Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto

Pairing : NaruSaku, MenmaIno

Warning! : AU, OOC, typo, miss typo dan kekurangan lainnya. Don't Like? Don't Read. Please Leave This Page.

Enjoy and Hope You Like It!

.

Light in The Darkness

By Yuki'NF Miharu

Chapter 3

.

Di pengujung musim panas semilir angin mulai membuat udara tidak terlalu panas seperti biasanya. Naruto lebih memilih untuk duduk di salah satu kursi panjang di bawah pohon yang daunnya masih berwarna hijau. Ia menghabiskan waktunya di tempat itu. Menunggu Sakura sambil terus berpikir dengan kejadian bersama Pein tadi.

Mata Naruto terpejam. Bagaimana bisa seorang lelaki bernama Pein itu punya hubungan dengan 2 pria yang semalam membajak sebuah bus? Yang pasti, Pein adalah orang berbahaya. Sakura tidak boleh dekat-dekat denga pria itu lagi. Lalu, ada hal lain yang membuatnya penasaran. Bagaimana juga Pein bisa tahu kalau semalam dirinya yang menyingkirkan dua orang itu? Kali ini kening Naruto mengerut. Pasti ada sesuatu yang sangat penting di catatan yang Kurama tulis semalam, dan ia sedang berusaha untuk mengingat kata-kata yang Kurama tuliskan di sana.

10 Agustus 20xx

Untuk Naruto,

Malam ini aku keluar karena insiden buruk menimpa bus yang kau tumpangi. Mungkin kejadian itu membuatmu mengingat masa lalu, karena saat itu posisimu dalam bahaya, aku keluar menggantikanmu.

Maaf, aku membuat salah satu di antara mereka cidera parah karena aku harus membuat rekannya mundur. Bus berhasil sampai di pelabuhan, tak lama setelah itu, Menma bersama mobil polisi dan ambulance datang. Di sana juga ada sebuah mobil hitam. Tapi, kupikir aneh kalau ada mobil yang terparkir di pelabuhan yang sudah sepi. Dan juga, berhati-hatilah! Karena mereka ingin pergi dari Jepang, aku sangat yakin mereka adalah mafia yang ingin melarikan diri.

Setelah itu aku dibawa ke kantor polisi dan diwawancarai banyak hal tentang insiden itu. Oh! Maaf juga kalau saat kau bangun nanti lengan dan juga bibirmu terluka. Luka di lengan memang karena insiden itu, tapi luka di bibirmu karena Menma yang mungkin kesal padaku dan akhirnya memukulku (padahal kau juga yang akan merasakan efek sakitnya). –Kurama

"Mobil hitam," gumam Naruto saat menyadari ada kata itu di dalam tulisan Kurama. "Kurama juga bilang 'aneh'," lanjutnya sambil berpikir keras. Apa mungkin mobil hitam itu milik Pein? Lalu Pein melihat kejadiannya dari dalam mobil itu. Naruto semakin memperdalam kerutan di dahinya.

Pluk!

"Kenapa dahimu berlipat-lipat seperti itu? Jangan membuat wajahmu terlihat tua di saat kau masih muda."

Naruto menyentuh keningnya sambil menoleh ke sosok wanita bersurai merah muda sedang mendudukkan diri di sampingnya. Naruto memperhatikan Sakura yang tengah sibuk dengan sebuah kotak putih berukuran sedang yang dibawa wanita itu entah dari mana dan apapun isinya, Naruto tak peduli, ia lebih memilih mengalihkan netranya ke arah lain.

"Aku tidak peduli soal penampilanku." Naruto bersuara sambil mendengus pelan.

"Hei, kalau kau jatuh cinta pada seorang wanita, aku yakin kau akan menjaga wajahmu agar tetap tampan."

Naruto menerawang langit biru di atasnya. "Aku tidak pernah tertarik dengan wanita."

"Hah?! Kau serius?!" Sakura berseru keras hingga Naruto tersentak dari tempatnya.

"Kau mau membuat telingaku tuli, ya?!" tanya Naruto sambil memandang Sakura tajam meskipun ia tahu kalau tatapannya saat ini sangat tidak berguna untuk wanita musim semi itu.

"Apa artinya kau... umm... menyukai sesama jenis?" Sakura mengecilkan volumenya saat mengucapkan tiga kata terakhir dari kalimatnya.

"Tentu saja tidak, bodoh!" seru Naruto dengan urat persimpangan di wajahnya.

"Oh, begitu."

