Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto

Genre : Crime, Romance, Tragedy

Pairing : NaruSaku

Warning! : AU, OOC, typo, miss typo dan kekurangan lainnya. Don't Like? Don't Read. Please Leave This Page.

Enjoy and Hope You Like It!

.

Light in The Darkness

By Yuki'NF Miharu

Chapter 6

Naruto membuka mata perlahan ketika mendengar dering ponselnya. Tangannya terulur dan mengambil ponselnya di atas nakas. Matanya menyipit melihat nama Sakura tertera di layar ponselnya. Saat Naruto melirik jam, jarum jam masih menunjukkan pukul 7 pagi dan Sakura sudah meneleponnya? Padahal ini baru seminggu sejak menjadi bodyguard wanita itu, tapi entah mengapa Naruto sudah tak tahan lagi.

"Dasar penggangu," keluhnya sebelum menjawab panggilan itu.

"Naruto! Kau sudah bangun?"

"Ya, ini gara-gara kau yang meneleponku di jam ini."

Suara tawa terdengar di seberang sana. Naruto menaikkan sebelah alis. Apa ada yang lucu dengan kalimatnya?

"Maaf, memangnya Menma tidak memberitahumu kalau hari ini aku ada kuliah pagi jam sembilan?"

Naruto melongo sesaat. Tunggu! Telinganya tidak salah dengar, kan? Sakura bilang apa tadi? Maaf? Kesurupan malaikat mana sampai-sampai wanita itu jauh lebih sopan padanya saat ini. Pasti ada yang salah dengan otak wanita itu.

"Hei, kau baik-baik saja? Kenapa sikapmu berubah sekali?"

Hening. Naruto tak mengerti kenapa Sakura terdiam di seberang sana. "Hal—"

"Jadi kau tidak mau aku berperilaku baik padamu?! Fine! Datang ke rumahku sekarang juga, baka!"

Lalu sambungan telepon terputus.

Naruto menatap ponselnya dengan horor. Nah, itu dia. Itulah Sakura yang dikenalnya. Lumayan menyeramkan kalau marah, tapi manis saat tersenyum. Naruto terdiam beberapa saat.

"Tunggu! Apa yang barusan kupikirkan?" Naruto menautkan kedua alisnya dan kembali meletakkan ponselnya di atas nakas. "Pasti ada yang salah lagi dengan otakku."

Lalu Naruto bangkit dari tempat tidurnya, keluar kamar, dan melangkah menuju kamar mandi untuk membersikan diri.

xxx

.

.

Sakura mendengus menatap ponselnya. Kenapa di saat ia berperilaku baik Naruto malah merasa tak mengenalinya? Dasar menyebalkan, pikirnya seraya meletakkan ponselnya di atas meja makan.

"Sakura-chan, Ayah pergi dulu ya."

Sakura menoleh ke sumber suara, dimana Kizashi tengah menuruni anak tangga sambil memasang arloji di pergelangannya. Pria yang hampir memasuki usia kepala lima itu menghampiri putri sulungnya, dan mencium pipi Sakura dengan sayang.

"Ayah tidak sarapan dulu?"

"Ah, maaf. Aku ada urusan yang mendadak sekali."

"Kau bisa sakit kalau tidak sarapan." Sakura melipat kedua tangannya di depan dada dan menatap Kizashi dengan pandangan marah sekaligus khawatir. "Dengar nasihatku, ini calon dokter, tahu!"

Kizashi tersenyum maklum melihat anaknya. Ia mengulurkan tangannya, mengambil dua lapis roti yang sudah dipoles dengan selai cokelat dan stroberi. Kizashi lalu menggigit roti itu di depan Sakura. "Lihat, aku sarapan, kok," ujarnya setelah menelan gigitan pertamanya. "Jadi, Ayah boleh berangkat, kan?" tanyanya sebelum kembali menggigit rotinya.

Sakura tersenyum, lalu mengangguk. "Hati-hati di jalan."

Kizashi mengangguk, dan berlalu pergi setelah melambaikan tangan sesaat pada Sakura.

.

Setelah 20 menit sejak keberangkatan Ayahnya, Sakura hanya menyantap sarapannya tanpa minat. Setelah merasa cukup kenyang, ia meneguk segelas susu yang sudah disiapkan oleh pelayannya.

Ting! Tong!

Suara bel berbunyi ketika Sakura beranjak dari kursinya. Ia melangkah cepat menuju pintu dan membukakan pintu. Sosok Naruto yang tengah menggunakan pakaian kasual menyambutnya. Celana jeans, kaos hitam ditambah kemeja yang tak dikancing. Oh, Naruto terlihat jauh lebih tampan kali ini.

"Tunggu! Pasti ada yang salah dengan otakku!"

"Jadi, apa yang terjadi pada otakmu?" tanya Naruto dengan kedua alis saling bertaut. Bagaimana bisa Sakura berkata seperti itu ketika menyambutnya.

Sakura menggeleng pelan. "Bukan apa-apa." Ia tersenyum lebar. "Aku ambil tas dulu, setelah itu kita berangkat."

