Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto

Warning! : AU, OOC, typo, miss typo dan kekurangan lainnya. Don't Like? Don't Read. Please Leave This Page.

Enjoy and Hope You Like It!

.

Light in The Darkness

By Yuki'NF Miharu

Chapter 8

Suasana tegang mencair. Malam tak lagi diselimuti hawa mencekam seperti sebelumnya. Naruto masih memeluk Sakura, mengusap kepalanya dengan lembut agar wanita itu tenang. Naruto melirik rekannya yang berdiri di mulut pintu, lalu mengisyaratkan padanya untuk membawa jasad Pein yang bersimbah darah.

"Aku di sini. Kau tidak perlu takut lagi."

Naruto dapat merasakan Sakura yang mengangguk dalam pelukannya. Setelah beberapa menit berlalu, Naruto melepaskan dekapannya saat tubuh Sakura berhenti bergetar.

"Terima kasih, Naruto," kata Sakura, lalu menarik napas panjang.

"Bisa jalan?"

Sakura mamaksakan senyum tipis dan mengangguk.

Keduanya berjalan beriringan keluar dari rumah itu. Saat keduanya keluar, Sakura langsung disambut oleh pelukan Kizashi dengan wajah khawatir sekaligus lega. Naruto pun bergerak membantu yang lain. Selain Pein, sisanya masih hidup. Jadi, ia membantu menaikkan bawahan Pein ke dalam mobil tahanan. Cukup banyak, entah ada delapan atau sepuluh orang.

Setelah menyelesaikan tugasnya dan membersihkan TKP, semua pasukan bersama dengan beberapa anggota kepolisian meninggalkan tempat itu. Di dalam mobil, Naruto melirik ke arah Menma yang tengah memejamkan mata.

"Jadi, yang melarikan diri tidak tertangkap, ya?" tanya Naruto sambil mengingat sosok pria berambut putih dengan kacamata bulat yang tadi melompat dari jendela.

Menma menggeleng dengan ekspresi menyesal. "Aku langsung berlari mencarinya ke belakang rumah karena dia tidak mungkin melarikan diri lewat depan. Tapi dia sudah tidak ada. Lagi pula aku juga ragu dia lewat belakang."

"Kenapa?" tanya Naruto, menaikkan sebelah alis.

"Saat aku ke belakang, di sana ada Kizashi-san bersama dua orang polisi," jawab Menma, lalu menelengkan kepala. "Bagaimana caranya dia lari? Lewat mana?"

Tanpa sadar Naruto mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras ketika mengingat lelaki itu lagi. Sial, kenapa dia berhasil meloloskan diri. Naruto masih tak menyangka, menjadi seorang militer membuatnya dipertemukan lagi oleh orang itu. Apa artinya ia bisa bertemu wanita itu lagi? Wanita yang telah membunuh kedua orang tuanya? Ia harap, ia bisa bertemu mereka lagi. Jika kesempatan itu datang, Naruto tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk menghancurkan orang itu.

"Naruto, ada apa?"

Naruto tersentak dari lamunannya dan mendapati wajah Menma yang tampak khawatir. Naruto menarik napas pelan, lalu berujar, "Ada yang ingin kubicarakan padamu nanti."

"Baiklah," jawab Menma seadanya dengan tatapan penuh tanda tanya. Menma tidak tahu kenapa, tapi ia sangat yakin kalau saudaranya itu sedang marah, menahan emosi.

xxx

Waktu telah menunjukkan pukul satu dini hari. Namun, Naruto dan Menma masih duduk berhadapan di ruang tamu. Selama beberapa menit keheningan mengisi di antara keduanya, dan Menma berusaha sabar, menunggu Naruto membuka suara.

"Sebenarnya, orang yang melarikan diri itu adalah salah satu orang yang pernah menculikku 15 tahun yang lalu." Menma melebarkan matanya. "Dia juga yang pernah membunuh seisi rumah kita, termasuk Ayah dan Ibu."

"Kau yakin?" tanya Menma tak percaya.

Naruto mengangguk dengan raut wajah serius, memberitahu Menma kalau ucapannya kali ini tidak main-main. "Kalau saja Sakura tidak ketakutan seperti itu, mungkin aku bisa mengejarnya."

"Naruto, dengar," kata Menma dengan suara tenang. Ia menatap mata Naruto yang berkilat marah. "Pelan-pelan saja. Kita pasti akan bertemu dengannya lagi. Itu pasti. Tolong hati-hati. Mengerti?"

Kedua iris safir Naruto menatap wajah Menma yang menyiratkan kekhawatiran. Naruto mengerti hal itu karena 15 tahun lalu—semenjak ia ditemukan dan bertemu kembali dengan Menma—saudara kembarnya itu terlihat hampir hancur. Naruto tidak ingin melihat Menma seperti itu lagi. Jadi, Naruto mengangguk sambil tersenyum tipis.

"Aku mengerti. Kau juga harus berhati-hati. Mungkin saja wanita itu sedang merencanakan sesuatu untuk membunuh kita."

"Wanita?" Menma mengerutkan kening.

"Pemimpinnya seorang wanita, tapi aku tidak pernah melihat wajahnya. Dulu, setiap dia datang melihatku, dia selalu memakai masker." Naruto menyentuh kepalanya. Ia mendadak merasa pusing memikirkan masalah ini. Setelah 15 tahun, masa lalu itu kembali. Naruto tidak bisa lari. Ia bukan lagi bocah lemah yang tidak bisa apa-apa. Sekarang ia punya kekuatan untuk menghadapi masa lalunya.

"Kalau begitu, kita bahas hal ini lain kali." Menma bangkit dari posisi duduknya. Ia menepuk pundak Naruto, seakan memberikan kekuatan sekaligus mengatakan bahwa ia akan selalu ada untuk Naruto.

xxx

Sakura menatap sarapan di depannya tanpa minat. Ia memakan sarapannya lambat, beberapa kali ia terdiam, mengaduk-aduk makanannya, atau menghela napas lelah. Wajahnya juga tidak bersemangat seperti biasanya, membuat Kizashi yang duduk di seberangnya khawatir.

"Ada apa? Kau tidak enak badan?" tanya Kizashi sambil meletakkan sumpitnya di atas mangkuk. Selera makan paginya hilang melihat wajah putri tunggalnya muram. "Apa ada sesuatu yang mengganggumu?"

Detik itu Sakura menghentikan gerakan tangannya yang tengah mengaduk-aduk makanan. Sakura mengangkat kepalanya, menatap Kizashi sesaat sebelum akhirnya kembali menunduk.

"Bicara saja. Ayah akan mendengarnya."

