"Ayolah, belikan aku kopi, itu saja" Paksa Ong saat mereka baru selesai rapat bersama Chanyeol. "uangmu kan banyak PD-nim" Bujuk Ong lagi.
"Hmm" jawab Yoongi malas dan berjalan menuju lift.
"Kopi saja, ya.. ya…" bujuk Ong lagi.
"Kau kan punya uang sendiri?" Yoongi memencet tombol lift untuk menuju studionya,tapi Ong menekan tombol menuju lobi, membuat Yoongi hanya bisa menghela nafas.
"Ada si, tapikan kalau gratis lebih enak, PD-nim" Ong menaik turunkan alisnya. "Lagian kau sudah janji membelikanku jajan sehari sekali"
"Kapan aku janji begitu?"
"Anggap saja PD-nim janji begitu. Bekerja bersama Seunghoon badanku kurus kering. Si brengsek itu tidak punya waktu tetap dalam bekerja" omel Ong.
"Bukan urusanku" ucap Yoongi lagi.
"Dimana rasa empatimu PD-nim? Asistenmu kurus kering kau tidak peduli? Apa kau lebih suka Kihyun menjadi asistenmu? Begitu?" cibir Ong.
"Jangan bahas Kihyun"
"Makanya belikan aku kopi biar…"
"Yoon" Daniel tersentak saat pintu lift dibuka ada Yoongi dan Ong didalamnya.
Ong berhenti merecoki Yoongi saat melihat Daniel muncul didepan pintu lift. Matanya menatap tajam pada Daniel dan segera berdiri ditengah-tengah keduanya saat melihat Yoongi tidak merespon Daniel sama sekali.
"Kau tetap membelikanku kopi-kan, PD-nim?" Ong mencairkan suasana diantara ketiganya. Terjebak diantara Daniel dan Yoongi benar-benar tidak baik untuknya.
"Kalian mau ke kantin?" Tanya Daniel basa-basi.
"Kau pikir di ruang administrasi ada jualan kopi?" Ong berucap sewot sendiri.
Daniel yang mendapat sikap permusuhan terang-terangan dari Ong hanya bisa melongo.
Saat pintu lift terbuka, Ong mendorong bahu Yoongi agar cepat-cepat keluar dari lift, meninggalkan Daniel dibelakang mereka. Sebelum pergi menuju kantin, Ong menunjukan kepalan tangannya pada Daniel.
"Apa-apaan" Daniel menggaruk lehernya yang tidak gatal.
.
.
.
RUN TO YOU
.
.
.
"Tenang saja PD-nim, aku dipihakmu" ucap Ong penuh semangat.
"Sudahlah, kau itu kekanakan. Apa-apaan kau mengancam Daniel dengan tangan krempengmu itu" Yoongi terkekeh.
"Kau melihatnya, PD-nim?"
"Kau pikir aku buta?" Yoongi berdiri didepan kasir untuk memesan kopi untuknya dan Ong.
"Aku hanya tidak suka dengan orang yang mengambil kesempatan dihubungan orang lain. Dasar tidak tau malu" cibir Ong berapi-api.
"Kenapa kau yang jadi emosi? Aku saja santai" Yoongi masih terkekeh.
"Itulah kenapa aku emosi, PD-nim. Aku mewakili emosi yang kau tahan itu. padahal kau ingin sekali menghajar Daniel ka? Iya kan? Iyalah!" ucap Ong yakin.
"Tidak. Aku tidak tertarik berkelahi seperti itu. kalau Jimin memang merasa cocok dengan Daniel, memangnya aku bisa apa?"
"Rebutlah!" Ong berucap tak sabar.
"Brisik. Aku yang bertengkar, kenapa juga kau ikut-ikutan"
"Ini karena aku berada di pihakmu, PD-nim!"
"Iya, terimkasih. Ambil kopimu" Yoongi terkekeh meninggalkan Ong didepan kasir untuk mengambil tempat duduk.
.
.
.
"Bohong!" tuding Jungkook tepat didepan Kihyun dan Joohyun.
"Jungkook!" guman Jimin pelan.
"Mana mungkin Kihyun hyung tidak tau kalau Jimin dan Yoongi hyung sudah tunangan. Jelas-jelas Yoongi hyung memposting di social media miliknya!" Jungkook berkeras.
"Aku tidak melihatnya, Jungkook." Kihyun membela diri.
"Jungkook, sudahlah." Bisik Jimin pelan.
"Tapi dia bohong!" geram Jungkook.
"Jadi, kenapa hyung memeluk Yoongi hyung waktu itu?" Tanya Jimin pelan. Kalau boleh jujur, sebenarnya Jimin sangat marah. Tangannya bergetar dingin diatas pahanya. Dia masih tidak bisa terima soal kejadian itu.
