"Cincin?" Yoongi menaikkan alisnya menatap Seokjin dan Namjoon secara bergantian.

"Iya. Cincin yang dipakai Appa-mu dan Namjoon, sama." Jelas Hyosang.

Yoongi menatap tajam pada Namjoon yang sedang menunduk dan mendecak lidah, kemudian memberanikan diri menatap pada Yoongi. "Aku rasa…"

"Kalian bersama lagi?" potong Yoongi tajam.

Jimin bergerak mendekat pada Yoongi, memeluk tangan Yoongi dang mengelusnya pelan sambil berbisik agar Yoongi tidak marah.

"Yoon, ini…"

"Apa yang membuat kalian berpikir kalau aku akan berubah pikiran!?" Yoongi meledak.

Jimin menarik tangan Yoongi kuat saat merasa Yoongi hendak berdiri dari duduknya.

"Hyung, dengarkan dulu" mohon Jimin.

"Kau tau?" Yoongi menatap tajam pada Jimin yang ketakutan disampingnya.

"Jimin tidak tau apa-apa" bela Namjoon.

"Jadi kau menutupi ini dariku?" desak Yoongi seolah tidak memperdulikan ucapan Namjoon barusan.

"Yoon, Papa rasa.."

"Lepaskan aku!" Yoongi menghepaskan tangan Jimin yang memeluknya. Jimin gemetar, matanya mulai berkaca-kaca karena bentakan Yoongi barusan.

"Yoon, duduk!" perintah Hyosang.

Yoongi yang sudah berdiri dan menatap semua yang berada di ruang tamunya dengan tatapan marah, kembali mendudukan diri. Saat matanya menangkap Jimin yang menahan isak tangis disampingnya, saat itu juga Yoongi merasa sangat bersalah.

.

.

.

RUN TO YOU

.

.

.

"Apa kau pikir dengan marah semua akan jelas?" Hyosang menatap lurus pada Yoongi, nada suaranya yang sempat meninggi, kembali normal dan tenang.

Yoongi hanya mendecih pelan dan duduk dengan tenang.

"Papa ingin mereka menjelaskan apa yang terjadi diantara mereka, tapi sikapmu sangat kekanakan" lanjut Hyosang. "Kau hanya marah tanpa berusaha memahami apa yang terjadi. Itu egois namanya"

"Kau dengar apa yang Papa ucapkan, Min Yoongi?" Hyosang menuntut.

"Iya, Pa." ucap Yoongi pelan.

"Biarkan mereka menjelaskan dan jangan potong ucapan mereka." Perintah Hyosang.

"Ne, Papa. Aku mengerti" ucap Yoongi lagi.

Keadaan ruang tamu yang tegang membuat suasana seperti mencekik semua orang yang berada disana. Jungkook sudah melirik-lirik khawatir pada Jimin, dia juga takut, karena ini pertama kalinya dalam hidupnya dia melihat Yoongi marah.

"Namjoon, bisa jelaskan?" Hyosang menatap Namjoon saat Yoongi dirasa sudah cukup kooperatif dan tenang.

"Kami berkencan" aku Namjoon.

Namjoon menatap Hyosang tepat dimata, mengabaikan tatapan Yoongi yang sudah menatap tajam padanya, sementara Seokjin hanya menundukkan kepala. Situasi seperti ini yang belum siap dia hadapi.

"Sudah berapa lama?" Hyosang kembali bertanya setelah berhasil mengendalikan keterkejutannya.

"Kami baru kembali bersama"

"Apa kau tau siapa yang sedang kau ajak berkencan?"

"Tentu. Aku sangat tau. Aku juga sangat paham tujuan dari pertanyaanmu, tuan Min." Namjoon melirik sekilas pada Yoongi dan kembali menatap kearah Hyosang. "Aku mencintai mantan pasanganmu" ucap Namjoon tegas.

Keadaan riuh saat Yoongi menendang meja tiba-tiba, pinggiran meja berhasil mengenai lutut Namjoon dengan keras. Seokjin buru-buru menarik Yoongi menjauh dari Namjoon saat Yoongi sudah berdiri dan bersiap menyerang Namjoon.

"Kau brengsek, Kim Namjoon!" Maki Yoongi. "Lepaskan aku, Appa!"

"Yoongi, jangan" Seokjin memeluk Yoongi dari belakang dengan erat. Menjauhkan Yoongi dari Namjoon.

"Min Yoongi!" bentak Hyosang keras.

"Dia sudah lancang, Papa!" balas Yoongi sama kerasanya. " Kau pikir kau siapa berani mengatakan itu didepanku dan orangtuaku?" Yoongi berteriak marah, meskipun sudah tidak lagi memberontak dipelukan Seokjin.