Sakura mulai membuka mulut, tapi kembali menutupnya. Ia kembali membuka mulut, tapi suaranya seakan tak mau keluar. Tanpa sadar Sakura kembali menutup rapat mulutnya, lalu menggigit bibir. Ia mengambil napas panjang dan memberanikan diri menatap mata ayahnya.

"Tolong jawab dengan jujur. Apa ibu masih masih hidup?"

Kizashi terdiam sesaat sebelum akhirnya menghela napas. "Kenapa kau tanya itu?"

"Jawab saja pertanyaanku!" kata Sakura, sedikit meninggikan intonasinya.

Kizashi berdiri dari tempat duduknya, berjalan ke arah Sakura, dan memandang Sakura dengan pandangan yang sulit diartikan. Antara sedih, kecewa, dan tentu saja takut.

"Sakura, ikut aku."

"Ke mana? Aku ada kuliah siang ini."

"Tidak lama, sebentar saja."

Sakura menurut dan mengikuti langkah Kizashi ke luar rumah. Kizashi mengeluarkan mobil dari bagasi dan menyuruh Sakura masuk. Sakura masih menurut. Ia tidak tahu akan dibawa ke mana oleh ayahnya. Setelah menempuh perjalanan selama sepuluh menit, mobil terhenti di depan sebuah toko bunga. Sakura keluar dari mobil, mengikuti Kizashi.

Harum semerbak bunga langsung tercium ketika Sakura masuk ke tempat itu. Berbagai bunga dipajang dan disusun rapi. Ada yang masih di dalam pot, ada yang sudah dipetik, dan ada juga yang sudah disusun dalam buket. Sakura mengedarkan pandangannya, memandang takjub toko bunga yang ruangannya dicat warna-warni. Membuat suasana semakin ceria.

"Oh, Kizashi-san, tumben sekali datang ke sini."

Sakura menoleh ke sumber suara dan seorang wanita berambut cokelat panjang menyambutnya. Sakura yakin ia melihat ekspresi terkejut dari wanita itu. Namun, setelah beberapa detik, wanita itu mengulum senyum di wajahnya.

"Sakura? Jadi kau anak Kizashi-san, ya?"

Sakura terdiam beberapa saat hingga sebuah ingatan tentang wanita yang menjatuhkan apel hinggap di kepalanya. "Aku tak menyangka Shiragiku-san mengenal ayahku."

Wanita itu tersenyum. "Dia temanku." Shiragiku menatap Kizashi. "Ya, kan?"

Seakan baru tersadar sesuatu, Kizashi mengangguk cepat. "Ya. Shiragiku ini teman Ayah waktu SMP."

"Jadi, ada perlu apa kalian ke sini?" tanya Shiragiku sambil berjalan ke arah bunga tulip dan memainkan kelopaknya.

"Aku ingin mengunjungi makam."

Shiragiku kembali menoleh ke arah Kizashi dan menatapnya dengan pandangan sendu. "Oh, ke tempat istimu, ya?" tanyanya dan dijawab anggukan kecil dari pria itu. Shiragiku menghampiri kumpulan bunga lili putih yang baru saja ia petik pagi ini. "Akan kusiapkan sebuket lili putih yang masih segar untuk Mebuki-san."

Kizashi tersenyum tipis. "Terima kasih."

Setelah membeli bunga, Kizashi kembali ke mobilnya bersama Sakura. Mobil sedan berwarna hitam itu terhenti di depan sebuah pemakaman. Sakura segera melepas sabuk pengamannya dan mengikuti langkah Kizashi dari belakang sampai keduanya terhenti di depan sebuah nisan hitam keramik. Di atasnya terukir nama Mebuki Haruno, tapi tidak ada foto yang terpasang di nisan itu. Meskipun begitu, mata Sakura memanas memandang nisan itu.

"Ibu..."

"Lihat, kan? Apa kau pikir aku bohong? Ibumu sudah meninggal. Saat kau berumur tiga tahun, dia mengalami kecelakaan. Ayah bahkan masih menyimpan koran yang memberitakan kecelakannya. Saat itu ibumu ingin pergi menemui sepupunya, tapi dia mengalami kecelakaan saat melewati jalan dipinggir tebing. Mobilnya jatuh ke jurang. Kau tahu betul kan, selamat setelah jatuh dari jurang kemungkinannya kecil sekali."

Tanpa sadar Kizashi menjatuhkan air mata. Rasa sesak memenuhi dadanya, membuatnya sakit saat bernapas. Ia bukan sedih untuk bersandiwara di depan Sakura, tapi karena harus berbohong kepada anak tunggalnya. Di dalam kepalanya terbayang wajah Sakura yang kecewa jika anaknya tahu bahwa Mebuki sebenarnya masih hidup. Dalam hati Kizashi berteriak, sampai kapan Mebuki terus melakukan kejahatan?

Kizashi merasa dirinya lemah. Ia lemah terhadap cinta. Ia sangat mencintai Mebuki, karena itu ia membiarkan istrinya melakukan pembunuhan itu. Malam di mana Mebuki menghancurkan keluarga Namikaze. Kizashi merasa bersalah atas keputusannya, membiarkan Mebuki terjatuh dalam lubang kegelapan.

Istri kesayangan Kizashi, Mebuki Haruno, mulai menyukai tindak kejahatan setelah membunuh Minato dan Kushina. Meskipun berkali-kali Kizashi mencoba menghentikannya, Mebuki tidak pernah mau kembali. Terlebih anak dari Minato dan Kushina masih hidup.

"Ayah, maafkan aku." Sakura memeluk Kizashi bersama air mata yang mengalir di kedua pipinya. "Aku tidak akan mengungkit Ibu lagi. Aku tidak bisa melihat Ayah sedih dan menangis."

Kizashi membalas pelukan Sakura erat. Perkataan Sakura semakin menusuk jiwanya. Menghujamnya berkali-kali. Sakura tidak seharusnya minta maaf.

"Aku percaya pada Ayah."

Detik itu Kizashi merasa hampir hancur. Dustanya dipercaya oleh putri semata wayangnya. Bagaimana kalau suatu saat nanti Sakura mengetahui semua kebenarannya? Kizashi tidak bisa melihat wajah kekecewaan Sakura. Tidak, ia tidak bisa. Kizashi tak sanggup.

xxx

Seminggu berlalu sejak kejadian di mana Sakura diculik. Seharusnya Naruto tengah menikmati masa liburnya karena di awal ia diminta untuk menjaga Sakura setidaknya dua minggu saja, tapi satu bulan berlalu dan ia masih berada di sisi Sakura sebagai bodyguardnya. Tak masalah. Naruto terima saja karena dengan ini ia bisa dapat gaji tambahan, terlebih selama seminggu ini Sakura berubah menjadi pribadi yang lebih diam. Namun, bukan berarti Naruto tidak khawatir. Sikap Sakura yang berubah drastis justru membuat Naruto semakin khawatir.

