Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto

Pairing : NaruSaku, MenmaIno

Warning! : AU, OOC, typo, miss typo dan kekurangan lainnya. Don't Like? Don't Read. Please Leave This Page.

Enjoy and Hope You Like It!

.

Light in The Darkness

By Yuki'NF Miharu

Chapter 4

.

Naruto langsung cepat-cepat ke barak untuk melihat apa yang terjadi. Pintu menjeblak terbuka ketika Naruto sampai depan pintu, seketika apa yang dilihatnya membuat keningnya berkedut dalam. Apa-apaan dengan semua pemandangan di depannya ini? pikirnya dongkol.

"Ahh... aku masih ngantuk." Sora yang masih memakai kaos oblong dan celana pendek langsung menidurkan tubuhnya di salah satu kursi panjang yang ada di sana.

"Aku juga." Shikamaru menguap lebar dan membaringkan tubuhnya di salah satu matras.

"Ah, menyebalkan sekali! Padahal hari ini aku ada acara." Kiba tampak merengut kesal dan jongkok di pojok ruangan.

"Ah, Neji! Aku merindukanmu!" Seorang wanita yang sudah berseragam memeluk seorang pria berambut hitam panjang, sedangkan yang dipeluk hanya terdiam, membiarkan wanita di depannya melakukan apapun yang ingin dia lakukan.

"Sudah lama ya, Tenten. Akhirnya tugasmu di Cina sudah selesai." Neji akhirnya menepuk puncak kepala Tenten dan tersenyum tipis.

"Inilah cinta semangat muda!" kali ini seorang lelaki dengan potongan rambut mangkuk dengan mata berapi-api mengepalkan tangannya di udara.

Naruto tak tahu harus bereaksi seperti apa melihat rekannya masih bersantai-santai. Kedua iris sapphire itu melirik Menma yang bergeming di sebelahnya. "Ini yang kau bilang darurat?" tanya Naruto dengan seringaian dan aura hitam di belakangnya sambil menunjuk pemandangan di depannya.

Menma mengalihkan pandangannya ke arah lain sambil menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal. "Aku juga tidak tahu." Menma tertawa kikuk sesaat, lalu menepuk punggung Naruto keras. "Tak ada salahnya mereka bersenang-senang sebelum berperang, kan?"

Helaan napas panjang keluar dari mulut Naruto. Bagaimanapun juga, ia amat sangat jarang bertengkar hebat dengan saudara kembarnya itu meskipun ia merasa kesal. Paling-paling ia hanya mengabaikan Menma sesaat. Kedua mata Naruto kembali menatap lurus, ia lalu berdeham keras. Namun suaranya masih tak mampu menarik perhatian seisi barak itu.

"Apa sudah di sini semua?!" kali ini Naruto meninggikan suaranya, membuat Lee menoleh, Kiba langsung berdiri tegak, Neji dan Tenten melepaskan pelukannya, sedangkan Sora dan Shikamaru hanya membuka mata dan mendudukkan diri sambil mengucek mata.

Menma mengambil satu langkah maju, menegakkan tubuhnya, lalu berujar lantang, "Berbaris!" suara tegas Menma membuat kelima orang di dalam sana langsung bergerak dan berbaris horizontal di depannya dan Naruto. Menma melirik Naruto, memberi isyarat untuk kembali memberi perintah.

"Aku mau kalian bersiap-siap dalam 5 menit! Sekarang!" seru Naruto dengan suara lantang dan tegas.

Keenam prajurit di depan Naruto dan Menma menegakkan tubuh. "Yes, sir!" balas mereka kompak lalu membubarkan diri menuju lemari masing-masing untuk mengambil seragam dan berbagai perlengkapan lainnya, pengecualian untuk Tenten yang sudah siap.

Naruto juga bergerak cepat menuju lemarinya, mengganti bajunya dengan seragam berwarna loreng, memasang sabuk yang menggantungkan berbagai kantung yang berisi pistol dan pisau, dan juga alat komunikasi jarak jauh semacam walkie taklkie. Tak sampai 5 menit, semua anggota telah siap dengan seragam lengkap.

"Oh, kalian sudah siap?" Fugaku muncul dari balik pintu barak dan menatap satu-satu manusia seisi barak. Jendral berumur setengah abad itu melangkah masuk dengan langkah santai dan berwibawa. "Aku memanggil kalian ke sini untuk membantu rekan kalian yang sedang bertugas di pelabuhan Mizuki."

Kening Menma berkerut. "Membantu?"

Fugaku mengangguk. "Tempo hari, aku mengirim Yamato, Sasuke dan beberapa orang untuk menyingkirkan organisasi yang terlibat perdagangan senjata dan narkotika, tapi rencana mereka gagal. Dua dari anggota kita tertangkap bersama sepuluh pekerja tambang minyak di sana."

xxx

Pelabuhan Mizuki, Tokyo

"Jadi, bisa langsung jelaskan situasinya?" tanya Naruto ketika ia bersama rekannya sampai ke tempat tujuan. Saat ini mereka tengah berkumpul di dalam gedung penyimpanan yang ada di pelabuhan untuk melakukan rapat.

"Tak kusangka, ternyata anggota pasukan khusus sepertimu bisa butuh bantuan juga, ya?" Menma tertawa ke arah Sasuke.

Sasuke menautkan alisnya dalam dan melemparkan tatapan mematikannya ke arah Menma. "Akan kubunuh kau setelah ini."

"Haha... terima kasih."

Naruto yang berdiri di samping Menma menghela napas. "Itu bukan pujian."

"Jadi, dimana Yamato-san? Bukankah dia yang memimpin operasi kali ini?" tanya Sora yang mulai membuka suaranya.

"Kurasa dia sedang menyiapkan beberapa strategi bersama Sai," jawab Sasuke lalu melirik Shikamaru yang tengah menguap lebar-lebar. "Shika, sebaiknya kau bergabung dengan mereka."

Shikamaru menegakkan punggungnya dan mulai melangkah. "Mendokusei, mereka ada dimana?" tanyanya dengan suara malas.

"Lurus saja, di ujung sana ada sebuah ruang kecil," balas Juugo sambil melipat tangan di depan dada.

"Anggota kami yang ditangkap adalah Suigetsu dan Karin." Sasuke mulai menjelaskan situasinya. "Dan mereka disandara di tambang minyak yang jaraknya 2 mil dari bibir pantai. Karena itu kami membutuhkan beberapa orang lagi."

