'Jimin kau dimana?'.

Jungkook meletakkan ponselnya di atas meja belajarnya. Sejak semalam postingan Daniel di instagram membuat Jungkoook merasa terganggu. Tidak peduli walaupun Jimin sudah bertunangan, Jungkook masih agak takut kalau Jimin mulai mengganggu Taehyung-nya lagi. Iya, dia posesif.

Selama menunggu Jimin membalas pesannya, Jungkook masih sibuk memantau komen yang masuk di foto Yoongi yang ada di akun Daniel. Kegiatan memata-matai Jungkook terganggu saat Jimin membalas pesannya.

Jungkook memutar bola matanya jengah saat melihat balasan pesan Jimin hanyalah foto Yoongi tanpa ada kata apapun disana. Dengan menahan kekesalannya, Jungkook mulai membalas pesan Jimin lagi.

Jungkook: Kau kencan?

Jimin: Tidak. Aku sedang menemani suami-ku bekerja. Ada apa? Kau mengganggu.

Jungkook: Well, ini akan lebih mengganggu untukmu.

Jungkook mengirimkan hasil capture-an dari akun milik Daniel pada Jimin. Seetelah melihat Jimin sudah melihat foto itu, Jungkook tersenyum remeh.

Jimin: KALAU KAU BERBOHONG SOAL FOTO INI, AKU AKAN MEMBUNUHMU, JEON JUNGKOOK!

Jungkook terkekeh. Mungkin membuat Jimin naik darah, naik gula, naik asam urat adalah suatu hiburan tersendiri untuk Jungkook.

Jungkook: cek saja akun milik Daniel sunbae-mu itu.

.

.

.

RUN TO YOU

.

.

.

"Jim, kau mau minum apa? Aku akan ke bawah membeli minum" Yoongi berdiri di depan Jimin yang sedang duduk di sofa tepat disamping Chanyeol, sedang memantau seorang solois yang sedang rekaman di studio.

"Tidak haus" ketus Jimin.

Chanyeol yang sejak tadi hanya duduk dengan ponsel ditangannya menatap bingung pada Yoongi dan Jimin.

"Kau kenapa?" Yoongi berjongkok di depan Jimin yang terlihat sedang kesal padanya, terbukti dari sikap Jimin yang menolak menatap Yoongi.

"Kau buat dosa lagi, Min Yoongi?" Chanyeol terkekeh.

"Hey, kenapa?" Yoongi mengabaikan Chanyeol yang sedang menahan tawa disamping Jimin. Yoongi menarik tangan Jimin dan menggenggamnya diatas paha Jimin.

"Memangnya aku kenapa?" Jimin balik bertanya dan menatap kesal pada Yoongi.

"Sudah, belikan saja dia susu. Pergi sana" usir Chanyeol.

"Ne" jawab Yoongi dan berdiri. "Ingin minum apa, Sajangnim?" Yoongi menawarkan.

"Tidak usah menyogokku dengan minuman, aku tidak akan menyuruh kalian bercerai, tenang saja" Chanyeol tersenyum menyebalkan.

Yoongi memutar bola matanya. "Susu Coklat?" Yoongi menggusak kepala Jimin dan saat Jimin tetap mengabaikannya, Yoongi menaikkan alisnya dan mengecup kepala Jimin.

"Ya! hargai kami yang single disini!" Chanyeol menatap kesal pada Yoongi.

"Ya! Min Yoongi, dimana rasa toleransi persahabatanmu? Kenapa kau tidak menghargai kami yang tidak memiliki pasangan?" Seunghoon menatap sedih pada Yoongi yang sudah berjalan keluar studio rekaman.

.

.

.

"Min PD-nim..." panggil Jihoon takut-takut.

"Oh, Bihoon. Ada apa?" Yoongi menatap datar pada Jihoon yang sedang berdiri dengan jarak aman dari Yoongi.

"Jihoon, PD-nim." Koreksi Jihoon.

"Oh, iya. Ada apa?" Tanya Yoongi sambil menenteng plastic berisi minuman di tangannya. Dia baru saja akan naik menuju lift saat Jihoon muncul di depannya.

"Gomawo" Jihoon menyerahkan sebuah plastic bening berisi minuman energy pada Yoongi.

