Yoongi menjatuhkan seluruh beban tubuhnya pada Jimin dan terengah. Memeluk Jimin erat dan mengecup kepala samping Jimin sebelum menenggelamkan diri dibahu Jimin. Keduanya sedah sibuk mengatur nafas, Jimin menaikkan tangannya dan mengelus pengkuk leher Yoongi yang terasa lembab karena keringat dan tersenyum kecil.

"Gomawo" Bisik Yoongi ditelinga Jimin dan mengangkat sedikit badannya, menggunakan tangannya sebagai penahan bobot tubuhnya.

Jimin mengangguk malu-malu dan menurunkan tangannya hingga kelengan Yoongi yang telajang. "Hyung…" cicit Jimin.

"Wae?"

"Kau berat"

Yoongi terkekeh dan saat akan menarik tubuhnya dari Jimin, Yoongi mengernyit. "Jim, kakimu"

Jimin terkekeh dan menurunkan Kakinya yang melingkar di pinggang Yoongi tapi tangannya malah melingkar malas dileher Yoongi yang berada diatasnya.

"Jim, kau bilang aku berat" Yoongi menatap Jimin yang sedang menatapnya dengan mata sayu.

"Tapi hyung hangat" Jimin menarik Yoongi hingga tertidur lagi diatas tubuhnya. Tangannya bergerak memainkan rambut Yoongi dengan jari-jarinya sementara Yoongi sedang menyamankan posisinya kepalanya dibahu telanjang Jimin.

"Tidak lapar?" suara berat Yoongi yang terdengar pelan ditelinga Jimin membuat pipi Jimin merona.

Jimin menggeleng pelan dan mengeratkan pelukannya pada Yoongi.

"Sudah jam berapa sekarang?" Yoongi menaikkan kepalanya hingga wajahnya dan Jimin berhadapan cukup dekat. "Sajangnim bisa menghajarku kalau aku tidak memulangkanmu tepat waktu"

Jimin terkekeh, mengelus leher Yoongi dan mengecup bibir Yoongi sekilas. "Aku sudah besar, hyung. Pulang sedikit terlambat pasti tidak akan kena marah, lagian aku pergi dengan tunanganku" tangan Jimin bergerak lagi mengelus pipi pucat Yoongi hingga ke kepala.

"Tetap saja Sajangnim akan memarahi ku di kantor kalau memulangkanmu tengah malam." Yoongi menggusakkan hidungnya dan milik Jimin.

Jimin terkekeh lagi, matanya menatap sayu pada Yoongi yang juga sedang menatapnya. Siku tangan Yoongi yang digunakannya sebagai penumpu tubuhnya bergerak mengelus kepala Jimin pelan, mata Yoongi menatap penuh minat pada bibir Jimin yang terpampang jelas di depannya. Jimin yang menyadari kemana arah pandangan Yoongi , membuat Jimin gugup dan menggigit bibirnya tanpa sadar. Dia malu.

Yoongi menggeleng pelan dan menjatuhkan dahinya dibahu Jimin, kepalanya sudah kembali kotor dan itu bisa membuat Jimin makin terlambat pulang.

Yoongi merinding saat Jimin menjalankan jarinya diatas bahu Yoongi, mati-matian Yoongi menahan diri agar tidak tergoda lagi tapi bisikan Jimin selanjutnya membuat kewarasan Yoongi yang hanya tinggal setebal benang itu, putus tiba-tiba.

"Hyung, mau lagi…"

.

.

.

RUN TO YOU

.

.

.

"Aku rasa kita perlu beli ini" Joohyun memasukkan satu krat minuman beer tanpa alcohol kedalam troli yang sedang didorong oleh Yoongi.

"Hyung, terlalu banyak" protes Yoongi.

"Yah, jangan pelit!" Joohyun memukul keras bahu Yoongi.

"Hyung, siapa yang akan menghabiskan ini nanti? Aku hanya mengundang orang yang dekat dengaku saja, dan itu pun tidak banyak" geram Yoongi.

"Jangan khawatir" Joohyun merangkul bahu Yoongi dan mencekik leher Yoongi dengan siku-nya. "Aku akan mengajak beberapa orang lagi, kau juga kenal, hitung-hitung supaya temanmu bertambah" ucap Joohyun.

"Aku tidak butuh teman banyak dan lepaskan tanganmu dari leherku, hyung!" saat tangan Joohyun terlepas, Yoongi mendorong Joohyun menjauh darinya.

"Oh, aku akan mengajak Ong, Seunghoon, Jiwoo, Sajangnim, Daniel…"

"Yah! Aku yang punya acara, kenapa jadi kau yang menentukan tamunya" protes Yoongi.