Naruto menepuk keningnya. Oke, pekerjaannya untuk menjadi seorang bodyguard ternyata lebih melelahkan daripada baku tembak seharian melawan penjahat. Nyali wanita di sampingnya ini memang patut diacungi jempol karena hanya mengangguk dengan wajah polos tanpa mengeluarkan sedikit rasa takut setelah ia berujar keras.

"Kalau begitu, coba lihat aku!" Sakura menarik dagu Naruto untuk menatap wajahnya. "Kau tahu? Aku punya jurus pemikat lelaki. Setelah ini, kau pasti menyukaiku." Sakura menatap mata Naruto dalam dengan tatapan serius hingga akhirnya tatapan itu berubah menjadi kedipan genit dengan senyuman eksotis. "Ah, Naruto, kau sangat tampan."

Seketika Naruto beranjak dari posisi duduknya dan melangkah mundur. "Cukup! Kau membuatku geli! Itu sama sekali tidak memikatku, dan sekarang aku malah lebih ingin muntah."

Sakura mengerucutkan bibirnya. "Jahat sekali, padahal belum ada yang bilang begitu padaku." Sakura kembali melanjutkan kegiatannya yang tertunda. Ia mengeluarkan beberapa peralatan dan obat dari kotak putih yang ada di pangkuannya. "Lupakan saja. Kemarilah."

Naruto tetap bergeming di tempatnya dan tak berniat mengikuti kata-kata Sakura karena takut diterjang wanita agresif itu lagi. Kening Naruto berkerut melihat Sakura yang tengah menumpahkan beberapa tetes alkohol di atas kapas putih yang sedang wanita itu pegang.

"Apa yang kau lakukan?!" seru Sakura agak keras saat mengangkat kepalanya masih melihat Naruto tak mau mendudukkan diri di sampingnya. "Aku mau mengganti perban itu! Kau mau lukamu infeksi?!" lanjutnya galak sambil memelototi Naruto.

Naruto terdiam. Oh, ternyata wanita ini punya sisi baik juga, pikir Naruto ketika matanya memandang lurus wajah galak Sakura. Tanpa mengeluarkan kata-kata untuk membalas perkataan Sakura, Naruto mendudukkan dirinya di samping Sakura, lalu mengulurkan tangannya yang terluka.

Dengan gerakan lembut, Sakura mulai membuka perban yang melilit tangan kanan Naruto. Ketika perban berhasil dilepas, Sakura juga mengambil kapas yang menutupi luka itu. Terlihatlah luka melintang di lengan Naruto. Setelah meletakkan bekas perban di sebuah kantung plastik yang telah Sakura siapkan, ia dengan cekatan membersihkan luka Naruto dengan kapas yang sudah ia lumuri dengan alkohol, lalu kembali menutup lukanya setelah meneteskan obat, dan membalutnya dengan kain kasa yang masih baru.

"Yosh! Sudah selesai!" Sakura tersenyum lebar sambil menatap Naruto. "Kupikir kau akan merengek. Syukurlah tidak."

"Kau pikir aku bayi?" ketus Naruto sambil menarik lengannya.

"Bukan itu masalahnya, seharusnya kau merasa perih saat alkohol itu menyentuh lukamu. Setidaknya kau harus berterimakasih padaku!" kali ini Sakura nampak kesal. Ia membereskan peralatan yang telah ia gunakan ke dalam kotak berwarna putih, lalu beranjak dari posisi duduknya sambil berkacak pinggang. "Kau tahu? Aku tidak takut denganmu. Dasar tidak sopan!"

Naruto hanya tersenyum tipis sesaat. Naruto bangkit dari posisi duduknya dengan gerakan cepat. Ia meraih pergelangan tangan Sakura, menariknya menuju batang tubuh pohon, lalu menghempaskan tubuh wanita itu. Bisa Naruto lihat wanita di depannya ini tampak terkejut. Tak sampai situ, Naruto mengunci Sakura dengan kedua lengannya. Perlahan, Naruto mendekatkan wajahnya ke arah Sakura. Awalnya Sakura tampak biasa, tapi ketika jarak di antara mereka memendek, kedua kelopak mata Sakura tertutup rapat.

Naruto menyeringai tipis. "Kau lihat? Meskipun kau bilang tidak takut, kau pasti akan takut kalau ada seseorang yang menyerangmu," kata Naruto sambil menurunkan kedua lengannya.

