Tiga bulan, waktu yang cukup lama untuk Seokjin bisa move on dari Namjoon. Selama tiga bulan banyak perubahan yang terjadi, seminggu pertama berpisah dengan Namjoon, Seokjin habiskan untuk menangis dan bersyukur karena Yoongi membiarkannya. Keinginan Seokjin untuk melupakan Namjoon makin kuat saat Seokjin melihat sendiri Namjoon yang sedang berduaan bersama Jihoon di dalam mobil dengan kepala Jihoon yang bersandar di bahu Namjoon.

Mulai dari situ, Seokjin merasa sudah cukup waktunya habis hanya untuk menangisi orang yang tidak selayaknya untuk ditangisi. Seokjin memilih bangkit, mengurus anak-anak seperti biasa, bekerja seperti biasa dan memilih untuk memperhatikan dirinya sendiri lebih baik lagi.

"Yoonji, ayo nanti terlambat" Seokjin berteriak dari depan pintu sambil memakai sepatunya.

Derap langkah kaki Yoonji terdengar heboh saat gadis kecil itu berlari menuruni tangga, membawa tas dipunggung dan sepatu yang sudah terpasang rapi di kakinya.

"Appa, Yoongi Oppa masih tidur" lapor Yoonji. Tadi dia ditugaskan untuk membangunkan Yoongi sete;ah sarapan oleh Seokjin.

"Astaga. Ya sudah, kita kunci saja dari luar" ucap Seokjin. "Ayo, nanti kita terlambat" ajak Seokjin sambil menggandeng tangan kecil anaknya.

Saat membuka pintu rumah, Seokjin dibuat terkejut dengan seseorang yang sedang berdiri tepat didepannya. Tangan namja itu tergantung di udara seperti sedang ingin mengentuk pintu rumahnya.

"Namjoon?" guman Seokjin tak percaya.

.

.

.

RUN TO YOU

.

.

.

"Hyung, bangun" Namjoon mengguncang bahu Yoongi yang masih tertidur nyaman di dalam selimut. "Yah, Min Yoongi!" Namjoon berucap kuat.

Yoongi mengerutkan alisnya, matanya perlahan terbuka dan menatap sengit pada Namjoon yang sudah duduk santai di kursi belajarnya.

"Mau apa kau?" Tanya Yoongi kesal.

"Mengajakmu ke kampus." Ucap Namjoon santai.

"Aku bisa pergi sendiri"

"Aigoo... kau masih marah, hyung?" Namjoon terkekeh dan menimpa punggung Yoongi dengan perutnya dan merangkak kesamping Yoongi.

"Yah! Kau pikir kau ringan!"

"Cepat mandi, kita harus bertemu dosen untuk tanda tangan di hard cover skripsi kita, kan?" ucap Namjoon tak peduli.

Yoongi mendudukan diri diatas tempat tidur, matanya menatap kesal pada Namjoon yang sedang berbaring di tempat tidurnya.

"Apa mau mu?" Tanya Yoongi kesal.

"Astaga. Baiklah, aku ingin kita berbaikan. Kita sudah bertengkar terlalu lama, hyung. Setelah lulus kuliah, aku akan ikut bekerja dengan Appa-ku dan kemungkinan kita akan bertemu jelas akan sangat jarang." Namjoon ikut duduk diatas tempat tidur.

"Aku tidak ingin persahabatan kita terputus begitu saja. Kau satu-satu-nya sahabat yang ku punya di kampus. Oke, aku mengaku, aku juga manusia hyung, jelas aku bisa berbuat salah dan berakhir membuatmu kesal. Makanya aku kesini ingin minta maaf, untuk semuanya" ucap Namjoon.

Yoongi menatap lurus pada Namjoon.

"Hyung, apalagi yang ingin kau tuntut dariku?" Namjoon bertanya putus asa. "Kau bilang aku harus menjauhi Appa-mu, sudah ku lakukan, lalu apalagi?"

