"Enak ya jadi Jimin" Jungkook berguman pelan untuk menarik perhatian Taehyung yang sedang mengerjakan tugas di rumah Jungkook.

"Yoongi hyung sangat sayang padanya, merajuk sedikit minta maaf, ingin itu dibelikan, mau apa-apa diluluskan" lanjut Jungkook lagi saat Taehyung masih saja pada laptopnya mengerjakan tugas.

"Tapi, siapa juga yag tidak akan luluh pada Jimin" Jungkook memangku wajahnya dengan tangan, menatap kearah Taehyung yang sedang duduk disampingnya. "Iyakan hyunng?"

"Iya" jawab Taehyung cuek.

Jungkook memutar bola matanya kesal. "Aku juga ingin punya pacar seperti Yoongi hyung"

"Tidak bisa, Yoongi hyung sepupumu" ucap Taehyung santai.

"Ya, paling tidak yang mirip seperti Yoongi hyunglah..." ucap Jungkook lagi.

"Ya, berkhayal saja" ucap Taehyung lagi.

Kesal, Jungkook memukul lengan Taehyung cukup keras dan naik keatas sofa untuk tidur. Dia sudah lelah memberik kode tapi Taehyung tidak juga mengerti maksudnya.

"Kenapa memukulku?" protes Taehyung.

"Tidak ada. Iseng saja!" Jungkook membalikan badan dan tidur memunggungi Taehyung yang masih mengerjakan tugas di dekatnya.

.

.

.

RUN TO YOU

.

.

.

Tidak bisa tidur, akhirnya Jungkook memainkan ponselnya. Sudah lama dia tidak memakai akun aslinya Karena sibuk 'mematai' Kihyun melalui akun keduanya. Baru saja Jungkook masuk ke beranda, matanya menatap kesal pada postingan Jimin yang langsung muncul paling atas.

"Menyebalkan" cibir Jungkook iri. Lagi, dia menatap pada Taehyung yang masih sibuk dengan tugasnya.

"Pantas saja dia tidak kelihatan berapa hari ini, ternyata sedang liburan berduaan dengan Yoongi hyung" ucap Jungkook dan membuka kolom komentar milik Jimin yang banyak terkesan gemas pada Jimin yang menempeli Yoongi.

"Komen tidak, ya..." Jungkook menimbang-nimbang, akhirnya dia memutuskan untuk berkomentar di foto milik Jimin.

54.098 likes

ParkjiMIN PaNaNa.

JeonJungkook: Norak.

Tulis Jungkook.

Tidak sampai satu menit, notif di ponsel Jungkook berbunyi. Ada balasan dari Jimin soal komentarnya barusan.

ParkjiMIN: .JeonJungkook Tunggu, aku akan upload foto lagi agar kau semakin iri. Sebentar ya, Kookie. :p

Jungkook mencibir kesal. Enggan membalas komentar Jimin. Jungkook kembali membuka kolom komentar milik Jimin dan menemukan komentar yang menarik perhatiannya.

Seungwoonie: .DanielKang karam, bossku.

DanielKang: .Seungwoonie ?

Jungkook membuka akun milik Daniel yang selalu Jungkook stalking dengan akun palsunya. Tangan Jungkook bergulir untuk mencari foto Yoongi yang pernah Daniel upload, dan ternyata foto itu sudah hilang dari akun milik Daniel.

Saat memasuki beranda akunnya lagi, Jungkook melihat lagi Jimin yang mengupload foto Yoongi. Lagi-lagi Jungkook memutar bola matanya.

"Dasar menyebalkan" cibir Jungkook, membuatnya gatal ingin berkomentar.

35.678 Likes

ParkjiMIN aidabyu

JeonJungkook: Kalau ada alat pengukur ke-norakan, alatnya pasti sudah rusak.

ParkjiMIN: .JeonJungkook Ya ampun, ada kau lagi. Sebagai hadiah, aku akan mengupload foto papa anak-anak lagi, sebentar ya, Kookie.

Jungkook berdecak kesal melihatnya. Jika di pikir-pikir, Taehyung tidak pernah mengupload fotonya disosial media milik Taehyung, tidak seperti Jungkook yang selalu mengupload kebersamaannya dengan Taehyung.

Kalau dipikir-pikir lagi, Taehyung itu pengguna social media yang aktif, kalau Yoongi hyung mungkin masih bisa dimaklumi kalau dia tidak mengupload foto Jimin, membuka akun sendiri saja tidak pernah.

