Title : Someone Like Me (Your Eyes)

Genre : Brothership, Family, Drama

Cast : Cho Kyuhyun, Kim Kibum

Rated : Fiction T

Warning : Typo(s), Geje, Bored, Drama, Bad Plot, OOC (Out of Character). Dia *nunjuk Cho Kyuhyun* masih diusahakan milik saya. Don't like it? Don't read it! Mind to RnR?

Disclaimer : All cast isn't mine. I own only the plot. Don't copy paste without permission.

.

Princesskyunie

.

Proudly

.

Present

.

.

3

Flashback

Kyuhyun mengalihkan pandangannya dari si murid berkacamata yang menatapnya dengan tatapan memohon untuk tak berpindah ke kursi disampingnya meski mulutnya memintanya pindah tempat duduk. Anak itu mencoba memfokuskan dirinya pada ponsel ditangannya. Seulas senyum terlukis ketika ia menyentuh gantungan ponselnya.

Srak

Begitu cepat dan mata Kyuhyun membelakak karenanya. Kini, gantungan ponselnya terlepas dari ponsel bututnya dan berpindah ke tangan si siswa bermata sipit yang sejak ia datang sudah menatapnya penuh minat, seolah dia mainan yang menyenangkan.

"Berpindahlah dan akan kukembalikan padamu" sebuah tawaran dan Kyuhyun ingin sekali menunjukan senyum iblisnya pada teman barunya itu. Untunglah Kyuhyun masih tahu diri, ia masih ingat kalau dia berjanji untuk sekolah dengan damai disini.

"Aku suka sinar matahari" lagi, Kyuhyun memberikan alasan konyolnya. "Tolong kembalikan"

"Aku penasaran apa yang membuat benda ini terlihat berharga dimatamu" si mata sipit nampak menghela nafas kasar sebelum mengucapkan kalimat dengan nada mencemooh. Kalau tidak ingat pesan Guru Jung tadi, ia mungkin sudah mengerjai si murid baru dengan segala ide yang terlintas di otaknya.

"Aku juga penasaran" temannya yang lebih tinggi itu mengangguk antusias disampingnya.

"Apa itu mahal?" temannya yang lain menyahut dengan nada pura-pura penasaran.

"Aku bertaruh, harganya bahkan tidak lebih dari sepertiga harga jepit rambutku" salah satu teman sekelas mereka menyahut, membuat suara-suara sumbang lainnya terdengar.

"Kalau begitu—mari kita buktikan" Junho terlihat sangat antusias melihat reaksi yang ditunjukan teman sekelasnya. Lagipula sudah lama ia tak bermain-main. Anak itu kemudian berlari keluar kelas setelah menyeringai pada Kyuhyun.

Kyuhyun sudah bersiap berlari mengejar si mata sipit yang berlari diikuti dua temannya sebelum seseorang menarik tangannya. "Lebih baik biarkan saja dia" Ahn Jaehyun, si ketua kelas, menatapnya dengan tatapan memohon.

"Kau memintaku membiarkannya?" Kyuhyun tersenyum miring, namun nada yang digunakannya mengancam. "Bahkan, jika aku harus memukulnya, akan kulakukan. Ah kau perlu tahu, harganya memang tidak mahal, tapi barang itu satu-satunya barang berharga yang kupunya" lanjutnya dan itu membuat Jaehyun melepaskan cekalannya pada anak baru dikelasnya. Membiarkan si murid baru mengejar Junho.

.

.

"Kemana Cho Kyuhyun?" Guru Jung yang akan mengakhiri kelasnya baru sadar saat tak mendapati si murid baru dikelasnya. Wanita itu menatap Ahn Jaehyun, si ketua kelas, meminta menjelaskan kemana perginya si murid baru.

