Hello, terima kasih sudah mampir untuk membaca dan meninggalkan review. Untuk semua review, maaf tidak dibalas satu persatu.
Here We Go...
Disclaimer : Naruto belongs to Kishimoto sensei
Pairing : SasuFemNaru
Rated : T
Warning : OOC, alur cerita cepat, typo(s), genderswitch
The One I Love
Chapter 2 : I'm Sorry
By : Fuyutsuki Hikari
"Bisakah kamu berhenti merajuk, Karin?" Gaara bertanya kesal. Sampai kapan kekasihnya ini akan merajuk agar dirinya meninggalkan Naruto. 'Itu tidak mungkin,' batin Gaara kesal.
"Sampai kamu meninggalkan wanita gatal itu," Karin membentak marah hingga Gaara memijat keningnya yang terasa pusing.
"Aku tidak bisa," ujar Gaara lembut.
"Kenapa? Apa kamu juga mencintainya?" tanya Karin serak menahan air mata yang siap tumpah.
"Karena aku berhutang nyawa pada Naruto," jawab Gaara cepat hingga Karin diam seribu bahasa, tidak menyangka jawaban seperti ini yang akan dilontarkan oleh kekasihnya. "Jika bukan karena Naruto, aku mungkin sudah mati sepuluh tahun yang lalu," lanjutnya dengan mata terpejam dan suara yang terdengar berat. "Dia menjadikan tubuhnya sebagai tameng, melindungiku dari tusukan belati mantan karyawan tou-san." Karin menutup mulutnya kaget, Gaara terdiam beberapa saat sebelum melanjutkan dengan suara bergetar.
"Karyawan itu ketahuan menggelapkan dana perusahaan hingga dipecat, dia dendam dan pada akhirnya berusaha membunuhku untuk membalas dendam. Naruto menyelamatkanku, dia mengorbankan dirinya, satu centi lagi belati itu menyayat jantungnya, apa kamu bisa bayangkan hal itu?" suara Gaara naik satu oktaf karena marah. "Dia bahkan koma hingga satu bulan lamanya." Lanjut Gaara kini setengah berbisik. "Jika kamu menjadi aku apa yang akan kamu lakukan, Karin?" Gaara bertanya dengan sorot mata terluka. "Kami hanya berteman baik, itu saja, tidak lebih. Dan aku terikat seumur hidup untuk kebaikannya."
"Mengapa kamu tidak mengatakan tentang masalah ini padaku dari awal?" tanya Karin lirih, dengan lembut dia menggenggam tangan Gaara. "Aku benar-benar merasa bersalah pada Naruto," katanya terisak kecil.
"Aku dan Naruto sudah berjanji untuk mengubur hal ini, menganggap semuanya hanya sebagai mimpi buruk. Tidak banyak yang tahu tentang hal ini selain aku, Naruto, mendiang Kushina-san dan keluargaku," jelas Gaara tenang. "Lagi pula Naruto tidak mungkin mencintaiku. Hatinya sudah dimiliki oleh seseorang," lanjut Gaara lagi.
"Siapa?" Karin terdengar terkejut.
"Uchiha Sasuke," jawab Gaara to the point.
"Sasuke?" Karin setengah berteriak. "Kenapa Naruto bisa menyukai pria itu? Dia sudah memiliki tunangan, kamu tahu?"
Gaara mengangguk dan tersenyum getir. "Aku tahu, begitu pun Naruto. Dan karena hal itu juga Naruto memutuskan hubungan mereka."
"Sebentar," potong Karin cepat. "Mereka pernah menjalin hubungan romantis?" Karin melotot tidak percaya.
"Ya."
"Kapan?"
"Sebelum Sasuke bertunangan," jawab Gaara seraya menyeruput kopi hitam miliknya.
"Bagaimana caraku menolong Naruto, jika pria yang disukainya adalah Sasuke. Ini terlalu sulit," Karin bergumam kesal.
"Aku sarankan jangan ikut campur pada masalah ini Karin, aku takut jika nanti Naruto terluka. Dia sama sepertimu sangat keras kepala," Gaara tersenyum kecil. "Untuk saat ini, bisakah kamu bersikap manis padanya. Jangan terus bertengkar dengannya, aku mohon!"
"Hm, aku tahu," balas karin cepat. "Aku akan menjadi teman yang paling manis untuk Naruto," katanya riang. "Aku berjanji Gaara, ini kulakukan untukmu, juga untuk menebus sikap menyebalkan diriku selama ini."
"Bagus kalau begitu, aku senang mendengarnya," ujar Gaara mengecup pipi Karin lembut hingga wanita itu merona merah karena malu. "Gaara, apa kamu tahu dimana Naruto bekerja saat ini?"
"Ya, kenapa?"
"Bisa antar aku kesana?"
"Untuk?" Gaara menatap curiga. "Aku akan bersikap manis, aku janji. Aku hanya ingin memberinya semangat, dia pasti sangat lelah saat ini. Dia membutuhkan dukungan kita, bukan begitu?"
Gaara tergelak keras mendengar pernyataan Karin, wanita memang sulit untuk ditebak jalan pikirannya. "Baiklah, aku akan mengantarmu kesana," tukas Gaara tersenyum simpul.
.
.
.
"Jadi, apa yang kalian berdua lakukan disini?" Naruto bertanya dengan nada ketus saat mendapati pelanggan yang memanggilnya adalah Karin dan Gaara. "Hai, Naru?" sapa Karin hangat dan ceria.
"Aku mengantar dia," tunjuk Gaara pada Karin yang tersenyum lebar hingga Naruto takut jika mulut Karin sobek karenanya.
"Kamu pasti lelah, tenang saja kami akan menunggumu dan mengantarmu pulang." Seru Karin menepuk bahu Naruto akrab dan pamit ke kamar kecil.
"Ada yang salah dengan otak kekasihmu," Naruto terlihat bingung dan menatap Gaara yang hanya tersenyum kecil menanggapinya. "Apa yang terjadi? Dia tidak mungkin berubah dalam waktu sesingkat ini," tambah Naruto lagi. "Katakan Gaara, apa ada sesuatu yang tidak kuketahui?" tanya Naruto lagi sambil berkacak pinggang.
"Entahlah," jawab Gaara ringan. "Siapa yang tahu," tambahnya seraya mengangkat bahu. "Menjengkelkan," gumam Naruto seraya melempar napkin ke arah Gaara hingga pria itu tergelak dibuatnya.
"Ah, ternyata bukan hanya kami yang datang berkunjung." Seru Gaara saat melihat sosok Sasuke duduk tidak jauh dari mejanya dan menatap dirinya tajam. "Aku beruntung," ujar Gaara tenang. "Beruntung?" beo Naruto tidak mengerti.
"Ya, aku beruntung. Andai saja tatapan mata bisa membunuh, aku pasti sudah mati saat ini," jelasnya seraya menunjuk ke arah Sasuke dengan dagunya. Naruto menengok ke arah yang ditunjuk Gaara dan berdecak kesal. "Sudah satu minggu dia terus datang ke cafe ini," jelas Naruto. "Duduk disana dengan sebuah laptop dan memesan minuman hingga shift-ku berakhir."
"Dia pernah mengantarmu pulang?"
"Tidak," Naruto menggelengkan kepala. "Dia tidak pernah mengatakan apapun, itu membuatku takut. Kurasa dia sedang merencanakan sesuatu." Naruto menyentuh tengkuknya yang meremang. "Ah, mau pesan seperti biasa?" tawar Naruto ramah.
"Boleh," jawab Gaara cepat. "Bawakan pesanan yang sama untuk Karin," tambahnya.
"Baiklah, tunggu sebentar!" balas Naruto dengan sikap profesional.
Karin kembali ke meja mereka beberapa saat kemudian. "Sudah pesan?" tanyanya seraya menengok ke arah meja Sasuke. "Sudah," jawab Gaara pendek. "Gaara, kenapa Sasuke ada disini?" bisik Karin.
"Menurut Naruto sudah satu minggu ini dia datang kemari," jelas Gaara.
Karin bersidekap dan memasang pose berpikir. "Kurasa Sasuke juga masih ada perasaan romantis terhadap Naruto," katanya pelan. "Bagaimana menurutmu?"
"Entahlah," jawab Gaara mengangkat bahu. "Yang jelas aku akan menghajarnya jika dia berani menyakiti Naruto."
"Aku akan siap membantumu," kata Karin sungguh-sungguh.
"Kamu benar-benar berubah," Gaara menggelengkan kepala pelan.
"Aku akan melindungi Naruto, sama sepertimu," tambah Karin dengan semangat membara.
"Terserah," timpal Gaara menghela napas panjang. "Kurasa itu lebih baik daripada aku harus mendengar pertengkaran kalian tiap harinya." Karin hanya mengangguk senang mendengar ucapan Gaara.
