Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto
Genre : Crime, Romance, Tragedy
Pairing : NaruSaku
Warning! : AU, OOC, typo, miss typo dan kekurangan lainnya. Don't Like? Don't Read. Please Leave This Page.
Enjoy and Hope You Like It!
.
Light in The Darkness
By Yuki'NF Miharu
Chapter 7
Masih dengan handuk yang melingkar di leher, Kizashi menuruni anak tangga sambil sesekali mengusap rambutnya yang masih basah. Rasa penasaran dan khawatir menghampirinya saat ia tak menemukan Sakura di kamar. Begitu kedua netranya menangkap pintu masih terbuka lebar, saat itulah Kizashi membelalakan kedua matanya.
"Erika ba-san!" teriak Kizashi tanpa sadar.
Dan tak butuh waktu lama bagi sang kepala pelayan itu menghampiri Kizashi dengan langkah terburu-buru. "Ada apa, Kizashi-sama?"
"Kemana Sakura?" tanyanya sambil berjongkok untuk mengambil setangkai bunga sweet pie berwarna ungu.
Wajah wanita paruh baya itu memucat saat tuan besarnya menanyakan keberadaan nona mudanya. "Se-seharusnya dia di kamar setelah membuka pintu tadi."
"Tapi kamarnya kosong!" Kizashi mengeratkan genggamannya pada tangkai bunga di tangannya. "Sial!"
Pria itu lalu melangkah keluar untuk melihat para penjaga gerbang rumahnya dan sekali lagi ia dikejutkan oleh pemandangan bercak darah dari beberapa penjaga yang terkapar di atas tanah. Kizashi mengepalkan kedua tangannya, ia menarik napas panjang untuk meredam amarahnya.
"Panggil ambulance dan polisi!" perintahnya seraya berbalik, kembali ke dalam rumah dengan langkah terburu-buru.
Kizashi langsung menyambar ponselnya ketika sampai di kamar. Setelah memilih salah satu nomor yang akan dihubunginya, alat komunikasi itu diletakkan di telinganya, menunggu seseorang di seberang sana mengangkat panggilannya.
"Kau bilang, kau tidak akan menyentuhnya! Kenapa sekarang kau menculiknya?! Jangan main-main denganku! Itu bukan kau? Lalu siapa? Tak kusangka bawahanmu bisa berkhianat juga. Cepat cari tahu saat ini juga dimana dia! Awas saja kalau Sakura sampai terluka! Hubungi aku kalau kau sudah tahu tempatnya, Mebuki."
xxx
.
.
"Sudah malam, sekarang kau tidur ya." Wanita berambut merah panjang itu tersenyum tipis seraya menyelimuti tubuh mungil anaknya yang berumur 10 tahun.
"Ibu, aku bukan anak kecil lagi dan aku masih belum mau tidur."
"Naruto kau sedang demam, kalau kau tidak tidur sekarang, kau tidak akan sembuh besok." Kushina mengusap puncak kepala anaknya dengan sayang.
Naruto kecil mendengus pelan dan melipat kedua tangannya di depan dada. "Tidak adil! Kenapa Menma-nii boleh ikut study tour, sedangkan aku tidak?"
Kushina tertawa kecil, lalu mendudukkan dirinya di tepi tempat tidur. "Kalau kau tidak demam, aku mengizinkanmu pergi. Siapa yang menyuruhmu bermain hujan-hujanan kemarin?"
Naruto memanyunkan bibirnya.
"Nah! Sekarang tidur! Menma akan pulang besok siang, dia hanya menginap semalam kok. Tidak lama."
Akhirnya Naruto menurut, dan mulai memejamkan matanya. "Oyasumi, Okaa-san."
.
.
Naruto kecil membuka matanya ketika kerongkongannya terasa kering. Ketika ia bangkit dari posisi berbaringnya, kepalanya berdenyut sakit. Ia melirik jam yang tergantung di dinding telah menunjukkan pukul tengah malam. Ia tak mungkin merepotkan ibu dan pelayan rumahnya hanya untuk mengambilkannya segelas air.
Baru saja menurunkan kedua kakinya dari ranjang, suara teriakan dan barang-barang jatuh bahkan pecah memasuki indra pendengarnya. Dengan langkah cepat, Naruto berlari menuju pintu dan membukanya, saat itu juga cipratan darah mengotori wajah Naruto.
