Akashi Seijūrō bersumpah tidak akan pernah lagi percaya pada ramalan cuaca yang selalu diberitakan di pagi dan malam hari. Bagaimana tidak? Peramal bernama Oha-Asa yang selalu diimani teman tsundere-nya itu telah mematahkan kepercayaannya dengan mengatakan bahwa hari ini suhu akan terjun drastis mencapai minus ketika yang ia rasakan saat ini justru panas yang begitu membakar.

Percaya atau tidak, ia hanya mencari-cari objek untuk disalahkan saja, ketika fetish dewasanya berulah.

Satu tepukan pada pundak tidak cukup menarik perhatian yang sepenuhnya pemilik iris rubi itu tengah berikan pada entitas di meja seberang.

"Ho.., musim panas tiba lebih awal dari yang kauduga, huh? Glückwunsch.."

Seruan Nijimura tidak lebih dari dengungan yang terdengar abstrak di telinga. Pun opini stereotip lainnya dari rekan kerja di sisi kiri yang ikut mengamati ketertarikan pada mata Seijūrō. Alas! Dia bukanlah punjangga seperti Nijimura yang pandai mengumbar sajak indah, bukan juga seorang pedopil selayaknya Chihiro yang memiliki fetish pada bocah moe.

Hanya untuk kali ini saja premis dari 'manis' menuntut sebuah legalitas secara de jure untuk mendukung perasaannya yang berkontradiksi pada logika.

Kenapa hanya dengan bersitatap dengan iris biru itu dirinya seolah terhipnotis?

Kapan terakhir ia merasa begitu berhasrat, hingga memicunya kembali mengeluarkan sisi antagonis?

Apa yang menyebabkan ia harus menitipkan secarik notes pada pramusaji demi meraih notis?

Ke mana sikap tenang dengan kerasionalan yang dimilikinya pergi?

Siapa pemuda manis—kurang ajar yang berani membuatnya seperti ini?

Bagaimana bisa ia jatuh semudah itu pada pesonanya?

Dan berbagai pertanyaan beruntun 'W5H' itu terus berputar di kepalanya, melambungkan khayalan pada batas teratas, hingga subyek yang menjadi kunci jawabannya terlihat semakin mendekat.

Kerlingan matanya adalah sebuah undangan eksklusif yang ia dapatkan.

Seijūrō melonggarkan simpul dasi pada leher. Seolah belum cukup meredakan peningkatan suhu pada tubuh, lengan kemeja ia gulung sebatas siku.

Pertolongan datang tanpa diminta, si pemuda membantunya dengan melepas dua kancing teratas pada kemeja Seijūrō.

Gerakan impuls membawa kedua tubuh saling merapatkan diri.

Memenjara pinggang si pemuda dalam kurungan lengan kanan dan kiri.

Lalu satu dari bisikannya adalah sesuatu yang tidak dapat Seijūrō hindari.

"Ready?"

.

.

Say, boy, let's not talk too much
Grab on my waist and put that body on me
Come on now, follow my lead
Come, come on now, follow my lead

.

.

.


Disclaimmer

Kuroko no Basuke/黒子のバスケ© Fujimaki Tadatoshi

PLAYLIST© Kina

Now playing:: Shape of YouEd Sheeran

Request from Miichan_Maru

ATTENTION : This story are purely fictitious. All characters appearing in this story are Fujimaki Tadatoshi (where some places and incidents either are products of the author's imagination or are used fictitious). Any resemblance to real persons, living or dead, is purely coincidental.


Pada malam yang lain, di bulan dan tempat yang sama, Seijūrō menemui pemudanya—atau jika boleh berbangga diri, dialah kekasih.

Kuroko Tetsuya; pemuda beruntung yang berhasil mencuri hatinya, tiba-tiba saja teringat masa ketika mereka baru bertemu. Bagaimana mereka mengisi malam hingga perpanjangan fajar untuk saling mengenal, mendekap, mencicipi satu sama lain.

Taksi silver menepi tepat ketika wajah Tetsuya memerah, membuat Seijūrō reflex mendaratkan sentuhan tangannya pada kening Tetsuya alih-alih meraih kenop pintu untuk dibuka.

Tetsuya menggelengkan kepala sebelum dugaan yang dipikirkan Seijūrō diutarakan.

Malu-malu ia beranikan diri menyerukan isi dari kilasan nostalgianya. "Ma-maaf, tiba-tiba aku teringat saat pertama kali kita bertemu, Akashi-kun."

Untuk beberapa detik yang terasa panjang, Tetsuya merasa tatapan rubi itu berlama memandanginya. Tidak lama kemudian, Seijūrō menghampiri pintu kemudi, menunduk sedikit saat mengatakan kepada sang sopir untuk meninggalkan mereka berdua.

Setelah dirasa privasi telah diraih, Seijūrō kembali dengan sebuah pelukan.

"Apa kau ingin mengulangnya?"

Secara otomatis kedua mata Tetsuya terpejam, mencoba menimang-nimang tawaran tersebut.

Seijūrō mencoba peruntungan dari sikap Tetsuya dengan mencondongkan tubuhnya, tepat sebelum jari si target menghalau persentuhan bibir.

"Bagiku, kau rival terberat setelah vanilla milkshake," Tetsuya mengalung lengan pada leher kekasihnya seraya berbisik, "jadi kumohon, berikan rasa terbaik padaku, Akashi-kun.."

Tidak ada jawaban lisan, ketika tiap sentuhan yang diberikan Seijūrō adalah bukti afeksi untuk tiap adorasi padanya.

"With my pleasure."

.

Come on, be my baby, come on

Come on, be my baby, come on

I'm in love with your body

Every day discovering something brand new

I'm in love with the shape of you

.

.

Next play:: White HorseTaylor Swift


[Tangerang, 9/12/18]

a/n :i can't use both of my hands to type because i have tremors if i go further, however typing this story really provoked my desire to make some adult content. Gee! XD

Kepada nona Miichan, gimana rikues nya? Gomen, lemonnya saya tiadakan (saya masih polos, nee-chan, wkwkw) :") but still, semoga suka ya ;)

.

.

Fyi : Request di FFn Playlist ini saya Closed, melihat masih banyak juga yg belum saya buatkan. Terima kasih atas partisipasinya ya, berkat kalian playlist di hp saya bertambah, lagunya pun benar2 recommended #salute pose.

.

Dan berhubung saya sedang berminat membuat FFn di fandom lain, mungkin ke depannya saya akan lebih sering menambah tulisan di sana, pun besar kemungkinan saya buat versi crossover. (Maafkan si Kina yg labil) :D

.

.

-Kin