"I—itu—"

"Dia membuat masalah tadi" Junho memotong. Sepasang maniknya melirik pada Ahn Jaehyun, menyuruh si ketua kelas diam. Junho tahu, meski tak terlalu peduli tapi Ahn Jaehyun bukanlah anak yang bisa berbohong dengan baik. "Dia memukulku, Yoosung dan Jaemin" lanjutnya sambil menunjuk dua temannya yang mengangguk antusias disampingnya.

Guru Jung memijit pangkal hidungnya, merasa pusing dengan ulah anak didiknya. Menghela nafas sebelum membuka buku didepannya. "Baik. Aku akan umumkan nilai ulangan Matematika kalian minggu lalu" gerutuan siswa-siswi terdengar. Itu ulangan dadakan yang diberikan Guru Jung. Dan sudah dipastikan nilai mereka tidak cukup bagus untuk dibanggakan didepan orang tua mereka.

"Kibum" Guru Jung memberi jeda, seulas senyum berkembang diwajahnya. "Selamat. Nilaimu sempurna" lanjutnya disambut bisik-bisik dari siswa lainnya. Mereka tidak terkejut dengan hasil sempurna yang selalu dihasilkan Kibum. Anak tunggal pengusaha paling berpengaruh di Korea itu memang sudah dikenal dengan kepintarannya. Bahkan Universitas Seoul sudah 'melamar'nya untuk masuk universitas itu tanpa test. Mereka berbisik untuk saling membanggakan dugaan mereka tentang nilai Kibum saat selesai mengerjakan soal ulangan dadakan itu minggu lalu.

"Terimakasih" Kibum membungkuk setelah kertas hasil ujian dadakan itu berpindah ke tangannya.

Tepat setelah Kibum mendudukan dirinya, bel pelajaran berakhir berbunyi. "Baiklah anak-anak, pelajaran kali ini selesai. Kumpulkan tugas individu kalian besok. Tak ada keterlambatan atau aku terpaksa memberi point pada kalian. Oh ya Ketua kelas, katakan pada Kyuhyun untuk menemuiku setelah jam pulang sekolah" katanya yang langsung diangguki Jaehyun.

Kibum mendengus begitu melihat Han Woosung –Sekretaris pribadinya, menatapnya didepan pintu kelas yang terbuka setelah Guru Jung keluar kelas. Anak itu segera membereskan peralatan sekolahnya kemudian tanpa mengatakan apapun segera meninggalkan kelasnya.

"Kita akan langsung ke perusahan. Pakaian ganti anda sudah saya siapkan di mobil" ucapan Sekretaris Han disambut dengusan oleh Kibum. Ayahnya sudah belajar dari kejadian waktu itu ternyata, dimana ia kabur saat para maid dan pengawal lengah. Sial.

.

.

Kyuhyun mengumpat setelah sudah kelima kalinya dia memutari atap sekolah, tempat dimana gantungan ponselnya dibuang Junho. Padahal ia yakin sekali, ia melihat Junho menjatuhkan gantungan ponselnya setelah melihat dia memukul kedua temannya itu. Tapi meski dia sudah mencarinya semenjak menyelesaikan hukumannya, dia tak juga mendapati dimana gantungan ponselnya.

"Bagaimana ini?" tanyanya entah pada siapa. Karena nyatanya ia memang sendirian sejak tadi.

Anak itu mendudukan dirinya ditepian atap sekolah. Dari tempatnya kini, ia bisa melihat seluruh bagian sekolah barunya. SM High School memang tak bisa disamakan dengan sekolah manapun yang pernah Kyuhyun lihat. Sekolah ini sangat luas dengan bangunan megah yang selama ini hanya bisa ia lihat di drama-drama yang ditonton Ibunya. Belum lagi peraturan ketat yang sempat membuatnya menelan saliva dengan sulit saat Kepala Sekolah lamanya mendikte begitu tahu ia diterima di SM High School. Dan anehnya, meski hatinya enggan menerima 'keberuntungan' ini, kaki Kyuhyun tetap melangkah kemari, bibirnya tetap mengatakan akan masuk sekolah ini –kepada siapapun yang bertanya padanya. Semuanya seolah berjalan berbeda dengan perintah otak dan hatinya.

