"Beres!" Jimin menepuk tangannya senang saat apartemen Yoongi sudah selesai dibereskan.
"Kita perlu mengisi kulkasnya" Seokjin yag baru muncul dari dapur menatap Jimin dengan senyum kecil dibibirnya.
Hari ini Seokjin dan Jimin pergi ke apartemen Yoongi yang sudah selesai diisi untuk merapikan baju Yoongi dan beberapa barang milik Yoongi yang lain sementata si pemilik apartemen sedang bekerja.
"Aku rasa kita juga perlu beli sprei, Appa. Sprei nya hanya satu" Jimin menunjuk tempat tidur didepannya.
"Benar juga. Kalau begitu ayo belanja" ajak Seokjin.
"Ayo belanja dengan uang Yoongi hyung!" Jimin berucap tak kalah semangat sambil menunjukan black card milik Yoongi.
"Aku rasa studio-nya sudah bisa di isi" Namjoon muncul didepan pintu kamar Yoongi.
"Memangnya sudah selesai renovasi?" Seokjin melirik kearah pintu dimana Namjoon sedang bersandar.
"Sudah. Tinggal dibersihkan saja" Namjoon tersenyum kecil. "Bagaimana dengan makan siang?" Namjoon melirik jam tangannya kemudian melirik Jimin dan Seokjin.
"Dengan uang Yoongi hyung" Jimin mengibaskan card ditangannya dan terkekeh kecil.
"Tidak, Jim. Jangan rusak citraku didepan Seokjin. Aku yang bayar"
Jimin tersenyum lebar dan menyenggol Seokjin main-main. "aigoo, Kim appa. Kalau Yoongi hyung tau, aku bisa dalam bahaya" Jimin menggeleng dan kemudian terkekeh, menarik tangan Seokjin untuk ikut dengannya.
.
.
.
RUN TO YOU
.
.
.
"Ada perkembangan?" selesai makan siang dengan Namjoon dan Seokjin, Jimin pamit untuk pergi dan mempercayakan semua kebutuhan Yoongi pada Seokjin, bagaimana pun, Seokjin lah orang yang lebih paham soal Yoongi, lagian, Seokjin dan Namjoon juga butuh waktu berduan. Jadilah Jimin menjemput Jungkook disekolahnya untuk mengetahui hasil investigasi Jungkook soal Daniel.
"Untuk hari ini, tidak ada." Ucap Jungkook dan memasang seatbeltnya. "Tapi semalam Yoongi hyung bertemu Daniel" adu Jungkook.
"Kapan? Dimana?" Tanya Jimin tak sabar.
"Yah, perhatikan jalannya. Aku tidak mau mati muda" omel Jungkook. "Semalam, di agensi. Tidak Cuma berdua, ada hyung sutradara juga, yang genit" ucap Jungkook.
"Joohyun hyung?" Jimin melirik sekilas dan kembali menyetir.
"Iya, dia" ucap Jungkook.
"Ngomong-ngomong, kau dapat info darimana?" Jimin melirik lagi. Agak heran juga melihat Jungkook yang bisa mendapatkan informasi dengan gampang.
"Temanku banyak yang jadi trainee di agensi milik Chanyeol hyung. Aku juga dengar kabar tidak kalah heboh" Jungkook memiringkan duduknya kearah Jimin.
"Soal?"
"Baekhyun hyung" Jungkook menyorot tajam.
"Ada apa?"
"Baekhyun hyung dipecat dihari pertama dia lulus training. Miris sekali" Jungkook menggelengkan kepalanya iba.
"Oh, itu karena Chanyeol hyung tidak ingin Baekhyun bekerja di agensi" jawab Jimin enteng.
"Kenapa tidak boleh?" Jungkook mengernyit.
"Mereka berkencan"
"Oh wow!" Jungkook menatap Jimin tak percaya.
"Jadi Chanyeol hyung memecat Baekhyun, soalnya Chanyeol hyung tidak ingin ada yang curiga soal hubungan mereka. Dia malas berurusan dengan wartawan, apalagi perusahaannya sedang naik pesat sejak mereka mendebutkan idol baru, si Jihoon temanmu sudah debut kan?" Jimin melirik lagi.
"Iya. Dia terlihat sedih saat putus dengan Namjoon hyung saat namanya keluar untuk debut. Kasihan dia" Jungkook merasa prihatin.
"Harus ada yang di korbankan" Jimin berucap sok bijak.
"Sok bijak" cibir Jungkook.
"Oh ya, soal Yoongi hyung. Kau tau mereka bahas apa?" Tanya Jimin lagi.