"Katakan yang sebenarnya Namjoon, kau hanya mempermainkan Appa-ku kan?"

Namjoon mendengus dan tertawa kencang. "Kalau aku main-main, aku tidak akan sehancur ini hyung." Namjoon berucap serius. "Tapi sudahlah, kita lupakan saja, oke? Aku tidak ingin kehilangan pacar dan kemudian harus kehilangan sahabatku juga. Aku sangat kesepian, hyung" rengek Namjoon.

"Menjijikan" Yoongi mendorong kepala Namjoon yang hendak mendekat padanya dan buru-buru berdiri meninggalkan Namjoon di tempat tidur.

Namjoon tertawa keras dan kembali membaringkan tubuhnya ditempat tidur Yoongi. Rasanya sangat lega saat dia bisa berbaikan lagi dengan sahabatnya. Saat tubuh Yoongi menghilang dibalik pintu kamar mandi, Namjoon mengeluarkan ponsel dari sakunya dan mengirimi Jimin pesan terima kasih.

Namjoon berani muncul di rumah Yoongi karena info yang di dapat Namjoon dari Jimin. Dari Jimin juga Namjoon tau kalau Yoongi sudah tidak marah lagi padanya dan Namjoon sangat bersyukur karena dia punya keberanian muncul di rumah Yoongi, meskipun saat pertama pintu rumah ini terbuka, Namjoon merasa nelangsa. Orang yang dicintainya dan masih diperhatikannya dari jauh, hanya bisa dilihatnya tanpa bisa direngkuhnya. Seperti yang dilakukannya selama ini jika dia sedang merindukan Seokjin-nya.

.

.

.

"Sebentar" Jungkook menarik paksa Jihoon kelorong yang jarang dilewati orang-orang. Hari ini, dia dan Jimin berada di gedung agensi hanya untuk bertanya pada Jihoon soal hubungannya dengan Namjoon.

"Jungkook?! Kau membuatku takut!" Jihoon menatap horror pada Jungkook yang sedang melipat tangan di depan dada. "Jimin-ssi?" Jihoon membungkuk, matanya membola bingung karena kedua orang ini terlihat sedikit menyeramkan hari ini.

"Hai, Jihoon" sapa Jimin gugup.

"Ada apa?" Jihoon menatap bergantian kearah Jungkook dan Jimin yang sedang saling siku.

"Kau saja" ucap Jimin.

"Kau saja. Ini idemu kan?" balas Jungkook.

"Ada apa, ya?" Jihoon menatap makin bingung.

"B-begini, Jihoon. Aku.. maksudku, kami… apa kau?"

"Lama!" geram Jungkook saat Jimin berucap berantakan. "Kau pacaran dengan Namjoon, hyung?"

"Kenapa kau bertanya begitu?" Jihoon menatap lurus pada Jungkook.

"Tinggal dijawab saja" Jungkook memutar bola matanya.

"Memangnya kenapa?" Jihoon balik bertanya.

"Tidak apa. Kami hanya bertanya" Jimin tersenyum canggung. Rasanya seperti sedang mem-bully orang saja sekarang.

"Kalau aku memang berkencan dengan Namjoon hyung, kenapa?" Jihoon bertanya ragu.

"Jadi, kau berkencan atau tidak?" Jungkook mulai tidak sabaran.

"Kenapa kau seperti ini Jungkook, kau suka juga dengan Namjoon hyung?" Jihoon menatap kesal pada Jungkook.

"Kau tau aku punya pacar, kan?" Jungkook menaikkan dagunya.

"Jihoon, kami hanya bertanya" Jimin menengahi.

"Jimin-ssi, aku tidak suka cara kalian yang seperti ini" Jihoon berjalan gentar meninggalkan Jimin dan Jungkook dilorong sempit itu.

"Kalian mem-bully trainee?"