Naruto mengangguk setuju. "Oke."

xxx

.

.

"Apa kau masih bertemu dengan orang bernama Pein itu? Atau dia menghubungimu?" tanya Naruto memecah keheningan sambil memerhatikan jalan di depannya.

"Tidak. Aku tidak tahu dia dimana."

"Bagus. Jangan terlibat dengannya lagi."

"Bahkan dia tidak masuk kuliah lagi," ujar Sakura.

"Dari mana kau tahu?"

"Teman-teman yang satu jurusan dengannya ada yang menghubungiku. Karena aku sudah tak ada hubungan lagi dengannya, jadi aku sama sekali tidak tahu."

"Hmm begitu." Naruto hanya mampu bergumam. Namun ia harus tetap waspada. Justru keberadaan Pein yang begitu saja menghilang membuatnya semakin waspada. Akan sangat mengerikan jika pria itu melakukan serangan kejutan untuk melukai Sakura.

"Karena Pein tidak terlihat lagi, mungkin kau bisa libur."

Naruto menaikkan sebelah alis. "Maksudmu?"

Sakura mengalihkan perhatiannya ke luar jendela. "Yah, kau tidak perlu menjadi bodyguardku lagi."

Naruto mendecak dalam hati. Ia juga ingin sekali libur bekerja. Setidaknya seharian di rumah selama tiga hari cukup membuatnya merasakan hari libur. "Mana mungkin."

"Eh?" Sakura menoleh ke arah Naruto yang masih fokus menyetir. "Bukankah harusnya kau senang? Kau tidak perlu terganggu olehku lagi, kan?"

Naruto mendengus, lalu menyeringai tipis. "Yah, sebenarnya aku tidak mau melihat wajahmu lagi."

Sakura mengerucutkan bibirnya.

"Tapi aku tidak bisa meninggalkanmu begitu saja."

Sakura tersentak. Ia menatap Naruto dengan tatapan tak percaya.

"Menghilangnya Pein tanpa kabar, bisa jadi akan datang sesuatu yang lebih berbahaya. Karena itu aku tidak bisa libur dulu," lanjut Naruto tanpa memerhatikan reaksi Sakura.

Sakura tak mengerti perasaan apa yang menjalar di tubuhnya. Seolah-olah ia ingin meloncat tinggi dan berteriak keras. Perasaan apa yang bergetar dalam dadanya ini? Bahkan wajahnya mendadak terasa panas. Sialnya, kenapa jantungnya berdegup secepat ini? Ia seperti merasakan suatu adegan dorama percitaan yang biasa ia tonton.

"Na-Naruto—"

Naruto menginjak rem saat melihat lampu di persimpangan berubah menjadi merah. Ia menolehkan kepalanya dan menatap Sakura. Lalu melempar tatapan seakan bertanya, 'Ada apa?'

"Ka-kau... Ke-kenapa..."

Oke, Naruto mulai tak paham kenapa Sakura berbicara terbata padanya. Dan Naruto menunggu Sakura menyelesaikan kata-katanya dengan sabar. "Ya, aku kenapa?"

"Ke-kenapa... KENAPA KAU ROMANTIS SEKALI?! Ah, so sweet!" jerit Sakura kegirangan. Ia tak menyangka adegan romansa yang sering ia jumpai di dorama terjadi padanya hari ini. "Jadi, Naruto-kun... kau jatuh cinta padaku ya?" Sakura mendekatkan wajahnya pada Naruto.

Sedangkan Naruto hanya mampu memundurkan tubuhnya. Lalu ia mengalihkan perhatiannya ke arah lain. "Kau ini bicara apa? Dasar bodoh."

"A-apa?! Barusan kau panggil aku bodoh?!" Sakura baru saja ingin melepas sabuk pengamannya untuk menerkam Naruto, tapi lelaki itu lebih dulu menginjak pedal gas saat lampu berubah hijau, dan sukses membuat kepala Sakura membentur kaca mobil.

Naruto tertawa. "Rasakan itu, haha. Kuharap setelah ini kau tidak kebanyakan nonton dorama."

Sakura mendengus kesal sambil mengusap kepalanya. Dan setelah itu ia tak lagi berujar apapun, bahkan saat Naruto kembali mengajaknya bicara.

xxx

.

.

"Ah, indahnya hari liburku. Semoga setelah ini tidak ada yang mengganggu."

Menma bersenandung ria seraya meletakkan kopi hitamnya di atas meja. Ia mendudukkan diri di sofa, lalu meraih sebuah koran yang baru saja di terimanya dari petugas koran harian.

"Haah... kasian sekali Naruto, di hari seperti ini dia harus keluar rumah memenuhi tugas Haruno-san." Menma membuka koran di tangannya dan mulai membaca berbagai macam berita di sana. "Kejahatan tidak ada habisnya," gumamnya ketika membaca judul artikel mengenai pencurian di sebuah toko perhiasan.

Tanpa mengalihkan pandangannya dari koran, Menma meraih cangkir kopinya, lalu menyeruputnya beberapa kali sebelum diletakkan kembali di atas meja. Mimik wajahnya berubah serius.