"Ahh... jadi kali ini tambang minyak, ya?" gumam Kiba sambil menelengkan kepalanya. "Salah-salah kita semua bisa jadi abu di sana," lanjutnya dengan seringaian lebar.

"Lalu, bagaimana dengan para pekerja tambang? Kudengar dari Jendral ada yang disandera." tanya Menma.

Sasuke mengangguk. "Sepuluh orang disandera dan sisanya dilepaskan."

Naruto menghela napas. "Yah, kalau begitu kita tunggu saja strateginya."

xxx

Tambang Minyak, 01.45 AM

Seluruh pasukan memakai baju selam hitam, mereka sepakat menggunakannya agar tak mudah terlihat saat mereka menyelam di dalam air, khususnya di malam hari seperti ini. Meskipun merepotkan karena harus memakai pakaian selam, berenang mengenakan seragam justru lebih akan merepotkan karena saat di dalam air akan terasa berat.

Speedboat yang membawa mereka berhenti ketika Yamato meminta salah satu petugas pelabuhan mengantarkan mereka. "Kalian yakin di sini? Tempatnya masih lumayan jauh."

Yamato tersenyum tipis dan mengangguk. "Akan sangat berbahaya jika anda membawa kami terlalu dekat dengan tambang. Kita tidak tahu mereka punya penembak jitu atau tidak," balas Yamato, lalu menatap anggotanya satu-persatu. "Kalian sanggup berenang sejauh lima ratus meter, kan?"

Seluruhnya mengangguk kompak.

"Tolong selamatkan mereka. Para pekerja tambang itu punya keluarga yang menunggunya di rumah." Pria tua yang tampak berumur 40 tahun itu menundukkan kepalanya.

"Kami pasti membawa mereka kembali. Anda jangan khawatir." Kali ini Naruto tersenyum tipis pada pria tua itu.

"Kami juga sudah minta bantuan dari tentara Angkatan Laut untuk ikut dalam misi kali ini. Jadi, anda bisa kembali dengan tenang." Yamato berdiri dari posisinya. Ia melayangkan netranya ke arah lainnya. "Ingat rencana kita. Saat kita sudah berhasil menemukan mereka semua, langsung pergi dari sana! Prioritas utama kita adalah keselamatan mereka semua!"

Mereka mengangguk kompak, lalu mulai menceburkan diri ke laut dan berenang menuju tempat utama.

.

Naruto kembali memunculkan wajahnya ke permukaan sesaat, lalu mengambil napas panjang dan kembali menyelam. Ia tidak begitu suka misi yang mengharuskan mereka untuk menyelam. Baginya, sungguh merepotkan. Ia mendecak dalam hati sambil melihat tas menyelam hitam di tangannya.

Ketika bangunan tambang minyak sudah di depan mereka, semuanya berhenti berenang dan melihat situasi. Yamato memberikan kode tangan, dan ketika semuanya mengangguk, dua belas orang itu terpecah menjadi dua kelompok.

"Kelompok pertama aku, Sai, Lee, Sasuke, Tenten, dan Sora, akan masuk lewat sisi utara. Sedangkan sisanya, masuk lewat sisi selatan. Paham?!"

Naruto bersama yang lainnya berenang dan berhasil menyusup masuk dengan cepat. Sebelum mereka benar-benar memasuki tambang itu, keenamnya cepat-cepat membuka baju selam mereka, lalu menggantinya dengan seragam yang masih kering dari dalam tas selam yang mereka bawa masing-masing.

Keenamnya berganti dengan cepat. Seragam berwarna loreng, helm, rompi anti peluru, ikat pinggang dan juga sepatu telah terpasang di tubuh mereka dalam waktu satu menit.

"Ah, ini benar-benar merepotkan!" keluh Naruto pelan dan mengikat tali sepatunya dengan kuat. Dan bagian terakhirnya, barulah mereka mengeluarkan senjata jenis Colt M4 dari dalam tas itu.

Naruto dan yang lainnya mulai menyumpal salah satu lubang telinga mereka dengan earphone yang berfungsi sebagai alat komunikasi, lalu mengatur frekuensinya. "Test! Ini kitsune, apa sudah tersambung dengan tim A?" Naruto berbicara sambil menekan tombol yang ada di alat itu dan menunggu jawaban.

"Ah! Syukurlah sudah tersambung! Kukira kalian sedang dalam masalah."

Suara Yamato terdengar oleh semuanya melalui earphone yang mereka gunakan. Naruto kembali membalas, "bisa kita mulai sekarang, kan?"

"Bantuan dari Angkatan Laut akan tiba dalam waktu 20 menit. Temukan mereka semua sebelum bantuan datang!"

Naruto memegang Colt M4 di tangannya dengan kuat dan mengangkatnya di depan dada, sedangkan jarinya telunjuknya ia posisikan di depan trigger untuk bersiap menembak kapan saja.

Naruto menolehkan kepalanya ke belakang, saat melihat semuanya sudah siap dengan senjata mereka masing-masing, Naruto kembali menghadap ke depan. "Move!"

Lalu mereka berjalan cepat tanpa menimbulkan suara langkah kaki. Mereka berjalan menyusuri lorong panjang. Ketika sebuah pintu berada di depan mata mereka, semuanya berhenti, lalu saling melempar pandangan dan mengangguk.

Naruto meraih kenop pintu, lalu membukanya dengan kuat. Saat itulah Menma menjadi orang pertama yang mulai memasuki ruang tambang yang luas itu. Matanya melihat sekeliling sembari mengarahkan senjatanya.

"Aman!" ujarnya, lalu yang lainnya ikut masuk ke dalamnya.

"Bagi dalam 3 kelompok. Kita berpencar!" instruksi Naruto cepat dan dijawab anggukan. Naruto bersama Menma. Lee bersama dengan Juugo. Dan terakhir, Kiba bersama Neji.

Menma berjalan di depan Naruto dan semakin memfokuskan pandangannya. Dan ketika matanya menangkap tubuh yang sedang berada di lantai dua, ia melepaskan tembakannya tanpa menghentikan langkah kakin.

Naruto juga fokus dengan sekitarnya. Tepat setelah suara tembakan Menma terdengar nyaring, musuh-musuh mulai tampak di sekitar mereka. Pintu salah satu ruangan di depan mereka terbuka, musuh langsung menembakkan puluru secara beruntun. Naruto dan Menma berpisah dan melindungi dirinya di balik pilar-pilar. Setelah menarik napas panjang, Naruto mengeluarkan tubuhnya dan langsung menembak musuh sebelum ia melepaskan tembakan.

