"Hyung, aku rasa kamar ini cocok dijadikan kamar bayi, iya kan?" Jimin menatap berbinar kearah Yoongi.
"Menurutmu begitu?" Yoongi tertawa kecil dan menarik Jimin mendekat dengan memeluk bahu Jimin.
Jimin mengangguk antusias.
"Kita bisa mengecatnya dengan warna biru kalau dia laki-laki dan warna pink kalau perempuan" Jimin terkekeh. "Jiminie tidak sabar untuk menikah dan punya anak" Jimin merona.
"Kita akan menikah secepatnya, tapi untuk punya anak, aku rasa tidak dalam waktu dekat ini, Jiminie"
Ucapan Yoongi membuat senyum dibibir Jimin menghilang. Jimin menatap bingung pada Yoongi. "Kenapa?"
Yoongi tersenyum dan menatap Jimin, keduanya saling kontak mata dengan ekspresi sangat berbeda pada keduanya. "Aku tidak siap"
Jimin tersenyum kaku mendengar jawaban Yoongi.
.
.
.
RUN TO YOU
.
.
.
"Aku sibuk" Jungkook memutar bola matanya kesal saat melihat Jimin di depan pintu rumahnya. Sedetik kemudian, wajah kesal yang dibuat-buat itu terganti dengan wajah panic saat Jimin didepannya sedang tersenyum lebar, tapi dia menangis.
"Ah, WAee?" Jungkook menggusak rambutnya frustasi dan menarik Jimin masuk kedalam rumah.
"Apa lagi kali ini?" Jungkook berjalan mondar-mandir didalam kamarnya. Jimin sejak tadi hanya diam dan berkali-kali menghapus air matanya tanpa bicara.
"Yah! Kalau kau.. kalau kau hanya menangis, aku tidak bisa mengerti!" suara Jungkook agak meninggi untuk menutupi getaran suaranya, karena melihat Jimin menangis, Jungkook juga jadi ingin menangis. Bodoh sekali.
"Aku sedang sedih…" mulai Jimin, suara tangisnya kini terdengar dan sesenggukan. Jimin merebahkan badannya ketempat tidur Jungkook dan menangis dibawah bantal.
Jungkook mengedip-ngedipkan matanya, menahan agar air matanya tidak ikut turun. "Makanya cerita! Aku tidak paham kenapa kau harus menangis di sore hari yang cerah ini!" omel Jungkook.
"Yoongi hyung!" Jimin melempar bantal itu menjauh darinya dan mendudukan diri lagi di tempat tidur Jungkook.
"Kenapa?"
"Dia… dia.. dia tidak mau punya anak, Jungkook" Jimin menangis makin keras. Bahunya bahkan bergetar. "Aku sangat sedihhh…."
Jungkook menahan diri agar tidak emosi dan menghajar Jimin sekarang juga. "Yah, brengsek! aku pikir ada apa" kesal Jungkook. "Wajah saja Yoongi hyung tidak mau punya anak, kalian belum menikah. Apa kau sebodoh itu?" geram Jungkook.
"Kami akan menikah! Aku ingin punya anak yang lucu dari yoongi hyung, tapi Yoongi hyung tidak mau…." Jimin menghapus lagi air matanya yang turun makin deras.
Jungkook memutar bola matanya kesal. "Yah, Park Jimin,jelas saja Yoongi hyung tidak mau. Dia takut anaknya sepertimu" ucap Jungkook asal.
Mendengar ucapan Jungkook membuat Jimin terdiam. Matanya menatap sedih pada Jungkook. "A-apa aku sangat jelek?"
Jungkook gelagapan. "Y-yah! Jangan terlalu serius menanggapi ucapanku, bodoh"
"Kau benar. Yoongi hyung pasti sudah tidak tertarik lagi padaku…" Jimin mulai menangis lagi.
"Bu-bukan begitu," Jungkook mendudukan diri disamping Jimin. "Aku bercanda, Park Jimin bodoh!"
"Tidak. Itu pasti benar. Jungkook, aku harus apaaa?" Jimin terisak lagi. "Aku ingin selalu menarik di mata Yoongi hyung. Apa aku harus oprasi plastic? Tapi aku takut rumah sakit Jungkook…." Jimin makin menangis keras.
"Yah, Park Jimin. Kau pasti tidak mendengarkan penjelasan Yoongi hyung, kan?"
Jimin menggeleng. "Aku tidak mau tahu detailnya. Begitu saja aku sudah hampir menangis di depan Yoongi hyung" Jimin menatap sedih pantulan wajahnya di cermin kamar Jungkook.