"Jadi, sekarang banyak kasus penjualan organ dalam? Astaga mengerikan sekali." Menma terus membaca berita itu dengan serius hingga matanya menangkap gambar dan tulisan besar yang tertera di sana.

SETELAH ORGAN DALAMNYA DIAMBIL, KORBAN TERSEBUT DIBUANG. PELAKU JUGA SELALU MENINGGALKAN SETANGKAI MAWAR HITAM TAK JAUH DARI JASAD KORBAN.

"Jadi polisi masih menyelidikinya? Mereka pasti butuh seseorang seperti Itachi-nii."

Tok! Tok!

Menma menghela napas saat suara ketukan pintu terdengar. Siapa yang berani mengganggu hari liburnya yang sangat langka ini? Dengan malas Menma beranjak dari posisi duduknya, lalu berjalan ke arah pintu. Awas saja kalau tidak penting, akan kucincang dia.

"Maaf mengganggu hari liburmu, Menma."

"Itachi-nii?" Menma melongo saat membuka pintu, sosok yang menyambutnya adalah Uchiha bersaudara. "Apa yang kalian lakukan di sini?"

"Tentu saja ingin mampir," sahut Sasuke dengan wajah cool khasnya. "Apa perlu kupanggil dobe juga?"

Menma menatap tajam Sasuke dan melipat kedua tangannya di depan dada. "Cih! Dasar menyebalkan!" ujarnya, lalu menggeser tubuhnya ke tepi pintu. "Silakan masuk," kata Menma mempersilakan kakak-adik itu masuk ke dalam apartemennya. "Kalian mau minum apa?"

"Aku mau jus tomat." Sasuke menjawab cepat sebelum mendudukkan diri.

Itachi berpikir sejenak sebelum memutuskan, "Kalau begitu aku mau jus apel."

Menma mengangguk dan melangkah menuju dapur.

.

Menma meletakkan dua cangkir di depan Itachi dan Sasuke. "Nah, silakan diminum."

"Kenapa kau malah buat teh?" protes Sasuke melihat isi cangkirnya.

"Kalian berdua minta hal yang merepotkan. Aku tidak punya tomat atau apel."

"Kalau begitu kenapa kau malah menawarkan 'ingin minum apa?', hah?"

"Masih untung kuberi teh hangat daripada air putih. Bersyukurlah, teme."

Itachi hanya meringis mendengarnya. Ia meraih cangkir tehnya dan menyesapnya beberapa kali. "Oke, hentikan adu mulut kalian." Itachi mulai menengahi keduanya sebelum mereka mulai adu gulat di lantai.

"Naruto tidak ada di rumah?" tanya Sasuke setelah menekan amarahnya pada Menma.

"Tidak. Dia punya pekerjaan sampingan untuk jadi bodyguard anak dari Kepala Menteri Pertahanan, Kizashi Haruno," jawab Menma seadanya, lalu menoleh pada Itachi. "Jadi, kenapa kalian ke sini?"

Itachi menyandarkan tubuhnya pada sofa empuk yang didudukinya. "Aku sudah mencari tahu mengenai organisasi hitam yang kau minta beberapa hari lalu."

Menma membelalakkan matanya. "Kau serius? Aku baru memintanya empat hari yang lalu dan kau sudah memecahkannya?"

Itachi tersenyum meremehkan. "Jangan meremehkan agen. Bawahanku dimana-mana, jadi sumber informasiku banyak. Terlebih aku juga membantu beberapa kasus kepolisian akhir-akhir ini. Yah, dunia memang membutuhkan orang jenius sepertiku." Itachi tertawa bangga.

"Dasar sombong," ucap Menma dan Sasuke bersamaan.

"Nah, organisasi hitam itu adalah Black Poison." Itachi mulai memasang raut serius. "Sejujurnya sangat sulit mendapatkan data organisasi ini karena mereka benar-benar tidak diketahui. Markas besar mereka di mana, bahkan kepala organisasinya. Mereka juga punya banyak anggota. Karena itu anggota mereka terbagi menjadi beberapa divisi. Misalnya, ada divisi untuk mencuri, menculik, membunuh, mengedarkan narkoba, dan lainnya."

"Mereka sebanyak itu?" tanya Menma tak percaya.

Itachi mengangguk. "Karena itulah markas besar mereka sulit ditemukan. Mungkin saja secara tidak langsung, para polisi dan tentara kita selalu menghadapi musuh yang sama. Terlebih yang membuatku makin penasaran adalah mereka selalu punya akses untuk melarikan diri. Kalaupun ada yang tertangkap, mereka hanya anggota bawah yang kurang berguna."

Menma mengeratkan genggaman kedua tangannya, bahkan giginya saling beradu keras. Rasanya menyebalkan sekali kalau ia tidak bisa mengetahui orang besar di balik organisasi Black Poison. Sial. Kalau seperti ini, akan sulit untuk menghancurkan mereka.

"Tapi kenapa kau ingin tahu, Menma?" tanya Sasuke.

Menma menatap Sasuke dan Itachi bergantian. "Black Poison adalah organisasi yang membatai keluargaku 15 tahun lalu."