.
.
.
Hari-hari berlalu begitu cepat, musim segera berganti dan musim panas pun datang menyapa Tokyo. Pada akhirnya Naruto mulai membiasakan diri dengan sikap baru Karin. Gadis itu bersikap begitu manis dan menyenangkan. Acap kali dia datang menggantikan Gaara untuk memberikan semangat saat Naruto benar-benar memerlukan dukungan moril.
Dan senyum tulus itu pun terukir untuk kali pertama di bibir Naruto untuk Karin. Menyebabkan gadis berambut merah itu berjingkrak kegirangan, dan memekik senang karenanya. "Berlebihan," cibir Naruto. Tapi seolah tuli, Karin terus mengangkat kedua tangannya ke udara dan berteriak, "banzai!" sedangkan Naruto menutup wajahnya dengan nampan dan melarikan diri ke belakang counter. Berpura-pura tidak mengenal Karin, yang nampak aneh dan mengundang kernyit heran pengunjung lain malam ini.
Naruto bahkan mulai membiasakan diri dengan kemunculan Sasuke di cafe tempatnya bekerja. Yang bisa dia lakukan hanya mengabaikan setiap panggilan telpon dan email yang masuk dari pria itu. Dan sepertinya, perjuangan Sasuke pun masih panjang.
.
.
.
Sore ini Asuma sensei memberikan waktu selama tiga puluh menit di jam pelajaran terakhir bagi murid kelas 3-1 untuk merundingkan apa yang akan kelas mereka buat untuk festival musim panas yang akan berlangsung selama lima hari, satu minggu yang akan datang. "Ok, kita mulai rapat kita hari ini," ujar Neji tegas sebagai ketua kelas. "Ada yang mau memberikan ide?" tanya Neji seraya mengetuk-ngetuk kapur tulis yang ada di tangan kanannya.
Beberapa murid mengangkat tangan, banyak yang memberi ide untuk festival kali ini. Hingga diputuskan untuk mengambil suara terbanyak. "Baiklah, keputusan terbanyak jatuh pada cafe. Kelas kita akan membuat cafe untuk memeriahkan festival tahun ini," kata Neji tenang. "Untuk maid akan ditugaskan secara bergantian pada semua murid tanpa terkecuali," katanya tegas.
Naruto duduk gelisah, sesekali matanya menatap jam tangan yang terpasang apik di pergelangan tangan kirinya. Rapat kelas sore ini memakan waktu lebih dari tiga puluh menit. Padahal Naruto masih harus kerja pada pukul lima sore. "Menyebalkan," gumam Naruto pelan. Dia tidak peduli akan apa yang dibuat kelasnya tahun ini. Dia hanya ingin rapat ini cepat berakhir agar dia bisa masuk kerja tanpa terlambat, karena bosnya yang bernama Orochimaru akan dengan senang hati memotong gajinya apabila dia terlambat masuk kerja.
"Baiklah, rapat selesai. Terima kasih untuk kesediaan kali-" ucapan Neji terputus saat melihat Naruto yang berlari tergesa meninggalkan kelas, mengabaikan panggilan Gaara yang memanggilnya berulang-ulang. Naruto terus berlari sepanjang koridor sekolah, berlari semakin cepat keluar dari komplek sekolah. Diliriknya jam tangan yang kini menunjukan jam empat lebih empat puluh menit. "Sial," raung Naruto kesal dan semakin mempercepat larinya. Dia harus segera menuju halte apabila tidak mau ketinggalan bis. Lima menit lagi bis itu akan sampai di halte, apabila terlambat dia harus menunggu selama tiga puluh menit untuk bis selanjutnya, atau naik taxi yang tentu saja berarti dia harus merogoh dompet dalam.
Naruto sampai di halte bis dengan napas terengah-engah, keringat mengucur deras di pelipisnya. Dia hanya bisa menatap kesal karena dirinya telat beberapa detik, bus itu sudah melaju menuju halte berikutnya. Naruto menendang kerikil kecil dihadapannya dan terus merutuki nasibnya yang kurang beruntung. "Perlu tumpangan?" suara baritone itu mengagetkan Naruto dari lamunannya. "Tidak," jawab Naruto tajam.
Sasuke membuka pintu mobil dan menyeret masuk Naruto secara paksa ke dalam mobil. "Aku tidak memiliki waktu untuk bermain-main saat ini, Uchiha." Desis Naruto marah. "Aku juga tidak mau main-main denganmu," balas Sasuke dingin. "Aku akan mengantarmu ke tempat kerja, itu saja." Lanjut Sasuke datar. "Jadi, tutup mulutmu dan duduk tenang. Aku akan mengantarmu dengan cepat." Sasuke bahkan tidak menunggu respon Naruto selanjutnya, dia segera menekan pedal gas dan melajukan kendaraannya membelah jalan kota Tokyo.
"Terima kasih," desis Naruto tanpa melihat ke arah Sasuke. Naruto segera berbalik tanpa menunggu jawaban dari Sasuke. Sasuke yang merasa kesal karena merasa diabaikan, menarik pinggang Naruto hingga gadis itu tersentak dan menubruk dada bidangnya. Tanpa peringatan, bibir Sasuke mencium mesra bibir Naruto yang masih terlihat shock di pelukannya. "Selamat bekerja," Sasuke berbisik mesra di telinga Naruto sebelum akhirnya meninggalkan Naruto yang masih berdiri mematung disana untuk beberapa saat.
Naruto menghela napas panjang dan mendesah lelah. "Apa yang harus kulakukan agar kamu menyerah?" gumam Naruto pelan. "Aku tidak mungkin memilikimu, tidak bisakah kamu mengerti?" tanya Naruto pada udara kosong disekitarnya. Dengan langkah berat Naruto masuk ke dalam restauran tempatnya bekerja part time saat ini, berharap untuk bisa melupakan segala sesuatu mengenai Sasuke walau untuk sejenak.
Benar saja, apa yang ditakutkan Naruto terjadi. Bos tempatnya bekerja sudah menunggu dengan berkacak pinggang di tempat absen karyawan. "Kamu terlambat, Naruto!" katanya tajam seraya menatap sinis ke arah Naruto. Sementara gadis itu menekan ibu jarinya pada scaner untuk mengabsen dan melepasnya setelah ada suara balasan 'thank you' dari sang mesin.
"Maaf, Orochi-san. Ada rapat kelas tadi, saya benar-benar mohon maaf," kata Naruto menunduk dalam.
"Baiklah," balas Orochimaru seraya mengibaskan sebelah tangannya di depan muka. "Karena ini kali pertama kamu terlambat, aku akan memberimu keringanan untuk kali ini saja." Desisnya tajam dan penuh peringatan. "Cepat ganti pakaianmu, sudah banyak pelanggan yang datang menunggu pesanan." Katanya yang langsung beranjak pergi setelah mengatakan itu semua.
"Ha'i, arigatou Orochi-san." Kata Naruto benar-benar bersyukur. Dengan langkah cepat dia menuju ke loker dan mengambil seragam gantinya, bersiap untuk mengerjakan pekerjaannya. Setelah mengecek penampilannya, Naruto segera keluar dari ruang karyawan dan segera melayani pelanggan restauran yang ramai sore ini. "Ini akan menjadi hari yang melelahkan," gumam Naruto dengan helaan napas panjang.
Dan seperti biasa, tepat pukul enam sore pemuda itu datang ke cafe dengan membawa laptop di tangan kanan dan earphone menempel di telinganya. Sasuke selalu memesan hal yang sama setiap harinya, dan menjadi perbincangan maid lain karena ketampanannya. Sasuke tidak ambil peduli, yang ada di matanya saat ini hanya sosok Naruto. Dari sudut tempatnya duduk, Sasuke hanya bisa memperhatikan sosok Naruto yang hilir mudik melayani pelanggan. Wajahnya terlihat lelah, namun senyum itu masih terukir disana. Ingin rasanya Sasuke memeluk, mengatakan jika semua akan baik-baik saja, mengatakan jika Naruto tidak perlu bekerja keras untuk memenuhi kebutuhannya. Namun, Sasuke sadar dia masih tidak bisa mengatakan hal itu. Karena saat ini dia sendiri pun masih bersandar pada belas kasih kedua orang tuanya. Sasuke benar-benar kesal akan dirinya sendiri, yang bahkan tidak sanggup untuk melindungi seseorang yang dicintainya.
.
.
.
Naruto sampai ke apartemen sederhana miliknya tepat pukul sebelas malam. Malam ini udara terasa panas, hingga Naruto memutuskan untuk memakai celana pendek dan tank top tanpa bra. Naruto menyalakan kipas angin dan berdiam cukup lama di depannya. Merasakan kesegaran angin yang menerpa tubuhnya membuat dia mengantuk. Naruto akhirnya mematikan kipas angin, mengucek matanya pelan dan pergi ke dapur untuk membuat segelas kopi dan se-cup ramen untuk makan malamnya hari ini. Naruto meraih beberapa buku dalam bahasa Prancis untuk dipelajarinya.