Sakura kembali membuka kedua matanya saat suara Naruto menerobos indra pendengarnya. Wanita itu terdiam sesaat, tak ada kata yang terucap dari mulutnya saat Naruto mengatakannya, ia terlalu sibuk untuk mengatur debaran jantungnya yang terus berpacu cepat daripada membalas perkataan Naruto.

"Kalau saja aku adalah Pein, apa kau juga akan memejamkan mata dan membiarkan dirimu diserang?" tanya Naruto datar sambil menjejalkan kedua tangannya dalam saku celana, sedangkan kedua bola matanya masih menatap Sakura yang terdiam.

Sakura menggeleng.

"Bagus! Kau harus menamparnya."

Sakura mengangguk paham. Ia berjalan ke arah Naruto, lalu...

PLAK

Dengan cepat melayangkan sebuah tamparan di pipi kiri lelaki itu. "Seperti itu?" tanyanya dengan wajah polos.

Kening Naruto berkerut dalam, kedua alisnya bertaut, dan wajahnya memerah menahan letupan amarah yang tiba-tiba menguar. Ia merasa benar-benar kesal sekarang. "Kau tahu? Kau tidak harus menamparku."

Sudut bibir Sakura tertarik ke atas, membentuk seringaian lebar. "Anggap saja itu contohnya."

Naruto menggertakkan giginya. "Ka-kau!" Naruto menunjuk wajah Sakura dengan telunjuknya, ia menggeram pelan sebelum akhirnya mengepalkan tangan, menarik tangannya, lalu berbalik pergi meninggalkan Sakura. Naruto sudah lelah menghadapi kelakukan anak seorang menteri yang kurang ajar ini.

"He-hei! Naruto! Kau mau kemana?"

Suara Sakura yang berteriak di belakangnya tak Naruto pedulikan. Masih dengan langkah lebarnya, Naruto berjalan cepat ke mobilnya yang terparkir di halaman parkir Tokyo University. Terserah apa yang mau wanita itu lakukan setelah ini. Ia tidak terlalu peduli. Memangnya dia pikir dirinya ini apa? Menyebalkan! Pikir Naruto masih dengan bahu naik-turun.

Setelah masuk ke dalam mobil putih miliknya, Naruto merogoh ponsel, lalu mencari kontak Menma. Ia harus menghubungi Menma saat ini. Saudaranya itu harus melakukan sesuatu untuk kejadian semalam. Untuk beberapa saat Naruto terdiam sambil menunggu panggilannya diangkat, setelah suara Menma terdengar dari seberang sana, Naruto mulai angkat bicara.

"Menma, aku butuh bantuanmu."

"Kalau kau ingin aku menggantikan posisimu menjaga Sakura, aku menolak!"

Naruto mendecak pelan. "Bukan itu! Aku hanya ingin kau menyelidiki pelaku yang membajak bus kemarin."

"Hah?! Kenapa harus aku yang melakukannya?!"

"Ayolah, lakukan saja. Aku akan menceritakannya nanti." Naruto berujar dengan helaan napas, dan ia berharap Menma mau melakukan apa yang ia minta. "Kumohon," tambahnya saat tak mendengar jawaban dari kakaknya itu.

"Hahhh... Baiklah. Aku akan mengurusnya. Kalau begitu, aku pergi sekarang."

Setelah mengucapkan terima kasih, Naruto menutup sambungan teleponnya, menyimpan ponselnya ke dalam saku, lalu menyandarkan punggung pada kursi mobilnya yang empuk. Naruto memejamkan mata sejenak, lalu kembali membuka matanya setelah beberapa menit berlalu. Ia menghela napas lagi ketika dirinya baru sadar kalau Sakura tidak mengikuti dirinya. Bukannya jam kuliah wanita itu sudah selesai? Pikir Naruto sambil melihat jam digital yang menyala di mobilnya.

Baru saja hendak keluar mobil, pintu mobil di kursi penumpang depan terbuka, memperlihatkan sosok Sakura yang baru saja masuk ke dalam mobil dan mendudukkan dirinya dengan nyaman.

"Apa?! Aku tidak melakukan apapun!" Sakura bersuara ketika melihat tatapan tajam nan menusuk milik Naruto yang terarah pada dirinya.

"Kemana saja kau? Kesalahanmu adalah membuatku menunggu lama!"

Sakura melipat kedua tangannya di depan dada, mengalihkan pandangan ke arah depan—tak mau melihat wajah Naruto sambil mendengus pelan. "Itu pekerjaanmu. Kau dibayar untuk menjagaku. Memangnya kenapa? Tadi aku kembali ke UKS untuk mengembalikan kotak P3K yang kupinjam. Memangnya salah?"

