"Selamat bergabung diperusahaan ini" Chanyeol membuka pidato penyambutan karyawan baru-nya. "Aku tidak akan berlama-lama. Kalian sudah menjalani training 3 bulan lebih disini dan ada beberapa yang gagal. Perlu kalian tau, peraturan disini sangat ketat dalam hal jam kerja. Masuk pukul 8 dan pulang pukul 5. Terkecuali untuk para produser, sutradara dan stafnya yang terlibat langsung dengan artis, mereka memiliki jam kerja bebas, tanpa harus pakai setelan kemeja seperti kalian. Jadi, jangan samakan diri kalian dengan mereka" Chanyeol berdehem. Matanya memandang ke depan dimana ada 30 karyawan baru yang duduk rapi didepannya. Semuanya terlihat datar sampai dia menemukan Baekhyun disana.
"Karena aku bilang ini tidak akan lama, jadi, kalian bisa ikut dengan kepala devisi kalian masing-masing. Terkecuali yang memakai ID bertali merah, Byun Baekhyun, kau ikut aku" Chanyeol kehilangan kata-kata yang sudah dia siapkan dikepalanya, semuanya langsung buyar saat melihat Baekhyun yang duduk manis dibarisan paling depan.
"Baek, kau kenal sajangnim?" bisik Daniel yang duduk tepat disamping Baekhyun karena hanya mereka yang saling mengenal disana.
"Sajangnim kakak kandung Jimin" Baekhyun balas berbisik.
"Apa?" Daniel membolakan matanya.
"Byun Baekhyun" panggilan Chanyeol membuat acara bisik-bisik Daniel dan Baekhyun terhenti. "Kita perlu bicara, setauku kau belum lulus kuliah dan masih disemester 5 sekarang, jadi aku perlu bicara serius denganmu" tegas Chanyeol dan berlalu dari ruangan.
"Baek, kau tau ruangannya?" bisik Daniel lagi.
"Aku tidak mungkin dipecat dihari pertama kan?" Baekhyun berguman khawatir.
.
.
.
RUN TO YOU
.
.
.
Jimin sudah selesai meletakkan fotonya dan Yoongi saat Yoongi wisuda. Foto itu Jimin letakkan diatas meja tempat Yoongi meletakkan kertas-kertas miliknya didalam studio.
"Bagaimana?" Tanya Jimin bangga.
"Aku lebih suka fotomu saja yang di pajang disana" komentar Yoongi.
Jimin berjalan mendekat dan memeluk lengan Yoongi erat. "Tapi ini kan foto kita berdua, hyung. Lagian foto ini mengingatkan momen penting saat Yoongi hyung wisuda" ucap Jimin.
"Tetap saja, nantinya bingkai foto itu akan tertutup dengan kertas-kertas milikku" ucap Yoongi.
"Tidak masalah, Jiminie akan merapikan meja setiap hari" Jimin terkekeh.
"Oh iya, ini" Yoongi melekatkkan sebuah kartu berwarna hitam ditangan Jimin dengan lambang salah satu nama hotel ternama.
"Hyung… mengajakku ke hotel?" Jimin merona merah.
Yoongi terkekeh. "Bukan sayang. Astaga…." Yoongi menggusak rambut Jimin dan mengajak Jimin duduk disofa.
"Lalu ini?" Jimin mengangkat kartu berwarna hitam itu kedepan wajahnya.
"Apartemen kita" jelas Yoongi singkat.
"H-hyung sudah beli apartemen? Digedung hotel ini?" Jimin membolakan matanya tak percaya. Harga sewa hotelnya satu malam saja sudah fantastis, bagaimana harga apartemennya.
Yoongi mengangguk. "Masih kosong, sengaja. Aku ingin kau memilih sendiri design interior untuk apartemen kita nanti."
Jimin terdiam, matanya menatap mata Yoongi tak percaya.
"Kenapa diam?" Yoongi mengernyit bingung.
Jimin berkedip dan menjatuhkan tubuhnya kearah Yoongi. Memeluk namja pucat itu erat-erat. "Gomawo, Yoongi hyung"
Yoongi tersenyum dan mengelus punggung Jimin "Nanti temui Namjoon dan diskusi dengannya untuk interior apartemen kita"
"Yoongi hyung, Jiminie senang sekali" Jimin menenggelamkan wajahnya dibahu Yoongi.
"Oh, selain pakai kartu, membuka pintunya bisa pake password, ada enam digit, tanggal ulang tahunmu" tambah Yoongi.