Ya, dia sudah memutuskan untuk melanjutkan kuliah di Prancis. Karena itu, sepulang kerja dia terus mengasah kemampuan bahasa Prancisnya. Dia tidak bisa belajar diluar, karena hal itu memerlukan dana yang tidak sedikit. Sedangkan Naruto saat ini harus terus menabung untuk keperluan hidupnya di Prancis nanti.
Naruto terus belajar, ramennya sudah lama habis, sementara kopi miliknya sudah di ganti beberapa kali. Setengah mengantuk Naruto menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul empat pagi. Tubuhnya yang terlampau lelah sudah tidak bisa menahan kantuk yang menerpanya. Hingga akhirnya Naruto tertidur begitu lelap subuh ini dan secara alamiah dia terbangun tepat pada pukul tujuh pagi.
.
.
.
"Naruto, kamu baik-baik saja?" tanya karin cemas. "Lingkaran matamu semakin menghitam," tambahnya lagi seraya mendekatkan wajahnya pada wajah Naruto.
"Aku baik-baik saja Karin," jawab Naruto menjauhkan wajahnya dari Karin. "Yang membuatku heran adalah dirimu," kata Naruto.
"Aku?" Karin memiringkan kepala ke kiri tanda tidak mengerti.
"Kenapa kamu mencariku pagi ini, biasanya kamu mencari Gaara bukan?"
Karin memutar bola matanya dan mendengus kesal. "Jangan membahas dia saat ini, itu membuatku kesal," katanya sebal. "Kalian sedang ada masalah?" Naruto mengernyit heran.
"Begitulah," desis Karin melempar tatapan tajam ke arah Gaara yang masih terlihat tenang berbincang dengan Neji. "Jangan membuatku pusing, cepat selesaikan masalah kalian. Aku yakin semua hanya salah paham," kata Naruto.
"Sebenarnya aku juga ingin begitu," Karin mulai merajuk. "Aku menunggu dia menghubungiku atau menegurku terlebih dahulu. Tapi dia tidak melakukannya," Karin menempelkan kepala pada meja Naruto dan mengerucutkan bibirnya. "Kalau begitu coba hubungi dia terlebih dahulu," saran Naruto. "Tidak bisa," kata Karin dengan gelengan kepala cepat. "Aku ingin dia yang meminta maaf terlebih dahulu," katanya keras kepala.
"Gaara," panggil Naruto keras hingga pria itu menengok ke arahnya. "Kemarilah," panggil Naruto lemah. Sekilas Gaara melirik ke arah Karin sebelum akhirnya berjalan menuju meja Naruto. "Ada apa?" tanyanya datar. Naruto hendak membuka mulut, namun kepalanya terasa berputar dan sakit hingga tubuhnya sedikit terhuyung, beruntung Gaara dan Karin menggapai tubuh Naruto dengan tangkas. "Naruto kamu sakit?" tanya Gaara cemas.
"Tidak," jawab Naruto lemah. Naruto meraih tangan Gaara dan Karin lalu menyatukannya. "Jangan membuatku khawatir," ucap Naruto menatap sendu keduanya. "Cepat bereskan masalah kalian, kepalaku pusing melihat kalian seperti saat ini." Ujarnya dengan senyum kecil. "Pergilah dan selesaikan masalah kalian," perintahnya tegas. "Aku menunggu kabar baik dari kalian," tambahnya lagi dan dengan gerakan tangan dia mengusir keduanya untuk pergi. Naruto hanya bisa menggelengkan kepala saat melihat keduanya meninggalkan kelas. Perlahan, Naruto memijat kedua pelipisnya yang terasa berdenyut-denyut sakit. Dengan mata terpejam dia terus memijatnya, tanpa menyadari jika Sasuke sudah duduk di sampingnya saat ini.
"Kamu sakit?" tanya Sasuke lirih dan menempelkan telapak tangannya pada kening Naruto. "Badanmu agak panas," katanya semakin cemas.
"Aku baik-baik saja," jawab Naruto menepis kasar tangan Sasuke. "Aku antar ke UKS," tawar Sasuke. "Tidak perlu," tolak Naruto. "Lebih baik kembali ke tempat dudukmu, sebentar lagi bel masuk berbunyi," ucap Naruto tanpa menatap ke arah Sasuke.
"Jangan keras kepala," sergah Sasuke. Tanpa meminta persetujuan Naruto, pria itu mengangkat tubuh Naruto ke dalam dekapannya dan membawa Naruto yang terus meronta ke UKS. Mengabaikan tatapan setiap murid yang menatap heran ke arahnya, ataupun tatapan iri para siswi yang secara jelas ditujukan pada Naruto. "Aku baik-baik saja," protes Naruto kencang saat Sasuke meletakkannya di atas tempat tidur.
"Badanmu panas, kepalamu nyeri, kamu sakit Naruto. Jangan keras kepala, biarkan dokter jaga memeriksamu," teriak Sasuke frustasi. Dia terlihat sangat marah melihat kekeras kepalaan Naruto.
"Ada apa ini?" tanya Shizune saat mendengar teriakan Sasuke. "Maaf, Shizune-san. Tolong periksa Naruto, keadaannya kurang baik." Tukas Sasuke membungkam mulut Naruto yang hendak angkat bicara.
"Baiklah, tapi sebaiknya kamu kembali ke kelas Uchiha-san. Aku akan memeriksa dan menjaganya disini, sekalian berikan surat keterangan ini pada guru pengajar di kelas," Shizune membuat selembar surat pernyataan sakit dan menyerahkannya pada Sasuke.
"Kamu bisa melihatnya saat istirahat siang," kata Shizune saat melihat raut enggan pada wajah Sasuke. Dengan berat hati akhirnya Sasuke menerima surat itu dan pergi keluar dari ruang UKS untuk kembali ke kelas.
"Wajahmu sangat pucat, Uzumaki-san." Ucap Shizune seraya meraih alat pengukur tekanan darah. "Coba kita ukur berapa tekanan darahmu saat ini," katanya dengan senyum lembut dan mulai memeriksa Naruto serta memasukkan sebuah termometer ke dalam mulut gadis itu. "Tekanan darahmu rendah, dan lihat," Shizune melepas termometer dari mulut Naruto dan menggelengkan kepala. "Tiga puluh sembilan derajat celcius, itu bukan suhu normal." Katanya tenang. Shizune memeriksa mata Naruto dengan senter kecil yang disimpan di dalam jas kerjanya, dan menghela napas kecil. "Kamu kurang tidur, kurang asupan makanan bergizi dan sepertinya terlalu stres hingga tubuhmu memberontak dan merusak metabolisme tubuhmu."
"Saya baik-baik saja, dokter," kata Naruto lemah.
"Tidak, kamu tidak baik-baik saja. Jika terus seperti ini, kamu bisa terkena penyakit liver," ujar Shizune memperingatkan. "Kamu sudah makan?" Naruto mengangguk kecil. "Minumlah obat ini, dan istirahatlah. Aku akan merujukmu ke rumah sakit untuk diperiksa lebih lanjut."
"Tidak perlu," potong Naruto cepat. "Aku hanya butuh istirahat saja kan?" katanya panik.
"Aku janji, aku akan beristirahat dan menjaga pola makanku," katanya setengah merajuk.
"Kalau begitu, aku akan memberimu obat untuk satu minggu ke depan." Ujar Shizune tenang. "Jika kondisimu masih tidak fit, kamu harus memeriksakan diri ke rumah sakit. Mengerti?"
Naruto mengangguk cepat dan menerima beberapa butir obat dari tangan Shizune serta segelas air minum dan meminum semua obat itu dalam sekali tegak. "Istirahatlah, aku akan menjagamu. Dan meminta seseorang untuk mengantar makan siang juga mengantarmu pulang sore nanti."
"Ha'i, arigatou Shizune-san," ujar Naruto begitu mengantuk karena reaksi obat yang baru saja diminumnya.
.
.
.
Naruto mengerjapkan matanya yang masih terasa begitu ngantuk. Telinganya menangkap isakan lirih dari samping tempat tidurnya. Naruto melirik ke arah suara dan dengan samar dapat dilihat jika Karin duduk di samping tempat tidurnya, menangis dan coba ditenangkan oleh Gaara yang berdiri di belakangnya.
"Kalian sudah baikan?" tanya Naruto menatap kedua temannya lurus. "Syukurlah jika kalian sudah baikan," katanya lirih dan berbalik memunggungi keduanya.