Jimin dan Jungkook tersentak, terkejut dengan suara berat Chanyeol yang mengintip dari balik dinding.

.

.

.

"Jadi, kenapa kalian membully Jihoon?"

Yoongi mendirikan Jungkook dan Jimin di depannya setelah Chanyeol memberitahu Yoongi soal kejadian di lantai dasar tempat para trainee latihan.

"Hyung, kami tidak mem-bully" rengek Jimin.

"Benar, kami tidak membully Jihoon, hyung. Lagian, Jihoon itu teman sekelasku, hyung" rengek Jungkook. Keduanya sedang dihukum berdiri oleh Yoongi sejak 15 menit yang lalu.

"Kalau begitu, katakan apa yang kalian bicarakan dengan Jihoon dilantai dasar" Yoongi menatap bergantian pada Jimin dan Jungkook yang sedang saling menyiku.

"I-itu rahasia" cicit Jungkook.

Jimin mengangguk.

"Ya sudah, kalau begitu kalian tetap berdiri dan tidak boleh pulang dari studio ku sampai kalian bicara" ancam Yoongi.

"Hyuunngg" rengek kedua-nya bersamaan.

"Kalau begitu, cepat cerita" paksa Yoongi.

"Hyung, kami kan juga ingin punya rahasia" guman Jimin sangat pelan.

"Benar, hyung" Jungkook mengangguk pelan.

"Oke, tidak masalah." Yoongi berdiri didepan Jimin. " Jiminie, kau tidak akan keberatan kalau aku tidak cerita soal apapun yang terjadi padaku untuk kedepannya. Sepakat!" Yoongi tersenyum kecil.

"Hyung, Mana bisa begi…"

"Shhh" Yoongi memotong aksi protes Jimin. "Dan kau Jungkook, kau juga tidak boleh keberatan kalau rahasiamu ku bongkar pada Jeon eomma. Sepakat!" Yoongi tersenyum lebar.

"Hyung…" keduanya bergerak bersamaan, memegang tangan Yoongi seperti sedang memohon agar Yoongi membatalkan hukuman keduanya.

"Kami, kami hanya bertanya soal hal sepele. Lagian itu bukan bully, hanya bertanya, hyung. ayolahhh" Jungkook mengguncang tangan kiri Yoongi.

"Benar, itu hanya bertanya, hyung" Jimin merengek.

"Sudah, sana pulang. Kita sudah saling sepakat. Aku harus bekerja" Yoongi menarik tangan Jimin dan Jungkook keluar studi.

"Andweee…" rengek kedua-nya bersamaan.

"Yoongi hyung?"

"NAMJOON HYUNG?" Jimin dan Jungkook terkejut saat melihat Namjoon muncul didepan studio Yoongi.

"Apa? Kenapa kalian melihatku begitu?" Namjoon mengernyit bingung.

"Sana pulang" usir Yoongi pada Jimin dan Jungkook.

"Ini skripsi-mu, hyung" Namjoon menyerahkan tumpukan skripsi ditangannya pada Yoongi.

"Gomawo" Yoongi menerima skripsinya dari tangan Namjoon.

"Pembimbing bilang, kau harus menemuinya besok. Ada yang ingin ditanyakannya, hyung" ucap Namjoon.

"Ne." Yoongi mengangguk sekilas. "Kau langsung pulang?"

"Ne, aku harus ke kantor Appa" jawab Namjoon. "Yah, kenapa kalian berdua?" Tanya Namjoon pada Jimin dan Jungkook yang menatap bingung keduanya.

Seingat mereka, Namjoon dan Yoongi sedang bertengkar. Memang sih, tadi pagi Namjoon mengucapkan terimakasih, tapi Jimin bingung terimakasih untuk apa dan berpikir kalau Namjoon salah kirim pesan.

"Kalian… sudah baikan?" Jungkook menatap bergantian Namjoon dan Yoongi.

