Yoongi membuka pintu kamarnya dan mengernyit heran melihat ada seseorang tertidur diatas tempat tidurnya, saat Yoongi mendekat, Yoongi bisa melihat jelas siapa yang tertidur disana. Jimin terlihat sangat pulas tertidur.

Sudah dua hari sejak kejadian diapartemen Yoongi dan sudah dua hari juga Yoongi tidak menghubungi Jimin sama sekali, Yoonji yang sempat menginap hariitupun hanya diantarkan sampai depan pintu rumah saja oleh Yoongi esok pagi-nya.

Dan melihat Jimin tertidur ditmpat tidurnya, memakai piyama milik Yoongi dan bergelung dengan selimut milik Yoongi, mau tidak mau, Yoongi tersenyum hangat dan rasa marah dan rasa bersalah yang seimbang, mendadak mulai hilang, berganti dengan rasa rindu melihat namja yang sedang tertidur ditempat tidurnya saat ini.

.

.

.

RUN TO YOU

.

.

.

Jimin terbangun saat alarm dari ponselnya sayup-sayup terdengar. Semalam dia sudah minta izin pada Chanyeol untuk menginap di rumah Yoongi dan Jimin agaknya bersyukur karena Chanyeol sangat mudah memberinya izin kali ini.

Jimin tersenyum sedih melihat Yoongi tidak ada ditempat tidur, tempat tidur itu masih terlihat kosong, sama seperti saat Jimin belum tidur semalam.

Jimin berjalan malas menuju kamar mandi, berencana membuat sarapan untuknya sendiri sebelum berangkat ke kampus. Selesai mandi, Jimin berjalan ke dapur untuk membuatkan sarapan saat mata Jimin tidak sengaja melihat lampu studio milik Yoongi yang menyala.

Pelan-pelan Jimin berjalan kedekat pintu dan menempelkan telinganya didaun pintu, bisa Jimin dengar suara musik sayup-sayup terdengar dari dalam, itu artinya Yoongi pulang semalam, tapi tidak tidur.

"Jiminie rindu sekali dengan Yoongi hyung" Jimin mengelus pintu didepannya dan mengerucutkan bibirnya, kemudian berlalu dari depan pintu studio milik Yoongi.

Jimin membuatkan Yoongi sarapan seadanya karena isi kulkas Yoongi yang memang tidak ada apa-apa untuk diolah kecuali telur. Sebelum pergi, Jimin kembali melirik kearah pintu dan mendesah kecewa karena Yoongi tidak juga keluar dari studionya. Setidaknya itu lebih baik daripada Jimin diusir karena sudah sangat lancing masuk apartemen Yoongi tanpa izin.

Pintu baru saja tertutup dari luar saat Yoongi keluar dari studio, namja pucat itu terlihat kusut dengan lingkaran hitam disekitar matanya. Proyek kali ini membuat Yoongi harus memutar otak lebih keras, karena Chanyeol memintanya membuatkan lagu untuk dua idol grup sekaligus.

Yoongi menguap dan berjalan menuju dapur, matanya melirik ke meja makan dan tersenyum kecil saat melihat telur dadar dan roti sudah tersedia diatas piring dengan sebuah notes kecil diatasnya. Itu tulisan Jimin.

'I Miss You, :('

Yoongi tersenyum hangat, mendudukan diri dan mulai memakan sarapan pertama yang dimasak Jimin untuknya.

"Enak" Yoongi terkekeh sendiri, mengambil kertas tulisan Jimin dan menyimpannya dalam buku coret-coretan lagu miliknya sebelum pergi ke kamar untuk tidur.

.

.

.

"Namjoon, biar aku dulu yang bicara pada Yoongi" bujuk Seokjin. Keduanya sudah sampai di parkiran apartemen Yoongi saat ini.

"Terlalu lama, Seokjin. Ini harus diselesaikan dengan cepat" Namjoon tersenyum menenangkan dan membuka pintu mobilnya.

Seokjin tetap bergeming ditempat duduknya, dia masih takut berhadapan dengan Yoongi yang sepertinya masih saja marah padanya.

"Tidak ingin turun?" Namjoon sedikit membungkuk untuk melihat Seokjin didalam mobil.

"Namjoon-ah…" rengek Seokjin.

"Tidak, sayang. Cukup aku bersabar satu hari. Aku tidak ingin begini terus. Kau bisa menungguku di mobil" ucap Namjoon.

"Andwae!"

"Lalu?"

"Aku takut Yoongi masih marah…" rengek Seokjin.

"Kita tidak akan tau kalau tidak mencari tau. Ikut atau tinggal?"

Seokjin mendegus kesal, menatap Namjoon tajam dan membuka Seatbeltnya dengan terpaksa untuk kemudian turun dari mobil.

