"Jim, habis latihan kemana?" Seungwoon, teman Jimin yang ada disatu sekolah tari, menatap Jimin yang tertidur diruang latihan dengan nafas terengah karena tidak berhenti menari selama tiga jam penuh.
"Pulang" jawab Jimin pelan.
Beberapa teman mereka yang ada di kelas tari melewati Jimin, menyapa Jimin yang tertidur dilantai kelas tari.
"Mau pergi denganku? Sudah lama kan kita tidak ngumpul. Ajak Kai sekalian" usul Seungwoon.
"Aku malas" Jimin menatap langit-langit kelas tari mereka dengan tatapan kosong.
"Ayolah. Kau perlu menenangkan otot dan otak setelah menari sepertu orang gila dari tadi" Seungwoon menarik paksa tangan Jimin yang tertidur.
"Ambil tasmu, pergi mandi." Paksa Seungwoon.
.
.
.
RUN TO YOU
.
.
.
Disinilah Jimin sekarang, berada di kafe milik keluarga Kai bersama Seungwoon, Kai dan Daniel.
Jimin yang sedang tidak semangat untuk bicara hanya menatap ketiganya yang sibuk bercengkrama. Kepala Jimin terasa penuh karena banyaknya kemungkinan yang terlintas dikepalanya. Belum lagi besok dia akan bertemu Kihyun.
Hubungannya dan Yoongi juga tidak ada perubahan. Mereka masih sama-sama diam tanpa memberi kabar satu sama lain.
"Jim, kenapa kau menghapus foto Yoongi hyung di social mediamu?" mulai Kai saat mereka sudah habis bahan pembicaraan.
Mendengar hal itu membuat Daniel menatap bingung pada Jimin. Sejak bekerja di agensi, waktu dan pikiran Daniel memang habis lebih banyak disana disbanding mengurusi social media miliknya. Hari ini pun Seungwoon memaksa Daniel untuk ikut datang ke kafe milik keluarga Kai karena Seungwoon sudah lama tidak bertemu Daniel.
"Bukan apa-apa. Aku pesan minuman dulu" ucap Jimin.
"Lalu ini apa, Park Jimin-ssi?" Kai menunjuk gelas minuman milik Jimin yang tidak tersentuh sama sekali.
Jimin terlihat bingung. Sejak tadi pikirannya memang tidak ada disana.
"Kau terlihat banyak pikiran. Ada apa?" Seungwoon menatap Jimin penasaran.
Jimin menunduk. Matanya mulai berair jika ada yang bertanya 'kenapa'- 'ada apa' padanya.
Melihat Jimin yang mulai menangis, Daniel menarik tisu dan memberikannya pada Jimin.
Hampir lima menit lebih ketiganya menunggu Jimin selesai menangis. Dengan memaksa diri, Jimin akhirnya menghentikan tangisnya dan tersenyum paksa.
"Tidak cerita juga tidak apa" Daniel tersenyum maklum.
"Bagaimana kabar Yoongi hyung?" Tanya Jimin tiba-tiba.
"Aku sudah lama tidak bertemu dengannya. Kantor sedang sibuk mengurus idol yang akan melakukan tour. Yang ku dengar Yoongi punya proyek baru untuk solois yang akan debut beberap bulan lagi" jelas Daniel.
Jimin mengangguk mengerti.
"Kalian bertengkar?" Tanya Daniel hati-hati. Topic soal Yoongi memang cukup sensitive untuk dibicarakan oleh keduanya.
"Begitulah" Jimin tersenyum kecil dan menghapus lagi air matanya yang turun.
"Nanti juga baikan lagi." Ucap Kai santai.
"Iya, nanti juga baikan" Seungwoon menyandarkan tubuhnya kesandaran kursi.
"Kihyun ya?" Tanya Daniel lagi. Daniel memang sudah tau kalau Kihyun bekerja juga di agensi. Keduanya beberapa kali bertemu dengan Kihyun yang menatap Daniel seperti musuh. Tidak bisa dipungkiri, salah satu alasan Kihyun memutuskan Yoongi saat itu karena dia cemburu pada Daniel.
Jimin mengangguk lagi.
"Semoga kalian cepat baikan, ya" hibur Daniel.