"Kelihatan sekali, ya?" Namjoon terkekeh. "Jungkook, ikut pulang denganku, tidak? Aku sekalian lewat depan rumahmu" Namjoon menawarkan.

"Huh? Ne, aku ikut hyung" Jungkook buru-buru menarik Namjoon pergi dari depan studio Yoongi.

Saat Yoongi sedang lengah karena melihat Namjoon dan Jungkook yang sudah berjalan menjauh, Jimin menyelinap kembali masuk kedalam studio Yoongi dan mendudukan diri di kursi kerja Yoongi. Tangannya memegang erat sandaran tangan kursi, jaga-jaga kalau Yoongi menariknya keluar studio lagi.

Yoongi tertawa saat melihat Jimin yang sudah duduk menempel erat di kursi kerjanya. Mata Jimin memicing tajam saat Yoongi masuk kedalam studio.

"Jiminie tidak mau pulang!"

"Lalu?" Yoongi terkekeh dan mendudukan diri di sofa.

Jimin melirik ke kiri dan kanan, berpikir keras apakah dia harus meninggalkan kursi atau menyeret kursi beroda itu kedekat Yoongi tanpa berdiri.

"Sini" Yoongi tertawa kecil melihat Jimin yang sedang berpikir.

"Jiminie tidak mau pulang!" Jimin berkeras.

"Tidak ada yang menyuruhmu pulang, sayang. Sini" Yoongi menepuk sofa disebelahnya agar Jimin duduk disana.

Dengan ragu Jimin berjalan kearah Yoongi, tapi tidak duduk disamping Yoongi, melainkan merangkak duduk diatas paha Yoongi. Tangan Jimin bergerak mengalung pada leher Yoongi dan wajahnya tenggelam dibahu Yoongi.

"Mianhae…" bisik Jimin dibahu Yoongi.

"Kenapa membully Jihoon? Sejak kapan kau jadi anak nakal, Jiminie?" Yoongi menyandarkan tubuhnya diatas sofa, kaki Jimin yang menekuk diantara paha nya Yoongi tepuk pelan.

"Jiminie tidak membully" Jimin menggelengkan kepalanya keras-keras. Badannya menempel erat di badan Yoongi saat Jimin mengeratkan pelukannya.

"Sajangnim tidak mungkin bohong padaku" Yoongi mencoba mengurai pelukan Jimin untuk bisa melihat wajah Jimin, tapi Jimin malah makin mengeratkan pelukannya.

"Tapi itu bukan bully" rengek Jimin.

"Lalu apa?"Yoongi mengelus punggung Jimin pelan.

Jimin mengangkat wajahnya, pelukannya mengendur dan tangannya bertengger diatas bahu Yoongi. Wajahnya dipasang sesedih mungkin agar Yoongi tidak marah padanya.

"Kami hanya bertanya…" cicit Jimin pelan. Bibirnya tertekuk kebawah.

"Bertanya soal apa?"

"Yoongi hyung, saranghae" Jimin memiringkan kepalanya dan menaikkan kedua tangannya membentuk hati diatas kepala. Usaha terakhir. Aegyo.

"Mwoya?"

Dan gagal.

"Hyyuunngg…" Jimin kembali memeluk Yoongi erat-erat setelah usaha terakhirnya gagal. Bagaimanapun, Jimin tidak mungkin bicara jujur, bisa-bisa Yoongi marah padanya.

"Jiminie…"

"Hyung, kami hanya bertanya." Jimin merengek menjadi-jadi.

"Iya, bertanya apa?"

"Soal… soal…" Jimin memejamkan matanya erat saat tidak tahu harus seperti apa dia berbohong. "Daniel!" Jimin memegang bahu Yoongi dan menatap memicing pada Yoongi.

"Kenapa Daniel?"

"Tidak ada. Jiminie hanya bertanya hal-hal yang lumayan penting pada Jihoon. Dan ini ada hubungannya dengan Yoongi hyung" Jimin mengangguk, merasa kebohongannya kali ini masuk akal.