"Dari informan milikku yang ada di TKP, mereka hanya membahas hal sepele, seperti kencan buta,.."
"Kencan buta?" Jimin memotong ucapan Jungkook.
"Bitch, aku belum selesai bicara" Jungkook memutar bola matanya kesal. "Joohyun hyung yang bicara soal kencan buta, Yoongi hyung dan Daniel hanya pelengkap penderitaan saja disana"
"Yoongi hyung tidak…"
"Tidak. Mana mungkin Yoongi hyung berani pergi kencan buta lagi. Lagian, Joohyun hyung juga tidak mengajak Yoongi hyung, dia mengajak Daniel."
"Daniel mau?" Tanya Jimin penasaran.
"Dia salah tingkah, tidak ada jawaban dari Daniel. Mungkin karena ada Yoongi hyung?"
"Bitch…" gantian Jimin yang kesal.
"Bukannya itu Namjoon hyung?" Jungkook melirik kearah kaca jendela Jimin. Mereka sedang berhenti dilampu merah dan terlihat Namjoon baru saja keluar dari toko yang menjual sprei dan selimut, Jimin merasa dadanya berdebar, takut kalau Jungkook sampai menemukan Seokjin juga disana. "Jin ahjussi?"
"Mati aku" batin Jimin.
"Jim, Namjoon hyung dan Jin ahjussi? Oh my God!" Jungkook menganga heboh.
Jimin tertawa hambar. "M-Mana? Yang mana?" Tanya Jimin pura-pura antusias.
"Disana! Yang kemeja putih! Itu Namjoon hyung dan…"
Tinnn suara klarkson panjang menyelamatakan Jimin dari keadaan. Dengan cepat Jimin menjalankan mobilnya dan berusaha mendiamkan Jungkook untuk sementara. Membiarkan Jungkook sibuk berspekulasi sendirian.
"Jim, aku pasti tidak salah lihat!" ucap Jungkook masih saja sibuk melirik kebelakang.
"Kau salah lihat" Jimin berusaha tenang.
"Tidak mungkin!" Jungkook berkeras. Sedetik kemudian dia melirik Jimin dan kembali duduk dengan benar. "Kau tau sesuatu, Park Jimin" tuduh Jungkook.
.
.
.
"Kemana lagi?" Namjoon melirik Seokjin yang sedang melihat ponselnya.
"Belanja untuk isi kulkas Yoongi. Kulkasnya masih kosong" jawab Seokjin tanpa melirik Namjoon. Dia sibuk melihat apa saja yang harus dibeli untuk Yoongi.
Namjoon terkekeh melihat wajah serius Seokjin dan menggusak rambutnya. "Kalau seperti ini aku jadi percaya kau orang tua Yoongi hyung"
Seokjin melirik dan mengernyit bingung. "Maksudnya?"
"Bukan apa-apa" Namjoon tersenyum dan menjalankan mobilnya ke pusat perbelanjaan.
Saat sampai disana, Namjoon menarik troli dan mendorongnya. Disampingnya ada Seokjin yang sedang berjalan sambil melihat catatan di ponselnya.
"Sepertinya kita perlu ke rak perlengkapan mandi" Seokjin melirik Namjoon yang juga sedang meliriknya. Namjoon tersenyum dan mengangguk membuat Seokjin tidak berani lama-lama menatap ke mata Namjoon.
"Namjoon, kau tidak sekalian belanja?" Seokjin yang sedang sibuk mengambil sabun, melirk Namjoon yang hanya berdiri dibelakangnya.
"Aku ingin kau yang belanja untuk keperluanku" Namjoon tersenyum lagi.
"Biasanya kau bisa sendiri kan?" Seokjin memberanikan diri menatap mata Namjoon.
"Aku ingin pacarku yang memilihkan semua keperluanku"
Seokjin merasa pipinya memanas, membalikan badan dan kembali sibuk memilih sabun untuk Yoongi. Namjoon terkekeh dan menggusak rambut Seokjin.
"Suka wangi yang ini?" Seokjin menunjukan sabun cair berwarna hijau pada Namjoon dengan pipi yang merona dan mata yang tidak berani menatap Namjoon.
"Aku suka semua pilihanmu" Namjoon mengambil sabun dari tangan Seokjin dan memasukannya kedalam troli.
"Kalau begitu, yang biru untuk Yoongi" Seokjin memasukkan sabun berwarna biru kedalam troli.
