"Daniel? Ada apa?" Yoongi mengernyit bingung melihat kedatangan Daniel didepan pintu studionya.

"Kau sibuk? Aku baru tau kau bekerja disini dari Baekhyun. Oh, aku kesini ingin mengajakmu minum kopi, bagaimana?" Daniel tersenyum lebar.

"Siapa hyung?" Jimin muncul dari balik punggung Yoongi.

"Jimin?" Daniel membolakan matanya dan mendadak salh tingkah.

"Daniel Sunbae..." cicit Jimin pelan.

.

.

.

RUN TO YOU

.

.

.

"Kau kekanakan" Chanyeol memutar bola matanya kesal. Sejak pulang dari kantor, Jimin sudah merengek padanya tentang hal yang sama, meminta Chanyeol memecat Daniel.

"Hyung, hubunganku dan Yoongi hyung bisa rusak kalau dia ada disana" rengek Jimin dan mengikuti Chanyeol dari belakang menuju dapur.

"Kalau kau tidak sepercaya itu pada Yoongi, ada baiknya kalian berpisah saja"

"Enak saja!" Jimin memukul pundak Chanyeol geram. "Ini namanya antisipasi, hyung. Bagaimana kalau dia genit pada Yoongi hyung?"

"Kau percaya Yoongi atau tidak?"

"Tentu saja aku percaya Yoongi hyung, tapi aku tidak akan pernah percaya pada Daniel!" ungkap Jimin.

"Ya sudah, cukup percayai Yoongi saja, lagian, Yoongi itu tidak mungkin tertarik pada Daniel, percaya padaku" Chanyeol meneguk air dingin ditangannya.

"Tapi kalau Daniel selalu berusaha mendekati Yoongi hyung, bisa-bisa Yoongi hyung berpaling!" rengek Jimin lagi.

"Kalau begitu, buat Yoongi tidak bisa berpaling darimu. Jangan salahkan orang lain atas ketidakpercayaandirimu"

"Caranya?" Jimin menatap sedih pada Chanyeol.

"Minta saja dia menikahimu secepatnya"Chanyeol tertawa dan berlalu meninggalkan Jimin yang terdiam didekat kulkas.

.

.

.

"Hyung..."

"Ne?" Namjoon menaikkan alisnya menatap Jimin yang terlihat sedih dan bingung. Hari ini Namjoon dan Jimin sedang diskusi soal design interior apartemen baru milik Yoongi bersama salah satu pekerja Namjoon.

"Siapa yang lebih menarik, aku atau Daniel?"

Pertanyaan Jimin yang diluar perkiraan Namjoon, membuat Namjoon tertawa kecil dan menatap Jimin sambil menggeleng kepalanya. Namjoon melirik karyawannya yang juga berada di ruangannya, memberikan gesture agar dia meninggalkan ruangan segera.

"Kau takut karena Daniel bekerja di tempat yang sama dengan Yoongi hyung?" Namjoon tersenyum jahil menatap Jimin.

"Darimana hyung tau?" Jimin membolakan matanya.

"Aku bertemu Daniel saat acara wisuda kampus, dia bilang dia sudah bekerja di agensi milik Chanyeol-ssi. Wajahnya terlihat bahagia sekali" cerita Namjoon.

"Aku takut, hyung" ucap Jimin jujur.

"Kalian akan menikah. Apa yang kau takutkan, Jim? Yoongi bahkan membelikanmu apartemen" Namjoon tersenyum lebar.

"Aku tau, tapi aku tidak bisa mengawasi Yoongi hyung 24 jam, aku takut Yoongi hyung..."

"Jangan berlebihan. Dengar, selama aku berteman dengan Yoongi, dia tidak pernah macam-macam. Yoongi tidak akan selingkuh, percaya padaku" ucap Namjoon yakin.

Jimin terdiam. Sejauh ini sudah dua orang yang meyakinkannya kalau Yoongi tidak akan berkhianat.

Saat Jimin sibuk dengan pikirannya, ponsel Namjoon bergetar diatas meja, ada pesan yang masuk ke ponselnya. Namjoon terlihat tersenyum lebar menatap layar ponselnya.

"Pacar baru, hyung?" tebak Jimin.