"Contohnya?"

Jimin menelan ludahnya susah payah. Jimin berubah gugup saat matanya bertatapan dengan Yoongi yang terlihat seperti sedang menunggu jawaban Jimin.

"Y-ya.. hanya Tanya saja" jawab Jimin asal.

"Love, jangan melibatkan orang lain dalam urusan kita." Nasehat Yoongi.

"Jiminie hanya bertanya, Yoongi hyung"

"Tetap saja, sekalipun bertanya, kau harusnya bertanya padaku lebih dulu, bukan pada Jihoon. Lagian, memangnya Jihoon kenal dengan Daniel?"

"Huh?" Jimin melirik gelisah. Jihoon mungkin tau soal Daniel. Daniel terkenal dikalangan remaja Korea, tapi Jiminy akin keduanya tidak pernah saling kenal.

"Love, memangnya kau tidak akan kesal kalau aku bertanya pada orang lain tentangmu?"

Jimin menunduk, tangannya bergerak memegang tali hoodie milik Yoongi yang tergantung didekat dada. "Mianhae,hyung…"

"Dan jangan bertanya dengan cara tidak sopan. Sajangnim bahkan beranggapan kalian membully Jihoon, itu pasti karena cara bertanya kalian yang salah."

"Mianhae, Yoongi hyung" sesal Jimin. Bibirnya tertekuk karena sedih.

"Aku tidak marah, sini" Yoongi menarik pinggang Jimin mendekat dan Jimin langsung memeluk leher Yoongi dengan erat. "Lain kali, jangan seperti ini lagi. Masih untung sajangnim yang melihat kalian dan syukurnya ini hanya salah paham. Bagaimana kalau orang lain dan muncul gossip yang bukan-bukan?"

"Ne, Jiminie bersalah" aku Jimin.

"Ya sudah, ayo ku antar pulang" Yoongi mengurai pelukannya.

"Jiminie mau disini, Yoongi hyung" pinta Jimin.

"Aku harus bekerja, love"

"Jiminie bisa tidur di sofa seperti biasa. Yoongi hyung bisa bekerja, Jiminie tidak akan mengganggu. Jiminie janji" rengek Jimin.

"Ya sudah, cepat turun" Yoongi menepuk pelan paha Jimin.

"Cium…"

Yoongi tertawa. Matanya menatap lurus pada Jimin yang sedang menatapnya dengan tatapan sedih.

"Kalau aku tidak mau?" Yoongi menaikkan satu alisnya.

"Harus mau…" rengek Jimin.

"Andwe." Ucap Yoongi tegas. "Turun"

"Yoongi hyung, ciumm…"

"Tidak. Kau jadi anak nakal hari ini, Jiminie. Itu hukumanmu"

"Ya sudah!" Jimin menangkup kedua sisi wajah Yoongi dengan tangannya, mendekatkan wajahnya pada Yoongi dan mencium namja pucat itu tepat dibibirnya. Jimin menghisap bergantian bibir atas dan bawah Yoongi sementara Yoongi hanya diam tanpa membalas ciuman Jimin.

Jimin melepas ciumannya, wajahnya memerah dan dadanya berdebar hebat. Malu-malu Jimin menatap Yoongi yang sedang tersenyum miring padanya. "Yoongi hyung tidak sayang Jiminie lagi…" ucapnya sedih.

Yoongi tertawa, menarik pinggang Jimin mendekat dan mencium bibir Jimin dalam dan lembut. Jimin tersenyum diantar ciumannya, tangannya bergerak kerambut Yoongi dan memainkan jarinya dirambut hitam milik Yoongi.

"Sarangahae, Yoongi hyung" bisik Jimin tepat didepan bibir Jimin Yoongi.