"Naruto?" teriak Karin yang akhirnya mendapat teguran keras dari Shizune. "Maaf," ujar Karin lirih menatap Shizune dengan tatapan memohon maaf. "Naruto, kami kesini karena mengkhawatirkanmu," kata Karin masih terisak kecil. "Kenapa malah berbalik memunggungi kami? Dasar tidak sopan!" lanjutnya sambil menghapus air mata dengan tisu yang disodorkan oleh Gaara.
Naruto kembali berbalik dan tidur terlentang, "aku benar-benar ngantuk saat ini, mungkin akibat obat yang diberikan Shizune-san."
"Apa kamu masih merasa pusing?"
"Tidak, Karin. Hanya saja badanku terasa lemas, dan mataku benar-benar ngantuk," jawab Naruto setengah berbisik.
"Bangunlah dulu, kamu harus makan dan minum obat." Tukas Gaara seraya membantu Naruto untuk duduk. "Kalian membawakanku makan siang?" tanya Naruto yang sudah duduk nyaman.
"Ya," jawab Gaara pendek sedangkan Karin mengangguk dan menyerahkan nampan pada Naruto.
"Arigatou," tukas Naruto yang mulai memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Menghabiskannya hingga separuh bagian dan menelan obat yang sudah disiapkan untuknya.
"Bisakah kalian meninggalkan kami berdua?" tanya Sasuke yang baru saja masuk ke ruang UKS menginterupsi perbincangan ketiganya. Gaara hanya melirik ke arah Karin yang balik menatapnya seolah bicara tanpa kata. Tanpa banyak bicara keduanya segera keluar meninggalkan Naruto dan Sasuke di ruangan itu.
"Untuk apa kamu kesini?" tanya Naruto begitu ketus, namun Sasuke tidak menggubris dan memilih untuk duduk di samping Naruto. "Bagaimana keadaanmu?" tanya Sasuke tidak mengidahkan tatapan tajam Naruto.
"Aku baik-baik saja," jawab Naruto dingin. "Aku akan mengantarmu pulang," ucap Sasuke tegas. "Tidak perlu," Naruto berkata santai. "Aku sudah meminta Gaara untuk mengantarku pulang," tambahnya berbohong.
"Tidak perlu berbohong untuk menolakku," tukas Sasuke tajam. "Aku tetap akan mengantarmu pulang sore ini." Naruto melirik ke arah Sasuke dari balik bulu mata lentikknya. Wajah tampan pemuda itu nampak letih dengan kecemasan nyata tergambar disana. Mau tidak mau hal itu meninggalkan tanda tanya di hati Naruto. 'Apa dia mencemaskanku?' tanyanya dalam hati.
Sasuke beranjak untuk duduk di tepian tempat tidur. Meraih tangan Naruto ke dalam genggamannya, mencium dan membawa tangan itu ke pipinya. Naruto masih enggan untuk menanggapi tindakan Sasuke saat ini, dia lebih memilih untuk melihat langit-langit UKS dengan tatapan kosong.
"Naruto?" panggil Sasuke lirih. "Jangan membuatku khawatir seperti ini," lanjutnya yang saat ini berbaring nyaman di samping Naruto. "Katakan padaku, apa yang harus kulakukan agar kamu mau memaafkanku dan kembali padaku? Kumohon, mengertilah aku begitu menderita saat jauh darimu," tambahnya seolah ingin menceritakan semua ganjalan hatinya pada sosok wanita yang berbaring di sampingnya saat ini.
Naruto berbalik dan tidur menyamping berhadapan dengan Sasuke. Naruto baru menyadari jika wajah pria itu sedikit tirus, kulit pucatnya nampak tidak sehat. "Kembalilah pada tunanganmu, itu yang terbaik. Untukku, untukmu dan untuk masa depanmu," ujar Naruto lirih. Sasuke menggelengkan kepalanya cepat dan mencium tangan Naruto yang dia genggam erat. "Tidak, aku tidak bisa." Katanya setengah berbisik. "Apa kamu masih tidak mengerti? Hanya kamu satu-satunya wanita yang kucintai," katanya seraya menyatukan kedua kening mereka. "Duniaku akan hancur tanpa dirimu."
"Jangan berlebihan Sasuke," Naruto menanggapi. "Cinta akan datang seiring waktu," namun Sasuke tidak menanggapi, yang pria itu lakukan malah memeluk erat Naruto dan menyamankan dirinya disana. "Menyerahlah terhadapku, semua ini hanya akan menyakiti kita berdua," gumam Naruto tidak jelas sedangkan Sasuke yang menolak pemikiran Naruto semakin mengeratkan pelukannya pada gadis itu.
"Sas?" langkah Shikamaru terhenti saat melihat sosok temannya itu tertidur nyaman di samping Naruto yang juga tertidur pulas. Beberapa hari ini, Shikamaru memang melihat sikap Sasuke yang tidak biasa. Teman akrabnya itu terlihat lelah dan sering melamun, memandang dengan tatapan kosong yang terarah lurus pada punggung Naruto yang duduk beberapa meja di depannya.
Perlahan Shikamaru menarik gordyn pembatas dan melangkah keluar dari dalam UKS. Memberikan kesempatan bagi keduanya untuk menghabiskan waktu bersama. Shizune yang melihat kepergian Shikamaru beranjak dari tempat duduknya untuk mengecek keadaan Naruto. Dokter muda itu menghela napas panjang saat melihat kedua muridnya tidur di atas satu tempat tidur yang sama. Shizune menyentuh dahi Sasuke, sedikit terkejut saat mendapati suhu tubuh muridnya di atas suhu normal.
"Sepertinya aku tidak bisa mengganggu mereka saat ini," Shizune bergumam pelan dan kembali beranjak ke meja kerjanya. Membuat surat pernyataan untuk wali kelas mengenai keadaan Sasuke, agar diijinkan beristirahat di UKS selama sisa jam pelajaran berlangsung.
.
.
.
Naruto pada akhirnya memilih untuk menuruti nasehat Shizune dan beristirahat selama tiga hari. Dirinya tidak ikut dalam hal persiapan untuk perayaan festival musim panas di KHS.
Kedatangan Naruto disambut riang oleh Karin yang terus menempel pada dirinya sepanjang siang, karena memang tidak ada kelas pada hari menjelang festival.
Karin terus berceloteh tanpa henti, menceritakan kejadian demi kejadian di sekolah saat Naruto tidak masuk. Naruto tertawa renyah saat mendengar jika Kiba mendapat ganjaran karena dihajar oleh kedua pacarnya yang kebetulan masih saudara sepupu tempo hari. Ada juga Neji yang kewalahan karena dinobatkan sebagai ketua panitia merangkap asisten Guy sensei selama persiapan festival berlangsung. Dan Naruto juga baru mengetahui jika selama Naruto tidak masuk, Sasuke pun melakukan hal yang sama, dan baru masuk hari ini.
Naruto melirik ke arah Sasuke dengan ekor matanya. Penampilan pria itu sudah terlihat lebih baik dari pertemuan terakhir mereka di UKS, wajahnya masih terlihat tirus, tapi kulitnya terlihat sehat. Sasuke menyeringai kecil menanggapi ocehan Kiba, sedangkan Shikamaru tertidur pulas di pojok kelas. Naruto sama sekali tidak tahu apa yang mereka bicarakan, namun dia merasa sedikit lega melihat perubahan positif pada diri Sasuke.
Diluar kelas beberapa siswi berteriak histeris saat melihat Neji berjalan dengan menenteng dua buah yukata di tangan kanannya dan sebuah map besar di tangan kirinya. Dengan langkah besar dia berbelok masuk ke kelas 3-1 dan mengedarkan pandangannya ke seluruh kelas. "Syukurlah kalian sudah masuk," katanya mendesah lega. "Ini seragam untukmu," ujar Neji menyerahkan sebuah yukata pada Naruto. "Aku harap ukurannya cocok untukmu, kamu akan menjaga stand di hari pertama, ketiga dan hari terakhir." Jelas Neji sementara Naruto mengangguk mengerti dan menerima yukata yang di berikan Neji padanya.
"Dan ini untukmu Sas," Neji kembali menyerahkan sebuah yukata pria pada Sasuke.
"Jadwal jagamu sama dengan Naruto, jadi mohon bantuan kalian," seru Neji penuh arti. "Satu hal lagi, aku menargetkan pemasukan lebih pada saat kalian bertugas nanti, karena itu, selamat berjuang!" katanya memberi semangat dan kembali berjalan keluar ruangan untuk mengerjakan tugasnya sebagai panitia penyelenggara festival tahun ini.
Beberapa saat kemudian Gaara berjalan masuk dengan membawa setumpukan buku di depan dadanya. Gaara menyimpan buku itu diatas meja dengan suara 'buk' keras. "Naruto, kepala sekolah memanggilmu," tukas Gaara. "Aku?" Naruto menunjuk pada wajahnya sendiri. "Yup," jawab Gaara pendek.