"A-apa yang terjadi?" lirih Naruto dengan mata terbelalak. Napasnya tercekat, tubuhnya bergetar, dan tak bisa digerakkan ketika melihat salah satu pelayannya terkapar bersimbah darah tepat di depannya.
"Aneh sekali anak kecil sepertimu belum tidur."
Naruto menatap pria dengan masker hitam di depannya tengah melingkarkan lengan kiri di leher pelayannya yang lain. Naruto membuka mulut, hendak berteriak meminta pertolongan, namun suaranya tak kunjung keluar ketika melihat mata tajam pria di hadapannya.
"Sshh... tidak perlu berteriak," ujar pria itu dan melangkah mendekati Naruto. "Tidak akan ada yang menolongmu karena semua yang ada di rumah ini akan mati."
Air mata mulai menggenangi pelupuk mata Naruto. "Ti-tidak."
"Na-Naruto-sama, cepat anda lari dari sini."
Ucapan lirih itu menarik perhatian Naruto. Ia menatap pelayan rumahnya yang mulai kehabisan napas akibat dicekik oleh lengan kekar pria itu.
"Cih! Orang rendahan sepertimu sebaiknya tidak perlu bicara!" Pisau besar yang digenggam pria itu mulai diarahkan ke leher sang pelayan.
Wanita itu mengigit bibir dan menahan tangisnya agar tidak pecah. Untuk terakhir kalinya, ia menatap wajah tuan mudanya dan mengulas senyum tipis. "Anda harus lari, Naruto-sama." Detik itu, pisau besar langsung merobek setengah bagian leher wanita itu, dan pria bertubuh kekar itu menjatuhkan sang pelayan.
Naruto tak mampu berkedip melihat darah yang langsung menyembur dari urat nadi yang terputus di bagian leher sang pelayan. Netranya tak teralihkan oleh darah yang terus merembes, menggenangi lantai putih, dan mewarnai telapak kakinya.
"Ah, apa yang harus kulakukan padamu?" Pria itu menatap Naruto dengan tatapan menyipit. "Mungkin aku harus tanya bos lebih dulu."
Naruto mundur selangkah, namun pria itu lebih dulu menarik tangannya dan menariknya dengan kuat. Ketika mereka menuruni tangga, saat itulah air mata yang Naruto tahan mengalir di kedua pipinya ketika mendapati pemandangan mengerikan di rumahnya.
Rumahnya yang megah, mewah, dan indah kini bernodakan darah. Semua barang-barang mewah hancur berkeping-keping, pelayannya tergeletak begitu saja dengan darah yang menggenangi tubuh mereka.
"Jadi, apa yang harus kita lakukan padanya?" tanya pria itu seraya menggempaskan tubuh Naruto ke arah seorang wanita berbaju hitam dengan masker yang menutupi wajah, kecuali kedua matanya.
"Hm, jadi kau anak Minato dan Kushina, ya?" Wanita itu hendak menyentuh Naruto, namun sebuah pisau lebih dulu menyerang wanita itu hingga mundur.
"Jauhkan tangan kotormu dari anakku!" seru pria berambut kuning dengan kilatan tajam di kedua iris safirnya.
"A-ayah," lirih Naruto saat melihat wajah ayahnya yang ternodai bercak darah. Air mata semakin mengalir deras di kedua pipinya melihat kedua orang tuanya ditodong pistol oleh empat orang berbaju hitam.
"Tolong! Jangan bunuh anakku! Kau boleh membunuhku, tapi jangan anakku!" Kushina menangis sejadi-jadinya.
"Apa maumu, hah?! Kalau kau mau ambil hartaku, kau boleh ambil semuanya!"
"Harta?" Wanita itu mendengus dan tertawa kecil. "Maaf, aku sama sekali tidak tertarik."
"Lalu, apa maumu?!"
"Mauku adalah..." Wanita itu menarik pistol dari sakunya dan menodongkannya di kepala Naruto. "...melenyapkan Namikaze."
Kushina membelalakkan matanya. "Ti-tidak!" tanpa sadar wanita berambut merah itu bangkit dari posisinya dan berlari ke arah Naruto.
Dor!
Kushina terjatuh saat merasakan timah panas menembus bahunya dan darah langsung mengalir dari sana. Kushina meraung, menahan rasa sakit dari peluru yang melubangi bahunya.
"Kena kau!" Wanita berbaju hitam itu tertawa. "Ah, indah sekali melihat wajah putus asa kalian."