Keduanya kembali melanjutkan langkah, lalu mulai menaiki tangga menuju lantai dua. Sesekali mereka kembali menembak ke arah musuh yang bersembunyi di balik pilar atau dinding, terutama mereka yang menembak dari lantai tiga dan empat. Tak lama setelah baku tembak yang mereka lakukan, desingan peluru mulai menggema di seluruh penjuru penambangan minyak ini.

"Sial! Ternyata jumlah mereka lumayan banyak! Apa mereka pindah markas?!" keluh Menma yang tengah bersembunyi dengan napas terengah.

"Kau sudah dengar, kan? Kalau mereka berlayar membawa senjata dan narkotika dengan kapal besar dan membawa banyak orang," balas Naruto yang tengah bersembunyi di seberangnya.

Menma mengulas senyum, lalu kembali mengeluarkan tubuhnya dari persembunyian dan melepaskan pelurunya. "Untungnya mereka semua hanya orang kelas teri!"

Kali ini Naruto ikut menyeringai. "Jangan pernah meremehkan musuhmu, Fox!" Tanpa keluar dari tempat berlindungnya, Naruto melepaskan tembakannya pada musuh yang berdiri di tempat terbuka di lantai tiga.

Dor!

Menma mendengus saat sebuah peluru melesat di bahunya dan menggores rompi anti pelurunya. Atensinya mengarah ke sumber peluru tadi dan langsung menembak orang itu.

"Lihat, tuh. Kalau kau tidak pakai rompi, darahmu langsung merembes," kata Naruto sambil menyeringai lebar ke arah Menma. Ah, Naruto senang sekali menggoda orang seperti saudara kembarnya ini.

Naruto kembali melanjutkan langkahnya. Saat kedua irisnya mendapati sebuah ruangan lagi, ia cepat-cepat membuka pintu. Lalu, ia menghela napas. "Dimana mereka mengamankan sanderanya?" geramnya.

"Yah, aku juga ti—"

"Di sini Raven!"

Belum selesai menyelesaikan kalimatnya, suara Sasuke terdengar dari alat yang terpasang di telinga mereka.

"Aku dan Greenman menemukan mereka. Mereka di lantai enam."

Setelah mendengar informasi dari Sasuke, Naruto dan Menma beranjak dari tempatnya. Jadi, Sasuke dan Lee yang menemukan mereka? Hebat juga mereka sudah sampai ke atas sana, pikir Naruto.

xxx

Semuanya bertemu saat mereka hendak naik ke lantai enam. Namun, melihat Sasuke dan Lee yang masih berada di lantai lima, membuat mereka semua kembali bertanya-tanya.

"Kenapa kau masih di sini?" tanya Sora.

"Kami tak bisa seenaknya menerobos masuk. Yang menjaga mereka memang cuma satu orang. Tapi, dia membawa remote pemicu bom," balas Sasuke dengan suaranya yang terdengar tenang.

"A-apa?"

"Kalau begitu, aku yang akan maju," ujar Naruto seenaknya dan hendak menaiki tangga jika saja tangan Menma tidak menarik bajunya dengan kuat.

"Kau gila, ya?"

Naruto memutar bola matanya. "Kita tidak boleh buang-buang waktu. Lagipula kalian akan melindungiku dari belakang, kan?" tanyanya sebelum melanjutkan langkahnya.

Yamato yang menjadi ketua dalam misi kali ini hanya mampu menghela napas. "Aku tidak akan memperpanjang masalahnya."

"Cih! Kenapa tentara-tentara itu lama sekali?! Aku sudah tak sabar berhadapan dengan mereka! Haha!" suara keras yang menggema terdengar dari atas.

Deg!

Tiba-tiba Naruto menghentikan langkahnya di tengah tangga, membuat sebelas pasang mata di belakangnya menautkan alis.

"Hei, ada ap—"

"Haha," suara tawa licik nan dingin menyela perkataan Kiba. "Sepertinya aku dalam situasi yang menyenangkan. Aku tetap boleh ke sana, kan?" Naruto menolehkan kepalanya dan menatap rekannya lewat bahu. Saat itulah kedua mata Menma membola. Ia tahu betul perbedaan Naruto dan Kurama.

"Ku-Kurama? Kenapa kau muncul di saat seperti ini?!" tanya Menma geram dengan mata disipitkan.

Naruto yang berubah kepribadian menjadi Kurama hanya mampu mengendikkan kedua bahunya. "Entahlah. Setelah mendengar suara tadi, tiba-tiba aku bisa mengambil alih tubuhnya."

"Jadi, kau Kurama?" tanya Yamato pada sosok itu. "Apa kau tahu tugasnya?"

"Tu-tunggu! Kita tidak bisa menyuruhnya maju. Dia akan melukai adikku lagi!"

"Hei, bersikaplah profesional! Waktu kita terbatas!" kali ini Sasuke maju dan menahan Menma yang ingin menghampiri Kurama.

"Aku tahu tugasnya," balas Kurama santai sambil mengecek peluru yang tersisa pada Colt M4 di tangannya. "Menyelamatkan sandera, kan?" tanyanya seraya mereload isi pelurunya dengan yang baru saja ia ambil di salah satu saku celananya.

Yamato menyipitkan matanya. Waktu mereka tinggal sedikit lagi dan mereka harus bergerak cepat. Ia juga cukup tahu kepribadian lain Naruto adalah sosok yang tangguh dalam pertempuran, meskipun aksinya memang sangat ceroboh. Tapi ia berusaha untuk percaya pada Kurama kali ini. "Kalau begitu, lanjutkan. Aku percaya padamu."

Kurama menyeringai lebar. Ia kembali menghadap ke depan dan melanjutkan langkahnya menuju lantai enam. Saat sudah berada di sana, ia bisa melihat dengan jelas sandera yang tengah diikat dengan seorang pria berambut putih berkacamata yang menjaganya.

"Untuk kali ini saja aku tidak akan pakai kekerasan kalau kau mau membebaskan mereka," ucap Kurama santai tanpa menurunkan senjatanya.

"Sebelum itu, turunkan senjatamu," jawab pria itu santai sambil menunjukkan tombol pemicu bom. "Aku tidak akan segan-segan meledakkan mereka." Lalu matanya melirik ke arah dua orang yang terikat dengan bom di tubuh mereka.

Kurama mengikuti arah pandang pria di depannya. "Bukannya mereka tahanan pembajakkan bus kemarin? Dan kau mau membunuh rekanmu sendiri?"