Seungwoon menaikkan alisnya dan tersenyum menatap Daniel. Kalupun Jimin dan Yoongi putus, Daniel adalah salah satu orang yag diuntungkan disini.
"Kalau kau putus dengan Yoongi hyung, kau pacari saja Taemin. Dia sudah lama menyukaimu, ngomong-ngomong" Kai menaik turunkan alisnya.
Jimin membolakan matanya terkejut. Dia tidak pernah tau kalau Taemin menyukainya.
"Jangan dengarkan Kai." Daniel menatap Kai dengan tajam.
"Lagian Jimin, kalau kau dan Yoongi hyung putus, dia yang rugi. Ada banyak orang yang mengantri untukmu, harusnya dia bersyukur" ucap Kai lagi. "Followersmu bisa pesta besar-besaran kalau tau kalian putus"
"Mulutmu, Kai" Seungwoon menggeleng menatap Kai.
"Kai, kesini sebentar"
Kai membalik badan saat namanya di panggil. Hyungnya sedang melambaikan tangan padanya.
"Aku kesana dulu" pamit Kai buru-buru.
"Aku perlu ke kamar mandi" Seungwoon beranjak dari kursinya, meninggalkan Jimin dan Daniel hanya berdua.
"Kau mau pesan sesuatu, Jim?" Daniel merasa canggung hanya berdua dengan Jimin.
"Tidak. Aku tidak lapar. Daniel sunbae, aku ingin bertanya sesuatu" ucap Jimin.
Daniel merasa dadanya berdebar. "Ne?"
"Siapa yang kau sukai antara aku dan Yoongi hyung?"
Daniel terbatuk mendengar pertanyaan Jimin. Daniel tidak mungkin bilang kalau dulu dia menyukai Yoongi, lalu Jimin datang dan menarik perhatian Daniel, lalu takdir mempermainkan Daniel dengan kenyataan kalau Jimin adalah pacar Yoongi, yang berakhir dengan Daniel yang masih saja menyimpan rasa khusus untuk Yoongi. Dia sendiri kebingungan dengan perasaannya.
"Tidak ada. Aku hanya menganggap kalian teman" ucap Daniel akhirnya.
Jimin tersenyum maklum. Siapapun yang ada diposisi Daniel pasti merasa hal ini sangat canggung dan mengganggu privasinya.
"Apa Kihyun masih bekerja disana?" Jimin mengalihkan pembicaraan.
"Dia bekerja menjadi asisten Seunghoon mulai sekarang." Jawab Daniel.
Jimin terdiam, menatap kosong pada gelasnya yang tidak tersentuh sama sekali.
"Hubungan kami sudah tidak jelas sekarang" Jimin tanpa sadar membuka diri pada Daniel. "Kihyun hyung dan Yoongi hyung, mereka serasi sekali kan?" Jimin mengangkat kepalanya menatap Daniel.
Daniel terkejut karena ucapan Jimin, ditambah lagi Jimin menangis di depannya. "Jim, kau bicara?"
"Kihyun hyung dewasa, dia mengerti apa yang Yoongi hyung suka dan tidak suka, Kihyun hyung juga tidak kekanakan sepertiku, Yoongi hyung pasti akan bahagia kalau bersama Kihyun hyung" Jimin meracau.
"Jim, kau tau itu tidak benar, kan?"
"Semua orang juga bilang begitu" Jimin terkekeh dan menghapus air matanya.
Daniel sudah tidak tau lagi harus merespon Jimin seperti apa. Dia hanya menggenggam tangan Jimin dan mengelusnya pelan agar Jimin sedikit tenang.
"Ayolah, belikan aku sesuatu. Kita sudah jauh-jauh sampai disini, masa tidak jajan" paksa Ong sambil mendorong punggung Yoongi agar masuk kedalam kafe.
"Kau pergi sendiri saja. Ambil ini" Yoongi menyerahkan uangnya, tapi Ong menolaknya dan terus memaksa Yoongi masuk kedalam kafe.
Menyerah dengan tingkah asistennya, Yoongi akhirnya masuk kedalam.
Yoongi berjalan lebih dulu kedepan meja kasir dimana Kai sedang berjaga, dibelakangnya ada Ong sedang menatap pilihan menu yang tertulis dengan kapur di dinding.