Wanita musim semi itu tidak pernah main keluar lagi, hanya keluar jika kuliah dan ada keperluan penting. Waktu senggang Sakura seringkali dihabiskan dengan membaca buku, bermain game, tidur, tapi terkadang wanita itu melamun dengan wajah yang menyiratkan kesedihan.

Seperti saat ini. Hari minggu, Sakura duduk di ruang tengah, buku kedokteran tergenggam di tangannya, tapi ia sama sekali tidak melihat buku itu. Seakan fokusnya ada di tempat lain. Naruto yang memandangnya cukup lama merasa khawatir. Naruto juga tidak mengerti mengapa ia harus peduli pada wanita itu.

"Sakura."

Tidak ada respon.

"Hei, Sakura Haruno."

Masih tidak ada respon.

Merasa kesal karena tidak diacuhkan, Naruto berdiri, menghampiri Sakura yang duduk di seberangnya dan mengambil buku itu dari tangan Sakura. Naruto menutup buku itu, lalu meletakkannya di atas meja.

"Apa yang kaulakukan?!" tanya Sakura, berteriak marah.

Naruto mendengus. "Oh, ternyata masih sadar. Kukira kerasukan makhluk halus."

"Kau ini bicara apa?" tanya Sakura tak mengerti. Ia hendak mengambil bukunya lagi, tapi Naruto lebih dulu mengambilnya, sukses membuat Sakura makin kesal.

"Ini hari minggu. Jadi, belajarnya juga harus libur." Naruto menjauhkan buku itu dari Sakura, lalu meraih tangan Sakura dan menariknya. "Sebaiknya kau ikut aku."

"Ikut ke mana?" tanya Sakura dengan suara malas.

"Pokoknya ikut saja."

Sakura tak mampu menolak ketika Naruto menarik tangannya. Setelah izin ke salah satu pelayan untuk membawa Sakura ke luar, Naruto membawa Sakura ke arah mobilnya, dan menyuruh wanita itu masuk. Dengan malas Sakura hanya menurut. Raut wajah Naruto tampak serius, mungkin dia tidak ingin ada penolakan.

Kemudian, di sepanjang perjalanan, Sakura hanya diam. Ia tidak mau membuang energinya hanya untuk memarahi Naruto. Terlalu melelahkan dan ia sedang tidak ingin berdebat.

Naruto membukakan pintu mobil untuk Sakura. "Sudah sampai!"

Sakura mengerutkan kening menatap bangunan di depannya. "Untuk apa kita ke kamp pelatihan militer? Kau ingin aku jadi tentara?"

Naruto mengangkat kedua bahunya. "Untuk bersenang-senang, mungkin." Naruto menarik tangan Sakura setelah ia mengunci mobilnya, lalu membawa wanita musim semi itu ke sebuah lapangan besar.

Dari kejauhan, Sakura bisa melihat di tengah sana ada sebuah pesawat hercules bersama belasan orang berseragam militer. Sakura mengerutkan keningnya. Apa yang ingin dilakukan Naruto? tanyanya dalam hati. Perhatian Sakura teralih pada tangannya yang digenggam erat oleh Naruto. Oh, Naruto benar-benar tak beres hari ini.

"Naruto? Apa yang kaulakukan di sini?"

Naruto mengerutkan dahinya melihat Menma dan Ino muncul dari belasan orang di sana. "Kau juga. Sedang apa di sini?"

"Menemani mereka," jawab Menma seraya melirik para militer yang tengah sibuk memakai bermacam perlengkapan. "Pelatih mereka sedang izin, jadi aku diminta untuk mengawasi mereka."

"Jadi, kau sedang apa, Naruto?" tanya Ino sambil melingkarkan tangannya di lengan Menma.

"Boleh kami ikut?"

"Hmm... boleh saja, sih. Sakura-san juga?" tanya Menma seraya menurunkan tangan Ino yang menempel manja di lengannya.

Naruto mengangguk.

"Karena semuanya sudah siap, kalian pakai perlengkapannya di pesawat saja, ya?"

"Oke."

Sakura hanya bisa memandang perbincangan Naruto dan Menma bergantian dengan alis bertaut. Ikut ke mana? Naruto akan membawanya jalan-jalan naik pesawat? Sakura tak banyak tanya dan mengikutinya ketika Naruto kembali menarik tangannya untuk naik pesawat besar berwarna loreng itu.

Untuk beberapa alasan Sakura masih merasa kacau. Padahal ia tahu ibunya telah meninggal sejak lama, tapi kenapa baru sekarang ia merasa begitu sedih? Tidak, bukan hanya sedih. Di satu sisi Sakura berpikir keras, mengapa semua foto ibunya disingkirkan? Bahkan ayahnya tak meninggalkan satu lembar pun untuknya. Di makam pun foto ibunya juga tidak dipasang. Ingin memintanya pun Sakura tak bisa. Sakura tidak mau melihat ayahnya menangis lagi.

"Aw!"

"Maaf, apa terlalu kencang?" tanya Ino ketika memasangkan sabuk di pinggang Sakura. Ino sedikit melonggarkannya sebelum menguncinya kembali. "Sudah selesai!"

"Sebenarnya untuk apa ini?" Sakura melihat tubuhnya sendiri. Rompi hitam terpasang di tubuh dan beberapa sabuk yang mengikat bagian paha dan pinggangnya.

Ino mengulas senyum. "Tentu saja persiapan untuk sky diving. Kau mau mati saat terjun bebas nanti?"

Sakura melebarkan matanya. "Te-terjun bebas?!"

Ino mengangguk.

Sontak Sakura menoleh ke arah Naruto yang juga tengah bersiap-siap memakai perlengkapan. Kedua tangan Sakura terkepal erat, darahnya seakan mendidih, dan giginya saling beradu keras. Sakura berjalan ke arah Naruto, lalu tanpa ampun ia menarik kerah Naruto dengan kuat.

"Kenapa kau tidak memberitahuku kalau kita mau sky diving, hah?!" murka Sakura dengan wajah memerah.

Naruto nyaris menutup kedua telinganya mendengar teriakan Sakura mampu mengalahkan mesin pesawat yang berderu keras. Mau mundur pun tak bisa saat melihat kilatan tajam di kedua mata hijau Sakura. "Ku-kukira kau sudah tahu! Harusnya kau tahu saat melihat kami memakai perlengkapan seperti ini, kan?!" balas Naruto tak kalah keras seraya mengangkat tas parasutnya.

Sakura melepaskan cengkeramannya dari kerah Naruto dan mendorongnya. "Aku tidak tahu! Pokoknya aku mau turun sekarang juga!" serunya sambil berkacak pinggang.

