Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto

Pairing : NaruSaku, MenmaIno

Warning! : AU, OOC, typo, miss typo dan kekurangan lainnya. Don't Like? Don't Read. Please Leave This Page.

Enjoy and Hope You Like It!

.

Light in The Darkness

By Yuki'NF Miharu

Chapter 5

.

Sebuah tangan terulur mengambil handuk ketika Naruto mematikan shower. Ia mengeringkan tubuh dan helaian rambut kuningnya, lalu keluar dari kamar mandi dan kembali mengenakan seragam. Ia menghela napas sembari menatap seragamnya. Telepon dari Kizashi-san pagi tadi benar-benar membuatnya lupa berganti baju walaupun seragam yang dikenakannya adalah seragam yang baru saja ia ambil dari lemari di barak.

Seusai merapikan penampilannya, Naruto keluar dari kamar tamu yang dipinjami oleh Sakura. Yah, wanita itu benar-benar melarangnya pulang sebelum ia membersihkan diri. Begitu ia hendak turun menuju lantai bawah, ia bisa melihat Sakura yang tengah menghentikan langkah di tangga.

"Apa ada sesuatu di wajahku?" tanya Naruto sambil menaikkan sebelah alis saat melihat tatapan Sakura.

Sakura mengerjapkan matanya beberapa kali, lalu menggeleng cepat. Ia mendekati Naruto dan mengapit lengan lelaki itu dengan genit. "Kalau kau pakai seragam tentara, kau jadi makin tampan dan gagah, ya."

Naruto sama sekali tak tergoda. Ia bukan lelaki yang hasratnya mudah dirayu. Ia mengalihkan atensinya ke arah lain tanpa memedulikan wanita di sampingnya dan kembali melanjutkan langkah. "Jangan mencoba merayuku," ujarnya lalu melirik Sakura dengan tatapan tajam. "Pasti ada udang di balik tembok."

"Yang benar ada udang di balik batu," koreksi Sakura dan hampir saja terbahak saat mendengar peribahasa Naruto yang salah. "Hei, kemarin kau sudah janji satu hal padaku, kan?"

Sembari melepaskan tangan Sakura yang melingkar di lengannya, Naruto berpikir cukup lama, berusaha mengingat apa yang telah ia janjikan pada wanita berambut musim semi itu. Tak lama kening Naruto mulai berkerut dan akhirnya sepasang iris biru itu melirik Sakura. "Aku sudah janji apa padamu?"

Sakura menepuk keningnya dan menghela napas, lalu melirik Naruto dengan pandangan menusuk.

"Maaf," sahut Naruto tanpa sadar. Mau bagaimana lagi? Ia lupa meskipun janji itu ia ucapkan semalam. Efek memiliki kepribadian ganda membuat ingatannya sedikit terganggu.

"Eh? Jadi kau bisa minta maaf juga?" Sakura menyeringai.

Naruto menyipitkan matanya. "Jangan memulainya, Haruno-san!"

Sakura tertawa sesaat. "Kau bilang ingin membicarakan sesuatu denganku. Apa kau ingin memberitahuku tentangmu?" kata Sakura setelah menyudahi tawanya.

Ah, benar juga. Naruto baru ingat sekarang kalau ada hal yang harus ia beritahu pada wanita di depannya ini. Bagaimanapun juga dirinya saat ini adalah bodyguard yang harus menjaga Sakura dan sudah seharusnya Sakura mengetahui sedikit tentang dirinya. "Ya, kau benar."

"Bagaimana kalau bicaranya di luar?" saran Sakura dengan senyuman lebarnya.

Alis Naruto bertaut. "Kenapa kau senang sekali ke luar?"

Sakura memanyunkan bibir. "Habisnya aku bosan di rumah."

Naruto tampak berpikir. Ia tak bisa menyalahkan Sakura karena nyatanya sendirian itu memang membosankan. Entah kenapa ia merasa simpati pada wanita cantik di depannya ini. Detik itu juga Naruto menggelengkan kepalanya. Lagi-lagi ada yang salah dengan otaknya. Kenapa juga ia harus simpati dengan wanita yang hobi membuat urat kesabarannya hampir putus?

"Dimana saja boleh. Kau boleh tentukan tempatnya, asal jangan di rumah." Sakura kembali bersuara, menghancurkan lamunan panjang Naruto.

"Kau yakin?" tanyanya ragu.

Sakura tersenyum dan mengangguk mantap.

"Bagaimana kalau kau menemaniku menjemput Menma di kediaman Uchiha?" tawar Naruto. Ia tak begitu yakin Sakura mau ikut dengannya ke sana.

"Uchiha? Apa Jendral Besar Uchiha?"

"Eh? Kau kenal?"