Uchiha bersaudara membelalakkan matanya.

"Dari mana kau tahu itu?" tanya Itachi.

Sebelum menjawab pertanyaan Itachi, Menma menoleh ke arah Sasuke. "Sasuke, kau lihat orang berkacamata yang berbicara dengan Kurama saat kita bertugas di pertambangan?"

Sasuke mengangguk.

"Kurama bilang, dia adalah salah satu orang yang pernah menyiksa Naruto."

"Jangan katakan kalau Kurama keluar saat itu karena—"

"Yup! Kau benar!" potong Menma cepat sebelum Sasuke menyelesaikan kalimatnya. "Saat Kurama muncul di kamp pelatihan militer empat hari lalu, dia cerita kalau alasannya muncul saat itu adalah karena dia merasakan getaran dari tubuh Naruto setelah mendengar suara orang itu."

"Oke, sekarang aku paham situasinya. Apa Kurama tahu namanya?"

Kedua tangan Menma kembali terkepal erat, matanya menajam. Dengan suara rendah dan dingin, ia berujar, "Kabuto Yakushi."

"Hei, kurahap kau bisa bekerja dengan baik nanti," ujar Sasuke. "Jangan memikirkan organisasi itu saat nanti ada tugas."

Menma tersenyum tipis, ia meraih cangkir kopinya. "Jangan khawatir, aku profesional," ujarnya sebelum meneguk kopinya. "Dan tolong jangan beritahu Naruto hal ini."

"Tentu saja," jawab Sasuke, sedangkan Itachi hanya mengangguk.

"Aku penasaran," kata Itachi seraya menatap koran yang terletak di atas meja. Koran itu tengah menampilkan halaman kasus penculikan, pembunuhan, serta pernjualan organ dalam yang sedang menjadi trending topic saat ini. "Apa kasus itu juga berhubungan dengan organisasi Black Poison?"

"Kalau itu perbuatan mereka, akan kuhabisi organisasi itu sampai akar-akarnya!" seru Menma semangat.

Itachi meringis mendengarnya. "Jangan bermulut besar. Kau kira itu mudah?"

"Aku akan menghukum mereka semua, dan setelah itu dendamku dan Naruto akan terbalas!" Menma tertawa jahat.

Kali ini Sasuke menghela napas. "Katanya profesional. Kalau kau seorang pro, tolong jangan libatkan perasaan pribadimu saat bertugas nanti."

xxx

.

.

Naruto melihat jam digital di mobilnya sudah menunjukkan angka satu. Seharusnya Sakura sudah selesai sekarang, tapi kenapa wanita itu lama sekali datangnya? Naruto mengetuk telunjuknya pada setir mobil. Ini sudah siang dan perutnya sudah berkali-kali berbunyi minta diisi.

Dan setelah itu ia bisa melihat sosok Sakura yang baru saja keluar dari gedung. Ah akhirnya, mungkin setelah ini ia juga akan mengajak Sakura makan siang. Begitu Sakura masuk ke dalam mobil dan mendudukkan diri, Naruto langsung berujar, "Bagaimana kalau makan siang di luar?"

Sakura terdiam seraya memasang sabuk pengamannya.

"Hei."

Sakura tak mengacuhkan Naruto.

"Jadi kau masih marah karena hal tadi?" tanya Naruto dan masih tidak mendapatkan jawaban dari wanita musim semi di sampingnya. Sedetik kemudian Naruto menghela napas. "Baiklah, aku minta maaf." Naruto mengulurkan tangan kanannya.

Sakura hanya menatap tajam uluran tangan Naruto tanpa minat untuk membalas.

"Aku akan menemanimu kemanapun kau ingin pergi seharian ini. Bagaimana?" kali ini Sakura menatap wajah Naruto. "Kemanapun asal bukan bar atau tempat-tempat tertutup."

"Kau serius?"

"Iya."

"Kau mau menemaniku shopping?"

"Dengan senang hati."

"Menemaniku jalan-jalan?"

"Tentu saja."

"Kau juga mau membawakan tas belanjaku?"

"Emm... jangan banyak-banyak."

"Makan siang bersama?"

"Tentu."

"Bagaimana kalau kau jadi pacarku?"

"Ya, ten— Kau bilang apa?!" Dan detik itu Sakura tengah menahan tawa. "Jangan memulainya, Sakura. Aku sedang mencoba berbuat baik saat ini."

Sakura tertawa kecil. "Yah, baiklah. Ayo kita makan siang dulu."

xxx

.

.

Naruto meletakkan sumpitnya di atas mangkuk yang isinya telah tandas. Ia menyandarkan punggungnya pada kursi. Ia benar-benar sudah kenyang sekarang. Di ambilnya segelas es jeruk pesanannya dan meminumnya hingga menyisakan es batu di dalamnya.

"Naruto, boleh aku tanya sesuatu?"

Naruto melirik Sakura yang duduk di seberangnya dan mengangguk.

"Kau tentara, kan? Jadi, apa posisimu?" tanya Sakura seraya meletakkan sikunya di atas meja dan menopang dagunya dengan sebelah tangan.