Kihyun melirik pada Joohyun yang sejak tadi hanya diam menatap Jungkook dan Jimin didepannya. Dibanding Jimin, sepertinya Jungkook yang lebih emosi.
"Maafkan aku" sesal Kihyun.
"Hyung, kalau kau menyuruhku kesini hanya untuk bilang maaf tanpa penjelasan, itu sama saja kau membuang-buang waktuku" geram Jimin.
"Apa Yoongi belum menjelaskan?"
"Tidak. Dia tidak bilang apapun" ucap Jimin menahan emosinya.
"Jimin aku minta maaf" mulai Kihyun sambil menunduk. "Aku salah mengartikan perlakuannya padaku selama ini."
"Maksudnya?"
"Ya, aku salah mengartikan perlakuan Yoongi padaku beberapa minggu ini. Aku pikir, aku diperlakukan dengan special dan membuatku sedikit berharap akan hubungan kami yang dulu"
Jimin merasa nafasnya mendingin. Sementara Jungkook dalam diam memperhatikan semua gerak-gerik Kihyun.
"Perlakuan seperti apa maksudnya?" Tanya Jimin pelan.
"Ya, dia mengantarkan ku pulang kalau kemalaman bekerja, dia juga sering membelikanku sesuatu seperti makanan ataupun minuman, hal-hal kecil seperti itu, dan membuatku berpikir aku ada harapan memperbaiki karena dia tidak lagi bersikap dingin padaku" cerita Kihyun.
"Lalu?" Jimin merasa dadanya berdebar keras kali ini. Yoongi tidak pernah bilang kalau dia pernah mengantarkan Kihyun pulang.
"Jimin maafkan aku." Sesal Kihyun lagi.
"Ya, kau sudah bilang itu berkali-kali dan itu tidak menjelaskan apapun kenapa bisa kalian berpelukan" Jimin mengeram marah.
"Aku mengajak Yoongi kembali bersama"
Seperti ditampar, Jimin merasa kehilangan kata-katanya. Dia hanya bisa menyorot dengan tatapan kecewa pada Kihyun. Dia memang selalu ketakutan hal ini terjadi, tapi saat hal ini benar-benar terjadi padanya, Jimin merasa sangat kecewa pada Kihyun.
"Aku pikir kau bisa ku percaya, hyung" hanya itu yang bisa Jimin katakan.
"Maafkan aku" sesal Kihyun. "Tapi Yoongi sudah menolakku, Jimin. Dia sudah tidak memiliki rasa apapun padaku."
"Tidak punya rasa, tapi kalian berpelukan?" Jimin menggelengkan kepalanya dan tersenyum sinis.
Kihyun terdiam, matanya menatap kesamping untuk meminta bantuan Joohyun.
"Kihyun yang minta sebagai pelukan terakhir" Joohyun akhirnya menjawab, mewakili Kihyun.
"Pelukan terakhir?" Jimin terkekeh sinis. "Apa yang akan kau lakukan kalau itu terjadi padamu, hyung? Bagaimana rasanya kalau kau melihat tunanganmu berpelukan dengan mantan pacarnya?"
"Jimin, maafkan aku" sesal Kihyun.
"Sudahlah. Kita sudah dapat jawabannya. Aku rasa kita perlu pergi sekarang" Jungkook angkat bicara untuk melerai Jimin yang seolah siap mendamprat Kihyun habis-habisan. Lagian, Kasihan juga Taehyung yang menunggu mereka didalam mobil sejak tadi.
"Kami permisi, hyung" Jungkook berdiri menarik Jimin dengan paksa.
Jimin membungkuk diikuti Jungkook yang berlari mengejarnya. Jungkook baru sadar, Jimin yang manja seperti itu, kalau marah seram juga.
.
.
.
Yoongi menghela nafasnya entah untuk yang keberapa kali hari ini. Setiap dia sedang istirahat dari pekerjaan dia pasti akan teringat pada Jimin lagi. Dia merindukan Jimin.
"Pulang saja kalau pekerjaanmu tidak ada lagi" saran Seunghoon yang sudah capek melihat Yoongi melamun dan menghela napas.
"Sepertinya kau butuh tidur" ucap Yoongi.
"Ne. kau seperti perlu tidur" Ong mengangguk setuju.
"Aku pulang saja kalau begitu" pamit Yoongi.
Saat dia berdiri dan berbalik untuk kembali keruangannya mengambil kunci mobil, Daniel muncul di kantin dan jelas sekali sedang berlari kearah Yoongi.
"Yoon, aku rasa kita perlu bicara" Daniel menahan tangan Yoongi erat-erat.
Yoongi hanya mendegus, melepaskan tangan Daniel dan berjalan melewati Daniel begitu saja. Saat Daniel ingin menyusul, ada tangan yang menarik bajunya dari belakang.
