"Aku mulai ragu untuk melanjutkan pernikahan dengan Yoongi hyung" guman Jimin pelan.

Jungkook yang tadinya tidur malas-malasan di samping Jimin, langsung mendudukan diri dan menatap Jimin dengan alis yang mengernyit.

"Kau demam?" Jungkook meletakkan telapak tangannya pada Jimin yang masih tidur diatas tempat tidur milik Jungkook. "Tidak panas" ucap Jungkook.

"Serius, Kook. Aku rasa aku ingin mundur"

"B*tch. Aku tau kau pasti sedang banyak pikiran. Katakan padaku!" paksa Jungkook.

"Soal Yoongi hyung dan Kihyun hyung" mulai Jimin.

Sudah sebulan ini Jimin mencoba menekan rasa cemburunya melihat Kihyun dan Yoongi bersama setiap hari. Jimin juga jadi segan untuk bermain ke studio Yoongi lagi karena kehadiran Kihyun disana. Jimin merasa seperti orang asing diantara keduanya.

Jimin juga tidak paham soal musik, tidak seperti Kihyun yang bisa Yoongi ajak diskusi.

"Mereka masih cocok satu sama lain. Aku merasa tidak ada apa-apanya jika disbanding Kihyun hyung. Jadi aku pikir, aku perlu mundur supaya mereka bisa kembali bersama" Jimin memiringkan tubuhnya, memeluk guling milik Jungkook dan mulai menangis diam-diam.

.

.

.

RUN TO YOU

.

.

.

Bukan tanpa alasan Jimin merasakan perasaan seperti sekarang. Bukan satu kali Jimin merasa seperti orang bodoh yang tidak tau apapun soal Yoongi didepan Kihyun.

Seperti kemarin saat Jimin membuatkan kopi untuk Yoongi, Kihyun ada disana juga karena mereka sedang ada proyek dari Chanyeol untuk dikerjakan.

Jimin membuatkan kopi untuk Yoongi seperti biasa, secangkir kopi panas dengan satu sendok gula. Belum sempat tangan Jimin menyendok gula, Kihyun sudah memperingatkan Jimin dengan pelan.

"Yoongi tidak suka minum kopi pakai gula, Jim" ucap Kihyun.

Jimin terdiam dan tersenyum kecil.

"Tidak masalah, Jiminie. Buat saja" Yoongi tersenyum pada Jimin.

"Bukannya kau selalu cerewet kalau aku membuatkanmu kopi pakai gula" protes Kihyun.

Jimin yang mendengarnya hanya tersenyum, meletakkan cangkir kopinya dan sendok gula yang sudah dia pegang.

"Oh, maaf" ucap Kihyun tak enak hati.

"Aku permisi, hyung. Aku lupa kalau masih ada kelas" pamit Jimin, tanpa membuatkan kopi untuk Yoongi.

Jimin berjalan cepat menyambar tasnya tanpa mempedulikan Yoongi yang sudah berdiri mengejarnya, menahan tangan Jimin dan mencoba menjelaskan kalau itu hanya reflex Kihyun saja.

"Jim, Kihyun tidak bermaksud begitu, dia..."

"Iya, Yoongi hyung. Jiminie tidak apa-apa." Jimin tersenyum lebar untuk Yoongi. Dia tau Yoongi banyak pekerjaan dan tidak perlu ditambah lagi dengan tingkahnya yang kekanakan, meskipun Jimin merasa dadanya sedikit nyeri.

"Jiminie buru-buru, hyung. Sampai nanti" Jimin mencium pipi Yoongi dan berlari cepat menuju lift tanpa melihat Yoongi lagi.

Jimin menangis di dalam lift sendirian. Dia tau itu kekanakan. Tapi Jimin tidak bisa menahan air matanya yang turun sendiri begitu saja. Jimin tau, Jimin sudah kalah dari Kihyun.

Dan hal itu terjadi bukan hanya satu kali. Jimin sudah tidak menghitung lagi berapa kali dia pulang dalam keadaan menangis dari studio Yoongi karena Kihyun.

.

.

.

"Mengurus pernikahan secapek itu, ya?" Taehyung menatap Jimin yang terduduk lemas di kantin. Didepan Jimin sudah ada kopi hitam tanpa gula yang dibelinya tanpa dia minum sedikitpun.

"Ini capek pikiran" guman Jimin pelan.

Taehyung mengangkat bahunya tak mengerti. "Kau tahu, Jim, mengambil keputusan saat merasa senang atau merasa sedih, itu tidak baik" mulai Taehyung.

"Aku tidak mengerti ucapanmu" Jimin menunduk.

"Jungkook sudah cerita" aku Taehyung.

"Oh..." ucap Jimin tanpa minat.

"Yah, kalau kau memang tidak suka, bilang pada Yoongi hyung!" omel Taehyung.

"Bagaimana aku bisa mengatakannya kalau Yoongi hyung terlihat sangat senang bekerja dengan Kihyun hyung?" Jimin menatap tajam pada Taehyung. "Sudahlah" ucap Jimin lemah.

"Atau adukan saja pada Chanyeol hyung" usul Taehyung lagi.