Kyuhyun menghela nafas panjang, sedikit menertawai dirinya yang dihari pertamanya masuk sekolah malah terkena bully, meski tak seperti pembully-an yang sering dia bayangkan. Padahal sebelum masuk kelas pag tadi, ia sudah bertekad untuk tak melakukan apapun yang membuat anak-anak orang kaya itu meliriknya untuk dijadikan 'mainan'. Karena baginya, lebih baik dipandang cemooh asal ia bisa lulus dengan tenang. Tapi—ketika melihat tatapan takut Lee Jonghyun, entah mengapa kakinya malah melangkah ke meja lain, Padahal ia ingin mendekati Jonghyun, menanyakan ketakutan apa yang tengah dirasakan anak itu. dan nyatanya, kerja anggota badannya membuatnya membantu seseorang. Dan—membuat dirinya malah dilirik sebagai 'mainan' baru oleh teman sekelasnya.

"Bagus sekali Kyu. Kau membuat awal yang bagus" lirihnya menyindir dirinya sendiri sambil memukul pelan kepalanya.

Deg

Deg

"Aish kenapa lagi ini?"

Kyuhyun menghentikan kegiatan bodohnya –memukul kepalanya sendiri, ketika merasa jantungnya berdetak terlalu cepat. Dan ketika sepasang manik colekatnya menemukan sosok pemuda berkulit seputih salju itu, dia hanya bisa mendengus. Tetap memandangi sosok itu yang berjalan cepat dengan seseorang dibelakangnya. Namun, ketika hendak masuk kedalam mobil, sepasang manik sewarna gelap malam itu tepat menatap sepasang manik sewarna lelehan cokelat milik Kyuhyun. Dan Kyuhyun kembali merasa jantungnya berdetak melebihi normal.

"Sial" umpatnya sebelum berlalu dari atap.

.

.

Kibum menghentikan gerakannya yang hendak masuk kedalam mobil ketika merasa jantungnya berdebar terlalu cepat. Lagi. Mengikuti nalurinya, ia membalikan badan, menatap kearah atap sekolah. Disana, diatas sana, dia menemukan sepasang manik sewarna lelehan cokelat itu menatapnya intens.

Deg

Deg

"Eh?" Kembali normal ketika sosok berkulit pucat itu berlalu dari atap entah untuk kemana.

"Ada apa, Tuan muda?"

Kibum tersadar. Anak itu menoleh pada Sekretaris Han, menggeleng kecil sebelum kembali menatap kearah atap sekolah yang sudah kosong. Siapa sebenarnya dia? Membuka pintu mobil, Kibum masih sesekali mencuri pandang ke arah atap sekolah dengan banyak pertanyaan tentang si murid baru.

"Akan ada sekitar 20 relasi bisnis yang datang kali ini. Hampir setengahnya merupakan pebisnis dari—" belum selesai menjelaskan –seperti kebiasaannya sebelum Kibum bertemu para pebisnis, Kibum sudah memotong.

"Aku akan melakukan dengan baik" potong Kibum. Anak itu menatap keluar jendela. Salju masih turun meski tidak sederas pagi tadi. "Dan segera pulang" lanjutnya dengan mata yang mulai terpejam. Tiba-tiba saja bayangan Kyuhyun tengah duduk diatap sekolah mengusiknya. Sedang apa dia disana? Diudara sedingin ini? Apa dia mau sakit?

Kibum menggelengkan kepalanya. Ani. Apa yang kupikirkan?!

"Saya tahu anda akan melakukannya dengan baik" Sekretaris Han tersenyum samar, menyadarkan Kibum dari dunianya. Meski Kibum tak pernah menunjukan ketertarikannya pada dunia bisnis, tapi Sekretaris Han percaya anak itu selalu bisa diandalkan. Kibum cukup dewasa untuk tak melakukan hal kekanakan yang akan merusak nama baik Kim's Corp.