"Aaa…. Yoongi hyung manis sekali.. ayo menikah…" Jimin menggusakkan wajahnya dibahu Yoongi yang hanya tertawa dengan tingkah Jimin.
"Oh ya, di apartemen ada tiga kamar, kamar yang paling kecil akan ku jadikan studio, tidak apakan?" Yoongi mengurai pelukannya.
Jimin mengangguk senang. "Hyung, aku ingin pamer pada Jungkook"
Yoongi tertawa dan mengecup hidung Jimin sekilas. "Ya sudah. Nanti kesini lagi, kita harus bertemu sajangnim. Aku ada rapat internal sebentar lagi, jadi tidak bisa mengantarmu kerumah Jungkook, tidak apa kan?"
"Tidak apa, hyung. Semangat kerjanya" Jimin menarik pipi Yoongi dan memberikan Yoongi ciuman tepat dibibir.
.
.
.
"Aku sibuk" Jungkook langsung mencoba menutup pintu rumahnya saat melihat wajah Jimin yang tersenyum lebar begitu Jungkook membuka pintu. Jimin buru-buru balik mendorong pintu itu agar tidak tertutup dan menyelinap masuk kedalam rumah Jungkook.
"Terlambat. Aku sudah masuk" Jimin berlari kedalam ruang tamu dan duduk disofa didepan TV.
"Apa?" Jungkook mengernyit kesal. Dia sedang tidur siang bersama Taehyung diruang tamu dan Jimin dengan tidak sopannya malah datang mengganggu.
"Kenapa Taehyung disini?" Jimin mengernyit saat melihat Taehyung yang tertidur memeluk bantal di karpet didepan TV.
"Aku pacarnya, ada masalah?" Jungkook memutar bola matanya.
"Diamana Jeon Ahjumma?" Tanya Jimin lagi.
"Kau kesini mau bertemu denganku atau dengan ibu-ku?" Jungkook bertanya tak sabar.
"Aigoo, kasar sekali. Seperti tidak pernah disayang-sayang" Jimin menggelengkan kepalanya dengan dramatis.
"Hentikan, oke. Jadi, ada apa kau kesini?" Jungkook mendudukan diri di karpet disebelah Taehyung yang tertidur. Tangannya bergerak mengelus surai coklat Taehyung dengan sayang.
"Papa anak-anak" Jimin terkekeh dan menutup bibirnya dengan tangan. Dia malu, tapi ingin pamer.
"Astaga telingaku yang malang" Jungkook mengusap-usap telinganya. "Harus berapa kali aku mengatakannya, Park Jimin? Hentikan panggilan norakmu itu" Jungkook merasa jengkel.
"Aish, dasar pemarah!" Jimin melemparkan bantal sofa kearah Jungkook. "Ah, aku jadi lupa. Lihat ini" Jimin memamerkan kartu hitam berkilat dengan lambang hotel ternama pada Jungkook.
"Sudah. Lalu?" Tanya Jungkook tanpa minat.
"Tebak ini apa?" Jimin berucap malu-malu, membuat Jungkook memutar bola matanya.
"Bisa tidak langsung saja?" Jungkook berucap tak sabar.
"Dasar tidak seru" Jimin mencibir.
Taehyung bergerak dari tidurnya dan telentang, matanya terlihat sedikit bengkak karena baru bangun tidur. Saat matanya melihat Jimin yang sedang menatap lurus padanya, Taehyung meregangkan otot dan duduk disamping Jungkook. "Kapan kau datang?" Taehyung menaikkan alisnya.
"Barusan." Jawab Jimin santai.
"Ada apa?" Tanya Taehyung penasaran.
"Biasa, Jimin pasti sedang ingin pamer" Jungkook meletakkan kepalanya dibahu Taehyung yang dihadiahi kecupan dipuncak kepalanya.
"Pamer apa? Apartemen baru?" tebak Taehyung.
"Darimana kau tau?" Jimin bereaksi heboh.
"Kau apartemen baru?" Jungkook menegakkan kembali tubuhnya, matanya membola dengan lucu.
"Namjoon hyung. Kemarin aku ke kantor-nya dan bertemu Yoongi hyung disana, hanya berpapasan saja, tapi Namjoon hyung sudah cerita, Yoongi hyung beli apartemen untuk kalian tinggali nanti setelah menikah, benar-kan?" ucap Taehyung santai.