Tanpa menjawab, Yoongi kembali melanjutkan ciumannya. Tangannya bergerak masuk kedalam baju yang Jimin kenakan, mengelus lembut daerah pinggang Jimin hingga kedepan perut Jimin. Jimin bergerak gelisah diatas paha Yoongi, tangannya meremas gemas rambut Yoongi saat merasakan sensasi geli di kulit perutnya.

"H-hyung…" nafas Jimin memberat, matanya berubah sayu saat Yoongi melepas kembali ciuman mereka.

"Hmm?" Yoongi menatap kemata Jimin dan tersenyum kecil saat matanya menangkap semburat merah dipipi Jimin.

"K-katanya mau bekerja.." Jimin berucap gugup, melirik Yoongi malu-malu.

"Memang. Ini aku sedang bekerja" Yoongi menarik keluar tangannya dari dalam baju Jimin. "Mengerjai pacarku" bisik Yoongi tepat di depan bibir Jimin.

Jimin memukul bahu Yoongi main-main. Yoongi yang nakal memang sangat mampu membuat Jimin ke panasan. "Y-ya sudah, Jiminie mau turun"

"Sudah berapa lama aku tidak menyentuhmu, Jiminie?" Yoongi menatap serius kearah mata Jimin. Semenjak Yoongi disibukkan dengan skripsi dan pekerjaan, rasanya dia dan Jimin sudah sangat jarang bermesraan.

Jimin yakin wajahnya sudah sangat merah sekarang, bahkan wajahnya sudah terasa panas. Jimin menggigit bibirnya sangkin gugupnya.

"Dua bulan?" ucap Jimin tak yakin.

"Oh ya?" Yoongi menaikkan alisnya tak percaya.

"Hyung sangat sibuk belakangan ini" cicit Jimin, tangannya mencubit kecil hoodie milik Yoongi.

"Kau merindukanku?"

Jimin mengangguk pelan-pelan.

"Keberatan kalau di sofa, lagi?"

Jimin menatap terkejut pada Yoongi. Dadanya berdebar sangat keras sekarang.

"K-kunci pintunya dulu, hyung" cicit Jimin.

.

.

.

"Jadi sebenarnya kalian tidak pacaran, hyung?" Jungkook duduk miring kearah Namjoon. "Woah, daebak!" Jungkook menggeleng tak percaya.

"Kenapa kau bertanya begitu?" Namjoon melirik sekilas pada Jungkook dan kembali konsentrasi menyetir.

"Huh? Tidak. Aku hanya penasaran saja. Jadi, kalian pergi jalan, kencan dan semua hal yang dilakukan orang dengan status pacaran , tanpa ada kejelasan status apapun?" Tanya Jungkook lagi.

"Aku butuh pelarian" ucap Namjoon jujur.

"Hyung, kau masih sering memperhatikan Kim Ahjussi, kan?"

"Dari mana kau tau?" Namjoon mengernyit. "Jungkook, sepertinya kau sudah bisa menjadi admin akun gossip"

"Aku hanya menebak saja sebenarnya" elak Jungkook. "Jadi itu benar?"

"Ne. aku sering melihatnya dari jauh. Tidak semudah itu melupakan Seokjin."

"Tapi kalau Kim Ahjussi tahu kalau hyung sering pergi dengan Jihoon, bagaimana?"

"Dia sudah tidak punya perasaan apapun padaku" ucap Namjoon sedih.

"Darimana hyung tau?"

"Aku bertemu dengannya tadi pagi. Dia sudah bersikap sangat biasa padaku, sama seperti saat dia belum tau aku mengejarnya. Rasanya sedih sekali" cerita Namjoon.

Jungkook menepuk iba bahu Namjoon. "Hyung, aku mengerti… aku mengerti"

"Anak kecil sepertimu tau apa?" Namjoon mengernyit kesal.

"Hyung, kau tidak ingin berusaha sekali lagi? Maksudku, kau dan Yoongi hyung sudah berbaikan, hyung bisa meyakinkan Yoongi hyung kalau hyung serius, kan?"