"Untuk apa kepala sekolah memanggil Naruto?" tanya Karin pada Gaara sedangkan kekasihnya itu hanya mengangkat bahu tidak tahu. "Lebih baik aku bergegas menemuinya, jaa...!" Kata Naruto beranjak pergi.
Lorong-lorong sekolah dipenuhi oleh murid yang beberapa diantaranya masih sibuk mempersiapkan festival yang tinggal beberapa hari lagi. Naruto terus melangkah dan mengetuk pelan pintu ruang kepala sekolah. "Anda memanggil saya, Jiraiya-sama?" tanya Naruto sopan setelah dipersilahkan masuk.
"Duduklah, Naruto!" tukas Jiraiya dengan suara berat dan berwibawa.
"Arigatou," ucap Naruto menunduk hormat dan duduk nyaman di kursi depan meja kerja Jiraiya.
"Aku sudah mempelajari arsip mengenai rencanamu untuk melanjutkan kuliah di Prancis," ujar Jiraiya membuka perbincangan diantara mereka. "Kamu yakin akan meneruskan kuliah di Prancis?"
"Ya," jawab Naruto mantap. "Saya sudah memikirkannya dengan baik, dan saya tetap akan memasukkan aplikasi ke beberapa universitas negeri yang ada di Paris."
"Kenapa Prancis, kenapa harus Paris?" tanya Jiraiya dengan nada serius. "Dengan prestasimu, aku yakin kamu bisa mendapat bea siswa di salah satu perguruan tinggi di London maupun Boston."
"Karena universitas negeri di Prancis lebih murah," jawab Naruto dengan tersenyum kecil. "Selain itu, Paris adalah kota pelajar terbaik di dunia. Ada enam belas universitas yang masuk jajaran universitas terbaik dunia. Lulusan universitas Paris banyak diperlukan di perusahaan internasional maupul lokal. Negara Prancis juga memberikan ijin bagi para mahasiswa luar untuk bekerja part time di hari biasa, dan full time di hari libur tanpa harus mengurus visa kerja. Fasilitas umumnya sangat baik, dan bagi mahasiswa akan dapat potongan harga untuk transportasi publik, maupun restoran." Jelas Naruto panjang lebar dan menambahkan. "Dan seandainya saya tidak berhasil mendapat bea siswa, setidaknya saya bisa membiayai uang sekolah dan biaya hidup sehari-hari dengan bekerja part time. Selain itu, akses untuk memasukkan aplikasi visa pelajar pun tergolong mudah, karena saya hanya perlu memasukkannya ke konsulat melalui situs pemerintah Prancis, atau Campus France."
"Begitu?" Jiraiya mengangguk mengerti. "Mendengar penjelasan-mu yang terperinci sepertinya kamu berniat untuk menetap disana."
"Siapa yang tahu," Naruto kembali tersenyum senang.
"Bagaimana dengan masalah bahasa, apa kamu akan mengambil universitas dengan jurusan bahasa Inggris?"
"Tidak," jawab Naruto cepat. "Saya sudah belajar bahasa Prancis dan sudah menguasai level intermediate. Jadi rasanya saya tidak perlu khawatir secara berlebihan mengenai kendala bahasa."
"Kamu benar-benar mengejutkan, Uzumaki Naruto." Kata Jiraiya memuji. "Baiklah, kami pihak sekolah akan membantu sekuat tenaga. Yang perlu kamu lakukan saat ini adalah fokus, dan berjuang untuk nilai terbaikmu nanti."
"Saya mengerti, Jiraiya-sama. Terima kasih untuk dukungannya," balas Naruto yang segera berdiri dan membungkuk hormat.
"Satu lagi Naruto," ucap Jiraiya memotong perjalanan Naruto yang sudah setengah jalan. "Jaga kesehatanmu, itu sangat penting."
"Ha'i, arigatou," ucap Naruto penuh rasa terima kasih dan meneruskan sisa perjalanannya keluar dari ruang kepala sekolah.
"Apa yang dikatakan kepala sekolah?" tanya Karin ingin tahu. Naruto segera duduk di samping Gaara yang terlihat sibuk dan mengambil salah satu buku yang berada di atas meja pemuda itu. "Jangan hiraukan dia, Naruto. Dia sedang pura-pura sibuk," desis Karin melirik tajam ke arah Gaara yang masih membaca bukunya dengan khidmat. "Apa yang kepala sekolah katakan?" tanya Karin lagi kembali ke topik semula.
"Dia bertanya mengenai universitas pilihanku," kata Naruto tanpa mengalihkan pandangan dari buku yang sedang dibuka halaman demi halaman olehnya. Gaara mendongak dan bertanya dengan nada serius. "Kamu jadi melanjutkan sekolah disana?" Naruto hanya mengangkat kedua alisnya beberapa kali sebagai tanda 'Ya'. "Dimana?" tanya Karin tidak mengerti.
Naruto menutup buku yang ada di tangannya dan tersenyum lebar ke arah Karin. "Aku akan memberitahumu setelah aku diterima nanti. Jadi, hal ini masih rahasia kecil diantara kami berdua," kata Naruto tersenyum kecil dan bertukar pandang dengan Gaara.
"Kalian benar-benar menyebalkan," desis Karin sebal.
"Bagaimana denganmu?" tanya Naruto. "Kamu akan melanjutkan dimana?"
Karin tersenyum lebar dan merangkul tangan Gaara manja. "Aku akan mengikuti kemanapun Gaara pergi," katanya.
"Yakin?" Gaara mengangkat sebelah alisnya menatap Karin datar. "Dengan otakmu yang pas-pasan itu kamu mau mengikutiku masuk universitas Tokyo?" tanyanya dengan nada meremehkan.
"Tentu saja," raung Karin tidak terima. "Aku akan buktikan jika aku juga mampu masuk universitas yang sama denganmu."
"Kalau begitu, selamat berjuang!" tukas Gaara dengan nada sing a song. Karin yang tersulut emosi akhirnya memilih untuk meninggalkan Gaara, memberikan senyum manis pada Naruto dan kembali ke kelasnya. "Berhenti mengganggunya, Gaara." Tegur Naruto.
"Dia perlu cambukan untuk maju," balas Gaara datar. "Terserah," ujar Naruto tidak peduli dan memilih untuk kembali ke tempat duduknya sendiri, memilih menghabiskan waktu dengan membaca buku.
.
.
.
Siang ini, Konoha High School begitu ramai. Beberapa saat yang lalu, Jiraiya selaku kepala sekolah secara formal membuka festival musim panas yang rutin dilaksanakan di KHS setiap satu tahun sekali. Untuk lima hari ke depan, sekolah ini dibuka untuk umum guna menarik pengunjung dari luar. Biasanya para orang tua maupun kerabat murid datang untuk melihat kegiatan putra putri mereka selama festival berlangsung.
"Naruto, kamu terlihat sangat cantik." Pekik Karin riang. "Seharusnya kamu lebih sering berdandan, lihatlah, kamu sangat cantik. Aku benar-benar iri," seru Karin mengelus lembut helai rambut Naruto.
"Aku tidak memiliki alasan untuk berdandan," kata Naruto menarik rambutnya ke atas dan mengikatnya kencang hingga menyerupai ekor kuda. "Apa tidak ada seseorang yang menarik perhatianmu saat ini?" Karin bertanya ingin tahu.
"Tidak ada," jawab Naruto cepat seraya memakaikan aksesoris sederhana pada rambutnya. "Aku tidak memiliki waktu untuk hal-hal seperti itu," katanya tersenyum kecil. "Aku hanya ingin lulus dan mendapat bea siswa untuk bisa melanjutkan kuliah," lanjutnya dengan helaan napas panjang.
"Aku yakin kamu akan mendapat bea siswa itu dengan mudah, tidak seperti aku." Keluh Karin mengerang kecil. "Semoga aku mendapat keajaiban dan lulus masuk universitas Tokyo," katanya dengan mengatupkan kedua tangannya di depan dada.
"Amien," ujar Naruto mengamini. Keheningan menghampir mereka setelahnya, namun hanya sesaat karena ada panggilan masuk pada telpon genggam Naruto. Naruto mengernyit dan menolak panggilan masuk tersebut. "Kenapa tidak diterima?" tanya Karin heran.
"Malas," jawab Naruto datar. "Apa itu Sasuke?" tanya Karin lagi dengan raut ingin tahu.
"Begitulah," Naruto mendengus kecil dan menatap gadis dihadapannya dengan senyum tipis. "Karin, aku harus keluar untuk menjaga stand, apa kamu bertugas hari ini?"
Karin mengangguk kecil. "Aku ditugaskan untuk menjaga loket masuk rumah hantu," dengusnya sebal. "Dari semua ide, kenapa kelasku memilih rumah hantu untuk festival tahun ini?" ujarnya melupakan pertanyaan mengenai hubungan Naruto dan Sasuke yang berputar di otaknya beberapa saat lalu.