"Ini untuk apa?" Tanya Yoongi bingung.

"Itu untuk PD-nim dan tunangan PD-nim, Jimin-ssi." Jihoon terkekeh dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Salah tingkah. "Terimakasih karena sudah membuat hubunganku dan Namjoon hyung membaik" ucap Jihoon lagi.

Yoongi mengernyit. Kapan dia bertemu Namjoon?.

"Tadi, kami baru saja bertemu. Namjoon hyung bilang, karena PD-nim dia jadi mengerti perasaannya padaku. Dia menyesal karena mengabaikanku selama ini, katanya dia keliru dan PD-nim yang menyadarkannya" cerita Jihoon. Yoongi bisa menangkap rona bahagia diwajah Jihoon dengan jelas.

"Jadi, karena itu aku memberikan ini sebagai ucapan terimakasih. Tapi, PD-nim, tolong jangan bilang Namjoon hyung aku memberikan itu, ya. Walaupun Cuma minuman biasa, tapi..."

"Terimakasih" potong Yoongi.

Dengan cepat Yoongi berlalu meninggalkan Jihoon. Kepalanya berkecamuk dengan banyak pertanyaan sekarang.

.

.

.

"Namjoon hyung ke rumah sakit?" Taehyung mengernyit heran. Jungkook menatap sendu dari balik kaca mobil Taehyung.

Sore ini Jungkook memaksa Taehyung untuk menemaninya membuntuti Namjoon. Bukan karena dia ingin tau atau apa, tapi Jungkook khawatir. Semenjak perkelahian Namjoon dan Yoongi kemarin, Jungkook merasa iba pada Namjoon dan berniat untuk memastikan keadaan Namjoon baik-baik saja.

Jungkook sempat merasa tenang karena Taehyung bilang Namjoon sedang pergi kencan dengan seseorang, tapi saat melihat Namjoon yang hanya berdiam diri didalam mobil yang sudah di parkir di depan rumah sakit, Jungkook kembali merasa iba.

"Kita harus apa sekarang?" Taehyung melirik pada Jungkook yang duduk disampingnya dengan mata berkaca-kaca.

"Wae?" Tanya Taehyung panic saat melihat Jungkook menangis sambil memandang lurus pada mobil Namjoon yang terparkir tidak jauh dari mobil Taehyung.

"Aku kasihan pada Namjoon hyung" Jungkook menghapus air matanya pelan. "Yah, setidaknya peluk pacarmu kalau sedang sedih, Taetae hyung!" omel Jungkook.

Buru-buru Taehyung melepas Seatbelt-nya dan memeluk Jungkook erat.

"Ada apa? Kau membuatku bingung hari ini. Kenapa kita harus membuntuti Namjoon hyung?" Taehyung mengusap bahu Jungkook yang masih menangis sedih.

"Namjoon hyung sedang patah hati, Taetae hyung"

"Apanya yang patah hati? Tadi siang dia membawa kekasihnya ke kampus. Mereka bergandengan"

"Itu pasti pelarian!" Jungkook memukul bahu Taehyung.

"Kenapa kau yang lebih tau?" Taehyung berguman pelan dan sialnya, Jungkook masih bisa mendengarnya.

Dengan kesal Jungkook mendorong dada Taehyung dan menatap nyalang pada kekasihnya itu. "Kalau Kookie bilang pelarian, ya pelarian!" omel Jungkook.

"O..oh.. oke sayang." Taehyung menurut. "Lalu, apa sekarang?"

"Namjoon hyung pasti sedang berharap bisa bertemu mantan kekasihnya sekarang, ya, walaupun hanya sedetik saja..." guman Jungkook makin sedih.

"Mantan kekasihnya sedang sakit?"

"Ani"

"Sedang menjenguk orang sakit?" Tanya Taehyung makin penasaran.

"Anio"

"Mantannya dokter koas? Perawat? Suster?"

"Ani"

"Lalu?"

Belum sempat Jungkook menjawab, kaca samping Taehyung di ketuk. Itu Seokjin. Jungkook buru-buru menghapus air matanya, memasang kaca mata hitam yang ada di dashboard Taehyung untuk menutupi jejak air matanya. Tidak sadar kalau tingkahnya sangat konyol karena hari sudah mulai gelap.