"Nanti. Ada saatnya. Tunggu sampai aku punya pekerjaan tetap dan aku akan meminta izin pada Yoongi hyung untuk memacari Appa-nya"

Jungkook memutar bola matanya. "Dari tindakan yang hyung lakukan sekarang, entah kenapa aku yakin Kim Ahjussi akan menolakmu"

"Kau itu dipihak siapa sebenarnya?"

"Hyung, kalau aku jadi Kim Ahjussi dan melihat hyung pergi berkencan dengan orang lain, aku jelas tidak akan percaya dengan semua ucapanmu, hyung."

"Lalu apa?"

"Jauhi Jihoon" ucap Jungkook serius.

"Tapi aku butuh sesuatu untuk berlari, Jungkook."

"Hyung, masalah tidak memerlukan pelarian, dia butuh penyelesaian. Percaya padaku. Tunjukan mulai sekarang kalau hyung memang serius"

Namjoon terdiam.

"Well, sudahlah. Keputusan kalian untuk putus memang yang terbaik. Membuat kesal saja" Jungkook memutar duduknya kearah depan dan menatap kesal kearah jalanan.

"Kau akan membantuku, kan?" guman namjoon.

"Tidak. Silahkan urus masalahmu sendiri dengan berlari bersama Jihoon. Good luck! Terimakasih sudah mengantarkanku!" Jungkook membuka pintu mobil Namjoon saat mobil itu masih bergerak pelan menuju berhenti tepat di depan rumah Jungkook.

"Yah! Jungkook!" panggil Namjoon keras, tapi kelinci sentimen itu sudah berlalu kedalam rumah.

"Aishhh" Namjoon menggusak rambutnya frustasi.

"Seokjin" Namjoon turun dari mobilnya dengan cepat saat melihat Seokjin sedang membantu Yoonji untuk masuk kedalam mobil. Karena terlalu sibuk berpikir, Namjoon sampai tidak sadar kalau mobil yang terparkir didepan mobilnya adalah mobil Seokjin.

"Ahjussi" koreksi Seokjin pada Namjoon yang tengah berdiri di depannya.

"Apa kabar?" Tanya Namjoon basa-basi.

"Tadi pagi kita bertemu kalau kau lupa"

Namjoon mengangguk kaku. "Menjemput Yoonji?"

Seokjin mengangguk dan tersenyum kecil. "Namjoon, ini sudah sore, aku harus pulang" Seokjin melewati tubuh samping Namjoon begitu saja.

"Seokjin…" panggil Namjoon lagi.

"Ahjussi, Kim Namjoon" koreksi Seokjin lagi.

"Kita…"

"Aku harus pergi" potong Seokjin, dengan sedikit dorongan pada tubuh Namjoon, Seokjin berhasil membuka pintu mobil dan masuk kedalam. Sama sekali tidak memperdulikan namjoon yang masih berdiri disamping kaca mobilnya.

"Seokjin" Namjoon mengetuk pelan kaca mobil Seokjin.

Seokjin menurunkan kacanya dan tersenyum lembut pada Namjoon. "Sampai bertemu" pamit Seokjin dan menjalankan mobilnya.

Namjoon terdiam. Ini bukan Seokjin yang tadi pagi dia temui. Ini Seokjin yang bersikap dingin padanya. Namjoon sadar, Seokjin menghindarinya. Dan dia butuh Jungkook untuk membantunya.

.

.

.

"Kau diterima bekerja disana? Di agensi yang sama dengan Yoongi?" Seungwoon membolakan matanya tak percaya.

"Doakan, ya" Daniel terkekeh dan menepuk bahu Seungwoon. Dia terlalu bahagia saat menyadari Yoongi masih berada dijangkauan matanya walaupun mereka sudah akan lulus kuliah beberapa bulan lagi.

.

.

.

TBC

Lama, yes?

LOL