"Aduh, aku jadi tidak enak" Jimin berucap malu-malu. Jungkook memutar bola matanya. "Romantis sekali ya, papa anak-anak" Jimin terkekeh dengan menutup bibirnya dengan tangan. Benar-benar terlihat mengesalkan.
"Itu bagus, kan? Artinya Yoongi hyung benar-benar serius dalam memikirkan hubungan kalian kedepannya" puji Taehyung. "Dia bahkan membelikanmu apartemen di hotel yang kita tau sendiri harga sewa kamarnya permalam itu sangat mengerikan"
"Kau benar, Tae. Astaga, calon suamiku…" Jimin terkekeh saat mendengar pujian soal Yoongi.
"Kapan kau akan bertemu Namjoon hyung? Aku sudah ke kantornya, ruangan miliknya punya design yang unik, keren sekali. Kita harus mengunjungi Namjoon hyung ke kantornya, Kookie. Kau harus lihat ruangan Namjoon hyung" ucap Taehyung semangat.
"Enaknya punya tunangan yang sudah berpikir jauh soal hubungan kalian" sindir Jungkook.
Jimin dan Taehyung terdiam kaku.
.
.
.
"Kenapa tidak bilang kalau bekerja disini?" Chanyeol menatap lurus pada Baekhyun yang sedang menunduk takut didepannya. "Baek, aku tidak melarang kau bekerja, tapi tidak sekarang. Kau harus kuliah…"
"Daniel saat diterima disini saat itu berstatus mahasiswa , Yoongi sunbae juga diterima kerja disini saat masih berstatus mahasiswa. Mereka bahkan baru wisuda" Baekhyun menatap sedih pada Chanyeol.
"Beda. Yoongi memang punya skill dalam urusan menciptakan lagu. Lagunya ciptannya bahkan mendapatkan royalty tertinggi disini. Daniel diterima disini saat dia sudah selesai siding skripsi, dan k au? Siapa yang menerimamu kerja disini?" Tanya Chanyeol serius.
"Tidak ada. Aku ikut test dari jalur biasa dan aku lulus, apa salahnya? Lagian aku bekerja sebagai admin…" cicit Baekhyun.
"Admin?" Chanyeol mendengus dan memijat kepalanya. "Sudah gila apa…" gumannya geram.
"Aku bisa buktikan kalau aku punya skill yang baik! Jangan meremehkanku!" Baekhyun meradang.
"Tidak ada yang meremehkanmu, Byun. Aku begini karena aku peduli. Kau akan lelah bekerja disini dengan posisi itu. Kau bisa-bisa dijadikan pesuruh!" geram Chanyeol.
"Tapi posisiku bisa naik saat aku sudah lulus kuliah nantikan?"
Chanyeol mendengus lagi. " kau ku pecat" ucap Chanyeol serius.
Baekhyun membolakan matanya. Matanya mulai berkaca-kaca. "Aku… apa?" Tanya Baekhyun tak percaya.
"Kau ku pecat" tegas Chanyeol.
"Aku sudah berusaha hingga sampai disini dan kau memecatku?" Baekhyun menangis.
"Aku akan memberikan pesangon untukmu" Chanyeol menatap lurus pada Baekhyun.
"Sajangnim!"
"Sayang!" Chanyeol balik membentak. "Turuti saja, oke?"
"Kenapa aku tidak boleh bekerja disini? Kenapa kau begitu marah saat tau aku bekerja di kantormu? Kau terganggu dengan aku ada disini?"
"Jangan mulai. Kau ku pecat. Itu sudah keputusan final. Ayo pulang, Kau harus kuliah" Chanyeol berdiri dari bangkunya dan menarik Baekhyun agar berdiri dari bangkunya.
"Chanyeolie…" rengek Baekhyun.
"Baek! Dengar…"
Pintu terbuka, Yoongi dan Jimin berdiri kebingungan memandang Baekhyun yang menangis dan Chanyeol yang terlihat marah. "Bisa dijelaskan?" Jimin bertanya kebingungan.
.
.
.
"Ayo makan siang" Namjoon tersenyum saat melihat Seokjin yang muncul dari dalam lift rumah sakit menuju parkiran basement . Sudah dua bulan terakhir Namjoon semakin gencar mendekati Seokjin lagi, tanpa sepengetahuan Yoongi pastinya.
"Namjoon? Kau kesini lagi?" Seokjin menatap lurus pada Namjoon yang terlihat makin dewasa dengan setelan jas yang tengah dipakainya.