"Berapa lama anda bekerja pada keluarga Kim, Sekretaris Han?"

Pertanyaan yang diajukan Kibum setelah lama mereka terdiam dan tanpa membuka matanya itu berhasil membuat Manager Han menoleh. "21 tahun"

Kibum membuka matanya. "Eomma—berarti kau mengenalnya" bukan sebuah pertanyaan melainkan pernyataan, dan Sekretaris Han terdiam tanpa berani menatap Kibum. "Bagaimana rupa Eomma?" tatapan matanya melembut, tatapan kerinduan yang tak tersampaikan pada siapapun.

"Saya—tidak begitu yakin" jawab Sekretaris Han. Dan pria itu melihat tatapan Kibum menajam begitu ia menjawab. "Saat itu saya hanya pekerja kelas rendah. Jadi saya tak sering berhubungan dengan Presdir dan Nyonya" lanjutnya dengan pandangan menerawang. "Tapi—kata teman-temanku, Nyonya sangat cantik. Beliau punya mata seperti anda. Jika tersenyum mata Nyonya akan membentuk sabit" katanya dengan senyum kecil.

"Lalu—apalagi?"

"Huh?"

Tepat ketika Kibum hendak menjawab, smartphone Sekretaris Han berbunyi. Sebuah panggilan dari Ayahnya. Anak itu menggeleng ketika Sekretaris Han meliriknya, lalu pura-pura memejamkan matanya. Ia bersyukur karena Sekretaris Han mengatakan bahwa ia tertidur. Setidaknya, ia tak harus mendengar ceramahan Ayahnya tentang apa-apa saja yang harus dia katakan saat perkenalan nanti.

.

.

"Jung songsaengnim memanggilmu untuk menghadap"

Suara Ahn Jaehyun menyadarkan Kyuhyun bahwa pelajaran terakhir telah usai. Bahkan kelas sudah sepi, hanya ada beberapa anak yang sibuk menyalin catatan sambil sesekali cekikikan entah karena apa. Diam-diam Kyuhyun menghela nafas lega begitu tak mendapati Junho dan kedua temannya dikursinya. Setidaknya ia bisa pulang dalam keadaan baik-baik saja kali ini.

"Kau terlihat tak baik" komentar Jaehyun disambut ringisan dari bibir Kyuhyun. "Maaf untuk yang tadi" lanjutnya.

"Tak masalah. Aku sering berada diposisi seperti itu" Kyuhyun tersenyum samar. Anak itu membereskan peralatan belajarnya, memasukan kedalam ransel cokelatnya yang sudah usang. "Tapi lain kali—ada baiknya kalau kau berkata jujur" lanjutnya sebelum memeluk ranselnya didepan dada. "Terimakasih ketua kelas" katanya sambil berlalu dari sana, meninggalkan Jaehyun yang termenung.

.

.

Guru Jung tengah memeriksa tugas ketika Kyuhyun datang menghadap. Wanita itu menyuruh Kyuhyun untuk duduk sebelum mengamati Kyuhyun dengan seksama kemudian setelahnya menarik kertas dari atas mejanya. Sekali lagi, Kyuhyun membiarkan wali kelasnya itu mengamati kertas ditangannya. Ia tak berniat menyela, meski sebenarnya ia jengah juga.

"Selalu mendapat nilai sempurna di mata pelajaran Matematika. Nilai-nilai untuk semua mata pelajaran sains tak pernah dibawah 9" Guru Jung memulai, mendikte semua yang dibacanya dari berkas nilai-nilai yang dikirimkan Kyuhyun saat mendaftar beasiswa. "Kalau kau tak terlibat masalah, kau akan menjadi salah satu murid kesayanganku. Sayang sekali"

Kyuhyun tersenyum samar, sinis, mendengar ucapan wali kelasnya. Bukankah sejak awal, wali kelasnya sudah mendiskriminasi dirinya? Dan bukankah itu berarti 'membuat masalah' hanya alasan untuk wali kelasnya itu semakin tak menyukainya?