"Ibu!" jerit Naruto dan berlari ke arah Kushina.
"Dasar jalang! Beraninya kau!" seru Minato keras. Wajahnya mengeras, ia bangkit dari posisi duduknya dan berjalan ke arah Kushina.
"Kalau kau bergerak, kami akan menembakmu," ujar salah satu dari empat pria yang menodongkan pistol ke arahnya.
Minato tak peduli dan ia tetap menghampiri istrinya yang tengah menahan sakit.
Dor! Dor!
Dua peluru menembus kedua kaki Minato. Pria itu terjatuh, tapi ia tak menyerah. Minato merangkak untuk menggapai Kushina dan Naruto.
Dor! Dor! Dor!
Tiga tembakan beruntun menembus punggung sang kepala keluarga. Tapi, Minato tak berhenti merangkak hingga ia memeluk Kushina dan Naruto ke dalam dekapannya. Dengan tangan gemetar ia mengusap kepala istrinya.
"Mi-Minato, kita akan mati di sini," lirih Kushina dengan suara bergetar.
Minato mengulas senyum tipis ke arah Kushina, tak peduli meskipun area mulutnya bernodakan darah akibat berbatuk darah beberapa kali, ia tetap memberikan senyum terakhirnya untuk istri tercintanya. "A-aku tahu," balasnya sambil mengangguk. "Aku akan bersamamu," lanjutnya dengan napas berat.
"Bagaimana dengan anak kita?"
"Kuharap Naruto bisa selamat, tapi Menma aman di luar sana. Mereka anak yang kuat. Kita harus percaya pada mereka."
"Kita kehabisan waktu! Bawa anak itu bersama kita!" suara wanita itu kembali terdengar. Detik itu tubuh Naruto yang berada di dekapan Minato dan Kushina ditarik paksa.
"Ti-tidak! Aku ingin bersama Ibu dan Ayah! Lepaskan aku!" raung Naruto saat seorang pria mengangkat tubuhnya dan membawanya pergi menjauh dari sana.
"Aku tidak tahu siapa kau, tapi Tuhan pasti akan membalas perbuatanmu," ujar Minato pelan sambil memeluk Kushina yang menangis keras.
"Selamat tinggal." Wanita itu menjatuhkan barang berbentuk persegi di hadapan Minato dan Kushina.
.
"Jangan tinggalkan Ibu dan Ayahku. Mereka masih di sana. Tolong bawa mereka ke rumah sakit." Naruto menatap kosong rumahnya.
"Dengar, bocah!" Wanita itu muncul di depan wajah Naruto, masih dengan masker hitam yang menutupi wajahnya. "Orang tuamu akan mati sebentar lagi!" Wanita itu menunjukkan sebuah remote ke arah Naruto. Ketika ia menekan tombol merah, suara ledakan keras berbunyi.
Kedua bola mata Naruto membola, mulutnya mengaga, dan napasnya tercekat di tenggorokan ketika melihat rumahnya hancur seketika di depan matanya.
xxx
.
.
"Naruto! Hei, kau baik-baik saja?"
Naruto terbangun dari posisi tidurnya ketika wajah khawatir Menma menyambutnya ketika ia membuka mata. Naruto menatap Menma lama dengan genangan air mata di pelupuk matanya, dan ketika air mata terjatuh, tanpa bisa menahannya lagi Naruto menangis.
"Naruto, apa yang terjadi?!"
"Menma, aku melihatnya lagi," ujar Naruto dengan suara serak. "Aku melihat mereka terbunuh lagi! Pelayan di rumah kita terbunuh, Ayah, Ibu, dan rumah kita diledakkan! Aku melihatnya lagi, Menma!" Naruto menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya yang bergetar.
Menma mendekati Naruto, menepuk pundak adiknya yang bergetar hebat. "Tidak apa-apa. Aku di sini, aku masih hidup, aku masih bersamamu. Tenanglah." Dan selanjutnya Menma mengucapkan kata 'Aku di sini' berkali-kali pada Naruto hingga saudara kembarnya itu tenang.
.
.
Menma mendudukkan dirinya di samping Naruto ketika saudara kembarnya itu meletakkan gelas yang telah tandas isinya di atas meja. Ia menoleh ke arah Naruto. "Sudah lebih baik?"
Naruto mengangguk. "Terima kasih. Maaf, lagi-lagi aku merepotkan."