Naruto mendengus. "Kalau begitu, lompat saja sana!"

Lalu seluruh pasang mata menatap Naruto dan Sakura.

"Kau mau aku mati, hah?!"

"Tentu saja tidak! Aku akan dipenggal Kizashi-san kalau melakukannya!"

"Tapi caramu ini benar-benar ingin membunuhku!"

"Ya, itu benar! Bukan kau yang kubunuh, tapi kelakuanmu murungmu selama ini! Kau tidak tahu kalau itu menggangguku?!"

Kemudian hening. Sakura yang sudah membuka mulutnya untuk membalas perkataan Naruto kembali menutupnya. Tak ada suara yang keluar dari mulut wanita musim semi itu. Sakura mengalihkan atensinya ke arah lain. Apa kelakuannya ini membuat Naruto khawatir? Memikirkannya saja membuat wajah Sakura mulai memanas. Sakura menggeleng cepat, menepis segala pemikirannya. Naruto itu cowok tidak peka, jadi tidak mungkin dia repot-repot mengkhawatirkan orang lain.

"Kenapa kau harus terganggu? Seharusnya kau senang, kan?" ujar Sakura dengan suara rendah, masih tak mau menatap Naruto.

"Yah... pokoknya itu menggangguku!" balas Naruto sekenanya, lalu mendekati Sakura. "Kau mau lompat sendiri atau denganku?" tanya Naruto, tak mau melanjutkan perdebatan yang membuatnya lelah.

"Tentu saja aku tidak mau lompat!" Sakura melipat kedua tangannya di depan dada, lalu menyipitkan matanya ke arah Naruto.

"Ayolah! Sky diving itu seru, kok! Seru banget!" Ino menyela Naruto yang sudah membuka mulut. Gadis berambut pirang itu mendekati Sakura, lalu merangkul pundaknya. "Sebentar lagi kita harus lompat. Kalau kau lompat bersama Naruto, aman, kok. Naruto kan profesional." Ino mengedipkan sebelah matanya sambil mengacungkan ibu jari.

Sakura masih terlihat ragu.

Ino tersenyum tipis. "Bisa menghilangkan stres juga, lho." Ino mendekatkan bibirnya ke telinga Sakura. "Sebenarnya aku juga sedang stres karena cowok yang kutaksir nggak pernah peka," bisik Ino sambil melirik Menma yang tak jauh dari sana.

"Kau pasti sedang menjelekkanku." Menma mendengus sebal.

"Bagaimana caranya?" tanya Sakura.

Ino menyeringai lebar, lalu mendorong punggung Sakura ke arah Naruto. "Pokoknya kau harus ikut dulu." Netra Ino beralih ke arah Naruto. "Bawa Sakura bersamamu."

Tak banyak kata, Naruto segera berdiri di belakang Sakura, lalu mengaitkan sabuknya dengan milik Sakura.

Tubuh Sakura merasa kaku, sekaligus merinding saat merasakan napas Naruto menerpa tenguknya. Sakura merasa wajahnya makin panas, jantungnya berdegup cepat, rasanya seperti mau lompat dari rongganya. Astaga, kenapa posisinya sedekat ini? maki Sakura dalam hati.

Setelah itu, suara speaker yang memerintahkan bahwa mereka sudah sampai tujuan berbunyi nyaring, cukup mengalahkan suara keras mesin baling-baling yang berputar. Pintu di buka, lalu angin dengan tekanan kuat menerpa seisi pesawat.

"Baiklah, semuanya terjun dari pesawat ini!" Setelah memberi perintah, Menma lebih dulu terjun, lalu diikuti para anggota latihan militer.

"Kau harus pakai ini," kata Naruto sambil memberikan glasses dan helm.

Sakura tak bisa menoleh ke belakang untuk menatap Naruto, mungkin lelaki itu juga tengah memakai kacamata dan helmnya. Jadi, Sakura hanya mengangguk, lalu memakainya juga. Ia tak banyak berkomentar lagi meskipun kali ini jantungnya mulai berdegup ketakutan. Kakinya lemas ketika ia dan Naruto berjalan mendekati pintu. Sakura sedikit melirik ke arah bawah, lalu ia menarik napas panjang.

"A-aku mau pingsan saja."

"Kau ini kenapa takut sekali?" Naruto menghela napas lelah. "Kau akan baik-baik saja."

"Kenapa kau bisa seyakin itu?"

"Bukannya Ino sudah bilang aman kalau lompat bersamaku?" tanya Naruto, membuat Sakura terdiam. "Lagi pula, kalau parasutnya tidak terbuka pun aku akan tetap melindungimu."

Kedua pipi Sakura sontak memerah mendengarnya. Perasaan malu sekaligus takut menghantam dirinya. "Ja-jangan katakan hal seperti itu. Kau membuatku takut!"

Naruto tertawa pelan. "Kenapa? Kau mengkhawatirkanku, Sakura?"

"Bu-buat apa aku khawatir?" Sakura mulai sebal. Andai saja ia bisa menoleh bebas untuk menatap wajah Naruto, ia pasti akan mengabadikan ekspresi lelaki itu di otaknya. Sakura terdiam sesaat, kenapa juga ia harus mengabadikan ekspresi Naruto yang tengah tertawa? Tidak penting. Tapi untuk orang tanpa ekspresi seperti Naruto, Sakura cukup penasaran. Sakura ingin lihat bagaimana macam-macam ekspresi Naruto, tentunya selain ekspresi marah. Bagaimana wajahnya saat senang? Sedih? Kecewa? Menangis? Atau hancur? Entah mengapa, Sakura ingin melihatnya.

"Kalian berdua harus cepat terjun, ya! Kalau tidak, kalian akan mendarat di laut!" seru Ino sebelum terjun dari pesawat.

Sakura sadar bahwa sekarang ia dan Naruto adalah orang terakhir yang belum terjun. Sakura meneguk ludah saat Naruto mulai bergerak maju, langkah kakinya ikut maju. Tanpa persetujuan Sakura, Naruto lebih dulu menjatuhkan tubuh mereka di udara.

"AAA... OH GOD! I'M GONNA DIE!" jerit Sakura ketika gravitasi menarik tubuhnya. "APANYA PELEPAS STRES?! AKU MAKIN STRES SEKARANG!"

Di sela-sela jeritan Sakura, Naruto tertawa keras. "Bukan begitu caranya! Lihatlah cara Ino setelah ini," kata Naruto dengan suara keras.

Detik itu, suara Ino yang beradu dengan tekanan udara berhasil memasuki indra pendengar Sakura.