Pria itu tertawa kecil dan membenarkan kacamatanya. "Orang yang berusaha lari dari organisasi harus dibunuh oleh kami sendiri. Kami tidak mungkin membiarkan polisi yang membunuhnya."

Kurama terkekeh kecil. "Organisasi kalian tidak berubah. Tetap kejam."

Pria itu menyeringai lebar. "Itulah Black Poison," ucapnya merasa bangga dengan organisasinya. "Ngomong-ngomong... aku masih ingat kau. Kau Namikaze, kan? Sekarang kau jadi tentara, ya?"

"Sayang sekali, aku bukan dia. Mana mungkin aku membiarkannya bertemu dengamu lagi, Kabuto Yakushi. Terlebih dia sedang bertugas saat ini."

"Ah, jadi begitu." Pria dengan nama Kabuto itu mendesah kecewa. "Aku penasaran bagaimana reaksi bos kalau tahu aku bertemu dengan Namikaze di sini," ujarnya sambil menelengkan kepalanya.

.

Di lain sisi, Yamato tahu dia dan lainnya tidak bisa berdiam diri di tempat ini lama-lama, karena itu ia harus melakukan hal lain untuk membantu Kurama yang ada di atas sana.

"Kita harus melakukan sesuatu," ucapnya sambil memandang rekannya satu-satu. "Aku mau Menma, Tenten, dan Juugo ikut denganku. Kita ambil jalan memutar ke lantai enam agar tidak ketahuan oleh mereka. Sisanya, aku ingin kalian berjaga di sini."

"Yes, sir!"

Yamato bersama tiga rekannya berlari ke arah tangga yang berada di tempat lain, mereka tidak bisa seenaknya memunculkan diri langsung lewat tangga itu. Jadi mau tak mau ia dan yang lainnya harus mengambil jalan memutar untuk melihat situasi di atas sana.

Saat tiba di lantai enam, Yamato menggunakan tangannya sebagai isyarat untuk berpencar, dan ketika ketiganya mengangguk, mereka berpencar menjadi dua kelompok. Yamato dan Tenten mengambil jalur sisi kiri, sedangkan Menma dan Juugo mengambil sisi kanan. Keempatnya mengendap-endap dengan gerakan cepat tanpa menimbulkan suara langkah kaki.

Begitu melihat sosok sandera, Menma langsung melesat menyembunyikan dirinya di balik sebuah tabung besar, lalu melirik para sandera dan berharap Karin atau Suigetsu menyadari kehadirannya sambil sesekali melirik ke arah Naruto.

'Bagus Kurama, buat dia fokus padamu,' pikir Menma. Ia kembali melihat keadaan sekitar, hingga netranya menangkap dua sosok yang diketahuinya sedang mendudukkan diri dengan bom yang terpasang di tubuh mereka. 'Kenapa pelaku pembajakan bus itu bisa ada di sini?' tanyanya dalam hati, tak lama ia menggeleng. Tidak, ia tidak boleh memikirkan hal lain, selain misi ini. Menma kembali memfokuskan pandangannya ke arah para sandera.

Menma tersenyum tipis saat Karin menyadari keberadaannya, ia meletakkan telunjuknya di depan bibir ke arah wanita berambut merah darah itu. Menma merogoh pisaunya, meletakkannya di lantai, lalu mengopernya ke arah Karin. Saat itulah Karin langsung membuka ikatan di tangannya dan mengoper pisaunya kepada Suigetsu masih dengan posisi tangan di belakang punggung.

Melihat pria berambut putih itu tampak fokus dengan perbicangannya dengan Kurama, Menma mulai mengarahkan senjatanya ke arah pria itu. Ia menoleh ke arah Yamato—meminta persetujuan—sebelum ia melepaskan tembakan. Kesempatan bagus karena musuh tak menyadari keberadaan mereka. Melihat Yamato menganggukkan kepalanya, Menma mulai mengambil ancang-ancang untuk menembak.

"Haahh... aku tidak suka kalian bermain licik."

Gerakan Menma terhenti ketika Kabuto menoleh perlahan ke belakang dengan senyuman licik. 'Cih! Sial! Jadi ketahuan?!' pikirnya sambil mendengus sebal.

Kabuto mengangkat remote pemicu bomnya. "Karena itu... aku tidak akan menahannya lagi," ucapnya masih dengan seringaian licik. "Kalian punya waktu 10 detik untuk menyelamatkan diri." Kabuto menekan tombolnya lalu berlari cepat menuju pinggir gedung dan hendak melompat.

"Sial!" Tanpa ragu Menma keluar dari persembunyiannya dan melepaskan sebuah peluru ke arah Kabuto. "Kena bahu," gumamnya setelah melihat Kabuto meringis sambil memegang bahu sebelum menjatuhkan diri ke laut.

"Cepat bergerak!" seru Yamato keras dan berlari ke arah para sandera. Ia melepaskan ikatan lainnya dan dibantu oleh Karin dan Suigetsu yang ikatannya sudah terlepas.

3

"Yang sudah terlepas langsung loncat keluar!" seru Kurama sambil membantu para pekerja untuk berdiri.

2

Dua orang mulai berlari ke arah tepi gedung untuk meloncat.

1

"Berhenti!"

Tepat setelah teriakan Menma, ledakan hebat mengguncang seluruh tambang. Finnien dan Akeno yang mengalungi bom di tubuh mereka langsung hancur seketika. Api cepat merambat dan kembali meledakkan tabung-tabung besar yang berisi bahan minyak.

Tak lama setelah itu, ledakan kembali berbunyi dari lantai bawah. Membuat tambang semakin bergoyang. Dinding dan pilar yang menahan bagunan mulai retak dan lantai semakin bergetar kuat, sedangkan api telah memblokir jalan mereka untuk meloncat.

Yamato mendecih. "Naik ke atap! Cepat naik ke atap!" perintahnya dan mulai berlari lebih dulu untuk memimpin. Mereka harus melewati lantai tujuh dulu sebelum atap. Yamato sedikit bersyukur karena para sandera tidak di tahan di lantai empat atau lima. Kalau saja mereka disandera di sana dan api sudah memblokir seluruh jalan mereka, mau melarikan diri pun sulit karena cepat atau lambat tambang ini akan runtuh.

Tenten dan Karin berlari di belakang Yamato dan diikuti para pekerja di belakang mereka, sedangkan anggota lainnya berjaga di belakang untuk memastikan tidak ada yang terjatuh atau tertinggal.