"Tidak perlu kau suruh, aku sudah lebih dulu melakukannya" Jimin berucap pelan.

"Mau ke studio?" tawar Taehyung.

Jimin mengernyit. "Studio mana?"

"Studio Yoongi hyung. Tapi kali ini jangan beritahu dia kalau kau mau datang" Taehyung menaikan alisnya.

"Kenapa?"

"Kita lihat bagaimana sikap mereka berdua jika hanya berduaan studio"

Jimin merasa dadanya berdebar keras. Dia tidak siap dengan segala kemungkinan buruk yang mungkin bisa saja terjadi didalam studio Yoongi.

"Kau bisa melihat interaksi mereka seperti apa jika kau tidak ada. Jadi kau tidak perlu menerka-nerka bagaimana mereka jika bersama" ucap Taehyung lagi.

Jimin ragu, tapi dia juga ingin tau. Tapi jika Yoongi tau Jimin memata-matai Yoongi begitu, Yoongi bisa marah padanya.

"Bagaimana?" Tanya Taehyung lagi.

Jimin terdiam cukup lama. Matanya menatap takut pada Taehyung atas tindakan yang akan mereka lakukan nanti. Tapi rasa penasaran Jimin membuat Jimin menganggukan kepala.

.

.

.

Rasanya Jimin dan Taehyung sudah lelah mematai Yoongi dan Kihyun selama di ruang rekaman. Keduanya terlihat normal selayaknya teman. Yoongi justru lebih dekat dengan lelaki kurus yang Jimin tau biasa dipanggil dengan Ong.

Setelah beranjak dari ruang rekaman, Taehyung dan Jimin bersembuyi saat mereka keluar dari ruang rekaman dan kembali ke studio masing-masing. Selama satu jam lebih ada Seunghoo, Kihyun dan Yoongi di studio Yoongi, membuat Jimin sedikit merasa lega ditempat persembunyiannya.

Rasa leganya terganti khawatir saat melihat Seunghoon yang keluar dari studio Yoongi. Lebih dari lima menit Jimin menuggu dan tetap berada ditempat persembunyian tapi Kihyun tidak juga muncul, sampai dua puluh menit lebih, Jimin merasa sudah tidak tahan lagi.

"Jim, mau kemana?" Taehyung menarik Jimin paksa.

"Ke studio Yoongi hyung"

"Jangan" bisik Taehyung geram tanpa melepaskan tangan Jimin. "Kau mau apa?"

"Melihat Yoongi hyung tentu saja" geram Jimin dan menghempaskan tangan Taehyung.

Jimin berjalan dari tempat persembuyian menuju pintu studio Yoongi. Jimin bisa melihat bayangan layar computer yang menyala dari kaca, tapi tidak ada Yoongi dan Kihyun disana. Bisa di pastikan keduanya berada di sofa, tempat yang tidak bisa terlihat kalau dari kaca.

Dada Jimin berdebar keras, tangannya mendingin saat memutar kenop pintu didepannya dan matanya membola saat melihat Kihyun dan Yoongi berpelukan dengan Yoongi yang berjongkok dilantai dan Kihyun yang duduk sofa.

"Jimin" Yoongi mendorong Kihyun buru-buru saat Jimin muncul didepan pintu.

Jimin merasakan dadanya berdebar sangat keras dan nafasnya memberat.

"Jimin, ini..."

"Harusnya kau bilang padaku, hyung" guman Jimin pelan.

"Jim, ini bukan seperti..."

"Kau juga, Kihyun hyung." Jimin menatap Kihyun dengan lelehan air mata dipipinya. "Harusnya kalian..."

"Jimin, bukan begitu. Aku dan Yoongi tidak seperti itu" Kihyun berjalan mendekati Jimin, menarik Jimin hingga masuk ke dalam studio Yoongi.

"Biarkan aku bicara dengan Jimin" pinta Yoongi.

"Tidak perlu. Aku kesini hanya memastikan kalau Yoongi hyung baik-baik saja dan ternyata memang baik-baik saja. Bahkan sangat baik-baik saja" Jimin menatap kosong pada Yoongi.

"Jimin..." pinta Kihyun tanpa melepaskan tangan Jimin. "Kau salah paham, aku..."

"Kalian cocok" potong Jimin. Ada senyum kecil yang Jimin munculkan dengan terpaksa. "Sebaiknya kembali bersama"

"Jiminie!" Yoongi menarik Jimin dengan paksa dari tangan Kihyun dan memaksa Jimin berdiri didepannya.

"Apa? Yoongi hyung mau bilang aku salah paham?" Tanya Jimin menantang. Dengan kasar Jimin menghapus air matanya, memaksa Yoongi melepas tangannya dan melepaskan cincin tunangan mereka.

"Ambil ini." Jimin meletakkan cincin tunangannya ditangan Yoongi. "Yoongi hyung bebas sekarang" emosi membuat Jimin bicara tanpa berpikir. Dia mendorong Yoongi yang mematung didepannya dan berlari menuju lift dengan Taehyung yang mengejarnya.

