Disclaimer: I don't own Naruto. Masashi Kishimoto does.
Warning: Typo(s), OOC(s), Yaoi, ADA sedikit SaiNaru, Don't like don't read.
Pair: SasuNaru, Mulai ada ItaKyuu
Rated: M ( for language, no lemon )
Murni karangan saya, saya hanya meminjam character Naruto dari bang Masashi Kishimoto.
Da's Present
Ingat ya dichapter ini ada sedikit SaiNaru mohon dimaklumi untuk memperpanas saja/plak/ hanya sedikit saja kok. Tapi kalau ada yang tidak berkenan boleh meninggalkan page ini, terimakasih buat minna-san semua silent readers maupun reviewers!
Uzumaki and Uchiha
.
Angin dingin mulai menerpa badan ramping Naruto. Mata sapphirenya mulai terbuka, ia mengusap matanya dan memandang sekeliling ruangan. Mata biru terangnya melihat jam tangan yang masih digunakannya. Naruto mulai bangun dari tempat tidur ayah dan ibunya. Seperti biasa orang tuanya tak pulang kerumah. Memastikan bahwa e-mail yang Naruto baca semalam adalah hayalan saja Naruto kembali menuju komputer ayahnya. Dan hasilnya sama saja, e-mail itu benar-benar ada. Kehabisan akal Naruto pun mulai bersiap pergi ke sekolah.
Sungguh berbeda, biasanya ada beberapa pengawal yang membangunkannya. Menghampirinya dan menyatakan kalau sarapan sudah siap, dan menyapa diri Naruto. Nihil, semua itu tidak terjadi sebagaimana biasanya. Yang ada hanya Iruka, pelayan setia Minato sejak dahulu.
"Paman..", begitu Naruto memanggil pria yang berdiri sopan di hadapan Naruto.
"Ada apa Naruto-sama?", jawab Iruka sambil tersenyum hangat dihadapan Naruto yang masih menikmati sarapannya.
"Dimana pelayan yang lain?"
"Mereka pulang kekampung halaman." , Iruka tersenyum bohong.
"Oh, begitu." , Naruto berpura-pura tidak mengetahui.
Naruto tau persis kalau pelayan setianya itu telah berbohong padanya. Naruto menyembunyikan ketahuannya atas krisis yang diterima keluarganya. Setelah menyelesaikan sarapannya ia segera pergi bersama Iruka, ke sekolah barunya.
Akatsuki High School
Hari ini Naruto mendapat pelajaran olahraga pertamanya. Ia dengan penuh semangat menuju ruang khusus untuk mengganti pakaian. Ruangan itu cukup luas banyak deretan loker yang berderet rapi, tempatnya juga bersih, walau dengan penerangan yang remang-remang, tapi ia memaklumi hal itu karena menurutnya setiap ruang ganti memang harus cukup gelap agar menghindari pengintipan. Yah apalah itu, Naruto dan semua teman laki-laki sekelasnya segera mengganti pakaian mereka pada loker masing-masing. Namun sepertinya hanya Naruto yang masih kesulitan mencari loker miliknya.
"Lokermu nomer berapa Naruto?"
Naruto sedikit bergidik mendengar suara yang sudah tak asing lagi ditelinganya."S-Sai-sama..", dengan tak sadar Naruto malah menundukan kepala di hadapan Sai, tentu saja Uchiha yang polos ini tertawa pelan.
"Kenapa membungkuk? Tidak usah formal, biasakan saja. Aku tau kau dari keluarga Namikaze? Tidak heran kalau kau sangat sopan."
Naruto yang sadar akan sikap spontannya, merutuki dirinya. 'Sial aku terlalu terbawa ingatan kalau Uchiha akan menyakiti keluarga Namikaze. Yang berarti aku juga termasukan?', ia membatin dan bertanya pada dirinya sendiri.
"Jadi..Naruto? lokermu nomer berapa?"