Sakura mengangguk. "Tentu saja. Dia orang terpercaya Ayahku."

"Baiklah, kita ke sana."

xxx

Selama sepuluh menit di dalam mobil, Naruto masih belum mau membuka suara, begitu pula dengan Sakura yang turut diam dan menunggu Naruto untuk angkat bicara. Melihat triffic light di sebuah persimpangan berwarna merah, Naruto menginjak pedal rem, lalu melirik ke arah Sakura yang duduk di sampingnya sedang memperhatikan suasana di luar sana lewat kaca mobil.

Naruto berdeham sekali dan sukses menarik perhatian Sakura. "Berhubung aku adalah bodyguardmu selama... entah sampai kapan, kau harus kuberi peringatan."

"Peringatan?"

"Dengar," Naruto menoleh ke arah Sakura dan menatap iris hijau itu dengan serius. "Aku ini penderita Dissociative Identity Disorder."

Sebelah alis Sakura terangkat. "Kau pasti bercanda," balasnya sambil melipat kedua lengan di depan dada. Tapi Naruto tak membantah perkataan Sakura, melainkan terus menatap wajahnya dengan mimik serius. "Sepertinya serius," lanjut Sakura.

"Karena itu, kalau suatu saat nanti kepribadianku berubah dan dia berusaha untuk menyakitimu, lebih baik kau cepat pergi atau memukulnya."

"Itu kan sama saja aku memukulmu. Apa kepribadianmu buruk?"

Belum sempat menjawab, suara klakson mobil dari belakang membuat Naruto tersadar kalau lampu lalu lintas telah berubah menjadi hijau. Ia langsung menginjak pedal gas dan mulai menjalankan mobilnya dengan pandangan lurus ke depan. "Bisa dibilang begitu, tapi tidak terlalu buruk juga, sih."

"Jadi yang benar yang mana?"

"Sebenarnya, Menma pernah bilang kalau kepribadianku ini melindungiku," jawab Naruto tanpa mengalihkan perhatiannya dari jalan di depannya.

"Kalau begitu bagus. Apa yang harus dikhawatirkan?" tanya Sakura lagi. Jujur saja, ini adalah pertama kalinya ia bertemu dengan seseorang yang menderita DID. Terlebih pria di sampingnya ini adalah seorang tentara. Ia masih penasaran, bagaimana bisa penderita DID seperti Naruto tetap menjalankan tugasnya menjadi seorang militer.

"Kepribadianku yang lain adalah orang berdarah dingin dan haus darah. Apa yang akan dilakukan diriku yang lain jika ada orang yang ingin membunuhku?" kali ini Naruto melirik Sakura sesaat sebelum kembali fokus pada jalanan.

"Jika dirimu yang lain adalah sosok yang kejam, sudah pasti kau akan membunuh atau menyiksa orang itu."

Naruto tersenyum tipis. "Tepat sekali! Karena itu, kalau kau merasa terancam saat kepribadianku berubah, sebaiknya kau pergi dan hubungi Menma."

"Hee... begitu ya?"

Naruto mengerutkan keningnya. Suara Sakura mulai terdengar menyebalkan di telinganya. Ia yakin, sebentar lagi wanita di sampingnya ini pasti akan melakukan sesuatu untuk membuat amarahnya bangkit.

"Kau pasti khawatir padaku, ya?" tanya Sakura dengan suara genit sambil mengusap lengan kekar Naruto. "Kau takut aku terluka, ya Naruto-kun?" lanjutnya penuh penekanan, terutama saat menyebutkan nama lelaki itu.

"Cih! Kau benar-benar membuatku mual." Naruto mendengus dengan kerutan dalam di keningnya.

"A-apa?!" Sakura menoleh ke arah Naruto dengan wajah kesal. "Tidak pernah ada pria yang bicara padaku seperti itu! Tapi ke-kenapa kau—" Sakura tak melanjutkan kalimatnya, ia ingin sekali menarik rambut Naruto hingga rontok.

"Maaf saja. Aku bukan pria yang mudah jatuh hati seperti kebanyakan pria yang pernah kau goda." Naruto menyeringai lebar.

Sakura mulai bergerak dari kursinya dan ia ingin sekali menguliti pria di sampingnya. "Naruto kau menyebal—" Belum selesai bicara, mobil tiba-tiba berhenti dan sukses membuat kening Sakura membentur dashboard mobil. "Apa yang kaulakukan?!" seru Sakura sambil memegang dahinya.

Naruto tersenyum mengejek. "Kupikir kau akan waras jika kepalamu terbentur." Naruto mematikan mesin mobil dan melepaskan sabuk pengaman. "Ayo keluar. Kita sudah sampai."