Saat mereka hendak naik tangga menuju atap, ledakan kembali berbunyi keras, kali ini api semakin menyala dan berkobar lebat di bawah sana layaknya lautan api dan pijakan mereka kembali berguncang.

Yamato tak menghentikan langkah kakinya, tepat berada di tengah tangga, tangga itu retak dan seketika tebelah dua. Yamato dan beberapa orang yang berhasil sampai atap menoleh ke belakang dan membelalakkan matanya. Bisa ia rasakan bangunan ini semakin miring dari posisi semula akibat beberapa pilar penahan di lantai bawah hancur.

"Tenten, Karin, sebaiknya kalian pergi dari sini lebih dulu. Bantuan kita seharusnya sudah datang. Mereka akan menolong kalian. Aku akan menyusul setelah membantu mereka." Yamato memerintah dan dijawab anggukan cepat oleh Tenten dan Karin.

Kedua wanita tangguh itu membimbing enam orang pekerja menuju tepi atap dan melompat ke dalam air. Sementara Yamato masih harus menunggu mereka yang masih terjebak di tangga.

.

Menma bersama yang lainnya berpegangan. Dan ketika ia menoleh ke belakang, bisa ia lihat beberapa bagian gedung sudah ada yang terbelah. "Cepat lompat sebelum jaraknya melebar!"

Sasuke lebih dulu melompat, lalu disusul oleh rekannya yang lain dan empat pekerja yang tersisa. Tak lama setelah itu, gedung semakin miring, celah antara tangga dan atap melebar, membuat seorang pekerja tambang terakhir enggan melompat.

"Cepatlah lompat!" teriak Kurama tak sabar karena tinggal mereka bertiga—dirinya, Menma, dan pekerja itu sendiri—yang belum mencapai atap.

"Sasuke akan menangkapmu!" lanjut Menma tak sabar karena ia juga merasa panik karena terus mendengar suara ledakan dan reruntuhan yang semakin menjadi. Belum lagi asap hitam yang mengepul semakin menyesakkan dadanya.

Pria itu menggeleng saat matanya melihat api yang siap melahapnya jika lompatannya tak sampai seberang sana. "Tidak! Aku tidak bisa!" ucapnya takut.

"Cepatlah! Apa yang kalian lakukan?!" teriak Yamato tak sabar dari atas setelah ia menyuruh yang lainnya pergi lebih dulu. Di tambang ini hanya tersisa lima orang—dirinya, tiga rekannya, dan seorang pekerja—sedangkan yang lainnya telah berhasil meloloskan diri.

"A-aku takut," kata pria itu lagi dengan suara gemetar.

"Cih! Kau benar-benar membuatku muak!" Kurama yang sudah habis kesabarannya mencengkeram kuat seragam yang dikenakan pria itu, lalu dengan sekuat tenaga, ia melempar pria itu ke arah Sasuke. Pria itu memang hampir jatuh, tapi Sasuke dengan sigap meraih tangan itu dan menariknya.

"Hei! Kau sinting, ya!" maki Menma shock dengan tindakan Kurama barusan.

"Sekarang kau, Menma." Kurama menoleh ke arah Menma.

"Heh? Adikku harus lebih dulu." Dan bisa-bisanya di saat genting seperti itu Menma masih melipat kedua lengannya di depan dada dengan angkuh.

"Cih, aku ini bukan adikmu," balasnya dan akhirnya melompat lebih dulu dan disusul oleh Menma di belakangnya.

Kelimanya berlari cepat, lalu melompat bersamaan ke dalam air.

Menma berenang ke permukaan, lalu mengambil napas panjang. Ia bisa melihat beberapa kapal dari pasukan Angkatan Laut yang siap menolong mereka dan dua helikopter yang terbang di udara dengan lampu senter mengarah ke arahnya. Menma mengedarkan pandangannya untuk mencari Kurama. Kemana orang itu? Pikirnya.

"Kurama!" panggil Menma keras dengan wajah khawatir. Ia bukan khawatir tentang Kurama, ia khawatir dengan Naruto. Tak lama setelah itu, sosok Naruto muncul ke permukaan dan langsung mengisi paru-parunya dengan oksigen.

"Apa yang terjadi?!" tanyanya panik sambil menoleh kesana-kemari dengan pandangan bingung. "Kenapa tiba-tiba aku di air?!"

"Hei, tenanglah!" kata Menma seraya mendekati Naruto, sepertinya kesadaran Naruto sudah kembali. "Misinya sudah selesai."

"Sudah?" tanyanya dengan ekspresi bingung. Naruto mendecak kesal karena tidak mengingat apa-apa dan bingung dengan situasinya sekarang.

"Sebaiknya kita berenang ke kapal itu. Akan kuceritakan situasinya padamu."

Naruto mengangguk setuju dan berenang bersama Menma menuju kapal yang akan mengantar mereka kembali ke darat. Tak lama setelah itu, ledakan besar dari tambang terdengar keras bersamaan dengan runtuhnya bangunan itu.

xxx

Kediaman Uchiha, 04.55 AM

"Kenapa kalian ke rumahku?" tanya Sasuke sambil melirik Namikaze bersaudara di belakangnya. "Memangnya kalian tidak lelah?" lanjutnya seraya menguap lebar.

"Eh? Jadi sekarang kami tidak boleh menginap di sini lagi?" Menma menghela napas.

"Kami ingin bertemu Itachi-nii," jawab Naruto serius.

Sasuke menghela napas sesaat dan tak menyangkan akan kedatangan tamu di pagi buta. Ia sudah merasa lelah dan ingin cepat-cepat masuk ke kamarnya. Ketika melakukan tugas, entah kenapa ia tidak merasa lelah sama sekali, tapi ketika tugasnya sudah selesai, apalagi jika sudah berdiri di depan rumahnya, rasa lelah akan langsung menerjang dan membuat dirinya merasa tak sabar ingin cepat-cepat merebahkan diri di atas kasur empuknya.

"Kalau begitu masuklah, aku akan bangunkan dia."

.

"Jadi, kalian mau aku menjelaskan tentang ledakan yang membawa dua tersangka mafia itu, ya?" tanya Itachi sembari menguap lebar.

"Maaf mengganggu, Itachi-nii," balas Menma merasa tak enak karena sudah mengganggu jam istirahat orang lain.

Itachi tersenyum tipis. "Tidak apa-apa," ucapnya lalu mendudukkan diri di sofa, meletakkan sebuah amplop cokelat besar dan menatap dua orang di depannya yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri.