"N-Nomor 26", pertanyaan Sai membangunkan Naruto dari lamunannya.
"Wah jauh juga hampir di pojok ya? Sini.." , Sai tersenyum hangat.
"I-Ini? Terimakasih dattebayo!" , Naruto tersenyum. Sai membalas senyuman Naruto.
'Anak ini sangat manis', batin Sai lalu berjalan meninggalkan Naruto.
Naruto senang mengetahui Sai adalah teman yang baik untuknya. Sepertinya Sai tidak tau menau tentang masalah yang dihadapi keluarga Uchiha saat ini. Naruto segera mengambil kunci loker dan membukanya, tiba-tiba senyum manisnya mencair, mata sapphirenya membelalak saat melihat isi loker yang kotor. "Kotor sekali! Apa petugas sekolah ini tidak pernah memeriksa loker yang kosong? Sial."
Naruto menggerutu dan mulai membersihkan lokernya, sialnya lagi sebagian temannya sudah selesai mengganti pakaian sedangkan Naruto masih sibuk dengan loker barunya.
"Menyebalkan.. untung sudah selesai. Aku harus cepat."
TAP TAP
Naruto memulai membuka satu kancing seragam sekolahnya. 'Oh masih ada orang.' Batinnya.
Suara langkah kaki itu semakin dekat menuju lokernya. Naruto spontan menghentikan aktifitasnya dan menengok kesamping, mata Naruto membulat melihat sosok yang berdiri menyeringai dengan tatapan mata onyx yang tajam dalam remang ruangan.
"Kau ternyata lamban mengetahui sesuatu ya, Naruto."
"Uh?" , Naruto hanya terdiam, kakinya mulai bergetar menatapi laki-laki berambut raven yang masih berseragam rapi itu mendekati dirinya. Sasuke kembali menaikan ujung bibirnya dan bangga melihat seorang anak keturunan Namikaze ini ketakutan.
"Hn, aku yang mengotori lokermu. Sepertinya kau sudah tau alasan kenapa aku melakukannya. Melihat kau berbicara dengan Sai seperti tadi bukan berarti kau mudah mendekati Uchiha! Brengsek!" , seringaian itu berubah menjadi wajah datar yang dingin. Membuat Naruto semakin takut akan apa yang terjadi selanjutnya, mengingat ia adalah laki laki Naruto kembali mengumpulkan keberaniannya untuk menatap mata onyx yang hitama kelam itu.
Gigi sang Uchiha bergemeretak dan dengan kasar menjambak rambut blonde Naruto dan membenturkan kepalanya ke loker dengan cukup keras.
PRAKK
"AKH!" , Naruto meringis kesakitan dan mencoba untuk menggenggam salah satu tangan Sasuke yang menjambak rambutnya. "Lepas! Sa-Salah saya pada anda Uchiha-san...Apa?!"
PRAKK
"Akh! Gh! Le-pas.." , tangan Naruto dengan sigap dicengkram oleh Sasuke dengan kuat. Yang sukup membuat Naruto kembali meringis kesakitan.
"Brengsek, cukup dengan bahasa formalmu Usuratonkachi!"
"Sa-sakit!" , Naruto mulai merasakan pening dikepalanya sedangkan ia yakin akan tangannya yang pasti sudah memerah oleh cengkraman kuat Sasuke. Seberapa pun kuat Naruto memberontak, kekuatan Sasuke jauh lebih besar darinya.
"Kau sudah menyadarinyakan bodoh?! Keluargaku, perusahaanku kehilangan segalanya! Kehilangan banyak materi karena perusahaan Uzumaki Corp sialan milikmu!"
"Ukh.." ,ucapan Sasuke yang terlalu kasar mulai merangsang denyutan dikepala Naruto. Walaupun dengan keadaan seperti itu Sasuke sama sekali tidak menghiraukannya.
"Kau dengar aku? Naruto!"