Menma menghela napas panjang. "Hahh... bikin orang takut saja!"
"Kau ini tentara profesional, apa yang kau takutkan? Dasar payah!"
Menma bangkit dari posisi duduknya dan menatap Naruto. "Tentu saja kau!"
"Kau kira aku hantu?!"
"Baiklah," desah Menma mulai menyerah. Ia tak ingin ada perdebatan di pagi yang indah ini. "Kalau kau sudah begitu, berarti kau baik-baik saja. Aku mau mandi dulu."
Begitu Menma meninggalkannya di ruang tamu sendirian, Naruto memejamkan matanya. Ia kembali mengingat mimpinya. Apa yang muncul di mimpinya tadi bukanlah mimpi biasa. Mimpi itu nyata, kenyataan yang menimpanya 15 tahun lalu. Tanpa sadar Naruto menitikkan air mata, lalu mengusapnya cepat. Tidak, ia tidak boleh membuat Menma khawatir. Ia juga sudah tumbuh menjadi seseorang yang lebih kuat dari sebelumnya.
Naruto membuka matanya, lalu menepuk keras kedua pipinya hingga merah. "Semuanya akan baik-baik saja."
Detik itu suara dering ponsel terdengar. Naruto mendesah lelah, ia bangkit dari posisi duduknya dan melangkah menuju kamarnya untuk mengambil ponsel. Nama Kizashi Haruno menyambut kedua netranya. "Jangan bilang kalau Sakura buat masalah lagi."
Naruto menekan tombol hijau, lalu mendekatkan ponsel di telinganya. "Moshi-moshi."
"Naruto bisakah kau membantuku? Aku sudah bilang pada Jendral Uchiha, tapi apa kau tahu kalau semalam Sakura diculik?"
"Apa?! Diculik?! Ba-bagaimana bisa? Sudah lapor polisi?"
"Sudah. Tapi kami juga butuh kekuatan militer. Datanglah bersama Menma ke barak, aku sudah menyampaikan semuanya ke Jendral Uchiha. Aku dan dia yang akan menjelaskanya begitu kalian sampai di sana."
"Baiklah, kami akan segera ke sana." Setelah itu Naruto memutuskan sambungan teleponnya.
"Ada apa?"
Naruto menoleh dan mendapati Menma yang sedang mengeringkan rambut basahnya dengan handuk. Naruto berjalan ke arah Menma, memegang kedua pundaknya, dan mendorongnya pelan. "Cepat siap-siap, kita harus ke barak sekarang."
"Sekarang?"
"Ya, sekarang! Bersiaplah, aku juga akan bersiap."
xxx
.
.
Sakura tak tahu ia pingsan berapa lama, tapi ketika ia membuka mata, rasa pegal menghampiri seluruh bagian sendi tubuhnya. Posisinya saat ini benar-benar membuat tubuhnya sakit. Kedua lengannya diikat di belakang kursi, begitupula dengan kedua pergelangan kakinya. Belum lagi ia tak bisa melihat apapun karena ada sesuatu yang melingkari kepalanya dan menutup indra pengelihatannya.
"Oh, kau sudah bangun, Sakura-chan?"
Kedua alis Sakura bertaut. "Suara ini... Pein?"
Pein tertawa keras, ia berjongkok di depan Sakura, lalu meraih dagu wanita itu. "Kau masih mengenali suaraku dengan baik, Sakura. Aku sedikit tersanjung."
Sakura menggerakkan kepalanya, berusaha menjauhkan wajahnya dari tangan lelaki itu. "Apa maksudmu ini? Menculikku dan mengikatku di sini?"
"Hei, Sakura," panggil Pein seraya melepaskan kain yang menutupi mata Sakura. "Kau ingin tahu sosok ibumu, kan? Aku akan mempertemukannya padamu," lanjutnya dengan seringaian lebar dan mencubit pelan pipi putih wanita di depannya.
Sakura menatap Pein tajam. "Cih! Jauhkan tangan kotormu itu dari wajahku!"
Pein mengulas senyum dan menarik tangannya dari wajah Sakura. "Yah, kita tunggu saja sampai nanti malam." Pein berbalik dan berjalan menuju pintu, tepat setelah ia keluar dari ruangan itu, dua orang lelaki dengan masker di wajah masuk ke dalam. "Jaga dia! Jangan sampai kabur!"