"Kau tahu apa kesalahanmu, Cho Kyuhyun?" tak menjawab, Kyuhyun hanya menatap Guru Jung. "Guru kedisiplinan mengatakan padaku bahwa kau tak berusaha membela diri"

Kyuhyun berkedip, sedikit tersentak dengan pertanyaan yang diajukan Guru Jung. Namun ia tetaplah salah satu pemain poker face terbaik, hingga wajah keterkejutannya tak terlihat.

"Apa—akan ada yang berubah kalau aku membela diri? Apa—mereka yang bersalah akan disalahkan?" Guru Jung tersentak mendengar pertanyaan yang diajukan Kyuhyun. Pertanyaan yang terdengar polos namun begitu menohoknya. "Tak ada kan, ssaem? Tak akan ada yang berada disisiku, karenanya daripada saya melakukan perlawanan untuk hal yang sia-sia. Saya lebih suka menutup mulut saya. Menunggu sejauh mana keadilan bertindak"

"Karena kau tak berusaha membela diri, Guru Bong tak bisa membelamu!" geram Guru Jung. Wanita itu diam-diam menahan diri untuk tak memukul kepala Kyuhyun. Satu lagi, dia mendapati murid kelas kepala yang sulit dipahami selain Kibum. Sepertinya tahun ini, ia akan bekerja lebih keras dengan dua murid dengan karakter yang sama misteriusnya juga—sempurna dalam pelajaran matematika.

"Tapi tetap saja, pada akhirnya uang akan bertindak dan menunjukan kuasanya" jawaban Kyuhyun disambut dengusan Guru Jung. Wanita itu juga selalu berpikir seperti itu.

"Paling tidak kau berusaha" sedikit frustasi Guru Jung menghela nafas kesal.

"Paling tidak, saya tak melihat uang bertindak dan menunjukan kuasanya didepan mata saya" Kyuhyun berdiri. "Saya pikir, ini sudah terlalu sore. Sampai berjumpa besok, Jung ssaem" membungkuk, Kyuhyun melangkah meninggalkan ruang guru yang sudah sepi. Namun sebelum menutup pintu, anak itu kembali memanggil Guru Jung. Ketika wali kelasnya itu menatapnya dengan alis bertaut, sebuah senyum kecil terukir dibibirnya. "Maaf. Saya sempat berburuk sangka pada anda" katanya sebelum menutup pintu ruang guru, meninggalkan Guru Jung yang tersenyum lebar setelah mencerna ucapan Kyuhyun.

"Dasar anak nakal" katanya kemudian kembali melanjutkan memeriksa tugas siswa.

.

.

"Annyeonghaseyo, Kim Kibum imnida" membungkuk cukup lama, dan ketika tepukan tangan sudah sedikit reda, Kibum kembali berdiri tegak. Diedarkannya pandangannya pada relasi bisnis Kim Corp. Senyum yang dilayangkan para pebisnis itu benar-benar palsu.

Kibum melirik Ayahnya ketika Ayahnya itu memperkenalkan dirinya dengan bangga. Dan entah mengapa dada Kibum menghangat. Kibum lupa, kapan terakhir kali ia merasakan kehangatan dari nada bangga yang diucapkan sang Ayah, dan sekarang dia kembali merasakannya.

Setelah sedikit berbasa-basi dengan para pebisnis itu, Kibum mendapatkan ijin untuk pulang. Ia bersyukur Ayahnya tak memaksanya ikut pergi bersama para pebisnis itu untuk makan malam. Entahlah apa yang akan dia lakukan kalau sampai itu terjadi.

"Kita langsung pulang, Sekretaris Han" ucap Kibum mendahului pertanyaan yang akan diajukan Sekretaris Han.