Setelah beberapa saat memeriksa keningnya lewat spion mobil, Sakura ikut keluar dari mobil dan berjalan ke sebuah rumah besar. "Kenapa hari ini aku yang dipermainkan?" umpatnya, lalu menyusul Naruto yang tengah berbicara dengan seorang pria berambut hitam panjang.

"Eh? Menma ke kamp pelatihan militer?"

Itachi tersenyum tipis pada Naruto. "Iya, dia pergi bersama Sasuke."

"Cih! Tahu seperti itu aku tak perlu repot-repot menjemputnya di sini." Naruto mendengus kesal.

"Ngomong-ngomong siapa wanita cantik di belakangmu, Naruto?" Itachi melirik Sakura yang mendadak tersipu setelah mendengar kalimat pria itu.

Naruto melirik Sakura lewat bahunya sesaat sebelum menjawab, "Dia anak Ketua Menteri Pertahanan. Aku harus jadi bodyguardnya jika tidak ada misi." Naruto mendekati Itachi dan bergumam agak keras, "Benar-benar musibah, ya?"

Sakura yang bisa menangkap gumaman Naruto mengepalkan tangannya dan tanpa sadar melayangkan jitakkan di kepala Naruto, sukses membuat si empu mengeluarkan aura hitam di tubuhnya.

"Apa yang kaulakukan, hah?" tanya Naruto dengan suara rendah, namun cukup membuat bulu kuduk berdiri.

"Di rambutmu ada nyamuk tadi," jawab Sakura dengan wajah sok cuek.

"Memang nyamuknya sebesar apa sampai-sampai kau memukul kepalaku sekeras itu?"

Sakura tak menanggapi pertanyaan Naruto, wanita itu bersiul pelan, melipat tangan di depan dada dan mengalihkan perhatian pada objek lain. Sukses membuat Naruto kembali murka dibuatnya.

"Haruno Sakura... kau benar-benar—" Naruto menghentikan kalimatnya saat mendengar tawa Itachi. Lelaki bersurai kuning itu menoleh ke arah Itachi yang berusaha meredakan tawanya. "Itachi-nii, kenapa kau tertawa sekeras itu?"

"Ah, maaf," ujar Itachi seraya mengusap setitik air mata di sudut mata akibat tertawa keras. "Habisnya kau jarang sekali berekspresi seperti itu."

Naruto terdiam sesaat, lalu menghela napas. "Kalau begitu, aku pergi dulu."

Itachi mengangguk. "Jadi, kau mau ke mana? Pulang?"

"Nope. Mungkin aku akan mampir ke kamp pelatihan." Naruto membungkuk sedikit untuk berpamit pada Itachi, lalu berbalik dan meraih pergelangan tangan Sakura tanpa sadar.

Ketika hendak mengambil kunci mobil, Naruto tersentak akan sesuatu. Kenapa juga ia menggenggam tangan Sakura? Batinnya berteriak karena setelah ini Sakura pasti akan mengatakan sesuatu. Namun selama seperkian detik, suara wanita itu tak kunjung masuk ke indera pendengarnya. Naruto melirik Sakura yang berdiri di sisinya dan saat itulah ia menangkap wajah merah Sakura Haruno untuk kali pertama.

Naruto langsung mengalihkan pandangannya, wajahnya mendadak panas. Apa-apaan suasana macam ini? Kenapa jadi tiba-tiba diam? Naruto cepat menyentakkan tangannya. "Ma-maaf," ujarnya kaku dan langsung masuk ke dalam mobilnya.

Di dalam mobil Naruto menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Apa-apaan perasaan aneh yang tiba-tiba muncul itu? Naruto mengerutkan kening. Ia meletakkan tangannya di dada sebelah kiri. Oh, jantungnya masih berdetak dua kali lebih cepat, padahal ia tidak sedang lari maraton.

Naruto masih mengerutkan kening, berpikir keras hingga tak sadar kalau Sakura baru saja masuk dan mendudukkan diri di kursi penumpang di sampingnya. Sedetik kemudian Naruto melebarkan matanya. Jangan-jangan ia telah... Tidak mungkin! Naruto cepat-cepat menggeleng dan mengambil ponselnya, lalu mengetikkan sesuatu untuk saudara kembarnya.

Menma, aku baru saja mengalami kejadian aneh. Tadi tanpa sadar aku menggandeng tangan Sakura Haruno, lalu tak lama jantungku berdetak dua kali lebih cepat. Apa ini artinya aku... um... menderita penyakit jantung? Kau tahu Supraventricular tachycardia? Itu kan mengerikan.

Lalu orang yang menerima pesan itu langsung terjungkal dari posisinya setelah membaca pesan itu.