Naruto mengaduk-aduk es batu di gelasnya. "Hmm... coba tebak."

"Sersan?"

"Aku tidak serendah itu. Mana mungkin aku masih jadi sersan setelah jadi tentara selama hampir enam tahun."

"Letnan?"

"No."

"Kalau kapten?"

"Tepat."

Mata Sakura berbinar. "Keren sekali! Kalau kau kaptennya, Menma bagaimana? Padahal Menma lebih tua, kenapa bukan dia saja?"

"Dia wakilku. Umur tak menentukan pangkat seseorang. Dia pernah diangkat jadi kapten, tapi dia menolak, kalau dia juga jadi kapten, tugas kami pasti akan terpisah."

Sakura mengangguk-angguk paham.

"Bagaimana denganmu?" tanya Naruto. "Kapan kau lulus?"

Sakura menghela napas. "Satu tahun lagi, lalu aku harus lanjut satu tahun lagi untuk ambil bagian spesialisasi."

"Kau ingin jadi spesialisasi apa?"

Sakura menyeringai. "Aku ingin jadi dokter bedah."

"Mengerikan."

Sakura mengerucutkan bibirnya saat mendengar satu kata yang keluar dari mulut Naruto.

"Tapi hebat. Berjuanglah." Naruto tersenyum tipis pada Sakura.

Sakura tersentak. Suara Naruto dan senyuman lelaki itu cukup membuat tubuhnya membeku. Bahkan ia tak bisa berkedip. Apa orang di depannya ini benar-benar Naruto? Sakura menunduk. Tungu, tunggu, kenapa jantungnya berdegup cepat sekali? Entah mengapa, wajahnya juga memanas.

"Hei, kau baik-baik saja?" tanya Naruto.

Sakura menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan sebelum kembali mengangkat kepalanya. Sakura tersenyum lebar. "Tentu saja. Bagaimana kalau setelah ini jalan-jalan?"

"Well, as you wish."

xxx

.

.

"Tunggu, kenapa kita masuk toko perhiasan?" Naruto mengerutkan kening saat Sakura menariknya ke dalam toko yang menjual perhiasan dan aksesoris setelah mereka berjalan-jalan.

Sakura masih tak memedulikan ucapan Naruto. Ia lebih memilih mendekati salah satu petugas toko dan bertanya, "Apa ada cincin sepasang?"

"Tentu saja ada."

Naruto melepaskan tangannya dari genggaman Sakura, lalu melipat kedua lengannya di depan dada. "Jangan mengabaikanku."

Sakura menoleh ke arah Naruto. "Aku ingin melakukan hal ini dari dulu," ujarnya senang. "Membeli cincin sepasang. Karena sebenarnya selama ini aku belum pernah punya pacar."

Naruto melongo. "Hah? Kau serius? Kukira kau sudah punya 20 mantan."

Sakura membuang wajah. "Meskipun kelakuanku selama ini buruk, aku masih menjaga kehormatanku. Bagiku, mengikat hubungan dengan seseorang tidak boleh main-main. Jadi, untuk pendampingku di masa depan, aku harus benar-benar melihatnya. Aku ingin orang itu menjadi orang pertama dan terakhir yang kucintai." Sakura tersenyum lembut. "Ya, aku hanya akan mencintai satu orang."

Detik itu Naruto tak tahu harus berucap apa pada Sakura. Ia penasaran, bagaimana sosok Sakura yang sebenarnya? Ternyata wanita di hadapannya ini adalah tipe wanita yang setia.

"Lelaki itu pasti beruntung, bisa dicintai oleh wanita sepertimu."

Seorang pegawai tadi kembali sambil menunjukkan sepasang cincin putih polos pada Sakura dan wanita itu menatapnya dengan pandangan berbinar. Ia meraih cincin yang memiliki diameter agak besar.

"Naruto, kemarikan tanganmu." Sakura meraih tangan Naruto dan memasangkan cincin putih polos itu di jari manisnya. "Wah, ternyata muat."

Naruto memandang Sakura tak mengerti. "Apa-apaan ini? Aku bukan pacarmu atau siapapun."

"Anggap saja cincin ini sebagai ikatan antara majikan dengan bawahannya." Sakura menyeringai lebar.

Naruto mendengus, mengalihkan atensinya ke arah lain. "Menyakitkan sekali."

Sakura tertawa. Ia mengambil cincin yang satunya dan memakaikannya di jari manisnya sendiri. "Ini adalah bukti pertemanan kita. Bagaimana? Kau tidak keberatan berteman denganku, kan?"

"Cih, aku sebenarnya ti—"

"Baiklah. Jadi berapa harganya? Kami ambil yang ini."

Naruto menghela napas. Sepertinya wanita musim semi itu sama sekali tidak ingin mendengar kata penolakan dalam apapun. Terserah.

"Yosh! Kita lanjutkan jalan-jalannya!" seru Sakura semangat dan beranjak pergi lebih dulu, meninggalkan Naruto yang masih bergeming di tempatnya.