"Yah, perusak rumah tangga, duduk disini! Kau perlu kami sidang" Ong menarik paksa baju Daniel.
"Tapi, Yoongi.."
"Tidak ada tapi-tapian! Kami memaksa!" ancam Ong membuat Seunghoon tertawa.
"Yah, kalian berdua" panggil Seunghoon. "Kalian terlihat cocok"
Daniel tertawa mendengarnya sementara Ong sudah melepaskan tangannya dari baju Daniel.
"Mati saja" Ong menunjukkan kepalan tangannya lagi dan pergi meninggalkan Daniel dan Seunghoon dikantin.
"Jadi di sidang tidak? Yah! Ong Seungwoo anggota gank Min Yoongi!" seru Daniel sambil terkekeh.
"Jimin?" Ong berhenti saat melihat Jimin, Jungkook dan Taehyung berada dilobi. Buru-buru Ong berlari menuju Jimin dan menarik Jimin padanya.
"Ong hyung?" Jimin tersentak kaget saat Ong memeluknya.
"Akhirnya, Jiminie! Kau mau berbaikan dengan PD-nim kan? Dia ada di studio. Sebentar ku telepon agar dia tidak jadi pulang" ucap Ong heboh.
"Yoongi hyung mau pulang?" Jimin menaikkan alisnya. "Masih sore kan?"
"Husst…" Ong menempelkan ponselnya ditelinga ."PD-NIM, JIMIN YANG ASLI ADA DISINI! JANGAN PULANG!"
Jungkook, Jimin dan Taehyung tersentak kaget mendengar suara Ong yang terlalu keras.
"Yah! Ini sungguhan. Tunggu di studio, aku akan mengantarkan Jimin! Tidak! Ini bukan tipuan!" Ong mematikan ponselnya. "Oke, Jiminie. Teman-temanmu tinggal disini dulu saja. Kau naiklah ke atas, ke studio PD-nim. Dia masih si studio" Ong mendorong-dorong bahu Jimin menuju lift.
"Jungkook? Tae?" Jimin berbalik menatap Jungkook dan Taehyung.
"Kami di kantin saja" Taehyung melambaikan tangannya dan merangkul bahu Jungkook.
.
.
.
"Jiminie?" Yoongi berdiri menyambut Jimin yang baru saja membuka pintu studionya. "Masuk" pinta Yoongi canggung.
Jimin berjalan masuk, menutup pintu studio milik Yoongi dan berdiri kaku didepan pintu.
"Kenapa hyung memeluk Kihyun hyung waktu itu?" Tanya Jimin tanpa basa-basi. Dia perlu penjelasan dari Yoongi soal itu.
"Duduk dulu?"
"Tidak mau" Jimin menggeleng kecil.
"Oke, akan ku jelaskan. Tapi jangan potong ucapanku" Yoongi menatap lurus pada Jimin yang berdiri dengan kepala menunduk didepan pintu.
"Dia mengajakku kembali bersama, aku menolak, dan dia meminta untuk dipeluk sebagai pelukan terakhir." Yoongi menatap Jimin yang masih menunduk, terlihat seperti ingin mengatakan sesuatu tapi Jimin mengurungkan niatnya.
"Aku salah karena melakukannya, Jiminie. Aku minta maaf. Aku benar-benar menyesali tindakanku waktu itu. tidak seharusnya aku memeluknya" sesal Yoongi dan berjalan mendekati Jimin.
"Kenapa hyung tidak pernah bilang kalau hyung pernah mengantar Kihyun hyung pulang?" Tanya Jimin lagi. Wajahnya terangkat dan terlihat sedih, membuat Yoongi merasa makin bersalah.
"Aku hanya tiga kali mengantarnya pulang, karena sudah terlalu larut, jadi ku antarkan. Aku tidak bilang, karena memang hal itu tidak penting"
"Tapi untukku penting" sela Jimin.
"Aku juga melakukan hal yang sama pada asisten-asistenku yang dulu, Jiminie. Tidak ada yang special karena aku mengantar mereka pulang."
"Hyung juga membelikan dia makanan dan Minuman"
Yoongi menaikkan alisnya. "Kami bekerja lembur, apa salahnya membelikan makanan dan minuman?"
Jimin menunduk lagi. Tidak ada yang salah dengan hal itu, tapi kan Jimin cemburu.
"Jiminie, aku membelikan makanan karena tidak mungkin hanya aku yang makan sendiri, sementara asistenku hanya melihat aku makan. Aku tidak sekejam itu" lanjut Yoongi menjelaskan.
"Bahkan disaat begini, hyung masih membelanya" guman Jimin pelan.
Yoongi berjalan mendekat saat suara pelan Jimin itu tertangkap telinganya, perlahan Yoongi menarik Jimin agar mendekat dan memeluknya erat. Yoongi lega karena Jimin tidak menolaknya.