Tak perlu menunggu lama, sebuah balasan atas pertanyaannya telah sampai. Naruto membuka pesan itu tak sabar.

Dasar bodoh! -_-

Dan detik itu Naruto nyaris melempar ponsel di tangannya kalau saja ia tidak ingat kalau ponselnya ini ia beli dengan uangnya sendiri.

"Jadi kita kemana sekarang?"

Suara Sakura membuat Naruto tersentak dan mengelus dada sesaat sebelum akhirnya ia menghela napas. "Sejak kapan kau masuk?"

"Em... sejak tadi."

Naruto memutar bola mata. Bahkan ia sampai tak sadar kalau di sampingnya sudah ada Sakura. Naruto menyalakan mesin mobil, lalu memacu mobilnya. "Kita ke kamp pelatihan militer. Aku mau buat perhitungan dengan Menma di sana."

xxx

Naruto berjalan cepat di sepanjang arena kamp pelatihan dan diikuti Sakura yang mengekor di belakangnya. Arena kamp ini cukup luas, mencakup lapangan besar, arena latih tembak, dan sebagainya. Hampir seluruh prajurit pemula dan profesional melatih dirinya di tempat ini—terkadang jika ada waktu luang Naruto juga datang untuk berlatih menembak dan menjadi pelatih untuk para calon militer.

"Jadi, Menma-kun ada dimana?" tanya Sakura.

"Aku tidak tahu dia dimana," jawab Naruto tanpa menoleh ke belakang. Sampai akhirnya ia melihat tiga orang—yang dipastikan calon anggota militer—tengah berbincang di dekat vending machine. Lalu Naruto menghampiri ketiganya. "Permisi," ujarnya dengan nada dingin.

Ketiga pasang mata melirik ke sumber suara dan ketiganya memucat seketika, lalu serempak hormat. "Se-selamat siang, ka-kapten Namikaze! Kami adalah anggota pelatihan dari a-angkatan 115 yang sedang istirahat. Mo-mohon jangan hukum kami!" lalu ketiganya membungkuk.

Naruto menautkan alis. Ia sama sekali tidak mengerti dengan perilaku tiga bocah di depannya ini. "Kenapa aku harus menghukum kalian? Konohamaru, Udon, Meogi?" tanya Naruto sembari membaca nama yang terpasang di seragam mereka.

"Ka-kami tidak dihukum?" sahut lelaki berambut cokelat bernama Konohamaru Sarutobi.

"Syukurlah." Meogi menghela napas lega.

"A-aku pikir kami akan dihukum lari seratus putaran lapangan lagi." Udon mengusap keringat dinginnya, perlahan wajah pucatnya kembali normal.

Dan kali ini Naruto mengerutkan keningnya. Lagi? Memangnya ia pernah menghukum anak-anak calon tentara itu? Ah, menyebalkan sekali. Penyakit yang ia derita ini benar-benar membuat ingatannya kacau. "Apa kalian lihat Menma Namikaze? Kalian kenal, 'kan?" tanya Naruto kembali menanyakan tujuannya.

"Oh, tadi kulihat Namikaze-san dan Kapten Uchiha sedang melatih beberapa senpai yang sebentar lagi menjadi anggota pasukan khusus di arena menembak," jawab Konohamaru dengan senyuman lebar.

"Terima kasih." Naruto langsung berlalu menuju tempat yang disebutkan bocah bernama Konohamaru itu.

"Hei, Naruto," panggil Sakura.

"Apa?" respon Naruto seraya melirik Sakura yang kini menyamakan langkah kaki di sampingnya.

"Kenapa mereka takut seperti tadi? Apa kau suka menghukum mereka?"

Naruto menghela napas sesaat sebelum menjawab, "aku sendiri tidak tahu. Aku bahkan tidak ingat pernah menghukum mereka. Tapi hingga saat ini aku penasaran, kenapa kebanyakan para calon tentara itu takut padaku?"

"Menurutmu?"

Naruto menaikkan kedua bahunya. "Aku sama sekali tidak tahu. Apa aku orang yang mudah dibenci?" tanyanya.

Sakura berpikir sesaat, mengapit dagunya dengan ibu jari dan telunjuk. "Tidak sih, tapi kau itu menyebalkan."

Saat Naruto menoleh ke arah Sakura, wanita itu tengah menyeringai lebar, seolah mengejek ke arahnya. Naruto menarik napas panjang, berusaha untuk bersabar. Ya, ia sudah belajar bagaimana caranya bersabar menghadapi wanita macam Sakura Haruno yang nakal.