Naruto mengangkat tangan kanannya, memerhatikan cincin yang melingkari jari manisnya. "Jariku bisa lecet kalau pakai cincin saat bertugas nanti," gumamnya. Ia lalu berbalik ke arah penjaga toko. "Maaf, apa kau juga menjual rantai kalung?"

.

.

Selepas dari toko perhiasan dan aksesoris itu, keduanya berjalan-jalan di sepanjang jalan Tokyo hingga langit mulai menampakkan warna jingga. Sakura yang merasa lelah menarik tangan Naruto menuju salah satu kursi panjang yang terletak di taman kota. Sakura mendudukkan diri dan meluruskan kakinya.

"Ah, ternyata pegal juga."

"Sudah hampir jam lima sore. Tentu saja kalau kau lelah." Naruto turut mendudukkan diri di samping Sakura seraya melihat jam di pergelangan tangannya.

"Memangnya kau tidak?"

Naruto tersenyum meremehkan. "Energiku masih banyak."

Sakura hanya mengulum senyum maklum. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru taman, sampai kedua iris hijaunya menangkap sebuah tukang es krim yang tengah ramai pembeli. "Ne, ne, Naruto-san," panggil Sakura sopan seraya mendekatkan dirinya pada Naruto.

Naruto menghela napas. Wanita ini pasti ingin sesuatu. "Tidak usah berbelit-belit dengan segala rayuan. Katakan saja langsung."

Senyum lebar mengembang di wajah Sakura. "Maukah kau membelikanku itu?" tanyanya sambil menunjuk objek pedagang es krim.

"Ck, mendokusei," desah Naruto, namun tetap beranjak dari kursinya menuju sang penjual es krim. "Jangan kemana-mana!" perintahnya setelah sempat berbalik pada Sakura sesaat.

"Aaa... ternyata jalan-jalan seperti ini bagus juga!" gumam Sakura dengan rasa senang yang membuncah di dadanya.

Dulu Sakura tak pernah jalan-jalan seperti ini, karena lelaki yang mengencaninya selalu membawanya ke bar atau ke klub malam untuk berpesta sampai pagi. Dari tempatnya, Sakura memandang punggung Naruto dengan senyuman. Ia bersyukur bisa bertemu lelaki itu. Mungkin ia juga harus berterima kasih pada lelaki yang membuatnya hobi ke bar malam. Kalau saja ia tidak menjadi wanita yang nakal, mungkin ia tak akan pernah bertemu Naruto.

"Ah! Astaga!"

Sakura tersentak saat mendengar pekikkan dari seorang wanita yang tengah memungut apel yang bergelindingan. Salah satu apel merah itu bergelinding dan terhenti ketika menyentuh sepatunya. Sakura mengambil apel tersebut, lalu beranjak dari tempatnya untuk membantu wanita berambut cokelat panjang itu.

"Ini apelnya." Sakura memberikan tiga buah apel hasil tangkapannya.

Wanita itu mengambil apel tersebut dan kembali memasukkannya ke dalam plastik. "Maaf merepotkan, tiba-tiba kantong belanjaanku jatuh saat aku ingin mengambil ponsel."

Sakura tersenyum simpul. "Sama-sama."

"Kenapa kau sendirian di sini? Ini sudah hampir malam. Bahaya untuk wanita cantik sepertimu."

Sakura tersipu mendengarnya. "Ah, aku tidak sendirian. Aku sedang menunggu temanku yang sedang membelikanku es krim di sana." Sakura melempar pandangan ke arah Naruto yang tengah memesan es krim setelah tadi lelaki itu mengantre panjang.

Wanita itu mengulum senyum. "Oh, begitu. Masa muda memang enak ya."

"Eh? Anda kan masih muda."

Wanita itu tertawa kecil. "Begini-begini usiaku hampir 50 tahun, lho."

Sakura melongo. "Aku tidak percaya," komentar Sakura. Wanita di depannya ini memang tampak lebih dewasa darinya, dengan postur tubuh tinggi dan nada bicara yang halus, tapi ia masih tak percaya kalau usia wanita cantik ini nyaris setengah abad.

"Percayalah. Jadi, boleh kutahu namamu, Nona?" Wanita itu mengulurkan tangan kanannya, sedangkan tangannya yang lain masih menenteng kantong belanja.

Sakura menjabat uluran itu, seraya tersenyum, ia menjawab, "Sakura."

"Namaku Shiragiku." Wanita itu melepaskan genggamannya pada tangan Sakura, lalu merogoh kantong belanjanya dan mengambil satu buah apel merah. "Untukmu, sebagai rasa terima kasih karena sudah membantuku."

Sakura mengambil apel itu dan menunduk. "Terima kasih, Shiragiku-san."

.

.

Naruto menatap es krim berwarna-warni di tangannya. Bodoh sekali ia tidak menanyakan pada Sakura ingin es krim rasa apa. Daripada ia kembali, jadi ia memutuskan untuk memesankan es krim dengan rasa campuran. Yah, semoga saja wanita itu tidak protes.