Lagi Jungkook menatap pada Taehyung. Tangannya bergerak untuk mengelus rambut Taehyung dari belakang.

"Jungkook, aku masih mengerjakan tugas" sergah Taehyung.

Jungkook hanya bisa menatap sedih kearah Taehyung dan kembali sibuk dengan ponselnya.

Jimin benar-benar mengupload foto Yoongi lagi di social medianya dan Jungkook hanya tersenyum kecil mengingat Jimin dan Yoongi sudah berbaikan.

62.605 likes

ParkjiMIN Jiminie's.

JeonJungkook: Lihat betapa noraknya Jimin-mu, hyung . MINYOONGI .ParkjiMIN

ParkjiMIN: .JeonJungkook hai... :*** mau lagi?

Jungkook meletakkan ponselnya diatas kepalanya, kembali memandangi Taehyung yang masih konsentrasi dengan tugas-tugasnya.

"Sebenarnya kau sayang padaku tidak sih?" guman Jungkook pelan sekali.

Taehyung yang ternyata mendengar gumanan Jungkook itu membalikan badannya dan mengernyit menatap Jungkook.

"Kenapa bertanya begitu?" Taehyung berbalik untuk melihat Jungkook dengan jelas.

"Kau dengar, hyung?" Tanya Jungkook panic.

"Tentu saja dengar. Ada apa?" Taehyung mendekat, menggusak rambut Jungkook yang masih tiduran disofa.

"Hehehe, tidak kok hyung."

Taehyung menghela nafas. "Jungkook, kalau kau tidak bilang, aku tidak akan mengerti. Aku menyayangimu, sangat. Jadi, jangan berpikir macam-macam. Kalau kau iri dengan Jimin, ada baiknya kau juga harus berkata jujur soal hal-hal yang kau inginkan padaku, seperti Jimin"

Jungkook menatap Taehyung lurus.

"Aku tidak bisa menebak, Jungkook. Aku tidak mengerti kode-kode yang sering orang-orang pakai. Kalau kau ingin sesuatu, katakan secara jelas. Itu lebih baik daripada menyuruhku menebak kau ingin apa" jelas Taehyung.

"Cium aku kalau begitu" ucap Jungkook tanpa melepaskan tatapannya dari mata Taehyung.

"Tentu" Taehyung bergerak kecil untuk mencapai Jungkook, mencium bibir Jungkook dalam dan lembut.

.

.

.

Jimin terkekeh memegangi ponselnya. Mereka baru saja sampai di apartemen Yoongi setelah pulang liburan meskipun sebentar karena Chanyeol tidak memberikan Yoongi cuti lebih dari tiga hari.

Yoongi sedang membereskan kopernya sementara koper Jimin, Jimin biarkan berdiri didekat lemari dan memilih tiduran diatas tempat tidur Yoongi.

"Tidak mandi?" Tanya Yoongi sambil mengurung Jimin diantara tangannya.

Jimin tersentak saat Yoongi sudah berada diatasnya. Seingatnya tadi Yoongi masih sibuk dengan koper miliknya. Kaki Jimin yang menggantung kelantai bergerak sedikit untuk menaikkan badannya lebih keatas tempat tidur.

"Sebentar lagi, hyung" jawab Jimin. Pipinya memerah karena Yoongi terlihat jelas dari sini.

"Ngomong-ngomong aku baru ingat, baju kuning yang kau pakai ini milikku, kan?" Yoongi mengernyitkan alisnya menatapi baju lengan panjang bertuliskan ' I feel like kobe' yang sedang Jimin kenakan sekarang.

Jimin terkekeh pelan, meletakkan ponselnya disamping kepalanya dan menatap Yoongi malu-malu. "Ne"

"Jaket kulit, kemeja flannel merah hitam dan piyama juga, benarkan?"

Jimin mengangguk, mengalungkan tangannya dileher Yoongi yang masih mengurungnya, kepalanya bergerak miring dengan senyum lebar dibibirnya. "Ne, kalau hyung minta dikembalikan, Jiminie tidak mau"

"Itukan milikku" Yoongi menaikkan alisnya.

"Tapi Jiminie suka dengan baju itu" Jimin memijit pelan tengkuk leher Yoongi. "Untuk Jiminie saja, ya?"

Yoongi tersenyum tipis, mengecup hidung Jimin dan berdiri tegak kembali. "Memangnya aku boleh untuk bilang tidak?"

Jimin tertawa kecil. "Hyung mau mandi?"

Yoongi mengangguk, mengambil handuk baru dari lemari. "Kenapa? Mau mandi bersama?" Tanya Yoongi enteng.