Namjoon terkekeh. "Tidak"

"Oh ya?" ucap Jimin tak yakin.

"Ne. ini bukan pacar baru, tapi calon istri" Namjoon tertawa.

"Kau akan menikah dengan Jihoon?" Jimin membolakan matanya.

"Tentu saja bukan, ini tidak ada urusannya dengan Jihoon sama sekali"

"Lalu?"

"Namjoon..."

Jimin membalikkan badannya menuju pintu masuk dan menganga. Di depan pintu ada Seokjin yang sedang berdiri dengan jas putih miliknya yang berada disiku tangannya.

"Jimin..." Seokjin membatu didepan pintu.

"Kim Appa..." Jimin berkedip tak percaya.

"Jim, kenalkan, ini Seokjin, calon istriku" ucap Namjoon bangga.

.

.

.

"Maaf aku terlambat" Yoongi mengecup kening Jimin dan mendudukan diri didepan Jimin. Jimin mengajak Yoongi untuk bertemu di kafe dekat tempat kerja Yoongi. "Bagaimana diskusi dengan Namjoon?" Tanya Yoongi sambil memperbaiki posisi duduknya.

"Hari ini mereka sudah mulai berbelanja peralatannya, hyung" ucap Jimin.

"Terjadi sesuatu?" Yoongi menaikkan alisnya.

"H-huh? Tidak." Jimin menggeleng cepat. "Hyung, duduk disamping Jiminie, ya" pinta Jimin.

Tanpa diminta dua kali, Yoongi berdiri dan berjalan duduk disamping Jimin.

"Jiminie rindu sekali dengan Yoongi hyung" Jimin bergerak memeluk lengan Yoongi dan menyandarkan kepalanya dibahu Yoongi.

Yoongi menekuk sedikit tangannya dan mengusap poni Jimin pelan dan terkekeh kecil.

"Sedang tidak enak badan?" Tanya Yoongi penasaran.

Jimin menggeleng dan mempererat pelukannya ditangan Yoongi.

"Yoongi hyung" guman Jimin pelan.

"Ne?"

"Kita akan menikah, kan?" Tanya Jimin pelan.

"Tentu"

"Hyung hanya sayang pada Jiminie, kan?" Tanya Jimin lagi.

"Ne" Yoongi terkekeh.

"Hyung tidak akan melirik orang lain selain Jiminie, kan?"

"Apa ini soal Daniel?" Yoongi menghembuskan nafasnya lelah.

Jimin terdiam dan hanya mencium lengan atas Yoongi lama.

"Jiminie, kalau kau mau aku bisa keluar dari agensi" ucap Yoongi tiba-tiba.

"Andwae!" Jimin menegakkan tubuhnya dan menatap horror pada Yoongi. "Hyung, bukan begitu, aku..."

"Aku tau kau merasa tidak nyaman melihat Daniel ada disana"

"Hyung..."rengek Jimin.

"Jim, kalau aku tetap disana, kau akan merasa curiga setiap hari padaku dan semua orang punya batas sabar"

"Jiminie tidak mau hyung keluar dari agensi" Jimin menjatuhkan kepalanya pada bahu Yoongi dan mempererat pelukannya. "Maaf..." cicit Jimin.

"Berhenti curiga, oke? Aku akan jaga jarak"

Jimin mengangguk lemah.

"Oh ya, kapan mereka akan mulai mengerjakan apartemen kita?" Yoongi mengalihkan pembicaraan.

"Hari ini, hyung. Aku sudah menyerahkan card nya pada Namjoon hyung" Jimin berubah ceria. "Hyung, Kim Appa…. Baik-baik saja kan?"

"Baik. Belakangan ini juga lebih terlihat ceria. Mungkin karena Yoonji memenangkan lomba melukis di sekolah" cerita Yoongi dan tersenyum kecil.

Jimin menelan ludahnya gugup. "S-syukurlah" Jimin melirik kesampingnya dan saling bertatapan dengan mata Yoongi.

"Kau menyembunyikan sesuatu?" tebak Yoongi.

Jimin terkekeh kosong dan menjatuhkan kepalanya kebahu Yoongi, menolak menatap kedalam mata namja pucat itu. "Yoongi hyung jangan menatap Jiminie seperti itu, Jiminie jadi malu" Jimin bertingkah manja untuk menghindari pertanyaan Yoongi.