"Saat misi tadi, aku melihat dua tersangka yang melarikan diri dari mobil polisi itu. Ternyata mereka adalah anggota dari organisasi hitam yang baru saja kita hadapi." Menma mulai menjelaskan.

"Hmm... jadi begitu. Secara tak langsung, kasus kita menangani organisasi hitam yang sama ya?"

"Apa kau sudah tahu trik yang mereka gunakan untuk melarikan diri? Bagaimana bisa mobil meledak dan mereka baik-baik saja?" tanya Naruto.

"Mudah saja. Kemarin malam, setelah memindahkan posisi mobil, di bawah mobil ada lubang saluran air. Aku yakin mereka membuka penutup saluran, lalu melarikan diri lewat saluran air bawah tanah."

"Jadi? Bagaimana mereka bisa keluar dari mobil? Bahkan mereka tidak terlihat keluar dari mobil dan tiba-tiba saja mobilnya meledak." Menma mengerutkan keningnya bingung.

Itachi tersenyum simpul. Ia meraih amplop besar yang tadi ia bawa, membukanya dan mengeluarkan sebuah plastik bening berisi alat seperti pulpen berwarna hitam. "Mereka melubangi bawah mobil dengan ini."

Naruto menautkan alisnya. "Apa itu?"

Kedua iris oniks Itachi menatap benda yang ada di tangannya. "Ini laser pemotong. Benda apapun yang terkena laser ini pasti bisa terpotong, bahkan besi sekalipun," jawabnya dan kembali menyimpan barang itu ke dalam amplop. Lalu Itachi mengeluarkan beberapa lembar foto dari sana.

"Memangnya ada alat canggih seperti itu ya?" tanya Naruto.

"Di militer mungkin kalian hanya belajar mengenai senjata-senjata, tapi alat-alat canggih macam ini sudah biasa untuk kami, para agen rahasia," jawab Itachi sambil tersenyum.

"Barang-barang mereka kan sudah disita, kenapa mereka masih bisa menyembunyikan barang seperti itu? Dan juga, mereka dikawal 3 orang polisi, kan?" tanya Menma.

"Nah! Itu dia!" Itachi menyodorkan foto-foto itu ke arah Menma. "Salah satu dari mereka bukan polisi, melainkan orang luar. Setelah diperiksa oleh forensik, penyusup itu menggunakan kulit palsu dan menyamarkan wajahnya seperti salah satu anggota polisi bernama Okumura Shinji. Padahal jelas-jelas Okumura Shinji itu sedang ambil cuti."

"Hmm... jadi begitu," gumam Menma sambil memerhatikan foto-foto yang memperlihatkan sosok wajah mayat dengan kulit palsu—yang tampak terbuat dari plastik—hangus terkelupas.

"Apa sudah jelas?" tanya Itachi seraya mengambil foto-foto itu dan kembali menyimpannya.

Menma mengangguk. "Ya, terima kasih. Tapi aku masih penasaran dengan organisasi mereka."

Itachi mengendikkan kedua bahunya. "Aku juga ingin tahu. Sayangnya sulit mendapatkan bukti untuk melacak dari mana asalnya mereka."

"Kurama pasti tahu sesuatu," gumam Menma dan masih bisa didengar Naruto dengan jelas. "Karena saat misi tadi dia lumayan banyak bicara dengan salah satu orang di sana."

"Eh? Jadi Kurama yang maju menghadapinya?" sahut Naruto tak percaya. Ia kira rekannya yang lain yang menggantikan dirinya menghadapi orang itu, karena kebanyakan anggota militer yang mengetahui tentang kepribadian lainnya malah merasa takut dengan Kurama.

"Naruto, coba bertukar tempat dengan Kurama," pinta Menma sukses membuat Naruto menautkan alisnya dalam.

Naruto melipat kedua tangannya di depan dada. "Bukannya kau benci dengan Kurama? Dan juga aku tidak tahu bagaimana cara bertukar tempat dengannya. Kau sendiri kan yang bilang kalau kepribadianku itu muncul tak kenal tempat, waktu, dan situasi?"

Menma memijit tengkuknya. "Yah, kalau begitu aku akan tunggu Kurama muncul." Ia lalu menoleh ke arah Itachi dan tersenyum lebar. "Itachi-nii, arigatou."

Itachi mengangguk dengan senyum tipis. "Douitashimashite."

.

Itachi baru saja hendak kembali ke kamarnya setelah mengambil minuman dari dapur, namun suara ketukan pintu kembali membuatnya harus membuka pintu. Siapa lagi yang datang di pagi buta seperti ini? Pikirnya dongkol. Begitu ia membuka pintu, tampak sosok Menma di hadapannya.

"Are? Kau tidak jadi pulang?" tanya Itachi heran.

Menma tersenyum kikuk. "Boleh aku tidur di sini? Naruto baru saja dapat panggilan penting, lalu seenaknya dia meninggalkanku dan menyuruhku pulang naik transportasi umum."

Itachi tertawa sesaat, lalu membuka pintunya lebar-lebar. "Jangan sungkan. Kediaman Uchiha kan juga rumahmu. Kau bisa pakai kamarmu yang biasa."

Menma membungkuk rendah ke arah Itachi. "Terima kasih," ucapnya seraya masuk dan ia bersumpah akan buat perhitungan dengan adiknya itu. Ya, liat saja nanti.

xxx

Sakura menghabiskan wine-nya dalam sekali teguk, lalu meletakkan gelasnya di atas meja bar. "Paman, aku mau wine-nya satu botol lagi!" seru Sakura dengan kepala oleng.

"Eh, apa anda yakin, Nona?" tanya bartender tersebut dengan tatapan tak yakin dan melihat dua botol kosong yang sudah tandas diminum wanita di depannya ini.

"Sudahlah berikan saja," jawabnya dengan suara serak. Ia lalu kembali mengarahkan netranya ke sejumlah orang-orang yang tengah menari ria. Yah, tapi dia sudah cukup lelah menari tadi dan sekarang ia ingin lebih banyak minum.

Saat sebuah botol wine datang, Sakura langsung mengambilnya dan menuangkannya ke dalam gelas, lalu kembali meminumnya dengan nikmat. "Ah, enak sekaliii..."

"Haha bagus sekali Sakura Haruno!"

Sakura tersentak di tempatnya ketika mendengar sebuah tawa dan suara yang amat dikenalinya. Perlahan ia memutar tubuhnya, lalu napasnya mendadak terhenti saat melihat sosok lelaki di belakangnya sedang menatapnya dengan tatapan tajam.