Jimin memerah mendengarnya. "Tidak" elak Jimin.

"Ya sudah, tunggu disini. Nanti setelah aku mandi, baru diantar pulang" ucap Yoongi dan masuk kedalam kamar mandi.

Jimin yang melihat Yoongi sudah masuk ke kamar mandi hanya bisa mencibir pelan. "Paksa, kek"

.

.

.

Jimin sudah sampai di rumahnya, dia baru saja selesai mandi dan akan berpakaian saat matanya menatap kearah paha bagian dalamnya yang terdapat bercak merah keunguan. Pipinya berubah merah padam saat mengingat dari mana bercak itu berasal.

Hasil dari liburan berdua dengan Yoongi.

Jimin buru-buru memakai celananya tanpa melepas handuk baju dari tubuhnya. Saat dia akan memakai baju, Jimin baru melepas handuknya dan lagi pipinya bersemu merah saat mendapati bercak yang sama di dadanya.

Merasa malu, Jimin menutup wajahnya dengan tangan. "Ya ampun" gumannya pelan.

Jimin segera mengambil asal bajunya, memakainya tanpa melihat lagi kearah dadanya. Jimin bergegas turun untuk menemui orangtuanya dan Yoongi yang ada di ruang tamu. Ada Baekhyun juga disana. Hari ini Chanyeol resmi mengenalkan Baekhyun pada keluarga Jimin sebagai pacarnya.

"Jadi, yang ini sudah pasti kan?" sayup-sayup Jimin bisa mendengar suara Park Appa dari tangga.

"Ne." suara Chanyeol terdengar.

Saat Jimin sampai didepan keluarganya, Jimin memilih duduk disamping kaki Appa-nya. Kebiasaan Jimin yang tidak berubah, dia selalu suka memeluk kaki Appa-nya.

"Jiminie, kau setuju dengan calon kakak iparmu ini?" Tanya Park Appa pada Jimin yang duduk dikarpet.

"Asal Chanyeol hyung tidak genit lagi, aku setuju Appa" jawab Jimin.

"Kalau Baekhyun, umur berapa ingin menikah?" Tanya Park eomma.

Baekhyun yang duduk diantara Yoongi dan Chanyeol terlihat gugup mendapatkan pertanyaan seperti itu.

"Eomma, Baekhyun masih kuliah" jawab Chanyeol.

"Iya, uri Jiminie juga masih kuliah tapi siap menikah muda. Ah, Baekhyunie, jangan merasa tertekan, ya. ini hanya pertanyaan basa-basi" ucap Park Eomma.

"Baekhyun juga bercita-cita ingin nikah muda, kok, eomma" Jimin menyahut.

"Benarkah?" Park eomma membolakan matanya dan tersenyum ramah.

Baekhyun mengangguk malu.

"Chanyeolie, kau akan menikah umur berapa? Jangan sampai Yoongi dan Jimin yang menikah baru kau menikah" Park Appa menatap Chanyeol lurus.

"Appa, kita sudah membahas ini, kan?" Chanyeol memutar bola matanya.

"Kapan?" Park Appa menaikkan alisnya. "Kau sudah cukup umur untuk menikah. Maksud Appa, kalau Baekhyun sudah oke untuk menikah muda, tunggu apalagi?"

"Tapikan?"

"Apa Chanyeolie sudah pernah bertemu keluargamu, Baekhyunie?" potong Park eomma.

"Sudah, ahjumma."

"Orangtuamu bilang apa?" Tanya Park eomma penasaran.

Baekhyun melirik pada Chanyeol, dia gugup sekali berhadapan dengan keluarga Park. Disampingnya Yoongi sedang duduk dengan tenang, padahal mereka sama-sama berstatus 'pendatang' dikeluarga Park.

"Apa orangtuamu setuju kalian berpacaran?" ucap Yoongi untuk memperjelas pertanyaan Park eomma.

"Oh, iya, mereka setuju, ahjumma" ucap Baekhyun gugup.

Chanyeol menghela nafasnya.

"Kau dengar itu, Chanyeolie?"Park eomma menatap lurus pada Chanyeol. "Harusnya kau seperti Yoongi, kalau punya pacar dan sudah dikenalkan pada keluarga, harusnya ada kemajuan dihubungan kalian. Lagian, umurmu bukan untuk pacar-pacaran lagi" nasehat Park eomma.

"Iya, eomma" Chanyeol memutar bola matanya.

