jimin terkekeh, Mendorong tubuh Yoongi hingga Yoongi bersandar di sandaran kursi. Keduanya saling bertatapan intens tanpa ada yang memulai pergerakan apapun. Jimin meletakkan tangannya di dada Yoongi dan dengan sengaja menggerakkan pinggulnya untuk menggoda Yoongi.
Yoongi sudah akan duduk tegak, tapi lagi-lagi Jimin menahannya untuk tetap bersandar di sofa. Jimin mendekat, merapatkan tubuhnya pada Yoongi. Jimin mendongak saat yoongi berhasil mengecup lehernya, tapi Jimin lagi-lagi menahan gerakan Yoongi dan membuat Yoongi mengerang frustasi.
"Hyung mau melanjutkannya disini atau di kamar Jiminie saja? Chanyeol hyung sedang pergi keluar kota…" ucap Jimin mendayu.
"Jim…"
"Oh, astaga…" Jimin menegakkan tubuhnya, bertingkah dramatis dengan nada terkejut dibuat-buat. "Yoongi hyung kan belum berbaikan dengan Namjoon hyung, ya…" Jimin mengedip-ngedipkan matanya berkali-kali.
"Persetan dengan Namjoon, Love. Aku ingin sekarang" Yoongi sudah sampai pada batas kesabarannya, menarik tubuh Jimin dan menidurkan Jimin kembali ke sofa.
"Y-yoongi hyung…" Jimin menahan bahu Yoongi yang sudah akan menunduk mendekat padanya.
"Apalagi? Astaga…" Yoongi mengerang frustasi dan meletakkan dahinya di bahu Jimin.
Jimin terkekeh, tangannya bergerak untuk mengelus tengkuk Yoongi dengan lembut. "Kita tidak punya pengaman, Yoongi hyung…" bisik Jimin dan mengecup telinga Yoongi.
Yoongi mendesah putus asa. "Kau benar" ucap yoongi dan menarik diri dari tubuh Jimin.
"Tapi di kamar Jiminie masih ada…" Jimin berucap malu-malu, matanya menatap sayu pada Yoongi yang sedang menatapi bibir Jimin penuh minat.
"Aku bisa gila kalau begini terus" Yoongi menjatuhkan seluruh beban tubuhnya pada Jimin dan mengubur wajahnya di leher Jimin.
Jimin tertawa kecil dan mengelus tengkuk leher Yoongi. "Bagaimana kabar Kim Appa dan Namjoon hyung hari ini? Hyung masih marah pada Namjoon hyung?" Tanya Jimin masih dengan mengelus tengkuk Yoongi.
"Tidak ada yang berubah. Sulit untukku bisa menerima mereka, Jiminie. Bagaimanapun Appa sudah menjelaskannya, tetap saja aku tidak bisa menerima" guman Yoongi.
"Hyung, bukannya itu terlalu kejam? Kenapa tidak memandang sederhana hubungan Namjoon hyung dan Kim Appa? Mereka saling mencintai, tapi tidak bisa bersama, itu pasti sangat sulit untuk mereka tangani, mereka pasti tersiksa" ucap Jimin. "Aku juga akan begitu kalau saja ada orang yang memaksa kita berpisah. Lain halnya kalau Yoongi hyung sudah tidak sayang padaku lagi, mungkin aku bisa menerima…"
"Apa kata orang-orang nantinya, Jim? Umur mereka, status mereka…"
"Setidaknya biarkan hubungan mereka berjalan hyung. Jangan paksa mereka untuk berpisah. Itu egois."
"Aku menentang karena aku memikirkan Appa dan juga Namjoon, Jiminie. Aku tidak ingin mereka di cela nantinya…"
"Biarkan mereka menghadapinya sendiri, hyung. Mereka sudah dewasa. Entah nanti akhirnya mereka akan bersama atau tidak, itu keputusan mereka" guman Jimin.
Yoongi bangkit dan Jimin ikut duduk di sofa, salah satu tangannya berada di tengkuk yoongi dan satu lagi berada dipaha Yoongi. Jimin tersenyum kecil, Yoongi terlihat mulai goyah.
"Aku mencoba melindungi Appa, Jim. Tidak bisakah aku melihat itu?" Yoongi menatap lurus pada Jimin.
"Tapi cara yang hyung pakai untuk melindungi Kim Appa, membuat Kim Appa tersiksa" Jimin menarik wajah yoongi untuk mendekat dan mencium bibir Yoongi perlahan. "Biarkan Namjoon hyung yang melindungi Kim Appa, hyung."
.
.
.
Jungkook membolakan matanya saat dia membuka akun instagram milik Daniel dengan akun palsu miliknya. Daniel mengupload foto hitam putih dengan latar sebuah café dan seseorang yang berdiri menghadap kasir membelakangi kamera. Yoongi kenal orang yang berada di foto itu meskipun hanya dari punggungnya saja.
Jungkook meng-capture foto itu sebagai bukti untuk di tunjukan pada Jimin. Saat Jungkook memperhatikan lagi foto itu, matanya makin membola.
' I Love dreaming, because in my dreams, you're actually mine'. Isi Caption yang ditulis oleh Daniel, sama persis dengan apa yang ada di dalam foto, di sebuah pajangan diatas etalase kaca kue di dekat kasir. Tepat disamping orang itu berdiri. Tidak perlu berpikir jauh, Jungkook kenal orang itu. Itu, sepupunya, Min Yoongi.
Tidak puas hanya sampai disitu, Jungkook bahkan memeriksa kolom komentar milik Daniel. Ada ratusan komen yang masuk kesana, tidak heran, Daniel punya ratusan ribu followers. Tangan Jungkook terus bergerak untuk membaca komen-komen yang ada disana sampai dia menemukan Daniel membalas salah satu komen dan seseroang bernama Seungwoon.
Seungwoon: Kau sedang pamer atau bagaimana?
Daniel: Apa maksudnya?
Seungwoon: jangan pura-pura tidak paham, aku tau siapa orang itu dan captionmu ini kau tujukan untuk siapa.
Daniel: aku hanya menulis ulang apa yang ditulis di pajangan diatas etalase kaca.
Seungwoon: Ya, ya.. kita anggap saja kau memang hanya menyalin dari pajangan itu tanpa maksud apa-apa.
Dan Jungkook kembali meng-capture balasan Daniel itu. Dia perlu membahas ini bersama Jimin. Secepatnya!.
TBC