"Dan kau tak kalah menyebalkan," balas Naruto, menyeringai sedikit, namun membuat Sakura tersenyum tipis. Lagi-lagi Naruto merasa jantungnya berdesir saat melihat senyum itu.

xxx

Di arena menembak, Menma berdiri di depan pusaran target tembak dengan seragam lengkap ditambah rompi anti peluru. Jauh beberapa meter di depannya ada lima orang yang juga berseragam lengkap dengan senjata Colt M4 di tangan mereka. Mereka adalah orang-orang terpilih yang akan masuk ke dalam pasukan khusus sama sepertinya.

Menma meniup peluit yang digenggamnya, saat itu desing peluru memecah keheningan. Menma berjalan santai di antara tembakan-tembakan itu. Ia yakin, orang-orang terpilih ini tidak mungkin sembarangan membidik target.

"Aku adalah target kalian!" seru Menma keras, mengalahkan suara tembakan yang saling beradu. "Tidak boleh ada keraguan dalam hati kalian saat ada di medan tempur. Acungkan senjatamu dan selesaikan misinya." Menma menghentikan langkah dan merentangkan tangannya. "Aku adalah target kalian! Berikan aku luka gores." Saat itulah lima butir peluru melesat cepat menggores rompi anti peluru yang Menma kenakan. Menma tersenyum puas. "Bagus. Kalian boleh istirahat."

Menma melepas rompi anti peluru dari tubuhnya dan kembali ke pinggir arena tembak untuk mengambil minum. Lalu matanya menangkap sosok Naruto dan Sakura yang tengah berdiri di pinggir arena.

"Eh? Kau ke sini?" tanya Menma pada Naruto. Ia mengambil botol minum dan meminum isinya hingga tandas. "Ah, lelah juga," gumam Menma, lalu kembali melirik Naruto yang kini menatapnya tajam. "Hei, kau Naruto, 'kan? Kurasa kau Naruto."

"Tentu saja aku Naruto. Aku kesal saja karena saat ke rumah Sasuke kau malah di sini."

Menma tertawa sesaat. "Maaf, padahal rencananya aku baru saja ingin menghubungimu."

"..."

Tidak ada balasan apapun. Menma memerhatikan pandangan Naruto yang kosong selama beberapa detik, lalu melirik ke arah Sakura yang juga memandang Naruto bingung. Lalu Menma menghela napas. Lagi-lagi muncul di sini, pikirnya sambil menghela napas.

"Hei, Naruto. Kau baik-baik saja?" Sakura melambaikan tangannya di depan wajah Naruto, hingga akhirnya Naruto kembali berkedip dan langsung memasang seringaian tajam, sukses membuat Sakura bergidik ngeri.

"Sudah kuduga kalau aku ada di tempat ini."

"Na-Naruto?" Sakura melongo tak mengerti dengan perubahan sikap Naruto yang tiba-tiba.

"Menjauh darinya, Haruno-san," ujar Menma seraya mengibaskan tangannya. "Dia bukan Naruto."

Sakura mengerutkan keningnya.

"Apa Naruto belum cerita kalau dia punya kepribadian ganda?" tanya Menma.

"Dia baru saja cerita hal itu tadi."

"Mau kuperkenalkan padanya?" tanya Menma sambil melirik Naruto yang tersenyum, atau lebih tepatnya seringaian licik.

"Oh, jadi kau Sakura Haruno, ya? Ini pertama kalinya kita saling bertatap wajah. Namaku Kurama, senang berkenalan denganmu." Kurama mengulurkan tangan.

Sakura menyambut uluran tangan itu. Rasanya agak aneh, ia merasa berkenalan dengan Naruto untuk kedua kalinya. Jadi ini adalah kepribadian lain yang ada di dalam diri Naruto? Bahkan sikap, nada bicara dan tatapan matanya jadi berubah.

Setelah itu Kurama beralih ke arah Menma, ia merangkul pundak Menma dan meliriknya. "Tunggu, kau tidak marah aku muncul lagi?" tanya Kurama.

"Buat apa aku marah? Kau memang selalu muncul kalau Naruto ke tempat ini," jawab Menma sambil melepaskan diri dari rangkulan Kurama.

"Kalau kau muncul, bagaimana dengan Naruto?" tanya Sakura penasaran dengan pemikirannya.

Kurama menelengkan kepalanya, lalu menjawab, "yah kalau aku keluar, dia akan tertidur sesaat."

Sakura mengangguk paham. Sebagai mahasiswi kedokteran, ia cukup tertarik dengan hal semacam ini. "Lalu kalau Naruto kembali, apa yang kaulakukan?"

"Aku tidak begitu bisa menjelaskannya, yang jelas aku tahu apa saja yang dia lakukan, sedangkan saat aku mengambil alih tubuhnya, dia tidak akan tahu apa yang kulakukan."

"Eh? Kenapa tidak adil begitu?"