"Kalau hyung tidak serius, ku doakan Baekhyun dapat pacar baru" ancam Jimin.

"Yah! Bocah!" Chanyeol ingin melemparkan bantal kursi pada Jimin yang langsung dihalangi dengan tangan Yoongi.

"Sajangnim, Jimin hanya bercanda" bela Yoongi.

"Jadi, kapan?" Tanya Park Appa.

Chanyeol menghela nafas lagi, menutup wajahnya dengan bantal kursi. Dia sendiri juga belum tau kapan, bagaimana bisa dia menjawab pertanyaan Appa-nya. "Astaga..."

.

.

.

"Kau tidak apa?" Namjoon bertanya khawatir pada Seokjin yang terduduk lemas di mobilnya. Seokjin menutup matanya dengan punggung tangannya untuk menghilangkan rasa pusing dikepalanya.

"Pusing" rengek Seokjin.

Namjoon memijat kepala Seokjin pelan untuk mengurangi rasa pusing dikepala Seokjin.

"Mau pulang sekarang?"

Seokjin mengangguk sebagai jawaban.

"Ya sudah, kita pulang saja. Sepertinya kau butuh tidur" Namjoon menegakkan tubuhnya dan mulai menjalankan mobilnya.

"Kita ke apartemenku saja, bagaimana?" Tanya Namjoon lagi.

Seokjin lagi-lagi mengangguk. Semua ini berawal dari pasien kecelakaan yang baru masuk ke rumah sakit tadi. Terlalu banyak darah, membuat Seokjin mual yang berakhir dengan kepalanya yang pusing.

"Tadi itu sangat mengerikan" ucap Seokjin.

"Kau takut darah, tapi jadi dokter" Namjoon terkekeh, menarik Seokjin agar bersandar dibahunya.

Seokjin menghela nafas. "Yoongi sudah pulang liburan belum, ya?" guman Seokjin. Sudah seminggu lebih Yoongi tidak mengunjungi Seokjin sama sekali.

"Belum mungkin. Kalau sudah pulang pasti ke rumah, kan?"

"Semenjak punya apartemen, Yoongi jadi sombong. Dia jadi jarang pulang ke rumah"

Namjoon terkekeh mendengar nada merajuk Seokjin. "Yoongi kan sudah besar. Nanti juga kalau sudah menikah, dia akan lebih jarang pulang" ucap Namjoon.

"Aku jadi sedih memikirkannya" guman Seokjin.

"Makanya ayo menikah"

Seokjin menggigit main-main lengan Namjoon. "Katakan sekali lagi"

"Ayo menikah, Kim Seokjin"

Seokjin terkekeh. "Sok dewasa" cibir Seokjin.

"Aku memang sudah dewasa" ucap Namjoon kesal.

"Kau bahkan masih sering cemburu pada Hyosang, apanya yang dewasa" cibir Seokjin.

"Wajarkan?"

"Orang dewasa tidak gampang cemburu"

Mendengar jawaban Seokjin, Namjoon menggepit leher Seokjin dan mengecupi kepala Seokjin berkali-kali.

"Namjoon, kau sedang menyetir!" Seokjin melepaskan tangan Namjoon dan duduk dengan tegak dibangkunya.

"Hey, kapan kau akan siap menikah?" Namjoon mengambil tangan Seokjin dan menaruhnya diatas pahanya.

Seokjin memajukan wajahnya, membuat Namjoon terpecah konsentrasinya untuk sesaat. "Nanti kalau kau sudah tidak genit lagi dengan karyawan-karyawan kantormu" bisik Seokjin.

Namjoon terkekeh. "Aku hanya bercanda menggoda mereka, Seokjin"

"Ya, terserahlah."

"Aku menggoda mereka kan di depanmu, kalau aku melakukannya dibelakangmu, itu baru boleh dicurigai" Namjoon terkekeh.

"Ya.. ya.. ya... di depanku saja begitu, bagaimana kalau dibelakangku"

"Jadi kau cemburu?" Namjoon menaik turunkan alisnya.

"Orang dewasa tidak cemburuan, Kim Namjoon" ejek Seokjin.

"Sudah dewasa tapi diajak menikah masih ragu" cibir Namjoon.

Seokjin memutar bola matanya kesal. "kalau berani, minta izin Yoongi dulu"

Namjoon terdiam.

.

.

.

TBC

Double update kakak yorobun...

di ffn ga bisa liat ya foto yang diupdate, jadi buat kakak yorobun yang pensaran, main aja ke wattpad (yunkiminsugar) buat lebih jelasnya ya.

:D