"Kalau Yoongi menyuruh kita…"

"Shhh…ikut saja. Sini" Namjoon mengulurkan tanganya kearah Seokjin.

"Tapi…"

"Tidak apa, kalau Yoongi hyung marah, aku bisa paham. Tapi masalah ini perlu penyelesaian" Namjoon merangkul bahu Seokjin dan membawa Seokjin untuk masuk ke gedung apartemen Yoongi.

Keduanya sudah memencet bell berkali-kali tapi tidak ada jawaban dari dalam apartemen Yoongi. Namjoon yakin sekali kalau Yoongi ada di rumah karena dia sudah menanyai Jimin lebih dulu sebelum datang ke apartemen Yoongi. Kemungkinan Cuma dua, Pertama, Yoongi masih di studio, yang kedua, Yoongi sedang tidur.

"Buka saja, bagaimana?" tawar Namjoon.

"Itu tidak sopan, kan?" Seokjin mengernyit.

"Ini apartemen anakmu, ngomong-ngomong" Namjoon mengingatkan.

Seokjin lagi-lagi memasang wajah minta dikasihani. "Namjoon, Yoongi masih marah…" rengek Seokjin.

Namjoon menarik pinggang Seokjin mendekat, mencium bibir Seokjin sekilas lalu tersenyum kecil. "Aku tau. Kita Cuma perlu menenangkannya."

Seokjin berkedip-kedip, dadanya berdebar halus dan pipinya terasa panas. Apa baru saja Namjoon mencium bibirnya? Oh, wow.

"Y-ya sudah" Seokjin berubah gugup, menggeser badan Namjoon dan memasukan password milik Yoongi.

Apartemen itu terbuka, Seokjin yang lebih dulu masuk kedalam. Keadaannya rapi dan tenang. Seokjin melirik Namjoon yang berdiri dibelakangnya yang sedang menatapnya bingung.

"Aku rasa Yoongi tidur" tebak Seokjin. Seokjin berjalan mendekat ke arah pintu kamar, membuka pintu kamar Yoongi dan menemukan anaknya sedang tertidur dengan pulas.

"Yoongi baru tertidur" ucap Seokjin, kemudian menarik pelan pintu kamar itu hingga tertutup kembali.

"Dari mana kau tau?"

"Aku Appa-nya. Aku jelas tau dia baru tidur" Seokjin menaikkan alisnya.

Namjoon terkekeh dan berjalan mendekat pada Seokjin. "Kita tunggu kalau begitu".

.

.

.

"Kau kenapa?" Taehyung menaikan alisnya melihat Jimin yang terlihat seperti tidak punya semangat hidup. Pipinya bersandar malas diatas meja kantin dan matanya terlihat kosong.

"Papa anak-anak…" ucap Jimin tanpa merubah posisinya.

"Kenapa? Yoongi hyung mencampakkanmu?"

"Kau mau ku hajar?" Jimin melirik sinis pada Taehyung dan kembali menjatuhkan kepalanya keatas meja.

"Lalu kenapa? Kalian bertengkar?" Tanya Taehyung lagi.

Jimin mengangguk lemas. "Aku rindu sekali dengan papa anak-anak" guman Jimin.

"Bisa tidak kau memanggil Yoongi hyung dengan panggilan yang normal saja?"

"Suamiku?"

"Yang lain" komentar Taehyung.

"Belahan hatiku?"

"Ya Tuhan…"

"Manjaku?"

"Kau mau ku lempar dengan meja?" Taehyung berubah emosi mendengar nama-nama panggilan Jimin yang terdengar mengerikan ditelinganya.

"Ya sudah, papa anak-anak saja" Jimin berucap lemah.

"Terserahlah." Taehyung memutar bola matanya. "Oh iya, kalian kenapa? Kau belum menjawab kalian bertengkar karena apa"

"Kau tidak perlu tau. Kau cukup tau kalau aku dan papa anak-anak sedang bertengkar. Ini urusan rumah tangga, anak kecil sepertimu mana mungkin paham" guman Jimin.

"Yah, Park, kau pikir kau ini beda berapa tahun denganku? Sok tua" cibir Taehyung.

"Tae, kalau Yoongi hyung meminta putus, aku harus apa?" Jimin menatap Taehyung dengan tatapan super sedih miliknya.

"Cari yang baru-lah" ucap Taehyung asal.

"Tapi aku tidak mau diputuskan" ucap Jimin lagi.

"Ya sudah merengek saja tidak mau putus kalau Yoongi hyung minta putus" jawab Taehyung asal.

"Aku sangat sayang pada Yoongi hyung" Jimin menatap meja didepannya dengan tatapan sedih. "Dia mengabaikanku, Tae"

"Kau benar-benar sedih?" Taehyung memajukan tubuhnya dan menatap Jimin dengan serius. Saat dilihatnya Jimin mulai menangis, barulah Taehyung sadar kalau kali ini Jimin benar-benar serius. "Y-Yah! Jangan menangis! Taehyung berubah panic.