"Yah, pokoknya seperti itu. Kalau begitu, aku pergi dulu. Aku akan bersenang-senang di sini," ujar Kurama dan berbalik pergi. Baru beberapa langkah, Kurama kembali menolehkan kepalanya. "Menma, ada yang ingin kubicarakan denganmu nanti," ucapnya dan berlalu pergi.

Sakura menatap punggung Naruto—lebih tepatnya Kurama untuk saat ini—menjauh. "Dia akan pergi kemana?"

"Dia pasti pergi membantu komando membimbing para calon militer latihan," jawab Menma. "Sebenarnya si Kurama itu hanya ingin bersenang-senang menyiksan anak baru itu."

Sakura hanya ber-oh ria sebelum akhirnya tersadar sesuatu. "Pantas saja tadi ada tiga orang yang takut padanya."

Menma tertawa sesaat. "Di mata bocah-bocah calon militer itu, Naruto adalah instruktur jahat. Tapi cara Kurama melatih keras mereka cukup membuat fisik dan mental mereka kuat."

"Oh, jadi begitu?"

"Kau tahu? Bahkan waktu itu, mereka yang baru berlatih selama sebulan langsung dipaksa latih terjun bebas dari pesawat. Awalnya mereka ketakutan, tapi saat mereka kembali latih terjun bebas, mereka tidak lagi takut."

"Wah, si Kurama itu memang hebat," gumam Sakura tak percaya. "Tapi kenapa mereka takut dengan Naruto? Padahal yang melatih mereka itu Kurama, kan?"

"Tidak semua orang tahu Naruto memiliki kepribadian ganda, hanya orang-orang tertentu yang tahu," jawab Menma, lalu menoleh ke arah Sakura. "Kurama itu tidak selamanya baik, terkadang dia bisa liar. Kalau suatu hari nanti kau melihatnya, sebaiknya kau lari. Memang dia tidak akan melakukan apapun padamu, tapi bisa saja kau terkena getahnya."

Tanpa sadar Sakura menelan ludahnya paksa. Ia tak bisa membayangkan Kurama—dengan tubuh Naruto—melakukan kekasaran yang brutal. "Apa ada sesuatu yang membuat Kurama muncul di dalam diri Naruto?"

"Yah, masa lalu."

"Masa lalu? Memangnya apa yang terjadi padanya dulu?" tanya Sakura penasaran.

Untuk beberapa saat Menma tertunduk dan terdiam, lalu kembali mengangkat kepala dan mengulas senyum tipis. "Tolong hentikan pembicaraan ini. Bagaimana kalau kita ubah topiknya?"

"O-oh, ma-maaf," ucap Sakura terbata. Ia merasa tak enak karena bertanya ke arah privasi orang lain.

"Oy, Menma, aku sudah selesai."

Menma dan Sakura menoleh ke sumber suara dan mendapati sosok Sasuke yang tengah berjalan ke arah mereka dengan sebuah amplop cokelat di tangannya. "Aku sudah dapat datanya, aku harus memberi ini ke Jendral. Ayo pergi." Lalu Sasuke melirik ke arah Sakura. "Bukannya kau anak dari Ketua Menteri Pertahanan?"

"Ah, iya benar. Namaku Sakura Haruno."

Sasuke mengerutkan kening. "Kenapa kau bisa di sini?"

"Dia datang bersama Naruto," jawab Menma sebelum Sakura membuka mulut. "Sasuke, bisa kau menemaninya sebentar? Kurama bilang dia ingin bicara padaku."

"Hm, jadi Kurama muncul lagi di sini?"

Menma mengiyakan. "Bagaimana? Bisa temani dia sebentar?"

"Baiklah."

xxx

"Semuanya lari 50 putaran lapangan! Selesaikan dalam 30 menit! Kalau tidak, kalian harus lari 100 keliling lagi! Sekarang!" seru Kurama, lalu meniup peluitnya.

Sebanyak dua puluh calon militer itu mengeluh, 'dasar instruktur kejam' sebelum akhirnya mulai berlari mengelilingi lapangan. Sedangkan Kurama melirik ke tepi lapangan dimana sosok Menma sudah menunggunya di sana. Apa Menma begitu penasaran dengan apa yang ingin ia katakan?

"Jadi ada apa?" tanya Menma ketika Kurama mendekat.

"Yang ingin kubicarakan denganmu adalah soal misi kemarin," ujar Kurama memulai. Ia mendudukkan diri di kursi panjang yang tak jauh dari posisi Menma berdiri. "Orang yang kutemui kemarin adalah salah satu orang yang pernah menculik Naruto dulu."

Menma melebarkan matanya, mendekat ke arah Kurama dan menarik kerah bajunya. "Apa?! Kau serius?!"