Kali ini Naruto terdiam. Sedangkan Sakura tertawa dalam hati melihat Naruto yang tak mampu membalas ucapannya.

"Terserah," ujar Naruto sambil memutar bola matanya. "Aku cuma mau memperingatimu untuk jauh-jauh dari lelaki bernama Pein!" lanjutnya dengan tatapan serius, memberitahu Sakura kalau perkataannya ini bukan main-main.

Sakura melirik Naruto melalui ekor matanya. Ia terkekeh pelan. "Memangnya kau siapa? Berani sekali mengatur hidupku."

Naruto membuang napas dengan keras. Ia tidak mengerti jalan pikiran wanita di sampingnya ini. Apalagi yang harus Sakura lakukan dengan Pein yang jelas-jelas sudah menginjak-nginjak harga dirinya? Masih dengan tatapannya yang tajam, Naruto berujar, "apa yang kau harap dari pria bernama Pein itu?"

Untuk beberapa saat, Sakura terdiam. Ia tak menjawab pertanyaan Naruto dan lebih memilih untuk memandang ke arah luar jendela. "Apa kau tahu bagaimana wajah ibumu?" tanya Sakura dengan suara rendah.

"Ibuku sudah meninggal," jawab Naruto sambil memalingkan wajah ke arah lain, sementara Sakura terperanjat dari posisinya. "Tapi aku tahu sosoknya," lanjut Naruto sebelum Sakura melontarkan kata 'maaf'.

Sakura tersenyum tipis mendengar kalimat yang baru saja terucap dari mulut Naruto. "Ibuku juga sudah tiada." Sakura menarik napas panjang sebelum akhirnya menambahkan, "tapi aku tidak pernah tahu bagaimana sosoknya," lirihnya dengan tatapan sendu. Sakura menundukkan kepala, menatap kedua tangannya yang saling bertaut. "Bahkan Ayahku menyingkirkan semua fotonya dan tidak pernah memberitahuku bagaimana wajah dan sifat Ibuku."

"Apa ini ada hubungannya dengan Pein?" tanya Naruto sambil menolehkan kepala ke arah Sakura.

Sakura mengangkat kepala. Tanpa menatap Naruto, ia menjawab, "orangtua Pein adalah teman sekolah ibuku. Dia menunjukkan daftar nama angkatan ibunya dan di sana juga ada nama ibuku. Dia bilang, kalau aku mau menemaninya kemana saja, dia akan memberikan selembar foto yang di dalamnya ada ibuku," jelas Sakura panjang, lalu ia menoleh ke arah Naruto. "Naruto, kalau kau ada di posisiku, kau pasti akan melakukan apapun untuk mengenal ibumu." Sedetik kemudian Sakura mengusap setetes air matanya yang terjatuh.

Keheningan menyambut setelah itu. Naruto lebih memilih menarik sabuk pengamannya, menyalakan mesin mobil, lalu menjalankan mobilnya setelah menyuruh Sakura untuk memakai sabuk pengaman juga. "Sebaiknya kita pulang."

"Tidak!" seru Sakura cepat membuat Naruto mengalihkan pandangannya dari jalanan sesaat. "Aku belum mau pulang!"

"Jam kuliahmu sudah selesai! Memangnya apa lagi yang mau kau lakukan?!" tanya Naruto dengan suara tinggi. Sungguh. Demi apapun juga, ia bisa terkena hipertensi jika setiap hari harus dihadapkan oleh tingkah Sakura Haruno.

"Bagaimana kalau kita ke bar? Aku ingin minum."

Naruto tidak tahu kemana perginya wajah Sakura yang begitu sendu beberapa menit lalu. Sekarang wanita itu malah menolak pulang dan ingin pergi ke bar untuk minum. Apa cewek di sebelahnya ini sudah gila? Pikir Naruto sambil mendengus. "Kau mahasiswa kedokteran! Dan kau ingin minum-minum?" Naruto terkekeh dan menggeleng pelan. "Tak bisa dipercaya."

"Ayolah, aku tidak minum banyak, kok." Sakura mencondongkan tubuhnya ke arah Naruto, menyentuh bahu Naruto dan mengusapnya dengan lembut. "Mau, ya?" rayunya dengan suara menggoda.

"Kalau kubilang tidak, ya tidak! Kau ingin aku bicara dengan bahasa apa supaya kau mengerti?" tolak Naruto dengan tegas dan sukses membuat Sakura memanyunkan bibirnya.