"MENMA! AKU SUDAH MENCINTAIMU SEJAK LAMA! MAU SAMPAI KAPAN KAU MENGGANTUNGKU?! AKU SUDAH TERLALU LAMA MENUNGGU, TAHU! DASAR TIDAK PEKA!"

"Kau dengar itu? Benar-benar penghilang stres, kan?"

Perasaan takut masih menyelimuti Sakura. Ia menatap tanah yang masih jauh di bawah sana. Sakura memejamkan matanya, berusaha menenangkan dirinya. Kemudian ia menarik napas panjang, lalu melepas seluruh perasaannya selama ini.

"AKU PAYAH SEKALI! TIDAK MUNGKIN IBUKU MASIH HIDUP! AKU MEMBUAT AYAH MENANGIS! AKU JANJI TIDAK AKAN MEMBUATNYA MENANGIS LAGI. AKU AKAN MEMBUAT AYAH TERSENYUM BANGGA!"

Tanpa sadar di belakang punggung Sakura, Naruto menarik kedua sudut bibirnya ke atas. Jadi, itu yang mengganggu Sakura selama ini? Wanita ini membuat Kizashi menangis. Sakura pasti sangat menyayangi ayahnya.

"...DAN JUGA NARUTO, KAU TIDAK ADA PERASAAN KHUSUS UNTUKKU?! LEMBUTLAH PADAKU, SEDIKIT SAJA! AKU MENYUKAIMU!"

Dua kata terakhir yang diteriakan Sakura sukses membuat Naruto terdiam sejenak. Otaknya tiba-tiba berhenti bekerja saat mencerna dua kata itu. Naruto juga tidak mengerti kenapa jantungnya jadi berdegup secepat ini. Tidak mungkin ia takut ketinggian. Ia sudah berkali-kali terjun dari pesawat dan itu bukanlah hal menakutkan untuknya. Tak lama kemudian, Sakura kembali berteriak, menarik Naruto dari lamunannya.

"NARUTO! KENAPA KAU BELUM TARIK PARASUTNYA?!" jerit Sakura ketika Naruto tak kunjung menarik parasut saat semua yang ada di sana telah bergerak turun perlahan dengan parasut terbuka lebar.

Naruto membelalakkan mata. Ia sampai tak sadar bahwa ketinggiannya saat ini mengharuskan dirinya membuka parasut. Dengan cepat, Naruto menarik keluar parasutnya.

Sakura menghela napas lega. Ketakutannya sedikit mereda karena parasut membuat mereka turun perlahan. Angin tak lagi menghantam keras tubuhnya, melainkan bertiup menenangkan. Sakura cukup takjub melihat pemandangan dari atas. Semuanya begitu kecil, juga indah. Perasaannya juga tidak lagi kacau seperti sebelumnya. Kali ini ia berutang pada pria ini.

"Arigatou, Naruto," gumam Sakura dengan senyuman di bibir.

xxx

Menma memberikan Ino sebotol air mineral yang baru saja dibelinya di vending machine, ia lalu mendudukkan diri di samping Ino. Saat Menma menoleh ke arah Ino, wanita itu tengah menenggak minumannya dengan rakus.

"Masih sakit?" tanya Menma.

"Tidak. Tenggorokanku tidak sakit lagi."

Menma menghela napas, ia merogoh saku seragamnya dan menyodorkan sebungkus permen sakit tenggorokan untuk Ino. "Lagian kau kenapa, sih? Berteriak sekeras itu. Kau gila, ya?"

Ino menyipitkan mata, mulai sebal. Ia membuka bungkus permen, lalu memakan isinya. Rasa mint dan manis menyebar di lidah. "Tentu saja membuatmu sadar."

"Sadar apa?"

"Memangnya kau tidak dengar teriakanku tadi?"

"Tidak."

Ino melebarkan matanya, menatap Menma yang memasang wajah polos. Emosi Ino mulai tersulut. Tanpa izin, ia langsung memukul pundak Menma dengan kesal. "Kau! Menma, kau menyebalkan! Menyebalkan!"

Rasanya Ino ingin menangis. Bertemu Menma tiga tahun lalu, menjalankan tugas bersamanya berkali-kali membuat Ino menyukai lelaki itu. Namun, sekali saja Menma tak pernah membalas perasaan sukanya. Ino bukan tipe wanita yang suka memendam perasaan, terlebih untuk Menma. Kesabaran ada batasnya. Kenapa Menma tidak pernah menjawab perasaannya? Apa lelaki itu tidak peduli padanya? Sial, ini benar-benar menyakitkan.

"Kau menyebalkan, Menma! Kenapa kau jahat sekali?! Percuma saja aku mencintaimu selama ini!"

Ketika Ino ingin memukulnya lebih keras, tangan kekar Menma lebih dulu menangkapnya, lalu menggenggamnya erat. Netranya menatap lurus iris aquamarine yang mulai berkaca-kaca.

"Kau tidak perlu berkata apa-apa lagi. Aku tahu perasaanmu padaku."

"Jadi..."

"Tapi aku belum bisa membalasnya," potong Menma cepat.

"Kenapa?" lirih Ino.

Menma merasa bersalah. Melihat wajah sedih sekaligus kecewa Ino membuat Menma tak berdaya. "Aku tidak suka hubungan main-main, aku ingin serius denganmu. Tahun lalu aku juga sudah memutuskan untuk menikahimu."

Ino melebarkan matanya, menatap Menma dengan pandangan tak percaya. Kegelisahannya selama ini menguap, tergantikan perasaan senang yang memenuhi dadanya.

"Tapi tidak sekarang." Menma mengusap kedua tangan Ino dengan lembut. "Kalau aku menikahimu, berarti aku harus meninggalkan Naruto. Aku belum bisa. Kau paham situasiku, kan? Kau juga tahu masa laluku, kan? Bisakah kau menungguku sebentar lagi? Jangan berhenti mencintaiku."

Tanpa bisa ditahan, Ino menjatuhkan air mata. Ino tersenyum, lalu menjawab, "Tentu saja."

"Apa jawabanku membuatmu tenang?" tanya Menma seraya melepas genggamannya. Tangan kanannya terulur ke wajah Ino, lalu menyapu jejak air mata di pipi lembut wanita itu.

Ino mengangguk. "Kau tidak bohong, kan?"

"Aku janji." Menma tersenyum lebar, kali ini dengan sedikit rona merah di pipinya. "Aku tidak suka melihatmu menangis, jadi jangan menangis lagi."

"Kenapa? Kau khawatir?" Ino tertawa kecil.

"Bukan. Mukamu jadi tambah jelek."

Rasa bahagia yang Ino rasakan seketika menghilang. Ino mengepalkan tangannya, lalu memukul bahu Menma lagi. Kali ini lebih kuat dari sebelumnya, cukup membuat Menma meringis sakit.