Kurama mengangguk. "Karena itu aku sengaja keluar. Beberapa waktu lalu Naruto juga pernah bertemu dengannya saat ia mendapat misi dari Jendral Uchiha untuk membawa pulang Sakura. Bahkan dia juga sempat bertarung melawannya, tapi aku biarkan karena kondisi saat itu gelap dan orang itu dalam keadaan mabuk," jelasnya seraya melepaskan cengkeraman Menma di bajunya.

Tanpa sadar Menma mengepalkan tangannya kuat. "Siapa yang kautemui?" desisnya. Ternyata bergabung dengan militer benar-benar berhasil membuatnya bertemu dengan mereka.

"Kabuto Yakushi."

"Kau tahu nama organisasi mereka?" tanya Menma lagi.

"Black Poison."

Mendengar nama itu membuat Menma semakin menggertakkan giginya. Ia ingin sekali menghacurkan organisasi yang telah menghancurkan keluarganya. Dimana orang tuanya dibunuh, seluruh pelayan dibunuh, lalu rumahnya dibom dan mereka menculik dan menyiksa Naruto. Ia takkan pernah lupa bagaimana kondisi Naruto saat itu, ketika adiknya ditemukan dalam kondisi bersimbah darah. Dan sampai saat ini Menma bersyukur karena dirinya tidak ada di rumah saat insiden itu.

"Aku akan minta seseorang untuk menyelidiki organisasi itu."

Kurama mengangguk setuju. "Jiwa Naruto pasti terguncang kalau dia tahu ini. Dia punya dendam yang besar. Karena itu aku muncul. Sebenarnya akan lebih bagus kalau jiwanya hancur, aku bisa mengambil alih tubuh ini." Kurama menyeringai lebar.

"Aku tidak akan biarkan hal itu terjadi," ujar Menma dengan tatapan tajam.

Kurama mendengus geli dan menaikkan kedua bahunya. "Kita lihat saja nanti. Apa Naruto kuat menghadapi masa lalunya?"

xxx

"Eh? Jadi orang tuaku, Naruto, dan Sasuke-kun adalah teman baik?" tanya Sakura tak percaya setelah ia mengambil jus jeruk yang baru saja dibelinya di vending machine.

"Hn. Kau tidak pernah tahu?"

Sakura menggeleng pelan. Ia membuka jusnya, meminumnya beberapa teguk sebelum kembali bertanya, "pantas saja, aku sempat heran kau langsung mengenalku."

"Yah, aku sudah dengar tentangmu karena Ayah kita sering bertemu, tapi ini pertemuan pertama kita."

Sakura mengangguk-angguk sembari menatap kotak jus di tangannya. "Bagaimana dengan Menma dan Naruto?"

"Bagaimana apanya?" tanya Sasuke masih tak mengerti.

"Hubunganmu dengan mereka. Kapan kau bertemu dengan mereka?"

"Mereka itu sudah seperti saudaraku. Kami bertemu saat berusia 10 tahun. Saat itu keluarga mereka mengalami tragedi yang mengerikan dan mulai saat itu pula mereka sudah dianggap bagian dari Uchiha hingga saat ini."

Sakura mengerutkan keningnya. "Tragedi mengerikan?"

Sasuke tersentak atas ucapannya sendiri, ia mengalihkan perhatiannya ke arah lain. "Ah, itu bukan apa-apa."

Dan jawaban Sasuke sukses membuat Sakura terus bertanya-tanya bagaimana masa lalu Naruto dan Menma. Sakura ingin tahu lebih banyak tentang Naruto, tapi siapa dirinya? Ia hanya orang luar. Ia tidak boleh seenaknya masuk ke dalam masalah pribadi bodyguard kejamnya itu.

xxx

Jarum jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Tepat empat jam yang lalu Naruto dan Menma mengantarnya pulang setelah mereka bertiga makan malam bersama di sebuah restoran. Awalnya mereka berdua ingin tetap tinggal hingga Ayahnya pulang, tapi Sakura merasa tak enak. Dan juga, ia berjanji tidak akan keluar malam ini.

Di ruang tamu besar yang hanya diisi oleh suara detik jarum jam, Sakura menguap lebar. Ia menutup buku kedokteran tebal di tangannya dan menidurkan tubuhnya di atas sofa. Kenapa akhir-akhir ini Ayahnya suka sekali pulang larut? Dulu Ayahnya tak pernah pulang selarut ini. Paling larut jam 8 malam. Entah pekerjaan apa yang membuat Ayahnya pulang terlambat akhir-akhir ini.