Selesai belanja dan mengisi apartemen Yoongi, Namjoon dan Seokjin kembali ke apartemen milik Namjoon. Tadinya Seokjin sudah minta di antar pulang, tapi Namjoon meminta Seokjin ikut dengannya ke apartemen. Jadilah Seokjin berakhir di apartemen Namjoon dan terduduk kaku di ruang tamu. Ruang tamu yang terakhir kali Seokjin kunjungi dalam keadaan kacau. Tempat dia dan Namjoon bertengkar hebat.
"Susu coklat atau vanilla?" Namjoon yang baru saja dari dapur, berdiri di depan Seokjin dengan dua kaleng susu dingin ditangannya.
"Coklat?" ucap Seokjin tak yakin.
Namjoon menyerahkan susu kaleng coklat ditangannya dan duduk disamping Seokjin. Namjoon merentangkan tangannya dibahu Seokjin dan mengelus bahu Seokjin pelan.
"Ingat terakhir kali kita bertengkar disini?" Namjoon menjatuhkan kepalanya kesandaran sofa dan terkekeh kecil.
"Itu mengerikan" Seokjin terkekeh dan bersandar di bahu Namjoon.
"Aku tidak ingin kita seperti itu lagi" Namjoon mengelus rambut Seokjin pelan.
"Aku juga" Seokjin mengangguk setuju.
"Seokjin…" Namjoon menegakkan duduknya dan menatap Seokjin dengan wajah serius, membuat Seokjin yang sedang bersandar dibahunya menatap Namjoon kebingungan.
"Wae?"
"Tunggu disini sebentar" Namjoon menarik tangannya dan berjalan menuju kamar.
Seokjin meminum habis susu ditangannya sambil menunggu Namjoon keluar dari kamar. Seokjin sedikit terkejut saat melihat fotonya ada di meja dibawah TV Namjoon, tangan Seokjin bergerak mengambil bingkai foto itu dan tersenyum kecil. Itu foto yang Seokjin ambil melalu ponsel Namjoon.
"Seokjin" panggil Namjoon pelan dan membuat Seokjin kembali duduk dengan baik.
"Ne?" Seokjin menaikkan alisnya penasaran. Namjoon terlihat gugup, membuat Seokjin merasa tidak enak.
Namjoon menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan duduk disamping Seokjin lagi. "Bagaimana cara mengatakannya?" Namjoon menatap Seokjin putus asa.
"Ada apa, Namjoon-ah?" Tanya Seokjin takut.
Namjoon menelan ludahnya susah payah, mengeluarkan sesuatu dari kantong kemejanya. "Seokjin, aku tidak tau bagaimana cara melakukannya dengan benar, tapi, ayo menikah"
Seokjin terbatuk mendengarnya.
.
.
.
"Yoongi hyung, sepertinya Kim Appa sudah dari sini" Jimin melepas sepatunya diikuti Yoongi dibelakangnya.
"Mungkin. Lagian sudah malam, Appa pasti sudah pulang. Aku juga nanti akan pulang ke rumah." Ucap Yoongi dan berjalan masuk kedalam apartemen barunya. Dia tersenyum kecil melihat hasil kerja Namjoon dan tim-nya.
"Yoongi hyung akan tidur di rumah? Tidak tidur disini?" Tanya Jimin penasaran.
"Tidak. Besok saja aku menginap disini. Besok juga teman-teman ku ingin membuat acara disini" ucap Yoongi, merangkul bahu Jimin agar ikut dengannya.
"Acara apa?" Jimin mengernyit.
"Hanya acara makan kecil-kecilan, sekalian ingin lihat apartemen baru kita" Yoongi tersenyum kecil.
Jimin merona merah. Kau dengar itu? papa anak-anak bilang ini apartemen 'kita'!
"Kau suka hasilnya?" Tanya Yoongi lagi.
Jimin mengangguk antusias. "Yoongi hyung suka dengan pilihanku?"
"Tentu. Asal kau betah disini" Yoongi menggusak rambut Jimin pelan.
"Oh, ayo ke kamar" Jimin menarik Yoongi ke dalam kamar dan menyalakan lampu kamar. "Hyung suka?"
Yoongi melirik ke sekitarnya. Tempat tidur, lemari yang berjejer di dinding, sofa diujung tempat tidur, dan barang lain yang keseluruhannya berwarna coklat madu.
"Aku pikir kamar kita akan berwarna kuning dengan sprei bergambar bebek" Yoongi terkekeh.
"Tentu saja tidak" Jimin terkekeh.
"Oh iya, hyung, card milik hyung ada pada Kim Appa" lapor Jimin.
"Ya sudah, besok saja ku minta." Yoongi berjalan menuju lemari dan membuka lemari yang baru terisi setengah.
"Kenapa hyung?" Jimin berjalan mendekat saat Yoongi hanya terdiam didepan lemari.