Sakura mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan tempat dirinya disekap saat ini. Bukan tempat yang begitu besar, tidak ada satupun lampu, sehingga ruangan itu hanya diterangi oleh cahaya matahari yang berhasil menembus gorden yang tampak sudah lusuh. Arsitektur bangunannya terbuat dari kayu dan ia bisa mendengar suara langkah kaki. Sakura menengadahkan kepalanya, menatap langit-langit di atasnya berbentuk segitiga, dan ia semakin yakin bahwa dirinya berada di lantai paling atas dari gedung ini. Mungkin di loteng.
Tak ada yang bisa Sakura lakukan saat ini. Ia hanya bisa pasrah. Ia teringat kata-kata Pein beberapa saat lalu. Mempertemukannya dengan ibunya? Apa artinya ia akan dibunuh? Jadi ia bisa bertemu ibunya di alam sana.
'Apa rencana Pein saat ini?' pikir Sakura. Lalu sosok Pein yang malam itu tengah mengulurkan bunga ke arahnya terbesit dalam ingatannya. Kemudian kedua matanya melebar saat mengingat kasus penculikan dan penjualan organ dalam yang sedang banyak terjadi saat ini.
Sakura menunduk, mengigit bibir bawahnya tanpa sadar. Mungkinkah Pein adalah pelaku dari tindak kejahatan keji itu? Sakura tak ingin percaya. Matanya mulai memanas dan setelah itu setetes air mata terjatuh dari iris zamrudnya.
'Ayah, Naruto, tolong aku," ringis Sakura dalam hati.
xxx
.
.
"Menma! Aku merindukanmu!"
Menma kembali memundurkan dirinya dari daun pintu ketika seorang wanita seksi berambut pirang panjang menerjangnya dengan lengan yang terbuka lebar, seperti hendak memeluk.
"Stop! Jangan lagi, Ino." Menma menahan bahu wanita itu dengan helaan napas panjang.
"Kalau kalian ingin bermesraan, silakan pergi dari barak ini!" perintah Naruto santai seraya masuk untuk melihat keadaan di dalam sana.
"Tuh, dengar, kan?" Menma menyeringai lebar.
Ino mendengus, melipat kedua tangannya di depan dada. "Saudaramu itu kata-katanya menusuk sekali."
"Aku tak menyangkalnya." Menma melirik Ino di sampingnya. "Kenapa kau di sini? Kau bukan anggota dari tim Naruto, kan?"
"Yah, aku jadi anggota tambahan di sini."
Menma mengangguk mengerti. "Tumben sekali kau mau."
"Perintah atasan, sih." Lalu Ino kembali menyeringai dan melingkarkan lengannya di lengan Menma dengan genit. "Dan juga, aku tidak mungkin menolak tugas yang sama denganmu."
Menma memutar bola matanya, lalu menurunkan lengan Ino dengan tangannya yang bebas. "Dengar, jangan menggandengku saat bertugas nanti," ujarnya sebelum menjauh dari wanita pirang itu.
Sedangkan Ino hanya mampu mendengus kesal. "Kenapa susah sekali menarik perhatiannya?" gumamnya, lalu memaki ketidakpekaan Menma dalam hati.
.
.
"Jendral Uchiha bilang kita akan berangkat dengan lima orang. Jadi, siapa satu lagi?" tanya Naruto pada Sora seraya mengambil beberapa perlengkapannya dari lemari cokelat miliknya.
"Shikamaru," jawab Sora sambil mengencangkan ikatan tali sepatunya.
Naruto mendecih pelan. "Kemana si pemalas itu?" gumam Naruto.
"Mungkin ketiduran," sambung Menma yang baru saja membuka lemarinya.
"Hei, Menma. Semalam siapa yang pulang ke rumah? Aku atau Kurama?" tanya Naruto sambil melirik saudaranya.
"Kurama."
"Apa dia benar-benar meninggalkan Sakura setelah Kizashi-san pulang?"
Menma mengangguk. "Kurama sendiri yang cerita padaku. Sebenarnya dia disuruh Sakura pulang lebih dulu, dan awalnya Kurama tidak ingin pulang karena tidak mungkin meninggalkan Sakura sebelum Kizashi-san pulang. Tapi akhirnya dia pulang karena katanya Sakura terlihat tidak nyaman dengannya, dan setelah dia pulang, dia berpapasan dengan Kizashi-san."