"Bukannya aku sudah bilang untuk tidak pergi kemana-mana, huh?"

Sakura tertawa kecil. Kali ini pandangannya mulai mengabur, tapi ia cukup tahu siapa lelaki itu. "Ahaha... kau Naruto, kan?"

Naruto mendekati wanita itu dan mengambil gelas wine yang ada di tangannya, lalu ia letakkan di atas meja. "Kita pulang sekarang juga!" seru Naruto seraya meletakkan sejumlah uang di atas meja bar. Sebenarnya ia tak mau membayar minuman itu dengan uangnya, tapi menyuruh wanita nakal ini untuk membayar minumannya sendiri pasti sangat merepotkan.

"Eh? Tapi aku belum selesai." Sakura kembali meraih gelasnya dan hendak meminumnya, namun tangan Naruto lebih dulu merebut paksa gelas itu dan ia letakkan kembali di atas meja.

"Kita pulang sekarang!" Naruto meraih tangan Sakura dan menggenggamnya erat.

Sakura terpaksa bangkit dari tempat duduknya. Belum mengambil satu langkah, Sakua merasa dunia yang dipijakinya berputar, pandangannya semakin kabur, dan suara-suara dentuman musik yang keras mulai terdengar samar di telinganya. Tak lama, kegelapan langsung menyerang dirinya.

.

Naruto mendesah keras melihat tubuh Sakura yang tergeletak begitu saja di lantai. Wanita ini benar-benar sudah mabuk dan dia ingin meminum satu botol wine lagi?! Yang benar saja?!

Naruto menjongkokkan dirinya, lalu mulai menggendong Sakura bridal style. "Ah, merepotkan sekali!" keluhnya dan melangkah pergi dari tempat itu.

xxx

Sakura membuka matanya, memperlihatkan iris zamrud yang mengkilau dari bola matanya itu. Matanya menyipit ketika cahaya menyilaukan pengelihatannya, ia berkedip beberapa kali, berusaha menyesuaikan retinanya dengan cahaya. Begitu pandangannya jelas, ia mengedarkan pandangannya. Oh, ini rumahnya. Tunggu! Kenapa dia ada di ruang tamu?

"Ah, pegal sekali." Rasa pegal menyerang seluruh bagian tubuhnya. Baru saja ingin bergerak, tapi nyatanya ia sama sekali tidak bisa bergerak, lalu ia melihat dirinya yang duduk di kursi dengan tangan terikat di belakang dan kaki yang juga terikat. "Apa-apaan ini! Apa ini penculikan?!"

"Oh, kau sudah bangun."

Sakura menoleh ke sumber suara, dimana sosok Naruto tengah berbaring santai di sofa panjang. Oh benar juga, Sakura baru sadar kalau tadi pagi Naruto menemukan dirinya yang sedang berminum-minum di salah satu bar. Tepat saat ia hendak diseret pulang, ia langsung kehilangan kesadaran.

Sakura menyipitkan matanya. "Apa kau yang mengikatku?!"

"Memangnya kenapa? Ayahmu juga mengijinkannya, kok." Naruto balik bertanya dengan nada santai.

"Badanku pegal semua karena tidur di kursi! Harusnya kau menidurkanku di atas kasur!" berontak Sakura sambil berusaha melepaskan tali yang mengikat tangannya. "Lepaskan aku sekarang juga!"

Naruto kembali meletakkan lengan kanannya di atas mata. "Itu hukuman untukmu. Jangan ganggu aku, aku masih mau tidur."

"Hei! Lepaskan aku! Dasar manusia tidak berperikemanusiaan!" Sakura terus berontak di tempatnya. Entah mengapa ia jadi ingin menangis saat ini juga. "Siapapun yang ada di rumah ini, tolong aku!"

Dan Naruto yang masih memejamkan mata di sofa sengaja menulikan telinganya. Ia sudah meminta pelayan yang ada di rumah ini untuk tidak ikut campur dalam masalahnya. Wanita seperti Sakura Haruno memang harus sesekali diberi pelajaran agar jera dan mereka semua—para pelayan termasuk Kizashi—juga setuju untuk memberi Sakura hukuman walaupun hanya sesekali.

Naruto sudah cukup lelah hari ini, baru saja ia dan Menma tadi mau langsung pulang ke rumah untuk istirahat, tapi telepon dari Kizashi yang mengatakan bahwa Sakura tidak pulang semalaman sukses membuat Naruto murka dan hilang kesabaran karena harus mencari wanita itu.

Tiba-tiba ponsel dalam saku Naruto berbunyi. Ia merogoh kantong celana seragam militernya yang belum ia ganti, lalu melihat nama Menma yang tertera di layar ponselnya.

"Moshi-moshi."

"Naruto, kau sudah pulang?"

"Belum. Aku masih di rumah Kizashi-san."

"Kalau kau mau pulang, jemput aku di rumah Sasuke ya. Aku terlalu malas pulang dengan kendaraan umum."

"Iya, iya, nanti aku jemput."

"Ne, Naruto... lepaskan aku!" Tiba-tiba Sakura mengeluarkan suara menggoda dan membuat Naruto bergidik seketika.

"Hei, apa yang kau lakukan pada Sakura-san? Kau berbuat mesum, ya?"

"Cih, jangan sembarangan! Aku mengikatnya karena dia berani keluar rumah dan tidak pulang semalaman. Hukuman itu sudah sepantasnya." Naruto mendengus dan menatap Sakura dengan pandangan tajam.

"Hah? Jadi kau benar-benar mengikatnya?"

"Pria tidak menarik ucapannya," dengus Naruto. "Kalau kubilang aku akan mengikatnya, akan kuikat. Tidak peduli dia anak menteri atau anak presiden sekalipun."

"Yah, baiklah. Adikku memang kejam."

Lalu sambungan telepon terputus. Naruto kembali menyimpan ponselnya ke dalam saku, ia bangkit dari posisi berbaringnya menjadi duduk dan menatap Sakura. "Kalau kau diam selama satu jam dan menyesali perbuatanmu, aku akan melepas ikatannya." Suara Naruto kali ini terdengar rendah dan halus, sukses membuat Sakura diam di tempatnya.

.

Waktu berlalu cepat. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 12 siang. Naruto terkesan. Ternyata Sakura benar-benar bisa mengunci mulutnya untuk tidak berbicara selama satu jam. Naruto bangkit dari posisi duduknya, berjalan ke arah Sakura dan membuka ikatan tali yang mengikat kaki dan tangan wanita itu.