"Ne, algeuseumnida"

Kibum mendudukan dirinya dengan nyaman, membuka jasnya kemudian meletakannya sembarang disampingnya. Anak itu juga melonggarkan dasinya dan menggulung kemeja lengan panjangnya sampai siku. Siapapun yang melihat anak itu, tak akan ada yang percaya bahwa ia masih seorang siswa sekolah menengah. Kibum, sosok itu bisa sangat berbeda ketika memakai jas dan dasi.

Tak

Kibum yang baru saja memejamkan matanya itu kembali membuka matanya begitu mobilnya mendadak berhenti. Dikursi depan, Manager Han tengah berusaha membuka safety belt untuk kemudian berlalu keluar. Kibum sendiri hanya mendengus, mungkin mereka baru saja menabrak seseorang.

"Kasihan sekali anak itu" supir Kibum bergumam.

Kibum menatap malas keluar jendela. Sepasang manik hitamnya sedikit melebar ketika melihat seseorang yang tengah berdiri bersama seorang paman dibawah hujan salju yang cukup deras. Tidak. Bukan hanya berdiri, karena Kibum bisa melihat dengan jelas, paman itu melipat tangan didepan dada dengan wajah marahnya.

"Anak kecil yang bekerja keras, aku suka" supir Kibum kembali bergumam namun kini Kibum bisa mendengar lebih jelas. "Ahjussi itu tampaknya sedikit mabuk" lanjutnya.

Dan entah dapat dorongan dari mana, Kibum membuka safety belt dan berjalan dibawah hujan salju dengan langkah cepat. Anak itu bahkan mengabaikan teriakan sang supir.

"Tapi Ahjussi tetap harus bayar. Kalau tidak saya akan kena tegur atasan saya" suara anak itu tampak tenang meski sepasang maniknya menatap tajam pria paruhbaya yang Kibum yakin sudah mabuk. "Kalau ahjussi hanya meminum satu gelas, saya tidak masalah. Tapi ahjussi memesan makanan, bahkan menghancurkan satu kursi di cafe kami"

"Kau pikir aku tak punya uang huh? Lagipula aku tak memakannya. Kau bisa lihat disana"

Anak itu meniup poninya dengan keras, nampak masih berusaha bersabar dengan si ahjussi keras kepala didepannya. "Benar, anda tidak memakannya. Tapi membuangnya dan memecahkan piringnya. Woaah anda benar-benar mabuk. Berikan kartu identitas anda saja kalau begitu"

"YA! Aku sudah bilang aku tidak mabuk dan aku tak mau membayar apa yang tidak ku makan!"

"Aku yang akan membayar makanan pria ini, Cho Kyuhyun"

Anak itu –Kyuhyun, yang semula menatap sengit pria menyebalkan didepannya, kini beralih pada seseorang yang berdiri menyaksikan 'pertengkaran' antara dirinya dan si pria menyebalkan. Sepasang manik caramelnya mendelik seiring dengan detak jantungnya yang berdebar terlalu cepat ketika berserobok dengan manik hitam teman sekelas sekaligus teman sebangkunya.

"Kim Kibum?" desisnya tak suka.

*TBC*

Halo aku datang dengan fanfic Your Eyes. Ada yang masih menunggu fanfic ini? Bagaimana dengan chapter ini? Ngga bosen-bosen aku minta maaf atas keterlambatan dalam meng-update semua fanfic-fanfic-ku. Bulan-bulan ini kembali sibuk *setiap bulan emang selalu sibuk sih* ditambah aku UTS juga banyak banget tugas makalah yang kena deadline bulan ini. Untuk kedepannya aku juga ngga bisa janji update cepet, soalnya bulan ini mau ikut pelatihan sih. Tapi aku bakal usahain update fanfic 1-2 yaa

Last, silahkan tinggalkan jejak kalian, supaya aku bisa lihat antusias kalian sama fanfic ini yaa *pede banget*

Sampai jumpa di fanfic lainnya, Annyeong~