Bunyi pintu membuat Sakura beranjak dari tempatnya. Ia cepat-cepat melangkah ke pintu depan untuk menyambut Ayahnya. "Ayah! Kenapa kau pulang larut sekali?"

"Sakura?" gumam Kizashi heran melihat anak semata wayangnya masih terjaga. "Kenapa kau belum tidur?" tanyanya sambil mengusap kepala anaknya penuh kasih sayang.

"Aku menunggumu pulang. Tapi kenapa akhir-akhir ini Ayah suka sekali pulang larut?"

Kizashi terdiam sesaat sebelum akhirnya tersenyum. "Kau tahu? Aku ini kan Ketua Menteri Pertahanan. Pekerjaanku banyak."

"Bukannya jam kerja pemerintah sudah ditentukan? Kalau belum selesai, kau bisa melanjutkannya besok, kan?"

"Ah, pokoknya jangan bahas itu, yang penting Ayah sudah pulang, kan? Cepatlah tidur. Bukankah kau ada jam kuliah besok?"

"Ah, benar juga." Sakura tersentak. Ia baru ingat kalau besok jadwal kuliahnya jam sembilan pagi. Sakura mendekat ke arah Kizashi, lalu mengecup pipi Ayahnya. "Kalau begitu, oyasumi," ujarnya dan berlalu menuju kamarnya.

"Oyasumi," balas Kizashi seraya menatap punggung Sakura yang menjauh.

.

Kizashi langsung menuju kamar tidurnya. Ia melepas jas hitam dan melonggarkan dasinya. Ia benar-benar lelah akhir-akhir ini. "Mungkin sebaiknya aku berendam air hangat," gumamnya, hendak mengambil handuk. Baru saja ingin melangkah ke kamar mandi, ponsel di atas meja nakas berdering, membuat Kizashi mau-tak mau menganggat telepon itu.

"Ini aku. Ya, sesuai permintaanmu, aku mempertemukan Sakura dengan Naruto. Kebetulan juga saat ini Sakura sedang masa-masa nakalnya, jadi aku punya alasan agar Naruto bisa menjadi bodyguard untuk Sakura. Kau tahu? Naruto dan Menma adalah anggota pasukan khusus Jepang. Mereka tidak mudah jatuh dan berharga untuk negara ini. Baiklah, kuizinkan. Kau yang harus tanggung semua resikonya. Yang terpenting, tolong jangan sampai kau melukai 'dia'. Kupegang janjimu." Lalu Kizashi mengakhiri sambungannya.

Sepertinya sebuah permainan akan segera dimulai.

.

To be continued

.

A/n : Warning! Ini A/n kayanya bakal panjang banget! Jadi terserah mau baca atau tidak. Semoga yang mau baca tidak sakit mata :"D

Tepatnya sebulan saya baru update nih fanfic /dihajarreaders/. Well, maafkan Yuki yang liburan kemarin juga menulis untuk fandom lain, dan juga selama ini Yuki sedang panas-panasnya dengan pairing dari fandom sebelah dan akhirnya kelamaan fangirlingan sampe lupa buat lanjutin ini fic :"D /plak/

Untuk yang minta lanjutan fic 'World is War', sepertinya saya akan menghapus fic tersebut karena saya benar-benar kehabisan akal itu melanjutkan fic itu. Gak benar2 dihapus sih, jadi rencananya mau diupdate ulang dengan alur yang sedikit diubah. Tapi masalahnya Yuki masih gak tau harus ngubahnya kaya gimana? Yang mau bantu setor ide atau mau ngasih masukan, silakan tulis di review. Nanti bakal saya PM. :") Yuk kita diskusi.

Dan buat teman-teman yang juga nungguin fic 'Black or Red', saya udah update chapter 4-nya (tentunya setelah sekian abad). Semoga memuaskan dan masih ada yang berminat untuk baca cerita itu. :")

Satu pengumuman lagi, Yuki memutuskan untuk hiatus sementara :") Paling enggak sampai selesai UN. UN gak lama lagi kok. Yuki bener-bener susah nyari waktu luang buat nulis panjang-panjang. Bulan ini aja saya bakal TO dua kali. Besok dan minggu depannya lagi. Tapi Insya Allah kalo ada sedikit waktu senggang, Yuki bakal nyicil nulis. Yah, doakan saja X"D. Maaf malah curcol.

Karena chapter depan kayanya bakal lebih lamaaaaaa update. Jadi, silakan kalian mikir-mikir tentang chapter ini. Yuki gak jago buat misteri sih, jadi mungkin beberapa dari kalian bakal berhasil ngungkap 'sesuatu'. Semoga chapter ini memuaskan. Maaf kalo di sini NaruSaku masih belum ada romantis-romantisnya sama sekali X'D.

For the last but not least, thank you for reading :)