"Perusak suasana! Kau menyebalkan!"

Sambil menahan berbagai pukulan dari Ino, Menma memaki lidahnya. Sungguh, ia tidak sengaja. Tapi ia juga tidak mau mengatakan bahwa dirinya khawatir. Nanti Ino bisa kegirangan. Beruntung saat ini sedang jam makan siang. Jadi, tidak ada saksi mata yang menyaksikan pertengkaran konyol itu.

xxx

Di dalam mobil, Naruto dan Sakura terdiam. Tak ada yang membuka suara sejak mereka mendarat dengan parasut besar di sebuah lapangan. Dari lapangan besar itu, sudah ada mobil militer yang menunggu untuk membawa mereka kembali ke kamp militer. Di perjalanan itu pun Sakura hanya berbicara dengan Ino dan entah kenapa ia jadi canggung duduk di samping Naruto. Apalagi tadi ia menyatakan sesuatu yang seharusnya tidak ia katakan.

Tak tahan tenggelam dalam keheningan yang mencekam, Sakura mulai berdeham. "Terima kasih untuk hari ini," kata Sakura tanpa menoleh ke arah Naruto.

Naruto hanya melirik Sakura sesaat sebelum kembali fokus pada jalan di depannya. "Tidak ada masalah lagi, kan?"

"Tidak."

Naruto menginjak rem ketika trafic light berubah merah. Kemudian, ia menoleh ke arah Sakura. "Jadi, kau menyukaiku, Sakura?"

Hening beberapa saat. Tubuh Sakura membeku. Ia tak menyangka Naruto menyinggung soal itu tanpa basa-basi lebih dahulu. Kedua tangan Sakura saling meremas. Wajahnya mulai memanas, seakan semua darahnya naik ke kepala. Jantungnya berdebar cepat lagi, membuat Sakura sulit menarik napas untuk menenangkan diri.

"Apa benar? Tidak ada wanita yang menyukaiku. Kau tidak salah?"

Sakura mengalihkan pandangannya ke luar jendela. "I-itu karena kau suka bersikap kasar, tapi kali ini kau baik padaku. Kau juga sudah menolongku waktu itu." Dengan sedikit keberanian yang ia kumpulkan, Sakura melirik ke arah Naruto. "Bagaimana denganmu? Kau menyukaiku?"

"Hmm... bagaimana, ya?" gumam Naruto seraya menginjak gas mobilnya lagi saat lampu berubah hijau. "Entahlah. Aku tidak begitu mengerti, tapi kau membuatku sedikit berubah," lanjut Naruto tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan.

Sakura menautkan kedua alisnya. "Apanya yang berubah?"

Naruto terdiam sejenak, memikirkan kata yang tepat untuk mengutarakan perasaannya saat ini. "Kau tahu? Selama ini hal yang sering menghantui duniaku itu kegelapan, tapi setelah bertemu denganmu, rasanya ada yang berbeda. Mungkin agak berwarna."

Kening Sakura mengerut, sama sekali tak paham dengan penjelasan Naruto. Namun, ia tetap diam. Sakura ingin tahu lebih banyak apa yang dipikirkan Naruto saat ini.

"Menma bilang aku ini hobi sekali marah-marah, dingin, ketus, juga jarang tersenyum. Tapi setelah bertemu denganmu, beberapa kali aku merasakan sesuatu yang menggelitik. Meskipun kau menjengkelkan, kalau melihat senyummu, entah kenapa aku jadi senang dan jantungku jadi berdebar tak karuan." Tanpa sadar Naruto tertawa kecil. Tak lama kemudian, ia tersadar apa yang baru saja ia katakan. "Ah! Lupakan saja perkataanku tadi," lanjut Naruto canggung saat melihat pipi Sakura yang memerah. Sial, lagi-lagi perasaan itu datang. Naruto merasa perut dan dadanya diisi oleh kupu-kupu beterbangan.

"Mana bisa aku melupakannya," balas Sakura dengan wajah bersemu merah, lalu memberanikan diri menoleh ke arah Naruto. "Momen langka mendengarmu bicara seperti itu. Harusnya tadi kurekam." Sakura mulai menyeringai jail, membuat Naruto memutar bola mata.

"Sepertinya kau jadi menyebalkan lagi, jadi aku juga tidak akan baik lagi."

"Eh? Kenapa begitu?"

"Karena kau makin menyebalkan."

Sakura tertawa mendengarnya. "Sifat dinginmu itu keturunan siapa, sih? Ayah atau ibumu?"

"Tidak keduanya. Ayahku orangnya lembut dan bijaksana, kalau Ibuku hiperaktif dan ceria, tapi kalau marah sangat mengerikan."

"Bagaimana sosok ibumu?"

Naruto mengulas senyum tipis saat mengingat wajah ibunya, tapi secara bersamaan ia kembali mengenang masa lalunya yang tragis. "Ibuku cantik," balas Naruto sambil melirik Sakura sesaat. "Mau mengunjungi makamnya?"

"Aku boleh mengunjunginya?"

"Kenapa tidak?" balas Naruto santai.

"Kalau begitu, kita harus beli bunga dulu. Aku tahu tempat yang bagus."

Setelah itu, Naruto membawa mobilnya mengikuti instruksi Sakura hingga sampai di sebuah toko bunga dengan papan besar bertuliskan 'Shiragiku Flower' yang tergantung di atas pintu masuk. Tak butuh lama, mereka keluar membawa dua ikat mawar putih.

"Terima kasih, Shiragiku-san." Sakura membungkuk sesaat pada wanita yang tengah tersenyum padanya di mulut pintu masuk toko.

"Sama-sama. Kalau senggang, mampirlah ke sini. Aku bisa menceritakan banyak hal tentang ibumu."

Sakura tersenyum lebar. "Kalau begitu, nanti aku akan mampir," sahutnya antusias.

"Kutunggu."

Setelah itu, Sakura masuk ke mobil dan Naruto segera melajukan mobilnya menuju pemakaman. Perjalanan hampir memakan waktu 40 menit. Di sinilah mereka, berdiri di depan dua nisan yang berdekatan.

"Mereka adalah orang tuaku." Naruto menatap dua nisan di depannya dengan tatapan sendu. Meskipun bertahun-tahun telah berlalu, nyatanya luka di hatinya permanen, tidak bisa disembuhkan.

Sakura meletakkan satu ikat mawar di makam yang bertuliskan 'Kushina Namikaze', lalu yang satunya ia letakan tepat makam bertuliskan 'Minato Namikaze'. Kedua iris zamrud Sakura menatap foto yang terbingkai dalam kaca, terpasang di nisan keramik putih itu. Di sana ada foto seorang wanita berambut merah darah dengan senyuman lebar dan seorang pria dengan senyuman menawan.