"Maafkan aku, aku tidak bermaksud membelanya. Aku hanya ingin kau mengerti, kalau hal itu tidak ada apa-apanya." Yoongi mengeratkan pelukannya, meskipun Jimin tidak membalas pelukan Yoongi.
"Maafkan aku" sesal Yoongi. "Sekalipun kau tidak menerimaku lagi, setidaknya aku tidak ingin ini berkahir buruk"
"Hyung, kau mau kita berpisah?" Jimin merasa jantungnya nyaris meledak mendengar ucapan Yoongi.
"Kau berhak mendapatkan yang terbaik, Jiminie"
Jimin mendorong Yoongi keras, matanya menatap tak percaya pada Yoongi. Bukannya Yoongi ingin mereka berbaikan? Lalu apa ini? Apa maksud dari postingan social media itu kalau Yoongi ingin melepaskannya?.
"Jiminie?" Yoongi menatap bingung pada Jimin.
"Kau melepasku, hyung?"
Yoongi menunduk. Ingatan soal Jimin dan Daniel di kafe waktu itu benar-benar mengganggunya.
"Kenapa?" Tanya Jimin. Air matanya sudah turun tanpa izin.
"Kau berhak mendapatkan yang lebih baik dari pada aku, Jiminie" guman Yoongi pelan.
"Bukannya ini sudah keterlaluan? Hyung! Kau keterlaluan!" teriak Jimin.
Yoongi mendekat lagi, memeluk Jimin yang sudah memberontak dalam pelukannya.
"Lepaskan aku! Aku membencimu, hyung! Hiks … Aku membencimu!"
"Jiminie maafkan aku. Aku mencintaimu"
"Kalau kau mencintaiku, harusnya kau tidak memperlakukanku seperti ini hiks.. hyung, kau keterelaluan… hiks kau keterlaluan…" Jimin memeluk Yoongi erat-erat.
"Maafkan aku" sesal Yoongi.
"Hyung, hiks… kau jahat. Seharusnya aku tidak usah kesini hiks.. kalau kau memperlakukanku seperti ini.. hiks… aku hanya ingin mendengar penjelasan dari tunanganku, tapi … hiks…"
"Maafkan aku. Maafkan aku Jiminie…" Yoongi mengecupi kepala Jimin berkali-kali. Dia benar-benar menyesal dengan ucapannya. "Aku bersalah, Jiminie. Maafkan aku"
"Aku hiks.. aku hanya ingin kita berbaikan, hyung… hiks… kenapa kau ingin melepaskanku…" isak Jimin keras.
"Maafkan aku. Aku pikir kau akan bahagia kalau bersama Daniel" sesal Yoongi.
"Aku tidak mau yang lain, hyung… hiks.. Jiminie tidak mau yang lain" Jimin menggeleng keras. Tangisnya makin terdengar memilukan ditelinga Yoongi.
Yoongi memeluk erat Jimin dan terus mengatakan maaf sampai Jimin merasa tenang. Setelah tangis Jimin mereda, Yoongi membawa Jimin ke sofa.
Yoongi merasa benar-benar bersalah saat melihat mata Jimin yang bengkak karena menangis. Yoongi membawa Jimin untuk tidur diatas badannya dan memeluk Jimin erat-erat, sementara Jimin menyamankan diri dengan dalam pelukan Yoongi sampai tertidur.
"Hyung?" Jungkook melongokkan kepalanya ke dalam studio Yoongi, setelah melihat Jimin yang tertidur di dada Yoongi, Jungkook terkekeh kecil.
"Ada apa?" Tanya Yoongi pelan agar Jimin tidak terganggu dalam tidurnya.
"Katakan pada Jimin kami pulang duluan" jawab Jungkook berbisik.
Yoongi mengangkat jempolnya. "Kookie, gomawo" Yoongi tersenyum kecil.
Jungkook mengangguk semangat. "Jangan bertengkar lagi, hyung" Jungkook memundurkan langkahnya, menutup pintu studio Yoongi dan terkekeh.
"Bagaimana?" Tanya Taehyung penasaran dan mengalungkan tangannya dipinggang Jungkook.
"Sudah baikan" Jungkook terkekeh.
"Akhirnya dramanya selesai" Taehyung berucap lega.
"Hyung?"
"Hum?"
"Bagaimana ya rasanya tidur diatas badan pacar sendiri?" Jungkook tersenyum lebar.
"Sesaklah. Berat lagi" komentar Taehyung cuek.
"Dasar tidak romantic" cibir Jungkook dan mendorong Taehyung agar menjauh.
"Huh? Wae? Yah! Jeon Jungkook!" teriak Taehyung saat Jungkook berjalan cepat meninggalkannya.
.
.
.
TBC
Yak, kakak yorobun.
Dikit lagi menuju END….
*CubitTetenya *LariDitengahHujan