"Yah, Min Yoongi, sebagai sahabatmu di agensi aku berhak atas apartemen barumu! Lagian, aku hanya mengundang sedikit"

"Berhak my ass" sungut Yoongi. "Aku tidak masalah dengan semuanya, kecuali Daniel"

"Kenapa memangnya? Daniel anak yang baik, dia punya sopan santun yang bagus, tidak sepertimu, anak brengsek!" Joohyun menatap tajam pada Yoongi sambil berkacak pinggang.

"Jimin akan datang dan dia tidak akan suka jika Daniel juga datang" Yoongi mendorong troli-nya kearah rak buah-buahan. Dia hanya berencana membuat pesta kecil untuk apartemen barunya, tapi Joohyun merusak semua-nya.

"Memangnya kenapa?" Joohyun kembali merangkul bahu Yoongi dan merapat.

"Kau cerewet sekali, hyung" Yoongi mencibir dan meninggalkan Joohyun di belakangnya.

"Daniel akan tetap datang"

"Ini acaraku"

"aku yang mengundangnya, jadi dia akan datang. Lagian, aku sudah bilang padanya tadi pagi" Joohyun terkekeh.

"Apa aku sudah pernah bilang kalau kau tua Bangka paling brengsek yang pernah ku kenal?"

"Dimana sopan santunmu, nak?" Joohyun menatap tajam pada Yoongi.

"Ah, sudahlah. Kalau sampai Jimin marah, kau yang tanggung jawab, hyung" Yoongi kembali mendorong trolinya.

Joohyun hanya mengangkat bahunya tidak peduli.

"Oh, temanku, Appa, Papa dan adikku juga akan datang, jadi jangan bertingkah aneh, hyung" Yoongi memperingatkan.

.

.

.

Jam tujuh malam, tamu mulai berdatangan ke apartemen Yoongi. Yoonji, Seokjin, Hyosang dan Jimin sudah sejak sore tadi berada di apartemennya membantu mempersiapkan acaranya. Yoongi baru saja selesai mandi saat dia melihat Yoonji sudah tertidur diatas tempat tidurnya, pelan-pelan Yoongi menyalakan pendingin ruangan dan menyelimuti adiknya yang sejak sore tidak berhenti bermain berkeliling di apartemennya

"Yoon, temanmu sudah datang" Hyosang membuka pelan pintu kamar Yoongi dan kemudian tersenyum saat melihat anak bungsunya tertidur diatas tempat tidur si sulung.

"Iya, Pa" Yoongi mengangguk dan berjalan menuju lemari untuk memakai bajunya.

"Yoonji tidur?"

Yoongi melirik kebelakang dimana Hyosang masih berdiri didekat pintu. "Iya, tadi dia minta diputarkan film kartun, tapi malah tertidur" Yoongi terkekeh dan memasang bajunya. "Hari ini Yoonji menginap di rumah Papa?" Yoongi berjalan menuju Papa-nya.

"Iya. Lusa baru di rumah Appa-mu" Hyosang tersenyum kecil. "Papa sangat bangga padamu, Yoongi-ya" Hyosang tersenyum lebar dan menepuk bahu Yoongi pelan.

"Anak siapa dulu?" Yoongi tertawa saat Hyosang menepuk dadanya sendiri sebagai jawaban atas ucapan Yoongi barusan.

"Hey, Kookie" Yoongi menggusak rambut Jungkook yang sedang duduk di kursi makannya.

"Hyung, nanti rambutku rusak" protes Jungkook.

Yoongi tertawa kecil dan mendudukan diri disamping Jungkook. "Bagaimana sekolahmu?"

"Aku pintar, jadi tidak ada masalah" Jungkook menaikkan bahunya.

"Mana Taehyung?"

"Pergi bersama Namjoon hyung, Jin Ahjussi tadi meminta mereka membeli sesuatu"

"Oh…" Yoongi ber-oh ria dan berjalan menuju ruang tamu dimana sudah ada teman kantornya. Ada Ong, Seunghoon, dan Daniel disana. Yoongi melirik kearah dapur dan mendapati Jimin yang sedang sibuk bersama Seokjin menyusun makanan.

"Apartemen yang bagus" puji Daniel.

"Pilihan Jimin" Yoongi tersenyum dan mendudukan diri disamping Ong, asistennya yang sedang makan kripik kentang didalam toples. "Yah, jaga imej sedikit" Yoongi menyenggol lengan Ong Seungwoo dengan sikunya.