"Kalau begitu, bicaralah dengan bahasa alien. Kalau kau bisa, kita pulang!" tantang Sakura sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Ia menatap Naruto dengan dagu terangkat. Ia yakin Naruto tidak akan mampu bicara bahasa alien.

Tak ada jawaban dari Naruto selama beberapa detik. Lelaki itu hanya bisa menarik napas panjang, mengembuskannya dengan perlahan, dan mencoba untuk tidak menendang Sakura keluar dari mobilnya. "Tidak! Kita pulang!" tegas Naruto mutlak, lalu membelokkan mobilnya menuju kediaman Haruno.

"Tidaaaakkk!" jerit Sakura tidak terima dan sukses membuat Naruto menutup sebelah telinganya—sedangkan tangannya yang lain masih memegang kemudi. "Ayahku belum pulang! Aku tidak mau sendiri di rumah!" Sakura merengek dramatis sambil menarik lengan baju Naruto.

"Cukup!" seru Naruto keras untuk kesekian kalinya. "Aku akan menemanimu di rumah sampai ayahmu pulang! Puas?!"

Sakura menghentikan kegiatannya dan kembali duduk dan bersikap dengan manis. "Baiklah. Kau juga harus menemaniku makan malam kali ini."

"Terserah," ucap Naruto sambil memutar bola matanya. "Dan juga, ada yang harus kuberitahu padamu nanti," lanjut Naruto dengan mimik serius, membuat Sakura menaikkan sebelah alis dan penasaran dengan hal itu.

xxx

Sakura datang dari dapur dengan dua gelas jus jeruk di atas nampan yang dibawanya. Ia meletakkan dua gelas itu di meja ruang tamu, memberikan segelas untuk Naruto dan segelas lagi untuk dirinya sendiri. Sakura mendudukkan diri, meminum jusnya beberapa tegukan sebelum akhirnya menatap Naruto.

"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan?"

Kedua mata Naruto menatap Sakura yang duduk di seberangnya. Posisi duduk mereka dibatasi oleh sebuah meja. Untuk beberapa saat Naruto terdiam hingga helaan napas keluar dari mulutnya. "Sebenarnya aku tidak ingin mengatakan hal ini," katanya seraya memijit keningnya. "Karena aku tidak suka mengatakannya."

Sebelah alis Sakura terangkat—merasa penasaran. Justru apa yang ingin Naruto katakan semakin membuat Sakura penasaran. "Aku sudah terlanjur penasaran, jadi ceritakan saja."

Kali ini mulut Naruto terkatup rapat. Beberapa kali mulutnya terbuka, namun tak ada sepatah kata yang terucap dari sana. Naruto mengurungkan niatnya. Ia ingin Sakura tahu kalau dirinya memiliki kepribadian ganda. Naruto percaya pada Kurama kalau kepribadiannya itu tidak akan menyakiti orang-orang yang dikenalnya, tapi tetap saja, Sakura harus berhati-hati pada Kurama.

"Aku—"

"Permisi," suara Ayame—salah satu pelayan di kediaman Haruno menginterupsi percakapan keduanya. "Maaf mengganggu, tapi seseorang bernama Menma Namikaze datang untuk bertemu dengan Naruto-san."

"Bisa kita tunda dulu percakapan ini?" tanya Naruto. Melihat Sakura yang tampak kesal karena pembicaraannya harus ditunda, Naruto hanya mampu menghela napas. "Aku janji akan memberitahumu nanti."

Sudut bibir Sakura tertarik ke atas. Ia menoleh ke arah Ayame. "Suruh dia masuk."

Ayame mengangguk paham dan berlalu pergi setelah membungkuk hormat pada Sakura dan Naruto. Tak lama, Menma muncul dengan penampilan santai—kaos hitam polos dengan jaket abu-abu sekaligus celana jeans dark blue—melekat di tubuhnya. Setelah ia mengucapkan selamat malam pada Sakura dan mendapat jawaban dari wanita itu, ia langsung mendudukkan dirinya di samping Naruto.

"Urusanmu sudah selesai?" bisik Naruto pada Menma yang duduk di sebelahnya. Namun saudara kembarnya itu masih belum mau membuka suara dan melayangkan tatapannya pada Sakura—memberi isyarat untuk tidak membicarakan hal ini di depan orang lain. "Sakura-san, kami ingin bicara berdua. Aku harap kau mau menunggu sebentar," kata Menma dengan senyuman khasnya.