"Pasti Yoongi hyung bosan. Dia pasti sengaja mengundur pernikahan kami karena dia tidak berniat lagi untuk…"
"Yah! Kau menuduh hyung ku yang bukan-bukan? Mana mungkin Yoongi hyung begitu!" bela Jungkook.
Jimin menunduk dan mulai menangis dalam diam.
"Apa salahnya punya anak, Jungkook?" guman Jimin pelan.
"Tidak ada. Yoongi hyung pasti punya alasan sendiri. Dia sudah dewasa, pemikirannya sudah matang. Dia pasti tau apa yang terbaik untuk kalian"
"Kali ini dia hanya memikirkan dirinya sendiri…" sela Jimin dan tersenyum pahit.
"Emosi-mu sedang tidak stabil. Percuma bicara denganmu. Lebih baik kau menangis saja sampai tertidur"
"Aku pulang saja" ucap Jimin lemah dan meninggalkan kamar Jungkook.
.
.
.
"Namjoon? Kenapa kesini?" Seokjin menaikkan alisnya bingung.
"Ayo kencan" ajak Namjoon semangat. "Sudah pulang, kan?"
"Sudah. Tapi, mau kemana?"
"Ada restoran dekat danau. Katanya enak. Mau kesana?" Namjoon merangkul bahu Seokjin dan membawanya kearah mobil Seokjin di parkir.
"Tapi aku butuh mandi" ucap Seokjin.
"Tidak apa. Nanti ku jemput setelah mandi. Aku juga butuh mandi"
Seokjin berdiri didepan Namjoon dan mengernyit bingung."Namjoon, kau lupa apa fungsi ponsel?"
Namjoon tertawa mendengar nada sindiran yang dipakai Seokjin. "Aku hanya ingin memberitahu secara langsung. Aku juga ingin melihatmu saat mengenakan jas dokter, makanya aku kesini"
Seokjin menggeleng heran. "Ya sudah. Sampai bertemu nanti. Aku bawa mobil. Aku di jemput kan?"
"Ne. sampai bertemu di rumah" Namjoon mengecup dahi Seokjin, membukakan pintu mobil Seokjin dan menutup kembali. "Satu jam lagi ku jemput" ucap Namjoon.
Selesai berberes, akhirnya Namjoon datang untuk menjemput Seokjin di rumah. Rumah itu kosong karena Yoonji da bersama Hyosang hari mengunci seluruh pintu rumah, Seokjin berjalan menuju Namjoon yang sudah menunggunya di dekat mobil.
"Sudah?" Tanya Namjoon memastikan.
"Sudah. Ayo pergi" ajak Seokjin semangat.
Butuh waktu dua jam untuk sampai ke restoran yang dimaksud Namjoon. Keadaan restoran itu cukup tenang dan Namjoon mulai menyukai suasana restoran itu. suasa yang ditawarkan seperti di rumah. Keduanya sibuk berbincang seru sampai seseorang menepuk bahu Namjoon dan menatap Namjoon dengan tatapan sayang.
Jihoon, muncul disana.
"Hyung" sapa Jihoon senang. Setelah debut, semua akses yang dimiliki Jihoon dengan teman-temannya memang diputus sementara oleh pihak agensi agar artisnya bisa focus dalam karir.
"Jihoon?" Namjoon terlihat salah tingkah.
"Aku tidak menyangka bisa bertemu hyung disini" ucap Jihoon senang. Matanya terlihat berbinar saat menatap Namjoon.
"Oh, ya" ucap Namjoon sambil melirik-lirik kearah Seokjin. "Kenapa kau disini?"
"Manager mengajak kami makan disini setelah pulang dari musik show" ucap Jihoon. "Aku senang sekali bisa melihat hyung lagi"
"Ehem" Seokjin berdehem saat Jihoon memegang pergelangan tangan Namjoon erat.
Namjoon terkejut kecil, perlahan Namjoon melepas genggaman Jihoon dan berdiri agak menjauh. "Kalau begitu, kau harus kembali ke grup mu. Mereka bisa pusing mencarimu. Lagian, kalau fansmu melihat, bisa gawat" ucap Namjoon.
"Hyung, aku boleh minta nomor ponselmu?" pinta Jihoon.
Namjoon melirik kearah Seokjin, tapi Seokjin sudah mengalihkan pandangan kearah kaca yang menunjukan pemandangan danau dimalam hari yang dihiasi lampu-lampu.