"Ne. aku ingin mengajak dokter Seokjin makan siang. Kalau aku berpakaian seperti ini aku sudah pantas berdiri disampingmu, kan?" Namjoon tersenyum hingga lesung pipinya terlihat.
Seokjin merasa tersindir. Seokjin berbalik dan berdiri tepat didepan Namjoon, matanya menatap lurus pada Namjoon yang kini terlihat lebih tinggi darinya. "Apa yang sebenarnya kau inginkan, Namjoon?"
Sudah enam bulan hubungan mereka berlalu dan beberapa bulan ini, Seokjin seperti dipaksa kembali mengingat Namjoon. Dia sudah berusaha sekuat tenaga untuk bisa Move on, tapi Seokjin jadi khawatir jika Namjoon terlalu sering muncul dan terlalu sering memperhatikannya, bisa-bisa Seokjin jatuh hati lagi padanya. Dan Seokjin rasa, dia perlu memperjelas semua hal yang dilakukan Namjoon belakang ini padanya, karena jujur saja, Seokjin mulai berharap lagi padanya.
Namjoon tersenyum hangat. "Makan, Dokter Seokjin. Aku lapar"
"Kau tau bukan itu maksud ucapanku. Kenapa kau kembali lagi? Maksudku, kenapa kau muncul lagi?"
Namjoon tersenyum hangat, matanya menatap kedalam mata Seokjin dan mengelus pipi Seokjin tanpa Namjoon sadari. "Aku ingin kita kembali lagi, Seokjin" ucap Namjoon serius.
Seokjin tersentak mundur dan tangan Namjoon yang berada dipipinya terlepas. Dadanya berdebar kencang.
"Aku memantaskan diri lebih dulu sebelum aku kembali. Aku tidak ingin kau malu kalau orang-orang tau kita dekat. Setidaknya, sekarang aku bukan lagi anak kuliah" tambah Namjoon.
"Namjoon, hentikan. Apapun yang sedang kau rencanakan, tolong hentikan!" Seokjin berucap tegas. Dia tidak lagi berani menatap kearah mata Namjoon.
"Kenapa? Kau mau bilang kalau kau sudah tidak ada perasaan padaku lagi?"
"Pikirkan Jihoon! Jangan seenaknya mempermainkan perasaan seseorang"
"Kau bahkan tau soal Jihoon." Namjoon tersenyum. "Kau masih peduli, Seokjin"
Seokjin terdiam kaku.
"Aku sudah tidak punya hubungan sama sekali dengan Jihoon, Seokjin. Aku pengecut. Aku lari padanya agar aku tidak merasa terlalu terluka. Aku lari padanya karena aku butuh seseorang untuk mendengarkanku. Aku pria brengsek dan aku tau itu, Seokjin. Aku sangat kacau dan aku butuh seseorang. Aku kehilangan orang yang aku cintai dan juga sahabatku, bisa bayangkan seperti apa hancurnya aku?"
Seokjin menatap Namjoon dengan tatapan kosong.
"Aku terlalu banyak menyakitinya, Seokjin. Aku tau. Aku berusaha melakukan apa yang dulu kau minta. Aku berusaha bahagia dengan mendekat pada Jihoon, tapi tidak bisa. Bahkan setiap aku menciumnya, aku hanya merasakan bibirmu. Setiap aku memeluknya aku hanya merasakan tubuhmu, bahkan yang setiap malam ku pikirkan bukan Jihoon, tapi kau. Kau tahu separah apa aku membutuhkanmu Seokjin" Namjoon menunduk dalam. "Dan aku adalah orang paling brengsek yang dengan tidak tau malu mengakui semunya di…"
Namjoon membolakan matanya saat merasakn bibir Seokjin yang menempel di bibirnya. Hanya beberapa detik sampai Namjoon kembali kekesadarannya dan menarik Seokjin makin mendekat dengan tubuhnya, mencium Seokjin dengan begitu dalam.
"Kembali padaku, Seokjin… kumohon" Bisik Namjoon tepat didepan bibir Seokjin.
.
.
.
"Kenapa merajuk?" Yoongi pinggang Jimin mendekat pada tubuhnya dan memeluk Jimin dari belakang. Setelah mendengar pengakuan Chanyeol, Jimin menatap sengit pada Chanyeol dan keluar dari ruangan Chanyeol begitu saja menuju studio Yoongi.
