IT'S CHENMIN FANFICTION! BXB! BOYXBOY! DON'T LIKE DON'T BASH JUST GO!! HOMOPHOBIC MENJAUH, JIKA TIDAK MAKA DIAM DAN NIKMATI SAJA HEUHEU

AUTHOR NEWBIE, TYPO SEBAGIAN DARI IMAN MWEHEHE, JANGAN LUPA ABIS BACA REVIEW YA, BIKOS INI CERITA BARU HEHEHE

HAPPY READING READERS-DEUL MWAH!

.

.

.

.

.

.

I Still Love you, but... - 06

.

.

.

.

.

Minseok sebenarnya tidak ada jadwal kuliah hari ini, tapi mengingat dia baru memperbaiki segala macam yang berhubungan dengan skripsi nya, dia ingin menyetorkannya pada dosen pembimbing dan berharap di terima sebelum di revisi.

Dia bersenandung kecil sambil kadang melompat senang. Tadi malam, Joonmyeon membantunya untuk memperbaiki skripsi nya, padahal mereka beda 1 tahun, yang masuk duluan Minseok, tapi Joonmyeon duluan yang skripsi nya sudah diterima, padahal dia baru menginjak semester 3. Otak nya lumayan encer memang.

"Hey hey~" Seseorang menyetop Minseok dengan sepeda.

"Ah, Luhan.. kenapa kau kemari? Kan tidak ada jadwal kuliah?" Tanya Minseok. Luhan yang merasa ada perubahan besar pada mood Minseok bingung. "Kau kenapa? Sepertinya senang sekali?"

"Ehehehe, tentu saja. Tadi malam kan blablablablabla" Minseok bercerita panjang lebar ditemani Luhan yang mengayuh sepedanya perlahan menuju kampus.

"Aigoo.. Joonmyeonie memang lebih pantas menjadi Hyung dibanding kau, bakpau berjalan~"

"Yak!"

"Hahahaha, mungkin ruh Joonmyeon waktu itu tertikung oleh ruh mu, jadinya kau yang jadi Hyung. Hahaha" Luhan tertawa, memikirkan apa teori yang baru saja ia ungkap benar-benar terjadi.

"Aish.." Minseok bete.

"Minseok-hyung." Sebuah suara indah menginterupsi keduanya.

Mereka sama-sama menoleh. Luhan sebetulnya ingin menyingkirkan piyik cabe ini dari hadapannya, tapi melihat reaksi Minseok yang biasa saja, ya dia jadinya diam saja.

"Kenapa, Baekkie?" Tanya Minseok. Dia sama sekali tidak terusik, bahkan biasanya kalau dia diajak ngobrol oleh Baekhyun, matanya akan sedikit berkaca-kaca.

"Bisa aku berbicara denganmu? Kalau di rumahmu, ada Myeonie-hyung, kalau di rumahku, ada Hyunmin, kalau lewat chat, tidak enak.."

Minseok tersenyum. "Tentu saja. Kenapa kau harus meminta izin seperti itu? Aku kan keluargamu," Dia menarik Baekhyun ke tempat favorite-nya, di taman Kampus yang ada air mancur dan pohon besarnya.

"Aish, aku ditinggalkan. Memang dasar si bakpau menyebalkan." Luhan mengumpat.

I Still Love you, but... - 06

"Nah.. apa yang mau kau bicarakan? Soal Jongdae? Kenapa? Dia menyebalkan? Ya itu memang sudah sifat dia.. atau, dia pergi ke klub dan membawa wanita? Ceritakan padaku, dan aku akan memenggalnya jika kau memintaku melakukannya." Kata Minseok.

Baekhyun menundukkan pandangannya. Melihat itu, Minseok merasa aneh, dia juga sedikit khawatir. Mau bagaimanapun, namja cantik di hadapannya ini adalah keluarganya bukan?

"A.. Aku.. membatalkan perjodohan dengan Jongdae."