"Kau bisa kena masalah dari agensi" tolak Namjoon halus.
"Aku tau. Tapi aku siap dengan konsekuensinya, hyung"
Namjoon tersenyum kaku. "Berikan ponselmu" ucap Namjoon akhirnya dan mengetik nomornya di ponsel milik Jihoon, kemudian mengembalikannya.
"Hyung, gumawo. Aku harap, setelah ini kita masih sering bertemu" harap Jihoon.
Namjoon hanya tersenyum kaku dan mengangguk ragu.
"Sampai bertemu lagi, hyung" Jihoon pamit. Saat Jihoon melirik pada Seokjin untuk pamit, Jihoon mengurungkan niatnya karena Seokjin tidak memandang kearahnya.
"Ya. sampai bertemu lagi" jawab Namjoon kaku.
"Aku kenyang" Seokjin menatap Namjoon lagi setelah Jihoon pergi.
"Tapi kita belum makan…"
"Makanan pembuka ini sudah cukup." Ucap Seokjin datar. "Kau bisa makan. Akan ku tunggu"
Namjoon menghembuskan nafas lelah. "Jinseok…"
"Aku melihat-lihat danaunya dulu. Kalau sudah selesai makan, beritahu aku" Seokjin berdiri dari duduknya dan berjalan meninggalkan Namjoon.
Kencan kali ini gagal total. Seokjin mendiami Namjoon selama perjalanan menuju Seoul. Seokjin bahkan tidak menatap Namjoon sama sekali. Dia sibuk menatap ke kaca samping dan hanya merespon ucapan Namjoon seadanya.
Sampai di Seoul, Namjoon membawa Seokjin ke apartemennya. Namjoon menulikan telinganya saat Seokjin sudah protes ingin pulang ke rumah. Dengan sedikit di paksa, akhirnya Seokjin menurut untuk masuk ke apartemen Namjoon.
"Apalagi, Namjoon?" Tanya Seokjin datar.
"Duduk dulu" bujuk Namjoon. Namjoon terdiam kaku saat Seokjin menepis tangan Namjoon pelan saat Namjoon ingin mengajak Seokjin duduk di sofa. Seokjin sudah jelas sedang marah sekarang.
"Katakan" ucap Seokjin datar.
"Jangan marah…" Namjoon menggusak rambut Seokjin dan berjongkok didepannya.
"Aku tidak marah. Dan jangan acak-acak rambutku" Seokjin mengelak dari uluran tangan Namjoon.
"Jinseok, Jihoon…"
"Kalau kau mengajakku kesini untuk membahas Jihoon, aku tidak berminat"
"Kau cemburu" Namjoon menatap kearah mata Seokjin.
"Maaf aku terlalu pencemburu kalau begitu. Permisi, aku mau pulang" Seokjin berdiri, membuat Namjoon terduduk dilantai.
"Jinseok, bukan begitu" Namjoon menahan tangan Seokjin dan menghalangi Seokjin keluar dari apartemennya.
"Kalian berdua cocok, Namjoon" ucap Seokjin tiba-tiba.
"Berhenti bicara seperti itu" Namjoon memperingatkan.
"Aku bicara fakta"
"Seokjin!" suara Namjoon meninggi. "Aku tau kau marah, tapi tolong jangan bicara yang bukan-bukan."
Seokjin menatap lurus pada Namjoon. "Aku pikir kita perlu memikirkan…"
"Cukup!" Namjoon memperingatkan. "Aku tau aku salah. Aku salah karena aku tidak memperkenalkanmu secara langsung pada Jihoon. Aku tau kau marah karena itu. kau marah karena merasa aku masih takut bicara jujur pada Jihoon soal kita. Tapi…"
"Kau sudah tau, tapi kau tidak melakukannya." Potong Seokjin.
Namjoon terdiam. Matanya memadang lurus pada mata Seokjin yang juga sedang menatapnya dengan sorot kecewa.
"Seokjin, aku minta maaf" Namjoon mengalah. Tangannya bergerak memeluk Seokjin erat dan mengucapkan maaf berkali-kali.
"Aku hanya bingung tadi. Aku tidak bermaksud menyembunyikan hubungan kita. Aku tidak bermaksud begitu. Aku mencintaimu Seokjin" Namjoon mengeratkan pelukannya dibahu Seokjin yang masih saja diam, enggan membalas pelukan Namjoon.
"Maaf…" bisik Namjoon lagi.