"Memangnya aku harus jaga imej kenapa? Yah, lagian aku tadi ditawari langsung oleh hyung-mu, jadi ku makan saja. Aku lapar"

"Hyung ku?" Yoongi mengernyit bingung.

"Yang pakai kaos lengan panjang kebesaran itu, yang disamping Jimin-ssi, itu hyung-mu kan?"

"Yah, pabo, itu Appa-ku" Yoongi menatap kesal pada Seungwoo.

"Ku pikir, hyung-mu…" Seungwoo menaikkan alisnya.

"Kau itu terbiasa menciptakan spekulasi sendiri. Makanya bertanya kalau tidak tau" Seunghoon menggeleng kepalanya sementara Daniel hanya tertawa melihat interaksi ketiganya.

"Dimana Joohyun hyung?" Yoongi menatap Seunghoon yang sedang memainkan ponselnya.

"Dia kesini bersama sajangnim, soalnya sajangnim tidak bawa mobil"

Yoongi mengangguk mengerti.

"Appa, apa Hoseok bisa datang?" Yoongi bicara cukup keras agar Seokjin bisa mendengarnya.

"Bisa. Tadi Appa bertemu dengannya di rumah sakit, dia bilang akan datang" jawab Seokjin.

Keempatnya kembali sibuk bicara soal pekerjaan, sementara di dapur, Jungkook sudah ikut membantu karena dia bingung harus melakukan apa.

"Psst.. Jim" Jungkook menyenggol lengan Jimin saat keduanya berada didepan wastapel tempat cuci piring.

"Wae?" Jimin tersenyum lebar membuat Jungkook merinding.

"K-kenapa kau ceria sekali?"

Jimin terkekeh malu-malu dan menutup bibirnya dengan tangan, membuat Jungkook semakin merasa ngeri. "Aku tidak apa" Jimin dengan sengaja menggeser tangannya kedepan Jungkook.

"Kau tidak lihat ada Daniel?" bisik Jungkook lagi, mengabaikan tingkah Jimin yang aneh dimatanya.

"Aku tau. Tadinya aku sempat kesal, tapi…" Jimin terkekeh lagi dan pipinya memerah.

"Kau sakit?" Jungkook memegang dahi Jimin dengan punggung tangannya.

"Tentu saja tidak!" Jimin menyingkirkan tangan Jungkook dari dahinya. "Lihat ini" Jimin memamerkan gelang batunya, ada nama Yoongi tertulis kecil digelangnya.

Jungkook memutar bola matanya kesal. Pantas saja Jimin tidak merajuk, sudah di sogok ternyata.

"Semalam Yoongi hyung memberikannya untukku. Katanya agar orang-orang tau kalau aku sudah punya Yoongi hyung" Jimin terkekeh lagi membuat Jungkook memutar bola matanya.

"Ya Tuhan, norak sekali" Jungkook bergeser sedikit dan melirik Seokjin yang masih sibuk di depan oven.

"Papa anak-anak romantis sekali semalam" Jimin menutup wajahnya dengan tangan dan Jungkook memutuskan untuk meninggalkan Jimin dengan segala ke norakannya.

"Ini kuletakkan dimana?" Namjoon meletakkan belanjaannya diatas meja dapur.

"Biarkan disitu saja. Gomawo, Namjoon-ah" Seokjin tersenyum hangat dan hanya dibalas anggukan oleh Namjoon. Namjoon berubah kaku saat merasa ada mata yang melirik tajam padanya. Jungkook, anak itu sedang menatap lekat interaksi keduanya.

"Cincin yang bagus, Jin ahjussi" puji Jungkook tiba-tiba dan membuat Seokjin dan Namjoon bergidik.

"O-oh… terimakasih, Kookie" Seokjin cepat-cepat berbalik ke depan oven, enggan menerima tatapan curiga dari Jungkook lagi.

"Jin, ada Chanyeol" Hyosang muncul di dapur bak penyelamat untuk Seokjin dan Namjoon yang sudah mati gaya.

"Ne. aku kesana" Seokjin dengan segera memutari meja dapur dan berjalan keruang tamu bersama Hyosang.

"Cincinmu juga bagus, Namjoon hyung, persis seperti milik Seokjin hyung" Jungkook tersenyum menang dan memasukkan tomat ceri didepannya kedalam mulut.

Jimin yang sejak tadi tidak bisa berhenti tersenyum mendadak kaku didekat tempat pencucian piring, saling berpandangan dengan Namjoon yang berusaha terlihat setenang mungkin.

"Ya, aku membelikannya untukku dan Seokjin. Kau tau? Barang couple." ucapan Namjoon membuat Jungkook terbatuk dan Jimin berubah menjadi batu.