"Aku.. aku tidak mau, Tae. Sampai matipun aku tidak akan rela Papa anak-anak bersama orang lain" Jimin menghapus kasar air matanya.

"Mana mungkin Yoongi hyung meninggalkanmu, bodoh" ucap Taehyung panic.

"Kau harus membantuku kalau Yoongi hyung meninggalkanku" paksa Jimin.

"Iya. Berhenti menangis. Kau membuat kita jadi pusat perhatian, bodoh" kesal Taehyung.

Diujung lain, Daniel yang kebetulan ada di kampus melihat Taehyung dan Jimin dengan penasaran, tangannya bergerak mengambil ponsel dan mengetik sesuatu di ponselnya.

'Jimin-mu menangis, Yoongs'

.

.

.

Yoongi terbangun saat hari sudah sore, Yoongi bergerak malas diatas tempat tidur dan mendudukan diri dengan mata setengah terpejam. Sayup-sayup yoongi bisa mendengar suara TV yang menyala karena pintu kamarnya yang sedikit terbuka.

Yoongi membuka pintunya dan mendapati Seokjin yang tertidur di sofa panjang, sementara Namjoon sedang berdiri dari duduknya saat melihat Yoongi keluar kamar.

"Kita perlu bicara" ucap Namjoon pelan.

Yoongi menatap tajam pada Namjoon.

"Appa-mu sedang tidur. Aku takut dia terganggu." Namjoon melirikkan kepalanya kearah Seokjin yang tertidur dengan jas Namjoon yang menyelimutinya.

"Ke balkon" Yoongi berjalan mendahului Namjoon.

Pintu balkon Namjoon tutup rapat agar Seokjin tidak mendengar apapun umpatan kasar yang mungkin akan keluar dari mulut Yoongi nanti. Dia tidak ingin melihat Seokjin menangis, biarkan Namjoon yang menanggungnya sendiri.

"Aku tau kau marah" mulai Namjoon.

"Apa kau pikir kau tidak akan melakukan hal yang sama kalau ada di posisiku?" tantang Yoongi.

Namjoon mengehela napas pelan. "Yoongi hyung, aku minta maaf. Aku hanya ingin bilang itu. aku minta maaf karena membuatmu merasa tidak nyaman dengan hubunganku dan Appa-mu."

Yoongi mendecih sinis.

"Tapi aku tidak akan minta maaf karena sudah jatuh cinta pada Appa-mu" sambung Namjoon. "Kau boleh memukulku sepuasmu sebagai pelampiasan…"

Tanpa Namjoon duga, Yoongi benar-benar memukulnya hingga terhuyung ke pagar pembatas balkon. Namjoon memegang erat pagar itu untuk menahan tubuhnya yang hampir jatuh kelantai. Kegaduhan yang terjadi di balkon, membuat Seokjin terbangun. Saat Seokjin menemukan Namjoon yang terkapar karena dipukuli oleh Yoongi, Seokjin berteriak dan menarik Yoongi untuk menjauh.

"Yoongi, jangan…" isak Seokjin memohon. "Jangan begini…."

Yoongi terdiam kaku, pelan Yoongi melepas pelukan Seokjin pada tubuhnya dan menatap Seokjin dengan tajam.

"Kau membelanya, Appa?" guman Yoongi tak percaya.

"Yoongi, maaf…" Seokjin menghapus air matanya cepat-cepat. Saat Namjoon terbatuk dengan bibir yang berdarah, Seokjin buru-buru menolong Namjoon agar bisa duduk dengan benar.

Yoongi terdiam melihat kejadian didepannya. Appa-nya sangat khawatir melihat keadaan Namjoon yang babak belur, membuat sesuatu di dada Yoongi terasa tercubit.

"H-hyung…" Namjoon berucap pelan. "Aku serius dengan hubungan ini…" mulainya kesulitan. Seokjin membantu Namjoon berdiri dan terus berada disamping Namjoon untuk membantu Namjoon berdiri dengan benar.

"Aku sudah bertemu keluargaku. Aku sudah memperkenalkan Seokjin bahkan Yoonji ke keluargaku, hyung. Aku tau kau mungkin tidak mudah mempercayaiku, tapi apa tidak bisa kau melihat sedikit saja kalau aku benar-benar serius?" Namjoon mendesis karena bibirnya yang terkena pukulan Yoongi terasa mendenyut nyeri.

"Aku tidak akan menyakiti Seokjin, aku bersumpah. Kau bisa menjadi orang pertama yang membunuhku kalau aku berani macam-macam pada Appa-mu. Aku hanya ingin membahagiakan Seokjin, itu saja" aku Namjoon.