Naruto bangkit dari posisinya, berjalan ke arah pintu keluar dan diikuti Menma dari belakang. "Jadi?" tanya Naruto sambil melipat kedua tangan di depan dada dan menyandarkan punggungnya pada dinding di belakangnya. Kali ini ia dan Menma berbicara di teras besar kediaman Haruno.

"Jadi, sebenarnya orang bernama Akeno dan Finnien itu bukan orang baik."

Naruto memutar bola matanya. "Aku tahu itu. Kalau mereka orang baik, mereka tidak mungkin membajak sebuah bus dan membunuh orang."

"Setelah keduanya diinterogasi, Akeno dan Finnien diketahui warna negara Inggris. Finnien adalah orang Inggris murni, sedangkan Akeno, dia memiliki darah campuran antara Jepang-Inggris. Keduanya bekerja di sebuah organisasi hitam di Jepang. Pekerjaan mereka adalah mengirim senjata ilegal dan merakit bom. Mereka sepakat keluar dari pekerjaan karena mereka memang tidak ingin melakukan pekerjaan kotor lagi." Menma menjeda penjelasannya sesaat sebelum akhirnya kembali melanjutkan, "organisasinya tak mengijinkan siapapun untuk mengundurkan diri. Karena tak ada jalan lain, keduanya kabur dari markas dan ingin kembali ke negara asal."

"Kau tahu dimana markas organisasi itu?" tanya Naruto penasaran.

"Mereka menolak menjawab meskipun kami sudah memaksanya. Mereka bilang, keluarga mereka terancam dibunuh jika mereka sampai membocorkan rahasia organisasi ke orang luar." Menma menghela napas sambil menggeleng pelan.

"Dunia hitam," gumam Naruto, menarik perhatian Menma. "Jika sudah memasukinya, tidak ada jalan untuk kembali. Sekalipun bisa kembali, kehidupan tidak akan lagi sama. Benar, kan?" Naruto melirik Menma dan langsung dijawab anggukan kecil dari saudaranya itu.

"Apa cuma itu informasi yang kau dapat?" tanya Naruto.

"Mereka akan dipulangkan ke negara mereka hari ini. Harusnya mereka sedang diperjalanan." Baru saja Menma menyelesaikan kalimatnya, dering ponsel di dalam sakunya berbunyi, membuat lelaki itu merogoh kantung celananya dan mengangkat telepon. Untuk beberapa saat Menma terdiam mendengarkan suara dari seberang sana dengan kening berkerut dalam. "Apa?! Bagaimana bisa mobilnya meledak sedangkan keduanya melarikan diri?! Yang benar saja?! Baiklah, terima kasih infonya. Aku akan ke TKP."

"Ada apa?" tanya Naruto ketika Menma memutuskan telepon dan kembali menyimpan ponselnya ke dalam saku.

"Mobil yang ingin mengantar Finnien dan Akeno ke pelabuhan meledak. Anehnya, setelah diperiksa, yang mati di dalam ledakan itu hanya supir dan dua polisi penjaga."

Kali ini Naruto menautkan kedua alisnya dalam. "Bagaimana bisa?" gumamnya.

"Entahlah, aku akan pergi ke sana." Menma mengangkat bahunya dan hendak berbalik ketika Naruto menyentuh pundaknya.

"Aku ikut."

"Kalian mau kemana?" Sakura yang sedari tadi berdiri di balik pintu menampakkan batang hidungnya ketika Naruto berniat untuk pergi juga. Kedua lelaki itu menoleh bersamaan, saling melempar pandangan sesaat dan kembali menatap Sakura. "Naruto, kau belum boleh pulang!" lanjutnya sambil melipat tangan di depan dada.

"Sebenarnya pekerjaan kalian apa? Membicarakan hal kriminal. Kalian berdua polisi?"

"Kita tidak punya banyak waktu, Naruto." Menma berbisik pelan pada Naruto yang berdiri di sampingnya.

"Akan kuberitahu besok," putus Naruto detik itu juga agar bisa pergi detik itu juga.

"Janji?" tanya Sakura, menatap mata biru Naruto dalam.

"Aku pria!" ketus Naruto pada Sakura. Entah kenapa ia merasa wanita di depannya ini seperti anak kecil yang ingin ditinggal ibunya pergi dan menanyakan kepastian kalau ibunya akan pulang cepat. Benar-benar menyusahkan, pikir Naruto kala itu. "Sudah ya, aku pergi. Jangan lupa untuk mengunci pintu rumah rapat-rapat." Setelah mengatakannya, Naruto langsung berbalik pergi dari sana dan diikuti Menma di belakangnya. Sedangkan Sakura hanya melambai sesaat lalu masuk ke dalam rumah dengan seringaian lebar.