"Lalu kau ingin apa?" tantang Hyosang.

"Apa maksud Papa?" Yoongi menatap bingung pada Hyosang.

"Seokjin, kau mencintai Namjoon?" Hyosang menatap Seokjin yang berdiri kaku dibelakang Yoongi dan mengangguk sekali tanpa berani menatap Hyosang.

"Mereka saling mencintai. Kau ingin mereka berpisah?"

"Mereka tidak pantas bersama!" teriak Yoongi.

"Kelakuanmu yang seperti ini yang tidak pantas!" bentak Hyosang. "Kau ingin Appa-mu sendirian seumur hidup?"

"Tapi umur mereka, status mereka, apa yang akan dikatakan orang-orang nantinya, Pa! aku tidak egois, aku hanya ingin melindungi Appa dari omongan orang diluar sana!" Yoongi melepas pelukan Seokjin diperutnya dan menatap Papa-nya tajam. "Aku ingin Appa menikah, tapi bukan dengan Namjoon!"

"Lalu kau ingin siapa yang akan menikahi Appa-mu? Kau tidak punya hak sama sekali untuk menentukan siapa yang Seokjin pilih sebagai pendampingnya, Min Yoongi. Kau anak kami, tapi kau juga harus mengerti yang namanya privasi."

"Privasi" cibir Yoongi.

"Kalau kau masih berkeras, Papa akan melakukan hal yang sama untukmu. Kau dan Jimin, batal menikah!" putus Hyosang. "Papa punya hak. Kau anakku, aku berhak menentukan siapa yang akan jadi calon menantu dikeluarga kita, cukup adil, kan?"

Jimin membolakan matanya menatap Hyosang. Dia tidak ingin pisah dengan Yoongi. Mendengar ucapan Hyosang barusan, Jimin menatap kearah Yoongi, seolah memohon pada Yoongi untuk mempertahankannya.

Yoongi terdiam kaku, matanya bertatapan dengan mata Jimin yang berair dan rasa bersalah semakin besar dirasakan oleh Yoongi.

"Jangan menyakiti kalua tidak ingin disakiti, Nak." Hyosang melembut. "Papa paham apa yang kau takutkan, tapi sikapmu sekarang ini tidak benar. Kau menyakiti sahabat dan Appa-mu sekaligus."

"Hyung, " panggil Namjoon pelan dan berdiri dari duduknya, berhadapan dengan Yoongi. "Aku sangat serius. Kalau kau takut aku hanya main-main, kau sangat salah. Cincin yang kami kenakan., itu tanda kalau aku benar-benar serius. Aku melamar Seokjin kemarin." Aku Namjoon.

Jungkook yang sejak tadi hanya diam, membolakan matanya, terkejut dengan fakta yang baru saja Namjoon ucapkan, begitu juga dengan Hyosang, Jimin dan Yoongi.

"Aku sudah berencana ingin mengatakan ini padamu. Aku ingin mengaku, tapi keadaan malah seperti ini. Hyung, aku tidak ingin membela diri, tapi, diluar sana, mau kau bersikap sebaik apapun, orang-orang tetap akan mencari celah untuk menjelekkanmu. Aku hanya ingin menutup semua indra yang ku punya soal tanggapan orang lain soal hubungan yang sedang aku jalani." Namjoon berucap pelan.

"Orang-orang mungkin akan mencela hubungan kami, tapi ku mohon, jangan jadi salah satu dari mereka, hyung" mohon Namjoon.

Yoongi terdiam mendengar ucapan Namjoon. Sementara Hyosang sudah tersenyum kecil saat melihat Yoongi seperti sedang berpikir keras atas tindakannya barusan.

"Yoongi, Appa mohon…" guman Seokjin pelan.

Yoongi menghela nafas pelan dan berjalan menuju kamarnya tanpa berkata apapun lagi. Saat Seokjin ingin menyusul Yoongi ke kamar, Hyosang menahannya.

"Dia butuh waktu sendiri. Biarkan Yoonji menginap disini malam ini. Besok pagi dia akan ke rumah dan aku rasa dia akan berubah pikiran" Hyosang tersenyum kecil. "Dan Namjoon, jaga Seokjin untuk kami. Aku orang pertama yang akan menghajarmu kalau kau berani menyakitinya" ancam Hyosang main-main.

Namjoon membolakan matanya. Apa baru saja Namjoon sudah mendapat restu dari Hyosang?.

"Dan Jimin, maaf karena sikap kasar Yoongi dan ucapanku tadi. Besok dia pasti minta maaf, aku tau sifatnya, jangan menangis lagi. Oh, kau dan Jungkook, aku yang akan mengantar kalian pulang" putus Hyosang.

.

.

.

TBC

Bentar lagi end….