"Kim Ahjussi" sapa Taehyung ramah saat kaca mobilnya terbuka.

"Taehyung? Jungkook?" Seokjin menaikkan alisnya saat melihat Jungkook yang terkekeh salah tingkah. "Kalian sedang apa? Ada yang sakit?"

"Kami sedang memantau..."

Belum sempat Taehyung menjawab, Jungkook sudah menutup mulut Taehyung dengan tangannya.

"Kami sedang ingin menjenguk teman saja, Ahjussi. Tapi teman kami belum membalas pesan dia ada di ruangan mana" Jungkook berbohong.

"Oh" Seokjin tersenyum percaya. "Eum, Taehyung, bisa mundurkan mobilmu sedikit? Kau parkir terlalu dekat dengan mobil Ahjussi, Ahjussi jadi tidak bisa membuka pintu" ucap Seokjin.

"Huh? Oh, maaf ahjussi. Segera ku mundurkan" ucap Taehyung.

"Terimakasih. Oh ya, jangan pulang malam-malam, besok kau harus sekolah, Kookie" Seokjin mengingatkan.

"Ne Ahjussi. Ahjussi akan pulang sekarang?" Tanya Jungkook basa-basi.

"Ne. kalian pulangnya hati-hati. Jangan pulang malam, Tae" ucap Seokjin lagi.

"Ne, Ahjussi. Ya sudah, aku mundurkan mobilku sekarang" Taehyung tersenyum ramah dan memundurkan mobilnya.

Seokjin membuka mobilnya dan mulai memundurkan mobilnya sementara Taehyung kembali maju. Saat kedua jendela mobil mereka bersisian, Seokjin pamit dan hanya di angguki oleh Jungkook dan Taehyung.

"Mata Seokjin Ahjussi bengkak. Dia pasti menangis semalaman" Jungkook menatap kebawah dengan bibir yang ikut turun kebawah. Dia sedih.

"Apalagi sekarang, Kookie? Kim Ahjussi juga patah hati?" Taehyung berucap asal.

"Ne" ucap Jungkook tak semangat.

"Kebetulan sekali kalau begitu, tadi Namjoon hyung, sekarang Kim Ahjussi" Taehyung terkekeh.

"Itu bukan kebetulan, memang Namjoon hyung dan Kim Ahjussi baru saja putus" guman Jungkook pelan.

"What?" Taehyung menggusap telinganya untuk memastikan ucapan Jungkook. "Coba ulangi?"

"Namjoon hyung dan Kim Ahjussi baru putus. Pasti begitu. Itu karena Yoongi hyung tidak setuju" guman Jungkook lagi.

Taehyung tanpa sadar membuka mulutnya. Dia terkejut.

Belum selesai keterkejutan Taehyung, dia kembali dibuat terkejut karena kaca sampingnya di ketuk. Taehyung berjingkat, begitu juga dengan Jungkook. Namjoon berdiri disamping mobilnya.

"Kenapa kalian disini?" Tanya Namjoon datar dan dingin.

.

.

.

Tepat jam 10 malam, Yoongi baru saja tiba di rumahnya setelah mengantarkan Jimin dan Chanyeol ke rumah. Keadaan ruang tamu gelap dan hanya ada penerangan yang berasal dari dapur, Yoongi berjalan pelan dan melihat Seokjin sedang duduk di kursi makan, matanya terlihat kosong menatap kearah kulkas dan air mata mengalir begitu saja tanpa diseka.

"Appa" panggil Yoongi pelan.

Seokjin terkejut dan buru-buru menghapus air matanya dengan lengan baju piyama tidurnya kemudian tersenyum palsu pada Yoongi. "Kau sudah pulang?" Seokjin bertanya gugup.

Yoongi menghela napas. Entah harus apa dia menyikapi hari ini, rekaman yang tertunda, Jimin yang merajuk tanpa sebab dan sekarang Appa-nya yang sedang menangis sendirian di dapur.

"Kenapa menangis?" Yoongi berjalan malas menuju kursi makan, menarik kursi didepan Seokjin dan menatap Seokjin datar.

"Tidak. Kau sudah makan?" Seokjin berusaha mengalihkan pembicaraan.