"Entahlah, aku hanya sedikit merasa sedih meninggalkan Appa dirumah bersama Yoonji" Yoongi terkekeh.
"Hyung bisa ke rumah kapan saja, kan?" Jimin mendekat dan memeluk Yoongi erat. Dia juga jadi ikut sedih.
"Kau benar" Yoongi tersenyum dan mengecup kepala Jimin lama. "Sudah makan malam?" Yoongi merenggangkan pelukannya.
"Belum. Kita pesan makanan saja ya, hyung?" usul Jimin.
"Kenapa tidak memasak untukku saja?"
Jimin merona. "Nanti hyung tidak suka rasanya…" cicit Jimin. Dia memang belum sepandai Baekhyun dalam memasak, jadi Jimin tidak berani untuk memasak.
"Kau belum mencoba memasak untukku, tapi sudah bilang kalau aku tidak akan suka" Yoongi menaikkan alisnya.
"E.. beri aku waktu seminggu lagi, hyung, ya?" bujuk Jimin.
Yoongi terkekeh dan mengangguk. "Akan ku tagih" Yoongi mengecup bibir Jimin sekilas dan melepaskan pelukannya.
Saat Yoongi berjalan menuju pintu, Yoongi merasa jalannya terhambat karena Jimin mearik bajunya pelan. Yoongi melirik kebelakang dimana Jimin sedang dengan tergesa melepas baju Yoongi yang ditariknya.
"Kenapa?" Yoongi berbalik dan terkekeh.
"H-huh? Tidak hyung, aku…"
"Aku juga merindukanmu, Jiminie" Yoongi mendekatkan jaraknya dan Jimin,menarik pinggang Jimin hingga merapat padanya. "Aku juga belum mendapatkan hadiah wisudaku, kurasa?" Yoongi menatap lurus pada mata Jimin yang sedang malu-malu menatapnya.
"B-bukannya sudah?" Jimin berubah gugup.
"Kapan?" Yoongi menaikkan alisnya.
"Dimobil. Jiminie sudah mencium Yoongi hyung di mobil. Jiminie juga sudah memberikan Yoongi hyung ipad baru" Jimin menundukkan pandangannya, merasa malu berada terlalu dekat dengan Yoongi.
"Kapan? Aku tidak ingat"
Jimin menaikkan pandangannya dan mencubit perut Yoongi pelan. "Jangan pura-pura" cicit Jimin.
Yoongi terkekeh. "Jiminie tidak merindukan papa anak-anak?" Tanya Yoongi serius.
Ini dia. Ini dia Min Yoongi nakalnya yang selalu sukses membuat jantung Jimin lari marathon.
Jimin menaikkan tangannya, memeluk leher Yoongi dan menyatukan dahinya dan Yoongi. "Selalu. Jiminie selalu merindukan Yoongi hyung" bisik Jimin tepat di depan bibir Yoongi.
Yoongi tersenyum kecil, memiringkan kepalanya sedikit dan melumat bibir Jimin yang sedikit terbuka. Menarik namja berambut pink itu makin merapat pada tubuhnya. Tangan nakalnya sudah bergerak masuk kedalam baju yang Jimin kenakan, meraba punggung Jimin dengan ujung jarinya yang dingin.
Jimin meremas rambut Yoongi saat Yoongi meremas pelan pinggangnya dan lidah Yoongi sudah turun ke lehernya. Jimin merasa kewarasannya hampir hilang saat Yoongi menghisap kuat kulit lehernya.
"Ngh… hyung, Jiminie" Jimin merasa kata-kata yang ingin diucapkanya tertelan kembali saat tangan Yoongi bermain diperutnya.
"Hmm?"
"Hh.. hyung, Jiminie.." Jimin mendongakkan kepalanya. Ada sensasi asing yang Jimin rasa saat Yoongi menghisap kuat bagian lain dari lehernya. "Kaki Jiminie tidak kuat lagi…" rengek Jimin.
Yoongi terkekeh dan melepas ciumannya dileher Jimin. "Ayo makan" Yoongi merapikan kembali baju Jimin.
"Hyung?" Jimin menatap Yoongi kebingungan. Sudah? Begitu saja? Demi Tuhan, Jimin sudah kepanasan. Bukannya ini keterlaluan, Min Yoongi?.
"Wae?"
Jimin berkedip dan menggeleng sekilas, kemudian berjalan melewati Yoongi sampai Yoongi memeluk Jimin dari belakang dan terkekeh dibahu Jimin.
"Mau dilanjutkan sekarang atau setelah makan?"
.
.
.
TBC dolo kaka…
LOL