"Rumah hantu tidak buruk," hibur Naruto. "Jika sudah selesai bertugas, aku akan mampir kesana." Katanya berjanji.
"Baiklah," Karin berdiri dengan cepat dan tersenyum lebar. "Hari ini mari kerjakan tugas kita dengan baik. Semangat, Naruto!" katanya seraya mengepalkan tangannya ke udara. Naruto mengangguk kecil dan menjawab dengan kencang. "Semangat!"
.
.
.
"Kamu dari mana?" tegur Kiba berkacak pinggang. "Cafe sudah dibuka sepuluh menit yang lalu," katanya ketus. "Lihat, sudah banyak pengunjung yang datang." Kiba memperhatikan Naruto dari ujung kaki hingga ujung kepala dan berdecak keras. "Kamu berdandan?" cibirnya. "Tapi tidak ada yang berubah, kamu masih terlihat biasa. Tidak ada cantik-cantiknya," katanya terkekeh dan menyeringai puas. "Ouw..." ringis Kiba sesaat setelah Neji memukul kepalanya dengan buku catatan besar yang digenggamnya.
"Sakit, Neji!" teriak Kiba kencang, menyebabkan beberapa kepala pengunjung menoleh ke arahnya. "Berhenti bicara dan cepat bekerja!" ujar Neji bossy sedangkan Kiba masih mengusap-usap kepalanya yang sakit akibat ulah Neji.
"Bukan aku yang terlambat bertugas," protes Kiba keras. "Tapi dia," tunjuknya ke arah Naruto yang menatapnya datar dan berlalu pergi untuk mengerjakan tugasnya hari ini, menjadi maid cafe kelas 3-1.
"Berhenti protes dan lakukan tugasmu," sela Sasuke dengan nada datar seperti biasa. Sasuke memberikan catatan pesanan yang diterima dengan gerutuan pelan dari Kiba yang pada akhirnya memilih untuk mundur ke belakang counter dan menyampaikan pesanan ke kepala koki untuk hari ini.
"Berhenti menatapnya seperti itu," tegur Neji tajam. "Pengunjung kita bisa lari jika melihat wajah galakmu saat ini." Lanjutnya santai, sedangkan matanya mengikuti arah pandangan Sasuke yang menatap sosok Naruto tajam.
Sasuke mengacak rambutnya pelan dan berdesis kasar. "Dia memakai make up, Neji." Katanya kesal. "Untuk apa dia memakai make up? Hah, untuk apa?" tanyanya berulang pada Neji yang bersikap acuh seperti biasa. "Dia bahkan tidak mengangkat telponku," Sasuke mengepalkan tangan menahan marah. "Apa dia berniat melupakanku dan menarik perhatian pengunjung pria untuk mendapat pacar baru?"
"Apa salahnya?" balas Neji. "Kalian sudah putus, dan saat ini dia single." Lanjutnya mengingatkan, bahkan menghiraukan tatapan membunuh dari kawan dekatnya saat ini. "Lagi pula, maid cafe memang harus berpenampilan menarik agar menarik pengunjung lebih banyak."
"Aku akan membayar lebih, bubarkan semua pengunjung dan tutup cafe," desis Sasuke tajam.
Neji menggelengkan kepala dan tersenyum tipis. "Bukan begitu cara mainnya," ujarnya santai. "Bersikaplah biasa Sas, perilakumu saat ini seperti seorang suami yang sedang cemburu."
Sasuke mengambil nampan yang berada di atas meja counter dengan kasar dan menjawab ketus, "terserah!" katanya beranjak pergi meninggalkan Neji yang tersenyum puas di belakang punggungnya.
"Dan kamu, Shika." Neji berjalan ke arah belakang meja counter dan menarik tubuh Shikamaru yang sedang tertidur di atas kursi kasir. "Bangun dan kerjakan tugasmu!" Shikamaru menguap lebar dan mengerjapkan mata beberapa kali. "Belum ada pengunjung yang membayar, jadi biarkan aku tidur sebentar," kilah Shikamaru malas dan mulai menutup matanya kembali.
"Bangun Shika!" desis Neji dengan nada setengah oktaf lebih tinggi. "Kerjakan tugasmu dengan baik, atau aku pastikan kamu tidak akan pernah bisa tidur tenang selama sisa waktumu di sekolah ini."
"Memang apa yang bisa kamu lakukan," Shikamaru balik menantang.
"Guy sensei sedang memerlukan asisten tambahan hingga ujian tiba nanti," sahut Neji berpura-pura menekuri kukunya yang terawat cantik. "Aku akan senang hati merekomendasikanmu pada beliau, dan aku yakin beliau akan sangat gembira mendapatkanmu sebagai asisten selama sisa tahun ajaran." Ujar Neji menyeringai penuh kemenangan.
"Aku akan mengerjakan tugasku dengan baik," Shikamaru segera berdiri dan tersenyum meyakinkan. "Jangan khawatir, aku pastikan jika aku akan tetap terjaga selama masa tugasku," katanya serius.
"Bagus," sahut Neji senang. "Dan jangan coba-coba mengelabuiku, Shika." Katanya dengan sorot mata mengancam. "Aku memiliki banyak mata-mata," lanjutnya pelan seraya melambaikan tangan dan bergegas pergi keluar ruang kelas 3-1 yang disulap menjadi cafe untuk lima hari kedepan. Meninggalkan Shikamaru yang bergumam pelan, "merepotkan."
.
.
.
Beralih ke dalam sebuah gedung perkantoran milik Namikaze Corp. Seorang pria paruh baya yang memegang tampuk kekuasaan tertinggi di perusahaan itu terlihat gusar. Beberapa kali dia melihat ke arah pintu masuk, menunggu kedatangan seseorang yang sudah cukup lama dinantinya. Namikaze Minato, nama pria paruh baya itu menekan intercom yang berada dihadapannya. "Mei, apa dia sudah datang?"
"Belum, Pak." Jawab sang sekretaris singkat. Tanpa berkata lebih lanjut, Minato mematikan interkom dam menyandarkan punggungnya yang terasa kaku ke punggung kursi kerjanya yang nyaman. "Kakashi, kamu benar-benar menguras kesabaranku," kata pria itu lirih. Minato mengetuk-ngetukkan jarinya pada meja kerja jatinya, mengabaikan setumpuk file pekerjaan yang harus dia periksa siang ini. Minato menutup mata, pikirannya melayang jauh, jauh ke lima belas tahun yang lalu.
Flashback On :
Minato sudah tidak bisa menghitung, berapa kali dirinya dan Kushina bertengkar karena dirinya bertambah sibuk setelah Namikaze Corp berkembang pesat. Hati kecil Minato membenarkan jika hal itu adalah kesalahan dirinya. Namun egonya berteriak keras jika semua yang dia lakukan semata-mata untuk kebahagiaan keluarganya.
"Kita akhiri saja," ucap Kushina malam itu dengan suara bergetar menahan tangis.
"Apa maksudmu," desis Minato tajam seraya membuka jas dan melonggarkan dasinya. "Jangan memulai pertengkaran Kushina," bentak Minato kasar. "Aku lelah," katanya melempar jas ke atas sofa kasar.
"Kami juga lelah, Minato," balas Kushina dingin. "Berapa kali kamu melalaikan janji, hanya untuk apa? Bertemu klien katamu?" Kushina mendengus kesal.
"Aku bekerja siang dan malam untukmu, untuk kedua putri kita," Minato berteriak keras.
"Dan menghabiskan sisa malam dengan sekretarismu?"
Mata Minato membelalak lebar mendengar penuturan Kushina, perlahan dia mendekati tubuh Kushina yang kembali bergetar menahan tangis. "Itu semua tidak benar," ucap Minato lirih.
"Jangan sentuh aku," ujar Kushina dingin dan menatap nyalang Minato. "Sekretarismu sangat baik hati, hingga mengirimkan bukti kemesraan kalian padaku," katanya tanpa bisa menahan air matanya yang terus turun deras.
"Aku mabuk saat itu," bela Minato. "Aku tidak sadar akan apa yang terjadi," katanya lagi mencoba meyakinkan. "Maafkan aku," mohonnya.
"Hatiku terlalu sakit Minato, aku tidak yakin untuk bisa memaafkanmu kali ini," balas Kushina menyeka air matanya yang sudah setengah kering. "Aku sudah pikirkan tentang hal ini, Minato." Ujarnya tenang dan memberikan sebuah map pada Minato. "Kita akhiri saja, tandatangani berkas cerai kita. Besok aku akan pergi membawa kedua putri kita."