Naruto menunduk, memerahatikan belati tajam di tangannya sesaat sebelum menyarungkannya dan menggantungnya pada ikat pinggangnya. "Akan kubunuh kalau orang itu melukai Sakura."
Menma mendengus geli. "Kenapa kau terlihat peduli?"
Naruto sedikit tersentak atas ucapannya sendiri. Ia tak tahu mengapa mulutnya bergerak otomatis untuk mengeluarkan kalimat itu. Dan lagi-lagi Naruto menyalahkan otaknya. Mungkin ada yang salah lagi dengan kepalanya ini.
"Jadi, apa kau jatuh cinta pada wanita itu, Naruto?" tanya Ino yang tiba-tiba ikut dalam konversasi mereka.
"Tidak mungkin," balas Naruto, lalu ia terdiam beberapa saat sebelum melanjutkan, "Dia itu baik, meskipun lebih banyak menyebalkannya."
Kemudian Ino tertawa dan Naruto tak mengerti mengapa wanita itu terlihat begitu tergelitik mendengar kalimat terakhirnya tadi. Naruto hanya mengendikkan bahu dan mengabaikan Ino.
"Selamat siang, aku datang."
Empat pasang mata yang berada di ruangan itu menoleh ke sumber suara. Di mana sosok lelaki dengan wajah malas tengah berdiri di mulut pintu sambil menguap lebar.
Melihat wajah Shikamaru, kening Naruto bertaut dalam, lalu menghampiri rekannya yang malas sekaligus jenius itu. "Dasar pemalas! Mau kutendang kau dari sini?"
"Kalau kau bilang begitu, mungkin sebaiknya aku pulang." Shikamaru membalasnya acuh tak acuh, lalu berbalik hingga sebuah tepukan hinggap di bahunya.
"Tidak! Cepat siap-siap sana!" Naruto menarik baju Shikamaru dan mendorong tubuhnya untuk masuk ke dalam barak.
Naruto menghela napas panjang. Ia terdiam beberapa saat sebelum merogoh rantai putih tipis yang melingkari lehernya, lalu menatap cincin silver pemberian Sakura yang ia jadikan gantungan kalung. Ia menatapnya lamat-lamat.
"Aku pasti akan menyelamatkanmu, Sakura."
xxx
.
.
04.25 PM – Kantor Militer Angkatan Darat
Naruto, Menma, Ino, Sora, dan Shikamaru berdiri di hadapan Fugaku dan Kizashi yang tengah duduk di sofa. Kelima prajurit itu berdiri dengan posisi tegak dan kedua tangan berada di belakang tubuh.
"Aku memanggil kalian ke sini karena ada sesuatu yang ingin disampaikan oleh Haruno-san." Fugaku melirik Kizashi di sampingnya.
"Jangan formal begitu. Kita sudah berteman sejak dulu, dan rasanya aneh mendengarmu memanggilku dengan panggilan seperti itu," balas Kizashi.
"Yah, rasanya juga aneh memanggilmu seperti itu. Tapi ini kan masih jam kerja." Fugaku mengambil cangkir teh di meja dan meminumnya beberapa teguk.
Untuk saat ini, Kizashi tidak terlalu memusingkannya. Di kepalanya hanya terpikirkan sosok anak semata wayangnya yang diculik sejak tadi malam. Entah ia sudah berapa kali merapalkan doa untuk keselamatan putri tercintanya. Semoga tidak terjadi apa-apa.
"Aku ingin menunjukkan ini kepada kalian." Kizashi meletakkan setangkai bunga di atas meja yang beberapa saat lalu masih di tangannya. "Kalian tahu kan kasus yang banyak terjadi saat ini ada hubungannya dengan bunga."
"Maksud anda kasus penculikan dan penjualan organ dalam?" tanya Sora.
Kizashi mengangguk. "Setelah mencari tahu tentang bungan sweet pie ini, ternyata bunga ini memiliki arti selamat tinggal," jelas Kizashi tanpa melepas pandangan dari setangkai bunga di hadapannya. "Aku pikir kasus ini juga berkaitan dengan kasus yang marak terjadi akhir-akhir ini."
Kelima personil angkatan darat itu mendengarkan ucapan Kizashi dengan saksama.
"Dan aku sudah tahu dimana tempat mereka menyekap Sakura."
Tanpa sadar Naruto mengepalkan tangannya saat mendengar kalimat itu, berusaha untuk tidak menggebrak meja, meminta lokasi tempat penyekapan Sakura, lalu pergi ke sana. Ia masih harus menahannya, membiarkan Kepala Menteri Pertahanan itu menyelesaikan penjelasannya.