Naruto hanya bisa mengangguk, anehnya itu malah membuat Sasuke semakin gila. Emosinya memuncak mendapat perlakuan yang dia pikir hanya mengangguk adalah sikap tidak sopan kepada Uchiha.
"Setidaknya keluarkan sedikit kata-katamu, Uzumaki!"
"I-ya Sas-suke-sama."
"Dan satu lagi manis, walaupun kau mengadu kepada guru. Tak akan ada yang berubah. Meskipun aku membunuhmu disini sekarang tak akan ada yang berani mempenjarakan Uchiha! Karena Uchiha!"
"UKH!" , Naruto kembali meringis mencoba untuk mengambil nafas sebisanya saat Sasuke mulai mencekiknya. "Karena Uchiha memiliki derajat berbeda!"
Mata sapphire yang sangat dekat dengan mata onyx didepannya menatap dalam mata itu. Walaupun Naruto tidak dapat melihat ekspresi wajah Sasuke dengan jelas. Ia memberanikan diri untuk memandang mata onyx kelam itu. "Uh..Sa-suke-sama. Kumohon ukh le-pas.." ,Naruto kembali memohon dengan suara yang lemah.
Sasuke kembali menyeringai, melihat anak Namikaze ini memohon kepadanya. Tidak menghiraukan itu mata Sasuke teralihkan dengan pemandangan seragam sekolah Naruto yang sedikit terbuka. Membiarkan leher jenjangnya sedikit terpapar cahaya. "Hn?" , suara baritone yang khas dan lembut itu menusuk telinganya. Naruto mulai berfikir kali ini dia akan mati ditangan Uchiha. Ia pun lupa menjawab pertanyaan Sasuke. Seandainya Kyuubi bisa datang dan menyelamatkan dirinya saat ini. Sasuke mulai mengapit tubuh Naruto lebih dekat. 'Tunggu dulu Kyuubi!' , mata Naruto membelalak saat mengingat keselamatan kakaknya yang berada dikota berbeda. Namun ia sendiri juga perlu bantuan. 'Berhenti.. Sasuke.'
.
Kyuubi's Univercity
Tugas yang menumpuk mengakibatkan Kyuubi beberapa kali menendang meja miliknya. Kertas-kertas yang seharusnya di print out malah ia tulis tangan. Sehingga dosen mencoret semua pekerjaanya. Untung saja Kyuubi adalah wanita yang cekatan sehingga ia dapat menyelesaikan semuanya dengan cepat. Sampai ia dipanggil oleh kepala Univ Kyuubi bertemu dengan seorang Uchiha.
"Sialan, banyak sekali yang harus di print out hari ini." , desis Kyuubi di ruangan pribadinya. Tanpa mengetuk pintu dan nafas tersengal seorang temannya menghampiri diri kyuubi yang masih acak. Rambut tidak beraturan dan seragam Univ yang tidak rapi. Tidak seperti biasanya.
"Kyuubi-san, anda dipanggil kepala Univ untuk menghadap."
"Ada apa?"
"Entahlah, lebih baik anda segera kesana Kyuu-san"
Kyuubi pun mengangguk dan menurut. Setelah memasuki ruang kepala Univ yang ada disana bukan sang pemimpin. Melainkan seorang laki lai berkeriput dengan rambut yang panjang dan waja datar. 'Geh, Uchiha memang tampan ya?' , batin Kyuubi.
"Anda dari Uchiha? Senang bertemu, ada apa anda.."
PLAK
"Jangan pura-pura tak tau menau."
Sekejap suasana menjadi hening, kenapa laki laki yang tak ia kenal ini menamparnya?
"Maaf Uchiha-san saya tidak mengerti!" , Kyuubi sebisa mungkin menahan emosinya yang memuncak sambil memegangi pipinya yang merah karena tamparan pria tinggi didepannya. Kalau bukan karena tata sopan berbicara dengan lawan bisnis ia pasti sudah melahap Uchiha sombong ini.