Minseok membulatkan matanya. "Wae?" Tanya-nya kaget. Baekhyun menghela nafas, dia menatap Minseok. "Aku memang mencintai Jongdae, tapi setelah kupikirkan, aku mencintainya sebagai teman, tidak lebih. Dan aku sadar, orang yang pantas mencintai Jongdae hanya dirimu, dan orang yang pantas mendampingi Jongdae adalah dirimu."

Minseok tertegun.

"Aku sudah membicarakan soal ini pada Appa tadi malam. Appa mengerti maksudku kok, Min-hyung. Eomma masih diluar negeri bersama Eomma-mu, dan sepertinya dia juga mengerti karena aku memang mencintai Chanye—"

Bruk

"Hiks.."

"M-Minseok-hyung?" Baekhyun mematung di tempatnya ketika Minseok merengkuhnya lalu terisak pelan.

"Mianhae.. hiks" Minseok semakin erat memeluk sepupunya itu.

Perlahan, Baekhyun juga ikut merengkuhnya. Dia tersenyum. "Hey, hey, gwaenchana.. semua bukan salahmu, jangan menangis~"

Minseok menggelengkan kepalanya di bahu Baekhyun. "Ani, aku egois. Aku malah membencimu ketika aku mengetahui kalau kau di jodohkan dengan Jongdae, hiks.. padahal aku tidak punya hak apapun untuk membencimu, dan kau juga tak pantas dibenci, Baekkie-ya, nan jeongmal mianhae.."

Baekhyun melepas pelukannya. Dia menatap Minseok, lalu menghapus air mata yang masih mengalir tenang dari mata indah Minseok.

"Uljima~ Jongdae akan membunuhku jika dia tahu aku membuatmu menangis, hehehe." Baekhyun terkekeh. Minseok tersenyum. "Yak, aku akan menghadangnya sebelum membunuhmu."

"Gomawo, Baekhyun-ah."

Dibalik pohon, seorang namja tiang yang tampan tersenyum mendengar percakapan tadi.

I Still Love you, but... - 06

Sudah sore, Minseok dengan girang berjalan kecil menuju sebuah kedai es krim pinggir jalan rasa bintang 5. Tahu kenapa dia senang begini? Skripsi nya diterima! Hanya tinggal revisi saja, hohoho~ Minseok akan berterimakasih pada Joonmyeon kali ini.

"Mas, biasa ya, es krim pisang tambah topping Oreo dan chocochips," pesan Minseok.

"Eh bang Min, iya bang, ditunggu ya, tadi anak saya lagi beli Oreo nya dulu, habis, hehehe." Balas si Tukang es krim ramah, dia kenal Minseok karena si gembul ini sering mampir kesini kalau bosan.

"Iya mas, saya tinggal dulu ya, mau ke ATM sebelah minimarket itu sebentar." Minseok segera beranjak dan melangkahkan kakinya lagi. Tadi Joonmyeon memberitahu kalau Eomma Baekhyun memberi mereka uang, dan Joonmyeon sudah mentransfer bagian Minseok.

Tit tit tit

Minseok menekan tombol-tombol yang tersedia untuk mengecek saldonya. Matanya membulat lucu. "Wuah! Saldo ku bertambah 5 juta, astaga, berarti Eomma Baek memberi 10 juta hanya untukku dan Myeonnie?" Dia takjub.

Minseok pun memutuskan mengambil 300 ribu untuk keperluannya. Dan dia keluar untuk mengambil es krimnya.

"Mas, udah?" Minseok menepuk pundak Tukang es krim.

"Mas mus mas mus!"

"Loh, Jongdae?" Minseok gugup mendadak. Jongdae menatapnya. "Ah, Minseok-hyung?" Balasnya. Minseok nyengir. "Mian, habisnya bajunya sama-sama hitam, kan jadinya kukira kau tukang es krim."

Jongdae tertawa. "Aish, ada-ada saja." Ujarnya sambil mengacak rambut Minseok dan membuat empunya merona.

Suasana mendadak hening dan terasa canggung. "Setelah ini ada waktu?" Jongdae membuka topik baru.