"Maaf, tapi bagaimana anda bisa tahu, Haruno-sama?" tanya Shikamaru.
Kizashi menyeringai tipis. "Semalam aku langsung menghubungi pihak polisi dan menyuruh orangku untuk mencarinya."
"Well, dengan begitu kita tinggal menyusup masuk saja, kan?" ujar Ino.
"Yah, setidaknya itu sangat membantu kita, bukan?" Menma tersenyum tipis.
"Baiklah, kita kembali ke topik," kata Kizashi yang hendak melanjutkan penjelasannya. "Alasan mengapa aku ingin kalian turun tangan adalah karena orang yang menculik Sakura kemungkinan dari organisasi hitam besar. Apa kalian paham?"
"Ya! Kami paham!" seru kelimanya tegas.
"Baiklah, setelah ini kalian boleh berangkat dengan pihak kepolisian yang akan membantu kalian nanti." Kizashi tersenyum tipis, lalu membungkukkan kepalanya. "Tolong selamatkan anakku."
xxx
.
.
Matahari mulai tenggelam di ufuk barat, perlahan tapi pasti cahaya jingga itu mulai memudar. Sakura menengadahkan kepalanya, menatap lampu neon redup yang baru dipasang beberapa saat lalu di atas sana. Hingga malam menjelang, sama sekali tidak ada pertolongan yang datang untuk menyelamatkannya. Apa ia akan mati di tempat ini? Mata Sakura mulai memanas saat membayangkan dirinya tidak bisa bertemu dengan Ayahnya untuk terakhir kalinya.
Pintu ruangan itu kembali terbuka, Pein masuk bersama pria berkacamata di belakangnya. Dua penjaga yang sejak siang mengawasi Sakura lekas keluar dan menutup pintu. Pein berjalan ke arah Sakura dengan senyuman mengembang di wajahnya.
"Kau tahu, Sakura? Akhirnya hari ini datang juga."
"Apa maksudmu?" Sakura menatap Pein tajam.
"Sakura," panggil Pein seraya menjongkokkan dirinya tepat di hadapan Sakura. "Apa kau tahu kalau sebenarnya ibumu masih hidup?"
Sakura melebarkan kedua matanya, menatap Pein tak percaya, dan tertawa kecil. "Mana mungkin, ayahku sendiri yang bilang kalau beliau sudah tiada."
"Dia masih hidup dan aku menggunakanmu untuk memancingnya keluar, lalu membunuhnya." Pein menyeringai lebar. "Aku bersyukur ada Kabuto di sisiku. Dia adalah anggota dari markas utama yang menjadi mata-mataku." Lalu Pein melirik Kabuto yang tengah tersenyum di belakangnya.
"Ya, aku senang sekali bekerja sama denganmu, Pein. Tapi mungkin hanya sampai sini saja."
Dor!
Pein melebarkan matanya saat merasakan sesuatu yang panas menembus punggungnya. Ia berusaha berdiri dan menatap Kabuto yang ternyata tengah menyeringai ke arahnya. "Apa maksudmu, Kabuto?! Kau mengkhianatiku?!" murka Pein dengan wajah mengeras.
Kabuto masih bersikap tenang dan tersenyum tipis. "Dari awal aku tidak pernah memihakmu karena dari awal Haruno Mebuki-sama yang memerintahkanku. Dia tahu kalau kau akan berkhianat, jadi beliau menyuruhku untuk mengikuti semua skenariomu. Kupikir inilah puncaknya, jadi sudah saatnya bagiku untuk membunuhmu." Kabuto kembali mengacungkan pistol di tangannya ke arah Pein.
"Sial!" Pein maju selangkah untuk melayangkan tinju di wajah Kabuto, tapi Kabuto lebih dulu bergerak ke samping, lalu menendang Pein hingga pria itu jatuh tersungkur di lantai. "Pa-padahal aku memercayaimu."
Kabuto menginjak tubuh Pein dan mengarahkan pistolnya ke arah pria itu sekali lagi. "Kuberi kau satu pelajaran sebelum kematianmu," ujar Kabuto kali ini dengan wajah datarnya. "Di dunia ini jangan mudah percaya pada orang lain. Kau tahu kenapa? Karena ada sejuta senyuman dan kebaikan yang mampu menutupi satu niat jahat. Ketika kau terjebak dalam satu juta kebaikan itu, satu niat jahat yang tersembunyi akan membunuhmu seketika."