"Sudah. Appa duduk saja" pinta Yoongi saat Seokjin ingin berdiri. "Kenapa menangis?"

"Hanya masalah pekerjaan. Bukan hal penting"

"Bukan karena Namjoon, kan?" tembak Yoongi.

Seokjin tergugup.

"Appa, Namjoon sudah punya kekasih. Dia sudah menjalin hubungan dengan Jihoon, trainee di agensi tempat aku bekerja. Jadi, lupakan saja. Aku tidak ingin melihat Appa menangisi hal ini terus menerus." Ucap Yoongi.

Seokjin membeku. Tidak tau harus seperti apa dia menanggapi ucapan anaknya. Namjoon sudha punya kekasih baru? Bahkan mereka baru saja putus kemarin.

"Istirahatlah, Appa. Aku harap ini terakhir kalinya aku melihat Appa menangisi Namjoon" Yoongi berdiri dan berjalan menuju tangga. Meninggalkan Seokjin yang sedang menggigit bibirnya kuat untuk meredam tangisnya yang memberontak keluar.

.

.

.

"Jadi, hyung tidak mau mengakui sesuatu?" Jimin melipat tangannya di depan dada, berdiri dihadapan Yoongi yang sedang menatap bingung padanya.

Jimin sudah lelah mendiami Yoongi semalam. Aksi merajuknya membuatnya rindu sendiri dengan suara Yoongi. Biasanya setiap malam sebelum tidur, Yoongi akan menghubunginya, karena Jimin sedang merajuk, Jimin mengabaikan telepon Yoongi yang akhirnya dia sesali sendiri.

"Aku harus mengaku apa, Love?" Yoongi mengernyit melihat Jimin yang sedari tadi memaksanya untuk mengakui sesuatu yang Yoongi sendiri tidak tau apa.

"Kemarin hyung kemana?" Jimin mulai mengintrogasi.

"Ke kampus"

"Lalu?"

"Ke studio"

"Sebelum ke studio?" kejar Jimin.

"Makan"

"Dengan Daniel, Kan?" Jimin memicing kesal.

"Iya. Aku sudah bilang kalau aku bertemu Daniel, kan? Kau juga melihat sendiri kado yang diberikan Daniel kemarin" Yoongi berdiri dari kursi kerjanya, menarik Jimin kearah sofa dengan paksa karena Jimin menolak uluran tangan Yoongi.

"Tapi hyung tidak bilang kalau hyung pergi makan siang bersama!" Jimin kembali berdiri di depan Yoongi.

"Aku pikir kau sudah tau…" guman Yoongi.

"Kalau aku tidak memeriksa akun milik Daniel sunbae, Yoongi hyung juga akan tetap tutup mulut soal makan siang bersama, kan?"

"Sini" Yoongi menepuk paha kirinya, isyarat agar Jimin duduk disana.

"Tidak mau"

"Dengar, Jiminie. Aku tidak mengerti akun apa yang kau maksud, tapi memang benar aku pergi makan dengan Daniel dank au juga sudah tau aku bertemu Daniel kemarin"

"Daniel mengupload foto Yoongi hyung di instagramnya, dan Jiminie tidak suka!" Protes Jimin.

"Kenapa protes padaku?"

"Tentu saja aku protes pada Yoongi hyung. Yoongi hyung ada di foto itu. Dan kenapa Yoongi hyung mau saja di foto-foto?"

"Foto apa, sayang? Aku tidak ada mengambil foto bersama Daniel" Yoongi menggusak rambutnya, frustasi.

"Jangan diacak-acak! Nanti tidak tampan lagi!" Jimin berjalan mendekat dan merapikan rambut Yoongi. "Sebentar, akan Jiminie tunjukan" Jimin merogoh kantongnya dan menunjukan hasil screenshots yang dikirim Jungkook pada Yoongi.

"Ini Yoongi hyung, kan?" Jimin menunjukan layar ponselnya.

"Iya, itu aku." Yoongi mengaku. "Tapi, sayang, kau salah alamat kalau marah padaku. Aku tidak tau menau soal itu" Yoongi menarik Jimin hingga duduk dipangkuannya.

"Tetap saja Yoongi hyung salah!" Jimin berkeras dan memukul bahu Yoongi.