"Kau yakin ingin meninggalkannya?" tanya Menma sambil menoleh ke arah pintu yang baru saja Sakura lewati.

Naruto mendengus. "Akan kuikat dia seharian kalau aku dapat kabar dia pergi dari rumah."

Menma meringis mendengar kalimat Naruto. Terkadang Naruto memang kejam dan ia tidak pernah menarik apa yang telah ia ucapkan. Karena itu Naruto dipilih menjadi salah satu tim pasukan khusus berkat ketegasannya dan tak pernah ragu-ragu.

"Kau ke sini naik apa?" tanya Naruto ketika ia membuka pintu mobil putih miliknya, lalu masuk ke dalam dan mendudukkan diri.

"Tentu saja naik transportasi umum. Kau kira aku terbang?" balas Menma ketika ia mendudukkan diri di samping Naruto dan menutup pintu. "Tahu dirilah sedikit, mobil ini aku yang beli. Kenapa kau yang sering pakai?" kali ini Menma mendelik Naruto dengan tatapan tajam, sedangkan si empu hanya tersenyum tipis sambil mengangkat bahu.

"Setidaknya aku belikan bensinnya." Naruto berujar. Ia menyalakan mesin mobil setelah memasang sabuk pengaman dan melajukan mobilnya dari kediaman Haruno.

xxx

Suasana malam di pusat kota diramaikan oleh banyak pasang mata yang baru saja menyaksikan ledakan mobil polisi yang sebelumnya tengah melintas membawa tahanan. Sepanjang jalan di area tersebut ditutup dan diamankan oleh pihak kepolisian. Sehingga pengemudi yang ingin melewati jalan itu harus diarahkan ke jalan lain. Asap bekas ledakan masih tercium dan berbaur dengan oksigen, membuat beberapa orang mengenakan masker.

Naruto yang baru saja tiba langsung memarkirkan mobilnya, ia dan Menma keluar dari sana. Saat ingin menerobos penjagaan polisi, keduanya mengeluarkan kartu identitas untuk masuk ke TKP.

"Asuma-san, kenapa sampai hancur seperti ini?" Menma bersuara ketika matanya menangkap mobil yang hancur tak karuan dengan warna hitam pekat akibat ledakan. "Apa menelan banyak korban?" tanyanya sambil melihat wajah pria yang lebih tua darinya itu.

"Yang meninggal 3 orang. Ketiganya adalah polisi yang membawa mereka menuju pelabuhan. Dan belasan warga sipil yang sedang berjalan di trotoar ikut kena imbas dari ledakan itu. Tapi, jangan khawatir. Mereka sudah dibawa ke rumah sakit," jawab pria bernama Asuma itu dengan senyuman tipis. Kepala kepolisian Tokyo itu memang selalu mengerjakan tugasnya dengan tenang walaupun hatinya berdebar kencang dari tadi.

"Apa tahanannya kabur?" kali ini Naruto angkat suara, membuat Asuma menoleh ke arahnya.

"Eh, apa kalian saudara kembar? Wajah kalian sama." Asuma menyipitkan matanya dan memandang Naruto dan Menma bergantian. Sedangkan dua orang yang ditatap itu hanya mengangguk. "Sebenarnya ada yang aneh dalam kasus ini," lanjut Asuma, kembali ke topik awal.

"Aneh?" beo Naruto, meminta penjelasan lebih dari perkataan Asuma.

"Dengar, mobil seketika meledak ketika sedang berhenti di lampu merah. Kalau dua tahanan itu tewas, mayatnya pasti masih bersama dengan 3 anak buahku meskipun tubuhnya hancur. Nyatanya, setelah diselidiki forensik beberapa jam lalu, tidak ditemukan tubuh Akeno dan Finnien. Ini membuatku bingung." Asuma menghela napas panjang, lalu memijit keningnya yang berdenyut. Ia cukup lelah dengan tugas-tugasnya yang banyak dan sekarang ia harus dihadapkan kasus pengeboman.

"Tahanannya lari?" Menma berujar dengan nada ragu.

Asuma terkekeh pelan mendengarnya. Ia menggeleng pelan. "Mereka tidak mungkin kabur lewat pintu. Sekalipun mereka berhasil kabur, akan banyak saksi mata yang melihat mereka."

"Boleh kulihat? Siapa tahu aku bisa menebak bagaimana cara mereka melarikan?" pinta Naruto, entah kenapa ia merasa penasaran dengan taktik yang digunakan kedua orang itu.