"Yoongi hyung?" Kai menatap Yoongi seperti melihat hantu. Matanya bergantian menatap antara Yoongi dan Jimin yang duduk membelakangi Yoongi.
Merasa aneh dengan tingkah Kai, Yoongi membalikkan badannya. Dada Yoongi terasa berdebar sangat kencang saat melihat Daniel dan Jimin yang sedang duduk berduan dengan kepala Jimin yang menunduk dan Daniel yang sedang menggenggam tangan Jimin sambil bicara cukup dekat dengan Jimin. Seperti sedang membujuk Jimin.
"Cake ini saja. Yah, PD-nim, mana uang yang tadi?" Ong menyiku tangan Yoongi yang membatu ditempatnya.
Merasa tidak direspon, Ong menatap kearah mata Yoongi memandang dan menemukan Jimin sedang berduan dengan Daniel. "Oh my God" Ong merasa bersalah kali ini.
"A-aku rasa aku tidak jadi jajan, PD-nim" Ong berusaha mendorong punggung Yoongi lagi.
"Ambil saja cake yang kau mau" ucap Yoongi dan menatap lurus kearah Kai, membelakangi Jimin dan Daniel.
Ong mentap bergantian antara Kai dan yoongi. Bisa Ong lihat tangan Yoongi yang mengepal erat seperti menahan marah.
"C-cakenya jadi?" Tanya Kai hati-hati.
"Ne. ambil saja" ucap Yoongi dan meletakkan uang berlembar-lembar di meja kasir.
"Segini cukup" ucap Kai sambil mendorong kembali uang Yoongi.
"Ayo PD-nim" ajak Ong takut-takut.
Yoongi berjalan lebih dulu tanpa melirik lagi kearah Jimin dan Daniel. Dia cemburu. Jelas saja. Tapi siapa dia jika dibanding dengan Daniel? Belum lagi Jimin pasti masih marah padanya soal kejadian itu, membuat Yoongi merasa tidak punya hak atas Jimin.
Ong berjalan pelan sambil menatap kearah Daniel dan Jimin yang masih menunduk, rasanya mulut Ong sudah capek menggumankan nama Daniel agar pria itu meliriknya. Sesaat sebelum Ong keluar, akhirnya Daniel menegakkan kepalanya dan matanya membola saat menemuka Ong sedang melakukan bahasa isyarat kearah Daniel dengan tangan yang seperti menebas leher.
"You! Die!" ucap Ong tanpa suara sambil melirik-lirikkan kepalanya kearah Yoongi yang masih terlihat dipintu.
Daniel buru-buru melepas tangan Jimin, ingin meninggalkan Jimin untuk mengejar Yoongi dan Ong, tapi pria kurus itu sudah lebih dulu lari mengejar Yoongi, takut ditinggal. Kan sayang uangnya kalau terpakai ongkos taxi.
"Ada apa?" Tanya Jimin pelan saat perasaannya mulai tenang.
"Y-yoongi disini" guman Daniel gugup.
Jimin dengan cepat membalik badannya, tapi tidak ada Yoongi dimana-mana. Mendengar nama Yoongi membuat Jimin merasa dadanya berdebar. "Dimana?"
"Sudah pulang." Daniel menunjuk mobil Yoongi yang masih terlihat dari jendela. "Sepertinya Yoongi salah paham" ucap Daniel tak enak hati.
Jimin mendudukan diri lagi setelah berdiri melihat mobil Yoongi yang berlalu dan tersenyum sedih. "Dia bahkan tidak mau menemuiku lagi" guman Jimin pelan.
"Ada apa?" Seungwoon yang baru keluar dari toilet menatap Jimin dan Daniel yang terlihat gusar.
Keduanya sepakat untuk diam. Enggan membahas apa yang terjadi barusan.
.
.
.
"Ini demo-nya sajangnim" Yoongi meletakkan demo lagu yang Chanyeol suruh untuk ambil disalah satu studio kecil didaerah kafe tempat Kai berada.
"Dusah kau dengar?" Tanya Chanyeol basa-basi.
"Belum. Ku pikir sajangnim yang mau menilai lagunya lebih dulu"
"Kau dengarkan saja dulu, nanti kalau ada lagu yang kau suka dan menurutmu bagus, beritahu aku"
Yoongi mengangguk paham.