"Uchiha Itachi, Itachi." , pria yang sedikit lebih tua darinya ini dengan tiba-tiba memperkenalkan diri dengan sopan dihadapan Kyuubi. Itachi membungkuk dan kemudian tersenyum tipis.
"H-Hah?" , Kyuubi semakin bingung saat Itachi mulai meraih pipinya yang terkena tamparan. Itachi menahan tangan Kyuubi yang mencoba menjauhkan tangannya dari wajah Kyuubi.
"M-Mau apa kau?!" , Kyuubi benar-benar tidak mengerti dengan suasana yang ia hadapi kali ini. 'Setelah menamparku tanpa sebab orang keriput ini malah memperkenalkan diri dan bersikap baik padaku? Apa otaknya sudah gila, dia bahkan tidak meminta maaf! Sialan!' , Kyuubi membatin.
GREB
"Akh!" , Kyuubi meringis saat Itachi menggenggam pergelangan tangannya dengan kuat. Ia seperti merasakan tulangnya seketika itu juga remuk.
"Kenapa kau tidak membalas sikap baikku, nona?" , dengan tenang Itachi bertanya.
"Sialan! Apa kau sudah gila heh? Setelah menamparku kau bahkan tidak meminta maaf! Memberi alasan kenapa pun tidak! Kemana jalan pikiranmu! Brengsek!"
Itachi hanya menyeringai. "Hn, aku rasa kau memang benar-benar tidak tau ya, nona. Perusahaan Uzumaki berhutang triliunan kepada kami pihak Uchiha."
"A-Apa katamu?"
Itachi dengan kasar mencekik leher Kyuubi dan membenturkan badannya pada tembok ruangan. "Uzumaki Corp, berhutang pada Uchiha."
"T-Tidak mungkin! Ukh.." , Kyuubi menutup setengah matanya dan berusaha menghirup oksigen sebanyak mungkin meski begitu Itachi masih tetap mencekiknya.
Itachi mengangguk. "Aku tidak akan menyakiti wanita lebih dari ini, kau ikut dengan ku." , dengan perlahan Itachi melepaskan leher Kyuubi.
"Tunggu, hh..mau kemana?"
"Uchiha Corp, kau akan menjadi tawanan kami."
"Tidak!" , Kyuubi mendorong tubuh Itachi dan berlari menuju arah pintu.
GREB
Itachi memeluk Kyuubi dari belakang tubuhnya. "Jangan memperlambat tugasku. Ayo ikut, Kyuu.."
Jantung Kyuubi berdesir. 'Barusan saja dia memanggil namaku?! Tapi bagaimana? Aku bahkan belum memberi tau. Sialan Uchiha ini memanfaaatkan keadaan!'
"Lepaskan aku dasar mesum!"
"Hn."
Mata onyx hitam itu berubah merah dan membentuk tiga titik didalamnya dan memaksa Kyuubi untuk menatap matanya. Dengan cepat Kyuubi kehilangan kesadaran. Keadaan itu untuk memudahkan Itachi membawa Kyuubi yang menurutnya cerewet. Kemudian Itachi hilang begitu saja dari ruangan kepala Univ bersama dengan Kyuubi.
Back to Naruto and Sasuke
.
Naruto mulai merasakan cengkraman tangan Sasuke pada lehernya mulai melemah, kesempatan itu tak disia-siakannya untuk mengambil nafas panjang.
DEG
Naruto tak mengira bisa sedekat ini dengan Sasuke. Ia hanya berani menatap Sasuke sekilas lalu memejamkan mata dengan paksa. Ia tak berani memandang kedua mata onyx itu. Ekspresi wajah Sasuke kembali berubah datar, ia mulai mencium aroma parfum citrus. 'Sial kenapa jantungku berdetak kencang' , batin Naruto.