"Ya sudah. Aku minta maaf karena Daniel mengupload fotoku di akun miliknya. Jangan marah lagi, oke?"

"Harusnya Yoongi hyung minta maaf dari semalam! Gara-gara Yoongi hyung, Jiminie jadi rindu pada Yoongi hyung karena tidak ditelepon sebelum tidur" Jimin kembali menyalahkan Yoongi.

"Kalau rindu kenapa tidak angkat telepon saja semalam?" Yoongi mengernyit.

"Itu karena Jiminie sedang marah. Lagian, Yoongi hyung hanya menelepon sekali, harusnya hyung menelepon sampai Jiminie angkat!" omel Jimin.

Yoongi mengernyit makin bingung.

"Ya sudah, aku yang salah"

"Memang!" Jimin memicing.

"Kenapa tidak ke kampus?" Tanya Yoongi mengalihkan pembicaraan.

"Dosennya tidak masuk, hyung. Oh iya, bagaimana dengan Namjoon hyung?" Tanya Jimin penasaran.

"Ponselnya masih tidak aktif. Dan kabar terbaru, dia sudah pacaran dengan Jihoon. Yang kemarin memberikan kita minuman" ucap Yoongi.

"Mana mungkin!" Jimin menatap tak percaya.

"Apa yang tidak mungkin di dunia ini, Jiminie? Aku benar kan? Namjoon hanya penasaran saja. Dia keliru menjalin hubungan dengan Appa-ku"

Jimin terdiam, matanya menyorot lurus pada mata Yoongi. Dia jelas tau Namjoon sangat serius dengan Seokjin, bahkan Jungkook yang tidak gampang percaya pada orang lain saja, bisa percaya pada perasaan Namjoon ke Seokjin.

"Pasti itu hanya pelarian" guman Jimin.

"Entah pelarian atau apapun, Namjoon sudah mengambil langkah yang tepat." Yoongi balas menatap Jimin.

"Pasti ada yang salah"

"Aku rasa ini sudah cukup, Jiminie." Yoongi mendorong Jimin pelan dari pangkuannya dan berdiri. Menarik Jimin keluar studio. "Ayo kencan" ajak Yoongi.

.

.

.

"Namjoon…" Seokjin menatap gemetar pada Namjoon yang berdiri di dekat mobilnya.

"Aku kesini ingin memperbaiki keadaan." Mulai Namjoon. Keadaan di dekat parkiran rumah sakit cukup lengang, hanya ada satu orang yang berada disana selain Namjoon dan Seokjin.

"Kemarin itu sangat buruk. Kita berpisah dengan cara yang sangat buruk. Jadi, aku kesini untuk mengucapkan selamat tinggal dengan benar" mulai Namjoon. Matanya menatap lurus pada Seokjin yang tengah menunduk didepannya, entah karena silau dari sinar matahari yang menyengat atau karena dia tidak berani menantap Namjoon.

Namjoon menghembuskan nafasnya dengan berat, ada rasa sesak yang Namjoon rasa saat kembali berhadapan dengan Seokjin.

"Jadi, Kim Seokjin, berbahagialah dengan orang lain" ucap Namjoon pelan. Dia takut suaranya yang bergetar akan tertangkap telinga Seokjin.

Seokjin menunduk makin dalam. Harapan kecil yang tersisa dalam hatinya sudah pecah. Dia sudah kehilangan Namjoon-nya.

"Terimakasih" ucap Seokjin teramat pelan.

"Aku akan hidup lebih baik mulai sekarang. Aku juga akan berbahagia dengan orang lain sepertinya yang kau inginkan. Terimakasih sudah sangat memperhatiakanku selama ini, itu adalah saat terbaik dalam hidupku. Jadi, selamat tinggal?"

Lama Namjoon menunggu sampai akhirnya Seokjin mendongak padanya dan berbicara. Namjoon menelan ludahnya kasar saat melihat mata Seokjin yang sudah berair.

"Ya, selamat tinggal" Guman Seokjin.

.

.

.

Jadi gimana rekan sejawat pejuang UNBK? Enak toh soal-soalnya? :')

Maaf lama ngilang kakak yorobun, akunya UN kemarin. *Gadak yang nanya*

*Lari naruto*