"Belum baikan?" Tanya Chanyeol penasaran.
"Belum" Yoongi menghela nafas. "Aku rasa Jimin serius soal pembatalan pernikahan kami, Sajangnim. Maaf aku gagal menjaga adikmu" Yoongi membungkuk.
"Apa-apaan!" Chanyeol menatap Yoongi kesal. "Kau sudah bertemu Jimin?"
"Sudah tadi"
"Dimana?" Tanya Chanyeol makin penasaran.
"Di kafe. Dia bersama Daniel." Ucap Yoongi getir. "Daniel pria yang baik, dia pasti bisa menjaga Jimin"
"Jadi kalian sudah siap berpisah?" tantang Chanyeol.
"Aku tidak akan pernah siap. Tapi kalau Jimin yang minta, akan ku lakukan."
"Si bodoh ini" Chanyeol menggelengkan kepalanya. "Yah, cepat temui adikku dan berbaikan. Katakan alasannya kenapa kau memeluk Kihyun saat itu. kalau kau berpikir aku akan membantumu berbaikan setelah kau menceritakan semuanya padaku, jangan mimpi. Aku banyak urusan" Chanyeol menatap Yoongi dengan kesal. Meskipun Yoongi sudah bercerita yang sebenarnya pada Chanyeol, tetap saja Chanyeol enggan membantu.
Yoongi menghela nafas lagi. "Nomorku di blokir" ungkap Yoongi akhirnya.
Chanyeol tertawa mendengarnya. "Nomormu di blokir tapi social mediamu tidak, kan? Kau kan tau sendiri Jimin itu sangat aktif di social medianya. Dekati saja dari sana"
Yoongi seperti melihat sedikit harapan untuk berbaikan dengan Jimin. "Caranya?"
"Pikirkan sendiri!" omel Chanyeol.
.
.
.
Yoongi menatapi ponselnya yang sedang menampilkan social media milik Jimin. Yoongi kebingungan harus melakukan apa. Dia sudah mengirim pesan di DM milik Jimin tapi tidak digubris sama sekali.
Saat kebingungan , seseorang mengetuk pintu studionya. Dengan malas Yoongi membuka pintu dan mengernyit saat ada Jungkook disana.
"Jungkook?"
"Aku bersama Taetae hyung kesini" Potong Jungkook dan berjalan masuk kedalam studio Yoongi tanpa permisi.
"Kami bawa makanan, hyung" Taehyung tersenyum lebar dan meletakkan tiga kotak makanan didepan Yoongi.
"Ayo makan" ucap Jungkook girang.
Jungkook membagikan kotak makanan untuk Yoongi, kemudian untuk Taehyung dan untuknya sendiri.
"Kalian kesini hanya mau makan siang?" Yoongi mengernyit.
"Huh? Oh, iya. Kami kesini mau makan siang hyung. Cari suasana baru" Jungkook beralasan. "Ayo makan, hyung"
"Kalian pikir ini tempat kalian pacaran?" Yoongi mengernyitkan hidungnya.
"Sudahlah hyung, makan dulu. Nanti baru marah" Taehyung terkekeh.
"Hyung, sehat kan?" Tanya Jungkook basa-basi.
"Ne"
"Jimin?" Tanya Jungkook.
"Sehat mungkin" jawab Yoongi.
"Kok mungkin?" Tanya Jungkook polos, seolah dia tidak tau apa-apa. "Bertengkar,ya?"
Yoongi enggan menjawab, matanya menatap Taehyung tajam yang dibalas Taehyung dengan wajah polosnya.
"Pasti bertengkar!" Jungkook terkekeh, mengambil meminum air dari gelas Yoongi tanpa permisi. "Bertengkar kenapa hyung?" Tanya Jungkook masih berpura-pura..
Lagi, Yoongi enggan membalas ucapan Jungkook. Rasanya aneh kalau Taehyung tidak memberitahu Jungkook apa yang terjadi antara dia dan Jimin.
"Kalau hyung butuh bantuan untuk membujuk Jimin, aku bisa loh..." Jungkook berucap santai sambil memakan kembali nasinya.
"Benarkah?" Yoongi mulai tertarik.