Tanpa mereka sadar, Hyosang masih disana, berdiri tidak jauh dari mereka dan mendengar dengan jelas ucapan Namjoon.

.

.

.

Selesai makan malam, mereka berkumpul di ruang tamu. Jimin, Jungkook dan Baekhyun ada di dapur, selain berberes, mereka juga sekalian berbagi cerita, terutama Baekhyun. Ini pertama kalinya dia bertemu Jimin sejak ketahuan pacaran dengan Chanyeol dan hubungan pertemanan mereka menjadi cukup renggang. Bersyukur karena Yoongi membuat acara di apartemennya, jadi Baekhyun ada alasan untuk bertemu Jimin.

Keadaan masih canggung anatara Jimin dan Baekhyun, sementara Jungkook sudah mulai jengah dan menatap keduanya geram.

"Sampai kapan kalian perang dingin?" mulai Jungkook.

"Tidak ada yang perang dingin" Jimin melirik Jungkook dan dengan sengaja mengabaikan Baekhyun yang duduk disamping Jungkook.

"Jim, aku minta maaf" mulai Baekhyun. "Aku tidak bermaksud menyembunyikan apapun darimu. Aku.. aku hanya…"

"Hanya apa? Kau berkencan dengan orang lain dan tidak memberitahuku, aku tidak akan ada masalah. Tapi ini, kau berkencan dengan hyung-ku, Byun. Kau bahkan tidak bertanya apapun soal hyung-ku padaku!" Jimin menatap kesal pada Baekhyun.

"Jim, aku malu!" Ucap Baekhyun kesal.

Jungkook yang menonton hanya tersenyum. Dia suka melihat ada drama didepan matanya.

"Aku sahabatmu! Apa yang harus membuatmu malu!" geram Jimin.

"Soalnya aku masih anak kuliah! Chanyeol sudah bekerja dan dia terkenal. Kau bisa bayangkan menjadi aku? Aku bahkan tidak berani bermimpi bisa dekat dengan Chanyeol. Kami tidak sepadan, itu yang membuatku malu" ungkap Baekhyun.

"Siapa yang bilang kau dan Hyung-ku tidak sepadan, huh? Jangan mengecilkan dirimu yang sudah kecil itu, Byun. Kau membuatku kesal!" geram Jimin.

"Makanya aku minta maaf sekarang! Aku tidak mau kita bertengkar! Jiminie, ayo berteman lagi!" Baekhyun menggebrak meja didepannya.

"Kalian ini ingin berkelahi atau minta maaf?" Jungkook melirik bergantian antara Jimin dan Baekhyun. "Urat dileher kalian hampir putus" lanjutnya lagi.

"Ya sudah, sini peluk aku! Kita baikan!" Jimin merentangkan tangannya, menunggu Baekhyun datang dan memeluknya.

"Dasar orang-orang aneh, kenapa juga aku ada disini" komentar Jungkook dan berjalan meninggalkan Jimin dan Baekhyun di dapur.

Jungkook mendudukan diri ditengah-tengah Taehyung dan Ong, dia sengaja, karena Taehyung terlihat akrab dengan Ong, tentu saja Jungkook tidak suka akan hal itu.

"Sudah bergosipnya?" Taehyung tersenyum lebar dan merentangkan tangannya dibahu Jungkook.

"Kami tidak bergosip, hyung" Jungkook memutar bola matanya.

"Kookie, dimana Jimin dan Baekhyun?" Chanyeol melirik pada Jungkook yang sedang duduk diam disamping Taehyung.

"Di dapur, hyung. Hyung mau pulang?" Jungkook bertanya penasaran.

"Ne. aku harus mengantar Baekhyun pulang. Kau menginap di rumah kami?" Chanyeol menatap Jungkook datar.

"Ne. aku dan Jimin sudah berjanji ingin menonton film bersama" Jungkook tersenyum kecil.

"Biar aku saja yang mengantar Jimin dan Jungkook ke rumah, Sajangnim" Yoongi bersuara.

"Ya sudah kalau begitu, titip mereka berdua ya. aku permisi ke dapur dulu"Chanyeol berdiri. Belum sempat Chanyeol berjalan, Baekhyun dan Jimin sudah muncul dari dapur.

"Pulang sekarang?" tawar Chanyeol.

"Kau bertanya padaku atau Baekhyun, hyung?" Jimin melipat tangannya di dada.

"Tentu saja Baekhyun, kau sudah punya Yoongi. Biar Yoongi saja yang mengantarmu pulang" ucap Chanyeol.

