Jika boleh berbangga diri, di dunia ini, mungkin hanya Akashi Seijūrō satu-satunya orang yang bisa membaca pikiran orang lain.

Itu adalah kesimpulan sombong yang tercetus sebelum bertemu dengan dia.

Pada hari itu Seijūrō mengenakan kacamata hitam, menggelapkan birunya langit; seraya berharap mampu memburamkan apa yang tidak ingin terbaca.

Hingga suatu ketika,

Bangku taman di sore itu, menjadi destinasi yang mempertemukannya pada destiny.

Tepat saat seseorang itu (tanpa diduga) melepaskan kacamata hitam Seijūrō.

Biru langit untuk pertama kalinya nampak begitu indah.

Sepasang iris teduh di sana seolah menawarkan determinasi.

Seijūrō terpana. Terdiam untuk beberapa detik.

Saat sentuhan dirasa pada sebelah pipinya, ia sadar bahwa mendung dalam dirinya belum juga mereda. Lembut, sapuan halus itu mengeringkan jejak melankolis yang terpeta di sana.

Untuk suatu alasan yang tidak ia mengerti, Seijūrō merasa tepat untuk meluapkan isi hati; bahkan ke orang yang jelas baru pertama kali ia temui. "Sesaat sebelum ibuku meninggal sepekan lalu, beliau berpesan agar aku selalu mensyukuri apa yang sudah Tuhan berikan padaku"termasuk 'kutukan' ini,"jadi ..." Seijūrō memandangnya, mengobservasi tiap dinamika wajah yang terjadi di sana. Menggunakan keahlianatau kutukanyang dimilikinya untuk menerka jawaban si lawan bicara.

Jeda yang awalnya sengaja ia buat, lama-kelamaan menjadi durasi yang panjang.

'Kenapa tidak ada satu kata pun yang dapat terbaca olehku? Apa serumit itu isi otaknya?'

Terdiam, untuk ketiga kalinya seorang Akashi Seijūrō dibuat takjub. Hingga perasaan itu berkembang menjadi sebuah rasa kagum.

Tanpa ragu ia julurkan tangannya untuk awalan yang akan dibangun. "Akashi Seijūrō, sepertinya aku akan sering mengunjungimu di sini."

Sambutan tangannya yang lembut, disusul dengan senyum teduhnya lah yang pada akhirnya menjadi bahasanya untuk dipahami.

.

.

It's amazing how you can speak right to my heart

Without saying a word you can light up the dark

Try as I may I can never explain

What I hear when you don't say a thing

.

.


Disclaimmer

Kuroko no Basuke/黒子のバスケ© Fujimaki Tadatoshi

PLAYLIST © Kina

Now playing:: When You Say Nothing At All – Ronan Keating

Request from Mel-985

ATTENTION : This story are purely fictitious. All characters appearing in this story are Fujimaki Tadatoshi (where some places and incidents either are products of the author's imagination or are used fictitious). Any resemblance to real persons, living or dead, is purely coincidental.


Semakin sering Seijūrō mengajaknya berbincang, semakin sering pemuda tampan itu dibuat terkejut dengan fakta Kuroko Tetsuya yang tidak terduga. Penampilan memang seorang penipu ulung. Siapa sangka di balik wajah manis dan sikap lembutnya, ada masa lalu kelam yang bahkan tidak ia coba sembunyikan.

Menjadi seorang tunawicara bukan penghambat bagi Tetsuya untuk melanjutkan hidup.

Dan Seijūrō, sebagai orang yang tergabung dalam militer sekaligus memiliki kelebihan manusiawi pada indra keenamnya, Kuroko Tetsuya adalah satu di antara seribu dari orang-orang yang ia temui.

Istimewa.

Memahami dan mengerti. Mungkin campuran dari keduanya yang pada akhirnya membentuk harmoni.

Dan di sinilah mereka berdua sekarang.

Duduk berdampingan di bangku taman seperti hari-hari sebelumnya, memerhatikan beberapa anak kecil bermain di seberang. Beberapa jenis bunga yang beberapa minggu lalu Tetsuya tanam mulai bermekaran di sekitaran taman; dengan masing-masing makna bunga yang sesuaikan.

Sebuah ordinasi yang tidak biasa pikir Seijūrō.

"Kurasa, bahasa yang kau pilih sungguh manis, Tetsuya. Aku suka."

Pemandangan itu, menjadi ujung pangkal filosofi yang baru saja dicetuskan oleh Seijūrō. Tetsuya hanya tersenyum; mengiyakan.

Hening menjeda, menambah kegugupan hal yang selanjutnya akan Seijūrō lakukan.

Dengan sebelah lutut yang bertumpu pada permukaan beraspal, sebuket mawar merah Seijūrō ulurkan pada Tetsuya yang masih duduk di bangku taman itu.

"Bersedia jadi teman hidupku, Kuroko Tetsuya?"

Senyum yang lain; dan berani sumpah inilah yang terbaik.

Alih-alih meraih bunganya, Tetsuya menggenggam tangan kokoh itu.

Untuk pertama kalinya Seijūrō ingin sekali kelebihan yang ia miliki berguna saat ini.

Namun, ketika mata seindah langit itu yang paling mampu menyuarakan apa yang tidak terucap, bagi Seijūrō itu sudah lebih dari cukup.

Seijūrō pun sudah cukup mahir untuk menerjemahkan segala bentuk senyum, sentuhan, tatapan, hingga air matanya.

Karena nyatanya itu cara terbaik untuk menjawab permintaannya.

"Terima kasih. Aku mencintaimu."

.

The smile on your face let's me know that you need me

There's a truth in your eyes saying you'll never leave me

The touch of your hand says you'll catch me wherever I fall

You say it best, when you say nothing at all

.

.

Next play:: Shape of YouEd Sheeran


[Tangerang, 3/6/18]

a/n : 'You say it best, when you say nothing at all'. That line makes me feel so touch because it's exactly what I am going through (te-he)

still enjoy listening this song (sampe hampir khilap, bablas mo tembus 1k word, uhuq)

Kepada nona Mel, gimana rikues nya? Semoga suka ya ;)

.

-Kin