"Hyung tidak dengar? Chanyeol hyung dan Baekhyun berkencan dibelakangku!" omel Jimin.
"Lalu?" Tanya Yoongi. Dagunya bersandar dibahu Jimin, tangannya makin erat memeluk perut Jimin.
"Yang benar saja! Baehyun itu sahabatku, hyung!"
"Lalu letak salahnya dimana?" Tanya Yoongi penasaran. Dia tidak melihat ada hal yang salah dari hubungan Chanyeol dan Baekhyun sama sekali.
"Jiminie sangat kesal sekarang!"
Yoongi terkekeh dan membalikan tubuh Jimin kedepannya, menangkup pipi gembul itu dengan telapak tangannya. "Mereka saling mencintai"
"Tapi chanyeol hyung itu…"
"Orang bisa berubah, Jiminie."
Jimin merengut dan memeluk Yoongi erat. Rasanya kesal sekali saat tau Baekhyun malah jatuh pada Hyung-nya. Baekhyun itu anak yang baik, sementara Chanyeol? Chanyeol bahkan akan dengan sangat gampang meng-iya-kan ajakan kencan buta tanpa berpikir dua kali.
"Baekhyun bisa salah paham dengan sikapmu, Jiminie. Dia bisa saja mengira kau marah padanya" nasehat Yoongi dan mengelus rambut Jimin yang bersandar pipi dibahunya.
"Mana mungkin aku marah pada Baekhyun, hyung" cicit Jimin.
"Dengar, hubungi Baekhyun dan bicara berdua dengannya. Sikapmu tadi bisa membuat semua orang salah paham. Kasihan Baekhyun."
Jimin mengangguk patuh.
"Sekarang, tenangkan dirimu dulu." Yoongi mengurai pelukannya dan mendudukan diri disofa. "sini" Yoongi menepuk sofa disebelahnya.
Jimin berjalan menuju sofa disamping Yoongi, mendudukan diri disana dan kemudian menidurkan kepalanya diatas paha Yoongi. Jimin bahkan menyembunyikan wajahnya diperut Yoongi.
"Hyung, maaf Jiminie bersikap tidak sopan" ucapan Jimin teredam diperut Yoongi.
Tangan Yoongi mengelus rambut Jimin pelan, memberikan rasa aman pada Jimin.
"Jiminie akan bersikap lebih dewasa lagi, janji" Jimin berbalik dan menatap Yoongi yang tersenyum mengejek padanya.
"Benarkah?" Yoongi menatap tidak yakin.
"Kalau begitu, tidak janji saja" Jimin terkekeh. Sadar diri dengan sikapnya yang kekanakan.
Yoongi tertawa kecil dan menggusak rambut Jimin yang tertidur dipahanya.
"Hyung, cium" Jimin menarik kecil kaos yang Yoongi pakai, membuat namja pucat itu membungkuk mengecup dahi Jimin.
"Bukan di dahi" rengek Jimin.
"Lalu dimana?"
"Disini… disini… disini" Jimin menunjuk pipi kiri, hidung, dan bibirnya. "Tidak-tidak, semuanya saja" ralatnya.
"Yakin semuanya?" goda Yoongi.
"Semuanya, Min Yoongi…" Jimin berucap seperti berbisik dengan mata memicing yakin.
"Yah, aku lebih tua darimu" Yoongi menyentil dahi Jimin pelan dan Jimin terkekeh sambil memegangi dahinya.
"Mau diciuumm…" rengek Jimin lagi.
"Aku baru ingat banyak pekerjaan"
"Hyung!" Jimin mendudukan diri dan menatap kesal pada Yoongi. "Jiminie memaksa!" Jimin menerjang Yoongi dan mencium seluruh wajah Yoongi meskipun Yoongi sudah memberontak. Keduanya tertawa hingga Yoongi menahan pinggang Jimin dan menidurkan Jimin disofa dengan kedua tangan Jimin yang terkunci diatas kepala.
"Kau harus menanggung konsekuensi dari ucapanmu, Park Jimin" bisik Yoongi.
Jimin tertawa kecil hingga ketukan dipintu studio Yoongi mengganggu acara keduanya.
Yoongi beranjak dari atas Jimin dan merapikan sedikit bajunya sebelum membuka pintu studionya.
"Yoongi…"
"Daniel?" Yoongi mengernyit bingung.
.
.
.
.
TBC
Maacciw yang uda Voment kakak yorobun…