Jungkook menyeringai diam-diam. Tidak sia-sia dia turun tangan. Kalau mengharapkan Yoongi, bisa-bisa mereka cerai sungguhan.
"Tentu. Jimin kan gampang di bujuk dan dipengaruhi" ucap Jungkook santai.
Taehyung memlih diam dan memakan makanannya dengan damai., membiarkan Jungkook mengurusi masalah Jimin dan Yoongi sendirian.
"Caranya?" Tanya Yoongi penasaran.
"Nomor hyung diblokir, kan? Caranya tentu saja lewat social media"
"Darimana kau tau nomorku diblokir?" potong Yoongi.
Jungkook membolakan matanya, matanya bergerak gelisah. "I-itu, tentu saja tau! Jimin kan kekanakan. Bertengkar sedikit hapus foto, pasti dia juga memblokir nomor Yoongi hyung, benar kan?"
Merasa ucapan Jungkook benar, Yoongi tidak lagi mempermasalahkan. "Jadi caranya?"
"Kemarikan ponselmu, hyung" Jungkook tersenyum lebar.
"Untuk apa?"
"Tentu saja untuk update sesuatu di social media-mu, hyung. Jimin pasti lihat. Percaya padaku" ucap Jungkook yakin.
Ragu, Yoongi memberikan ponselnya pada Jungkook. Yoongi bisa melihat ada bara api semangat dimata Jungkook saat memainkan ponselnya. Terlihat dari matanya yang berkilat-kilat.
"Dimakan hyung" ucap Taehyung sambil menunjuk makanan Yoongi yang tidak tersentuh.
Yoongi memakan makanannya sambil menatap kearah Jungkook dan Taehyung bergantian. Lebih dari lima menit Yoongi menunggu, sampai akhirnya Jungkook memulangkan ponselnya.
"Sudah, hyung" ucapnya senang dan kembali makan.
Tidak sampai 4 jam, ponsel Jungkook bergetar, ada nama Jimin masuk kepanggilan ponselnya. Dengan sengaja Jungkook mengabaikan panggilan itu dan terus mendengarkan penjelasan Yoongi soal alat-alat yang ada distudionya tanpa peduli pada ponselnya.
Ponsel Jungkook berdering lebih dari 9 kali dengan nama 'JANGAN DIANGKAT' muncul dilayarnya. Jungkook hanya menyeringai dan membiarkan Jimin terus meneleponnya. Dia pasti sudah melihat postingan terbaru Yoongi disosial media.
.
.
.
Jimin berjalan mondar-mandir didalam kamar. Dia sudah melihat postingan Yoongi yang terbaru yang membuat Jimin berdebar-debar. Sudah berkali-kali Jimin menghubungi Jungkook, tapi anak itu tidak juga mengangkat teleponnya.
"Jungkooookkk" geram Jimin saat teleponnya lagi-lagi tidak diangkat.
Sejak terakhir kali Jungkook ke rumahnya, mereka memang tidak ada saling menghubungi satu sama lain, dan saat ini Jimin sangat membutuhkan Jungkook sebagai teman bicara.
Lagi Jimin mencoba untuk menghubungi Jungkook dan lagi-lagi panggilannya tidak diangkat. "Pasti pacaran!" kesal Jimin.
"Apa kirim pesan saja, ya?" guman Jimin lagi. "Kirim saja" putus Jimin.
Jimin: Jungkook! Yah! Kau dimana?
Jimin: Jungkook, kau harus lihat postingan Yoongi hyung? Aku harus apa?
Jimin: Jungkook! Kau pasti pacaran dengan si alien itu kan? Yah! Balas pesanku!
Jimin: Jungkook! Besok kau sudah janji menemaniku bertemu Kihyun hyung!
Jimin: Jungkook! Aku ingin kerumahmu sekarang! Kau dimana?!
Jimin: Jungkook, aku sedang menangis. Aku butuh teman...
Jimin: Jungkook, aku rindu sekali papa anak-anak. Tolong aku.
.
.
.
MINYOONGI
MINYOONGI still.
.
.
.
MIN YOONGI
MINYOONGI mine.
.
.
.
TBC
double update soalnya... mak Jin buset suaranya...
i'm the one i should love~...
Da nonton belom kakak yorobun? nontonlah, diam-diam bae...