Sasuke dengan tak sadar menumpukan kedua tangannya pada loker. Sasuke mulai mempersingkat jarak antasa dirinya dengan Naruto.
"Naruto?"
'Itu suara Sai! Dia ada didekat pintu, aku yakin itu Sai.'
"S-Sai-sa.." , Sasuke membekap mulut Naruto dengan refleks saat blonde didepannya berniat memanggil saudara sesama clannya tersebut. "Shh..Diam.", Sasuke berbisik didepan bibir Naruto.
'I-Ini terlalu dekat!' , Naruto berteriak dalam dirinya sendiri walaupun ia yakin tak mungkin ada yang dapat membaca hatinya berteriak saat ini.
"Naruto.." , sekali lagi suara lembut Sai menghentikan niat Sasuke.
'Brengsek.' , grutu Sasuke dalam pikirannya sambil mengkerutkan kening.
"P-Permisi Sasuke-san." , Naruto yang salah tingkah dengan ceroboh mendorong tubuh Sasuke dan spontan menubruk Sai yang tiba-tiba muncul dari samping loker. Mereka berdua terjatuh Sai dibawah dan Naruto diatasnya.
"Kalian berdua sedang apa?" , Sai bertanya dengan mata berkilat kearah Sasuke.
"Bukan urusanmu." , Sasuke sedikit berdecih melihat Naruto yang lebih akrab dengan Sai. Ia dengan angkuh berjalan melewati mereka berdua dan segera pergi dari ruangan itu.
"Maaf, sikap Sasuke memang begitu. Kau sudah kenal dengan dia, Naruto?" , Sai tersenyum dan mencoba berdiri.
Naruto hanya mengangguk, Sai bisa melihat wajah Naruto yang pucat lantas menarik tangan Naruto. Ia yakin pasti Sasuke adalah dibalik semuanya. 'Apa yang dilakukan Sasuke sampai merubah senyum yang hampir selalu menghiasi wajah manis Naruto.' , Sai membatin.
Sai mengajak Naruto pergi ke ruangan kesehatan di sekolah mereka dan Sai juga memohon izin pada guru olahraga mereka agar memberikan Naruto sedikit waktu untuk beristirahat. Sai bisa merasakan suhu tubuh Naruto yang mulai tidak normal yaitu panas.
"Kau sakit Naruto? Apa yang Sasuke lakukan padamu?"
"Terimakasih atas perhatian Sai-san, aku hanya kurang tidur." , Naruto beralasan. Padahal Naruto yakin ini adalah efek dari benturan yang dilakukan Sasuke kepadanya tadi pagi.
Sai tersenyum. "Panggil Sai saja, jangan formal. Sekarang kau istirahat."
Naruto mengangguk dan tersenyum. Ia benar-benar berterimakasih masih ada seorang teman yang peduli padanya. Perlahan Sai meninggalkan ruangan. Naruto kembali tersenyum tipis. Menurutnya sikap Sai dan Sasuke sangat bertolak belakang, yah walaupun mereka masih satu clan Uchiha. Tapi Sai tidak semena-mena terhadap seseorang walaupun sikap mereka sama-sama dingin. Sekeblat ingatan saat Sasuke berada sangat dekat dengannya membuat kedua pipi bergaris rubah itu bersemi merah.
"Ugh.."
Kepala Naruto kembali berdenyut memaksa mata sapphirenya untuk tidur. Remang-remang Naruto sekilas melihat wajah Sasuke yang lemah lesu.
"Sasuke.."
Sementara itu Sasuke menggeram saat mengingat kejadian saat Sai begitu peduli pada Naruto. Sekilas Sasuke menyeringai tipis, "Kau menyukainya Sai? Hn, bocah Dobe yang tidak tau aturan itu akan menerima balasannya. Anak dari penghutang tak seharusnya didekati!"
.
#TBC
Bakaaaaa author yang baka ini baru bisa update sekarang, malem pula #dikroyok
As always! Help Review!
REVIEW^^