"Maaf karena sudah terlalu keras padamu," kata Naruto, melihat bekas merah yang timbul di pergelangan tangan Sakura.

Sakura mengusap pergelangannya. "Tidak apa-apa," balasnya sambil tersenyum tipis. "Sesekali aku memang harus dihukum."

Naruto tak membalas ucapan wanita musim semi itu. Aneh sekali, pikirnya. Kesurupan malaikat apa sampai-sampai Sakura mengikuti ucapannya kali ini. Apa wanita itu sedang merencanakan sesuatu untuknya? Yah, pokoknya ia harus tetap berhati-hati.

"Nona Sakura, makan siang sudah siap." Wanita paruh baya muncul dari arah dapur dengan senyuman tipis di wajahnya.

"Aku akan ke sana, Erika-basan," balas Sakura.

"Apa hari ini kau ada jam kuliah?"

Sakura kembali mengarahkan netranya kepada Naruto, lalu tampak berpikir sejenak. "Sepertinya ada, tapi jadwal kuliahku hari ini pagi dan sekarang sudah siang. Jadi, kurasa aku tidak perlu pergi."

"Apa tidak apa-apa?"

"Aku bisa menelepon seorang temanku untuk cari tahu tugas dan materi yang dipelajari hari ini."

Naruto mengangguk paham. "Kalau begitu, aku mau pulang dulu. Jangan kemana-mana, ya." Belum sempat berbalik, sebuah tangan hinggap di lengan Naruto dan membuat lelaki itu kembali menoleh ke arah Sakura.

"Makan dulu. Temani aku makan siang, ya?" pinta Sakura dengan mata berbinar-binar. Namun Naruto tetap bergeming di tempatnya. "Aku tidak mau makan sendiri." Raut wajah Sakura mendadak berubah menjadi wajah memelas.

Naruto memutar bola matanya dan menghela napas lelah. "Baiklah," jawabnya pada akhirnya. Lagipula Sakura tinggal seorang diri di rumah besar ini. Pelayan rumah tak begitu menemaninya. Jadi, mungkin saja wanita itu kesepian, berbeda dengannya yang masih memiliki Menma.

'Mungkin ada baiknya aku menemaninya lebih lama saat waktuku senggang.'

"TUNGGU! MIKIR APA AKU TADI?!" seru Naruto keras tanpa sadar dan membuat Sakura di depannya berjengit.

"Hah? Kau kenapa?" Sakura memandang Naruto dengan tatapan tak mengerti.

Naruto menggeleng cepat. "Ti-tidak, bukan apa-apa!" sahutnya cepat. Pasti ada yang salah dengan otakku, pikir Naruto.

"Haha... pasti ada yang salah dengan otakmu."

Naruto melirik Sakura, dimana wanita itu tengah tersenyum mengejek ke arahnya. Ya Tuhan, orang di depannya ini benar-benar tahu bagaimana cara membuat tekanan darahnya naik dan hilang kesabaran.

xxx

Kabuto mengembuskan asap rokok dari mulutnya dan mematikan nyala api pada ujung rokoknya yang sudah pendek. Ia membuang puntung rokoknya sebelum membuka pintu cokelat sebuah ruangan dan berjalan ke sebuah meja dengan seseorang yang tengah duduk membelakanginya.

"Kudengar bahumu terluka, apa kau baik-baik saja?"

"Bukan masalah besar. Hanya tergores, kok."

"Baguslah. Lalu apa kau bawa kabar baik?"

Kabuto tersenyum. "Tentu saja, Bos. Perdagangan kita tadi malam berhasil meskipun menemui banyak masalah," jawab Kabuto dan semakin melebarkan senyumannya sebelum melanjutkan, " dan semalam aku bertemu Namikaze."

"Heeeh? Benarkah? Kapan ya aku bisa bertemu dengannya lagi?"

"Tentu saja kalau Tuan Besar mengijinkan anda."

"Ah, kau benar. Aku butuh ijinnya dulu. Tapi sepertinya dia sudah merencanakan sesuatu untukku. Aku jadi tidak sabar."

Kabuto tersenyum. "Anda harus menahannya sebentar lagi karena waktu untuk anda pasti akan segera tiba."

.

To be continued

.

A/n : Halo! Sudah 3 bulan yaaa... lama juga. Apa kabar, kalian? (seketika ditimpuk). Semoga masih ingat dengan fanficku yang satu ini. Minggu lalu baru aja selesai sama UAS dan ujian lainnya dan masih harus menghadapi banyak ujian kedepannya. Entah ujian dari sekolah atau ujian kehidupan #plak XD.

Semoga puas dengan chapter 4 ini. Segala kesan, pesan, masukan, sanggahan, dan kritikan yang membangun bisa dituliskan di kolom review. Thanks for read.

Dan kali ini aku juga mau sekalian balas review chapter lalu...

Aion Sun Rise, KidsNO TERROR13, adam. muhammad. 980, Icha, Guest, Dear God, ar, buyungsiska : Chapter 4 sudah update. Gak bisa janji update cepet. Semoga chapter ini menghibur yaaa. Thank for read and review.

Paijo Payah : Kenapa updatenya pas saya ultah? Biar spesial aja gitu haha. Barak militer sih kayanya gak ada yang berani nyerang deh. Udah dapet jawabannya di chapter ini, kan? Thanks for read and review.

Loray 29 Alus : Cara follow akun wattpad gampang kok. Tapi syaratnya harus buat akun dulu di sana. Nah, nanti secara otomatis pasti ada tombol follow. Thanks for read and review.

fans narusaku : Wah makasih. Di sini emang sengaja bikin karakter Sakura yang nakal dan Naruto yang rada judes. Makanya interaksinya maki-makian haha. Chapter 4 udah update, semoga suka. Thanks for read and review.

ayuhaniifah : Aduuhh... gak bisa janji update cepet, tapi mudah-mudahan aja fic ini bisa terus update sampai tamat yaa. Thanks for read and review.

Ae Hatake : Haha... nunggu updatenya sampe pegel ya? Pijit dulu aja /heh. Untuk mengetahui tentang Ibu Sakura, silakan terus ikuti fic ini ya. Thanks for read and review.

NaouraIda : Sebagaian jawabannya udah ditunjukkan di chapter ini yaaa. Sisanya, semoga masih mau menunggu updatean cerita ini sampai habis. Thanks for read and review.

.

For the last but not least... See You in Next Chapter! :D