Yoongi terkekeh pelan. Tanganya bergerak mengambil gelas jus milik Jimin dan meminumnya tanpa izin pemiliknya. Melihat itu Jimin jadi tersenyum malu. Kata orang-orang itu namanya ciuman secara tidak langsung.

"Hyung, itukan punya Jiminie" ucap Jimin malu-malu.

"Ya tinggal pesan lagi saja" ucap Yoongi cuek.

"Hyung yang bayar kalau begitu" canda Jimin.

"Iya. Pesan lagi saja sana"

Jimin terkekeh dan menegakkan tubuhnya, duduk menyamping agar dapat melihat wajah Yoongi lebih jelas.

"Hyung, kapan kita akan menikah?" Tanya Jimin dengan rona merah di wajahnya.

"Beri aku waktu sekitar enam bulan lagi, oke? Aku harus menabung dulu untuk mewujudkan pernikahan impianmu, aku rasa itu butuh uang yang tidak sedikit" ucap Yoongi serius, wajahnya terlihat seperti sedang berpikir keras. "Maaf tidak bisa memenuhi keinginanmu secara bersamaan" Yoongi menggusak rambut Jimin pelan dan terkejut saat Jimin memeluknya.

"Gomawo" ucapan Jimin teredam dibahu Yoongi yang sudah menggusak rambutnya sayang.

"Maaf aku tidak berasal dari keluarga kaya raya. Aku harus bekerja dulu supaya bisa memenuhi semua keinginanmu"

Jimin menggeleng keras. Rasanya ingin menangis mendengar ucapan Yoongi. Apa yang Yoongi lakukan padanya sudah lebih dari apa yang Jimin harapkan dari seorang pasangan. Yoongi orang yang bertanggung jawab, bahkan sangat bertanggung jawab dimata Jimin. Saat anak-anak orang kaya hanya tinggal tunjuk untuk sesuatu yang dia inginkan, Yoongi bekerja keras untuk mendapatkan hal yang diinginkannya, dan itu menjadikan Yoongi berada satu level diatas anak-anak kaya manja dimata keluarga Jimin.

"Jiminie, ini ditempat umum" Yoongi mengusap rambut Jimin yang masih saja memeluknya.

"Biar saja! Biar mereka tau kalau si pucat ini sudah ada yang punya" Jimin berkeras.

Yoongi terkekeh. "Oh iya, Park Appa mengajakku bertemu nanti malam bersama sajangnim, kau sudah tau?" Tanya Yoongi.

Jimin melepas pelukkannya dan menatap Yoongi penasaran. Dia tidak ada diberitahu soal ini sama sekali.

"Appa di Seoul?" Tanya Jimin.

"Nanti malam aku akan menjemput Park Appa ke bandara, Park Appa tidak bilang padamu?" Yoongi menaikkan alisnya bingung.

Jimin menggeleng.

"Mungkin belum. Mungkin nanti sebelum berangkat ke Seoul, Park Appa akan memberitahu" ucap Yoongi jadi tak enak hati.

"Mungkin…" cicit Jimin.

"Jim, sebentar lagi aku akan ada rapat" Yoongi mengalihkan pembicaraan.

"O-oh, iya hyung. Maaf mengganggu waktu kerja Yoongi hyung" ucap Jimin tak enak hati.

"Tidak apa. Tidak ke kampus?"

"Astaga! Aku masih ada kelas!" Jimin mendadak heboh sendiri dan merapikan tas yang dibawanya.

"Perlu diantar?" Yoongi menawarkan.

"Aku bawa mobil, hyung" ucap Jimin.

"Ya sudah, ayo." Yoongi menggenggam tangan Jimin dan berjalan kearah kasir. Jimin? Dia sudah tersenyum-senyum sendiri seperti orang bodoh dibelakang Yoongi. Terlalu bahagia hanya karena tangannya digandeng didepan umum.

.

.

.

"Yoongi" Daniel melambaikan tangannya saat melihat Yoongi berjalan menuju kantin sendirian.