"Ibumu cantik sekali."

"Kan sudah kubilang."

"Wajahmu dan Menma mirip sekali dengan ayah kalian."

"Sayangnya sifat kami tidak sama dengannya."

"Boleh kutahu kenapa mereka meninggal?" tanya Sakura tanpa mengalihkan perhatiannya dari kedua nisan di depannya.

Selama beberapa detik Naruto tak menjawab, lalu dengan suara datar Naruto berujar, "Mereka dibunuh. Diledakkan bersama rumahku."

Kedua mata Sakura membola, mulutnya terbuka tak percaya. Tubuhnya seketika bergetar mendengar jawaban Naruto. Sakura tak menyangka kematian orang tua Naruto benar-benar tragis. Perlahan, Sakura menolehkan kepalanya, lalu terkejut melihat ekspresi Naruto yang menyiratkan rasa sakit dan kesedihan yang mendalam.

Tanpa sadar Sakura mendekatkan dirinya ke arah Naruto, lalu memeluknya erat. Air mata jatuh dari kedua mata Sakura, seakan ikut merasakan penderitaan Naruto selama ini.

"Pasti berat. Kau telah melewati masa-masa sulit."

Mendengar isak Sakura membuat Naruto turut menangis. Kenangan lama kembali berputar di otaknya. Wajah-wajah pelayan yang berdarah, tangis kedua orang tuanya sebelum rumahnya diledakkan, lalu Naruto sendiri harus menderita karena disekap dan disiksa tanpa ampun. Kedua tangan Naruto terangkat, membalas erat pelukan Sakura. Menyakitkan, kenapa masih semenyakitkan ini? Padahal itu kejadian 15 tahun lalu.

"Mereka akan datang lagi padaku dan Menma," kata Naruto dengan suara serak. "Lalu membunuh kami."

"Kau akan baik-baik saja." Sakura mengusap punggung Naruto, berusaha menenangkannya.

"Kalau aku tidak apa-apa, tapi jangan Menma. Aku tidak mau kehilangan siapa pun lagi." Naruto semakin mengeratkan pelukannya, membuat Sakura sulit bernapas.

"Kalian akan baik-baik saja. Percayalah padaku." Sakura terus mengusap punggung Naruto dan akhirnya kembali bebas bernapas ketika Naruto melonggarkan pelukannya, lalu melepaskannya dengan kasar.

"Menjauhlah dariku!" serunya sambil mengusap air mata. "Sekali muncul malah di kuburan, kenapa tidak di tempat yang lebih bagus lagi?" lanjutnya sambil mendecih sebal.

Sakura melongo melihat perubahan sikap Naruto.

"Ada apa, Haruno-san? Kalau cari Naruto, tidak ada lagi. Sudah kuseret dia ke dalam."

"Jadi, kau Kurama?"

"Memangnya siapa lagi?" dengusnya.

Sakura hanya tertunduk, lalu kembali menatap kedua nisan itu bergantian. "Kurama, kenapa kau muncul dalam diri Naruto? Kau pribadi yang seperti apa?"

Kurama terdiam, turut menatap nisan orang tua Naruto. "Aku pribadi yang diinginkan Naruto. Kuat dan tidak takut pada apapun. Dia ingin lebih kuat karena waktu kecil dia pernah disiksa, lalu aku muncul sebagai pribadi itu."

"Kenapa kau muncul sekarang?"

"Aku muncul ketika suasana hati Naruto melemah. Setelah Naruto tenang, akan kukembalikan lagi kesadarannya."

"Kalau dipikir-pikir lagi, kau ada baiknya juga, ya?" Sakura tersenyum tipis, mengusap ujung matanya yang basah.

Kurama mendengus dan tertawa kecil. "Asal kau tahu saja, sebenarnya aku ingin mengambil alih tubuh ini, tapi Naruto punya kekuatan untuk mengalahkanku. Jadi lihat saja nanti. Kalau Naruto hancur karena kelemahannya sendiri, aku yang akan mengambil alih tubuhnya."

"Kupastikan kau yang akan kalah." Sakura tersenyum, menatap Kurama yang menaikkan sebelah alis. "Karena Naruto jauh lebih kuat darimu."

Kurama turut tersenyum tipis. "Lihat saja nanti."

Suara dering telepon membuat Kurama mengambil ponsel dalam saku celananya. Ia melihat nama Menma di layar dan menjawabnya. "Halo. Aku bukan Naruto. Akan kuberitahu nanti alasan mengapa aku keluar. Makan malam di rumah Uchiha? Malam ini? Baiklah, aku akan ke sana."

"Kau mau ke rumah keluarga Uchiha?" tanya Sakura ketika Kurama menyimpan ponselnya.

"Begitulah. Lagi pula sudah sore. Kuantar pulang, ya?"

"Antarkan aku ke toko bunga Shiragiku."

Kurama menautkan alisnya. "Untuk apa? Naruto akan kena masalah kalau kau tidak kuantar pulang."

"Jangan khawatir. Pemilik toko itu teman ayahku. Dia bilang, aku boleh mampir ke tempatnya. Aku akan minta ayah menjemputku di sana."

"Yakin?"

"Tentu saja."

"Baiklah."

xxx

Tepat pukul 7 malam Naruto kembali mengambil alih tubuhnya. Saat ia sadar, ia tengah berada di meja makan bersama Menma dan keluarga Uchiha. Naruto mengerutkan kening, meletakkan sumpitnya dan menatap orang-orang di sana dengan tatapan bingung.

"Kenapa aku di sini?"

"Oh, kau sudah kembali rupanya," sahut Sasuke santai.

Naruto memijat pelipisnya, berusaha mengingat hal terakhir yang ia lakukan. "Aku di rumah Sakura, mengajaknya ke kamp pelatihan militer, lalu..." Naruto mengerutkan kening, ia lupa kejadian setelah itu. Apa yang ia lakukan bersama Sakura setelahnya? Kenapa ia bisa ada rumah keluarga Uchiha?

"Kau ikut sky diving bersamaku dan anggota latihan militer, lalu pergi ke pemakaman Ayah dan Ibu bersama Sakura, setelah itu Kurama muncul. Dia mengantar Sakura ke toko bunga Shiragiku, lalu kau ke sini saat aku meneleponmu karena keluarga Uchiha mengajak kita makan malam bersama." Menma yang duduk di samping Naruto memberikan penjelasan sebelum kembali memakan hidangannya.

Naruto berusaha mengingat kejadian itu, tapi ingatannya tidak bisa datang begitu saja. Naruto menghela napas. Lagi-lagi begini.

"Jangan terlalu dipikirkan. Habiskan makananmu dulu." Mikoto—Ibu Sasuke—berujar lembut.