"Tidak," Minato meraung marah hingga membangunkan kedua putri mereka yang sedang tidur terlelap. "Kecilkan suaramu, Minato!" Kushina memeluk kedua putrinya erat, yang kebetulan malam itu meminta untuk tidur di kamar kedua orang tuanya.
"Bagaimana bisa kamu mengambil keputusan sepenting ini hanya dalam satu malam?" Minato mendesis tajam, mengabaikan kedua putrinya yang mulai terisak takut di pelukan Kushina.
"Kita bicarakan nanti, kamu menakuti kedua putri kita," balas Kushina seraya menenangkan kedua putrinya.
"Kita bereskan malam ini juga," ucap Minato dingin. "Aku tidak mau menunda masalah hingga menjadi semakin besar," katanya lagi. Kushina mendesah lelah, melirik Minato yang saat ini sudah dikuasai oleh amarah. Dengan cepat Kushina menekan interkom untuk memanggil Chiyo, yang berperan sebagai pengasuh kedua putrinya.
Tidak perlu waktu lama untuk Chiyo datang dan membawa pergi Kurama dan Naruto kecil kembali ke kamarnya, dengan sedikit bujukan tentunya. Chiyo melirik sekilas ke arah Kushina yang menatapnya dan mengangguk kecil seolah berkata jika dirinya baik-baik saja.
"Aku tidak bisa menerima keputusanmu," Minato melempar berkas yang diberikan Kushina setelah Chiyo dan kedua putrinya keluar kamar. "Ini akan menjadi skandal!"
"Aku tidak peduli," Kushina membalas pelan. "Ini yang terbaik untuk keluarga kita, kamu bisa melanjutkan kehidupan barumu, aku sudah tidak peduli."
"Bagaimana dengan putri kita?"
"Sudah aku katakan, aku akan membawa mereka."
"Tidak!" Minato menggeleng keras. "Tidak ada satu orang pun yang boleh keluar dari rumah ini tanpa ijinku," teriaknya keras.
"Jika kamu benar-benar memikirkan keluargamu, seharusnya kamu berpikir sebelum selingkuh dengan sekretarismu!"
"Sudah kubilang, aku mabuk," raung Minato membela diri.
"Hal itu tetap tidak membenarkan perbuatanmu," desis Kushina. "Kamu sudah menodai sumpah pernikahan kita."
"Dan aku menyesal," Minato bersimpuh di hadapan Kushina. "Maafkan aku," katanya serak.
"Terlambat, Minato." Kushina menatap Minato kecewa. "Aku bisa memaafkan semua kesalahanmu, kecuali satu. Aku tidak bisa memaafkan dosamu yang telah berselingkuh dariku."
"Jadi kamu tetap akan pergi," Minato berdiri dan memicingkan mata, emosinya kembali tersulut karena kekeras-kepalaan Kushina.
"Ya," jawab Kushina pendek.
"Baik, kalau kamu mau pergi, pergilah seorang diri. Kurama dan Naruto akan tetap bersamaku."
"Tidak, kedua putriku akan pergi bersamaku." Kushina bersikukuh.
Minato memutar otak dan akhirnya bicara. "Kita harus adil dalam hal ini. Kurama akan tetap tinggal disini, sedangkan Naruto bisa kau bawa pergi."
Cukup lama Kushina berpikir, hingga akhirnya dia menjawab. "Baiklah," Kushina menghela napas pasrah. "Besok aku akan pergi bersama Naruto."
"Jangan ucapkan selamat tinggal pada Kurama. Pergilah sebelum matahari terbit," ucap Minato dingin tanpa mau melihat sosok Kushina yang berdiri rapuh di belakangnya.
"Aku mengerti," balas Kushina dengan nada getir, mengakhiri pertengkaran mereka dan menghilang bersama Naruto lama sebelum sang fajar terbit di ufuk timur.
Malam itu adalah malam yang paling disesali oleh Minato. Keegoisannya terus berteriak jika Kushina tidak akan mampu bertahan tanpa harta keluarga Namikaze, menyerah dan kembali pada dirinya. Minato sengaja memilih Kurama untuk tinggal bersamanya karena dari kedua putrinya, Kurama-lah yang sering jatuh sakit dan menyebabkan Kushina selalu khawatir. Karena itu, Minato yakin jika dengan menahan Kurama disisinya bisa membawa Kushina kembali padanya, dan mereka akan memulai kembali kehidupan mereka yang dulu begitu sempurna. Namun, hal itu juga meleset dari dugaan Minato. Kushina tidak pernah kembali. Acap kali, hati kecilnya berbisik agar dia mencari, memohon ampun pada istrinya itu dan menjemput kedua orang yang paling dicintainya untuk kembali ke rumah. Tapi, lagi-lagi sikap egoisnya menahan dirinya untuk melakukan hal itu. Minato memecat sekrertarisnya itu yang sudah lancang memeras dengan photo yang ada di tangannya. Minato mengerahkan segala kekuasaanya untuk menyumpal dan menekan mantan sekretarisnya itu sekaligus menghancurkan segala barang bukti yang menjadi alat pemerasan. Minato sudah kehilangan Kushina dan Naruto, dia sudah tidak bisa kehilangan lebih dari ini.
Flasback End
Detik demi detik berlalu membuat pria paruh baya itu semakin gugup dan tidak tenang, hingga sebuah ketukan di pintu ruang kerjanya membawanya kembali dari lamunannya. "Masuk!" katanya dengan nada suara dalam. Kakashi melenggang masuk dan membungkuk hormat seraya menyerahkan sebuah map manila coklat, yang dijawab helaan napas panjang dari pria paruh baya itu. "Ini hasil laporan yang anda inginkan, Namikaze-sama." Tukas Kakashi penuh hormat.
Minato menggeser map laporan yang diberikan Kakashi, dan menatap tangan kanannya itu lurus. "Aku ingin mendengar laporanmu secara langsung," katanya dengan nada berat. Kakashi terdiam untuk beberapa saat dan menjawab. "Laporan yang akan saya berikan tidak menyenangkan," ungkap Kakashi datar.
"Katakan," perintah Minato tegas.
"Uzumaki-san," Kakashi memulai. "Beliau telah meninggal tiga tahun yang lalu karena kecelakaan," katanya tanpa mengalihkan pandangan dari atasannya tersebut. Sesaat wajah Minato terlihat sedih, sebelum akhirnya dia berhasil menenangkan diri. "Dan putriku? Bagaimana dengan putriku?"
"Putri anda ada di Tokyo," jawab Kakashi tenang.
"Sejak kapan?"
"Sejak dua tahun yang lalu," jawab Kakashi lagi cepat.
"Bagaimana dengan biaya hidup, bagaimana cara dia bertahan?"
"Putri anda bekerja part time."
"Apa dia sekolah?"
"Ya, dia sekolah. Bahkan sekolah di tempat terbaik di negeri ini. Putri anda sekolah di KHS," jelas Kakashi yang disambut helaan napas lega Minato.
"Apa yang harus kulakukan, Kakashi?" tanya Minato. "Aku rasa putri bungsuku bahkan tidak tahu mengenai keberadaanku dan Kurama," katanya seraya menatap photo kelulusan Kurama yang diletakkan di atas meja kerja dengan bingkai pigura kuno yang cantik. "Aku bukan ayah yang baik," akunya penuh sesal. "Jika aku tiba-tiba muncul di kehidupannya, menurutmu bagaimana reaksinya?"
Kakashi menatap Minato dan membalas datar. "Dua kemungkinan," katanya. "Dia akan menerima anda dengan tangan terbuka, atau dia akan berlari ketakutan."
"Kenungkinan kedua yang aku takutkan," ucap Minato dengan helaan napas pendek. "Jika sifat Kushina menurun padanya, aku yakin kemungkinan kedualah yang akan terjadi," Minato tersenyum miris sementara sorot matanya terlihat sedih.
"Setidaknya masih ada kemungkinan pertama," balas Kakashi memberi semangat. "Jika anda tidak mencoba, anda tidak akan dapat jawabannya."
Minato kembali mengambil napas panjang. "Makam Kushina, kamu tahu lokasinya?" Kakashi mengangguk menjawab pertanyaan Minato. "Besok tolong antar aku kesana," pinta Minato. "Sekarang, pulang dan istirahatlah, kamu memerlukannya."
"Baik," jawab Kakashi mengangguk hormat dan melenggang pergi meninggalkan Minato yang tertunduk dalam di kursi kerjanya.
Perlahan Minato membuka laci meja kerjanya dan mengambil selembar photo yang nampak usang. "Inikah caramu untuk menghukumku, Kushina?" katanya serak. "Kamu pergi tanpa memberikan maaf padaku," lanjutnya tanpa bisa membendung air mata yang sedari tadi ditahannya. "Kamu tidak memberikanku kesempatan untuk bersujud dan meminta maaf. Aku bahkan tidak bisa menebus kesalahanku." Tubuh Minato berguncang hebat, untuk kali pertama dalam hidupnya dia merasa tidak berguna. Dunianya yang tinggal separuh, hancur saat ini, hanya menyisakan puing-puing penyesalan. "Apa yang harus kukatakan pada Kurama dan bagaimana caraku untuk bicara dengan Naruto?" Minato berkata lirih membenamkan kepala di kedua tangannya yang dia lipat di atas meja.