Yoongi yang melihat Daniel melambai kearahnya, berjalan menuju meja Daniel dan mendudukan diri didepan Daniel.

"Kau belum pulang? Sudah jam tujuh malam" Yoongi melirik jam ditangannya.

"Aku baru selesai, kepalaku pusing setelah ikut rapat dengan tim marketing tadi, jadi aku memilih duduk di kantin dulu." cerita Daniel.

"Oh"

"Kau sibuk? Ayo makan malam" ajak Daniel.

"Tidak juga, aku sedang menunggu sajangnim, kami harus menjemput ayah mertuaku sebentar lagi" cerita Yoongi, secara tidak langsung menolak ajakan Daniel.

Mendengar ucapan Yoongi, wajah Daniel yang tadinya terlihat ceria perlahan meredup dan berganti dengan senyum sedih yang dipaksakan.

"Begitu ya" Daniel mengangguk pelan.

"Mungkin lain kali kita bisa makan bersama, kau yang traktir" Yoongi berucap asal dan membuat mata Daniel kembali berbinar senang.

"Tentu" Daniel tersenyum lebar. "Akan ku tagih nanti" Daniel menatap Yoongi lama, sementara yang ditatap sedang menunduk memandang ponselnya.

"Jiminie?" Yoongi memperbaiki posisi ponselnya ditelinga, mendengar nama Jimin keluar dari mulut Yoongi membuat Daniel menundukkan pandangannya.

"Sedang menunggu sajangnim turun, sebentar lagi akan kebandara. Ne, nanti ku kabari lagi." Yoongi terkekeh dan menarik perhatian Daniel, membuat Daniel tersenyum kecil mendengar tawa kecil Yoongi. "Ne, Papa anak-anak juga menyayangimu" Yoongi tertawa kecil dan menutup sambungan teleponnya.

"Papa anak-anak?" Daniel menaikkan alisnya dan tersenyum lebar.

"Jimin yang memberikan panggilan itu" Yoongi terkekeh.

"Lucu" komentar Daniel.

"Min PD-nim!"

Yoongi melirik kebelakang pungungnya saat melihat ada seseorang yang berlari kearahnya dengan sebuah map hitam ditangannya.

"Ong? Ada apa?" Yoongi mengernyit menatap asisten barunya.

"Kau meninggalkan ini tanpa ada tanda tanganmu, PD-nim! Jangan membuatku jadi bekerja dua kali! Dasar menyebalkan!" omel asisten Yoongi- Ong Seungwoo.

Yoongi tertawa kecil dan menarik map ditangan Seungwoo.

"Sudah." Yoongi mengembalikan map hitam yang sudah ditanda tanganinya pada Seungwoo.

"Kalau tidak ada tanda tangan ini, royalty lagu barumu bisa-bisa tidak dikirim ke rekingmu, PD-nim" Seungwoo masih saja tetap mengomel. "Ya sudah, aku permisi"

"Gomawo, Ong" ucap Yoongi agak keras karena Seungwoo sudah berlari menuju escalator.

"Yang tadi itu…"

"Ong Seungwoo" potong Yoongi. "Perlu nomor ponselnya?" goda Yoongi.

.

.

.

"Ku bilang juga apa!" Jungkook melempar bantalnya kearah Jimin. "Harusnya saat dia mengupload foto Yoongi hyung di akun-nya, kau harusnya melabraknya, bukannya didiamkan!" omel Jungkook.

"Lalu bagaimana sekarang? Dia sudah bekerja di agensi milik hyung-ku" Jimin menatap miris pantulan wajahnya dikaca didalam kamar Jungkook.

"Itu karena kau bodoh. Harusnya kau menjadikan musuhmu sebagai teman agar kau tau perkembangannya" omel Jungkook. "Belajar dariku, bodoh! Aku berteman denganmu untuk memastikan kalau kau tidak dekat-dekat Taetae-ku!"

Jimin memutar bola matanya. "Lalu sekarang bagaimana?"

"Tentu saja kita harus memata-matai pergerakannya!"

"Kau yang terbaik, Jeon" Jimin menatap berbinar pada Jungkook, akhirnya ada juga orang yang berada di pihaknya.

"Serahkan padaku" ucap Jungkook bangga.

TBC