"Kau akan mengingatnya nanti," sambung Itachi.

Naruto pun mengangguk dan melanjutkan acara makannya.

"Paman Fugaku belum pulang?" tanya Naruto saat matanya tidak menemukan sang kepala keluarga Uchiha.

Mikoto menggeleng. "Sepertinya dia akan pulang malam lagi." Mikoto menghela napas ketika memikirkan suaminya yang akhir-akhir ini pulang larut. "Sepertinya sedang banyak tugas. Dia memang selalu menomorsatukan pekerjaan dulu. Kalau dipikir-pikir seperti ayah kalian," lanjutnya sambil menatap Naruto dan Menma.

"Benarkah? Kalian sudah bersahabat sejak kapan?" tanya Menma antusias. Ia meneguk minumannya setelah makanan di piringnya tandas.

"Aku, Fugaku, Minato, dan Mebuki mulai berteman sejak junior high school. Saat kami duduk di senior high school, kami bertemu Kushina dan Fugaku."

"Hmm... jadi Ibu sudah kenal Ayah dari junior high school, ya? Apa Ibu mulai menyukainya sejak itu juga?" tanya Itachi, sedikit penasaran.

Wajah Mikoto mulai merona. "Ya, kau benar. Kisah cintaku sih mulus-mulus saja. Yang rumit itu cinta segi empat antara Minato, Kushina, Kizashi, dan Mebuki. Ah, itu benar-benar membuat kami pusing."

"Cinta segi empat? Ibu serius?" tanya Sasuke.

"Aku serius. Minato suka Kushina, Kushina juga suka Minato, tapi Mebuki suka Minato sejak SMP, lalu Kizashi suka Mebuki. Rumit, kan?"

"Memikirkannya saja sudah membuatku sakit kepala," kata Naruto tak bisa membayangkan betapa rumitnya cinta mereka.

Menma tertawa, lalu menyikut Naruto pelan. "Kalau begitu, jangan dipikirkan. Otakmu bisa koslet."

Naruto menatap Menma dengan tatapan tajam.

"Apa persahabatan kalian baik-baik saja?" tanya Itachi.

"Kurang baik, semenjak kami lulus kuliah. Mebuki jadi suka bermusuhan dengan Kushina, tapi entah apa yang dipikirkan Minato, dia langsung melamar Kushina tanpa menyelesaikan masalahnya dengan Mebuki. Minato dan Kushina saling mencintai, jadi tidak ada yang bisa menghalangi. Setelah itu, sepertinya Mebuki bisa melupakan Minato dan membuka hatinya untuk Kizashi, lalu mereka menikah. Tapi setelah mereka punya anak, tiga tahun kemuadian Mebuki kecelakaan dan meninggal." Ekspresi Mikoto berubah sendu.

"Hmm... jadi begitu," gumam Sasuke, menikmati cerita Mikoto. "Kalian berenam bersahabat, sekarang tinggal kalian bertiga, ya."

Mikoto mengangguk. "Minato, Kushina, dan Mebuki mendahului kami." Beberapa detik Mikoto kembali mengenang masa lalunya, lalu tersentak dan tertawa kecil. "Kenapa jadi galau begini? Akan kubereskan semuanya. Kalian istirahat saja."

"Terima kasih makan malamnya, Bibi." Menma dan Naruto berujar bersamaan.

"Sudah malam. Kalian menginap di sini saja." Mikoto tersenyum lembut.

"Bagaimana?" tanya Menma.

"Baiklah. Lagi pula sudah malam, aku agak lelah."

"Hei, kalian tertarik dengar kasusku?" tanya Itachi ketika beranjak dari kursi, menyeringai lebar ke arah adik-adiknya.

"Boleh!" sahut Menma antusias.

Di mata Menma, Itachi adalah seorang kakak yang paling ia kagumi. Meskipun profesinya saat ini terbilang keren, tapi profesi Itachi sebagai mata-mata lebih keren darinya. Apalagi jika Itachi berhasil memecahkan sebuah kasus. Hipotesa si sulung Uchiha itu benar-benar mengagumkan.

"Ayo ke kamarku," ajak Itachi dan disambut semangat oleh Menma.

xxx

Di toko bunga Shiragiku, Sakura dan Shiragiku tengah duduk berhadapan di meja bundar sambil menikmati teh hangat. Meja itu diletakkan di tengah toko. Sengaja diletakkan di sana karena Shiragiku suka merangkai bunganya di meja itu. Sakura juga menyukainya. Karena ia bisa menikmati obrolan dan tehnya sambil memandangi warna-warni bunga dan menikmati aromanya yang menenangkan.

"Jadi, kalian bertujuh bersahabat baik, ya? Sepertinya kisah cinta Ayah dan Ibu rumit sekali. Mereka berdua sama-sama bertepuk sebelah tangan. Untung Ibu bisa membuka hatinya untuk Ayah." Sakura tersenyum puas sebelum menyesap teh hangatnya.

Shiragiku tersenyum. "Ya, kau benar." Lalu tatapan wanita berambut cokelat panjang itu berubah sendu. "Sayang sekali, Mebuki meninggal tragis seperti itu."

Kepala Sakura tertunduk, kembali merasa sedih. "Kalau saja ibu tidak kecelakaan."

"Kecelakaan?" Shiragiku menautkan alisnya.

"Ya, Ayah bilang Ibu meninggal karena kecelakaan. Mobilnya masuk ke jurang."

"Kizashi bilang seperti itu?"

"Memangnya kenapa?"

"Ibumu dibunuh. Kenapa dia bilang kecelakaan?"

Detik itu Sakura menjatuhkan cangkirnya, ia membelalak tak percaya oleh perkataan wanita di depannya.

.

.

To be continued

A/n: Halo. Ternyata setelah 3 bulan terbengkalai, akhirnya bisa update juga. Gimana pendapatnya soal chapter ini? Ya ampun, Naruto, Sakura, masalah kalian ribet banget, sih! Saya sampe pusing ngatur plotnya :')

Naruto: Mampus lu, thor!

Sakura: Makanya jangan bikin fic genre crime! Pusing sendiri, kan?!

Oh ya, saya butuh beberapa komentar dari kalian. Boleh? Jadi, saya butuh pendapat tentang tulisan saya. Kurang apa? narasinya terlalu membosankan? Alurnya kecepetan? Atau apapun itu, saya akan sangat menghargainya :)

Tambahan lagi, meskipun udah gak sibuk dengan kegiatan sekolah, saya masih sibuk cari kerja. Mohon doakan ya, teman-teman ^^ minggu lalu saya habis psikotes. Doakan saya lolos biar gak stres di rumah mulu XD.

See you in next chapter!