Seokjin menghela nafas lelah, hubungan seperti ini memang cukup sulit untuk dijalankan. Tapi Seokjin juga tidak ingin kehilangan Namjoon lagi. Seokjin mengalah atas ego-nya dan memeluk pinggang Namjoon erat. Menyembunyikan wajahnya dibahu Namjoon.
"Maaf aku kekanakan…" bisik Seokjin.
"Tidak. Ini salahku" Namjoon menggeleng keras. "Maafkan aku" Namjoon mengurai pelukannya. Tangannya bergerak menangkup pipi Seokjin, mendekatkan wajah keduanya dan mencium Seokjin dalam.
"N-namjoon" Seokjin mendorong Namjoon pelan ditengah ciuman keduanya yang mulai memanas. Tangan Namjoon yang sudah masuk kedalam baju Seokjin membuat Seokjin tersadar dan melepaskan diri perlahan dari Namjoon.
"Maaf" Namjoon terkekeh dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia lepas control.
"Bisa antarkan aku pulang?" Tanya Seokjin gugup.
"Oh, ne" Namjoon mengangguk.
Seokjin merapikan bajunya lagi, memperbaiki kerah kemejanya dan juga rambutnya.
"Jinseok" panggil Namjoon pelan.
"Ne?"
"Keberatan kalau kita menikah secepatnya?"
.
.
.
"Bertengkar lagi?" Chanyeol tertawa melihat Yoongi yang muncul di rumahnya malam-malam. Disamping Chanyeol, Baekhyun sedang berdiri sambil memegang sepiring kue ditangannya.
"Yoongi sunbae, mau coba?" Baekhyun menawarkan kue buatannya.
Yoongi mengangguk dan mengambil kue dari piring Baekhyun. "Gumawo"
"Kenapa kesini?" Tanya Chanyeol sambil mengambil kue dari piring yang dibawa Baekhyun.
"Biasa. Jimin merajuk" jawab Yoongi pasrah.
"Kenapa lagi?"
"Tidak tau. Tadi pagi baik-baik saja." Yoongi menaikkan bahunya.
"Jimin tadi menangis. Tapi tidak cerita ada apa" adu Baekhyun.
"Oh ya?" ucap Yoongi dan Chanyeol kompak.
Baekhyun mengangguk. "Matanya sampai bengkak. Jimin juga belum makan"
Yoongi menghela nafas. "Baekhyun, apa kau memasak sesuatu?"
"Masih ada. Itu makanan milik Jimin yang belum disentuh" ucap Baekhyun.
"Tolong bantu si malang ini membawakan makanan keatas ya" Chanyeol tertawa dan merangkul bahu Baekhyun.
"Gumawo" ucap Yoongi.
"Naik saja keatas, nanti makanannya diantar" ucap Chanyeol. "Sayang, tidak apa kan?"Chanyeol melirik pada Baekhyun yang tersenyum sambil menggeleng, pertanda dia merasa tidak keberatan.
Yoongi berdiri didepan kamar Jimin. Kamar itu menyala terang dengan Jimin yang sedang memeluk guling diatas tempat tidur. Tidak lama, Baekhyun muncul dan meletakkan makanan diatas meja belajar Jimin dan pamit tanpa suara pada Yoongi.
Yoongi mengunci pintu kamar Jimin dari dalam, berjalan menuju sisi tempat tidur dimana Jimin sedang menyembunyikan wajahnya diguling. Yoongi mendudukan diri, mengelus kepala Jimin dan mencium kepala itu lama.
"Kenapa?" Tanya Yoongi sabar.
"Hyung kenapa kesini?" ucap Jimin dari balik bantalnya.
"Jungkook bilang kau menangis. Baekhyun juga bilang begitu. Ada apa?"
Jimin menggeleng kencang.
"Apa aku membuat kesalahan lagi?"
Jimin lagi-lagi menggeleng.
"Kalau begitu, ayo duduk. Papa anak-anak ingin melihat wajah Jiminie"
Jimin menggeleng lagi makin kencang.
"Kenapa?" Tanya Yoongi pelan. Tangannya bergerak mengelus kepala Jimin dengan sayang. "Kata Baekhyun kau belum makan. Mau disuapi?" Yoongi menawarkan.
"Jiminie tidak lapar"
Jimin bisa merasakan tempat tidurnya bergoyang sedikit dan detik berikutnya, dia merasakan punggungnya yang bertabrakan dengan dada Yoongi. Namja pucat itu ikut berbaring dan memeluk Jimin dari belakang.
"Ya sudah. Kita sama-sama tidak makan saja" ucap Yoongi enteng. "Aku tidur disini" ucap Yoongi dan mengerakan pelukannya pada Jimin.