Ketika Naruto berbalik, dari kejauhan ia bisa melihat Sakura tengah berbicara dengan seorang wanita berambut cokelat panjang. Tak lama mereka saling melambaikan tangan dan wanita itu berjalan ke arahnya. Tanpa sadar Naruto memerhatikan wanita itu, ketika wanita itu juga menatapnya, wanita itu mengulas senyum ke arahnya, sedangkan Naruto tak tahu siapa orang itu.

"Yey! Es krimku!" jerit Sakura girang layaknya anak SD dan mengambil es krim di tangan Naruto.

"Orang tadi itu kenalanmu?" tanya Naruto.

"Tidak. Tadi aku membantunya memungut apel-apelnya yang jatuh."

"Lalu kau dapat apel itu dari dia?"

Sakura mengangguk sambil menjilati es krimnya.

Naruto hanya bergumam 'Oh'. "Ayo sambil jalan. Kita harus pulang."

Sakura mengangguk.

xxx

.

.

Kediaman Haruno, 10.30 PM

Sakura menatap Naruto yang tengah memainkan ponsel dengan pandangan was-was. Tangannya yang saling bertaut tanpa sadar saling meremas satu sama lain. Astaga, kenapa suasananya dingin begini, sih? Jerit Sakura dalam hati.

"Apa ada sesuatu di wajahku, Haruno-san?"

Sakura berjengit mendengar nada yang lebih berat dan dingin itu. "Ti-tidak ada, Kurama-san."

Sakura mendecak dalam hati. Ia tak bisa menyalahkan Naruto yang tiba-tiba berganti kepribadian saat mereka sampai rumah tadi sore. Menurut yang pernah ia dengar tentang kepribadian ganda, pergantian pribadi itu bahkan bisa selalu muncul tak kenal tempat dan waktu. Dan untuk pertama kalinya, Kurama muncul di rumahnya. Terlebih ia hanya berdua di sini, sedangkan pelayan rumahnya ada yang sedang bersantai di kamar mereka atau sudah tertidur.

"Kau tidak pulang saja?"

Naruto, tidak, lebih tepatnya Kurama melirik ke arah Sakura. "Tapi Ayahmu belum pulang, kan?"

"Dia pasti akan pulang sebentar lagi."

"Kau yakin?" tanya Kurama setelah menyimpan ponselnya ke dalam saku.

Sakura mengangguk. "Ayahku sebentar lagi pasti pulang. Kau pulang saja. Lagipula di gerbang ada petugas yang berjaga. Jadi kau tidak perlu khawatir."

Kurama bangkit dari posisi duduknya. "Yah, kalau kau bilang begitu, aku akan pulang."

.

.

Begitu mobil yang dikendarai Kurama keluar dari gerbang kediaman Haruno, saat itu mobil hitam yang biasa dikendarai oleh Kizashi Haruno masuk ke dalam sana. Kurama menghela napas, sepertinya ia pulang di waktu yang tepat. Kalau sampai terjadi sesuatu pada Sakura, ia yakin Menma pasti akan memarahinya habis-habisan dan tuntutan hukuman tetap akan jatuh pada Naruto.

xxx

.

.

"Jadi, bagaimana harimu?" tanya Kizashi sambil melepaskan jas hitamnya.

Sakura tersenyum lebar dan menceritakan semua kejadian yang ia alami hari ini bersama Naruto, sedangkan Kizashi hanya tersenyum mendengar celotehan putri semata wayang tercintanya.

"Kizashi-sama, air hangatnya sudah siap."

Erika yang notaben kepala pelayan di rumah ini, masih belum memejamkan mata jika Kizashi belum pulang. Pelayan itu akan beristirahat jika kedua majikannya juga tidur.

"Ah, terima kasih, Erika ba-san."

Wanita itu mengangguk dan langsung undur diri.

Kizashi bersiap-siap untuk beranjak ke kamarnya ketika sebuah ketukan pintu terdengar. Pria itu menghela napas. "Siapa yang mengetuk pintu di jam semalam ini?" keluh Kizashi hendak membukakan pintu.

"Ayah pergi mandi saja dulu. Biar aku yang bukakan pintunya."

"Tapi Ayah ingin tahu siapa yang mengetuk pintu."

"Mungkin Naruto melupakan sesuatu dan kembali lagi atau penjaga gerbang butuh sesuatu untuk dimakan. Tidak ada tamu yang berkunjung selarut ini. Jadi, Ayah pergi mandi sana, ya!" Sakura mendorong punggung Kizashi menuju tangga dan membiarkan Ayahnya membersihkan diri.

Setelah itu Sakura berlari cepat ke arah pintu, lalu membukanya.

"Long time no see. Did you miss me? I miss you so much."

Sakura membelalakkan matanya melihat pria berambut jingga di depannya tengah mengulurkan setangkai bunga ke arahnya. Sakura hendak berteriak, namun belum sempat suaranya keluar, pria di depannya lebih dulu membekap hidung dan mulutnya dengan sapu tangan. Dan Sakura yakin kesadarannya menghilang begitu saja saat kegelapan langsung menghampiri dirinya.

"Good night, sweetheart. Have a nice dream."

.

.