"Oh ya, malam ini Jungkook akan menginap"

"Iya. Jangan berisik dan jangan berteriak tengah malam" Chanyeol memutar bola matanya. Kebiasaan Jungkook dan Jimin jika di rumah adalah berteriak tanpa alasan yang jelas.

"Okidoki" Jimin terkekeh dan mendorong bahu Baekhyun agar mendekat pada Chanyeol.

"Kami permisi pulang lebih dulu, supirku sudah di bawah" pamit Chanyeol. "Yoongi, terimakasih makan malamnya"

"Ne, sajangnim" Yoongi berdiri, ingin mengantarkan Chanyeol dan Baekhyun ke depan pintu.

"Jin, aku pulang dulu" pamit Chanyeol pada Seokjin dan membuat Jimin memutar bola matanya kesal. "Semuanya, aku duluan" pamit Chanyeol, sementara Baekhyun hanya menurut, karena dia masih asing dengan orang-orang yang ada disana.

"Aku juga harus pulang" Daniel berdiri canggung saat matanya melihat Jimin yang memeluk tangan Yoongi.

"Sekalian, Ong. Kalian searah, kan?" ucap Yoongi asal.

"Aku pulang dengan Seunghoon dan Joohyun hyung saja" tolak Seungwoo.

"Sudah, dengan Daniel saja" Yoongi tersenyum mencurigakan.

"Tapi…"

"Tidak apa, kan, Niel?" Yoongi menatap lurus pada Daniel.

"H-huh? Oh, iya" Daniel mengangguk kaku. Setiap Yoongi menyebut namanya, Daniel selalu salah tingkah, jadi ya, maklumi saja.

"Kau mengusirku?" Seungwoo menatap sedih pada Yoongi dan Jimin yang sedang tertawa.

"Ya sudah, kami juga pulang. Sudah jam sebelas malam" Joohyun berdiri, mengambil kaleng beer-nya dan menaring Seunghoon hingga berdiri dari duduknya. "Hoseok, ikut kami atau kau bawa mobil sendiri?"

"Aku ikut Taehyung, hyung. Terimakasih tawarannya" Hoseok tersenyum lebar.

"Kookie, ku tinggal disini tidak apa?" Taehyung melirik Jungkook yang duduk disampingnya.

"Hyung mau pulang?" Jungkook menegakkan duduknya.

"Iya. Sudah malam. Tidak apa?"

"Tidak apa. Lagian nanti yoongi hyung yang akan mengantar kami"

"Ya sudah kalau begitu, baik-baik dirumah Jimin" Taehyung menggusak rambut Jungkook dan berdiri, diikuti Jungkook dibelakangnya.

"Aku juga per.."

"Nanti dulu" potong Hyosang saat Namjoon ingin permisi pulang.

Namjoon hanya terdiam dan kembali duduk ditempat duduknya. Matanya mencuri pandang kearah Seokjin yang sedang berdiri disamping Jimin untuk mengantarkan para tamunya pulang.

Saat semua tamu sudah pulang, Yoongi, Jimin, Jungkook dan Seokjin kembali lagi keruang tamu. Seokjin dengan sigap memasukan kaleng minuman yang sudah kosong kedalam plastic bersama Jimin hingga suara Hyosang membuat mereka berhenti beres-beres.

"Duduk dulu, Jin, Jiminie" Hyosang berucap tenang.

Jimin dan Seokjin saling pandang dan kemudian duduk berdampingan, sementara Yoongi duduk disamping Jungkook.

"Papa, ada apa?" Yoongi melirik pada Hyosang yang sedang duduk tegak di sofa.

"Jin, aku rasa ada yang perlu kau katakan disini" mulai Hyosang.

Jimin merasa dadanya berdebar, matanya melirik Jungkook yang juga sedang membolakan matanya gugup.

"Soal apa?" Seokjin menatap Hyosang kebingungan.

"Min Appa, aku rasa.."

"Duduk dulu, Jiminie" ucap Hyosang saat Jimin terlihat ingin menghidari percakapan. "Kau sudah masuk ke keluarga Min, jadi kau juga harus disini" Hyosang tersenyum menghadap Jimin, sementara Yoongi sudah tersenyum mengangguki ucapan Appa-nya.

"Min Ahjussi, aku rasa aku harus permisi…"

"Tidak Namjoon, kau juga disini" Hyosang menatap lurus pada Namjoon.

"Ada apa ini?" Seokjin menatap bingung pada Hyosang.

"Mungkin kau bisa menceritakan soal cincin mu dan Namjoon pada kami?" tembak Hyosang.

.

.

.

TBC