"Yoon, kejar!" paksa Kihyun geram saat melihat Yoongi masih mematung ditempatnya.

Yoongi mengerjab beberapa kali, menarik pintu didepannya dan berlari kencang mengejar Jimin yang sudah masuk lift bersama Taehyung.

Yoongi mengeluarkan ponselnya, menelpon Jimin berkali-kali tapi panggilannya diabaikan. Merasa frustasi menunggu lift lagi, Yoongi berlari melewati tangga untuk mengejar Jimin ke bawah.

.

.

.

"Kita mau kemana?" Seokjin tersenyum lebar saat Namjoon menggandeng tangannya berjalan di dalam mall yang cukup ramai. Seokjin memperhatikan kiri dan kanannya untuk menebak-nebak kemana Namjoon akan membawanya.

"Kencan" jawab Namjoon enteng.

"Iya, kemana?"

"Sini" Namjoon menarik Seokjin kedalam toko perhiasan terkenal yang ada didalam mall itu.

"Kenapa kesini?" Seokjin mengernyit bingung.

"Aku ingin membelikanmu sesuatu seperti Yoongi dan Jimin" Namjoon tersenyum lebar sambil menatap kedalam etalase kaca dimana perhiasan berjejer menyilaukan.

"Apa memangnya?" Seokjin mengernyitkan alisnya.

"Kemarin aku menemani Yoongi untuk membeli gelang kembaran untuknya dan Jimin. Jadi, aku juga ingin punya. Selain cincin, kita tidak punya barang kembaran lain kan?" ucap Namjoon.

"Tapi aku tidak bawa kartu..."

"Aku tidak memintamu membayarnya, Jinseok. Aku yang ingin, jadi aku yang bayar. Kau hanya perlu menerima dan memakainya. Aku tidak menerima penolakan" ucap Namjoon cepat.

Seokjin tersenyum lebar, menggusak kepala Namjoon dan hanya menurut apa kata Namjoon.

"Oh, satu lagi, kau yang pilih" ucap Namjoon.

Seorang karyawan toko muncul untuk membantu keduanya memilih perhiasan apa yang ingin mereka beli. Mata Seokjin terpaku pada gelang berbentuk ukiran rumit yang ditunjukan pelayan toko itu padanya.

"Kami ambil yang ini saja" ucap Namjoon membuat Seokjin terkejut dari keterpanaannya pada gelang yang sejak tadi dipandanginya.

"Namjoon, tapi..."

"Kami ambil yang ini" potong Namjoon.

Seokjin berubah makin panic saat menyadari harga satuan dari gelang itu bukanlah mata uang mereka, tapi dolar. "Namjoon, aku tidak suka itu dan... dan..." ucap Seokjin panik. Gelang itu sangat mahal, Seokjin sendiri bahkan tidak yakin bisa membelinya dengan gajinya.

Pelayan toko yang tadinya ingin memasukan kedalam kotak, berhenti dan menatapi Namjoon dan Seokjin yang berdebat. "Tuan?"

"Kami ambil yang itu" putus Namjoon.

"Namjoon, itu terlalu mahal" bisik Seokjin takut.

"Memangnya kenapa?" Namjoon terkekeh melihat raut wajah Seokjin yang ketakutan.

"Namjoon, tidak udah beli disini, kita beli..."

"Tidak apa. Gelang itu cocok untukmu"

"Tapi, Namjoon..."

"Jinseok, tidak apa. Oke?" Namjoon menenangkan.

Seokjin hanya menatap Namjoon dengan perasaan tidak enak hati. Harga gelang itu terlalu mahal untuknya. Apalagi harus Namjoon yang membelikannya.

Setelah membayar gelang couple milik mereka, ponsel Seokjin berbunyi. Ada nama Chanyeol muncul disana.

"Chanyeol-ssi?" sapa Seokjin.

Namjoon yang mendengar nama Chanyeol disebut-sebut, hanya menatap lurus kedepan dan mempertajam telinganya. Tangannya makin erat menggandeng Seokjin. Entahlah, Namjoon hanya merasa CEO tempat Yoongi bekerja itu punya rasa pada Seokjin.

"Seokjin-ssi, senang bisa mendengar suaramu lagi. Bisa ke agensi sekarang?"

"Ada apa?" Tanya Seokjin khawatir.

"Tidak ada apa-apa. Kau tidak sibuk kan?"

Seokjin menatap Namjoon yang juga sedang menatapnya. "Satu jam lagi, bisa?"

"Tentu. Aku tunggu" ucap Chanyeol sebelum menutup panggilan telepon.

"Kenapa?" Tanya Namjoon penasaran.

"Namjoon, kita bisa ke kantor Yoongi sekarang?" ucap Seokjin khawatir.

"Ada apa?"

"Entahlah, Chanyeol-ssi memintaku datang kesana. Temani aku ya" pinta Seokjin.

"Ne. kita kesana sekarang"

.

.

.

Sementara itu...

"KALIAN PIKIR PERNIKAHAN ITU MAIN-MAIN!" Chanyeol meledak marah menatap Jimin dan Yoongi bergantian.

TBC