Minseok hendak menggeleng, tapi kepalanya mendadak mengangguk pelan. "Bagaimana kalau kita jalan-jalan hari ini?" Tawar Jongdae lagi. Minseok belum menjawab, dia masih sedikit ragu. Tentang pernyataan Baekhyun tadi pagi, dan tentang perasaannya.

"Hmm.. sepertinya tidak bisa. Aku sudah ada janji." Bohong Minseok sambil meraih es krim pesanannya yang sudah disediakan sang pemilik kedai pinggir jalan itu tanpa menganggu percakapan keduanya.

"Dengan siapa? Tidak bisakah kau membatalkannya? Sudah lama kita tidak jalan kan?"

"Anu.. itu, A-Aku ada janji denga—"

"Katakan saja jika kau tidak mau menerima ajakanku. Tak perlu berbohong begitu," potong Jongdae. Minseok menggigit bibir bawahnya pelan. "Mian.." cicit Minseok pelan.

Jongdae tersenyum lembut. Dia mengusak lagi rambut Minseok dengan sayang. "Kalau begitu, aku ingin berbicara denganmu sebentar saja. eotte?"

Minseok mengangguk kali ini. Setelah membayar es krim, Jongdae menuntunnya ke sebuah Taman.

"Hyung.." Jongdae buka suara. Dia mendekat beberapa centi ke arah Minseok yang berdiri mematung di hadapannya.

"Maafkan aku." Kaca tipis menghiasi bola mata Minseok ketika dia mendengar permintaan maaf dari Jongdae.

"Seharusnya aku tidak menyakitimu. Seharusnya aku lebih berani sejak awal dan menolak perjodohanku dengan Baekhyun, bodohnya aku malah meninggalkan mu dan lebih memilih Baekhyun padahal aku tau kalau aku tidak mencintainya sama sekali."

Jongdae menelan ludah gusar.

"Kim Minseok, aku mencintaimu."

Sayatan luka di hati Minseok serasa menghilang, dan tidak membekas. Tapi Minseok tetaplah Minseok, dia malah meneteskan air matanya tanpa suara.

Jongdae segera memeluknya. "Uljima.. aku tak akan meninggalkan mu lagi, aku janji."

"Jangan berbohong." Akhirnya Minseok bersuara.

Jongdae tersenyum tipis. Dia melepas pelukan itu lalu menatap manik kucing Minseok. Seringai jahilnya keluar, dia berniat menjahili Minseok.

"Tentu saja aku berbohong! Mana mungkin aku mencintaimu, bodoh! Dasar baozi gendut, lebih baik Baekhyun yang cantik daripada kau!"

Minseok membulatkan matanya. Jadi? Semua kata-kata yang Jongdae katakan tadi bohong? Sialan!

"Ck, terserah! Dasar bebek kampung!" Minseok melepaskan diri dari Jongdae dan berbalik, berniat pulang.

Jongdae terkekeh, dia menarik sebelah tangan Minseok dan mempersempit jarak mereka.

"Lepas!"

"Bercanda. Aku mencintaimu, baozi."

Chu

Mata Minseok membulat lucu ketika bibir Jongdae menempel pada bibirnya. Tangan Jongdae yang semula menahan lengan Minseok, berpindah pada tengkuk Minseok untuk memperdalam ciuman mereka.

Jongdae mulai melumat pelan bibir baozi kesayangannya. Minseok? Dia mulai terbuai dan melingkarkan tangannya di leher Jongdae.

Minseok tidak mau kalah, dia ikut melumat bibir lawan mainnya dan membuat Jongdae tersenyum di sela-sela ciuman itu.

Jongdae merasa Minseok mulai kehabisan nafas, akhirnya dia memutuskan ciuman itu lalu menatap Minseok yang terengah-engah dengan muka memerah. Uhh, menggemaskan.

"Min, kita mulai semuanya dari awal, ya?"

I Still Love you, but... - To Be Continued

hm hm hm

-nissasabyan