Selang tiga puluh menit kemudian, Kurama datang berkunjung ke kantor Minato. Ingin memberi kejutan, jadi putri sulungnya itu sengaja tidak memberi kabar jika akan datang siang ini. Kurama melihat pantulan dirinya pada pintu lift yang dinaikinya dan tersenyum kecil melihat penampilannya yang selalu terlihat sempurna. Kurama berjalan anggun, membalas sopan sapaan setiap pegawai Minato yang memang mengenalnya.
"Mei-san, apa tou-san ada?" tanya Kurama pada Mei yang tampak serius mengerjakan pekerjaannya.
Mei menatap Kurama dan tersenyum canggung. "Beliau ada, tapi-" katanya tampak gelisah.
"Tapi apa?"
"Beliau berpesan jika hari ini tidak mau diganggu," jelas Mei lirih.
"Benarkah?" Kurama menatap pintu kantor Minato dan menggigit bibir bawahnya. 'Aneh, apa tou-san sakit?' pikir Kurama mulai cemas. "Mei-san, aku akan mengecek keadaan tou-san. Aku takut jika dia sakit," jelas Kurama melenggang pergi. Menghiraukan Mei yang melarangnya untuk masuk.
"Tou-san?" panggil Kurama menutup pintu di belakangnya pelan. "Tou-san sakit?" tidak ada jawaban dari Minato membuat Kurama semakin gelisah. "Tou-san?" Kurama memeluk tubuh Minato yang bergetar dari belakang. "Ada apa? Tou-san menangis?" Kurama mengambil selembar photo yang tergeletak di atas meja. Jantung Kurama seolah berhenti berdetak saat melihat photo tersebut. "Kaa-san?" ucapnya lirih. "Tou-san, sebenarnya ada apa?" Kurama berlutut di samping Minato yang masih larut dalam kesedihannya.
Minato duduk tegak dan menatap nanar putrinya yang nampak cemas. "Kurama," katanya setengah berbisik. "Tolong maafkan tou-san," lanjutnya seraya meremas kedua tangan Kurama. "Tou-san tahu jika tou-san tidak layak untuk dimaafkan, tapi, tou-san benar-benar menyesal."
"Sebenarnya ada apa? Apa yang harus aku maafkan?" dan Minato pun menceritakan kejadian sebenarnya antara dirinya dan Kushina.
.
.
.
Kurama berlari meninggalkan ruangan Minato, meninggalkan pria paruh baya itu yang terlihat sangat menyedihkan. Kurama menahan tangisnya yang siap meledak kapan saja. Bagaimana mungkin ayahnya tega membohongi dirinya selama ini. Ayahnya mengatakan jika ibu dan adiknya telah lama meninggal dan di kremasi. Abunya disebar di pegunungan Suna sesuai keinginan ibunya sebelum menghembuskan napas terakhir karena kecelakaan. Hal itulah yang menyebabkan baik Kushina maupun adiknya tidak memiliki makam. Kurama tidak pernah bertanya lebih jauh karena setiap dia bertanya, wajah Minato berubah sedih.
Teganya Minato yang dengan mudah mengatakan jika dia akan membongkar rahasianya saat ibu dan adiknya itu kembali berkumpul dengan mereka. Lelucon macam apa ini? Kurama berteriak histeris dalam pikirannya. Kepalanya bersandar lemah pada punggung kursi mobil miliknya. Ini benar-benar lelucon yang paling tidak lucu. Dan sekarang, ayahnya mengatakan jika ibunya benar-benar sudah meninggal tiga tahun yang lalu karena kecelakaan? Kurama melirik berkas yang diserahkan Minato kepadanya sebelum dia pergi. "Aku tidak yakin jika aku bisa kuat membacanya," ucapnya lirih dan terisak mengeluarkan semua sakit hatinya melalui air mata.
Sepanjang hari Kurama mengurung diri di dalam kamarnya. Tangis dan air mata terus meluncur dengan bebas saat dirinya membaca berkas laporan yang dibuat oleh Kakashi mengenai ibu dan adik semata wayangnya. Kurama bahkan melewatkan makan malam dan mengacuhkan panggilan Minato yang mengetuk pintu kamarnya lembut.
Kurama belum bisa memaafkan Minato yang karena keegoisannya menyebabkan keluarganya berpisah sekian lama. Dan yang paling parah, ibunya meninggal dalam keadaan menyedihkan. Tangan Kurama terkepal hebat saat mengingat jika ibunya menyetujui usulan ayahnya mengenai hak asuh. "Kenapa kaa-san tidak membawaku lari?" katanya lirih. "Apa kaa-san lebih mencintai Naruto daripada diriku? Jika kaa-san masih hidup, aku pasti akan datang dan bertanya langsung tentang hal ini. Kenapa kaa-san harus meninggal dengan cepat? Kenapa?" tanyanya lirih pada udara malam yang terasa mencekik saat ini dan terlelap saat tubuhnya lelah karena menangis.
.
.
.
Kurama terbangun keesokan harinya dengan mata bengkak. Penampilannya yang selalu sempurna terlihat janggal pagi ini. Dengan enggan dia menyeret kedua kakinya ke meja makan. Cepat atau lambat dia harus berhadapan dengan ayahnya. Karena itu, dia memaksakan diri untuk sarapan pagi bersama ayahnya. Kurama diam, hanya membalas sapaan Minato dengan anggukan singkat. Kurama melirik penampilan Minato yang nampak rapi dengan ekor matanya. Pikirannya bertanya mau kemana ayahnya hari ini. Kenapa memakai pakaian berkabung? Namun, Kurama menyimpan pertanyaan itu dalam, dan memilih untuk menghabiskan sarapannya dalam diam.
"Tou-san akan pergi ke makam ibumu, kamu mau ikut?" tawar Minato membuka percakapan diantara keduanya.
"Ke Su-Suna?" tanya Kurama sedikit kaku, dia sudah mengetahui mengenai makam ibunya dari laporan Kakashi.
"Yah, Suna." Jawab Minato cepat dan melipat koran yang dibacanya.
"Aku ikut," ucap Kurama cepat.
"Cepat ganti pakaianmu, perjalanan kita cukup jauh. Kakashi akan datang beberapa saat lagi untuk mengantar kita kesana." Perintah Minato tegas menyebabkan Kurama berlari kembali menuju kamarnya, dengan cepat mengganti pakaian dan segera turun untuk bergabung bersama Minato, memulai perjalanan mereka menuju Suna.
Hanya ada keheningan yang menggantung selama perjalanan itu. Tidak ada satu orang pun yang bicara. Mereka larut dalam pikirannya masing-masing, sedangkan Kakashi lebih memilih untuk berkonsentrasi dalam mengemudikan kendaraan yang mereka tumpangi saat ini. Hampir menjelang tengah hari saat Kakashi membelokkan kendaraanya ke sebuah pemakaman umum Suna yang terletak jauh di atas bukit. Tidak seperti daerah lainnya di Suna yang kering, bukit ini begitu hijau dengan deretan pohon yang menjulang kokoh diatasnya. Menurut masyarakat sekitar, tanah ini subur karena banyak mayat yang tertanam di dalamnya.
Dengan langkah panjang, Kakashi membawa keduanya menuju makam Kushina. Minato menatap pusara itu dengan tatapan sendu, berusaha bersikap kuat di hadapan putrinya yang kini bersujud dan menangis meratapi pusara Kushina. Rasa kesal dihati Kurama masih ada, tapi, rasa sedih itu lebih kuat dan mencengkram dirinya saat ini. Kurama tidak mampu untuk berkata-kata, rentetan kata yang ingin dia ucapkan digantikan oleh air mata yang terlihat memilukan.
Dua jam sudah mereka berada di sana. Kakashi berdiri agak jauh, memberikan privasi untuk keduanya. Dengan lembut Minato memeluk Kurama dan berbisik pelan, "maafkan tou-san." Katanya yang disambut tangisan histeris Kurama di dadanya. Dengan keras Kurama memukul dada pria paruh baya itu dengan kedua tangannya, berteriak jika ayahnya benar-benar jahat. Minato bergeming, menerima setiap pukulan yang diberikan Kurama padanya. 'Sudah selayaknya aku mendapat hukuman, bahkan lebih dari ini'. Batin Minato penuh sesal. Minato menatap langit biru diatasnya dan bergumam lirih. "Apa kamu bisa memaafkan tou-san, Naruto?"
.
.
.
TBC