Dor. Dor. Dor
Lalu Kabuto melepaskan tiga tembakan beruntun ke arah Pein. Dua di tubuh dan satu menembus kepalanya. Sedangkan Sakura yang menonton itu hanya mampu terdiam dan menatap ngeri pemandangan di depannya. Dan akhirnya ia hanya memejamkan mata.
Brak!
Pintu terbuka dan beberapa anak buah Pein menatap jasad atasannya yang sudah bermandikan darah.
"Apa yang anda lakukan, Kabuto-sama?! Kenapa anda membunuh Pein-sama?!" seru salah satu dari mereka.
"Ini adalah perintah dari markas pusat. Jika kalian ingin membangkang, aku tak akan segan-segan membuat nasib kalian berakhir seperti Pein!"
Beberapa orang itu terdiam dan kembali ke posisi mereka masing-masing untuk berjaga-jaga, sedangkan Kabuto mulai mendekati Sakura, lalu membuka seluruh tali yang mengikat tangan dan kaki wanita itu.
"A-Apa yang dikatakan Pein itu benar?" tanya Sakura pelan seraya menatap Kabuto dengan pandangan takut. "Apa ibuku masih hidup?"
Kabuto tak menjawab, ia lebih memilih mengalihkan pandangannya ke arah lain. "Sebaiknya kau bersiap, mungkin sebentar lagi bantuan dari polisi atau militer akan datang."
Tepat setelah Kabuto berucap demikian, suara tembakan yang saling beradu terdengar di luar ruangan. Pria berambut putih dengan kacamata itu kembali menatap Sakura. "Baiklah, aku harus pergi."
Brak!
"Sakura!"
Pintu menjeblak terbuka dan Naruto muncul di mulut pintu dengan seragam lengkap dan senjata di tangannya. Naruto menatap pria yang berdiri di samping Sakura, tak lama Naruto melebarkan matanya.
"Bu-bukankah kau..."
Belum selesai mengucapkan kalimatnya, Kabuto lebih dulu berujar, "Sampai jumpa, Naruto-kun." Kabuto langsung berlari ke arah jendela di sampingnya dan meloncat dari sana.
Naruto segera berlari ke arah jendela dan melihat Kabuto yang tengah berlari dengan langkah terpincang. Naruto segera menekan tombol alat komunikasi yang terpasang di telinganya. "Satu orang melarikan diri, kejar dia sebelum lolos."
Saat itu Naruto tak bisa melepaskan pandangannya, ia tetap memandang ke bawah sana. Tak lama ia menyentuh kepalanya, lalu wajahnya menggeram marah, memorinya kembali bangkit saat melihat wajah orang itu. Naruto yakin, pria itu adalah salah satu orang yang pernah menyekap dan menyiksanya 15 tahun yang lalu. Naruto mengepalkan tangannya dan berniat berlari untuk menangkap pria berkacamata itu.
"Na-Naruto!"
Naruto melebarkan matanya saat merasakan sebuah dekapan hangat di tubuhnya sebelum ia mengambil langkah. Bisa ia lihat tubuh Sakura bergetar hebat saat memeluknya. Naruto tak mampu melepaskannya, nyatanya pelukan Sakura entah kenapa dapat meredam amarahnya. Naruto tak tahu harus berbuat apa, jadi ia hanya mengusap punggung wanita itu untuk menenangkannya.
"A-Aku takut, Pein mati tepat di depan mataku." Sakura mengeratkan pelukannya.
"Tenanglah, aku di sini. Kau tidak perlu takut lagi."
Dan detik itu Naruto bersumpah akan membunuh pria berkacamata itu jika mereka bertemu lagi.
.
.
To be continued
Akhirnya chapter 7 selesai juga. Maaf atas keterlambatan updatenya :') karena akhir-akhir ini Yuki sedang ketagihan membaca novel Sword Art Online. Yah, bisa dibilang gak bisa berhenti baca XD
Baiklah, saya sudah memunculkan tokoh yang paling berpengaruh di chapter ini. Lebih jelasnya, mungkin ada di chapter depan.
Segala kesan, pesan, serta kritikan yang membangun akan selalu di tunggu. Tulis saja semuanya di kolom review ^^
See you in next chapter!