"Akan kuijinkan kalau agen yang kupanggil datang. Aku meminta bantuannya untuk menyelidiki kasus ini," kata Asuma sambil melihat jam tangannya. "Harusnya dia sudah sampai di sini." Tepat setelah mengatakannya, sebuah tepukan di pundak Asuma membuatnya menoleh, ia mengulas senyum ketika menatap pria di depannya.

"Aku datang! Maaf agak lama." Lelaki itu tersenyum ramah pada Asuma.

"Tidak apa, lagipula kau baru saja pulang, kan? Aku yang berterima kasih karena kau mau datang, Itachi-kun." Asuma tersenyum sambil menepuk bahu Itachi. Anak dari temannya ini memang sangat murah hati dalam urusan membantu.

"Baik! Aku ingin mendengar kejadi— kenapa kalian di sini?!" pekik Itachi ketika mata hitamnya menangkap sosok Naruto dan Menma. "Kukira kalian pergi melakukan misi dengan Sasuke."

"Naruto sedikit terlibat dengan dua tersangka dalam kasus ini, makanya aku ingin tahu juga karena secara tidak langsung, adikku ini juga menyeretku dalam masalah ini. Tidak masalah kan, Itachi-nii?" jawab Menma membuat Itachi menelengkan kepala sesaat, melirik ke arah Naruto sebelum akhirnya mengangguk.

"Oke. Tidak masalah." Itachi mulai merogoh kantung jaketnya, mengeluarkan sapu tangan dan mulai mendekati mobil yang ringsek tak beraturan dan hangus.

Menma yang mulai mengikuti langkah Itachi dan Naruto dari belakang, menghentikan langkah ketika ponselnya bergetar. Ia cepat-cepat mengangkat panggilan itu saat melihat nama yang tertera di layar ponselnya. "Di sini Fox," sapa Menma menyebutkan code namenya. Untuk beberapa saat Menma mendengar suara panggilan itu dengan seksama, tak lama kemudian ia mengangguk. "Kami akan segera kesana!"

"Naruto! Ini darurat! Kita harus ke barak sekarang juga!" seru Menma sambil menyimpan ponselnya.

"Hah? Kita kan sedang libur. Kenapa harus sekarang?"

"Tapi, atasan baru saja menelponku. Kita harus pergi."

Naruto mendecak kesal. Di saat-saat ia penasaran dengan kasus ini, ia harus pergi menjalankan tugas lain. Tapi, ia tak bisa berbuat apa-apa. Dirinya adalah tentara, bekerja untuk negara. Jika negara membutuhkannya, ia harus pergi saat itu juga—mau-tak mau, dan suka-tak suka—ia harus tetap pergi.

"Serahkan tugas ini padaku!" Itachi menepuk pundak ke dua adik angkatnya itu. "Kalau kalian sudah kembali, akan kuberitahu detailnya." Putera sulung dari keluarga Uchiha itu melempar senyumnya.

Naruto mendesah pelan, lalu mengulas senyum tipis. "Baikalah, kuserahkan yang di sini padamu, Itachi-nii," balas Naruto sebelum membalikkan tubuhnya.

Itachi mengangguk pelan.

"Kami pergi dulu," tambah Menma sebelum mengikuti langkah Naruto.

"Hati-hati," gumam Itachi sambil menatap kedua punggung yang kian menjauh itu. Setelah melihat mobil putih yang dikendarai Naruto melesat pergi, Itachi kembali melakukan tugasnya.

.

To be continued

.

A/n : Halo! Apa kabar semuanya? Semoga kalian semua dalam keadaan baik dan berada dalam lindungan-Nya. Hmm maaf ya, saya baru bisa update sekarang. Jujur aja, jadi anak kelas 12 itu sibuknya minta ampun. Hihi. Awalnya saya pengen bikin chap ini lebih panjang, cuma kayanya nanti malah tambah kelamaan updatenya. Jadi, mendingan update nyicil (dikit-dikit).

Oh iya! Apa di sini ada yang membaca cerita di Wattpad. Sekalian mau promosiin akunku, aku juga nulis original fiction. Silakan cek atau follow akun YukiNF_Miharu :p

Mungkin itu aja. Maaf kalau masih banyak kekurangan di fanfic ini. Segala masukan, kritikkan, dan sanggahan yang membangun masih dibutuhkan untuk ke depannya. Jadi, silakan tulis kesan dan pesannya di kolom review. Arigatou~

See You in Next Chapter!