"Hyung belum makan?" Tanya Jimin parau.
"Belum"
"Kenapa?" Jimin bergerak dan mendudukan diri ditempat tidur. Bisa Yoongi lihat mata Jimin yang sembab karena menangis. Yoongi akhirnya ikut mendudukan diri diatas tempat tidur Jimin.
"Aku baru pulang kerja, sayang. Kenapa menangis?" Yoongi memegang tangan Jimin erat.
Mendengar pertanyaan 'kenapa', air mata Jimin yang sudah ditahan akhirnya jatuh lagi. Jimin memeluk Yoongi erat dan mulai menangis.
"H-hyung… hiks.. me-memangnya hiks.. kenapa kalau… hiks.. kalau kita punya anak" Jimin terisak dan memeluk Yoongi erat-erat.
"Astaga. Kau menangis karena itu?"
Jimin enggan menjawab.
"Oke, baiklah. Dengar baik-baik. Tidak ada yang salah dengan punya anak. Aku ingin memilikinya, tapi tidak sekarang. Karena aku belum siap." Mulai Yoongi.
Jimin mengeratkan pelukannya dileher Yoongi. Sementara Yoongi yang sudah lelah bekerja seharian memilih untuk menarik Jimin hingga berbaring bersamanya diatas tempat tidur dengan Jimin yang berada diatas tubuhnya.
"Lagian, Jimin-ku masih terlalu muda untuk memiliki anak. Jimin-ku masih kuliah, Jimin-ku harus mewujudkan cita-citanya untuk mempunyai sekolah tari , Jimin-ku juga harus menikmati masa muda-nya lebih lama, tanpa harus pusing memikirkan soal anak." Yoongi mengelus pelan punggung Jimin yang masih bergetar karena menangis.
"Tidak siap, bukan berarti aku tidak ingin punya anak, Jiminie. Kita terlalu muda untuk jadi orangtua. Aku juga harus menabung dulu sebelum memiliki anak. Aku rasa Eomma dan Appa Park tidak akan setuju kita memiliki anak sementara kau masih kuliah" Yoongi menjelaskan dengan sabar.
"Bukan karena aku tidak menarik lagi kan hyung?" guman Jimin dileher Yoongi.
Yoongi tertawa. "Pemikiran dari mana, itu? kau sangat menarik Jiminie. Terkadang aku khawatir kalau kau bertemu orang yang lebih baik dariku. Kau hanya tinggal menunjuk siapa yang kau inginkan dan mereka pasti akan jadi milikmu tanpa perlu berpikir panjang"
"Tapi Jiminie inginnya Yoongi hyung" cicit Jimin.
"Syukurlah aku tidak bertepuk sebelah tangan. Karena aku menginginkan Jiminie juga" Yoongi menggusak rambut Jimin pelan.
"Tapi nanti kalau Jiminie sudah lulus kuliah, kita bisa punya anak-kan hyung?" Jimin menatap Yoongi penuh harap.
Yoongi tertawa. "Tentu."
Jimin tersenyum lebar. "Kita tetap akan menikah walaupun Jiminie masih kuliah, kan?"
"Aku sudah janji, Jiminie"
Jimin tersenyuml hangat dan kembali memeluk Yoongi erat. "Saranghae, Yoongi hyung" bisik Jimin.
"Nado." Yoongi tersenyum lega. "Ayo makan, nanti kau sakit" Yoongi kesusahan mendudukan tubuhnya karena Jimin yang masih menempel padanya.
"Hyung, mau dicium…" bisik Jimin malu-malu.
Yoongi tertawa, "Aku ingin sekali, tapi Sajangnim akan menendangku kalau dia tau aku menciummu di kamar"
Jimin mengurai pelukannya dan merengut sedih. Jimin melirik kebelakang dimana CCTV tergantung disudur kamarnya dan cepat-cepat mengecup bibir Yoongi. Jimin terkekeh menang.
"Ayo makan" Yoongi tertawa kecil atas tindakan Jimin barusan.
"Maunya disuapi…" rengek Jimin.
Yoongi baru saja akan turun dari tempat tidur untuk mengambil makanan Jimin sampai handel pintu kamar Jimin digerakkan tidak sabaran.
"Yah, Min Yoongi, aku tidak pernah memberimu izin mengunci kamar hanya berdua dengan adikku" teriak Chanyeol dari luar.
"Lihat? Sebentar lagi aku pasti kena tendang" Yoongi terkekeh.
.
.
.
TBC