To be continued

A/n: Halo! Saya datang membawa chapter 6 untuk fic ini. Setelah selesai ujian sekolah hari jumat lalu, jadwal saya udah gak begitu sibuk lagi. Well, karena UN-nya minggu depan, jadi cuma sibuk belajar buat persiapan UN aja. Udah gak berpusing2 ujian marathon seperti minggu-minggu kemarin. Pra-US, TO, USBN, yang langsung dibabat 3 minggu berturut-turut :"D /koklucurhatsihthor. Jadi, doakan saya biar lancar UN-nya ya, teman-teman /dibuang

Oke, maaf. Semoga chapter ini cukup memuaskan kalian semua. Mudah-mudahan selepas UN, Insya Allah saya bisa langsung update chapter selanjutnya.

Oh! Dan juga, fic multichap saya juga tersedia di Wattpad. Jadi, kalau aja FFn lagi eror pas saya update, bisa langsung ke akun Wattpad saya MithazaSung. Karena saya update di sana lebih dulu. Alasannya? Publish di wattpad itu lebih gampang dan juga lebih mudah untuk merevisinya. Oke, mungkin itu aja. Maaf kalo saya banyak cingcong X"D

Oke! Kali ini saya akan balas review bagi yang mereview untuk chapter 5 lalu. Maaf jika ada salah penulisan nama atau mungkin terlewat. Yuki hanyalah manusia biasa /?

Jkambey, leonardoparuntu9, NamiKura10, Guest, sebut saja mawar, .980, fahrie hamada, Guest: Kalau sekarang, belum bisa update cepat. Semoga chapter 6 ini cukup memuaskan ya. Terima kasih sudah membaca dan menyempatkan diri untuk meninggalkan review :D

Uzumaki Mai: Kamu kayanya salah tempat review ya? :v Ficnya LITD, tapi isi review kamu buat fic Black or Red. Tapi gapapa sih, itu juga masih ff punyaku. Makasih juga udah review berturut-turut dari chapter 1 sampe 5. Semoga chapter 6 ini memuaskan. Thanks for RnR :D

ara dipa: selama ada waktu luang dan idenya lagi ngalir terus, pasti update walaupun emang lagi sibuk :) Makasih udah RnR :D

rahmat rangkuty: Nah ini dia lanjutannya. Lama ya? Bulan-bulan lalu saya sibuk banget sih. Jadi ya gitu deh. Hari ini baru sempat update. Semoga masih berminat baca lanjutannya. Makasih udah RnR :)

elleoni eileen: Yak! Momen roman mereka kutambah lagi di sini biar muncul bibit-bibit cinta /apasih. Mengenai Kizashi dan masa lalu Naruto dan Menma, ikuti terus ya fic ini. Maafkan kalau updatenya lama (banget). Thanks for RnR. :D

Ae Hatake: Naruto dkk akan beraksi lagi chapter depan. Thanks for RnR :)

hotrianoviyanti: Untuk di chapter ini, rasanya Naruto gak mungkin bisa cemburu dulu deh. Soalnya di sini karakter Naruto itu cuek banget sama masalah cinta haha. Tapi kalo cinta Naruto ke Sakura udah besar, nanti bakal kubuat momennya. Thanks for RnR :3

Dear God: Semoga chapter ini NaruSakunya udah mulai berasa ya. Thanks for RnR :)

DekhaPutri: Duhh... aku jadi terharu dan malu kalo dipuji kaya gitu. Seneng kalo ada orang yang suka sama ceritaku. Semoga gak bosen baca ff ini ya :") Thanks for RnR :D

Namikaze Haruno: Semoga gak drama banget haha. Maaf, kalo update kilat masih belum bisa. Semoga chapter ini memuaskan. Thanks for RnR. :D

namikaze chaerim: Maaf, belum bisa update cepat kalau di duta masih sibuk. Ini aja baru sempet update lagi setelah sekian lama :") semoga chapter ini memuaskan. Thanks for RnR. :D

Namikaze Kurisu: Salam kenal juga Kurisu-san. Flashback mengenai tragedi Namikaze akan saya munculkan sedikit dulu, mungkin di chapter depan atau chapter depannya lagi /? Untuk menjawab pertanyaan 'Mengapa Menma tidak ada pada saat tragedi?' Semoga Kurisu-san mau terus mengikuti kelanjutan ff ini. Terima kasih sudah RnR :))

Namikaze Yui: Selama masih sibuk sama kegiatan sekolah, gak bisa janji untuk update cepat. Semoga chapter ini bisa sedikit menghibur ya. Thanks for RnR. :))

Seinaru Yoru: Kalau saya UN SMK. Minggu depan udah UN, sedangkan SMA, UNnya minggu depannya lagi :"). Nah ini seminggu sebelum UN saya udah update, semoga selepas UN, bisa langsung update lagi. Makasih sudah RnR :D

.

Terima kasih bagi yang sudah membaca, mereview, favorite, dan follow, saya sangat menghargainya :) Masih ditunggu jika ada yang ingin memberikan kesan, pesan, komentar, sanggahan, dan kritikan yang membangun.

See you in next chapter!