Yoongi terdiam, matanya menatap pada Seokjin yang menunduk didepannya.

"Appa menginginkan hubungan ini?" Yoongi bertanya dingin.

Seokjin mendongak takut-takut, matanya melirik Namjoon seperti sedang meminta izin sebelum akhirnya mengangguk ragu.

"Appa tau konsekuensinya, kan?"

Seokjin kembali mengangguk.

Yoongi menggusak wajahnya dengan telapak tangan dan menghela napas frustasi. "Terserah kalian saja" ucap Yoongi dan berlalu dari balkon.

"HYUNG, TERIMAKASIH" Namjoon tersenyum lebar dan membuat bibirnya kembali nyeri.

"Aku akan membunuhmu kalau kau tidak membuat Appa-ku bahagia, Kim Namjoon!" ancam Yoongi.

"Tentu!" Namjoon berucap senang.

"Ya sudah, pulang sana." Usir Yoongi. "Appa, nanti malam aku akan pulang ke rumah. Masakkan aku sesuatu"

"N-ne" Seokjin mengangguk kaku.

"Cepat pulang! Kenapa masih disini. Obati lukamu itu" kesal Yoongi.

"Ne." Namjoon mengangguk dan berlari memeluk Yoongi sambil mengucapkan terimakasih berkali-kali.

Namjoon mendapatkan lampu hijaunya.

.

.

.

"Sudah pulang?"

Jimin terperanjat saat mendengar suara berat Yoongi langsung menyambutnya.

"Yoongi hyung?" cicit Jimin.

"Sini" Yoongi menepuk sofa yang diduduki, memerintah Jimin agar duduk disana.

"Hyung masih marah?" Jimin bergeming ditempatnya.

"Tidak"

"Sungguh?"

"Iya" Yoongi berucap pelan.

"Boleh peluk?" Tanya Jimin sedih.

Yoongi terkekeh dan merentangkan tangannya lebar-lebar. "Sini"

Jimin berlari kecil dan menubrukkan tubuhnya pada tubuh Yoongi, memeluk namja pucat itu erat-erat dan menangis dibahu Yoongi.

"Maaf…" sesal Yoongi.

"Jiminie rindu sekali dengan Yoongi hyung" isak Jimin.

"Maaf aku kelewatan" Yoongi mengusap-usap bahu Jimin yang bergerak-gerak karena menangis.

"Hyung jangan marah lagi" rengek Jimin.

"Tidak, aku tidak marah lagi" Yoongi mencium kepala Jimin pelan.

"Jiminie minta maaf…" rengek Jimin lagi.

"Sudah, tidak perlu. Cepat mandi"Yoongi mengurai pelukan Jimin dan menghapus air mata Jimin yang masih turun.

"Kita akan pergi?" Tanya Jimin penasaran.

"Iya, kita akan ke rumahku. Makan malam disana"

"Hyung sudah berbaikan dengan Kim appa?" Jimin bertanya antusias.

"Ne."

"Kapan?"

"Tadi" jawab Yoongi malas.

"Lalu Namjoon hyung?"

"Sudahlah, ayo ku antar pulang, aku harus mandi"

"Yoongi hyung…" Jimin bertahan dengan menduduki paha Yoongi.

"Wae?"

"Cium…" rengek Jimin.

"Setelah mandi" Yoongi mengajukan syarat.

"Hyuuungg…" Rengek Jimin lagi.

"Iya sayang, nanti dicium. Sekarang ayo pulang, kau harus mandi. Kau tidak ada baju di apartemen kita" Yoongi mendorong pelan Jimin hingga berdiri.

"Tapi hyung…"

"Kau juga perlu membawa bajumu kesini" ucap Yoongi santai.

"Huh?"

Yoongi menarik pinggang Jimin mendekat dan mengecup bibir Jimin sekali. "Malam ini kau tidur disini lagi. Aku rasa kita perlu melepas rindu." Bisik yoongi didepan bibir Jimin.

Jimin merona merah, wajahnya disembunyikannya dibahu Yoongi dan memeluk Yoongi erat-erat. Si pucat ini kalau sudah nakalnya kambuh, Jimin bisa-bisa sakit jantung karenanya.

"Aku merindukanmu, Jiminie" bisik Yoongi tulus. "Aku tidak akan macam-macam, tenang saja"

Jimin melepas pelukannya saat mendengar ucapan Yoongi barusan, tidak macam-macam? Apa-apaan!

"Ada apa dengan wajah protesmu ini, Jiminie" Yoongi terkekeh dan menggusak rambut Jimin.

"Hyung, tapi Jiminie ingin macam-macam" protes Jimin. Kali ini, Yoongi yang memerah. Terkadang, punya pacar terlalu jujur, sulit juga.

.

.

.

TBC